Actions

Work Header

Sweet Night

Summary:

I'm wondering, are you my best friend?
Feels like a river's rushing through my mind
I wanna ask you if this is all just in my head
My heart is pounding tonight, I wonder
If you are too good to be true
And would it be alright if I
Pulled you closer

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

 

 

Malam kian larut dan sudah waktunya Café de Vaenza tutup. Tamu terakhir mereka baru saya keluar dari pintu kayu berlonceng nyaring yang mana tepat setelah itu Taehyung langsung bergerak untuk membereskan segala sesuatunya. Si karyawan part-time mahasiswa perantauan Daegu itu sebenarnya agak enggan menyudahi perkerjaan karena dia begitu mencintai aroma kopi, mewangian makanan pencuci mulut serta bebauan café nuansa vintage yang didominasi tumbuhan hijau dan kayu.

 Taehyung tidak ingin berpisah dari mereka. Beruntung benar dia mendapatkan pekerjaan paruh waktu yang membuat seluruh indranya nyaman.

Namun kemudian senyuman lebar terpatri pada wajah rupawan si Pemuda Kim ketika sepasang mata almondnya mengedarkan pandangan ke sekeliling dan mendapati café telah beres seluruhnya pertanda dia sudah bisa segera pulang.

Seberapa senangpun Taehyung diselimuti oleh para raksi favorit, untuk sekarang fisiknya jauh lebih mendamba kasur empuk agar dapat beristirahat dengan baik. Sepanjang shiftnya hari ini Café de Vaenza benar-benar ramai dan besok Taehyung ada kelas pagi yang diajar oleh Profesor Lee,  si dosen killer manusia paling on time se-Universitas Yonsei (Se-Korea Selatan menurut Taehyung pribadi).

Professor Lee sama sekali tidak mentolerir keterlambatan, mahasiswa yang datang lebih dari satu menit setelah kelas dimulai akan dia anggap absen dan Taehyung tidak ingin gagal hanya karena persoalan kehadiran. Persoalan apapun, karena Taehyung anti sekali untuk mengulang mata kuliah filsafat yang sangat dia benci. Malam ini dia harus tidur nyenyak secepat mungkin supaya besok tidak sampai kesiangan.

“Sip. Tinggal buang sampah.”

Maka tanpa membuang waktu lagi Taehyung bergegas lanjut ke tugas akhir, sigap melangkah ke belakang café dengan membawa dua kantong hitam besar yang akan dimasukkan ke dalam bak sampah di gang sempit. Gang gelap dan lembab yang diapit oleh gedung-gedung tinggi di pusat Kota Seoul.

Cafe de Vaenza hanya terdiri dari satu lantai tetapi dia merupakan bagian dari sebuah bangunan belasan tingkat yang di atasnya terdapat berbagai macam perusahaan seperti agensi entertainment kecil yang masih berkembang, asuransi kesehatan yang tidak terlalu laku, klinik kecantikan baru yang cukup populer dan kantor konsultasi kejiwaan yang lumayan diragukan (kata Seokjin, rekan kerja Taehyung, Tuan Choi adalah psikiater gadungan).

Sedangkan di sekitarnya tak jauh berbeda, tipikal area perkantoran di kawasan metropolitan yang membuat gang tersebut minim penerangan dan tampak begitu kontras jika dibandingkan dengan gemerlap maupun geliat keramaian di luar sana.

“Hm?”

Langkah Taehyung terhenti ketika hendak meninggalkan bak sampah karena sesuatu menarik perhatiannya, sesuatu yang amat tidak biasa.

Sesuatu yang akhirnya dia sadari ada setelah sempat mengganggapnya tak ada. Tetapi itu bukanlah sesuatu melainkan seseorang. Bermodal cahaya temaram Taehyung yakin benar bahwa seseorang itu adalah sosok pria berpakaian gelap yang tengah terduduk dengan kepala tertekuk dalam.

Memiliki rasa penasaran dan empati yang tinggi, Taehyung memutuskan untuk mendekat.

Sepasang kaki melangkah pelan dengan sangat hati-hati. Kondisi pria itu membuat Taehyung menelan ludah, khawatir dan gamang bercampur satu. Khawatir karena jelas-jelas pria itu sedang terluka parah, dan gamang karena penampilannya tampak seperti orang-orang yang berasal dari dunia belakang. Mafia? Gengster? Preman? Entahlah. Yang jelas Taehyung yakin sekali bahwa dia bukanlah orang biasa.

Dan meskipun begitu Taehyung akan tetap menolongnya. Namun sejurus kemudian tubuh tingginya dihempaskan ke dinding gang tepat ketika baru saja menjongkok dan hendak memeriksa keadaan si pria terluka. Didesak kuat-kuat tanpa membiarkan adanya celah dan semua itu terjadi dalam sekejap mata.

Tahu-tahu saja Taehyung sudah tak berkutik, tahu-tahu saja dia tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Bernapaspun susah sebab leher dicekat oleh sebuah lengan yang bergerak gesit.

Tatapan tajam langsung menusuk pertahanan Taehyung tetapi dia berusaha tenang dan bicara, “aku- aku hanya ingin menolongmu,”meskipun dengan terbata-bata, “sungguh…”

Malam beranjak larut tetapi penerangan pada gang sempit tetaplah tidak berubah karena bahkan di luar sana Kota Seoul dibuat kian benderang.

Semarak dunia malam memberikan bias yang membuat Taehyung semakin mampu melihat wajah berkulit pucat berjejak lebam, berbibir tipis yang terluka dan bersorot mata yang sebenarnya lemah namun dipaksa mengintimidasi lawan.

Selang beberapa detik kemudian tangan yang mengunci leher Taehyung akhirnya mulai berangsur turun begitupun yang menahan seluruh pergerakan sang mahasiswa.

Maka dengan begitu Taehyung langsung bergegas bangkit untuk segera memasuki café sembari berkata cepat, “sebentar oke!”ucapnya berusaha untuk meyakinkan si lawan bicara yang tampak tak ada niatan menyimak sama sekali, “aku akan mengambil kotak obat! Aku bukan mahasiswa kesehatan tapi aku cukup telaten merawat luka! Sebentar!”

Taehyung sungguh menghemat waktu semaksimal mungkin, benar-benar ligat mengambil kotak obat, senter, kain lap bersih dan satu wadah air hangat sampai-sampai dia nyaris tersungkai kaki sendiri. Nyaris terjerembab untung tak jadi.

Tetapi saat dia kembali ke gang sempit kehadiran si pria terluka sudah tidak ada. Menghilang begitu saja menyisakan aroma anyir darah yang mulai menipis.

Malam kian larut dan gang sempit itu kembali hening untuk menjadi salah sudut gelap perkotaan tanpa manfaat berarti.

Taehyung menghela napas setelah sempat tertegun beberapa lama, dia benar-benar ingin membantu namun jika si pria terluka itu sendiri yang memilih untuk pergi maka mau bagaimana lagi. Sang mahasiswa hanya bisa berharap si sosok misterius akan baik-baik saja dan cepat pulih.

