Actions

Work Header

Playing Pretend

Summary:

Kazuha bangun di sebuah kamar rumah sakit dan bertemu dengan suami yang tidak dikenalnya sama sekali.

Notes:

rework ff dari fandom lama terus pas banget karakternya jadi why not si

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Prolog

Summary:

masih wip baca lagi aja nanti

Chapter Text

Dia membuka matanya perlahan.

Putih. Buram.

Hanya warna putih yang bisa dilihatnya. Kemudian, warna itu berubah, tergores kibaran abu-abu yang diduganya adalah bayangan dari benda yang menghalangi jalan cahaya, tertiup angin sepoi yang menerpa wajahnya entah datang dari mana. Matanya mulai melirik, menangkap garis semu yang membatasi tembok dan langit-langit yang hampir dilewatinya. Nafasnya berhembus, mencium bau obat-obatan dan bau asam menyerupai aseton. Telinganya berkedut, mendengar suara nafas seseorang yang teratur. Tangan kanannya bergerak, merasakan perban melilit telapak tangan dan jari jemarinya. Inderanya satu persatu perlahan bekerja, meraba-raba sekitarnya.

Oh.

Sesuatu—sesoerang menggenggam tangannya. Dia menoleh. Orang itu memegang tangannya, tangan satu lagi dilipat untuk menjadi bantalan wajah. Sepertinya tertidur. Meski begitu, sosok itu terbangun tidak lama kemudian. Mengerang pelan.

Menatapnya.

Menerjap.

Dengan cepat, kepala itu terangkat dan tubuh sosok itu duduk tegak. Menampakkan wajah cantik dengan kulit bak porselen dan mata indah berkaca-kaca. Bibir kecil itu tampak bergetar dan tersenyum lega.

Namun, dia tidak paham. “Kau… siapa?”

Senyum itu jatuh.

“A-aku….”

Suara orang itu serak. Dia dapat melihat bahu orang itu yang bergetar pelan, sebelum pemuda cantik itu bangun dan menekan tombol di sebelah kepala tempat tidur.

Putih.

Orang-orang berpakaian serba putih masuk ke dalam ruangan. Dia tidak dapat melihat dengan jelas, hanya dapat melihat bahu sampai pinggang mereka berkat posisi tidurnya yang membatasi pandangannya. Salah satu dari mereka mengenalkan diri sebagai dokter yang bertanggung jawab memeriksa keadaannya. Dokter itu mengecek matanya, detak jantungnya, nadinya, kemudian membiarkannya bangun pada posisi duduk.

Kini pandangannya lebih luas. Dia dapat melihat jendela yang terbuka dengan tirainya melambai, rok panjang dokter yang mengurusnya, bawaan perawat-perawat yang mengawali dokter tersebut, pria cantik berambut ungu tadi yang kini duduk di sofa di sudut sana, dan seseorang di sebelahnya yang wajahnya terlihat familiar.

Sangat, sangat familiar.

Dokter itu mengakhiri pemeriksaannya sebelum menawari dia untuk kembali berbaring.

“Ingat nama Anda?”

Dia menggeleng.

“Dokter…,” suara serak itu kembali terdengar, “apa dia….”

“Tidak apa-apa, ini hanya sementara. Menurut ronsen terakhir, tidak ada komplikasi pada bagian kepala, hanya saja mungkin dia mengalami trauma yang membuatnya kehilangan ingatannya untuk sementara. Nanti, dia akan perlahan-lahan ingat, namun sebaiknya jangan terlalu dipaksakan.” Dokter itu tersenyum lalu berbalik. “Saya tinggal dulu. Jika ada apa-apa, panggil saja. Senang melihat suami Anda sudah sadarkan diri.”

Dia masih belum memahami keadaannya sendiri, bahkan setelah orang-orang itu meninggalkan mereka bertiga—dirinya, pemuda berwajah kecil itu, dan seorang pria dengan wajah yang terlihat familiar tadi.

Suami?

Pemuda itu duduk di samping kasurnya, seperti saat dia terbangun tadi.

“Aku Kunikuzushi, kalau kau tidak ingat.”

Nama yang sama sekali asing.

Kunikuzushi terlihat lebih tenang dari sebelumnya, dengan ekspresi wajahnya yang cenderung datar. “Kau butuh sesuatu? Makanan atau minuman?”

Dia menggeleng.

Kunikuzushi menghela nafas. “Kau koma selama dua hari. Tiga malam lalu, ada yang melihatmu memaksa menerobos kebakaran gedung yang ada di dekat restoran. Kau menyelamatkan dua anak kecil, namun ada satu pria dewasa yang sepertinya gagal kau seleamatkan. Dia meninggal karena tertimbun bagian bangunan yang rubuh terbakar.”

Dia menyimak cerita Kunikuzushi. Rasanya begitu aneh. Dia seperti mendengar kisah orang lain yang begitu asing. Oleh orang asing. Dengan suara yang tidak pernah dia dengar.

Semuanya asing.

Kunikuzushi menatap padanya tajam.

“Aku benci tiap kali kau bersikap sok pahlawan. Dasar tolol, menjalankan tugasmu saja tidak bisa, sudah mau jadi pahlawan kesiangan.”

Dia mengernyitkan dahi, memapah badannya dari kasur dengan satu sikut. “Apa maksudmu—”

Kunikuzushi berdiri. “Lupakan. Maaf, kau belum ingat jelas.”

Sepasang mata yang memandangnya terasa begitu dingin, kontras dengan tatapan dan senyuman yang dilihatnya pertama kali setelah bangun. Dia tidak paham dengan perubahan sikap Kunikuzushi.

Kunikuzushi masih melanjutkan kata-katanya, sesuatu yang berangsur-angsur tidak dia perhatikan lagi. Perhatiannya teralih pada pria yang sampai sekarang tidak beranjak dari sofa di seberang kasurnya.

Wajah orang itu semakin dia ingat.

Dia memicingkan sebelah mata ketika tiba-tiba migrain menyerang sebelah kepalanya.

Dia kenal bentuk wajah itu. Dia kenal lekukannya. Mata coklat kemerahan itu sedikit asing, namun mirip. Bentuk hidung itu, juga rahang dan dagu yang membingkai wajah yang sangat mirip dengan ingatannya, dia tidak kenal, namun, di saat yang bersamaan, sangat tidak asing.

Kunikuzushi membuka pintu, memberikan tatapan terakhir padanya sebelum membuang muka dan keluar. “Malah bengong. Ya sudahlah, nanti kujenguk lagi.”

Dia masih tidak memperhatikan Kunikuzushi. Kepalanya semakin sakit. Serpihan ingatan menyusup masuk. Jantungnya berdebar-debar.

Dia mengingat sesuatu.

Dia mengingat namanya sendiri.

Namanya adalah…,

“Jaga dirimu, Hisahide.”

…Kazuha.

Dan wajah pria di seberang sana sangat mirip dengan wajahnya sendiri.

Notes:

mutualan sama ak yu @zeedraws