Actions

Work Header

somebody i used to know

Summary:

Pada Morioh; aku melihat secercah asa yang kucari. Aku akan berpulang di sini, seluruh jiwa emas yang tertinggal dan membukakanku pada pintu keadilan yang tinggi. Dan kau di sana—bertumbuh dewasa tanpa memunggungi, mendapatkan ingatanmu yang temaram untuk kembali.

Notes:

JoJo's Bizzare Adventure © Hirohiko Araki
CITY, Swanscollab © Swanrovstte_11

somebody i used to know
story © SeiYoshi

.

Jotaro Kujo | Noriaki Kakyoin
Rated : Teen & Up Audiences

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Dan aku menemukanmu di antara anak-anak yang tergolek oleh langkah lunglai, dalam derap yang sebagian tidak bersemangat untuk melanjutkan hari—

Kau tidak mengenalku. Begitu pun aku pada awal mula, mengatasnamakan logikaku yang (tidak) mau percaya. Atau mungkin tidak; semata secara alegoris aku mengumpamakan adalah itu merupakan permulaan kita berjumpa. Kau menengadahkan kepala dengan tatapanmu yang penuh sayu, mempertanyakan siapa aku dan apa maksudku, oleh topi kuning yang sebagian menutupi wajahmu.

Aku menyebut Kujo Jotaro. Ialah nama yang tersemat pada diri dan barangkali; kau akan ingat. Permasalahan utama yang membawaku untuk mengunjungi kota ini belum selesai dan aku mendapatkan berita mengenai keberadaanmu dari salah satu kenalan yang kuhormati pada suatu malam. Terombang-ambing di antara dugaan operasi penangkapan pembunuh yang kian dekat; atau masa lalu yang tidak dapat kembali kuungkap.

Aku tidak mengatakan sepenuhnya bahwa puncak dari permasalahan adalah ketika aku kembali mendengar namamu dari panggilan. Aku percaya, Koichi sebagai informan tidaklah mengerti apa-apa. Hanya sekilas dengar dan pandang; ah aku membawa foto kita yang diabadikan di tengah padang pasir bersama yang lain pada kantung celana.

Bertahun-tahun lalu. Rasanya sudah lama sekali semenjak aku bercengkrama denganmu. Sensasi yang anehnya pun masih sama pula serupa tanpa cacat seadanya, tidakkah ada yang berbeda darimu selain kau yang mengulang hidup kembali pada detik ketika waktu berhenti dan melubangi perutmu hingga mati?

Meskipun kau tak mengingat apa-apa; Dio sialan telah kukalahkan. Kakek yang merepotkan juga nyaris bernasib sama, tetapi mukjizat kembali membuatnya tersadar. Kini dia berulang tahun untuk yang ke-89. Sudah lama bukan; sejak terakhir kita dapat tertawa bersama?

Kau dan aku terlihat sama kebingungan. Begitu pun aku tidak tahu bagaimana konsep reinkarnasi untuk mengulang apa yang telah mati untuk kembali bekerja. Akulah saksi dari kematianmu yang menyakitkan, tak berdaya mengungkapkan kekuatan musuh yang luar biasa di luar nalar. Tetapi apa yang kau rencanakan dan pikirkan, efektif untuk membantuku melanjutkan petualangan. Meski lembar kita, saat itu pun sama juga telah usai.

Aku yang kuat dan tenang, sesungguhnya pun kepedihan telah membuatku menangis ketika itu juga. Aku tidak tahu. Saat aku tidak lagi mampu berharap untuk menemukanmu, dan kau muncul dengan sosok yang sama sekali baru. Kakyoin ... tidak. Tenmei. Namamu adalah Tenmei. Bukan Noriaki, bukan berupa pula Kakyoin Noriaki.

Pertemuan pertama, kau pasti mengiraku sebagai seorang bejat yang mendekati anak kecil atas rasa penasaranku, bukan? Tetapi demi menebus apa yang pernah kita lalui bersama, aku rela mengabaikan harga diriku. Merunduk. Aku membuat diriku bersimpuh. Menggenggam tanganmu. Menciummu. Aku rindu padamu.

Kau; yang terjebak dalam tubuh anak kecil berusia 12 tahun—adalah waktu yang sama dengan ketika kita tidak lagi saling menyapa dan bertemu. Apakah kau ingat rasa menyakitkan ketika kau yang terbunuh oleh vampire, menelaah kembali apa yang menyeretmu pada perjalanan ini—selain mungkin; tekadmu untuk berbalas budi dihadangkan oleh risiko kematian yang menghantui?

Ajal yang tidak disangka-sangka akan membentuk ikatan takdir yang sama sekali baru. Aku tidak mengerti apakah dari itu Tuhan yang berkuasa esensinya patut disyukuri. Mengenai singgah hati ini, aku tidak mengatakan apa pun pada Kakek maupun Josuke. Aku mengunci rapat mulutku supaya tidak lagi ada ucapan yang perlu membuatmu bertanya, apakah sebenarnya kita, bagaimana memang yang terjadi belum lama—dan menolak diriku, walaupun genggamanku yang tak luntur menghadirkan kesungguhan yang akan membuat matamu kian terbelalak itu.

Pahamilah. Kakyoin. Kakyoin Noriakiitulah namamu dulu. Kau yang di dalam pikiranmu itu bisa jadi menyisakan serpihan ingatan mengenai siapa dirimu sebenarnya; pada masa lalu, ketika kita masih dapat berdiri berdampingan menghadapi serangan bersama-sama. Aku yang tidak pernah menyangka akan mendapatkan bantuanmu sebagai teman baruku, satu hari setelah kita saling menukar nama. Aku tidak pernah meragukan keseluruhan niat yang kau berikan padaku. Dan oleh sebab itu; pantaskah jika aku mengatakan aku sangat menghormatimu?

