Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-04-07
Words:
2,696
Chapters:
1/1
Kudos:
6
Bookmarks:
2
Hits:
156

Opposite Attracts

Summary:

Kono Junki dan Shiroiwa Ruki adalah member JO1 yang umurnya sebaya, tapi mereka sulit untuk bisa merasa dekat dengan satu sama lain karena perbedaan kepribadian mereka yang sangat bertolak belakang. Suatu hari, manajemen mereka meminta mereka untuk membuat vlog berdua. Malam setelah syuting konten itu merubah hubungan mereka 180 derajat.
Ini adalah cerita tentang Runki setelah syuting konten Hi JO1 Chill mereka di Odaiba.

Notes:

Kalau belum nonton episode Hi JO1 Chill Runki, mending nonton itu dulu ya sebelum baca ini.
Kalau sudah nonton, yaa enjoy~

Work Text:

Jam di smartphone Ruki menunjukkan sudah pukul 01.00 malam. Setelah seharian cuaca cerah, akhirnya hujan turun. Untung saja Ruki dan Junki sudah selesai shooting video untuk konten Youtube channel JO1 yang berjudul Hi JO1 Chill itu. Ini bukan pertama kali kedua member yang dijuluki “Runki” ini kebagian pekerjaan berdua, tetapi pekerjaan ini terasa berbeda karena mereka bebas memilih apa yang ingin dilakukan, kemana mereka mau pergi, dan hanya diikuti beberapa orang Staff saja. 

Malam yang diawali dengan Italian dinner berlatar pemandangan indah Odaiba, dilanjutkan dengan berjalan-jalan sambil meminum milk tea hangat, berbincang dari hati ke hati di pinggir pantai, dilanjutkan dengan saling berangkulan dan berteriak di dalam rumah hantu, dan diakhiri dengan foot bath intimate di sebuah rooftop di Odaiba. Sungguh, tidak ada diantara mereka berdua yang menyangka bisa melakukan begitu banyak hal dalam satu malam bersama “Pasangan” nya hari itu. Mereka juga tidak menyangka bisa jadi sedekat ini dalam satu malam, padahal biasanya mereka selalu canggung, bahkan menatap mata satu sama lain pun sulit, entah kenapa.

Tidak terasa, malam ini harus berakhir. Ruki dan Junki masih punya pekerjaan di pagi harinya bersama member JO1 yang lain, karena itu kini mereka sudah berada di gedung apartemen untuk kembali ke kamarnya masing-masing.

“Gue balik ya, Ki. Oyasumi ,” ucap Junki yang sudah sampai di depan pintu kamarnya lebih dulu. Ruki masih harus naik 1 lantai lagi untuk sampai ke kamarnya.

“Ya. Thanks ya hari ini,” balas Si Pangeran yang terlalu gengsi untuk mengucapkan “Oyasumi” kembali. Lalu dia lanjut berjalan dengan memasukkan kedua tangannya dalam kantong jaketnya. Dia tidak sabar untuk masuk ke tempat istirahatnya karena malam itu dingin sekali.

Masih di depan pintu, Junki meraba-raba semua saku yang ada di pakaiannya, mencoba mencari kunci kamarnya. 

Fuck ,” umpatnya pelan, “Kok gak ada yah?” herannya yang tidak menemukan benda tersebut di saku manapun.

Dia menghela napas dan mencoba tenang, lalu mencoba menelpon Manajer nya. Namun ternyata kunci kamarnya juga tidak ada pada dirinya.

“Hahhhh, gimana nih?” tanyanya pada diri sendiri, mulai panik. “Yang lain pasti udah pada tidur. Resepsionis udah tutup jam segini,” gumamnya.

Malam semakin dingin dan Junki semakin tidak tenang. Dia hanya bisa berjalan-jalan di lorong depan pintu kamarnya, mengharapkan bisa menemukan solusi. 

