Chapter Text
"Did something happen between you two?" suara Jihoon memecah keheningan di dalam lift. Kedua tangannya terlipat ke dada. Tubuhnya ia sandarkan ke dinding dingin mesin itu. Mimiknya tampak serius tanpa kesan menuntut, tapi suaranya terdengar tajam di telinga Wonwoo. Pertanyaan barusan lebih terdengar seperti pernyataan. Seakan ingin berkata, "udah ada tiga kemungkinan di otak gue, tapi gue belum dengar langsung dari mulut lo. Sekarang cerita."
"Gimana, Ji?" But, of course, Wonwoo needs to play dumb. Sekadar karena ia menyadari bahwa ada banyak lapisan di balik pertanyaan Jihoon barusan, dan Wonwoo tidak mau dengan sengaja mengupas salah satunya.
"Berantem?" Jika Wonwoo belum sadar, peran Jihoon hari ini adalah sniper. Dan Wonwoo adalah kancilnya. Tapi layaknya kancil yang belum mau mengalah, ia menggeleng.
Kedua mata Jihoon menyipit curiga. Jihoon memang jago dalam masalah membaca orang lain, tapi Wonwoo lebih jago lagi untuk menutupi apa yang ada di pikirannya. So, Jihoon needs to change his strategy.
Jihoon mengangguk, tangannya berpindah posisi ke dalam kedua saku celana. "Just how things usually are?"
Mungkin Wonwoo sedikit lelah hari itu, karena dua rapat yang baru saja selesai siang ini, atau mungkin memang Wonwoo lelah dengan semua keadaan yang ada. Jadi sesuai dengan keinginan dan ekspektasi Jihoon, Wonwoo mengangguk.
A slip, and a doom. Wonwoo baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan setelah beberapa saat kemudian. Terlalu terlambat untuk bisa dikoreksi. Dengan menggigit lidahnya, ia memberanikan diri untuk melirik wajah kawannya. Kedua alis terangkat dengan satu sisi bibirnya yang tersenyum puas.
"Sejak kapan?"
Wonwoo menghela napas. "Sejak awal."
Ting!
Wonwoo melangkahkan kakinya lebih dulu untuk keluar dari lift, meninggalkan Jihoon dengan segala kebingungannya. Ia penasaran, dari sekian banyak orang, kenapa Jihoon lah orang pertama yang menyadari keganjilan pada hubungannya dengan Seungkwan. Karena mau bagaimanapun pria itu akan terus menuntut penjelasan.
Jika tadi Wonwoo merasa takut kalau Jihoon akan menemukan lapisan yang ia sembunyikan. Sekarang Jihoon sudah menemukannya. Dan Wonwoo yakin pria itu akan mengupas lebih dalam lagi lapisan tersembunyi itu, menemukan intinya yang mungkin Wonwoo tidak sadari keberadaannya sejak lama.
Jadi Wonwoo lebih memilih berlari. Bukan secara harfiah, tapi ia mempercepat langkah kakinya. Menghindari Jihoon yang membuntut di belakang sana. Kepala Wonwoo kosong, ia tidak tahu kemana kakinya membawa tubuhnya, tapi netranya melihat tulisan “pantry” di depan sebuah ruangan di ujung lorong. Jadi ia memutuskan untuk ke sana.
Wonwoo membuka pintu pantry. Kedua mata Wonwoo menyisir tiap sudut ruangan, mencari alasan yang bisa ia gunakan sebagai distraksi kalau saja Jihoon berhasil mengejarnya. Dan seperti ide yang tiba-tiba muncul, ia memutuskan untuk membuat kopi. Wonwoo membuka salah satu pintu kitchen set setelah sebelumnya menaruh tas tangan berisi laptop yang sedari tadi ia bawa di atas meja. Tangannya meraih sebungkus kopi instan dan cangkir. Saat Wonwoo menuang bubuk kopi ke dalam cangkir, Jihoon membuka pintu ruang pantry.
"Lo tau 'kan barusan itu sia-sia?"
Exactly how Wonwoo expected. "Sia-sia apanya? Kopi?"
Jihoon melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan, lalu duduk di salah satu kursi yang mengitari meja di sana. Ia kemudian menggeleng, menolak tawaran kopi dari Wonwoo. "Menghindar dari gue? Jalan cepat seakan-akan gue bakal cabut nyawa lo kalau lo ga bisa diajak ngobrol, anyway."
Sebenarnya ia ada benarnya. Wonwoo memang takut Jihoon akan mencabut nyawanya kalau ia tidak mendapatkan penjelasan yang ia mau. But Wonwoo should know better that now he can't run from anyone, especially Jihoon.
"Siapa aja yang tau?"
Pria jangkung itu mencoba untuk tetap tenang. Ia duduk di kursi seberang Jihoon setelah menyelesaikan membuat kopi. Menyeruputnya sekali kemudian berkata, "dua orang."
"Really? Siapa?"
"Gue... dan Seungkwan."
Wajah Jihoon berubah kecut. Wonwoo tidak tahu bagaimana harus menggambarkannya, tapi ia tahu kalau Jihoon tidak suka fakta bahwa Wonwoo menjawabnya dengan sangat kasual. Ia menaruh cangkir yang ada di tangannya ke atas meja sebelum berkata, "it's not a big deal."
Jihoon menaikan salah satu alisnya. "Udah berapa lama kalian menikah?"
"Sekitar enam bulan?"
"Then, sure it is a big deal." Wonwoo terbatuk, tersedak ludahnya sendiri. He knew that, but Jihoon didn't need to shove it to his face like that.