 

 

 

 

===== Sweet Night =====  

 

 

 

 

Jika malam sebelumnya Taehyung bahkan tidak sempat memeriksa keadaan si pria tak dikenal maka malam ini sosok itu sudah bertelanjang dada di depan Taehyung dan bersikap terlampau tenang untuk seseorang yang lukanya tengah dirawat oleh sepasang tangan amatir, untuk seseorang yang perutnya memiliki luka dalam tak main-main.

Pintu café telah berlabel tutup, semua lampu telah dimatikan kecuali area dapur dan Taehyung masih tak percaya dengan kejadian beberapa menit lalu. Semua ini masih bagaikan bunga tidur.

Seperti biasa Taehyung pergi sebentar untuk membuang sampah, meninggalkan café tidak sampai dua menit namun ketika telah kembali sudah ada saja sosok bernapas berat terduduk di atas lantai.

Saat mata mereka bertemu pandang dan meskipun tak ada satupun kata yang terucap Taehyung langsung mengerti dengan apa yang harus dia lakukan. Maka di sinilah mereka sekarang, duduk saling berhadapan di atas ubin dapur yang sebelumnya telah Taehyung bersihkan namun kini kembali kotor karena bercak darah.

Semua masih terasa bagaikan mimpi. Tapi anyir darah menyadarkan Taehyung bahwa realita tersebut bukanlah fantasi. Bahkan membuatnya ikut merasakan, luka-luka itu pasti sangatlah perih.

Diterpa terangnya lampu kini Taehyung dapat melihat lebih jelas wajah tampannya yang benar-benar layu, tatapan tajamnya yang mulai redup, perawakannya yang terbilang kecil namun anehnya tampak besar disaat bersamaan dan pembawaannya yang tetap saja mengintimidasi walaupun dalam keadaan ringkih.

“Sebentar,”Taehyung segera mengambil kotak obat beserta benda-benda lain yang dibutuhkan untuk menangani luka si pria bertopi hitam.

Topi polos yang kemudian dibuka sehingga nampaklah rambut pirang undercut tak terlalu tebal. Pemiliknya langsung melucuti pakaian yang perlu untuk dilepas ketika Taehyung sudah duduk di hadapannya.

Banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepala Taehyung. Seperti; Siapa nama anda? Apa pekerjaan anda? Kenapa bisa anda terluka separah ini? Kenapa anda tidak pergi ke rumah sakit ataupun ke klinik tetapi malah ke sini? Bagaimana bisa anda setenang ini, apa karena sudah terlalu sering terluka? Dan masih banyak lagi yang ingin Taehyung ketahui tetapi entah mengapa dia memilih bungkam dan menerka-nerka sendiri.

“Eum, saya akan mulai menjahit luka perut anda ya,”Taehyung harap suaranya tidak terdengar gugup namun si pirang sama sekali tidak ambil pusing dan mengangguk kecil seperti Taehyung memanglah dokter bedah sungguhan yang sudah memiliki banyak jam terbang.

“Oke,”Taehyung semakin fokus pada luka perut yang menganga sepanjang lima senti.

Cukup dalam dan sepertinya diakibatkan oleh tusukan benda tajam, “salah satu karyawan di sini pernah terluka cukup parah, meskipun langsung dibawa ke rumah sakit dan bisa dibilang berhasil ditolong tepat waktu tetapi dia sempat kehilangan banyak darah sehingga harus beristirahat total selama beberapa hari. Sejak saat itu Manager kami menyediakan kotak obat yang cukup lengkap karena walau bagaimanapun juga pertolongan pertama sangat penting kan dan kebetulan aku cukup awam mengenai hal medis.”

Ucapan Taehyung tidak diberi respon berarti namun anehnya dia sama sekali tidak merasa tersinggung ataupun keberatan dan lanjut bicara seorang diri.

Taehyung paling tidak tahan dengan suasana canggung tanpa dialog, dia selalu berusaha untuk menciptakan obrolan meskipun hanya sepihak daripada harus dilanda keheningan yang membuat jiwa ekstrovertnya merasa tak nyaman.

“Kakek saya adalah seorang dokter dan punya klinik sendiri. Sejak kecil sampai SMA saya sering main ke sana. Awalnya hanya sekedar melihat-lihat saja tetapi akhirnya ikut turun tangan membantu di sana sini soalnya klinik kakek cukup ramai dan tidak ada klinik lain selain milik kakek di desa kami.”

Taehyung tertawa kecil, “banyak yang memanggil saya Perawat Kim padahal jelas-jelas saya masih remaja dan selalu memakai seragam sekolah. Bahkan setelah lulus dan memutuskan untuk kuliah ke Seoul, diadakan pesta perpisahan kecil untuk saya yang dinamai dengan Perayaan untuk Perawat Kim yang merantau ke Kota Besar. Sampai sekarang saya masih dipanggil Perawat Kim setiap kali berkunjung ke tempat kakek saat liburan musim panas. Nah, selesai.”

Luka perut itu tak lagi menganga mengalirkan darah segar, ditambah dengan hasil jahitan rapat yang sangat rapi membuat Taehyung akhirnya dapat bernapas lega. Dia lalu lanjut mengobati sayatan di lengan kiri yang cukup dalam, membalutnya dengan perban sebelum beralih ke luka-luka lain yang hanya perlu dibersihkan dan diberi obat merah.

Setelah Taehyung selesai menangani beberapa memar, dia pikir semuanya sudah beres namun akhirnya dia sadar jari tengah itu ternyata tidak baik-baik saja. Patah? Benak Taehyung ngilu.

Sungguh. Siapa dia sebenarnnya.

Apa yang sudah dia lakukan sampai-sampai mendapatkan luka seperti ini.

“Sepertinya jari tengah anda patah….”dengan amat sangat hati-hati jemari panjang Taehyung mengelilingi jemari besar yang tergolek lemah di atas lantai tanpa menyentuh mereka, mempelajari dan mengamati,“coba tolong gerakkan.”

Jari itu tidak bergerak dan Taehyung langsung beranjak untuk mengambil dua sendok plastik, mematahkan itu guna dijadikan penyangga yang dibalut perban, “untuk sekarang ini lumayan membantu tapi setelah ini tolong segera ke klinik ataupun apotek terdekat untuk membeli finger splint- atau jika anda mau menunggu sebentar biar saya saja yang sekarang pergi-

“Terima kasih.”

Suaranya berat. Rendah dan sedikit parau.

Sosok itu akhirnya mengatakan sesuatu dan Taehyung jadi terdiam. Pelan namun tegas dan Taehyung tahu ada ketulusan dibaliknya. Dia beranjak dan Taehyung paham sudah saatnya mereka berpisah.

Tanpa rintihan maupun gerakan kaku dia kembali memakai kaos putih, jaket dan topi hitam untuk kemudian berdiri bangkit dan menganyunkan kaki dengan langkah biasa-biasa saja.

