Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Character:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-04-29
Words:
558
Chapters:
1/1
Kudos:
2
Hits:
41

Good Night Lullaby

Summary:

"Terpisahkan dari seseorang yang paling kau cintai, entah itu teman, keluarga, ataupun kekasih, bisa menjadi hal yang sangat menyakitkan untuk dilalui." Dia berhenti melangkah, sejenak ‘tuk mengamati magnum opus yang baru saja dia ciptakan dengan kuasanya seorang. "Tapi tidak perlu khawatir, karena aku akan membuat kalian semua hidup bahagia selamanya!"

Sebuah ficlet kecil untuk merayakan tuan muda kita yang akhirnya OB wohooo!!

Notes:

Males nulis pake bahasa inggris euy soalnya no thought head empty. Enjoy ficlet singkat ini.

Work Text:

Langkah kaki yang berat bergema di ruangan yang tadinya ramai penuh dengan kehidupan, diiringi dengan senandung yang tenang dan lembut keluar dari bilah ranumnya. Dahulu, ketika Malleus tidak lebih dari seorang bocah yang penuh dengan keingintahuan, Lilia akan menyanyikan nada tersebut setiap malam sebagai lagu pengantar tidur untuknya sehingga dia akan mendapatkan mimpi yang menyenangkan.

Dan sekarang, ketika semua orang di sekitarnya mulai menutup mata, Malleus akan mengirim mereka pergi ke dunia mimpi dengan lagu pengantar tidur yang sama.

"Terpisahkan dari seseorang yang paling kau cintai, entah itu teman, keluarga, ataupun kekasih, bisa menjadi hal yang sangat menyakitkan untuk dilalui." Dia berhenti melangkah, sejenak ‘tuk mengamati magnum opus yang baru saja dia ciptakan dengan kuasanya seorang.

Tepat di hadapannya, ialah sebuah pemandangan yang tidak akan pernah Malleus lupakan seumur hidup. Semua orang yang datang ke pesta perpisahan, baik itu murid maupun staff, terbaring tak berdaya memenuhi ruang santai asrama Diasomnia. Berbanding terbalik dengan keadaan mereka, raut wajah mereka terlihat tenang dan damai, seakan-akan mereka tertidur tanpa mengkhawatirkan apapun.

Kurva bibir melengkung membentuk senyum tipis dan penuh teka-teki di wajahnya. Malleus puas dengan apa yang ia lakukan. Seperti yang dia inginkan; semua orang terlahir kembali. Tanpa mempedulikan bagaimana sulur-sulur rambat berduri yang menyelimuti setiap permukaan yang bisa dijangkau dan individu yang ada, termasuk Lilia.

Sang pemeran utama dalam pertunjukan jenaka ini.

Senandung masih lepas dari bilabialnya, mengisi kekosongan dalam ruangan dengan lantunan nada yang lembut nan menghanyutkan. Selangkah demi selangkah dia ambil, melewati para murid yang telah tertidur lelap—hingga tiba di hadapan Lilia.

“Tapi, sekarang tidak perlu khawatir,” kata Malleus, dengan kelembutan yang sama sebelum dia memberkati (mengutuk) semua orang dengan hadiahnya, “kalian semua tidak akan pernah mengalami kesedihan seperti itu lagi.”

Sebelah tangannya kemudian bergerak; membawa tubuh Lilia ke dalam pangkuannya. Malleus lekas berhenti, iris kehijauannya yang menyala-nyala memperhatikan Lilia yang sedang terlelap tidur dengan pandangan lembut.

“Kau tidak akan lagi mengalami yang namanya perpisahan.”

Dia masih ingat tentang apa yang dikatakan Lilia sebelum pesta dimulai; waktunya akan segera berakhir, suratan takdir telah tertulis secara permanen di langit malam, dan peri tua itu tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengubahnya. Malleus dan yang lainnya seharusnya menerima yang tak terelakkan dan membiarkan takdir mengambil jalannya, tak peduli seberapa kejamnya takdir itu akan memperlakukan mereka.

Tapi, Lilia salah! Dengan kekuatannya, dia bisa mengubah segalanya, bahkan takdir itu sendiri! Dia bisa menghapus kesedihan semua orang sekaligus!

(Dia bisa membuat Lilia tidak pergi dari sisinya untuk selama-lamanya.)

“Karena, aku akan membuat dunia yang sempurna untuk kalian. Saat kalian semua bisa menjadi pahlawan dalam cerita dongeng kalian sendiri.”

Agar tidak ada lagi yang meneteskan air mata.

“Dan hidup bahagia selamanya.”

Malleus terkekeh geli. Hidup bahagia selamanya. Gagasan yang menurut sebagian besar orang sulit untuk direalisasikan—tapi tidak dengan Malleus. Dia bisa membuat semua orang hidup bahagia, mendapatkan akhir cerita yang mereka damba-dambakan. Sudah menjadi tugasnya sebagai seorang pewaris takhta untuk membuat subjeknya bahagia, bukan?

(Walaupun itu tidak akan lebih dari sekadar bunga tidur belaka.)

“Tidurlah yang tenang disana, Lilia.” Selagi tangan kanannya menggenggam pergelangan tangan Lilia, ia tempatkan tangan yang satunya lagi tepat di atas wajahnya. Siraman warna hijau dan emas menari-nari di atas tangan Malleus. “Jika kau menyerah ke dalam kantukmu, 1000 tahun pun akan terasa bagaikan sebuah kedipan singkat.”

Dan untuk kesekian kalinya, senandung itu kembali lagi terdengar ke seluruh penjuru ruangan. Menemani mereka yang tengah terlelap entah sampai berapa lama.