Actions

Work Header

Right where you are

Summary:

—atau tepat dimana kamu berada.
Itu definisi kebahagiaan menurut mereka.

Rui dan Nene akhirnya bertaut dalam kidung setia.

Notes:

nikah umur berapa, terserah. whatever. asalkan mereka bahagia. detilnya kalian imajinasi sendiri yaa.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Tepat seusai bertanda-tangan pada kertas persegi panjang putih, keduanya dinyatakan sah sebagai pasangan suami-istri. Sesimpel itu menikah di Jepang.

Kesan yang ditimbulkan terasa seperti mengisi kertas registrasi biasa untuk mengganti nama belakang keluarga pihak perempuan. “Selamat, mulai sekarang engkau adalah Kamishiro Nene.”

Dan, sang pemilik nama hanya dapat menanggapi dengan anggukan singkat sembari bersembunyi di punggung lelaki yang telah berganti status menjadi pasangan hidupnya.

Dua sejoli itu pulang berjaan kaki menuju apartemen Rui, ditengah jalan sedikit berbincang santai.

“Apa cuma perasaanku, atau memang di banyak negara lain menikah tidak semudah disini?” tanya Nene, sambil sedikit tertatih mencoba menyamai kecepatan langkahnya dan Rui. Langkah Rui tentu saja jauh lebih luas dengan kedua kaki panjang itu. Satu langkah mungkin dua kali lipatnya langkah Nene.

Menyadarinya, ia segera menggamit tangan Nene mesra. “Hei... maaf. Aku akan pelan-pelan.” ujarnya halus. “Ah, Nene tanya apa tadi? Oh, ya.”

“Aku penasaran saja. Rui juga pasti tahu 'kan? Apalagi kamu menempuh S2 di luas negeri.”

“Tidak biasanya kamu tertarik persoalan sosial begini, hehe.” Rui terkekeh, sedikit menggoda tidak apa-apa bukan?

Untungnya tidak sedang sensitif, jadi Nene hanya menimpali dengan, “Aku bukan anti-sosial, tau." balasnya. “Lagipun, aku sudah jadi Nyonya Kamishiro sekarang ini. Memangnya salah kalau aku ingin sok intelek sedikit sepertimu?”

Rui jadi kicep. Sebagian dari dirinya masih terlalu malu untuk menganggap gamblang bahwa posisi dirinya sekarang adalah suami dari gebetannya sejak masih cimit.

Ia menaruh kepalan tangan di depan bibir. “Hm. Dari yang kutahu sih, pernikahan di luar sana merepotkan karena diadakan acara seremonial.” Rui akhirnya menjawab. “Itu semacam tradisi kultural untuk mengumumkan kepada tetangga dan orang banyak.”

Nene manggut-manggut. “Merepotkan, ya? Jadi acaranya diadakan untuk memberi tahu semua orang bahwasannya 'Hoi! Aku sudah menikah, lho!', begitu yang aku tangkap.” Rui tersenyum kecil karena pen-deksripsian Nene yang kedengaran familiar.

Tepat ketika itu juga, Rui membuka pintu apartemen yang terkunci. Cklek.

“Disini, yang menggelar pesta pernikahan hanya orang kaya dan selebritas.” sambung Rui sehabis beres-beres dan mengganti baju. Begitu juga dengan Nene.

“Aku tahu persis apa yang ada dalam otak encermu saat ini juga.” Nene menunjuk jidat jenong Rui. “Kamu pasti berpikir, 'Itu pasti sesuatu yang akan dilakukan Tsukasa-kun', benar?”

“Sejak kapan kamu pandai membaca pikiran orang?” sergah Rui pura-pura sewot, tangannya sibuk mengampar futon yang masih tergulung.

“Kamu pikir sejak kapan aku mengenalmu?” Nene menyenderkan tubuhnya pada dada bidang Rui. “Sudah, ah. Ayo kita telepon Ayah dan Ibu kita. Mereka pasti sudah menunggu kabar dari tadi.”

Keduanya berbaring pada futon yang disatukan. “Harus kupanggil apa Ayah dan Ibumu sekarang? Ayah dan Ibu mertua?”

“Apa sih, Rui. Seperti biasa saja. Paman dan Bibi.” Nene jadi salah tingkah sendiri.

Sementara Rui sibuk mengotak-atik ponsel genggamnya, mencari kontak Ayah dan Ibunya. Nene mulai merasa gelisah.

