Work Text:
Tiga langkah setelah keluar dari lift, matanya menangkap figur perempuan yang amat familiar baginya. Mengenakan jas putih dan rambut hitam panjang yang digulung rapi hingga tengkuknya terekspos.
Senyumnya mengembang seiring dengan tangan kanannya yang terangkat menyapa dokter muda itu.
Tak perlu kata terlontar untuk membuat Wina berlari kecil mendekat. Faktanya, ekor mata perempuan itu sudah lebih dulu menangkap kehadiran salah satu teman baiknya itu di sana.
“Ngapain lo di sini?”
Wirasa menunjuk sembarang ke belakangnya. “Anter nyokap jenguk temennya.”
Bibir Wina membulat sempurna. Ia mengatur nafas sesaat, lalu bertanya, “langsung balik?”
“I guess,” Wirasa mengambil jeda sambil menengok arloji di tangan kirinya, “gak tau juga gue mau kemana, balik apart sih palingan.”
“Mau ngopi?”
Bola mata laki-laki itu spontan mengarah jauh ke belakang Wina, memandang kerumunan orang yang mondar-mandir. “Lo gak sibuk?”
Wina terkekeh santai dan langsung mendorong temannya itu menjauh dari sana. “Udah, ayo.”
Meski sempat ragu, akhirnya Wirasa menerima tawaran temannya untuk sejenak menghabiskan waktu di cafetaria rumah sakit. Sama sekali tidak terpikirkan apa yang akan ia dapatkan setelah ini.
Keduanya mengambil dua buah kursi di meja sharing yang langsung menghadap ke dinding kaca, setelah menerima pesanannya masing-masing: americano dingin dan segelas milkshake cookies n cream.
The fact that that is Jowen’s favorite drink and he kind of misses him right now is clearly not the reason why Wirasa orders that. Yes, clearly.
Wina duduk persis menghadap keluar jendela, sementara temannya sedikit mengarahkan badannya ke samping. Sekilas, keduanya terlihat seperti pasangan kekasih.
“Lo gak ngantor?” Wina membuka obrolan usai menyesap kopinya.
“Ini sabtu, Win, libur gue.” Jawab Wirasa datar. “Pulang makanya lo, jangan kerja mulu.”
Kalimat yang sepintas terdengar ketus itu akhirnya sukses memecah suasana cukup canggung diantara keduanya. Wina melepas tawanya.
“Adek lo kasian di rumah sendirian tiap hari.” Tambah Wirasa.
“Gue pulang, anjir. Sensi banget lo.” Protes Wina di ujung tawanya yang memudar. Suaranya kecil dan lemah. Sama sekali tidak terdengar hidup, seperti Wina yang biasanya.
Hening mengudara untuk beberapa saat setelahnya.
Mulut sang dokter kembali meraih sedotan hitam itu dan menyesap kopinya.
“Lo sayang sama adek gue, Sa?”
“Lo masih perlu jawaban gue, Win?”
Wina kembali tertawa kecil, “ya gue pengen tau aja.”
“Gue kayaknya lebih sayang sama adek lo dibanding sama diri gue sendiri.” Wirasa menjawab tanpa ragu.
Sama. Wina menambahkan dalam hatinya.
“Kenapa lo sayang sama Jowen?” tanya Wina lagi.
Merasa gerah, Wirasa akhirnya mencetus, “ini gue lagi interview ulang? Perasaan dulu udah interview HRD sama 2 user sebelum gue pacarin adek lo, Win. Papi, lo, Mema sama Teh Kirana. 3 user sih technically.”
Sukses membuat Wina kembali melepaskan tawanya. Free and sounds contagious this time.
“Kenapa sih lo, tinggal jawab doang apa susahnya.” Ucapnya di sela tawa.
Wirasa menyesap milkshake yang gelasnya sudah sedikit berembun. “Gak tau, Win.” Jawabnya.
Ada jeda keheningan saat Wirasa memikirkan jawabannya.
“Gue juga gak tau kenapa gue sayang adek lo,” ia mengaduk-aduk gelasnya, “perasaan ingin melindungi dia ya emang selalu ada, tapi gue rasa itu bukan alesan juga. Emang lo gak ngerasa begitu, Win?”