Tapi Jihoon pintar membaca situasi. Hell, he's been proving it since twenty minutes ago. Ia bisa merasakan pressure yang terlihat dari wajah Wonwoo. Jadi Jihoon menghembuskan napasnya, menyisir rambutnya ke belakang, kemudian bertanya, “ini ada hubungannya sama yang terakhir?”
Wonwoo tidak menjawab. Ia justru menggaruk alisnya yang tidak gatal sembari tertawa remeh. "Yang terakhir"... as if there’s any end to this.
"Won–”
“I’ve tried, okay?” Wonwoo snapped. Ia tidak bermaksud begitu, tapi Jihoon seperti memaksanya untuk memberikan pertahanan penuh. “Lo tau gue udah coba, but the loss is too sudden.”
Pria itu menghela napas mencoba untuk mengatur emosinya. "Ga ada yang mencoba untuk memperbaiki juga, Ji. Gue terlalu lelah untuk berjuang lagi. Gue ga bisa memperbaiki ini, and certainly not him as well… I guess. Dan kalo tadi gue bilang 'it's not a big deal', because it is. Gue ga masalah dengan hubungan yang kayak gini. Less problem. Dia juga ga pernah komplain. So…."
Wonwoo bisa mendengar gerak detik jarum jam memenuhi ruangan itu setelah ia mengakhiri kalimatnya. Tenggorokannya terasa kering, jadi ia menyeruput kembali kopinya. Sayangnya ini bukan kering yang bisa dihapuskan dengan minuman. It's suffocating for both of them. Ini pertama kalinya ada yang mengetahui kondisi pernikahannya dengan Seungkwan. Dan ini pertama kalinya Jihoon mendengar seseorang berada di situasi seperti itu. Jadi Jihoon memutuskan untuk mendengar dahulu apa yang Wonwoo ingin sampaikan.
"... dan gue juga punya feeling."
Kedua alis Jihoon terangkat untuk yang kesekian kalinya hari itu. "Elaborate."
"Gue punya feeling kalo deep inside dia ga mau… apapun yang kami jalani sekarang." Wonwoo menyesap kopinya lagi. Ia sadar dirinya terdengar bodoh sekarang. "The marriage."
"Dia setuju soal pernikahannya," Wonwoo menambahkan, "tapi ga setuju kalo udah lebih dari apa yang ada di atas kertas."
Jihoon membawa kedua tangannya melipat di depan dada. "Dan lo tau itu dari...?"
Wonwoo menggigit bibir bawahnya.
"Assumptions, then?"
Tidak ada jawaban keluar dari mulut Wonwoo. Yang akhirnya menghasilkan helaan napas berat dari Jihoon.
"Won." Jihoon menegakkan posisi duduknya. "Wanna some advice?"
Wonwoo menggaruk pelipisnya yang tak gatal, kemudian mengangguk.
"Oke." Jihoon menghela napas sekali lagi, sebelum akhirnya berkata, "Masih ada kemungkinan kalo yang sebenarnya dia mau bukan ini. Bukan kayak yang apapun lo asumsikan. Seungkwan bukan masa lalu lo, Won. See him just the way he is."
Wonwoo tahu itu.
"Mungkin lo ada benarnya, ga ada yang memulai jadi ya dia kayak lo, just go with whatever it is. Tapi kan ga harus kayak gitu, Won."
Wonwoo juga tahu itu.
"Tapi tetep," Jihoon memelankan suaranya. Berusaha untuk tidak menambah beban lagi di bahu Wonwoo. "Mau gimanapun gue orang luar. Ini pernikahan lo dan Seungkwan, jadi gue yakin keputusan terbaik adalah jelas keputusan yang kalian ambil. Gue ga mau memutuskan mana yang salah dan mana yang benar. Apapun yang lo lakuin akhirnya nanti gue akan dukung. Serius deh, no pressure."
Jihoon menambahkan, "gue cuma merasa... ga ada ruginya untuk berjuang sekali lagi. Lo orang baik, Seungkwan orang baik. Kalian berdua datang dari keluarga yang baik-baik juga. Gue masih inget betapa bahagianya keluarga lo berdua di hari pernikahan kalian. Rasanya sayang banget kalo harus berakhir perpisahan, if we use the worst scenario as possibility. Tapi kalo emang ternyata udah dicoba dan ga berhasil, gue ga akan judge kalian berdua. Again, seenggaknya udah coba."
Wonwoo mengangguk. "Lo yakin gue bisa ubah kondisi ini?"
"70%." Tidak ada keraguan di suara Jihoon, ia iri. "Still, worth a shot."
"Dan alasan lo yakin adalah?"
Jihoon tersenyum mengejek. Tidak percaya temannya yang terkenal begitu pintar ini bisa bertanya pertanyaan bodoh semacam itu. "Karena kalo emang lo ga punya niat dari awal, lo ga akan buka-bukaan ke gue soal pernikahan lo sama Seungkwan sekarang. Apalagi dengerin ceramah gue yang lo udah tau jawabannya. Lo butuh suara kedua buat meyakinkan hati lo. Ya, 'kan?"
Dan itu adalah inti dari lapisan yang Wonwoo maksud tadi. Inti yang Wonwoo tidak mau siapapun untuk ketahui. Termasuk dirinya sendiri.
