Chapter Text
Semuanya berawal dari kecerobohan (dan mungkin sedikit ketidakberuntungan dari sisi Malleus).
Kala itu, pelajaran alkimia sedang berlangsung. Seperti biasa, semua orang sibuk meracik ramuan sihir suruhan Crewel-sensei. Begitu juga dengan Malleus. Dirinya tengah fokus membaca instruksi pembuatan ramuan secara seksama selagi memasukkan bahan-bahan yang dibutuhkan ke dalam kuali dengan takaran tepat, sementara Vil, partner labnya, mengaduk isi kuali tanpa henti agar semua bahan tercampur dengan sempurna.
Di sisi lain, tepatnya di meja sebelah, terlihat murid asrama lain sedang bergurau dengan partnernya, tertawa dan saling menyikut kecil satu sama lain padahal jelas-jelas salah satu diantara mereka tengah memegang botol berisikan likuid berwarna merah muda yang berkilau.
Naasnya, salah satu dari mereka menyikut yang lain dengan agak sedikit kencang, menyebabkan murid tersebut terlempar ke arah Malleus.
Hasilnya?
DUAR!
Suara ledakan pun terdengar dari arah mereka berdua.
“STAY! Ada apa ini?” Crewel-sensei, selaku guru alkemi mereka, bergegas berjalan menghampiri mereka dengan raut wajah khawatir. Asap putih yang semula membungkus seluruh tubuh Malleus, perlahan-lahan memudar.
Sosok tinggi jangkung yang biasanya mengintimidasi siapapun yang menatapnya berubah menjadi … sosok gumpalan air hijau yang translusen dan transparan berbentuk bola jua bertanduk dengan tinggi yang tidak lebih dari lengan orang dewasa.
Semua orang terkejut dengan perubahan Malleus, tidak terkecuali Crewel-sensei. Guru berambut dwiwarna tersebut terlihat bermasalah. Tidak hanya karena perubahan ini terjadi di bawah pengawasannya, tetapi juga karena status Malleus yang merupakan putra mahkota Briar Valley. Kalau sampai kejadian ini terdengar keluar dari sekolah, habislah dia dan sekolah ini.
Dia menyentakkan tongkat penunjuk miliknya dengan keras. Seluruh pasang mata tertuju padanya.
“BAD PUPPY! Berapa kali harus kubilang untuk tidak bergurau ketika sedang melakukan praktik?” Crewel-sensei menatap kedua murid tersebut dengan tatapan tajam. Mereka hanya bisa menundukkan kepala dengan perasaan bersalah dan takut.
“Akan kutangani kalian berdua setelah ini. Sementara itu, Malleus.” Yang dipanggil pun hanya bisa mengerjapkan mata selagi tubuhnya diangkat oleh Crewel-sensei. “Ikut aku. Mari kita cek keadaanmu itu.”
Yang mana kemudian membawa Malleus ke dalam situasi ini.
“TIDAAAK, TUAN MUDA! KENAPA TUAN MUDA BISA MENJADI SEPERTI INI?!” Di dalam ruang santai Diasomnia, Malleus—yang kini wujudnya tak lebih dari sebuah slime menggemaskan—hanya bisa memperhatikan Sebek yang sedang meraung-raung di depannya tanpa bisa melakukan maupun berkata apa-apa selain berkedip. Menjadi sebuah slime rupanya menghilangkan kemampuannya untuk berbicara. “BERIKAN SAYA NAMA MANUSIA-MANUSIA YANG MENCELAKAI ANDA, AKAN SAYA TANGANI SECEPATNYA!”
“Kau tau ‘kan kalau Malleus-sama tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu.” Silver, yang berada di samping Sebek, mengeluarkan dengusan kecil dari napasnya. Dramatis, itulah yang tertangkap dari siratan matanya. “Daripada itu, pelankan suaramu, Sebek. Kau mengganggu orang lain.” Lanjutnya sambil menguap kecil.
“TUAN MUDA LEBIH PENTING DARIPADA ORANG LAIN!”
Tak mengindahkan perkataan Sebek, Silver menoleh ke samping. “Ayah, bagaimana ini bisa terjadi?”
“Daku juga tidak tau bagaimana persisnya,” Lilia menggeleng lemah dengan kedua tangan terlipat di depan dada. “Tapi kata Crewel, Malleus tidak sengaja terkena ramuan yang membuatnya berubah seperti ini.”