Hanya ada satu yang dipikirannya sekarang; minta bantuan Ruki.

~~~

Ruki baru saja keluar dari shower, dengan rambutnya yang masih basah, dan badan yang sudah diselimuti dengan baju tidur nyaman favoritnya. Dia siap untuk menyudahi hari ini dan istirahat. Tapi ketika dia sedang menyiapkan tempat tidur, seseorang mengetuk pintunya.

“Ruki..”

Ruki menatap heran ke arah pintunya. Tapi dia sudah tau siapa dibaliknya hanya dari suara saja.

Sambil menghela nafas dia berjalan untuk menemui orang itu.

“Ki, ada problem ,” Junki mengatakannya tepat setelah pintu terbuka.

Ruki bisa melihat rasa panik dicampur kedinginan dan kebingungan di wajah sesama mantan pemain club sepak bola itu. Lelaki berambut pirang itu pun cukup kaget melihat Junki masih memakai pakaian yang dia kenakan ketika syuting konten tadi. Namun dia hanya diam, menunggu Junki berbicara lagi.

“Kayaknya.. kunci kamar gue ilang,” Junki mengaku pelan.

Baru di situ Ruki kaget, “HAH? GIMANA?”

“Yaa, gak tau?! Kayaknya jatoh waktu di rumah hantu deh..”

“Becanda lo? Gak kebawa Manajer lo?”

“Nggak ada katanya..”

Mulut Ruki menganga karena tidak percaya, “Gila ya lo? Trus sekarang gimana?”

“Besok pagi baru bisa minta spare kunci ke resepsionis,” ucap Junki yang mengodekan bahwa dia tidak bisa masuk ke kamarnya. “Gue.. boleh masuk gak?” tanya si main-vocalist malu-malu dan sedikit khawatir akan ditolak mentah-mentah karena dia tau Ruki hampir tidak pernah membolehkan member atau siapapun masuk ke kamarnya.

Tapi Ruki tidak tega melihat Junki dengan muka seperti itu. Malam juga sudah terlalu larut. Rasanya jahat sekali jika dia menolak permintaan anggota member sebaya nya itu. Dia pun pasrah dan membuka pintunya lebar, “Ya udah. Sini masuk,” ucapnya.

Wajah Junki yang tadinya muram dan pucat, tiba-tiba warna nya kembali. Dia tersenyum lebar dan memegang pundak Ruki, “Makasih Ruki! Makasih!!!” sambil agak melompat-lompat, membuat Ruki sedikit risih.

“Mandi dulu sebelum naik ke tempat tidur,” perintah Ruki setelah tamunya itu masuk ke tempat paling private-nya.

Junki berbalik ke arah Ruki, “Gue boleh tidur di tempat tidur lo emangnya?”

Ruki mengerutkan dahinya, “Ya terus lu mau tidur di mana? Di lantai? Ya silahkan sih kalau lo mau.”

Junki yang saat itu berambut coklat kemerahan pun mengecek semua sudut kamar Ruki dengan matanya, dan tidak menemukan sofa atau tempat untuk dia tidur selain tempat tidurnya. 

“Yaudah, uhm.. pinjem baju,” pinta Junki.

“Iya, nanti gue siapin. Mandi dulu sana.”

Setelah meminjamkan handuk dan baju ganti untuk Junki, Ruki duduk di kasurnya terdiam. Hampir tidak percaya dengan dirinya sendiri; biasanya tidak pernah dia biarkan orang menginjakkan kaki satu langkahpun di dalam kamarnya, sekarang malah ada tamu yang memakai kamar mandinya dan akan ikut tidur dengannya. Terlebih, orang itu Junki, member yang paling terasa jauh dengannya, yang hampir tidak pernah bisa dia anggap teman dekat karena sifat mereka yang bertolak belakang, walaupun mereka seumuran. Malam yang aneh memang, tapi setelah apa yang mereka lakukan bersama di “kencan” malam itu, rasanya menghabiskan malam bersama Junki tidak akan terasa terlalu canggung.

