Work Text:
Slowly, then all at once
A single loose thread
And it all comes undone
—Sorrow by Sleeping At Last.
i.
Napasnya memburu. Bagian dari dalam dadanya seolah mengentak keluar. Peparunya menyesak oleh hantaman udara yang berlomba-lomba membanjiri saluran respirasi. Malam jadi tampak lebih mencekam daripada kelam tak kasat mata yang menghambur bersama udara, menjadikannya leburan teror absolut yang tak terbantahkan.
"B-bagaimana bisa begini?" karsanya di sela-sela raupan udara yang rakus.
Panik menjadi bauran titik-titik hujan yang sudah membanjiri kota sejak beberapa menit lalu. Punca pelihatnya sudah tergenangi sungai rasa sakit beserta puing-puing getar yang merembes melampaui kelopak mata.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Kau pikir aku tahu?
Tidak. tidak ada yang tahu gerangan yang menjadi kausalitas pasti mengapa sesak dalam dadanya mendadak mampir, dilapisi rasa takut pada Hades yang siap kapan saja merenggut sang tuan dari kejamnya dunia.
Tenanglah, bibirnya mengucap asa, memberi tenang pada sekujur indera, yang tidak bisa mengendalikan gegar yang melanda.
Sial, Park Jimin, bukan begini caranya menghadapi mortalitas.
Ya, bukan begini, bukan?
Bukan seperti ini rasa perih dalam dada pergi dari dunianya yang berabu tanpa asa walau hanya sebesar kelopak bunga?
Ini lebih mengerikan daripada itu semua, karena inilah kematian dan pintunya yang biadab.
Atau sememangnya adalah bentuk hiperbolis dari rasa kecewa.
ii.
Asanya berlabuh pada tuan manis yang senang bersisian dengan jendela kaca besar sebuah kedai kopi sederhana di kota ini, bagaikan kunang-kunang pembawa panjatan doa pada Sang Tuan Besar.
Terkadang Khalik memberinya celah pada asa yang lama tak dapat lagi dirasa, jatuh hati adalah salah satu contohnya.
Pada senyumnya yang terlampau menawan bagi hatinya yang remuk redam dibanting alam dan prosesnya yang memuakkan, kerlingan matanya yang terlalu cantik untuk dibuai belaian pawana penghujung senja di penutup anemoi, jemarinya yang terlampau indah untuk disentuh oleh sepasang tangan yang bahkan tak mampu menampung beban asa tanpa jiwa di dada.
Tidak layak. Park Jimin tidak layak menggenggamnya sama sekali.
Batinnya berteriak parau seolah sesuatu dapat meledak di dalam sana kapan saja. Rasanya seperti meriam menembus dada, membuatnya kehilangan pijakan di tanah dan napas dalam jiwanya yang mengerut oleh kenyataan dunia.
Park Jimin saja tak mampu mempertahankan tariannya,
lebih-lebih sang penawan hati, Kim Taehyung.
iii.
"Jadi bagaimana hasilnya?"
Park Jimin meloloskan tawa sumbang, yang tidak tulus bahkan terdengar begitu terpaksa, laksana tawa para tahanan yang akan segera dieksekusi mati oleh algojo. Ia mendongak, menatap cakrawala yang menghampar di atas kepala, memberikan jeda pada rasa percaya dirinya yang lenyap tak bersisa. Namun ingatan bajingan perkara pengumuman yang diterimanya beberapa hari yang lalu mampir laksana nuklir yang dilempar bebas ke atas tanah tandus.
Namun sang tuan memberinya pelita polos dan tembus pandang, mampu menembus dada dibanding dengan apa yang coba Khalik nyatakan padanya lewat kejadian-kejadian yang terlampau pilu untuk diterima lapang dada.
Kejam sekali lelaki ini, pikirnya sambil menanap cerkas intensi dari bola mata jernihnya. Kejam sekali gadis ini memberikannya dorongan berupa angan-angan tinggi yang harus terus dilalui walau dihantam tsunami paling mematikan di dunia, membuatnya enggan berhenti bergerak di atas panggung kendati tak seorang pun sudi melirik tariannya.
Kejam, 'kan?
"Tidak, jangan coba-coba bertanya," tukasnya pendek. Wajah berpaling cepat, namun jemari saling bertautan penuh tekanan. "Jangan membuatku menggantung angan di atas langit."
"Kenapa?"
"Kamu masih harus bertanya, ya?"
"Tapi harapan yang membuat pohon paling layu sekalipun tumbuh dengan guguran kelopak bunga dan buah-buahan, Jimin."
Remasan di tautan jari membuat Taehyung menoleh. Lalu getir dalam kurva lengkungnya yang manis tampak begitu saja, begitu transparan tanpa selaput pelindung berbentuk apapun. Murni, mudah dibaca dan begitu berbahaya bercampur aduk hingga Park Jimin pening kala terima hujan kepolosan di depan mata.
"Aku sudah tidak punya harapan, bahkan satu kelopak bunga pun tidak."
"Lalu apa yang kamu punya?"
" Kamu ."
iv.
Namun lelaki itu tak akan pernah mafhum bagaimana rasanya dicekik gagasan yang dihantam telak oleh realitas. Tidak semudah berkata pada tiap anjing yang menggonggong untuk pergi meraih tulangnya dan menyerahkannya kembali padamu, atau meminta seorang gadis kecil menyeberangimu dari ujung jalan ke ujung yang lain. Tidak seperti itu cara mainnya kehidupan fana ini, sayang.
Rasanya bagai terjatuh dari ketinggian tebing tertinggi di dunia menuju dasar bumi yang panasnya bergelora bagai matahari. Dalam dan tidak ada yang dapat membantumu mengais kesempatan untuk kembali menaiki gunung yang menembus cakrawala tak sampai mata.
Rasanya seolah hujan mengguyur kota, begitu basah tanpa pandangan, menyentuh titik bumi paling luar. Menggenang, menguap lalu kembali menjadi genangan tidak berguna sisi jalan. Mengalirkan air berikut harapannya yang sudah tergantung di antara bintang-bintang paling terang pada hamparan galaksi.
Park Jimin hilang keseimbangan, dan tidak ada yang dapat menjadi kakinya tanpa tahu memanggul berat tidak semudah menjinjing tas sekolah saat masih taman kanak-kanak.
Atau hanya Park Jimin yang enggan membagi kubangan paku di dalam sepatunya, bukan?
v.
Ah, begini maunya Sang Pencipta.
Tidak pernah ada janji perihal kemudahan mencari jalan yang cocok untuk proses kehidupan tiap umat manusia, elusifnya diciptakan untuk membiarkan ciptaan-Nya mencari sendiri kunci menuju puncak gunung yang tinggi.
Bersama penolong, tentu saja. Sang Tuan di sisi dicipta untuk menghantam tiap badai yang melanda.
Begitu caranya, Park Jimin akhirnya mengerti.
Inilah akhirnya. Begini. Di atas panggung, sorot punca sang puan, dan biarkan Khalik mengerjakan keajaiban-Nya laksana selintang pelangi setelah hujan datang.
"Terima kasih, Tuan." Jemari yang bertautan dipererat. "Aku tidak tahu apa yang terjadi jika kamu tidak membantuku menghadapi segalanya."
"Ya. Tentu saja. Bukan masalah."
Sore itu, di bawah naungan kanopi kehijauan bersamaan dengan hujan yang mengguyur kota, sepasang manusia saling mendekap untuk tenggelam dalam kehangatan masing-masing tangan.
Sementara cerkas di lingkar jari manisnya tampak berkilau indah ditimpa air hujan. []