“Apa beliau menemukan cara untuk mengembalikan Malleus-sama seperti sedia kala?”
“Soal itu, Crewel bilang kalau efeknya hanya akan bertahan selama beberapa jam saja.” Kelereng merah kembarnya terarah lurus pada Malleus, mengamati setiap gerak-gerik sang slime hijau dengan seksama. “Jadi yang kita bisa lakukan sekarang hanya menunggu sampai efeknya memudar.”
“Apa tidak bisa dibalikkan dengan sihir?” Tanya Silver penasaran.
Lilia membalas, “tidak, sayangnya. Sihir hanya akan mempersulit keadaannya.”
“Ah, begitu ya.” Silver mengeluarkan suara kecil tanda paham. Suara tangisan Sebek yang sejenak tak ia acuhkan keberadaannya kembali merangsek masuk ke dalam gendang telinga Silver. “Oi, Sebek, berhenti menangis. Lama-lama suaramu akan menghancurkan gendang telingaku.”
“DIAM, SILVER! AKU SEDANG MEWAKILI TUAN MUDA MERATAPI KEMALANGANNYA!”
Selagi Silver dan Sebek beradu argumen, Malleus memutuskan untuk bergerak menuju Lilia. Ada sesuatu yang ingin dia katakan pada si peri tua. Butuh beberapa kali percobaan untuk menggerakkan tubuh barunya, tapi pada akhirnya dia berhasil mendekati Lilia dengan cara menggelindingkan tubuhnya dari atas sofa.
“Oya, ada apa Malleus? Dikau lapar?” Malleus menggerakkan tubuhnya ke atas ke bawah sebagai gestur penolakan—tapi entah apakah ia dapat menangkap maksudnya atau tidak, sebab di mata orang awam saat ini Malleus tampak seperti slime yang sedang menggoyangkan badannya. Lilia, untungnya, mengerti apa yang Malleus coba utarakan, sebab kemudian ia melanjutkan. “Bukan? Lalu dikau mau apa?”
“Mungkin Malleus-sama haus, ayah.” Tebak Silver menimpali.
“TUAN MUDA HAUS?” Sekarang giliran Sebek yang berbicara. Kelihatannya pemuda berambut hijau itu sudah selesai meratapi nasib dari tuan mudanya, terlihat dari api yang menyala-nyala di matanya. “SEBAGAI AJUDAN SETIA TUAN MUDA, SAYA AKAN MEMBAWAKAN TUAN MUDA SEGELAS AIR. TUNGGU SEBENTAR, TUAN MUDA!”
“Sebek, jangan langsung—ah, dia sudah pergi duluan.” Silver kembali melepas helaan napas, sementara Lilia tertawa kecil melihat impulsivitas Sebek.
“Anak muda memang selalu semangat ya, fufufu.” Tukas Lilia.
“Tidak, ayah, cuma Sebek saja yang bertingkah seperti itu.”
Membiarkan duo ayah-anak itu bercakap-cakap satu sama lain, Malleus rupanya mempunyai pikiran lain. Dia sebetulnya tidak lapar juga haus. Semenjak berubah menjadi slime, ketiga ajudannya sama sekali tidak membiarkannya keluar dari penglihatan mereka barang sedikitpun. Mereka khawatir kalau Malleus akan terluka. Situasi ini benar-benar menyesakkan bagi si putra mahkota. Berada di ruang santai asrama Diasomnia dengan mereka sama saja dengan kurungan emas bagi slime kecil bertanduk kita ini.
Untuk itulah mengapa Malleus bersusah payah menggerakkan tubuhnya menuju pintu keluar selagi Lilia dan Silver sedang terdistraksi oleh satu sama lain. Ada satu tujuan di benaknya sebagai tempat pelarian. Dimana lagi kalau bukan Ramshackle?
Barangkali Malleus sudah berhasil keluar andaikan saja Sebek tiba di ruangan lima detik lebih lambat.
“INI DIA! SEGELAS AIR DINGIN KHUSUS UNTUK TUAN MUDA!” Sebek tersenyum bangga, sebelah tangannya mengangkat tinggi-tinggi gelas berisi air putih tersebut ke udara. Dari ujung matanya, Sebek menotis keberadaan Malleus yang sudah jauh dari tempat semula. “ASTAGA, TUAN MUDA KENAPA BERADA DISINI? MARI KITA KEMBALI, TUAN MUDA.”
