Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-04-10
Completed:
2023-04-10
Words:
2,316
Chapters:
2/2
Kudos:
6
Bookmarks:
1
Hits:
90

a compromise

Summary:

Saling memanfaatkan walau tak lagi bersilangan di lapangan, bertaut kendati telah kandas di pertengahan.

 

Lihat?

 

Kau dan aku masih terlalu seirama untuk berdansa di aula yang berbeda bukan? / RnR?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter 1: Karasuma Kyousuke

Chapter Text

Title: a compromise

Disclaimer: World Trigger milik Ashihara Daisuke. Saya tak mendapat keuntungan materiil apapun dari pembuatan fanfiksi ini kecuali kesenangan batin.

Warning: Boys love, canon setting (during 3 years Tachijin’s “breakup”), canon compliant, OOC, saltik, serta kekurangan lain yang tak terjabarkan.

Hope you enjoy it!

.

.

Tachikawa menunggu, menghitung bunyi ‘tuut, tuut’ selama panggilannya masih belum tersambung. Satu, dua, tiga—lelaki itu dengan sabar menanti, setengah mengabaikan Karasuma yang duduk di hadapannya dengan wajah tanpa ekspresi.

Pada hitungan kelima, teleponnya baru diangkat, melebarkan netra kelabu Tachikawa sesaat—terlebih kala nada riang khas secerah langit musim panas itu tertangkap telinganya. “Haloo! Talented Elite, Jin Yuuichi, di sini!”

“Jin!” Tachikawa sadar balasannya agak sedikit menggebu, tetapi lelaki itu mengesampingkannya dan melanjutkan, “ada waktu sekarang?”

“Ooh?” Tachikawa membayangkan seringai miring di wajah rivalnya, diikuti manik biru yang mengilat, memakan umpan walau tak menurunkan kewaspadaan—lelaki itu selalu begitu. “Tachikawa-san ada perlu denganku? Tumben sekali! Apa ini tentang rank wars?” tebak Jin setengah main-main.

Tachikawa tertawa renyah, berpikir apa hobi bertarungnya memang selekat itu dengan figurnya, tetapi segera menepis, menolak pikirannya sendiri; mungkin saja Jin sudah ‘melihat’ konversasi ini dari jauh hari—dan yang tadi hanya basa-basi. “Bukan, bukan. Tamakoma-1 belum punya pengganti setelah kau naik ke tingkat S, kan?”

“Eh?” Ada serat kejutan dalam nadanya dan ketua rank A-01 itu tak bisa menahan puas. Jin jarang merasa terkejut (berkat side effect-nya), maka kesempatan untuk memberinya kejutan terasa laksana hujan di tengah terik kemarau. “Hmm ... secara teknis iya, sih. Ah, tapi, Konami dan Reiji-san juga tak memikirkannya. Kenapa?”

Tachikawa enggan menyelipkan udang di balik batu, instan menyambarnya dengan nada menggebu yang sama. “Masukkan Kyousuke ke Tamakoma-1!”

“Eh? Kyousuke …?” Jin menggali ingatannya, kehilangan keping puzzle dalam memorinya—hanya untuk dipotong Tachikawa.

“Junior Izumi.” Pemuda bermanik kelabu gelap itu mengingatkan, mencoba memberi petunjuk walau idenya terlalu kasar. “Kau menonton rank wars rank A musim kemarin, kan? Dia all-rounder yang rambutnya hitam—oh! Yang membuat serangan terakhir di round 5. Ah—benar juga. Kalau tak salah Reiji-san juga all-rounder, kan? Konami pasti bakal cepat menyesuaikan gerakannya. Bukannya itu bagus?”

“Hei, hei, heii.” Kendati menyela cukup keras, kekeh geli terselip juga di akhir kalimat lawannya—tanda yang bersangkutan kelewat mafhum dengan tingkah saingannya. “Aku tak bisa bilang untuk Konami atau Reiji-san, sih. Tapi, kenapa Tachikawa-san tiba-tiba minta begini?”