Wina masih bergeming, fokus mencerna setiap kata yang keluar dari mulut temannya baik-baik.
“Lo sayang sama dia tapi bukan karna dia adek lo satu-satunya, atau karna dia jadi tanggung jawab lo sekarang, kan?”
Wina mengiyakan dengan menganggukkan kepalanya pelan.
“You just love him.”
“And so do I.”
Wina kembali mengangguk-anggukkan kepalanya lalu menoleh, “makasih udah sayang sama adek gue.” Lalu tersenyum. Tulus dan manis.
Jika itu dilihat oleh orang lain selain Wirasa. Dan kalimat yang keluar dari mulut temannya itu barusan? Oh God, he cringed the fuck out of that. But he just shrugged it off. Not the best place and moment to pick a fight, he thinks.
“Adek lo di mana Win, by the way?” Wirasa kembali melongok arlojinya, “di rumah? Gue ke rumah lo aja deh abis ini. Kangen pacarku yang paling ganteng dan lucu.”
“Sa.” Wina memanggil.
Tak menghiraukan pertanyaan ataupun kalimat terakhir Wirasa yang seharusnya cukup untuk menjadi alasan Wina setidaknya mendaratkan telapak tangannya di lengan temannya. Jika dirinya sedang dalam mood yang baik.
“Hm?”
“Jowen sakit,” ucap Wina kecil.
Kedua alis tebal Wirasa sedikit terangkat. “Oh ... pantesan, imess gue nggak dibaca dari kemaren.”
Wina kembali menoleh ke samping kanannya, menatap tepat di manik temannya tanpa mengucap satu katapun, lalu kembali memandang jauh ke depannya.
“Kenapa dia? Sakit apa?”
Mendengar pertanyaan itu, Wina menggulung bibirnya dan sedikit menunduk. Sibuk meyakinkan dirinya sendiri apa yang akan ia lakukan adalah yang terbaik.
“Sakitnya kambuh.” Jawabnya kemudian.
And Wirasa, well- we can’t blame him for not being able to read between lines but yeah, he still doesn’t get it.
“Iya, sakit apa? Tipes dia? Alergi? Alerginya kambuh?”
Wina menarik nafasnya panjang dan mengangkat wajahnya.
“Jantungnya lemah dari kecil.”
Memasuki empat bulan Wirasa berkencan dengan adik temannya, dan lebih dari delapan bulan sejak matanya berubah seakan memiliki fokus otomatis terhadap laki-laki jangkung bertubuh kurus yang kulitnya seputih susu itu, baru sekarang ia mengetahui fakta tentang kekasihnya yang tidak pernah terlintas di pikirannya sama sekali.
To say that it feels like being hit by a truck hearing that is an understatement.
Wirasa tercekat, mendadak dadanya terasa sesak. Telinganya seperti tersumbat. Ia terbatuk membersihkan tenggorokannya.
“Lo becanda kan, Win?”
Tepat seperti yang Wina pikirkan.
Ia menghembus nafas pelan, “i wish I was.” Lalu kembali menyesap kopinya. Kedua matanya kali ini enggan menatap temannya yang sudah dibanjiri oleh beragam emosi yang muncul.
“Tapi-“
“Tapi kenapa dia keliatan baik-baik aja gak kayak orang sakit?” Wina memotong.
“Karna memang gak parah. Kondisinya termasuk yang paling umum terjadi, banyak yang bisa dilakuin buat meminimalisir gejalanya muncul.” Wina mulai menjelaskan dengan perlahan.
“Dan orang tua gue tau waktu Jowen masih muda, jadi bisa ditanganin lebih cepet. Itu kenapa Jowen mulai main taekwondo waktu SMP ... main voli waktu SMA, aktif olahraga sampe sekarang. We keep his body trained.”
“Itu kenapa lo ambil spesialis jantung?”
Wina tertegun mendengar pertanyaan itu.
“Sort of.”
Hening kembali mengisi ruang kosong diantara mereka berdua.
Setelahnya, ia melirik temannya sekilas, “Jowen gak bakal meninggal dalam waktu 6 bulan kok.” Candanya, yang sama sekali tidak Wirasa minati.
Dan sadar akan hal itu, Wina akhirnya menghela nafas. “Sorry,” ucapnya.
