Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-04-28
Words:
2,986
Chapters:
1/1
Kudos:
23
Hits:
1,048

Magis

Summary:

Untuk pertama kali saturdate rutin mereka dilaksanakan di rumah saja.

Inspired by "Jatuh Suka" - Tulus.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Di malam minggu yang mendung itu, sepasang kekasih yang biasanya menjelajah kota untuk saturdate rutin mereka, memilih berdiam diri saja dirumah gara-gara mobil milik yang lebih tua, harus menginap di bengkel setelah mogok kemarin sore.

Sebagai pacar yang siap siaga, Jimin sudah menyulap kamar miliknya yang sehari-hari tampak monoton menjadi ruangan dengan suasana hangat dan nyaman, cocok untuk cuaca yang dingin malam ini.

Jimin memasang lampu tumblr di sisi kiri kanan dinding kamar, mengganti sprei dan selimut menjadi warna biru muda (warna kesukaan pacarnya), dan mengisi ulang akun netflix miliknya yang sudah setengah tahun dia abaikan. Semuanya demi untuk menyenangkan hati sang pacar yang kecewa saturdate mereka harus batal.

Minjeong, pacar kesayangan dan satu-satunya Jimin, cukup puas dan terhibur dengan effort Jimin agar malam minggu mereka tetap berkesan meski tidak sesuai rencana awal. Minjeong suka bergelung dibawah selimut sambil menonton series netflix favoritnya. Ditambah rangkulan hangat dari Jimin yang sesekali menyuapinya dengan snack jagung kesukaan mereka.

Walau hanya di dalam kamar, tapi date mereka tetap menyenangkan bagi Minjeong. Well, begitulah yang ia rasa di dua jam pertama.

Ketika layar TV Jimin secara otomatis memutar next episode Stranger Things, Minjeong tiba-tiba saja melepaskan diri dari rangkulan Jimin dan meletakkan kaleng minuman sodanya di nakas.

“Sayang kenapa?” Jimin ikut bangkit dari rebahan dan mensejajarkan badan dengan Minjeong.

“Nggak mau nonton lagi? Bosen ya?”

Minjeong membalas dengan anggukan pelan. Bibirnya manyun, ekspresinya merajuk. Terlihat sangat menggemaskan dimata Jimin tapi ia lebih tahu kalau sekarang bukan waktunya gemes-gemesan.

“Maaf ya sayang.. Date kita jadi berantakan gara-gara aku.” Kata Jimin pelan sambil mengelus sebelah pipi Minjeong.

“Hmhm.. Gapapa, aku nggak nyalahin kamu. Aku suka kok kita habisin waktu berdua kayak gini, akunya aja yang gampang bosen. Maaf ya kak.”

Minjeong lalu memeluk pinggang Jimin manja. Wajahnya ia tengadahkan sehingga tepat berada bawah dagu Jimin. Aduh, puppy eyes pacarnya itu memang kelemahan telak seorang Yoo Jimin.

“Jangan minta maaf. Kan bukan salah kamu juga, sayang.” Lalu Jimin mengecup satu kali dahi Minjeong yang tertutup poni tipis dan balas memeluknya erat.

“Kalo kamu udah nggak betah nonton, gapapa. Kita bisa lakuin hal lain. Kamu mau apa, hm?” Bisik Jimin sambil mengelus-ngelus punggung Minjeong penuh sayang. Satu tangannya mengambil remot dan mematikan TV.

“Um.. Apa ya? Kalo date di rumah aja kayak gini, orang-orang biasanya ngapain ya kak?”

Sejenak, hanya sejenak, terlintas satu jawaban di benak Jimin untuk pertanyaan itu. Tapi dengan cepat ia hilangkan pikiran aneh itu dari otaknya. Situasinya sedang begini, mana boleh dia menyarankan ide macam-macam. Salahkan Aeri dan Yeji yang bercerita tentang pengalaman date mereka dengan pasangan masing-masing yang berakhir mesum padanya kemarin. Dasar teman-teman sesat.

“Kurang tahu juga sih, yang. Kita kan nge-date selalu diluar rumah karena kamu seneng jalan-jalan.”

“Huhh.. Sesekali kita emang harus coba date yang beda kak, biar nggak kebingungan kayak sekarang.”