Aah …,” Tachikawa menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, mulai larut dalam konversasinya dengan sang Pengemban Foresight, “Torimaru butuh waktu lebih banyak buat kerja sambilannya. Daripada membiarkannya keluar Border dengan bakat sebagus itu, lebih baik dia pindah ke cabang yang lebih longgar saja, kan?”

“Uwaa … kenapa Tachikawa-san seperti bilang Tamakoma berisi tukang nganggur, ya?” Jin berkelakar—yang segera dibalas dengan tawa renyah lain oleh peneleponnya.

Tachikawa tak menggubrisnya, sadar pada tarikan nostalgis yang dibentuk Jin agar mereka berputar pada lingkaran setan, tetapi di saat yang sama menolak mengarus pada lajurnya. Sebagai mantan saingan, lelaki itu perlu mengaku tawaran sang Talented Elite terlampau menggiurkan untuk diabaikan. Namun, Tachikawa juga yang paling sadar; lengah sejengkal saja, Jin bakal secepat kilat menyambarnya hingga terjembab ke tanah.

Lelaki berambut legam itu menampik basa-basi yang disusun lawannya, mengembalikan percakapan mereka ke garis start, “Jadi? Bagaimana menurutmu?”

Humm ....” Jin bergumam, mencoba memutuskan melalui sudut pandangnya, “… aku tak masalah, sih. Rindou-san juga pasti menyambut anggota baru. Tapi, bagimana kalau dia melihat Tamakoma dulu baru memutuskan sendiri?”

“Oke!” Tachikawa menyambutnya girang, tak sadar membuat Karasuma mengerjap heran. “Ah, sebentar, Jin.”

Pemuda bermata kelabu gelap itu menjauhkan ponselnya, kemudian menoleh pada Kyousuke—yang sedikit terkejut hingga menegakkan punggung (kendati ekspresi wajahnya tetap sama). “Kyousuke, kau lowong hari ini?” tanyanya cepat.

Aa ….” Kyousuke memutar cepat ingatannya tentang jadwal hari itu, kemudian mengangguk pada detik kedua. “... tapi, sore nanti aku ada jadwal kerja sambilan—” ia menambahkan.

Yosh!” Tachikawa kembali mendekatkan ponselnya ke telinga, meneruskan konversasi yang sempat tertunda. “Kyousuke bilang dia bisa ke sana sekarang, tapi sore nanti dia punya jadwal kerja sambilan.”

Eh? Sekarang juga?”

“Lebih cepat lebih bagus, kan?”

Gelak tawa meluncur bebas di ujung sana, tak mampu menahan gelitik geli. Sebenarnya, Jin telah memprediksi sebagian percakapan mereka sebelumnya, tetapi spontanitas rival beratnya yang tak berubah justru meniupkan gelombang rindu yang lama tak dihirupnya.

Di saat yang sama, tanpa sepengetahuan lawannya, lantun tawanya merengkuh Tachikawa pada sekeping masa lalu, memberinya gambaran bahu yang berguncang diikuti helaian rambut yang mengalun lembut di bawah terik surya. Khayalnya baru pecah usai Jin memberikannya jawaban pasti, masih dengan nada riang yang tak pernah tanggal dari sosoknya. “Oke! Akan kusampaikan pada Bos. Kutunggu di pintu keluar HQ sekarang, ya.”

“Aah. Dimengerti.” Dan Tachikawa memutus sambungan tersebut secara instan, kemudian menoleh lagi pada Kyousuke yang sedari awal duduk terlampau tegak. “Yosh, Kyousuke. Jin bilang bakal menunggu di pintu keluar sekarang. Ayo!”

Pemuda berambut legam yang lebih muda darinya itu tertegun, setengah menganga dengan ajakan mendadak ketuanya. “… ke?”

“Tamakoma.” Tachikawa menjawab tanpa menatapnya. Tangannya menarik jaket cokelat usang yang dimiliki lelaki itu sedari ia dan Izumi bergabung dalam regunya, kemudian mengenakannya tanpa memedulikan juniornya yang masih setengah menganga. “Aah, aku sudah bilang soal kondisi kerja sambilanmu pada Jin. Tenang saja, dia bilang sisanya hanya persetujuan darimu sendiri.”