“Rui, kamu mau melakukannya denganku malam ini?”

Kedua irisnya melebar atas terlontarnya pertanyaan itu.


Paginya, Rui dan Nene masing-masing sibuk menerima banyak ucapan selamat dari kenalan dan rekan kerja.

Namun, ada satu yang paling menarik atensi mereka.

Tsukasa mengirimkan sebuah video ucapan bersama Emu. Isinya, 'Rui! Nene! Kami harap kalian punya banyak anak sampai membentuk kesebelasan sepak bola!' dan tentu saja keduanya bersemu di tempat. Gila saja kau, Tsukasa. Itu sih mending kau sendiri yang wujudkan.

“Dia belum ada rencana menikah dengan Emu?” Nene memulai obrolan pagi hari dengan topik teman lama. Meski begitu tetap cekatan berkutat di dapur membuat sarapan sederhana.

“Tsukasa-kun sudah dapat restu keluarga Otori. Sisa menunggu Emu menyelesaikan kuliah manajemen bisnisnya.” jelas Rui.
 
“Aku masih tidak percaya Emu kuliah cuma demi membuktikan pada kakaknya ia bisa memegang kendali sepenuhnya Phoenix Wonderland.” Kok rasanya baru kemarin Emu merengek-rengek tidak jelas meminta aku mengendalikan RoboNene. Nene membatin.

“Ia masih Emu yang kita kenal dahulu, namun sudah berangsur menjadi pribadi yang mandiri.” Rui menutup novel barunya saat Nene menyuguhkan roti lapis di dampingi segelas susu murni. Dua insan yang introver ini lebih senang melakukan monolog. Yang dipikirkan banyak, yang keluar hanya seuntai kalimat.

“Serius? Kau menyisipkan selada?” Ekspresi Rui beringsut jadi mimik tidak suka. Tampangnya menatap selada yang ia sisihkan sangat jijik.

Nene berkacak pinggang. “Tolong tatap selada itu sebagaimana kau menatap anak-anak mesin kesayanganmu, Tuan Insinyur.”

“Huh? Kurasa aku lebih sering menatapmu penuh cinta dibanding mereka, Nyonya Diva.”

Nene menatapnya galak. Rui dengan santai balas dengan tatapan lekat. Bagus, sekarang Nene merasa seperti dimadu. Istri pertama, gir-gir mekanisme, istri kedua baru dia.

“J-jangan tatap begitu, ibumu yang menyuruhku tau! Aku hanya menuruti Ibu mertuaku.” Nene berkata jujur. “Hee ... jadi hanya kamu yang dapat petuah? Irinya~”

Istrinya lagi-lagi merespon dengan wajah judesnya seperti biasa. Perlahan mengunyah menu simpel yang ia sendiri sediakan.

“Pemerintah telah transfer uang wejangan.”

Nene akhirnya kembali menyimak Rui serius. “Jumlahnya besar sekali. Tidak main-main.” Rui melanjutkan omongannya.

“Mau dibelanjakan apa uang itu?”

“Mari kita beli cincin tunangan.”

Rui menyengir. Nene tersenyum geli saat Paksu menautkan jemari dengannya, kemudian mengelus jari manis Nene. “Jangan cari pengalihan, makan seladamu.” Yah, kirain berhasil.

Air muka Rui berubah kecewa.

“Kita sibuk sekali ya, dulu. Sampai cincin tunangan saja belum kesampaian dibeli.” Pikiran Nene mampir ke angan-angan. “Nene mau gelar pesta?”

“Hm? Tidak usah.”

“Kalau kamu berpikir itu hanya akan memboros tabungan, ingat, itu cuma sekali seumur hidup.”

Pemilik surai keabuan menimbang-nimbang terlebih dahulu.

“Bagaimana kalau kita beli rumah saja?”

Keputusan itu tak bisa diganggu gugat.

Oh, Rui sama sekali tak menyentuh seladanya–sedikit pun. Nene menjewernya tiada ampun.


Tanpa banyak basa-basi lagi, Rui dan Nene membeli rumah minimalis. Lokasinya disekitar kompleks rumah mereka dulu. Bisa sekalian bernostalgia.

Seminggu lebih preparasinya, lengka sudah rumah itu disesuaikan dengan penghuni barunya.