Jimin tertawa mendengar keluhan kesal tapi lucu dari sang pacar. Ia lepaskan pelukan mereka lalu berkata,

“Mau main game aja? Kita udah lama nge-game bareng.”

“Ah, boleh, boleh! Ayo kak,kita main game, hehe.”

Jimin mengacak pelan rambut Minjeong lalu turun dari ranjang, berniat mengambil perangkat PS miliknya yang tersimpan di lemari. Tapi belum sempat itu terjadi, suara teriakan Minjeong yang mendadak menghentikan langkah kaki Jimin.

“KAK AKU ADA IDE!”

“Astaga sayang, aku kaget ih! Kenapa teriak-teriak?”

Minjeong hanya cengengesan sambil merentangkan kedua tangan, meminta Jimin kembali duduk di atas ranjang.

“Kak, kita main game tapi jangan game yang biasa. Kita main game tanya jawab aja gimana?”

Jimin yang sudah kembali duduk di samping Minjeong mengerutkan dahi, “Emang ada game kayak gitu?”

“Ada! Yah, kita buat-buat aja. Cara mainnya, aku ngasih kamu pertanyaan terus kamu jawab. Simpel kan?”

“Aku nggak ikut nanya?”

“Ikut, tapi nanti di sesi berikutnya, hehehe.”

Jimin hanya bisa geleng-geleng kepala dengan ke-random-an sang pacar. Meski terdengar aneh dan agak tidak adil, Jimin setuju saja dengan ide itu. Yang penting Minjeong senang.

“Oke, jadi tiap sesi ada lima pertanyaan yang harus dijawab ya, kak. Pertanyaannya bebas apa aja, suka-suka yang nanya asal berbobot.”

“Banyak amat lima pertanyaan.”

“Biar seru kakkk.”

“Terus contoh pertanyaan yang berbobot tuh gimana?”

“Yaaa, yang nggak ngaco. Pertanyaan yang jelas dan ada manfaatnya.”

“Kok harus bermanfaat sih? Emangnya kuis matkul?”

“Iihhh, kak Jimin! Protes mulu sih? Jadi mau main atau nggak?!”

Jimin tertawa lepas lagi. Menyenangkan sekali menjahili pacar imutnya ini. Jimin meraih kedua pipi Minjeong lalu menggesek-gesekkan ujung hidung mereka.

“Sorry, just kidding. Aku mau main game sama kamu. Your game, your rules.” Lalu satu kecupan manis mendarat di bibir tipis Minjeong, membuat yang lebih muda jadi merona.

“Dasar pacar durhaka kamu kak.”

Lagi-lagi, suara tawa Jimin memenuhi ruang kamar yang hangat itu.

 

“Alright, kita mulai game-nya ya! Sesi satu ini giliran aku yang nanya-nanya, di sesi berikutnya baru kamu, kak. Deal?”

 

“Deal, sayang.”

“Sip. Pertanyaan pertama!”

Minjeong ber-hm sejenak sambil menyipitkan mata bulatnya. Jimin menunggunya selesai berpikir dengan sabar. Senyum tipis tidak pernah meninggalkan bibir Jimin.

“Hal apa yang bikin kamu tertarik sama aku pertama kali?” Tanya Minjeong dengan mantap.

Jimin sedikit mengerutkan alis. Melihat senyum lebar Minjeong, Jimin jadi terkekeh kecil. Ada-ada saja memang ide gadis itu untuk memenuhi rasa penasarannya.

“Aroma kamu yang harum.” Tidak butuh waktu lama bagi Jimin untuk menjawab.

“Eh? Harum? Maksudnya wangi parfum aku?” Minjeong memiringkan kepala heran, satu jari telunjuknya menunjuk ke diri sendiri.

“Mhm. Aroma parfum kamu emang enak. Tapi lebih tepat kalo dibilang yang aku suka itu wangi tubuh kamu. Campuran parfum, sabun, shampo, body lotion dan aroma alami badan kamu, itu yang aku suka. Harum banget.” Jelas Jimin kemudian membenamkan hidung di caruk leher Minjeong, menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam.

“So good, i love it.“

“Aihh, kak.. Geli!”

Mereka berdua tertawa ringan sebelum Minjeong kembali meminta penjelasan.
“Kamu pertama kali tertarik sama aku gara-gara itu? Kok bisa sih? Dulu kita kan nggak saling kenal.”