Tidak lama terdengar suara dari dalam kamar mandinya, “RUKI!!”

Ruki pun menghentikan lamunan nya, “Kenapa?!”

“Mana shampo, mana conditioner?” tanya yang sedang mandi di dalam sana.

Lelaki kurus pemilik kamar itu memutar bola matanya, “Kan ada labelnya, Junki..”

“Gue takut salah nih!! Tau sendiri mata gue minus ,” Teriak si mantan kapten bola itu. “Ki, sini!” dia memanggil Ruki lagi.

Walaupun agak malas, tetap saja Ruki berjalan ke arahnya walaupun sambil berkeluh. Lalu tanpa peringatan apapun, orang yang sedang didalam membuka pintunya, memperlihatkan tubuh telanjangnya di sana.

“Yang mana, Ki?” tanya Junki, di depan Ruki yang membatu.

Memang ini bukan pertama kali dia melihat sesama member JO1 tanpa pakaian sama sekali. Ketika 11 orang cowok tinggal bersama, melepas pakaian di depan satu sama lain bukan lagi hal yang aneh semestinya, apalagi di ruang ganti saat ada show atau acara TV. Tapi kenapa ketika Junki melakukannya, si Pangeran menjadi salah tingkah.

Dia mencoba untuk menelan ludahnya, dan menjawab, “Ini.. yang ini, yang tutupnya warna item,” Ruki berusaha semaksimal mungkin agar suaranya tidak terdengar bergetar.

“Oh, oke. Thanks ,” ucap Junki lalu kembali menutup pintu dan melanjutkan shower nya.

Ruki berjalan kembali ke tempat tidurnya, duduk, lemas, lalu mencoba kembali melakukan apapun yang tadi dia lakukan sebelum Junki memanggilnya. Tapi dia gagal fokus. Dia baru saja melihat Junki sepolos-polosnya tanpa pakaian apapun. Dia yakin wajahnya kini memerah karena seluruh badannya entah bagaimana tiba-tiba terasa hangat.

Dia mencoba menghilangkan pemandangan itu dari kepalanya, menggelengkan kepada berkali-kali untuk mencoba mengusir pikiran kotor apapun yang ada pada dirinya sekarang. Sambil kembali bersender, dia membuka iphone nya dan melihat-lihat foto yang mereka ambil di Odaiba tadi. Rasanya masih seperti mimpi, bisa menghabiskan waktu dan merasa sebahagia itu bersama Kono Junki, orang yang dia rasa tidak akan pernah bisa “nyambung” dengannya.

Junki pun akhirnya keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basahnya. Kali ini sudah menggunakan pakaian tidur yang Ruki pinjamkan. Untung saja Ruki mempunyai banyak pakaian yang berukuran jauh lebih besar dari ukuran tubuhnya yang slim, Junki tampak cocok-cocok saja menggunakannya. 

“Ki, boleh kan?” tanya Junki menunjuk tempat tidur si pemilik kamar.

Tentu saja Ruki mempersilahkan. 

“Makasih, Ruki baik..” ucap Junki dengan suara manja nya.

Ruki pun tertawa kecil mencemooh, “Sekali ini aja. Lain kali, lo tidur di luar. Bodo amat.”

Junki pun tersenyum lebar, “Plis, ini gara-gara lo ngajak gue ke rumah hantu sialan itu! Gue sampe gak sadar kunci kamar gue jatoh di sana!”

“Jih? Kan gue cuma nurutin kemauan lo yang pengen melakukan sesuatu yang “ aktif.” Salahnya di mana?”

“YA GAK RUMAH HANTU JUGA, RUKIIII!” balas Junki sambil memukul Ruki dengan bantal.

Mereka berdua pun tertawa pulas. Lupa bahwa ini sudah sangat larut malam dan mungkin mereka bisa mengganggu tetangga-tetangga di apartment tersebut. Namun mereka tidak peduli. 