Untuk sesaat Taehyung sempat ingin memapahnya namun langsung menarik diri karena paham si pria berambut pirang tampak jelas tak mau ditolong. Tetapi Taehyung tetap membukakan pintu belakang untuknya dan berkata lembut penuh ramah tamah, “saya senang dapat membantu.”

Dan saya harap anda mau berobat ke klinik ataupun ke rumah sakit.

Kata-kata itu begitu ingin Taehyung suarakan karena meskipun perawatan darinya sudah cukup membantu tetapi pria itu tetap harus ditangani oleh tim medis professional.

Tetapi lagi, entah mengapa Taehyung memilih untuk menyimpannya sendiri. Melepas kepergian si pria tak dikenal dengan harapan agar tubuhnya akan segera pulih.

Malam beranjak kian larut dan Taehyung sempat termenung seorang diri setelah membereskan segala sesuatunya.

Ada yang aneh dengan perasaannya.

Selain berharap atas kesembuhan si pria berkulit pucat, Taehyung juga berharap agar mereka dapat bertemu kembali dan tentunya dalam situasi yang menyenangkan. Bukan situasi yang terjadi beberapa hari kemudian.

Dia menuruti saran Taehyung, jari tengahnya sudah disangga finger splint berwarna biru muda ketika kembali muncul di belakang Café de Vaenza.

“Oh, selamat malam.”

Taehyung membungkuk hormat memberi salam setelah melempar dua kantung hitam ke bak sampah, “bagaimana keadaan anda-

Secara keseluruhan kondisinya tampak kacau.

Tampak lebih mengkhawatirkan dibanding malam-malam sebelumnya sehingga membuat Taehyung langsung tercekat dan sungguh cemas.

“Apa kau bisa mengeluarkan peluru?”

Dia bertanya lirih dan Taehyung sempat terdiam sebelum terbata,

“me- mengeluarkan peluru-

untuk kemudian terkejut ketika tubuh itu mendekat lalu jatuh tak sanggup berpijak.

Keningnya membentur bahu Taehyung, napas beratnya menyapa ceruk leher Taehyung dan tangannya yang terkulai lemas membuat Taehyung segera memutuskan untuk membawa si pria tanpa nama ke apartemennya. Peralatan medis yang ada di café sepertinya sudah benar-benar tidak bisa memadai lagi dan Taehyung yakin pria itu tidak suka dibawa ke klinik maupun rumah sakit.

 

 

 

 

 

 

===== Sweet Night =====  

 

 

 

 

 

 

Walau penglihatannya masih kabur dan kesadarannya masih belum terkumpul sempurna tetapi kewaspadaan tinggi yang sudah bertahun-tahun terpatri dalam dirinya membuat Suga langsung tahu bahwa dia tengah berada di sebuah kamar apartemen sederhana yang sama sekali tidak membahayakan.

Maka seluruh indranya merespon rileks, bukan dibuat mawas terhadap sekitar seperti setiap kali terbangun di tempat asing yang mencurigakan.

Penciuman tajamnya lalu menangkap wangi pelembut pakaian yang berpadu dengan parfum lembut dan cat minyak. Kulit kasarnya merasakan seprai berbahan halus dan telinganya yang cukup sensitif tidak menangkap suara apapun kecuali detak jarum jam dan dengkuran halus.

Suga ingin bergerak duduk namun sungguh, sekujur tubuhnya terasa remuk.

Maka dia hanya sanggup menolehkan kepala ke arah seorang pemuda berambut brunutte yang masih tertidur. Terlelap dengan damai.

Sosok itu terduduk di atas karpet dengan berbantalkan silangan lengan yang ditaruh di tepian kasur. Dia masih berpakaian yang sama dengan yang terakhir kali Suga lihat namun tanpa celemek dan topi baret Café de Vaenza. Alisnya tebal dan tersusun rapi, bulu matanya panjang, hidungnya mancung dan raut wajahnya maskulin bercampur manis. Sebuah pahatan Tuhan yang nyaris sempurna.

Cantik. Indah. Rupawan.

Suga tidak akan heran jika pemuda itu mengaku memiliki kerja sambilan sebagai seorang model selain karyawan café. Lalu Suga juga tidak heran dengan dua butir peluru yang semalam masih bersarang di perut dan paha kirinya kini sudah tergolek di dalam mangkok putih berbahan plastik bermotif polkadot ungu putih.

Mangkuk yang manis, begitu kontras dengan benda logam berlumuran darah yang ada di dalamnya. Kekontrasan yang mewakili Suga dan Sang Penolong. Penolong yang amat sangat berjasa.

Kim Taehyung memang bukanlah seorang perawat maupun dokter tetapi pengalamannya selama membantu di klinik sang kakek sepertinya sungguh memberikan pelajaran medis yang benar-benar mumpuni. Suga jadi paham kenapa warga desa memanggilnya Perawat Kim.

“Eumh...”

Taehyung terbangun, menguap lebar-lebar seraya meregangkan sepasang tangannya dengan mata terpicing erat. Selang beberapa detik dia tidak sadar dipandangi Suga dan selang belasan detik dia akhirnya tahu pria di dekatnya sudah terjaga sempurna, “oh! Anda sudah bangun! Selamat pagi. Bagaimana keadaan anda?”

“Lumayan. Terima kasih banyak.”

“Saya senang dapat membantu.”

Senyumannya lebar tetapi wajah cantik itu masih menyiratkan kekhawatiran.

Dia berdiri untuk membuka gorden jendela selebar ruangan lalu mulai membereskan apa-apa yang berserak di atas karpet abu-abu di samping tempat tidur, “nama saya Kim Taehyung, nah mungkin anda sudah tahu dari namateg yang saya pakai di celemek café, saya berasal dari Daegu dan sedang kuliah semester lima di Seoul National University Jurusan Seni Lukis. Saya tinggal sendiri di apartemen studio sederhana ini, sekitar seratus meter dari Café de Vaenza.”

Kotak obat sudah ditaruh kembali di dalam laci meja nakas, “baju anda belum sempat saya laundry, nanti siang saya usahakan,” sekarang Taehyung mulai memunguti kain kasa, perban dan kapas yang berlumuran darah untuk kemudian membuangnya ke tempat sampah di sudut ruangan, “anda sempat mengalami kondisi kritis dan kehilangan banyak darah.”

Sang mahasiswa menolah ke arah Suga dan tersenyum lembut penuh pengertian. Gerakannya terhenti sebentar untuk memberikan tatapan lekat sarat kecemasan sebelum kembali lanjut beberes kamar. Ucapan terakhirnya menggantung tetapi Suga paham apa yang begitu ingin dia utarakan.

Pasti sulit sekali bagi Taehyung untuk menahan diri agar tidak menyarankan Suga berobat ke rumah sakit ataupun ke klinik. Dan Suga tahu itu, karenanya dia benar-benar berterima kasih atas sikap Taehyung yang menghargai keputusannya. Atas tindakan Taehyung yang membawa Suga ke apartemennya alih-alih ke tempat lain.