Jimin menyunggingkan senyum penuh arti. Ia menyandarkan badan dengan kedua tangan ke belakang sambil kembali mengingat momen pertama kali ia menyadari kehadiran sosok seorang Kim Minjeong di dunianya.

“Waktu itu hari pertama kuliah di semester baru. Aku masuk semester tiga, dan angkatan kamu masih maba.”

“Aku telat bangun padahal ada kelas pagi, kebiasaan libur panjang sih. Jadinya aku nggak sempet sarapan dan kelaperan di kampus. Mau nggak mau, aku jadi makan di kantin kampus yang waktu itu rame sama maba. Aku duduk sendirian di meja pojok karena temen-temen aku milih buat memperpanjang libur.”

Minjeong mendengar dengan penuh perhatian pada cerita sang kekasih. Manik kelam Jimin berbinar-binar, ia larut didalamnya.

“Disitu aku makan buru-buru karena nggak betah sama suasana kantin yang rame. Angkatanmu berisik banget.” Minjeong tertawa geli.

“Tapi ada hal yang bikin aku nunda kepergian dari kantin meskipun makananku udah habis. Pas aku lagi nunduk nyari uang pecahan di dalam tas, hidung aku nangkep aroma harum yang enak banget. Aku otomatis angkat kepala, tapi disekitar aku nggak ada siapa-siapa.”

“Aku sadar aroma itu mungkin berasal dari orang yang barusan lewat di sebelah aku, jadi aku celingukan nyari si pemilik harum. Ternyata ada beberapa maba yang baru aja ambil posisi duduk di meja belakang aku. Entah kenapa, feeling-ku bilang kalo salah satu dari mereka si pemilik aroma itu.”

“Akhirnya biar rasa penasaranku tuntas, aku sengaja lewat di sebelah meja itu sambil pura-pura main hape biar langkahku pelan, biar aku sempet hirup aroma harum itu. Hahahaha!”

“Astaga kak! Segitunya ya kamu!”

“Ya gimana dong, kamu tahu kan indera penciumanku sensitif banget. Kalo ada bau yang ga enak, aku pasti benci banget. Tapi kalo ada aroma harum yang cocok di hidung aku, aku bakalan suka banget. Makanya aku sampe kayak gitu.”

“Hm, yayayaaa. Terus gimana? Kok kamu bisa tau kalo itu aroma aku?”

“Aku tahu karena kamu waktu itu duduk di ujung, paling deket sama posisi aku berdiri.”

“Kamu tahu? Aku sampe terpaku sepersekian detik karena selain aroma kamu yang harum banget, mataku juga dimanjain sama kecantikan kamu yang nggak kalah menarik. Aku benar-benar beruntung nemuin kamu hari itu.”

Mendengar penuturan Jimin yang penuh ketulusan, Minjeong tidak bisa menahan salah tingkah. Wajahnya bukan merona lagi, tapi merah padam. Memang ya, pacarnya yang setahun lebih tua ini paling bisa membuatnya meleleh dengan hal-hal paling sederhana sekalipun.

“Cie, ada yang malu-malu nih.”

“Ihh, kak Jimin mahhh~”

“HAHAHAHA!!”

 

Setelah pulih dari rasa salting serta puas memukul lengan Jimin yang jahil, Minjeong melanjutkan permainan.
“Pertanyaan kedua!”

 

“Apa yang bikin kamu mikir kalo kamu suka sama aku?”

“Karena aku gugup banget saat berhadapan sama kamu.”

“Ha?? Kapan kamu begitu kak?” Minjeong bertanya dengan sanksi. Rasanya ia belum pernah melihat Jimin gugup di depannya. Jimin itu dikenal sebagai senior yang bernyali besar di kampus. Dosen saja bisa dengan santai di konfrontasi oleh Jimin. Jadi rasanya nyaris mustahil dia bisa gugup hanya karena seorang adik tingkat seperti Minjeong.

“Pernah. Kamu pasti nggak sadar karena waktu itu kita belum saling kenalan.”

“Waktu itu kamu pengen masuk UKM jurnalistik, yang ketua panitia recruitment-nya kebetulan adalah Aeri. Kamu nyamperin dia di pendopo fakultas, ada aku juga disitu. Kamu pasti nggak sadar karena terlalu fokus nanya-nanya ke Aeri.”