Furnitur, perabotan, beserta segala isi dan kebutuhan dibeli atas diskusi dan persetujuan Ibu Rui dan Ibu Nene. Para Ayah hanya ikut menambahi modal. Sebagai tetangga lama dan–ekhem, besan, mereka akrab sekali.

Sementara Rui dan Nene menyibukkan diri dengan pekerjaan masing-masing, lagi. Tentu saja.

Setidaknya malam ini mereka ketemu di tempat yang tidak seperti biasa.

Jam sembilan lewat lima belas menit, Nene dipersilakan meninggalkan studio rekaman. “Terima kasih atas kerja kerasna, Kusanagi-san!” Nene merogoh tasnya, mengangguk cepat atas ramah-taah staff.

“...Atau sekarang mesti dipanggil, Kamishiro-san?” Nene hanya mengaitkan genggamannya pada tas selempangnya saat hampir semua orang menggodanya. Malu. Rupanya begini jadi pengantin anyar.

Sesampainya di rumah baru, Nene bebersih lalu mendapati Rui tengah berbenah sebisanya. Nene menghampiri, “Sini kubantu,” kemudian menyingsing lengan baju tidur yang ia kenakan.

Seperti mengalami kilas balik, momen seperti barusan rasa-rasanya pernah terjadi. Bedanya, dulu Nene memakai kemeja seragam sekolah.

Rui terjebak dalam deja vu.

“Piyama ungu ini, aku yang pilihkan.”

Selesai menata barang dan kardus, Rui mengendus wangi parfum Nene dari piyama yang ia pakai. Spontan mendekapnya dari belakang.

“Aku memilihnya sebab berwarna violet.” Nene mengangkat kedua alisnya secata tidak sadar. “Karena kamu suka warna ungu?”

Rui memegang poni rambutnya yang panjang sebelah. “Pertama, itu warna rambuku. Kedua...” jeda sejenak. “Serasi dengan warna matamu.”

Walau sedikit kebesaran, Nene mengulas senyum hangat. “A-aku akan selalu memikiranmu saat memakainya.” ucapnya tulus.

Rui memainkan cincin baru mereka di jari manis Nene. Tampak menggemaskan bersanding dengan telapaknya yang besar.

“Kukumu teksturnya aneh.” Arah pembicaraan ini sudah diketahui Rui. “Kurang asupan gizi sayur dan buah.” Tertohok, Nene menyikut suaminya.

Rui kalah adu mulut, jadi ia pasrah mengendurkan lengannya yang tadinya melingkari pinggul istrinya. Nene beranjak untuk menunjukkan kapsul.

“Obat?” Nene memberi isyarat agar Rui diam dulu. “Vitamin. Ada bubuk di dalamnya. Khasiantnya banyak, akan kutambahkan di semua makananmu. Harus kamu kantongi kemana-mana juga.” Nene menerangkan spesifikasinya.

Rui menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Ini tidak terasa seperti sayur dan buah, kok.” Apa iya?

Deal.”

“Kamu persis anak kecil.”

Mereka makan malam dengan kare instan yang dihangatkan dengan microwave. Percobaan pertama, benar kata Nene, indra pengecap Rui tidak merasakan kontaminasi rasa lain.

“Omong-omong, Rui.” Nene berujar pelan. Suaranya lebih kecil. “Ya?” Keduanya baru selesai mencuci dan mengelap piring kotor.

“...Aku minta maaf soal malam pertama kita. Sungguh.” Wajah Rui melunak mendengarnya, entah Nene mendengar atau tidak satu-dua debaran jantungnya yang kian menggila. Ayolah, Rui. Ini bukan hal tabu untuk suami istri.

“Perkara itu, hiraukan saja. Aku tidak terlalu kepikiran.”

Nene jadi sukar mau membahasnya lagi.

“Aku enggan melakukannya jika kamu sendiri belum ingin.” Duh, bukan belum ingin, tapi waktu itu belum siap saja. Sayangnya Nene tidak punya nyali untuk menyuarakannya.

“Rui, jangan sungkan.” Ketika mereka bersiap untuk tidur, Nene meraih kaus Rui, menariknya. Rui menaikkan satu alisnya. Kayaknya Nene bilang sesuatu deh tadi.

“Maaf, kali berikutnya aku pasti sudah siap.”

“Nene, kamu curang.”

Pintu kamar utama ditutup rapat.