“Maafin adek gue juga ya, Sa.” Ia tersenyum miring dan kembali menunduk.
“Gue tau Jowen pasti udah berniat ngasih tau lo, cuma nyari waktu yang tepat aja.” Wina melanjutkan. “Apesnya dia sekarang sakit lumayan parah, dan gue gak tega buat diem aja.”
“Lo berhak tau kondisinya.”
Belum mendapat respon apapun, yang tertangkap ekor mata Wina hanya temannya sibuk menghapus air mata yang keluar dan menutupi wajahnya yang merah padam.
Wina kembali menghela nafas.
“3 harian dia demam tinggi kemaren, mungkin kecapekan minggu lalu jadwalnya padet di kampus.”
Ia menangkup gelas es kopinya yang berembun dan membuat gambar-gambar asal menggunakan ibu jarinya.
“Dari selasa demam, gak turun-turun, kamis gue ajak ke rumah sakit. Gue takut dia kenapa-kenapa dan gak ada yang bisa nanganin dengan proper.”
“Sehari di rumah sakit mulai turun demamnya, membaik, walaupun gak signifikan. Masih gak mau makan.” Wina mengambil jeda sesaat. “Hari ini, tadi pagi malah makin ngedrop.”
“Saturasinya rendah, respon verbal sama motoriknya hampir gak ada.”
Perempuan itu membasahi tenggorokannya yang sedikit tercekat dengan ludahnya.
“Bisa gue bilang Jowen koma.”
Tak tertahan lagi, akhirnya lolos sebuah isakan dari Wirasa yang masih menutupi wajahnya.
Satu tangan Wina spontan tergerak mengusap bahu lebarnya. Memberinya ruang untuk menangis selama beberapa menit setelahnya.
Seumur hidup Wina mengenalnya, ini kali pertama ia mendapati temannya itu menangis di depan orang lain.
Beberapa saat setelahnya, Wina melirik arloji kecilnya saat temannya sudah lebih tenang. Ia kembali ke posisi duduk semulanya dan menyesap kopinya yang masih sedikit tersisa, lalu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya.
“Jowen di sini?” Wirasa akhirnya mengeluarkan suara.
Wina menjawab dengan memberi gestur kepala mengarah ke luar cafetaria, “di ICU,” tak mengalihkan pandangannya dari ponsel sedikitpun.
“Gue boleh jenguk?”
Mendengar itu, Wina menyelesaikan pesan yang sedang ia ketik dan mengunci kembali ponselnya lalu menoleh ke Wirasa dan bersiap beranjak. “Ayo.”
—
“Kak Asa.” Sebuah suara terdengar pelan memanggil.
Wirasa tengah mengeringkan tangannya menggunakan tisu usai menyudahi kegiatan makan siangnya saat ia refleks menyahut, “hmm?” matanya sesaat menoleh pada kekasihnya, “kenapa sayang?”
Jowen tak langsung menjawab, sampai saat Wirasa menarik kembali sebuah bangku di dekat ranjangnya dan duduk di sana.
Kini, perhatian Wirasa sepenuhnya tertuju padanya.
“Aku mau ... pipis.”
Butuh sekitar dua detik lamanya untuk Wirasa mencerna ucapan Jowen. His lover might have been sick before, like with a flu or fever. But this is the first time Wirasa has to take care of him while being hospitalized.
He had no single idea.
“Mau ... ke toilet?” ia bertanya balik dengan kikuk, “kak Asa bantuin?”
Jowen mengangguk.
Spontan Wirasa bergumam mengerti. “Okay, ayo sini bangun.”
Ia bergegas bangkit dan menjauhkan bangkunya, lalu membantu kekasihnya duduk terlebih dahulu.
Sebelum memposisikan tiang infus agar mudah ia bawa dan memasangkan selop pada dua kaki Jowen.
Ia berpindah ke sebelah kiri kekasihnya, satu tangannya berada pada punggung Jowen—sedikit membantunya mendorong tiang infus di tangan kanannya—, satu lagi ia biarkan untuk kekasihnya berpegangan.
Wirasa menunggu beberapa detik saat Jowen baru saja turun dari ranjang, memberinya ruang untuk mengatur keseimbangan dan mengumpulkan tenaga untuk berjalan.