Kedua lelaki itu akhirnya merebahkan diri di tempat tidur yang sesungguhnya hanya untuk 1 orang itu. Ruki ada di sisi yang dekat dengan tembok, sedangkan Junki di sebelahnya. Ruki menarik selimut dan memastikan temannya terselimuti dengan baik juga.

“Tapi sumpah hari ini seru banget. Gue seneng. Makasih ya,” ucap si tamu.

Ruki mengangguk, “Ternyata main berdua sama lo seru juga.”

“Ck. Kalo bukan karena kerjaan, lo gak bakal main sama gue kayak tadi kan?” tanya Junki menggodanya. Tapi jujur itu yang selalu ada di pikiran Junki selama ini. Bahwa Ruki tidak akan mau hangout dengannya di waktu-waktu private atau di luar pekerjaan.

Ruki pun tidak menyangkal, tapi tidak mengiyakan juga. Dia hanya diam dan memandang langit-langit kamarnya. 

Junki pun kembali berbicara, “Gue tuh sirik loh sama S4, mereka seumuran dan deket banget. Gak kayak kita. Padahal kita seumuran, tapi kayak.. jauh aja gitu?” dia mengutarakan hal yang selalu ada di benaknya selama ini.

Ruki memberi sudut pandangnya, “Ya, mereka kan dari awal juga udah deket banget. Udah saling kenal sejak audisi. Kita kan gak kayak gitu.”

Pertanyaan Junki tadi entah kenapa membuat keadaan yang sudah cair tiba-tiba menjadi canggung kembali. Ruki pun bangkit dari posisi tidur dan kini duduk, bersandar di kepala tempat tidurnya dan hanya membiarkan kakinya saja yang terselimuti.

Junki juga tampaknya tidak puas dengan jawaban Ruki tersebut.

“Hm..” dia pun berpindah posisi, kini tengkurap, kepalanya menengadah, melihat Ruki yang sedang duduk menyilangkan tangan di sebelahnya. 

“Tapi gue ngerasa lo gak mau deket sama gue?” ucap si yang lebih muda 2 bulan itu.

“Gak gitu lah, gue mau deket sama kalian semua, tanpa kecuali,” Ruki menyangkal.

“Kalau gitu jangan sok jaim dan sok cool lagi depan gue!” pinta Junki dengan wajah sedikit murungnya itu.

Melihat Junki, Ruki tidak bisa menahan tawanya. 

“Kono Junki, lo berharap terlalu banyak dari gue. Kalau masalah jaim dan cool , itu udah bawaan dari lahir. Emang sifat gue gini. Bukan karena lo. Geer banget sih?”

Ruki pun kembali berbaring, namun kini menghadap tembok, “Udah, tidur sana. Besok pagi kan kita ada schedule lagi,” Si Pangeran menarik selimut kembali ke seluruh badannya.

Kini Ruki dan Junki tidur membelakangi satu sama lain. Mereka berdua lelah, itu pasti. Tapi pikiran mereka belum bisa diajak istirahat. Apalagi Junki. Rasanya masih banyak hal yang ingin dia ucapkan.

Sudah beberapa menit sejak mengucapkan oyasumi kepada satu sama lain, tapi mereka berdua belum ada yang bisa memejamkan mata dan tertidur.

Sampai akhirnya Junki menyerah dan kembali berucap.

“Ki,”

“Hm?” balas Ruki yang juga belum bisa tidur.

“Kamar lo wangi.”

“..Wangi apa?”

“Wangi.. wangi lo. Gue suka wangi lo.”

Ruki tidak tau harus merespon apa, jadi dia mengabaikannya. Tapi diam-diam dia tesenyum lebar, sedikit malu. Hampir tidak pernah dia menyangka Junki akan memuji sesuatu darinya seperti itu.

Ruki pun ingin mengatakan sesuatu. Tapi entah apa. Ditemani kesunyian jam 2 malam itu, mereka bisa merasakan panas tubuh satu sama lain di dalam selimut putih tebal favorit Ruki. 

“Ki,”