“Bagaimana rasanya mengganti marga?”

“Biasa saja, ah.” Nene menjawab pertanyaan acak Rui sambil memainkan Nintendi barunya. Memang ada waktu-waktu tertentu dimana Rui tiba-tiba kepikiran ini dan itu.

Saking lama megenal sosoknya, Nene jadi banyak hapal kebiasaan kecil dan sepele Rui diluar kepala.

“Fufu, kamu suka sekali hadiah dariku?” Rui jadi tidak sampai hati untuk menjaili dan merebut Nintendo itu dari pasangannya. Lelaki paruh baya itu mengurungkan niat jahatnya. “Sepertinya kalau kubelikan PS4, kamu akan makin cinta padaku.”

Nene melirik antusias.

“Idemu tidak buruk. Kita bisa main bareng.” Nene membenarkan posisinya. Bukan berarti dia tak bisa beli pakai uang penghasilan sendiri, hanya saja dibelikan oleh Rui rasanya meninggalkan kesan agar dijaga sebaik mungkin ketimbang beli sendiri.

“Eit, jangan boros.” Rui mencubit hidung Nene gemas.

Diibaratkan notifikasi pop-up LINE di layar kunci, Rui tiba-tiba kepikiran sesuatu, lagi.

“Apa kamu senang menjadi seorang Kamishiro?”

Kelihatannya darah Nene naik ke pipi. Sekilas terdengar suara game over dari Nintendo yang sedari tadi ia tak ingin lepas dan jauh darinya.

“Pertanyaan macam apa itu? Tentu... saja...”

Ia menyembunyikan separuh mukanya pada bantal mana saja yang dapat diraih olehnya. Rui terkekeh geli. Syukurlah, batinnya bersorak.

“Nene memang tidak berubah.”

“Masa? Nama belakangku berubah, tuh.”

“Beda konteks, sayaaang.”

Terpancing insting Rui, Nene ikut kepikiran hal menggekikan. “Bagaimana jika namamu berubah jadi Kusanagi Rui?”

“Itu baru pertanyaan yang patut dibalas dengan 'pertanyaan macam apa itu?'” Keduanya menyeringai.

“Di tempat kerja, mereka masih memanggilmu Kusanagi?”

Mereka masih melanjutkan percakapan tadi, namun sudah berpindah lokasi yaitu di dapur. Mereka pikir minum coklat panas saat begadang adalah ide cemerlang.

“Kebanyakan, ya. Ada beberapa juga yang menjailiku dengan panggilan Kamishiro-san, sih.” Nene mengakui gamblang. Rui senyam-senyum seperti orang yang akal sehatnya telah dikebumikan. Senangnya dalam hati, mendengar fakta tersebut sembari mengaduk krimer untuk minuman coklatnya.

“Ah, Rui. Aku sudah mengonfirmasi pada agensi dan reporter mengenai rumor bahwa aku telah menikah.” Rui mendelik sebentar. “Oya? Nene bilang apa?”

“Aku cuma bilabg jika ini akan masuk berita, tolong cantumkan informasi tentang orang yang aku nikahi adalah seseorang diluar industri hiburan.”

“Begitu. Aku mengerti.” Tanggapan Rui singkat saja.

“Tidak ada yang salah dari perkataanku, 'kan? Rui tersinggung soal sesuatu?”

Terbesit di benak Rui, betapa menyenangkan jikalau lebih banyak orang tahu bahwa penyanyi andalan mereka adalah istrinya. Cepat-cepat ia mengusir keinginan egois itu. Ia sesegera mungkin mengibaskan tangan dan meneleng.

Nene keheranan, sedikit-banyak bingung atas kelakuan Rui yang sekarang bengong. Sorot mata kosong melompong.

“Anu... Rui. Aku ingin menawarkan hal kecil padamu.”

“Ng?”

“Mungkin akan romantis jika kita saling mencantumkan nama kita di akun bio sosial media masing-masing.” Rui mengangguk saja. Nene diam-diam kegirangan atas persetujuan itu.

“Baiklah. Ayo lakukan.” Seandainya Nene tidak diizinkan agensi, ia masih punya akun pribadi yang bebas ia apa-apakan.

Ada satu masalah serius.

Rui belum punya satupun akun jejaring sosial media.


“Tidak habis-habis dengan ponsel rakitanmu itu, ya.”