“Akan saya buatkan bubur sekarang dan eum, bolehkan saya tahu nama anda? Atau apapun itu yang bisa saya pakai untuk memanggil anda?”

“Yoongi.”

Taehyung mengangguk, “Yoongi,”gumamnya sebelum melangkah ke dapur seraya berkata, “sekarang saya buatkan bubur ya Yoongissi.”

Pemuda itu kemudian sibuk memunggungi Suga selama memasak bubur, sup tahu dan telur gulung. Mulutnya terkatup rapat, tidak mau mengobrol dengan jarak yang cukup jauh.

Walaupun kamar tidur dan dapur masihlah satu kesatuan sebuah ruangan luas tanpa sekat tetapi Taehyung yakin suaranya tidak akan terdengar jelas dan berbicara tanpa melihat Suga rasanya tidak menyenangkan. Maka apartemen studio itu dilanda keheningan cukup lama sampai Taehyung kembali lagi ke hadapan Suga dengan sebuah nampan berisi semangkuk bubur ayam dan segelas air putih hangat.

“Aku bisa makan sendiri,”Suga paham dengan gelagat Taehyung dan meraih mangkuk juga sendok, “kau tidak perlu menyuapiku dan kita bisa sarapan sama-sama.”

“Oke,”senyum Taehyung kembali ke dapur untuk mengambil sup tahu, telur gulung dan kimchi lalu menaruh semua itu di atas coffle table di sebelah ranjang, “selamat makan.”

“Selamat makan.”

“Eum, saya sebenarnya tidak begitu pandai memasak jadi maaf kalau rasanya tidak enak ya.”

“Ini sudah lebih dari cukup.”

Bubur buatan Taehyung memang tidak enak tapi Suga memakannya dengan tenang tanpa raut berarti. Pelan-pelan dan tidak mengatakan apapun lagi, menyimak dengan baik seorang pemuda yang mengeluh soal kemampuan memasaknya yang belum kunjung meningkat padahal sudah mencoba setiap hari.

Taehyung juga bicara tentang kuliahnya, berkata dia hanya ada dua kelas untuk hari ini. Kelas jam sebelas yang cukup membosankan dan kelas jam tiga siang dengan dosen killer namun pandai menyampaikan materi. Tetapi Taehyung sudah harus ke kampus sekitar jam setengah sembilan karena akan ke perpustakaan untuk menyelesaikan tugas yang harus dikumpulkan besok.

Semua celotehan itu benar-benar hanya seperti monolog tanpa lawan bicara (yang mana membuat Suga yang lebih dulu menghabiskan makanan) tetapi Taehyung justru merasa senang dan Suga tidak jauh berbeda. Yang satu suka didengarkan dan yang lain memanglah sosok kalem pendengar setia.

“Saya akan pulang sekitar jam makan siang,”Taehyung baru saja selesai mencuci piring dan hendak bersiap-siap pergi ke kampus, “anda bebas untuk beristirahat di sini sampai keadaan anda benar-benar pulih, sungguh. Tapi Manager Cafe hanya mengizinkan saya libur selama dua hari jadi mungkin besok lusa saya sudah bisa tidak bisa lagi menemani anda sepanjang petang hingga jam tutup café.”

“Aku akan pergi setelah makan siang.”

“No, no, no. Saya yakin anda bahkan belum bisa berjalan dengan baik.”

“Kalau begitu besok.”

Taehyung masih tampak keberatan tetapi setelah melihat tatapan Suga dia akhirnya  menyerah dan menghela napas lalu tersenyum sedikit, “oke besok,”angguknya, “hanya jika keadaan anda sudah membaik.”

Suga berharap hari esok tidak akan tiba tapi sepertinya jauh lebih baik jika dia tidak berurusan dengan Taehyung lebih lama lagi.

 

Mungkin.

 

Selepas kepergian si pemuda pemilik senyuman kotak, Suga meraih handphonenya yang tergeletak di samping bantal untuk melakukan sebuah panggilan.

“Hei, Kid.”

“Suga-hyung! Kau di mana!?”

 

 

 

 

 

===== Sweet Night =====  

 

 

 

 

 

Kening Taehyung mengerut samar mendapati seorang pemuda berseragam sekolah sedang berdiri tepat di depan pintu apartemennya. Tubuhnya tinggi, rambutnya hitam dan ketika menoleh karena menyadari Taehyung yang berjalan mendekat wajahnya jadi terlihat jelas.

Sosok itu tampak cukup familiar.

“Kim Taehyung?”tanyanya.

Taehyung mengangguk dan akhirnya ingat siapa pemuda bergigi kelinci itu, “Justin Seagul?”

“Oh! Wow! Kau ingat aku! Padahal aku baru tiga kali ke cafému.”

“Saya ingat soalnya Café de Vaenza jarang sekali menerima pesanan Americano Murni tanpa tambahan apa-apa bahkan batu es.”

“Ugh. Tentu saja jarang! Hanya orang-orang seperti Su- Yoongi-samchon yang tahan dengan minuman super pahit menyiksa lidah itu dan mereka bisa dihitung jari di antara ribuan manusia. Aku yakin tidak hanya di cafemu tetapi di café sepenjuru Korea juga jarang menerima pesanan seperti itu.”

Oh, jadi dia adalah kenalan Yoongi.

Taehyung tersenyum, si Justin Seagul sepertinya seorang pemuda energik banyak bicara yang seru diajak berteman, “saya juga ingat soalnya anda konsisten memakai nama Justin Seagul setiap kali memesan sesuatu. Jika bukan nama asli, banyak orang kembali dengan memberikan nama lain yang berbeda-beda.”

“Justin Seagul untuk selama-lamanya!”

Tangannya menyilang di depan dada yang membusung bangga, “Yoongi-samchon memang selalu mengejekku tetapi itu hanya karena seleranya benar-benar payah dan tidak mengerti di mana letak kerennya Justin Seagul.”

Taehyung juga tidak mengerti di mana letak kerennya nama Justin Seagul tetapi dia memilih untuk tidak mengecewakan si pemuda manis berotot kekar. Badan yang terbungkus rapat oleh seragam sekolah itu masih tampak jelas memperlihatkan bagaimana bentuk tubuhnya.

“Apa benar Pamanku baik-baik saja?”

“Eh?”

“Ditelpon dia bilang baik-baik saja tapi aku rasa dia masih-

“Oh, Yoongssi sudah baik-baik saja. Belum terlalu pulih tapi sudah lebih baik dibanding semalam.”

“Oh Ya Tuhan. Syukurlah syukurlah. Aku ke sini untuk menjemputnya dan aku lebih muda darimu jadi tidak perlu pakai bahasa formal segala oke. Panggil aku Justin.”

Taehyung melirik nametag yang tersemat pada seragam sekolah swasta khuhus laki-laki, tertulis Jeon Jungkook bukannya Justin tapi dia mengangguk dan tersenyum simpul, “oke Justin.”