“Apa lagi?” 

Ruki bisa merasakan Junki sedikit mengatur posisinya lebih dekat dengan tubuh Ruki, “Ini gue doang atau emang dingin ya?”

“Gak dingin ah. Dah tidur cepet!” ucap Ruki setengah panik karena dia dapat merasakan Junki sangat dekat dengannya.

“Tapi dingin,” ucap Junki.

Ada yang beda dari suara Junki ketika mengucapkan itu. Mungkin karena dia baru saja selesai dari shower, atau mungkin dia terlalu lama berada di luar mencari-cari kunci kamarnya tadi, tapi Junki terdengar benar-benar kedinginan. 

Ruki yang sebenarnya sudah lelah dan ngantuk pun bisa merasakan itu. Merasa khawatir, akhirnya dia berbalik badan, melihat punggung Junki yang sedikit gemetar.

“Se-dingin itu?” tanya Ruki, sedikit masih tidak percaya.

Junki pun hanya bisa mengangguk. Itu cukup untuk mengkonfirmasi pada Ruki bahwa temannya itu benar-benar sedang tidak nyaman. Si pemilik kamar mengambil remote AC di nakas, menaikan suhu ruangan itu, lalu menghadap Junki kembali, memeluknya dari belakang. 

Junki sedikit kaget. Tapi dia membutuhkan itu. Selama 10 detik mereka hanya terdiam dan mencoba beradaptasi dengan posisi ini. Junki menelan ludahnya, lalu tangannya memegang lengan Ruki yang melingkarinya.

“Kenapa badan lo jadi dingin banget sih?” tanya Ruki yang kini benar-benar khawatir.

“Gatau, Ki,” jawab Junki. Dia merasakan nafas Ruki di belakang lehernya dan dia membutuhkan itu, lebih dekat lagi. Jadi dia meminta, “Lo lebih deket lagi, boleh gak?”

“Ck.. banyak maunya,” ucap Ruki.

Dia mengatakan itu tapi tanpa selang 1 detik pun dia langsung melakukan apa yang diminta. Kini bukan hanya tangan Ruki yang menempel pada tubuh Junki, tapi semuanya. Telapak kaki Ruki juga bisa merasakan betapa dinginnya telapak kaki Junki. Punggung Junki yang bidang itu kini seluruhnya ditutupi oleh tubuh Ruki. Junki benar-benar diselimuti dan rasa hangat itu lebih nyaman dari selimut mahal apapun di dunia ini. 

“Kayak gini?” tanya Ruki di belakang telinganya.

Junki pun tersenyum, 

“Hmm..” dia mencoba terus meresap kehangatan yang Ruki berikan, taking his time .

“Feels good, Ki.”

“Baguslah. Tidur ya sekarang?”

Junki memejamkan matanya, mencoba tidur tapi jantungnya malah berdegup lebih kencang. Apalagi dia bisa merasa bagian bawah Ruki yang menyentuh bagian belakangnya. Rasa ini baru. Aneh, tapi dia menyukainya. Dan mungkin ini rasa yang diam-diam selalu Junki ingin rasakan tanpa dia sendiri mengetahuinya.

Junki akhirnya melepaskan diri dari pelukan Ruki dan berbalik, sekarang wajah mereka berhadapan, hampir tidak ada jarak. Mereka bisa merasakan hangatnya nafas satu sama lain. Ruki mengira Junki sudah hampir tertidur karena lelah, ternyata matanya masih terbuka lebar.

“Ruki..” ucap Junki, tanpa melihat ke mata orang di depannya.

“Hm?” 

“Maaf, gak bisa tidur.”

“Masih kedinginan? Mau dimatiin aja AC nya?”

“Bukan,” Junki menggeleng, “Bukan itu..”

Dengan tangannya yang tadi melingkari tubuh Junki, Ruki menyingkirkan rambut poni Junki yang menutupi matanya. Dia ingin melihat 2 mata itu. 

“Mikirin apa, hm?”

Walaupun ragu, tapi pelan-pelan Junki berusaha untuk menatap lawan bicaranya itu, yang jaraknya tidak sampai 5cm di depannya.