“Oh.. Waktu itu ya. Emang selain kak Aeri ada dua orang lagi disitu. Jadi itu kamu kak?”

“Yup. Aku duduk di ujung, disamping Yeji yang asik ngobrol sama temen kamu. Aku cuma bisa curi-curi pandang aja waktu itu, nggak berani ikut nimbrung di obrolan kalian. Hahahah.”

“Ah, pantesan aku nggak inget kamu kak! Kamu diem-diem aja sih. Kalo kak Yeji, aku inget soalnya saat itu juga dia minta kontak whatsapp-nya Ryujin. Hahaha!”

Jimin ikut tertawa, menertawakan kekonyolannya sendiri. Andai saja saat itu dia seberani Yeji, pasti mereka berdua sudah lebih lama bersama-sama. Tapi namanya juga proses. Semua memang ada step by step.

“Yah, pokoknya di momen itu aku tahu kalo aku bukan cuma sekedar tertarik sama aroma dan penampilan kamu. Karena setelah mendengar nada kamu saat bicara, juga suara kamu saat tertawa, aku tahu aku suka kamu lebih dari yang aku pikir.”

Minjeong menautkan jari-jemari mereka lalu melemparkan senyum malu-malu pada sang pacar. Jimin membalasnya dengan cubitan gemas di pipi.

 

“Okay, sekarang pertanyaan ketiga.”

 

“Setelah kamu sadar kamu suka sama aku, apa yang kamu lakuin? Kamu nggak langsung approach aku kan waktu itu?”

“Ya, benar.”

“Kenapa?” Minjeong sudah menelungkup di atas kasur sekarang. Ia menumpukan kepala di atas kedua tangan, menanti penjelasan Jimin.

Jimin yang masih dalam posisi duduk menghadap Minjeong menggerakkan tangan untuk menyampirkan anak rambut sang pacar yang jatuh mengenai wajahnya. Tangan kirinya ia gunakan untuk mengelus pelan puncak kepala Minjeong.

“Aku nggak berani, sayang.”

“Dih, tukang protes kampus yang berani ngebantah Kadep, masa sama aku aja nggak berani sih?”

“Beda dong. Emangnya aku naksir sama Kadep?”

Minjeong memukul gemas paha Jimin. Pacarnya ini asal bicaranya memang suka bikin sebel.

“Karena aku suka sama kamu, makanya aku nggak berani. Itu hal yang wajar kan kalo lagi naksir sama seseorang?” Minjeong mengangguk-angguk pelan.

“Aku inget, ada satu momen dimana aku merasa cupu banget. Waktu itu Hima mau ngadain seminar nasional dan kepanitiaannya banyak yang diambil dari angkatan kamu. Ada kamu juga kan? Kamu jadi anggota seksi acara yang ketuanya Aeri.”

“Pas lagi rapat bersama, posisi duduk kamu di seberang tempatku. Aku bisa bebas liatin wajah samping kamu saat itu.”

“Kamu udah kayak stalker aja deh kak.”

“Bukan stalker, secret admirer.“

“Idih. Sok iya kamu kak!

“Hahahaha!”

“Terus, terus? Kamu merasa cupu karena cuma bisa liatin aku dari seberang gitu?”

Jimin menggeleng, ia menyisir rambut panjangnya ke belakang dengan jari lalu membalas,

“Aku merasa cupu karena pas aku lagi asik-asiknya liatin kamu, nggak sengaja kamu gerakin kepala ke arah aku. Aku panik, aku pikir aku ketahuan lagi mandangin kamu. Akhirnya di sepanjang sisa waktu rapat itu, aku lebih banyak nunduk karena nggak berani beradu tatap sama kamu lagi.”

Minjeong tertawa terbahak-bahak setelahnya, sampai berguling-guling diatas ranjang. Jimin ikut tertawa, bagaimanapun kalo dipikir lagi, tingkahnya waktu itu memang konyol sekali.

“Aduh kak.. bener, kamu emang cupu banget! HAHAHA.”

“Yayaaa, kan itu dulu. Sekarang kan aku berhasil jadiin kamu pacar. Aku udah nggak perlu lagi ragu dan takut buat natap kamu atau bahkan nyentuh kamu, karena kamu udah punya aku.”

Setelah mengatakan itu Jimin merendahkan badan dan menghujani wajah Minjeong dengan kecupan-kecupan kecil.