“Kau- kau keren sekali!!!”

Sepasang kaki Taehyung nyaris hilang keseimbangan akibat terjangan pelukan yang begitu tiba-tiba. Kuat dan sangat erat, “Justin…?”

“Kau orang pertama yang langsung bersedia memanggilku Justin! Terima kasih! Terima kasih banyak banyak banyak Hyungnim!”

“Sama-sama Justin,”kekeh Taehyung.

“Kau juga wangi sekali.”

“Eh? Benarkah? Padahal aku hanya memakai parfum biasa dan pelembut pakaian.”

“Ah! Pantas! Aku suka aroma pelembut pakaian. Dan bedak bayi! Dan laundry!”

Si siswa sekolah menghirup napas dalam-dalam di bahu Taehyung sebelum melepas pelukan mereka dan kembali bersikap seperti remaja keren. Dia berdehem, menatap Taehyung dengan tatapan serius,

“Jadi, Pamanku?”

Taehyung lalu mengeluarkan kunci, membuka pintu dan bersama si tamu bernama Justin memasuki apartemen studio yang terdiri dari satu kamar mandi, dapur mini dan satu ruangan lepas. Ruangan lepas yang Taehyung gunakan sebagai kamar tidur nuansa minimalis yang dipenuhi bingkai dan peralatan lukis di sana sini. Kamar yang ranjangnya sudah rapi dan tidak lagi ditiduri Yoongi.

Taehyung terdiam, pria yang tadi pagi masih terbaring lemah kini sudah berdiri tegap dengan pijakan kokoh yang bisa diajak berlari kencang. Sosok kurus berotot itu tengah meliliti perutnya dengan perban baru tanpa meringis sakit. Sedikitpun.

“Yoongi-samchon!!”

Justin berteriak histeris penuh rasa lega sedangkan Yoongi hanya memandangnya datar dan berucap malas, “kenapa bisa kau ada di sini.”

“Tentu saja karena aku ingin menjemputmu.”

“Aku tidak perlu dijemput segala Kid dan aku tidak ingin kau merepotkan Taehyung.”

“Oh, saya baik-baik saja kok, Yoongissi. Its oke its oke,” Taehyung tersenyum tulus, menaruh kantong berisi makan siang untuknya dan untuk Yoongi di atas meja kopi, “apa kau sudah makan siang Justinssi?”tanyanya mulai berpikir akan memesan sesuatu atau memberi bagiannya untuk Justin dan memasak ramyeon saja.

“Justin?”alis Yoongi sedikit terangkat, tatapan datarnya tersirat rasa tidak percaya, “really? Oh God. Tolong panggil dia Jungkook saja.”

“Whyyyyyyy? Tetap panggil aku Justin ya Hyungnim. Plis, plis, plis.”

“Eum, oke-

“Aku tidak mau telingaku mengeluarkan darah seperti perutku ini oke.”

“Oh kau berlebihan Hyung- eh Samchon!”

“Kau seharusnya di sekolah sekarang Kid.”

“Memastikan keadaanmu secara langsung jauh lebih penting- oh! Dan Taehyung-hyung, aku belum makan siang. Apa itu makanan? Benar kan! Iya kan! Oh perutku sudah lapar sekali!”

Taehyung mulai merasa dua sosok di hadapannya, bahkan Justin yang jika diperhatikan baik-baik, benar-benar bukan orang biasa tapi dia memilih untuk tidak terlalu mempermasalahkannya. Lagipula jikalau memang bukan orang biasa tetapi firasat Taehyung mengatakan mereka bukan pula orang-orang yang membahayakan.

Justin- Jungkook bahkan membuat Taehyung ingin lebih dekat dengannya. Anak itu seperti kelinci manis yang sangat menggemaskan. Mengingatkan Taehyung pada dua adiknya di kampung halaman.

“Benar kan Hyungnim!”

“Yup,”angguk Taehyung mulai mengeluarkan seluruh isi kantong satu peratu, “apa kau suka jjajangmyeon?”

“Bagiku sudah sama pentingnya dengan nasi.”

Taehyung tergelak pelan, “good. Silahkan makan kalau begitu. Yoongissi juga silahkan, bubur ini aku beli di warung populer dekat sini jadi anda tidak perlu khawatir lagi dengan rasanya. Sangat, sangat jauh lebih baik dibandingkan dengan bubur buatanku tadi pagi.”

“Maaf karena sudah merepotkan.”

“Saya senang dapat membantu Yoongissi.”

“Selamat makan- AW!”

Jungkook yang sudah duduk nyaman di depan semangkuk jajjangmyeon meringis sakit dan cemberut kepada Yoongi yang baru saja memukul telak kepalanya, “Samchon!”

“Beli sendiri sana. Itu punya Taehyung.”

“Oh, tidak apa-apa sungguh. Aku belum terlalu lapar, Justin.”

“Thank you Taehyung-hyung. Samchon, dengar sendiri kan.”

“Beli. Sendiri. Sana.”

Sama seperti Jungkook, Taehyung ikut terdiam saat Yoongi melempar tatapan datar namun mematikan. Nada bicaranya tenang dan suaranya pelan tetapi sukses membuat Jungkook segera bangkit bersiap pergi, “aku makan siang di luar saja ya Taehyung-hyung! Bye!”

“Eh? Tunggu-

“Biarkan saja dia.”

Dengan begitu Taehyung hanya bisa mematung memandangi pintu yang dibuka dan ditutup tergesa-gesa oleh Jungkook. Beberapa detik kemudian barulah dia bergabung duduk di atas karpet dan mulai menyantap makan siangnya.

Lagi-lagi begitu banyak pertanyaan di kepala Taehyung tetapi dia memilih untuk tidak menyuarakannya di depan Yoongi.

 

 

 

 

===== Sweet Night =====  

 

 

 

 

Sepulang dari kampus entah mengapa Taehyung sudah bisa menebak bahwa akan mendapati apartemennya kosong tanpa kehadiran siapa-siapa. Sudah Taehyung duga tetapi hati kecilnya masih benar-benar berharap akan menjumpai si pria berpembawaan kalem yang semakin menarik perhatian. Semakin menggelitik rasa penasaran.

Taehyung masih berkenan membeli dua porsi makan malam walaupun tak ada jaminan sang tamu misterius memegang kata-katanya.

 

“Kalau begitu besok.”

 

Seharusnya dia pergi besok bukan hari ini.

Dengan lesu Taehyung menghidupkan lampu kamar sebelum duduk di atas karpet dan memandangi makanan yang kebanyakan untuk satu orang. Bibirnya cemberut, wajahnya sedih bercampur kesal.

“Padahal aku sudah minta cuti untuk malam ini. Ugh, apa sekarang aku ke café saja ya.”