Manik arang Kyousuke mengerjap, masih tak memercayai perbincangannya dengan ketua regunya perihal pengunduran diri akan berakhir ke sana, bahkan ikut melibatkan Jin Yuuichi dalam prosesnya. Meski ia masuk tak lama setelah Izumi dan berulang kali mendengar cerita rivalitas antara kaptennya dengan sang pecandu bonchi, tetapi baru kali ini ia bersinggungan dengan legenda rank S secara pribadi.

“Tachikawa-san …,” Kyousuke langsung menyesali keputusannya menyuarakan tanya barusan, tetapi menyerah pada detik ketiga—tahu pasti kaptennya tak bakal mundur sekalipun ia berkata tak apa-apa. “… dekat dengan Jin-san?”

Ha? Tentu saja, kan?” Pemuda urakan di depannya mengerutkan dahi tak paham, secara tak sadar melepaskan tangannya dari jaket yang baru ia kenakan. “Jin kan dekat dengan semua orang,” tambahnya kemudian.

Kyousuke menghela napas samar, memang salahnya menyuarakan tanya yang tak berdasar. Namun, kesalahannya yang paling besar jelas keliru dalam memperhitungkan laju proses otak kaptennya yang kelewat lambat—yang ia sadari tak bakal berjalan di luar hal yang berkaitan dengan pertarungan. “Bukan. Maksudku ... rival sekalipun hubungan kalian jauh dari kata berduri.”

“Maksudnya?”

“Berkebalikan jauh dengan hubungan Tachikawa-san dan Ninomiya-san.”

Aahh ....” Pemuda bermanik arang berjaring kelabu itu mengangguk, baru memahami arah percakapan yang Kyousuke tanyakan. “Yaah, bisa dibilang bukan hanya rival, sih—soal aku dan Jin,” akunya mendadak, merampas seluruh atensi Kyousuke yang baru saja berniat beranjak.

Pemuda dengan wajah tanpa riak ekspresi itu lantas tertegun, menatap punggung sang kapten bingung, menangkap aroma sangit yang entah menguar dari mana. “Eh?”

Tachikawa sontak menoleh padanya, sejenak mengirim sentakan yang terasa ganjil—sadar ada yang berbeda dari lelaki di hadapannya, kendati ia masih belum menemukan pangkal utama kejanggalan yang menyerbak pada tengkuknya.

“Di luar saingan, aku dan Jin sebenarnya mantan pacar.”

Oeh?”

Huh?” Tachikawa mengangkat sebelah alisnya, buntu dengan reaksi juniornya—seolah fakta tersebut dapat terbaca sejelas buku yang terbuka. “Memang tidak terlihat?”

“Tidak—itu ...,” Kyousuke berdeham, berusaha mengembalikan ketenangannya yang sempat mengelupas—lantas menarik napas dan berujar sekenanya, “... bukan apa-apa.”

Tachikawa melepaskannya, membalas dengan ‘ooh’ pendek sebelum kembali merapikan pakaiannya dan kembali pada lelaki yang empat tahun lebih muda darinya. “Sudah, kan? Ayo. Kau tak berniat absen buat kerja sambilan hanya untuk melihat Tamakoma, kan? Ah, ya. Jin bilang sudah menunggu di—"

Kyousuke membiarkan lelaki itu berceloteh semaunya, mengekori langkah attacker yang kecakapannya dielukan seantero Border, mengeluh samar menyadari jurang besar antara rumor tersebut dengan kenyataan yang terpampang di depannya—terutama soal tadi; harusnya ia tahu—harusnya ia sadar. Duh.

Maksudnya, siapa lagi yang dapat bersanding dengan absurdisitas Tachikawa selain rivalnya sendiri, sang Pengemban Foresight, Jin Yuuichi?

Dan lagi; sejak kapan dirinya sebegini terlambat menyadari bahwa kepindahannya ini hanya alasan Tachikawa untuk bisa menghubungi mantan kekasihnya secara pribadi? Haish.