Sejak menjadi sarjana dengan gelar insinyur, Rui membuat ponsel rakitannya sendiri untuk dipakai sehari-hari.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa lelaki ber-entitas Kamishiro Rui itu seorang jenius.

“Praktis, sayang.” Nene mendesah. “Memangnya boleh? Itu tidak ilegal?”

“Kata siala? Yah, memang sih perangkatnya tidak terdaftar, hehe.” Nene menepuk jidat. Tidak bosan-bosan. “Jangan kurang kerjaan kalau dirumah. Sayang, bantu angkat jemuran!” Mendung mengambil alih langit. Rui mengacir ke teras yang hanya beberapa langkah, menjawab sahutan istrinya.

“'Kan hemat. Aku bisa menambah fitur baru yang aku mau kapan saja. Tidak perlu beli baru lagi setiap muncul tren.”

Nene kadang kala (selalu) kesusahan menerka-nerka isi pikiran Rui yang kadang (selalu) sepuluh langkah lebih maju darinya.

“Kodratmu dari dulu memang selalu sebagai kriminal pelanggar aturan.” Sekelebat memori terlintas, Henjin One-Two muncul dibayangan.

“Tidak habis pikir aku, dulu pas masih SMA bagaimana sih caramu menyembunyikan drone dan barang-barang anehmu yang lainnya?”

“Kenapa ingin tahu? Kamu ingin menyelundupkan granat ke studio rekaman?” Rui sudah duluan memprediksi sepakan maut istrinya dan mempertahankan mode defensif. “Inspeksi Kamikou itu ketat dan berkala, lho.”

“Mudah. Banget. Karena, yang selalu mengecekku dan Tsukasa-kun hanya Shiraishi-kun saja.” Nene tertawa lepas. “Kurasa hanya dia yang bertahan menghadapi kalian, ya?” 

Nene jadi takjub sendiri dan termangu saat Rui membawa cetak biru yang sudah usang, seperti desain sebuah robot. “Ini Tsuka-Robo. Ide Emu-kun yang ditolak.” Rui bergumam.

“Hah? Aku bahkan tidak pernah diberi tahu mengenai rencana ini. Kapan kamu merancangnya?” Pertanyaan Nene beruntun. “Juga, siapa yang menolaknya?”

“Emu-kun.” Eh, kok bisa. “Katanya ia tidak jadi menginginkannya. 'Kurasa aku akan tetap lebih memilih Tsukasa-kun yang asli!' jawabnya polos.” Karena gerah, Nene mengikat rambutnya jadi kuncir kuda.

“Astaga, Tsukasa akan sangat senang jika mendengarnya.” Keduanya berkelakar bersama.

Tangan Rui cekatan melipat pakaian tanpa merasa terganggu. “Aku juga lebih memilih Nene yang nyata sih, daripada yang replika.” Wanita disampingnya hampir saja mengkepret handuk bersih yang baru dicuci pada muka suaminya.

Keheningan merenyak sebentar.

“Robo-Nene masih bertengger kokoh di rak gudang,” Rui menyodorkan hasil lipatan pada Nene, duduk bersimpuh selanjutnya menyibak rambut. “Akan kucoba hidupkan lagi.” Raut wajah Nene berseru tertahan.

Anak rambut di dahi Rui terusap karena peluh, hari ini panas sekali.

“Bisa? Apa hanya perlu ganti baterai?”

“Kalaupun tidak, aku masih menyimpan cetak biru untuk membuat yang baru.”

Nene mengecup pipi tirus Rui sebagai tanda terima kasih.

(Sebelum proyek pemulihan Robo-Nene, Rui dipinta Nene untuk memperbaikin AC yang rusak dulu. Panasnya nggak nahan)


Pasutri itu kembali bercengkrama malam ini.

Tidak seperti biasanya, kali ini Rui yang inisiatif merencanakan malam romantis untuk kencan dalam rumah yang nyaman.

Netflix and Chill.

“Aku yakin kamu sudah tahu duluan, Tsukasa-kun main di serial Netfliks.”

“Tentu saja, bodoh. Aku adalah penyanyu yang mengisi sountrack film nya.” Kemampuan basa-basi yang sangat basi, Rui. Bravo. “Ini spesial, kamu pertama kalinya melakukan kolaborasi lagu.” Rui menyengir seraya menyetel film yang dimaksud di tab.