Jika mau ditarik ke titik paling awal, perkenalan Wonwoo dan Seungkwan terjadi karena adanya relasi yang tidak mereka duga dari keluarga mereka. Bundanya Seungkwan ternyata teman baik dari adik kedua ibunya Wonwoo, teknisnya adik ipar. Suatu kali Tante datang bersama Bunda ke kediaman orang tua Wonwoo dengan alasan arisan. Keberadaan Wonwoo di sana sebenarnya tidak bisa dibilang kebetulan juga, karena saat itu Wonwoo sudah tinggal di apartemennya sendiri, tapi tiba-tiba Ibu memaksa Wonwoo untuk berkunjung di suatu akhir pekan.
"Ibu kangen, masa ga boleh kangen sama anak lanang?"
Namun, Wonwoo tidak bisa tidak langsung curiga atas alasan sebenarnya dari paksaan Ibu sesaat ketika Bunda duduk di sofa ruang tamu mereka. Bunda tidak bisa menghilangkan senyumnya ketika melihat Wonwoo. Matanya berbinar seperti melihat sesuatu yang sudah lama ia cari. Tepat setelah Wonwoo memberi salim ke tangannya, Bunda berkata, "oh, ini Nak Wonwoo?"
Wonwoo melirik ke arah ibunya yang dibalas dengan kode mata untuk segera menjawab sapaan Bunda. Jadi Wonwoo menurut, ia tersenyum dan berkata, "iya, tante. Saya Wonwoo."
Bunda tertawa geli, "panggil Bunda saja. Biar lebih akrab."
Wonwoo mengangguk sopan. Ketika ia kira perkenalan itu sudah selesai dan hendak ingin pamit untuk kembali ke kamar, Ibu menarik salah satu lengannya agar ia ikut duduk di sebelahnya di sofa. "Sebentar dulu, masih mau ngobrol sama kamu."
Wonwoo menunggu kalimat selanjutnya dari Bunda yang sedang meminum teh secara perlahan. Gayanya anggun tapi tidak bermewah-mewahan. Jika ada impresi yang bisa Wonwoo berikan, maka hal itu adalah ramah. Bunda terlihat seperti seorang ibu yang disayangi oleh anak-anaknya, dicintai suaminya, dan digemari orang-orang di sekitarnya.
Suaranya pun lembut saat beliau berkata, "Bunda dengar Nak Wonwoo itu editor di Penerbit Zio ya? Anak terakhir Bunda juga kerja di perusahaan yang sama loh, Nak Wonwoo. Beda anak perusahaan sih, tapi apa Nak Wonwoo kenal?"
Saat itu juga Wonwoo tahu, tebakannya tepat mengenai sasaran. Bullseye. Ini bukan arisan biasa. Bisa jadi tidak pernah ada yang namanya arisan sejak awal. Ibunya, dan dua wanita paruh baya di ruangan ini, sedang menjebaknya ke dalam perjodohan.
Orang tua Wonwoo, khususnya Ibu, memang sudah beberapa kali meminta Wonwoo untuk cepat mencari jodoh. Karena, menyontek kalimat Ibu, "zaman sekarang jodoh itu harus dicari, bukan ditunggu." Masalahnya, Wonwoo memang belum berniat menjalin hubungan seserius pernikahan pada saat itu. Jadi tiap kali orang tuanya menyebut-nyebut kata pernikahan, ia hanya akan beri anggukan sekadar untuk membuat orang tuanya diam. Tapi sepertinya Wonwoo melupakan satu hal bahwa Ibunya mungkin lelah terus-menerus diberi jawaban seperti robot. Hasilnya, beliau bergerak sendiri di belakang Wonwoo.
Pada "arisan" kedua lah saat di mana Wonwoo bertemu Seungkwan. Kali ini acara bohongan itu berlokasi di rumah keluarga Boo di Jakarta Barat. Ibu meminta, coret, memaksa Wonwoo untuk menemaninya ke sana. Wonwoo, yang tidak punya alasan untuk mengelak, terpaksa mengiyakan.
Sesampainya mobil mereka di depan rumah keluarga Boo, Ibu menoleh kepada Wonwoo dengan mata memicing, "coba sekali lagi, siapa namanya?"
Wonwoo menghela napas. "Ibu udah tanya seratus kali."
"Tsk."
"Boo Seungkwan."
"Bagus. Jangan sampai ketuker dengan mantan-mantanmu itu." Dan dengan begitu, Ibu melepas seat belt-nya kemudian keluar dari mobil. Meninggalkan Wonwoo dengan wajah tak percaya.
Bunda menyambut mereka dengan sangat ramah. Kedua tangan terbuka seraya ingin memeluk Ibu. Wajahnya sangat sumringah. Setelah mengecup kedua pipi Ibu dan tidak lupa menyapa Wonwoo, Bunda menuntun mereka ke halaman belakang.
Entah mengapa Wonwoo baru menyadari betapa besarnya rumah ini. Besar tapi tidak menunjukan kemewahan yang berlebihan. Aksen kayu tradisional memberikan kesan hangat pada rumah itu. Tapi yang membuat Wonwoo terkesima adalah ketika ia sampai di taman belakang. Wonwoo tebak, Bunda mengurus tamannya dengan telaten. Pohon-pohon ditata dengan rapi, bebungaan mekar dengan cantiknya, rumput dipangkas merata, tidak ada satupun tanaman yang lebih menonjol dibanding yang lain. Bunda paham bagaimana membuat masing-masing tanaman bersinar.
"Nak Wonwoo," panggil Bunda. Lamunan pria itu terputus ketika namanya dipanggil. Matanya berhenti di mana meja taman berada. Meja panjang dari kayu itu telah dipenuhi makanan. "Sini, duduk di sini."