Kamar mandi dan toilet tidak jauh letaknya, hanya sekitar dua puluh langkah dari tempat mereka berdiri. Meski demikian, Wirasa mengerti bahwa kegiatan berjalan itu mungkin menguras banyak sekali tenaga kekasihnya.
Sampai di depan toilet duduk di kamar mandi itu, Jowen kembali terdiam. Nafasnya terengah.
Benar, kegiatan sederhana itu, menguras hampir seluruh tenaga yang ia kumpulkan tadi.
Melihatnya, Wirasa kembali kikuk. Ia mengatur infus Jowen supaya tidak menghalangi, lalu apa lagi yang harus ia lakukan?
“Adek?”
“Per- gimana sayang? Mau kak Asa bantu?”
Ia berusaha keras tak menggaruk tengkuknya saat ini.
Dengan satu tarikan nafas panjang yang pasti, Jowen menggeleng. “Kak Asa tunggu di situ,” ia menunjuk ke belakangnya, “balik badan, jangan liat.”
Spontan senyum Wirasa mengembang.
“Oke sayang,” ia membuka lid penutup toilet, “hati-hati ya.” Ucapnya lembut sebelum bergegas menjauh dari sana, memojok membelakangi kekasihnya.
Tak selang lama kemudian, Jowen usai dengan urusan hajatnya. Ia menutup kembali lid toilet dan mem-flush beberapa kali. Like the good boy that he is, Wirasa thinks. Sebelum ia memanggil Wirasa membolehkannya kembali berbalik badan.
Saat Wirasa mendekat, kekasihnya sudah beralih ke wastafel di samping kirinya.
“Mau apa adek?” ia bertanya.
“Cuci tangan.” Jowen menjawab, sudah membuka kran air dingin.
Refleks Wirasa ikut membasahi kedua tangannya untuk membantu. Ia membasahi tangan kiri Jowen sampai pergelangan, lalu dengan hati-hati mengusap telapak tangan dan jari-jari tangan kanannya. Tentu saja menghindari punggung tangannya yang ditancapi selang infus.
Ia lalu mengambil sabun cair dan ia gosokkan ke kedua tangannya, sebelum ia usapkan ke tangan Jowen dengan lembut.
Saat itu, ia cukup terkejut oleh kekasihnya yang tiba-tiba menaruh kepalanya di bahu kanannya. Membuat Wirasa semakin bergeming, tak sanggup menggerakkan badannya satu milipun.
Setelahnya, Wirasa membilas kedua tangan mereka dan mengeringkannya. Tangannya sendiri menggunakan tisu toilet, sementara tangan kekasihnya menggunakan handuk kecil yang tersedia di sana.
“Udah?” Wirasa kembali bertanya. “Balik ke kamar?”
Tak disangkanya, Jowen mengangkat kepalanya dan menggeleng.
“Kak Asa, buka itu.” Ia menunjuk salah satu kabinet di atas wastafel. Wirasa hanya mengikuti.
“Ada waslap,” ucap Jowen lagi, “tolong lapin muka aku.”
Tanpa mengeluarkan banyak kata Wirasa mengambil salah satu waslap di sana, ia basahi dengan air hangat sebelum ia masukkan tangannya ke sana, lalu pelan ia menyibakkan rambut Jowen dan mulai membasuh wajahnya.
Ia bahkan memijit pelipis dan area sekitar mata Jowen perlahan sambil memandangi tiap inci wajah kekasihnya itu.
Dahi yang lebar, matanya yang kecil, alisnya yang seperti ulat bulu. Yang menurut informasi dari Wina, mengelus alis adiknya kurang lebih memberi efek seperti menyihir Jowen untuk terlelap.
Tentu saja Wirasa mengambil kesempatan untuk melakukan itu, harapannya bisa membuat kekasihnya lebih rileks dan mengantuk.
Benar saja, telinganya menangkap erangan kecil dari Jowen yang terlihat menikmati namun tidak mau jatuh terlelap saat itu juga. “Udah....”
Wirasa melepas tawa kecilnya sesaat. Ia lalu melepas waslapnya dan mengambil satu lagi handuk kering untuk membilas wajah Jowen.