Ketika Taehyung hendak menelpon Manager Café de Vaenza untuk membatalkan cutinya saat itulah akhirnya dia sadar ada seseorang di kamar mandi. Tubuhnya langsung bangkit lalu berlari untuk kemudian terkejut mendapati Yoongi tengah memperbaiki closet.

“Oh. Anda belum pergi…

“Aku bilang besok kan.”

“Un…

Taehyung tergugu, dadanya sesak karena terlalu senang. Yoongi memegang kata-katanya.

“Nah, closetmu sudah baik. Wastafel juga.”

“Astaga! Anda tak perlu repot-repot segala.”

“Don’t mind. Anggap saja sebagai balasan karena sudah menolongku.”

“Terima kasih banyak Yoongissi,”Taehyung membungkuk hormat dan Yoongi hanya mencuci tangannya dengan mulut terkatup sebelum keluar dari kamar mandi, “saya benar-benar berterima kasih. Pak Lee, penjaga apartemen, berjanji untuk mengurus hal ini tapi sudah seminggu lebih beliau selalu saja berhalangan. Saya sungguh tertolong Yoongissi. Terima kasih banyak.”

“Sama-sama.”

“Apa anda suka Ayam Saos Asam Manis?”

“Lumayan.”

“Good. Kalau begitu yuk kita makan malam.”

Malam Kamis pertengahan musim semi itu untuk pertama kalinya Taehyung merasa benar-benar nyaman dengan seseorang yang bahkan tidak dia ketahui nama lengkapnya. Atau nama aslinya? Taehyung yakin Yoongi bukanlah namanya yang sebenarnya.

Pertama kalinya Taehyung nyaman dengan seseorang yang hanya bicara satu dua patah saja atau bahkan bisa dibilang tidak bicara sama sekali.

Mereka duduk saling berhadapan dibatasi meja kopi rendah berisikan makan malam yang kemudian berganti menjadi empat kaleng bir, dua kaleng Cola dan camilan. Yoongi hanya membalas dengan sorot mata namun itu sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa dia menyimak setiap kata demi kata yang Taehyung ucapkan.

Dia mendengarkan dengan baik dan dia juga menggendong Taehyung ke atas tempat tidur setelah kepala sang mahasiswa tertekuk-tekuk karena berusaha menahan kantuk bercampur mabuk.

“Yoongissi,”Taehyung tersenyum manis kepada pria yang duduk di tepian kasur, “terima kasih banyak banyak banyak karena sudah memperbaiki toilet dan wastafel saya ya.”

“Sama-sama Taehyung.”

“Padahal anda sedang terluka.”

“Its okay. Aku sudah baik-baik saja.”

“Dan saya malah minum bir di depan anda. Saya sangat tidak sopan sekali.”

“Tidak apa-apa Taehyung.”

“Kalau begitu- kalau begitu- nanti kalau kau sudah boleh minum bir- alkohol, soju, eum, whiskey? Dan- dan wine, kita pergi minum-minum ya.”

“Oke.”

“Aku- aku tidak mau hari esok tiba. Aku tidak mau kau pergi.”

Yoongi melirik ke arah jam dinding sebelum menyelimuti Taehyung, “aku juga tapi ada hal yang harus aku urus dan sekarang sudah lewat tengah malam jadi aku pergi dulu ya.”

“No… please… aku mohon jangan pergi, Yoongi. Lukamu masih belum sembuh…

“Aku sudah baik-baik saja. Sekali lagi terima kasih banyak Taehyung, berkat bantuanmu-

“Aku! Aku tidak mau kau terluka lagi tapi jika dengan begitu kau tidak akan mendatangiku… oh ya tuhan... hiks! Aku jahat sekali Yoongi…. aku benar-benar jahat…. hiks!”

“Aku sungguh jahat karena berharap kau kembali terluka agar kita memiliki alasan untuk bertemu… hiks! Aku benar-benar jahat.”

“Terluka atau tidak aku akan tetap menemuimu jika memang itu yang kau inginkan.”

“Benarkah…?”

“Benar Taehyung.”

“Sungguh….?”

“Sungguh Taehyung.”

“Kalau begitu jangan ucapkan selamat tinggal oke tapi sampai jumpa saja.”

“Oke. Aku pergi dulu ya. Sampai jumpa.”

Taehyung ingin memeluk sosok yang sudah mulai menjauh itu, dia ingin berdiri bangkit dan menggapai Yoongi untuk berkata, “kenapa buru-buru? Kenapa tidak menunggu sampai pagi saja dan tidur di sini bersamaku?”tetapi tubuhnya sungguh memanja kasur, kesadarannya sudah diseret ke alam mimpi dan matanya sudah tidak sanggup terbuka lagi. Maka dia hanya bisa terisak untuk terakhir kali sebelum benar-benar terlelap, sebelum bunga tidur menguasai hati dan juga pikiran. Bunga tidur yang menampilkan dirinya pasrah dicumbu Yoongi, dikungkung Yoongi dan dimasuki Yoongi.

Mereka berdua bergumul panas tanpa dibalut satupun pakaian dan Taehyung menjadi pihak yang didominasi, dimanjakan sesensual mungkin. Melenguh memanggil Yoongi, pria yang tahu benar bagaimana membakar libido Taehyung selayaknya bara api.

Panas dan panas. Nikmat tak tertahankan.

“Yoongi….”

Sudah lama sekali sejak terakhir kali Taehyung mengalami mimpi basah, sudah lama sekali sejak terakhir kali Taehyung jatuh cinta.

Jatu cinta dalam waktu yang begitu singkat namun begitu dalam hingga terasa sesak.

Terasa aneh dan tak biasa.

Mereka baru bertemu beberapa kali pada situasi dan kondisi yang tidak akan membuat seseorang jatuh cinta. Namun nyatanya sosok misterius itu bahkan hadir dalam mimpi Taehyung.

Hadir dalam pikiran Taehyung disaat terjaga, hadir dalam benak Taehyung ketika melakukan kegiatan apa saja. Wajahnya selalu terbayang dan suaranya selalu terngiang-ngiang.

Taehyung telah jatuh cinta dan dia sama sekali tidak menampiknya.

Justru membiarkan dirinya terbuai meskipun sosok yang dia damba entah tertarik padanya juga atau tidak, entah di mana dan bagaimana kabarnya.

 

 

 

 

 

===== Sweet Night =====  

 

 

 

 

 

Tengah malam seminggu kemudian sebuah panggilan masuk membangunkan Taehyung yang mendecak sebal sarat tak rela dan sungguh enggan untuk menggapai handphone. Kian enggan saat melirik ke arah meja nakas dan mendapati bukan kenalannyalah yang menelpon. Nomor asing tertera tanpa nama dan sepasang mata Taehyung hendak kembali tertutup rapat namun notifikasi sebuah chat yang menampilkan kata-kata,

Aku Yoongi, sudah di depan pintu….

sungguh membuat kantuk langsung lenyap seketika. Menguar begitu saja tak bersisa.

Taehyung nyaris terjerembab karena saking terburu-buru, karena saking tidak sabaran untuk membuka pintu dan bertemu Yoongi.