Wonwoo melangkahkan kakinya mendekat. Ia duduk di kursi yang ditunjuk Bunda tadi, tepat di sebelah ibunya. Setelah duduk di kursi, Wonwoo baru menyadari kehadiran dua orang lainnya di meja itu. Dua sosok perempuan yang mirip sekali dengan Bunda, matanya, hidungnya, cara mereka tersenyum. Yang membedakan adalah mereka terlihat dua puluh tahun lebih muda dari Bunda. Dan yang satu lagi lebih muda beberapa tahun dari yang lain. Wonwoo mengetahui kemudian bahwa nama dari dua wanita itu adalah Jeong dan Ryun, dua kakak kandung dari Boo Seungkwan.
"Mana Seungkwan?" tanya Bunda pada Ryun yang baru saja ia suruh untuk memanggil anak terakhirnya.
"Di dapur, entah lagi apa," jawab Ryun sekenanya.
"Ish, anak itu." Bunda berdecak kesal. Ia tengah sibuk menata satu makanan terakhir di atas meja makan sebelum akhirnya bersuara lantang, "Seungkwan! Ke sini dulu, Nak. Sambut tamu dulu!"
Tak berselang lama, muncul seorang pria dari dalam rumah. Berumur sekitar tiga tahun lebih muda dari Wonwoo. First impression? Seungkwan adalah orang ketiga di rumah ini yang memiliki perawakan sama seperti Bunda. Senyum ramah dan aura bahagia. Pria itu tidak menatap Wonwoo sedikitpun bahkan ketika ia menarik kursi di seberang Wonwoo untuk ia duduki. So, Wonwoo thought Seungkwan was okay. Seungkwan was just okay.
"Halo, tante," sapa Seungkwan kepada Ibu. Yang tentu saja dibalas dengan senyum lebar dan sapaan seratus kali lebih ramah dari beliau. Seungkwan melirik Wonwoo setelah bertukar kabar dengan Ibu. Menatap netranya lama seperti sedang menilai perangai pria itu. Persis seperti apa yang Wonwoo lakukan beberapa saat yang lalu.
Tautan pandangan mereka terputus ketika Wonwoo mendengar Bunda berbicara kepada mereka berdua, "udah kenalan belum?"
"Oh, iya," Wonwoo menawarkan uluran tangannya. "Wonwoo."
Dan Seungkwan menerima uluran tersebut. "Seungkwan. Pasti udah tau dari Bunda."
Wonwoo mengangkat kedua alisnya. A casual convo is not something he's expecting. Wonwoo justru akan lebih terima jika Seungkwan bersikap acuh tak acuh padanya. Karena itu yang biasanya terjadi di perjodohan 'kan? Jadi Seungkwan yang ramah begini menarik perhatian sepenuhnya.
"Wonwoo," suara Jeong memecah keheningan. Wonwoo menengok ke arah posisi duduk Jeong, yang mana ia juga bisa lihat Ryun sedang tertawa geli di sebelahnya. "Seungkwannya ga akan lari kemana-mana."
Wonwoo baru sadar bahwa tangannya masih menjabat tangan Seungkwan. Ia melepaskan genggamannya kemudian membenarkan letak kacamata di hidungnya. Ia tertawa kikuk untuk menanggapi kalimat Jeong barusan. Meskipun di dalam otaknya sedang mencoba untuk mengabaikan apapun maksud dari guyonan itu.
Makan siang, bisa Wonwoo bilang, berjalan lancar. Meski tanpa dihadiri kepala keluarga Boo yang sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota, meja kayu di tengah taman itu tetap hidup. Satu hal baru yang Wonwoo ketahui dari momen itu adalah keluarga Boo mudah sekali membuat suasana menjadi ramai. Bunda yang memiliki banyak cerita soal kehidupannya sebagai ibu rumah tangga, terdengar menarik untuk disimak meskipun Seungkwan mengeluh sudah mendengarnya ribuan kali.
Tetapi yang utama dari itu, ketiga saudara juga memiliki banyak hal yang bisa mereka ceritakan. Jeong ternyata sudah menikah. Sudah memiliki satu anak bahkan. Namanya Ara, umurnya baru enam bulan, saat ini sedang tertidur pulas di kamar.
Ryun, anak kedua dan yang ternyata lebih muda satu tahun dari Wonwoo, juga sudah menikah. Baru lima bulan yang lalu. Saat ini belum berencana untuk memiliki momongan karena ia dan suaminya masih sibuk meniti karir.
Dan Seungkwan, anak ketiga dan terakhir dari keluarga Boo. Jeong menyebutnya anak kesayangan karena hanya Seungkwan yang diperbolehkan memilih jalan karir sendiri. Pria itu ternyata sudah bekerja di satu grup yang sama dengan Wonwoo selama dua tahun. Di perusahaannya yang lama, Seungkwan memegang posisi social media manager. Tapi karena waktu dan tenaga yang ia keluarkan tidak sebanding dengan pendapatannya, Seungkwan memilih resign setelah dua tahun bekerja di sana. Untungnya, tak berapa lama setelah itu, Seungkwan diterima di Ziblog sebagai account executive.
Ziblog, salah satu anak perusahaan Zio Group, memiliki gedung yang berbeda dengan Penerbit Zio, tempat Wonwoo bekerja. Jadi wajar kalau Wonwoo dan Seungkwan tidak mengenal satu sama lain. Tapi yang Wonwoo tahu pasti mulai sekarang, ia akan menyadari kehadiran Seungkwan jika mereka berpapasan di kantor suatu saat nanti.
Waktu sudah memasuki sore hari ketika Ibu bercerita mengenai keluarganya. Bunda, Jeong, dan Ryun mendengarkan dengan saksama. Mereka bukan hanya pendengar yang baik, tetapi juga pemberi respons yang ekspresif. Tertawa ketika Ibu menceritakan hal lucu, haru ketika Ibu menceritakan hal sedih. Meskipun begitu, Wonwoo tidak nimbrung secara berlebihan. Ia hanya memberi komentar seperlunya, jika perlu atau ketika diminta.
Di sela-sela serunya Ibu bercerita soal masa kecil Wonwoo, pria itu menyeruput air dari gelasnya. Setelah gelas minum sudah tidak lagi menghalangi arah pandangnya, Wonwoo menangkap tatapan Seungkwan yang secara tepat sedang menatapnya. Ia menaikkan kedua alisnya, tapi Seungkwan tidak memberi respons apa-apa. Tatapannya tidak tajam, Wonwoo tidak merasa terintimidasi. Justru bola mata Seungkwan yang terkena cahaya sore itu terasa manis layaknya tetesan madu.
No… it's not just about his eyes. It's about him. Jari-jarinya yang ia tautkan sebagai tumpuan dagunya, kulitnya yang sewarna dengan langit senja, helaian poninya yang terhembus angin hangat sore itu.
Seungkwan is dripping like honey.
Wonwoo menghela napasnya perlahan setelah langkah kakinya berhenti di teras depan. Langit sudah memamerkan bintang dan bulannya, tapi Ibu masih betah mengobrol dengan Bunda di dapur. Wonwoo menyisir rambutnya ke belakang dengan jari setelah ia membersihkan kacamatanya. Butuh beberapa menit bagi Wonwoo untuk menyadari keberadaan Seungkwan yang sedang duduk di gazebo yang berada di sebelah kolam ikan di halaman depan.
Kaki Seungkwan terlipat menyila, Wonwoo bisa mendengar kalau pria itu sedang bersenandung sesuatu. Satu tangannya sedang mengelus bulu si Keju, kucing peliharaan keluarga Boo.
Setelah mempertimbangkan beberapa saat, Wonwoo memutuskan untuk menghampiri Seungkwan. Langkah kakinya terhenti ketika Seungkwan tiba-tiba berkata, "sumpek ya di dalam?"
Baru saat itu ia menoleh ke arah Wonwoo yang berdiri dua meter darinya. Di bawah sinar bulan, mimik Seungkwan berbeda dari apa yang ia ingat saat sore tadi. Kantuk? Lelah? Muak? Wonwoo tidak bisa memastikan apa itu, tapi mungkin Wonwoo merasakan hal yang sama.
Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Seungkwan. Terlalu jujur dan personal. Mereka baru kenal hari ini, dan Seungkwan belum perlu untuk tahu apa yang ia rasakan.
Tapi Seungkwan mengangguk. "Sorry ya jadi begini."
Satu alis Wonwoo terangkat heran. "Gimana?"
Pria itu tidak langsung menjelaskan intensinya. Ia justru berpindah pandang kepada Keju yang sedang tertidur karena elusan lembut tangan Seungkwan.
"Kakak punya pacar?"
Wonwoo tidak menjawab.
"Boleh kan panggil 'Kakak'?"
Wonwoo mengangguk mengizinkan. Seungkwan mengangguk menerima. "Jadi? Kakak punya pacar?"
Hening di taman itu membuat suara air mancur terdengar lebih jelas dua kali lipat. Wonwoo agaknya mensyukuri hal itu karena telah mengisi kekosongan pembicaraan mereka.
Ia menjilat bibir bawahnya sedikit sebelum akhirnya menjawab dengan sejujur yang Wonwoo bisa, "saya ga punya pacar."
Seungkwan tersenyum tipis. Lagi, Wonwoo tidak tahu apa artinya. Tapi kemudian Seungkwan berkata, "so it's easier, then."
Alis Wonwoo bertaut. "Apa maksu–"
"The marriage." Senyum tipis tadi hilang, berganti dengan kegetiran. "Pernikahannya. One less problem kalau Kakak ga punya pacar."
Wonwoo menyipitkan matanya. Betapa berbedanya Seungkwan saat ini dengan Seungkwan yang ada di taman belakang sore hari tadi. Ini sisi Seungkwan yang tidak ia beritahukan ke keluarganya. Unshielded… vulnerable.
"Berubah pikiran?" Layaknya bisa membaca pikiran Wonwoo, Seungkwan menawarkan penawaran terakhir.
Pria itu bangkit dari posisi duduknya. Kedua lengannya mendekap Keju di depan dada. Ia melangkah mendekat, memosisikan dirinya satu meter di depan Wonwoo.
Seungkwan menghela napas kemudian berkata, "I'll do it."
Dengan jarak sebegini dekat, parfum Seungkwan dengan perlahan masuk ke dalam hidung Wonwoo kemudian menjarah indera penciumannya. Memenuhi rongga paru-parunya untuk kemudian berdiam di sana. Menguap menjadi inti memori saat itu juga.
"Mau nanti Kakak setuju atau engga, aku akan tetap setuju, karena itu Kakak."
Satu alis Wonwoo terangkat heran. Mungkin ada yang lucu dengan ekspresinya karena Seungkwan tertawa kecil. "I'm wording it weirdly."
"Aku setuju atas pernikahan ini karena Bunda. Bunda bersikeras kalau aku butuh pasangan hidup. Yang mana… untuk beberapa alasan, Bunda benar. Aku cuma mau pasangan yang baik, dan Bunda yakin Kakak baik. Jadi, karena pernikahan ini dijalaninnya sama Kakak, aku mau."
Setelah mencerna maksud dari kalimat Seungkwan, Wonwoo mengangguk paham. Ada senyum lega di wajah Seungkwan setelah melihat respons Wonwoo. Tapi kemudian senyumnya menghilang sebelum akhirnya berkata, "tapi sayangnya, untuk alasan yang sama, aku ga bisa kasih Kakak cinta."
Seungkwan menelan ludahnya dengan kasar. Ia menahan dirinya untuk memperlihatkan rasa yang lebih personal saat ini. "Dan Kakak ga perlu kasih aku cinta kalau Kakak ga mau. It can go both ways, I don't mind."
Wonwoo tidak memberi tanggapan dari kalimat Seungkwan barusan. Sejujurnya ia tidak tahu harus merasakan apa. Apa yang seharusnya dirasakan oleh seseorang ketika calon tunangannya berkata bahwa ia tidak bisa memberikan cinta di pernikahan mereka? Marah? Sedih? Terluka?
Tapi kenapa rasa perih yang Seungkwan torehkan di tiap katanya barusan terasa begitu familiar bagi Wonwoo? Seungkwan membuatnya merasa apapun yang sedang pria itu rasakan dengan hebatnya.
"Jadi…." Seungkwan berjungkit di tumitnya. "Sekarang semua sesuai keputusan Kakak. Apapun itu aku hargai."
Seungkwan melirik Wonwoo sekali lagi. Bibirnya membuat garis tipis kemudian ia berjalan melewati Wonwoo. Pria itu berbalik badan mengikuti arah tubuh Seungkwan yang menjauh. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk sisi samping celananya. Butuh beberapa saat bagi Wonwoo untuk memutuskan menghampiri Seungkwan.
"Oke."
Seungkwan berhenti di anak tangga pertama teras rumah. Ia berbalik badan menghadap Wonwoo sebelum akhirnya pria itu menambahkan, "I'll do it too."
Seungkwan tidak memberi tanggapan untuk beberapa saat, sampai akhirnya ia mengangguk. "Any reasons why?"
Wonwoo tidak tahu mengapa lidahnya begitu kelu. Dia tahu alasannya. Jelas dia tahu, ini keputusannya, jelas Wonwoo tahu.
But this is more of a question of 'did he want Seungkwan to know?'
Satu degup jantung. Dua degup jantung. Tiga degup jantung.
No, he didn't. Not yet.
"Probably the same as yours."
Seungkwan jelas tidak berekspektasi Wonwoo akan berkata begitu. Tapi untuk saat ini, jawaban Wonwoo cukup membuatnya puas. Jadi Seungkwan balas dengan menorehkan senyuman.
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.10 ketika Wonwoo memasuki lift yang akan membawanya ke lantai dasar. Seperti sore di hari-hari yang lainnya, lift menjadi tempat terlaris jika sudah memasuki jam pulang kantor. Pria itu membawa dirinya untuk mengambil spot di pojok lift. Agar tak ada yang mengganggunya. Agar tak ada yang menyadarinya di sana. Agar ia bisa fokus kepada perkataan Jihoon yang sudah memenuhi pikirannya sejak siang tadi.
Mungkin ia tidak akan begini jika temannya itu tidak menemukan kondisi yang sebenarnya dari pernikahannya dengan Seungkwan. Mungkin tetap tidak akan ada yang tahu jika saja Wonwoo tidak teledor meninggalkan laptop kerjanya di rumah padahal jadwalnya hari ini dipenuhi rapat redaksi. Mungkin Jihoon tidak akan melihat dengan mata kepala sendiri betapa kakunya suasana di sekitar mereka siang tadi saat Seungkwan datang ke lobi gedungnya untuk mengantarkan laptop Wonwoo.
Now if he thinks about it. It was all kind of his mistake.
Kedua mata Wonwoo terpejam, ia menghela napas kasar. Kepalanya berdenyut kencang dan lift penuh yang berhenti hampir di tiap lantai ini tidak membantunya sama sekali.
Wonwoo bisa saja membiarkan kalimat Jihoon tadi siang melewatinya seperti angin lalu. Ia bisa saja melupakannya jika ia mau. Apalagi Jihoon tidak sepenuhnya tahu kondisi mereka berdua. He may or may not have lied a little bit to him. Memang ada "perjanjian" yang terjalin di dalam hubungan Wonwoo dan Seungkwan–itupun jika mengatakan dengan lantang "tidak bisa memberi cinta" kepada satu sama lain disebut sebagai perjanjian.
Tapi mau bagaimanapun, sejak awal mereka setuju akan hal ini. It's not like Wonwoo doesn't consent to this 'married without love' thing. He signed up for this in the first place, why the sudden change?
"...tapi kan ga harus kayak gitu, Won."
Suara Jihoon semakin kencang memutari di kepalanya. Tetap tidak menjawab apapun.
Ibu jari kiri Wonwoo menyentuh cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin yang ia dan Seungkwan beli di toko perhiasaan rekomendasi Bunda. Emas putih dengan sedikit refleksi cahaya berwarna tembaga. Ada ukiran nama satu sama lain pada masing-masing cincin mereka. "Seungkwan" di jari Wonwoo dan "Wonwoo" di jari Seungkwan. That could mean something if they loved each other.