Kembali, ia lakukan itu dengan perlahan dan amat hati-hati. Bagai mengusap berlian menggunakan sutra, not to exaggerate.
He’s just that precious to him.
“Udah?” Wirasa bertanya selagi menumpuk waslap dan handuk kecil kotor yang ia gunakan tadi ke pinggir wastafel.
Kali ini, Jowen terdiam. Terlihat memikirkan jawabannya.
Sementara Wirasa sudah harap-harap cemas memikirkan kondisi Jowen yang ia pikir sudah terlalu lama berdiri, Jowen kembali menunjuk sesuatu di depannya.
Di samping kran air, ada sebuah gelas kecil dan sikat gigi elektrik.
“Mau sikat gigi sekalian.” Ucapnya pelan.
Wirasa menghembus nafas kecil. Terlalu kecil untuk kekasihnya menyadari. Okay, this won’t last long, he reassures himself.
Ia lalu mengambil sikat gigi itu, sedikit membasahi brush-nya dengan air dan mengambilkan Jowen pasta giginya.
Sebelum kekasihnya kembali menunjuk kabinet di atas kepala mereka, mengarahkan Wirasa untuk mengambil sebuah gelas kecil lain. Yang selanjutnya ia gunakan untuk berkumur dengan air terlebih dahulu, sebelum mulai menyikat giginya.
Hanya sekitar dua menit kegiatannya berlangsung. Selama itu, Wirasa kembali mencuri kesempatan untuk memandangi kekasihnya dari samping.
Satu tangannya tergerak mengelus surai Jowen yang masih basah, membawanya ke belakang telinga. Mengekspos lebih banyak sisi sebelah kiri wajah kekasihnya.
Ia berusaha keras melawan nafsunya untuk mengecup dahi dan alis dan mata dan hidung Jowen saat ini.
And he felt lucky to have this kind of problem in his life.
Jowen yang terhenti dan mulai memuntahkan busa pasta gigi di mulutnya lalu kembali menyadarkan Wirasa. Spontan ia mengambil sikat gigi di tangan Jowen, membersihkannya dan kembali menaruhnya ke gelas.
Lalu mengisi gelas kumur Jowen dan membantunya membersihkan mulutnya. Dan terakhir mengelapnya dengan tisu untuk mengeringkannya.
Senyum Wirasa mengembang saat ia kembali memandang wajah tampan kekasihnya dari depan dan dengan jarak yang sedekat ini.
Sejujurnya, perasaan lega bahwa Jowen menyudahi semua kegiatannya dan akan segera kembali beristirahat menjadi faktor utama bibirnya terangkat.
Meski yang menjadi lawan bicaranya saat ini, terhitung belum mengeluarkan sepatah katapun setelah ia mengatakan ingin menggosok giginya tadi.
Pun membalas tatapan Wirasa padanya.
“Udah, sayang?”
Jowen mengangguk perlahan. Amat kecil gerakan yang ia buat hingga Wirasa harus sedikit membungkuk mendekati wajah kekasihnya untuk memastikan.
“Balik ke kamar?” tanyanya lagi.
Kali ini Jowen mengeluarkan suaranya mengiyakan. “Tapi, kak Asa.” Ia terhenti. Kepalanya menunduk.
“Hm?”
“Aku pusing.”
Kedua alis Wirasa refleks terangkat mendengar itu. Ia memutar otak, memikirkan tindakan apa yang harus ia lakukan dengan informasi—yang sudah ia duga—itu.
“Adek pusing...?” ia kembali mengelus kepala Jowen lembut.
Jowen tak menjawab.
Melihat wajah kekasihnya yang nampak makin pucat, Wirasa memutuskan untuk mengeliminasi pilihan kedua yang pikirkan tadi: mengambil kursi roda untuk Jowen.
“Kak Asa gendong, mau?”
“Mau, ya?”
Sebetulnya ia tak benar-benar menunggu jawaban dari kekasihnya. Untuk itu, ia spontan menarik tubuh Jowen untuk mendekat dan berhadapan dengan dirinya, lalu menekuk kakinya sendiri menyesuaikan tinggi mereka dan akhirnya mengangkat tubuh kekasihnya.
Tangan kirinya perlahan meraih tengkuk Jowen dan mengarahkannya untuk disandarkan ke bahu kanannya, sementara tangan kanannya yang dominan masih menyokong pantat kekasihnya.
