Work Text:
Pagi itu dimulai dengan denting jarum jam dan dering alarm yang bersahutan—ditambah carut-marutnya notifikasi hingga layar ponsel Min Yoongi berkelap-kelip tanpa henti. Meninggalkan bekas makanan instan di atas meja dan dua botol soju di sebelahnya yang tampak mengenaskan karena dibiarkan begitu saja. Hingga matanya terbuka dengan perasaan keki lantaran jam tidurnya yang berharga diganggu—oh, mungkin dia memang harus menyalahkan Kim Namjoon dan kebiasaannya merayakan selebrasi tangga lagu mingguan tanpa jeda dengan kebiasaan yang benar-benar berhasil membuatnya teler sampai siang hari.
Ini hari libur—Tuhanku, ini hari libur, hari liburnya yang berharga, jauh dari studio. Siapa lagi orang sinting yang berani mengganggu jam tidurnya? Sial.
Mau tak mau, ia harus melirik ponsel yang tampak menyebalkan itu, merampasnya dari atas meja dan tanpa melihat pengguna yang memanggilnya lewat jaringan telepon, ia berkata dengan nada dingin, “Aku sudah bayar hutang.”
“Ei, Kak.” Yoongi menyipitkan matanya. Sadar betul suara siapa yang menyapa dari seberang sana, matanya terbuka lebih lebar lagi dengan perasaan was-was, sebelum menatap kembali layar ponselnya dengan wajah Jeon Jungkook terpampang tanpa tedeng aling-aling di sana, dan yang di seberang sana keburu menyergah isi kepala Yoong, “Kakak ada hutang padaku?”
“Kukira kamu rentenir atau semacamnya,” balasnya. Suaranya serak, khas bangun tidur. Terdengar terlampau malas untuk dikeluarkan, tapi tetap saja dia menggema memenui ruangan. Ia menambahkan sambil diam-diam tersenyum. “Ada apa, sih?”
Satu decakan lolos di bibir seberang jaringan sana. “Jadi Kakak tidak merindukanku, ya?” Yoongi menangkap nada kesal dengan menyelip godaan ringan saat mengatakannya. Jungkook di sana mendesah. “Ah, aku padahal punya berita bagus, loh? Tidak mau dengar?”
“Berita apalagi selain popcorn-mu yang gosong karena terlalu lama disimpan di microwave?
“Hei.” Suara protesnya datang. “Kok jadi bahas itu? Curang sekali.”
“Aku menunggu.”
Kekeh manis di seberang sana menggema, lagi, membuat Yoongi tertegun sejenak. Katanya di sela-sela tawa, “Aku gagal lagi.”
Bingung. Yoongi mengerutkan dahi. “Ya?”
“Aku gagal, Kak.” Jungkook bergumam di antara ruang-ruang sepi yang menyela pembicaraan mereka. Lalu menambahkan, “Aku masih hidup.”
Yoongi terdiam. “Selamat, Jungkook.” Senyumnya mengembang lebar. “You did it. Kakak bangga sama kamu. Mau dirayakan?”
“Well... soal itu...” Jungkook terdengar ragu, sebelum ada suara-suara bising benda jatuh dan bunyi tapak kaki yang nyaris terpeleset, hingga Yoongi bertanya-tanya dalam benak apa yang sebetulnya terjadi di seberang sana. Dan sebelum Yoongi mengumpulkan hipotesa, Jungkook sudah menjawab dengan suara lantang, yang juga terdengar di luar pintu apartemennya, “Aku sudah ada di luar, Kak. Buka pintunya.”
Kekeh Yoongi lolos. “Dasar menyebalkan.”
Ia meninggalkan makanan sisa semalam di atas, dan sehelai kain yang diikat ujungnya di ujung sofa.