“Hari ini bikin gue sadar satu hal.. Gue pengen banget lebih deket sama lo.”

“..Maksudnya gimana?”

“Lebih deket dari kita sekarang. Pengen sama lo terus.”

Junki masih tidak percaya bagaimana bisa kata-kata itu keluar dari mulutnya. Tapi itu tulus datang dari hatinya. Mungkin sudah dipendam terlalu lama dan semua hal yang terjadi malam ini membuat kata-kata itu terasa natural untuk diutarakan sekarang. 

Air mata mulai menggenang di kedua matanya, mengingat apa yang dikatakannya sendiri di pinggir pantai pada malam itu. Mereka berdua adalah 2 manusia yang sangat bertolak belakang. Hidup mereka hingga mereka tergabung di idol group ini sangat berbeda. Cara mereka dibesarkan, lingkungan masa kecil, kepribadian, hingga style berpakaian sehari-hari pun sangat berbeda.

Tapi mungkin benar kata orang-orang. Opposite attracts. 

Semakin Junki mengenal Ruki, semakin dia merasa nyaman dengannya. Ruki yang di awal selalu meninggalkan kesan dingin dan sulit untuk digapai, ternyata bisa menjadi manja ketika bersamanya di wahana rumah hantu itu, sampai akhirnya tidak mau lepas dari rangkulannya. Ruki yang selalu membantu menimpali jokes-jokes renyah dari mulut Junki agar lebih lucu di mata publik. Ruki yang ternyata sangat pemalu hingga terkadang sering bersembunyi di belakang Junki ketika bersosialisasi dengan artis lain yang belum terlalu dia kenal.

Begitu juga untuk Ruki. Selama ini dia pikir rasa yanf dia punya kepada Junki itu adalah rasa iri. Iri bahwa Junki bisa memikat orang begitu cepat dengan kepribadiannya yang ceria dan easy-to-approach . Iri bahwa Junki bisa lebih mudah berteman dengan orang lain. Iri bahwa Junki selalu bisa menunjukkan betapa bertalenta nya dia di depan orang lain dengan sangat mudah dan percaya diri, berbeda dengan dirinya yang lebih memilih untuk bekerja dan berlatih keras di belakang layar, tanpa dilihat orang lain. 

Tapi ternyata rasa itu adalah kagum. 

Dan pada akhirnya mereka berdua adalah orang yang sama-sama punya mimpi, sama-sama ingin bekerja keras, dan keduanya memiliki charm point masing-masing.

Ruki pun bertanya untuk memastikan, “Gue.. gak ngerti. Lebih deket kayak apa yang lo mau?”

Junki menarik nafas panjang dan menggigit bibirnya, tidak yakin apakah dia harus mengatakan ini. Tapi dadanya terasa sesak dan rasanya dia akan menangis bila dia tidak mengungkapkannya. 

Akhirnya, dia mendekatkan diri lagi, hingga bibir mereka bersentuhan. 

“Kayak.. Gitu,” ucap Junki setelah melepaskan ciumannya. “Gue suka sama lo dan gue pengen jadi punya lo,” tambahnya.

Ruki pun tersenyum manis, “ I thought you’d never ask ,” ucapnya.

Lalu, kini Ruki yang mendaratkan ciuman itu. 

“Lo punya gue sekarang, Kono Junki.”

Malam itu pun berlanjut, seakan lupa atau tidak peduli bahwa di pagi harinya mereka berdua harus bekerja kembali dengan member lainnya. Kini sudah tidak ada jarak lagi di antara mereka. Di ranjang itu mereka menyampaikan semua perasaan yang sudah lama mereka pendam kepada satu sama lain. Lewat kata, ciuman, dan sentuhan. Dua manusia yang katanya opposites itu, pada malam itu menjadi satu.