Work Text:
mungkin mereka tak butuh skenario. atau alasan. atau mengingat-ingat kenapa nagi dan reo berakhir di posisi mereka sekarang. yang reo ingat hanyalah wangi parfume laundry dari hoodie yang nagi kenakan ketika cowok jangkung tersebut memeluk reo. "i miss you ," katanya berbisik. karena rindu adalah konsep yang tak tentu dan kau bisa merindukan seseorang meski tiap hari bertemu. tertawa ketika menenggelamkan wajahnya di ceruk leher nagi, membagi dirinya untuk nagi sebagai pelipur rindu.
"kamu tumben clingy gini?" ujar reo ketika nagi menghirup aroma tubuh reo dalam-dalam. sebab yang menunjukkan banyak emosi, yang mulai duluan, yang enggan melepas dan mengatakan aku kangen kamu pengen peluk kamu selamanya dalam hubungan mereka adalah tugas reo.
"kamu gak suka?"
"suka lah! cuma kaget. kamu gak pernah gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba peluk terus bilang kangen."
reo bisa merasakan tubuh nagi yang menegang. cowok tersebut menarik diri, menatap wajah reo tanpa menjauhkan jarak antara mereka berdua barang seinci-pun.
"itu karena kadang aku dulu gak kepikiran." tangan nagi hangat di kulit pipi reo. kontras dengan reo yang dingin karena terpapar udara sore bulan desember. "tapi kalo kamu udah mulai, aku suka nyadar. oh ternyata dielus kepalanya sama reo rasanya nyaman, ternyata gandengan tangan sama reo aku suka, ternyata dicium reo rasanya memabukkan."
mata nagi berdilatasi tak lepas dari mata reo, otot wajahnya mengerut serius. setiap suku kata yang ia ucapkan tegas. seakan ia ingin meyakinkan reo bahwa apapun yang ia katakan adalah kebenaran. reo menikmati setiap detiknya, seperti ini. diyakinkan, dibujuk, percaya padaku, aku tak sampai akan sampai hati bohong padamu . meski sebetulnya nagi tak perlu melakukannya karena reo melakukan yang reo ingin lakukan ke nagi bukan karena ia ingin diperlakukan serupa. tapi karena begitulah cara reo mencinta.
maka reo mengulum senyum; menenangkan nagi akan segala kekhawatiran yang terlintas di kepalanya. kemudian senyumnya ia sapukan pada telapak tangan nagi yang menangkup pipinya. mengecup kulit tebal dan pucat tersebut.
"aku tau."
" i'm sorry ."
"jangan minta maaf. gak ada yang perlu dimaafin, oke?" reo meraih tangan nagi di pipinya; menyatukan keduanya kemudian menyelimutkan tangannya sendiri ke tangan nagi. mengecupnya khidmat. "kamu gak salah apa-apa."
ah, yang itu reo mengatakan kebenaran. bukan karena ia ingin menenangkan nagi, bukan karena ia ingin memenangkan hati nagi.
"reo."
reo mendongak. sepasang mata yang sekelam malam. lebih indah dari mutiara atau perhiasan apapun. di dalamnya ada kehidupan. di dalamnya ada isi hati seseorang yang reo kasihi. nagi menelisik reo di mata kemudian di bibir. "reo." panggilnya sekali lagi, mengikis jarak tipis yang tadi sempat memisahkan mereka berdua. "reo." napas nagi di wajahnya. tangan nagi di tengkuknya. ia menyeret kecupan halus menuju daun telinga reo. menggigitnya kecil; menggodanya begitu kejam membuat reo terkesiap dan meremat bagian lengan kemeja nagi semakin rapat. "reo, aku pengen cium kamu dengan cara yang kamu sukai."
reo tak tahu setelahnya. yang jelas ia bisa menebak bahwa nagi baru minum coklat hangat ditambah bubuk cinnamon beberapa jam lalu. ia tidak memakai pelembab wajah karena permukaan kulit wajahnya tampak kering. dunia mendadak senyap. segala hal tampak mengabur karena fokus reo adalah bibir nagi di bibirnya. mengecupnya sekali. dua kali. bibir reo kering karena lupa mengoles lip balm. tapi tampaknya nagi tak peduli malah menjebak bibir bawah reo dengan bibirnya sendiri. hangat, basah. reo membuka mulutnya, membalas ciuman nagi. dengan bibirnya, dengan lidahnya.
dan nagi menepati janjinya sendiri. mencium reo lagi, lagi dan lagi. dalam dan intens dan antusias dan desperate. mungkin ada air mata di sudut mata reo akibat seberapa ia menikmatinya. "sei." reo memanggil namanya entah sudah berapa kali sejak mereka berciuman. bibir nagi ada di garis rahangnya, kemudian perpotongan lehernya, menjejak ciuman-ciuman dengan gigi dan mulutnya yang terbuka. "sei."
" i love you ," nagi berbisik, menarik dirinya untuk melihat wajah reo. bibirnya merah, nagi itu, bengkak, basah dan berkilau liur. reo yakin ia juga sama berantakannya. " i love you, reo."
"i know ." reo tahu. reo tahu setiap hari karena hatinya penuh. ia tahu karena ia juga merasakannya : dicintai oleh nagi seishiro.
