Work Text:
Berpikir lagi, Dazai merasa tidak ada lagu lain yang lebih cocok untuk menggambarkan situasi penuh pelangi warna-warni yang ditangkap netranya sekarang ini. Merdu suara Neida si vokalis grup musik pop HIVI! seketika saja memenuhi telinga Dazai dengan tembang populernya yang sudah seperti lagu andalan bagi setiap remaja kasmaran — Remaja. Dia menikmati bekal makan siang didampingi dengan drama roman picisan dari dua orang adik kelasnya yang sedang kerja kelompok (pacaran) di tepi lapangan sekolah. Orang gila, panas menyengat kota Jakarta pun rasanya seakan berjalan pada awal musim gugur di tanah Eropa kalau sudah bersama orang yang istimewa. Dazai masih tak habis pikir, mereka terlihat syahdu sekali bercengkerama dan apa itu ... Akutagawa menyematkan helaian rambut Atsushi di belakang telinganya.
Menggigit sumpit bambunya gemas, Dazai hampir menyemburkan nasi dalam mulutnya karena ... Ya Tuhan sangat menggelikan ya orang pacaran itu.
Memutuskan untuk menahan rasa geli dan merinding, Dazai malah membuka lebar-lebar jendela kelasnya agar dapat menyaksikan dua remaja dilanda cinta itu dari lantai dua. Enaknya nonton orang pacaran meskipun geli tapi bikin penasaran. Apalagi ini Atsushi, bisa dibuat bahan guyonan (ancaman) agar Dazai dapat sogokan camilan gratis penutup mulut. Jujur saja, Atsushi yang pemalu itu terkadang masih sulit dipercaya bisa punya pacar. Tapi ya ... siapa sih yang bisa berpaling dari manis wajahnya? Dazai saja sempat terpesona. Sedikit kok. Sumpah, cuma sedikit.
Kembali lagi pada bintang sinetron kita— Akutagawa dan Atsushi. Masih lanjut berkasih-kasih mesra seperti dunia ini tetiba cuma milik mereka berdua. Dazai menyumpit makanannya kembali sembari menahan senyum jelek ketika di sana ... di bawah pohon yang entah apa namanya, Atsushi menawarkan (menyuapi) Akutagawa potongan buah yang tentu istimewa karena disodorkan langsung dari jari-jari mungilnya. Hm, cuma potongan apel hijau tapi pasti terasa beribu kali lebih segar karena dari orang tercinta juga lebih manis karena dimakan dengan memandang wajah kekasih hati. Dazai memukul-mukul kusen jendela menahan tawa.
Duh, rasanya dia mau melipat langit Jakarta jadi dua.
Adegan terakhir sebelum episode selanjutnya ... Akutagawa mengambil sehelai tisu dari saku baju seragam Atsushi. Dazai jujur tidak berharap banyak. Namun, dengan kondisi langit secerah ini dan mata sehatnya yang sangat teliti, tidak mungkin dia salah lihat. Akutagawa mengusap bibir Atsushi setelah bocahnya selesai menelan sisa terakhir potongan buah dari kotak bekalnya. Yang diusap sudah pasti wajahnya memerah, hampir-hampir menyaingi warna bunga sepatu. Mengangkat kedua tangannya, Dazai melambai pada kamera ... Ya Tuhan dia tidak sanggup lagi melihat kengerian adegan sinetron cinta-cintaan remaja (aslinya dia cuma iri) di bawah sana.
Langit sedang bersahabat, semburat jingga di ujung barat sana menemani mereka berdua pulang dari sekolah. Berjalan bersisian, sesekali sengaja menyentuhkan ujung pundak pada lengan masing-masing, lalu diam-diam menyembunyikan merah pada pipi. Entah, meski setiap hari bertemu rasanya tetap tidak cukup. Atsushi menanti sejak terbit mentari dan Akutagawa menunggu senja menyirami mereka dengan cahaya teduhnya. Rindu yang menyenangkan. Dua tangan saling menggenggam, seakan waktu diperlambat pada setiap remasan jari-jari mereka yang berkeringat karena gugup. Sayang, absensi Atsushi beberapa hari yang lalu karena harus mengikuti lomba di luar kota masih membawa sedikit rasa duka pada rindu menyenangkan Akutagawa.
Di bawah rayu senja, kita dimadu bermanja ....
Tak sadar dia ingin membagi rindunya juga dengan Atsushi. Kecupan lembut darinya pada sudut bibir Atsushi kemudian menjadi penutup di penghujung hari yang manis. Sialnya, Dazai harus lagi melihat adegan cinta-cintaan adik kelasnya itu meskipun dari jarak beberapa puluh meter. Dia juga mau tapi bagaimana ya, pacarnya (tepatnya calon) ini sulit sekali diajak berlaku romantis begitu.
“Chuuya mau aku cium bibirnya nggak?”
“Hah?! Jauh-jauh sana, gila kamu!”