 

Sekarang Jimin sudah bersandar di kepala ranjang dan Minjeong rebahan dengan meletakkan kepala di paha Jimin.

 

“Pertanyaan ketiga. Apa yang setelah itu bikin kamu berani deketin aku?”

“Hm...” Jimin tidak langsung menjawab. Ia berpikir beberapa waktu sambil memainkan jari di rambut Minjeong.

“Aku rasa, karena aku iri sama orang-orang yang bisa bebas ngobrol sama kamu.”

“Iri?”

“Mhm. Waktu itu kamu dikenal sebagai salah satu maba cantik inceran kating. Ada banyak orang yang deketin kamu kan? Mereka terang-terangan nyamperin kamu di kantin, di pendopo atau di koridor saat kamu lagi jalan. Kamu ramah, jadi kamu selalu tanggepin mereka dengan obrolan ringan. Aku selalu perhatiin kamu dari jauh, jadi aku tahu.”

“Karena keseringan merhatiin kamu, aku pun jadi tambah suka sama kamu. Tapi disisi lain aku mulai nggak suka dengan keberadaan orang-orang yang deketin kamu itu. Aku iri, aku cemburu. Kok mereka bisa sih ngobrol akrab sama kamu, sedangkan aku cuma begini-gini aja? Kamu tahu keberadaanku aja aku pesimis.”

“Aku tahu kok. Siapa yang nggak kenal seorang Yoo Jimin di kampus kita?”

“Tapi kamu nggak kenal aku secara pribadi.” Minjeong mengiyakan. Dulu dia cukup akrab dengan Aeri, seniornya di UKM jurnalistik. Ia tahu bahwa Jimin adalah teman dekat Aeri, tapi sebatas itu saja. Di masa-masa itu, Yoo Jimin nampak seperti dikelilingi tembok tinggi karena aura kuat miliknya. Ia terasa sulit didekati. Maka Minjeong pun tidak pernah berpikir untuk mengenal Jimin lebih dari itu.

“Saat itu aku ngebayangin betapa luar biasa rasanya kalo aku bisa ngobrol juga sama kamu. Aku mau merasakan itu juga, jadi aku beraniin diri buat nyapa kamu, ajak kamu ngobrol. Aku mau buktiin kalo aku nggak kalah dari orang-orang lainnya.”

“Emang, kamu nggak kalah sama sekali, kak. Actually, you are the final winner. Ya kan?”

“Right. Aku cuma telat memulai, tapi untuk hasil akhir, aku juaranya. I won the grandprize. You.“

 

“Jadi apa alasan kamu akhirnya ngajak aku pacaran? Itu pertanyaan kelima.”

 

Kata Minjeong sambil menyeka sisa-sisa liur di sudut bibirnya, bekas ciuman mereka yang baru saja terputus.

“Easy. Jawabannya, karena setelah dekat sama kamu aku merasa hari-hariku penuh. Aku bukan hanya makin jatuh hati sama kamu, tapi juga sama kebersamaan kita. Saat kamu sedang sibuk dengan urusanmu sendiri dan kita nggak ketemu, aku merasa nggak enak, nggak tenang.”

“Sepi. Nggak ada kamu disekitar aku rasanya sepi. Aku nggak suka. Aku pun mutusin buat minta kamu jadi pacarku. Karena dengan cara itu, aku punya akses untuk berada lebih dekat dengan kamu, lebih lama bersama kamu, dan nggak perlu khawatirin kamu karena aku bisa jagain kamu dari dekat. Iya kan?”

Minjeong mengangguk mantap. Apa yang dikatakan Jimin sangat tepat. Setelah pacaran, mereka berdua menjadi sangat dekat, secara fisik dan emosional. Mereka menghabiskan banyak waktu menyenangkan bersama, serta saling merawat dan menjaga satu sama lain. Hari-hari Minjeong -dan juga Jimin, menjadi penuh.

“Makasih karena kamu udah nerima aku jadi pacar kamu, sayang.” Bisik Jimin lembut tepat di depan wajah Minjeong.

“Aku yang harusnya bilang makasih karena kamu udah suka sama aku, kak. Kamu beraniin diri buat deketin aku, ngajak aku pacaran dan ada disampingku sampai saat ini. Makasih banget, sayang.”

Jimin menempelkan dahinya di dahi Minjeong. Tangan mereka saling menggenggam dan mereka bertahan di posisi itu selama beberapa menit, meresapi kehangatan cinta dan kasih sayang satu sama lain.