Ting!
Layar kecil di lift menunjukkan huruf 'G'. Hampir semua penghuni lift melangkahkan kaki mereka untuk keluar, termasuk Wonwoo.
Langit tengah memamerkan percampuran warna jingga dan ungunya ketika Wonwoo keluar dari gedung. Ia berjalan menyusuri halaman parkir di sekitar gedung. Wonwoo memang membawa mobil hari ini, tapi seharusnya ia tidak berada di sini. Seharusnya dia ada di basement, duduk di belakang setir, kemudian pulang ke rumah. Wonwoo mencoba untuk tidak melawan intuisinya, jadi sekarang ia hanya mengikuti ke mana langkah kakinya membawanya pergi.
Beberapa langkah selanjutnya, ia melangkah dalam keheningan. Pria itu sedikit terkejut ketika menyadari keberadaannya. Lima meter dari tempatnya berdiri, terletak gedung besar lima belas lantai yang hampir seluruh bagiannya dilapisi kaca berwarna biru. Gedung yang berbentuk sama persis dengan gedung kerjanya.
Satu persatu karyawan muncul dari dalam gedung itu. Wonwoo memandangnya untuk sementara waktu sampai akhirnya ia melihat siluet familiar keluar dari dalam gedung bersama satu siluet lain. Mereka tidak menyadari keberadaan Wonwoo karena tengah asyik mengobrol. Dilihat dari arah mereka berjalan, Wonwoo tebak mereka hendak berjalan ke tempat parkir motor.
Seketika jantung Wonwoo berdegup kencang, sudah siap untuk segera jatuh ke perut kapan saja. Sol sepatunya mengetuk-ketuk aspal di tempatnya berpijak. Menimbang apakah harus menghampiri siluet itu dan melakukan hal gila untuk kedua kalinya hari ini setelah menumpahkan permasalah pernikahannya kepada Jihoon tadi siang.
Giginya menggigit bibir bawahnya. Untuk terakhir kali, ia melihat cincin pernikahan di jari manisnya.
Do it...
…or not.
Do it.
No, don't.
Saat logika dan hati Wonwoo sedang bergelut antara satu sama lain, percakapannya dengan Jihoon tadi tiba-tiba kembali muncul ke permukaan.
"Lo yakin gue bisa ubah kondisi ini?"
"70%. Still, worth a shot."
Fuck it.
Wonwoo memutuskan untuk mengejar mereka sebelum pikirannya berubah lagi dan meninggalkannya dengan perasaan menyesal seumur hidup. Napasnya pendek dan kerongkongannya terasa kering. Dadanya berdebar sangat cepat. Mengikis jarak dan mengikis waktu, semoga semesta merestui niatnya kali ini.
Sedikit lagi, beberapa meter lagi. Tapi tepat ketika ia ingin menyebut nama dari pemilik sosok itu, lewat sebuah mobil yang menghalangi langkahnya. Wonwoo terpaksa berhenti untuk mempersilakan mobil itu berlalu. Kedua orang yang menjadi sasarannya sudah menghilang di tikungan ketika arah pandang Wonwoo tidak lagi tertutup oleh mobil tadi. Jadi Wonwoo semakin bergegas, enggan untuk berpikir bahwa ia sudah melewatkan kesempatan emas.
Sesampainya ia di tempat parkir, seseorang yang menjadi tujuannya sedang berdiri di antara barisan motor di sana. Sudah dengan helm di tangan yang siap ia pakai. Jika Wonwoo satu detik lebih terlambat, mungkin ia akan kehilangan kesempatannya.
Jadi ia menghampiri pria itu. Mengatur napasnya kemudian setelah yakin pria yang lain dapat mendengarnya, Wonwoo memanggil namanya, "Seungkwan."
Seungkwan menoleh ke arah datangnya suara. Setelah menyadari siapa pemilik suara itu, kedua alisnya terangkat terkejut. Sedetik kemudian, dengan kebingungan yang jelas ketara, ia berkata, "...Kak?"
No turning back, Wonwoo.
"Mau pulang, ya?"
Dumbass.
Wonwoo membasahi bibirnya karena menyadari betapa bodoh pertanyaannya tadi. Kedua alis Seungkwan terangkat, mungkin ia menyadari hal yang sama.
"Eum, maksud saya–" jari telunjuknya mendorong kacamatanya. "Mau pulang bareng? Saya bawa mobil hari ini."
Seungkwan tidak menjawab pertanyaannya untuk beberapa saat. Seharusnya halaman parkir itu tidak hening mengingat banyaknya orang-orang dan kendaraan yang berlalu-lalang. Tapi digantungnya perkataan Wonwoo membuatnya bisa mendengar pergerakan angin yang membelai dedaunan di atas kepalanya. Wonwoo hampir menyesali apa yang ia lakukan ketika Seungkwan hendak membuka mulutnya.
"Ah, itu–"
"Loh, Bang Wonwoo?" Suara lain datang dari belakang punggungnya. Wonwoo berbalik badan, ada Hansol di atas sepeda motor, lengkap dengan helm dan sarung tangan yang sudah terpakai. "Pulang bareng Seungkwan, Bang?"