“Mhm. Bersama Leo/NEED, pula.” Masih dengan air muka jengkel karena basa-basi Rui yang rada-rada, Nene merespon. “Itu band adik Tsukasa, mereka bernaung dibawah agensi yang sama denganku sekarang.”

Rui tersekat, “Wah? Aku nyaris lupa.” tiba-tiba muncul ingatan menyenangkan dimana masa-masa Tsukasa yang bertindak seperti abang yang mengidap siscon. Si pirang itu selalu saja mengagung-agungkan adiknya, Saki.

Nene menyelonjorkan kaki. “Aku berteman baik dengan vokalisnya.” Rui sedikit tersentak. Wah, mutual Nene lumayan bermutu juga ya.

Mereka mulai menonton.

Ruangan lengang.

Cho– kenapa opening nya kamu lewati?!?”

“Nggak tau! Tanganku bergerak sendiri!” Nene membela diri. “Tiba-tiba aku malu ...” Mungkin gugup karena ini baru pertama kalinya ia mengisi insert song untuk film, biasanya untuk anime. Itu asumsi Rui saja sih. 

Tidak berlangsung lama, mereka terdiam kembali. Sibuk menikmati masing-masing. Di sela sesi menonton, Rui senyum-senyum kecil memandangi wajah ayu Nene.

Nene serius sekali sekali menonton, sampai kedua alisnya menekuk dan pelipisnya berkerut. “Aku suka sinematografi nya, indah ya?”

Selagi masih memandangi wajah elok istrinya, Rui tertawa renyah. “Yap. Betul-betul indah. Indah sekali.” (Yang dimaksud Nene, bukan film)

Beberapa tahun silam, karir Nene memang sedang naik daun. Kebanyakan lagu yang ia rilis didedikasikan untuk anime dan gim. Sudah jadi agenda tahunan bagi Rui dan Nene untuk menonton film yang melibatkan suara Nene. Meski genrenya bukan selera mereka.

“Eh, coba deh kamu teliti.” Nene menyambar bantal. “Di adegan ini, Tsukasa tak benar-benar mencium lawan mainnya.”

Sang suami mengangkat satu sudut bibir. “Memang selaku begitu. Tsukasa-kun sebenarnya sangat ogah ikut berperan dalam film romansa, apalagi adegan intim. Sebisa mungkin ia tolak tawaran sutradara.”

Nene duduk bersila. “Aku tidak banyak nonton film yang ia mainkan sih, jadi tidak sadar soal itu.”

Rui tersenyum simpul. Menekan tombol pause. “Bukannya ia sendiri yang berceloteh tentang itu di grup LINE kita?” Nene menggaruk pipi, nggak enakan. “Makanya jangan jadi sider terus dong, coba kontakan lagi dengan mereka berdua.”

Selain tidak punya banyak waktu untuk memegang ponsel genggam, waktu Nene tersita untuk bermain gim online.

“Iya-iyaaa, lagipula 'kan aku punya suamiku sebagai perantara sekarang ...”

Rui mengambil remot kontrol dan mengatur pencahayaan lampu kamar, berubah jadi redup dan gegap gempita.

“Alasan sebenarnya adalah Tsukasa-kun tidak ingin Emu-kun cemburu.”

“Eeh, manisnya.” Sepatah kata itu lolos dari mulut Nene, membuat Rui meraup sebentar bibirnya yang kering.

“Kenapa jadi bahas duo berisik itu ya? Ayo bahas tentang kita sekali-kali.” Nene balas mengecup Rui, marah karena tiba-tiba ia menyosor begitu saja.

“Kayak kamu gak berisik aja. Udah, ah. Lihat jam berapa ini.” Nene menuding jam dinding digital berwarna merah menyala, yang tetap terlihat walau kamar tidur mereka nyaris tidak terlihat apa-apa lagi.

Akhirnya mereka memutuskan untuk sudahan. Sudah cukup menyempatkan diri untuk quality time berdua. Esok pagi mesti bangun awal untuk bekerja.

“Selamat malam, sayang.”

Notes:

masih buaaanyak skenario yang bermunculan di kepalaku about ruinene marriage life, cuma ini yang bisa kurealisasikan. makasih udah baca!

anw buat kalian yang kudet, Jepun lagi resesi seks sekarang. jadi pemerintah gencar-gencaran cairin dana buat biayain orang biar tertarik nikah.