 

“Kak Jimin.”

 

“Hm? Kenapa sayang?”

“Aku boleh kasih satu pertanyaan bonus nggak? Hehehe.”

Jimin mengerutkan dahi. Ia tampak keberatan dengan permintaan sang pacar.

Sesi game tanya jawab mereka sudah berakhir, harusnya sekarang masuk ke sesi kedua yang mana Jimin-lah yang akan bertanya. Tapi Jimin lebih memilih untuk merebahkan diri dengan Minjeong di dekapannya. Punggungnya agak pegal, ia ingin beristirahat saja. Tanya jawab bisa lain kali.

“Giliran kamu kan udah selesai, sayang.”

“Iya tauuu. Makanya kan aku bilang pertanyaan bonus, diluar pertanyaan resmi. Hehehe.”

Jimin terkekeh geli. Minjeong yang selalu saja punya ide dan jawaban tak terduga inilah yang membuat Jimin semakin jatuh hati.

“Yaudah, iyaaa. Berhubung ini permintaan dari pacar aku, jadi aku kabulin. Tapi satu aja ya?

“Iyaa~”

“Hm. Apa pertanyaannya?”

Minjeong memperbaiki posisi tubuhnya di dalam dekapan Jimin kemudian bertanya,

“Apa yang bikin kamu yakin mempertahankan hubungan sama aku selama ini? Maksud aku, aku ini kan manja banget. Sering bikin kamu repot pula. Sementara kamu sangat dewasa, selalu memperlakukan aku dengan baik. Kalo bukan sama aku, kayaknya kamu pun tetap bisa dapetin pacar lain yang serasi sama kamu.”

Nada bicara Minjeong makin lama makin mengecil. Jimin bisa menangkap perasaan gelisah dan insecure dari pacarnya dibalik pertanyaan itu. Maka Jimin meraih wajah Minjeong, mengarahkannya untuk menatapnya lurus.

“Jawabannya sangat mudah, sayang. Karena kamu punya daya magis yang nggak bisa aku jelasin dengan kata-kata. Magis perekat yang bikin aku selalu jatuh hati sama kamu.”

“Aku rasa itu emang udah ada di dalam diri kamu sejak lahir, dan cuma kamu yang punya. Aku nggak pernah merasa keterikatan seperti ini sama orang lain. Cuma kamu.”

“Maka, entah selama apapun itu, sebanyak apapun orang yang datang dan pergi, dan sesusah apapun hal yang harus aku lewati, aku akan tetap sama kamu. Karena kamu yang bikin aku jatuh cinta berkali-kali, terus-menerus, tanpa henti. Bukan yang lain.”

Mata Minjeong berkaca-kaca setelah penuturan isi hati Jimin yang benar-benar dari hati itu. Ia ingin membalas, tapi tidak tahu harus bilang apa. Perasaan haru, senang dan bahagia karena dicintai sedemikian rupa, meluap begitu besar dalam dirinya sehingga otak dan mulutnya tidak dapat bekerja dengan benar.

Maka, Minjeong balas mengungkapkan cintanya untuk Jimin lewat satu ciuman panjang dan dalam. Sambil memeluk Jimin sangat erat, ia ingin menyampaikan betapa bersyukurnya ia memiliki seorang Yoo Jimin dalam hidupnya. Karena, sentuhan adalah bahasa cinta favorit Jimin.

“Minjeong.. Hhh.. Sayang..”

“Hh..hh.. Iya kak?”

“Tadi kamu nanya.. biasanya orang ngapain kalo lagi nge-date di rumah aja ya, kan?” Jimin berbisik seduktif.

“Hm.. Iya.. hh..”

“Aku tahu jawabannya.” Bibir Jimin menyentuh permukaan kulit leher Minjeong.

“Nghh.. A-apa?” Minjeong merasakan telapak tangan Jimin mendarat di kulit di balik bajunya.

“Having sex, sayang. But with you, I call it making love.”

Diluar hujan turun dengan deras, tapi sepasang kekasih itu sama sekali tidak merasa kedinginan.

Fin.

Notes:

Ini salah satu tulisan dari writing account lamaku. Cek tulisan lainnya di twitter @soraidezzu.
Yang mau traktir author boleh
disini thank you!