“Yoongi.”

Senyum Taehyung terulas sempurna, dada kembang kempis terlalu antusias dan matanya sungguh berbinar mematai wajah tampan tanpa emosi berarti.

“Yoongissi.”

“Hei.”

“Anda benar-benar datang!”

“Maaf tengah malam begini-

“Its okay its okay! Sungguh! Ayo masuk.”

Yoongi memasuki apartemen dan duduk diam di atas karpet selama Taehyung mengambilkan segelas air putih untuknya.

“Bagaimana keadaan anda?”

“Jauh lebih baik.”

“Oh Ya Tuhan. Syukurlah.”

“Jungkook bilang seharian ini dia tidak melihatmu di kafe.”

“Saya libur karena dari kemaren kurang enak badan tapi sekarang sudah baik-baik saja.”

“Good.”

Bibir Taehyung tidak bisa menahan senyuman saat dia sudah duduk tepat di samping Yoongi, “apa anda mengkhawatirkan saya?”tanyanya penuh harap dan dibalas oleh tatapan dalam yang begitu menghanyutkan.

“Yoongissi?”

Selang beberapa lama pertanyaan Taehyung tak kunjung digubris untuk kemudian malah dijawab bukan dengan ucapan melainkan melalui sentuhan lembut oleh sebuah tangan besar berkulit kasar pada pipi yang seketika merona.

Saat Yoongi memangkas jarak di antara wajah mereka, Taehyung sempat menahan napas sebelum menutup rapat kedua mata dan memberikan persetujuan melalui sikap. Maka bibir Yoongi menyentuh mulut Taehyung tanpa ragu. Yang lebih muda langsung meleleh, melayang dan tak ingin semua ini berakhir. 

Dan yang lebih tua kemudian bermain nakal selang beberapa menit sebelum menarik diri saat sepasang Taehyung telah menggapai hoodie hitamnya.

“Aku harus pergi.”

“….kenapa?”

Dengan tatapan sayu Taehyung bertanya pelan tanpa bisa menyembunyikan rasa kecewa.

Sebenarnya dia tidak ingin bertanya ataupun menuntut, paham betul jika Yoongi berkata harus pergi maka pria itu memang harus pergi tanpa perlu menjelaskan apa-apa lagi.

Ada urusan yang harus dia selesaikan. Taehyung sudah paham dan mengerti. Tapi tak tahan juga untuk menyodorkan ‘kenapa’ karena bibir Yoongi sungguh, sungguh telah berhasil memenjarakannya dalam kenikmatan tak tertahankan sehingga tentu saja Taehyung tidak akan rela dengan kepergiaannya.

“Karena-

“Ada urusan yang perlu anda urus.”

Senyuman paksa dari Taehyung dapat Yoongi baca dengan mudah dan dia benar-benar merasa tak enak tapi mau bagaimana lagi.

“I’m okay, Yoongissi. Pergilah.”

Yeah, tapi mau bagaimana lagi.

Siapa Taehyung yang berhak melarang Yoongi dan siapa Taehyung yang mengerti dengan segala urusan Yoongi. Yang perlu Taehyung pahami adalah mereka belum memiliki status apa-apa dan Yoongi tidak harus merasa tidak enak segala.

“Aku akan kembali secepatnya.”

Namun Yoongi berani mengumbar janji.

“Akan saya tunggu.”

Maka akan Taehyung pegang sepenuh hati.

 

 

 

 

 

 

===== Sweet Night =====  

 

 

 

 

 

 

Memasuki penghujung musim semi, kebanyakan masyarakat sudah mulai memakai pakaian yang tidak berlapis. Termasuk Taehyung yang hanya mengenakan kemeja merah tanpa ditumpuk apapun dan celana hitam semata kaki.

Topi baret Café de Vaenza dilepasnya dengan helaan napas panjang dan ketika pintu loker telah terkunci rapat, rekan kerja yang beberapa hari terakhir membantunya menutup café bertanya khawatir,

“Taehyung-a, kau benar tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa kok Hyung.”

“Sudah seminggu lebih kau lesu begini.”

“Seminggu?”

“Oh, bahkan kau sudah tak tahu hari. Kau tahu aku bersedia mendengar keluh kesahmu kan. Aku harap kau mau cerita dan tidak perlu menyimpannya sendiri.”

“Terima kasih banyak Seokjin-hyung. Tapi aku benar-benar bingung harus bagaimana menceritakannya.”

“Apa soal percintaan? Apa kau baru putus?”

“Bahkan sudah dua tahun lebih aku tidak punya pacar Hyung.”

“Aaa… Jadi, masalah perkuliahan?”

“Nah, tidak juga.”

“Keluargamu?”

“Keluargaku baik-baik saja kok Hyung.”

“Begitu…

Seokjin adalah teman yang baik, perhatian dan suka mencairkan suasana. Taehyung maklum dengan sikapnya yang kini sudah tak tahan lagi untuk tidak mengintrogasi Taehyung sampai ke akar-akarnya.

Tapi Taehyung belum mau kisahnya dengan Yoongi diketahui oleh orang lain.

Yoongi.

Sudah tiga minggu lebih pria itu tidak lagi mendatangi maupun menghubungi Taehyung. Nomornya sudah tak aktif dan semakin hari penantian Taehyung semakin  terasa tak pasti.

“Aku pulang dulu ya Hyung.”

“Oke, Tae. Hati-hati di jalan ya.”

“Iya, Hyung. Selamat malam.”

Langkah Taehyung terasa berat padahal fisiknya sama sekali tidak kecapaian, Seokjin sudah berbaik hati membantu meringankan pekerjaannya walaupun ketika Café de Vaenza tidak terlalu ramai. 

Badannya benar-benar tak lelah, emosinyalah yang menguras energi. Taehyung mulai berpikir apa lebih baik melupakan Yoongi.

 

“Aku akan kembali secepatnya.”

 

Jungkook juga tidak pernah lagi mengunjungi café, menghilang bersama pamannya- Taehyung yakin mereka bukanlah sepasang paman dan keponakan. Kedua orang itu entah memiliki hubungan seperti apa dan mereka seolah-olah lenyap begitu saja dari kehidupan Taehyung. 

 

 

“Aku akan kembali secepatnya.”

 

 

Kaki Taehyung terhenti di tengah perjalanan menuju apartemennya. Di tengah lalu lalang orang-orang yang lebih memilih malam ketimbang siang.

Bibirnya perlahan memberengut seiringan dengan air mata yang mulai berlinang. Ketika waktu enggan menjeda diri sesuai kemauan Taehyung, sang mahasiswa merosot jatuh. Menjongkok menyembunyikan wajah di kedua lutut. Menyembunyikan tangisan yang tak ribut tetapi mengalir deras susah berhenti.

Malam itu Taehyung terisak-isak. Logika memaksa untuk tidak lagi memikirkan Yoongi tetapi hati kecilnya masih mau untuk menanti.