Wirasa terdiam untuk mengatur nafas dan menyesuaikan keseimbangan tubuhnya sesaat. Sebelum ia meraih tiang infus Jowen dan mulai melangkahkan kakinya.
Tak melewatkan jadwal angkat beban di gym adalah satu hal yang membuat Wirasa merasa beruntung saat ini.
Hal lainnya, adalah fakta bahwa pintu kamar mandi ruang rawat Jowen adalah pintu sliding. Yang artinya ia hanya perlu menggunakan satu kakinya untuk membukanya.
Meski harus ia akui, Wirasa belum pernah mendapatkan kesulitan yang seperti ini sebelumnya.
Setelah ia pikir lagi, hampir semua hal yang lalui bersama kekasihnya merupakan sesuatu yang baru di hidupnya. Dan lagi, ia merasa beruntung mendapat kesempatan itu.
Sampai di ranjang, dengan hati-hati Wirasa menurunkan kekasihnya untuk duduk, menempatkan tiang infus kembali ke tempatnya lalu mengangkat kedua kaki Jowen dan membantunya merebahkan tubuhnya.
Ia mengambil satu bantal tambahan untuk Jowen mengatur nafas dengan nyaman terlebih dahulu. Matanya terpejam sempurna. Kerutan terlihat di dahinya.
Nafas Jowen yang masih memburu bahkan setelah dua menit berlalu itu kemudian membuat Wirasa mulai cemas.
Ia mendekatkan wajahnya, saat itulah ia baru menyadari bulir-bulir keringat sudah membasahi kening dan pelipis Jowen. Tangannya tergerak untuk menyeka.
“Adek...?” panggilnya pelan, “ada yang sakit?”
Tak ada jawaban yang Wirasa dapat selain kekasihnya yang masih nampak amat kelelahan dan kesulitan bernafas. Mulutnya sedikit terbuka dan dadanya naik turun cepat.
Tak mau membuang waktu lagi, ia akhirnya beranjak dari sana dan menemui suster yang khusus berjaga di ruangan kekasihnya.
Memberi informasi keadaan Jowen saat ini dan menjelaskan kegiatan apa yang baru saja mereka lakukan, just in case that helps them to help his boyfriend.
Perasaan cemas sudah membanjiri tubuhnya saat itu. Wirasa berdiri terpaku di dekat tirai yang membatasi pandangan ke ranjang kekasihnya saat suster tengah memeriksanya.
Berkali-kali ia mengatur nafas dan mengusap tengkuknya berusaha membuang perasaan kalutnya.
Did I do something wrong? Benaknya berputar.
“Gimana Sus?” Wirasa sigap bertanya ketika sang suster menghampirinya.
“Nggak apa-apa kok, cuma kecapekan dia,” sesekali suster menoleh ke Jowen yang sudah terlelap, “tadi agak lama juga kan yah di toiletnya.”
Wirasa mengangguk-angguk tak yakin. “Iya ... Jowen nggak boleh kayak gitu ya, Sus?”
Sang suster terkekeh kecil selagi mulai berjalan kembali ke mejanya yang juga tak jauh dari sana.
“Memang sih, biasanya kalo bersih-bersih muka, sikat gigi itu sekalian sama ganti baju dan lainnya. Sama dokter Wina.” Ia menjelaskan, suaranya terdengar ramah. “Di ranjang, gak di kamar mandi langsung,” lanjutnya.
Wirasa menelan ludah.
“Tapi gak apa-apa kok. Kalau Jowen sendiri yang minta artinya dia tau kemampuannya sampai mana.”
“Yang penting dibantuin, gak ada cedera yang fatal, gak masalah.” Sang suster mengakhiri kalimatnya dengan senyuman lembut. Berharap sedikit membantu lawan bicaranya merasa lega.
Ia lalu menepuk lengan kanan Wirasa meyakinkan.
“Oh, tadi berarti pakai handuk sama waslap yang di toilet ya?” tanya sang suster.
“Iya, tadi … itu.” Wirasa menunjuk ke kebelakangnya dengan canggung.
“Hmm oke, nanti saya ambil handuk kotornya.” Ucap sang suster.