Hansol, rekan kerja sekaligus teman dekat Seungkwan. Mereka berada di dalam satu tim yang sama tapi ditugasi job yang berbeda. Wonwoo mengenal Hansol saat Seungkwan memperkenalkannya suatu siang di kantin. Waktu yang sama saat Seungkwan mengenal Jihoon. Perkenalan itu akhirnya membuahkan mereka makan siang berempat dan dari situ jugalah Wonwoo paham bahwa kedekatan Seungkwan dan Hansol lebih dari sebatas teman kerja. Ia tidak keberatan karena dirinya dan Jihoon juga teman yang dekat.
Wonwoo tersenyum tipis. "Iya nih, boleh?"
Hansol tertawa atas kalimat retoris barusan. "Ya boleh, 'kan Abang suaminya."
Ia tersenyum lagi. Terima kasih Hansol karena sudah diingatkan atas statusnya. Sedetik kemudian, Wonwoo menoleh kepada Seungkwan yang masih tidak bersuara. Wajahnya masih kebingungan mencari arti, tapi hanya dibalas dengan senyuman tulus oleh Wonwoo seakan berkata bahwa Seungkwan tidak perlu mencari arti lain. Untuk terakhir kalinya, Seungkwan mengangguk kemudian memberikan helm di tangannya kepada Hansol.
Oke, sepertinya harus Wonwoo luruskan bahwa hubungannya dengan Seungkwan tidak seburuk itu. Serius. Mereka berkomunikasi layaknya dua insan yang tinggal serumah. Ruang chat mereka tidak kosong, Wonwoo bisa buktikan itu sekarang jika ada yang mau lihat. Seungkwan akan mengabarinya jika ia pulang telat karena harus menutup event terlebih dahulu atau sekadar main dengan teman-temannya. Wonwoo juga mengabari Seungkwan jika ia harus lembur. Sesekali mereka juga pergi atau pulang bersama.
Tapi harus Wonwoo akui, kondisi hubungan mereka itu tidak bisa menghilangkan awkward yang ada di dalam mobilnya sekarang. Terutama setelah apa yang terjadi di parkiran tadi. Mungkin yang Hansol lihat hanyalah adegan kecil biasa di mana seorang pria ingin mengajak suaminya untuk pulang ke rumah mereka. Tapi Wonwoo dan Seungkwan tahu jelas bahwa adegan tersebut terlalu aneh untuk disebut kebetulan. On normal days, Wonwoo would just let Seungkwan go with Hansol. But now isn't normal days, and Wonwoo didn't know what to do.
Radio yang ia nyalakan untuk mereda sunyi justru terdengar sangat kencang. Seperti meledek mereka berdua yang lidahnya terlalu kelu untuk memulai percakapan. Sesekali sudut mata Wonwoo mencoba untuk menangkap apapun pergerakan Seungkwan, tapi pria itu hanya diam sejak ia memasuki mobil. Satu sikunya menyender pada panel pintu dan pandangannya fokus kepada apapun yang Jakarta tawarkan dari kaca jendelanya.
Oh, there's a possibility that Wonwoo could be dead if he holds this any longer. Pikirannya penuh dengan ribuan pertanyaan dan kemungkinan. Ia takut pikirannya terlalu keras untuk Seungkwan dengar. Jadi sebelum itu terjadi, Wonwoo berdehem pelan. "Tadi ada rencana pergi sama Hansol?"
Harmless question and not so obvious. Nice.
"Engga." Seungkwan menoleh kepadanya. "Aku kira Kakak lembur, jadi tadi minta tolong Hansol buat anterin aku ke halte."
Wonwoo mengangguk. Dan percakapan itu berhenti di sana. Seungkwan sudah kembali melihat keluar jendela. Meskipun begitu, hati Wonwoo sudah sedikit lebih lega, otot-ototnya tidak sekaku beberapa detik yang lalu.
Tapi entah intuisi dari mana, Wonwoo berkatalagi, "besok mau bareng?"
Seungkwan kembali menoleh sebelum akhirnya merespons, "Kakak ga sibuk?"
"Besok engga." Wonwoo melihat Seungkwan sekilas. "Tapi kalo kamu ga mau ya gapapa."
Hening sebentar. Wonwoo bisa merasakan tatapan Seungkwan dari sudut matanya. Entah kenapa terasa panas tapi ia buang cepat-cepat pemikiran itu.
"Aku mau."
Kakinya menginjak rem perlahan karena tanda lampu merah yang menyala di depan. Ia manfaatkan waktu itu untuk menoleh sepenuhnya ke arah Seungkwan. Betapa jahatnya Wonwoo barusan mencurigai Seungkwan kalau-kalau pria itu menatapnya dengan tajam, karena kenyatanya, sekarang Seungkwan sedang tersenyum tipis kepadanya. Satu sisi wajahnya tersiram cahaya persik dari sisa matahari terbenam di sore itu. Matanya yang cokelat gemerlapan itu menatap Wonwoo lembut. Persis seperti memori di taman belakang rumah Seungkwan saat mereka pertama bertemu.
"Oke." Wonwoo memandang lurus ke jalanan di depan. Mobil-mobil yang tidak sabaran untuk kembali ke rumah mereka ramai-ramai membunyikan klakson. "Besok pagi jam delapan?"
"Dan sore jam lima."
Wonwoo menoleh lagi, hanya untuk menemukan Seungkwan masih tersenyum kepadanya. Ia menaruh pandangannya pada Seungkwan sedikit lebih lama. Mencoba mencari celah jika saja Seungkwan ingin mengganti arti dari kata-katanya barusan. Tapi Wonwoo tidak menemukan apapun, bahkan ketika pria itu kembali menatap keluar jendela, meninggalkan Wonwoo dengan perasaan tak karuan di dalam dirinya.