Sekali lagi, Malleus tidak bisa melakukan apa-apa selagi tangan kekar Sebek mengangkat tubuhnya dengan mudah dan menaruhnya kembali ke sofa. Menjadi slime ternyata menyusahkan juga. Dia tidak suka.
Gelas yang sendari dipegang Sebek ditaruh ke depannya dengan harapan Malleus akan meminumnya sampai habis. Tentu saja, Malleus yang sejatinya tidak berdahaga hanya membiarkan gelas itu tak tersentuh barang sedikit pun.
Satu menit.
Dua menit.
“LILIA-SAMA, KENAPA TUAN MUDA TIDAK MENYENTUH AIR DINGINNYA? APA AIR DINGINNYA TIDAK SESUAI DENGAN STANDAR TUAN MUDA?!” Sebek menoleh ke arah Silver dan Lilia, khawatir tertulis jelas di seluruh permukaan wajahnya.
Sementara itu, Malleus kembali menggerakkan tubuhnya, mencoba memberitahu mereka tentang keinginannya keluar asrama. Mungkin kali ini akan berhasil?
“Tidak, kurasa bukan itu masalahnya.” Sebelah tangan Silver mengelus dagu. “Sepertinya Malleus-sama sedang mencoba memberitahu kita sesuatu?” Kening Silver mengerut, roda gigi di kepalanya tampak berputar.
“Gargoyle?”
“Eskrim?”
“PUJIAN DARI PARA MANUSIA?”
Silver langsung melempar delikan tajam. “Sebek, serius dikit.”
Tidak terima dituduh sembarangan, Sebek elak pernyataan tersebut dengan, “AKU SERIUS ITU.” Hidungnya kembang-kempis menahan gejolak amarah.
“Bohong.” Balasnya dengan nada kelewat datar.
Sontak saja, hal itu menyulut emosi dari si pemuda yang lebih muda. Dahinya berdenyut, perempatan siku-siku imajiner muncul menghiasi sudut dahi “ISH, APA SIH KAU BOHONG-BOHONG? MAU KU TENDANG KAU DARI SINI, SILVER?”
“Kayak yang bisa aja. Terakhir kali kita sparing, kau kalah telak.”
Wajah Sebek seketika memerah karena malu. “ITU KARENA AKU SEDANG TIDAK FOKUS.”
“Berarti tiap hari kau tidak pernah fokus dong?”
“ENAK SAJA!”
Kembali, Sebek dan Silver bertengkar satu sama lain sementara Lilia memperhatikan dengan raut wajah terhibur. Sehingga untuk kedua kalinya, tidak ada satu pun yang menyadari bagaimana Malleus menggelindingkan tubuhnya pergi dari ruang santai Diasomnia.
Keadaan koridor asrama saat ini seharusnya masih sepi dari kehidupan para murid. Dengan tubuhnya yang bulat, Malleus cepat-cepat bergerak sebelum ketiga ajudannya menyadari kehilangannya. Sungguh, menggerakkan tubuh yang hampir sembilan puluh persen terdiri dari air itu bukanlah sesuatu yang mudah. Malleus rindu dengan bentuk tubuhnya yang lama.
Bedanya dari percobaan pertama; kali ini Malleus berhasil pergi sampai ke depan cermin sihir tanpa ketahuan siapapun. Tinggal gulingkan sedikit lagi dan—masuk!
Malleus sedikit pusing ketika melangkah keluar dari cermin. Jalannya sedikit kliyengan, walaupun hal itu sama sekali tak terlihat secara kasat mata. Ketika masih menjadi sosok manusia, tak pernah dia merasakan efek semacam ini (melupakan fakta bahwa dirinya yang merupakan seorang peri dari kota Briar Valley, dimana setiap harinya mereka bersinggungan dengan sihir).
Kepada ditoleh ke kanan dan kiri. Aman, tidak ada siapa-siapa. Sekarang yang perlu Malleus lakukan hanyalah bergerak maju dan dia akan tiba di Ramshackle secepatnya—
“Ho … lihat apa yang kita temukan disini? Seekor slime cicak nyasar dari Diasomnia.”
—sampai sebuah lengan kekar mengangkatnya ke udara. Tidak perlu berbalik pun dia sudah kenal siapa pemilik suara ini.
Hah.
Sepertinya perjalanan Malleus menuju Ramshackle masih akan sangat, sangat panjang.