“Makasih ya.”
Wirasa yang terkejut dengan ucapan terima kasih itu menjadi semakin canggung, sekaligus kagum dengan sang suster yang terlihat begitu kasual dan santai.
“Iya ... Sus. Sama-sama. Maaf ngerepotin.” Ucapnya terbata-bata.
Sang suster kembali tersenyum dan berdecak kecil, “udah tugas saya.”
Ia lalu menaruh satu tangannya di samping bibir dan memelankan suaranya. “Saya paling suka kalo dapet shift jagain Jowen. Anaknya nurut, gak neko-neko. Gak banyak kerjaan saya.”
Sukses membuat otot Wirasa melunak. Ia melepaskan tawanya.
Setuju.
—
Esoknya, terhitung hari kedua Wirasa mengambil cuti di kantornya untuk menjaga Jowen di rumah sakit. Semenjak ia bertemu dengan Wina hari itu dan memberinya kabar yang- well, life changing.
Faktanya saat ini, ia tengah berada di salah satu supermarket di depan rumah sakit. Duduk berdua bersama dokter muda itu lagi.
Dirinya baru sampai di rumah sakit beberapa saat yang lalu, ketika semalam Wina memutuskan untuk bergantian jaga dengannya.
Wirasa pulang ke apartment-nya, membersihkan rumah itu dan dirinya sendiri, lalu kembali pagi ini.
Namun saat ia sampai di sana, Wina baru saja selesai menyuapi adiknya sarapan dan memberinya dosis obat pagi. Lalu tiba-tiba saja menarik dirinya keluar dari ruangan itu.
Keluar dari rumah sakit, bahkan.
Jika bukan karena air muka Wina yang terlihat seperti mendapat harta karun bernilai trilyunan, ia sudah dihantui perasaan cemas.
Baiklah, saat ini pun, Wirasa masih bertanya-tanya.
Mengapa Wina tiba-tiba saja mengajaknya keluar, ngopi, dan terutama di luar rumah sakit. Meninggalkan Jowen hanya bersama suster yang berjaga.
“Lo kenapa sih?” Wirasa tak membuang waktu.
“Ini buat lo.” Wina menyodorkan segelas kopi pada temannya, wajahnya dipenuhi senyuman.
Wirasa masih tak mengerti. “Thank you?”
Lawan bicaranya itu mengangguk-angguk pasti. Sesaat mata mereka bertemu. Dan dari matanya saja, Wirasa dapat melihat teman baiknya itu tersenyum bahagia.
Baiklah, mungkin Wirasa hanya perlu menyesuaikan moodnya dengan sang dokter. Tak mungkin ada hal buruk yang datang jika seseorang dari ujung rambut hingga kakinya terasa membawa aura positif, kan?
Ia mulai menyesap kopinya dan menghela nafas. Mungkin dirinya sudah terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak.
“Sa.” Panggil Wina kemudian.
Yang dipanggil spontan menoleh.
Kembali, Wina memberikan senyumannya tulus. “Welcome,” ucapnya, “to the family.”
Hah?
Wirasa semakin tak mengerti. Ia menahan tangannya untuk tidak memeriksa dahi sang dokter. Barangkali ia tertular virus flu yang ada di tubuh Jowen, atau pasiennya yang lain.
Andai saja ia dapat melihat semuanya dari sudut pandang Wina.
Andai saja ia sendiri yang baru saja mendapat kabar dari adiknya kalau kekasihnya melakukan hal yang lebih dari cukup membuatnya yakin bahwa ia memilih orang yang tepat untuk ia percaya.
Mungkin terdengar amat sederhana, namun ini kali pertama Wina menemukan seseorang yang mampu merawat adiknya seperti saat Wirasa membantu semua kegiatan Jowen di kamar mandi kemarin siang.
Andai saja Wirasa tahu berapa banyak hormon bahagia yang ada dalam otak Wina saat ini.
Andai saja ia tahu bahwa dirinya baru saja mendapat kepercayaan penuh dari Wina, dan mungkin seluruh anggota keluarganya.
Mungkin ia akan mengerti semua perilaku Wina pagi ini.
Mungkin ia akan mengerti apa maksud sambutannya tadi.
Maybe she would sound less like a crazy.