Tiga minggu berganti menjadi sebulan lebih dan Taehyung masih menunggu Yoongi.

Dia mulai mengumpati diri sendiri, konyol dan benar-benar bodoh. Mau-maunya berpegang pada yang tak pasti. Mau-maunya Taehyung bertahan-

 

Kling

 

Lonceng pintu café berbunyi dan Taehyung hendak memohon maaf karena sudah tutup tetapi lebih dulu mematung dengan wajah melongo.

Sosok itu tampak berbeda. Benar-benar berbeda sehingga Taehyung membeku dibuatnya. Semua terjadi bagaikan adegan slow motion di drama percintaan favorit Seokjin.

Sosok itu tampak berbeda. Benar-benar berbeda dan memasuki café dengan buket bunga serta aura yang menenangkan.

Sepasang sepatu pantofelnya menciptakan suara yang menggema karena suasana begitu hening sebab malam ini Taehyung menutup café sendirian, sudah tidak ingin merepotkan Seokjin yang terlalu sering menambah shift malam.

“Selamat malam, Taehyung.”

Rambut pirangnya disemir hitam, ditata rapi dan tidak berponi yang mana membuat keningnya terekspos menyempurnakan ketampanan.

Tatapannya tajam melelehkan lawan maupun kawan.

Lengan kemeja hitamnya digulung, kerahnya tidak memiliki dasi dan dia adalah Yoongi. Pria yang membuat Taehyung tak berkutik.

Ketika sapu pel terlepas dari tangan Taehyung dan membentur lantai akhirnya sang mahasiswa terkesiap. Tersadar dari jeratan pesona Yoongi.

Serta merta dia menerjang tubuh itu dengan pelukan erat. Menyapa Yoongi dengan isakan dan memeriksa Yoongi apakah dia adalah nyata.

“Kau- hiks! Aku pikir kau tidak akan pernah-

“Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf.”

“Aku pikir- hiks! Aku pikir-

Yoongi meredam tangisan Taehyung dengan ciuman panjang, ciuman dalam dan ciuman penuh hasrat. Mulut mereka bertarung lidah cukup lama hingga akhirnya Taehyung kehabisan napas dan terengah-engah dengan senyuman lebar yang berujung tawa. Tawa lega sarat kebahagiaan.

Yoongi lalu menyodorkan buket bunga yang diterima Taehyung dengan senyuman manis.

 “Aku akan membantumu menutup café jadi kau bisa pulang secepatnya.”

“Oke!”Taehyung mengecup pipi Yoongi sebelum mereka mulai membereskan segala sesuatunya tanpa terlibat banyak pembicaraan.

Setelah meninggalkan Café de Vaenza mereka menelusuri trotoar kota dengan jemari yang saling bertaut dan kaki yang melangkah pelan menikmati malam.

“Yoongissi sudah makan?”

“Belum. Dari bandara aku langsung ke sini.”

“Bandara?”

Yoongi tersenyum dan mengecup punggung tangan Taehyung, “aku akan menjelaskan semuanya nanti.”

Maka setelah mereka makan malam di sebuah restoran bintang lima lalu bercinta di apartemen Taehyung, si pria misterius akhirnya menceritakan semuanya.

“Agen?!! Jadi kau itu Agen?!?”

Taehyung sontak terduduk dan terbelalak. Selimut yang semula telah nyaman menutupi tubuh telanjangnya merosot jatuh sampai sepinggang. Tidak hanya wajah cantiknya tetapi kulitnya yang dipenuh jejak kissmark juga tersapu bias rembulan.

Yoongi menarik sang kekasih untuk kembali dia dekap hangat, “kenapa kau sekaget itu? Aku pikir kau sudah menyadarinya sejak awal.”

“Aku pikir kau itu anggota mafia.”

Dengusan Yoongi membuat Taehyung mencium bibir tipisnya dalam-dalam, “aku serius dan- dan aku benar-benar bersyukur kau bukan orang jahat Yoongi.”

“Suga.”

“Eh?”

“Nama asliku Minami Suga.”

Lagi-lagi kedua mata Taehyung membulat sempurna, “kau- kau orang Jepang!?”

“Ayahku Jepang ibuku Korea.”

“Wah…

“Ada lagi yang ingin kau ketahui?”

“Jungkook?”

“Dia rekan kerjaku, usianya sepantaran denganmu dan sebenarnya dia sudah lulus dari M.I.T sejak dua tahun lalu. Jenius tapi karena masih terlihat sangat muda dan kau tahu sendiri bagaimana pembawaan bocah itu kan makanya dia sering kedapatan tugas menyamar jadi anak sekolahan.”

“Hoooo.”

“Ada lagi?”

 “Hmhmhm.”

“Kalau tidak ada,”Suga bergerak menindih Taehyung untuk kemudian mengecupi dan menjilati perpotongan leher si pemuda Kim, “bagaimana kalau sekarang kita mulai saja ronde kedua hm?”

“Kau itu ternyata mesum ya.”

“Karena kau terlalu cantik dan desahanmu sangat indah Taehyung-a. Tubuh indahmu sungguh membuatku candu.”

“Apa- apa kita akan jarang bertemu?”

“Untuk sekarang tidak. Misiku sudah selesai dan aku meminta cuti selama enam bulan.”

“Enam bulan… jadi setelah enam bulan?”

“Setelah enam bulan kita akan pikirkan lagi nanti. Tapi satu yang harus kau tahu aku akan tetap selalu mencintaimu Taehyung sampai kapanpun dan aku akan selalu berusaha meluangkan waktu agar kita dapat bersama. Berkencan,”telinga dikecup, “bercinta,”leher dihisap gemas, “dan merajut kasih seperti dua orang yang tak akan terpisah,”lalu ketika hendak mencium kening pujaan hatinya wajah Suga ditanggup oleh sepuluh jemari.

Taehyung menatap serius.

“Kau juga harus berusaha untuk tidak lagi mengambil misi yang berbahaya. Please…”

“Akan aku usahakan.”

“Satu lagi.”

“Hm?”

“Kalau masakanku tidak enak tolong jujur dan bilang saja tidak enak oke.”

Suga tersenyum sebelum meraup mulut Taehyung, “as your wish My Prince.”

“Omong-omong.”

“Hm?”

“Aku juga berharap bisa lebih sering bertemu dengan Jungkookssi.”

“Kau menyukainya?”

“Yup. Dia sangat menggemaskan.”

“Nah. Mungkin kau masih akan sering bertemu dengannya.”

“Benarkah?”

“Yeah. Dia sepertinya naksir dengan rekan kerjamu yang suka bercanda itu.”

“Apa? Seokjin-hyung??”

 

 

 

===== Sweet Night =====  

 

END

 

 

Notes:

holaaaaaa, gantokim imnidaaaa
thank you so much yang udah mau mampir, semoga terhibur yaaaa
jangan lupa kudos! dan komen kalo mau hehe
twitter: https://twitter.com/gantokim_

see you next supv time ~