Apa yang kuharapkan agar nantinya ketika kita tidak lagi mampu untuk menggenggam tangan saling bersokong satu sama lainnya ialah membuat segala hal yang terpaut di antara menjadi tidak lagi sebagai beban pikir berikutnya. Akan kupertegas ini, selain dari kesempatan kita saling berkontak 50 hari dulu, bahwasannya aku mencintaimu selaiknya yang lalu.

Apakah kau juga ingat, kalau aku pernah menganggap perasaanmu sebagai suatu lelucon? Tatkala kau mengatakan segalanya di padang pasir sembari tersenyum getir itu? Tetapi melalui tatapan nanarmu, aku tahu kau kecewa mendengarkan apa yang kumuntahkan dari mulutku. Maafkan aku. Aku tidak tahu bahwa pernyataan serius yang kuanggap enteng itu justru menjadi suatu bumerang yang membuatku menyesali setiap bait dan menginginkan supaya kau cepat mendekapku ulang.

Kau; yang selalu ada untukku. Kau, yang telah menemaniku dalam perjalanan rumit yang penuh dengan kemungkinan menjemput kematian. Apa yang akan kau hadapi dengan kepala dingin, kau tidak merasa gentar mempecundangi rasa takut hanya karena sebuah kebaikan yang ibuku perlihatkan padamu. Dan tidak tahulah aku bahwa perasaan itu justru bertumbuh menjadi sesuatu yang membuatmu terdorong untuk mencintaiku.

"Kakyoin ..."

Tubuh kecilmu gemetar. Ketika kesempatan untuk kali pertama kita bertemu kembali setelah ketiadaanmu, aku tidak tahu bahwa menahan sesak sebegini menyakitkan. Aku tidak perlu membuatmu tahu bahwa apa yang telah kulalui tanpamu semuanya membuatku merasa prihatin pada diriku duluan. Aku meminta maaf, tidak pernah menyampaikan apa pun untuk membalas perasaanmu meskipun setelahnya ajalmu datang.

Secara ironi, aku tahu kau tidak mengerti apa pun dalam tubuhmu yang bernama Noriaki Tenmei. Kau adalah seorang anak lelaki yang hanya memahami bahwa aku adalah orang dewasa berumur 29 tahun yang cengeng. Pria asing aneh yang tiba-tiba mengatakan segala sesuatu yang berhubungan dengan; betapa dulu seharusnya aku juga mencintaimu.

Tetapi percayalah, penyesalan itu membuatku mampu untuk bertekuk lutut dan menyukaimu dengan cara yang sama. Meskipun—

"Jotaro ... san."

Panggilan disertai tatapan mata dalam. Aku paham kau tengah menghiburku di tengah kepiluan. Menyentuh pipiku tanpa mengatakan apa pun. Namun pendar yang berkilau itu menjadi saksi dari segala hal. Aku takut untuk membalas perasaan ini. Kau mungkin tidak akan kembali lagi. Tolong ingatlah aku, untuk sekali ini.

"Tutup matamu. Kumohon."

Aku tidak ingin membuatmu melihat diriku yang lemah. Menangis selayaknya orang bodoh yang tidak memiliki arti dan tujuan. Orang dewasa yang tidak bisa diharapkan—permasalahan mengenai kasus pembunuhan yang sebetulnya mudah saja disingkap; selama diriku bergerak dengan cepat. Namun keberadaanmu justru membuat perasaanku kian pahit dan tak tenang. Aku rindu denganmu; kembalilah padaku seperti dulu.

"Kenapa?"

"Aku tidak ingin memperlihatkan ini padamu."

"Jotaro-san ... tidak apa-apa. Tunggulah aku."

Deru napasmu yang hangat. Wajahmu yang memerah. Kau menerimaku dengan baik sebab pelukan itu telah membuat kita saling terkoneksi dalam derai air mata yang tumpah tak berhenti. Kau yang memanggilku berkali-kali, meskipun sebetulnya aku tidak menyukai kau yang memanggilku dengan tambahan suffix sama sekali.

Tidak apa-apa. Kau mengatakan bahwa semua hal akan baik-baik saja. Dan aku percaya meskipun nanti aku kembali membuka apa yang telah kutinggalkan di Amerika, kau sudah berada di sana untuk membantuku berdiri dan menyokongku dengan kekuatanmu sendiri pula. Kau menutup reuni kita dengan sebuah janji, apa yang akan membawamu untuk menjelajahi dunia kembali. Aku tidak bisa kembali ke sini—tetapi dengan kuasamu, kau tahu ke depannya kita perlu memperbaiki lebih banyak hal lagi.

.

.

Pada Morioh; aku melihat secercah asa yang kucari. Aku akan berpulang di sini, seluruh jiwa emas yang tertinggal dan membukakanku pada pintu keadilan yang tinggi. Dan kau di sana—bertumbuh dewasa tanpa memunggungi, mendapatkan ingatanmu yang temaram untuk kembali.

Notes:

Terima kasih telah membaca salah satu hasil proyek dari kolaborasi [CITY]!

Proyek ini diselenggarakan oleh salah seorang author random, Swanrovstte_11, SwansCollab. Proyek City adalah proyek yang mengangkat kota sebagai tema. Di mana menitik beratkan 'kota' sebagai penjalin hubungan kuat di dalam karya.

Untuk unggahan karya selengkapnya beserta format credit dan introduksi; silakan mengunjungi link berikut.
https://www.wattpad.com/story/337602251-city-jotaro-kujo-noriaki-kakyoin

Series this work belongs to: