Work Text:
March senang berbicara sendiri, adalah hal yang Stelle pelajari dari perbincangannya dengan Pom-pom. Informasi tersebut sama sekali tidak mengejutkan bagi Stelle, karena memang bila dibandingkan dengan dirinya serta Dan Heng, March menjadi yang paling banyak menyumbang kata di antara mereka bertiga.
Walau begitu, Stelle tidak pernah melihat March berbicara sendiri. Tentu saja, untuk apa March berbicara sendiri bila ada orang lain, terlebih lagi Stelle, berada di sampingnya hampir setiap saat?
Kata kunci: hampir.
“Stelle, apa kau melihat March?” Dan Heng mengejutkan Stelle yang tengah sibuk berbincang bersama Bronya dan Seele secara terpisah melalui ponselnya. Keduanya sepertinya tengah berselisih pendapat, dan naasnya, Stelle terpilih sebagai korban curhatan mereka.
“March?” Akhirnya Stelle menatap Dan Heng setelah selesai membalas tiga pesan Bronya yang berupa paragraf tersebut, “Tidak, aku belum melihatnya sedari tadi.”
Dan Heng menghela nafasnya, tidak lupa ditambah dengan pijatan ringan di dahi. Butuh usaha besar bagi Stelle untuk tidak mengejek Dan Heng atas tingkah sang pria yang seolah sudah berumur lebih tua dari Himeko dan Welt.
“Begitu, ya? Aku pikir dia bersamamu.”
Stelle menggeleng dengan raut menyerupai anjing kecil yang tengah basah kuyup, “Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?”
“Tentu saja karena kalian memang sering bersama.” Jawab Dan Heng tanpa memberi jeda satu detik pun. Daripada menjawab pertanyaan Stelle, Dan Heng lebih seperti memberikan sebuah pernyataan.
Stelle termenung. Apa benar bahwa ia sering menghabiskan waktu bersama March? Logika yang tersisa pada pemikiran Stelle memutuskan untuk mengiyakan pernyataan itu. Meski dirinya, March, dan Dan Heng selalu menempel dengan satu sama lain, tapi Stelle lebih sering bersama March di waktu senggang.
‘Menginap’ di kamar March sembari bergosip tentang hubungan antara Asta dengan Arlan, keliling Astral Express bersama March sebelum keduanya dimarahi oleh Pom-pom, sampai mengunjungi tempat-tempat menarik di Belobog untuk dijadikan tempat berfoto… semuanya Stelle lakukan bersama March.
“Sudah selesai melamunnya?” Suara Dan Heng kembali menyadarkan Stelle, “Kalau sudah, lebih baik kau cari March. Sepertinya dia masih berada di kamarnya.”
Tidak memiliki pilihan lain, Stelle pun beranjak dari sofa. Perlu diketahui bahwa Stelle tengah dalam posisi rebahan, sehingga ketika ia bangun dan tidak sengaja menapakkan sepatunya di atas sofa, tiap langkahnya diiringi oleh omelan dari Pom-pom.
Stelle hafal betul dengan letak kamar March. Selain karena Astral Express yang jelas tidak seluas stasiun luar angkasa milik Herta, siapa yang tidak dapat mengingat letak kamar yang begitu mencolok dan benar-benar menggambarkan karakter sang penghuni kamar?
“March, kau di dalam?” Stelle mengetuk pintu kamar March, tidak seperti saat pertama kali Stelle datang kemari dan memasuki kamar March tanpa izin. Entah March sudah mengetahui hal itu atau belum.
Stelle dapat mendengar suara March dari dalam kamarnya, terdengar ceria seperti biasa. Benar kata Pom-pom, March senang berbicara sendiri.
“Lalu, Stelle!”
Sebelum Stelle dapat mengetuk pintu sekali lagi, ia mendengar namanya disebut dengan nada ceria khas milik March.
Sepantasnya, Stelle berbalik dan menunggu beberapa saat sebelum mencoba mengetuk pintu kembali. Namun, ini Stelle, pelaku yang mengagetkan staf hotel dengan bersembunyi di dalam lemari dan oknum dibalik pengisian kuisioner menggunakan nama palsu. Oleh karena itu, Stelle memutuskan untuk lanjut mendengar apa yang sedang March bicarakan tentangnya.
“Stelle itu aneh!” Jelas March dengan lantang, “Kenapa, ya, dia begitu terobsesi dengan tong sampah? Apa aku harus mencari tong sampah yang mirip dengan tong sampah di Belobog lalu menaruhnya di kamar agar ia sering berkunjung kemari?”
Stelle tertegun. Baiklah, ini menarik.
“Ah, tidak, tidak! Apa gunanya Stelle kemari kalau dia hanya fokus pada tong sampah!” Dalam bayangan Stelle, March pasti tengah menggeleng-gelengkan kepalanya dengan dramatis, “Aku harus melakukan apa lagi agar Stelle sadar perasaanku?”
Ini hal baru bagi Stelle. Perasaan March pada Stelle?
Dua kemungkinan terlintas di benak Stelle. Perasaan seperti apa yang March maksud? Dalam kemungkinan yang baik, bisa jadi perasaan itu adalah perasaan yang ingin mempererat hubungan di antara keduanya. Namun, dalam kemungkinan yang buruk, bisa jadi sebaliknya. Sial, kenapa di saat seperti ini firasat Stelle tidak mau berjalan sebagus kemampuan logika Dan Heng?
“Stelle… kalau Stelle tahu tentang ini… Kalau Stelle tahu aku suka dengannya…” Suara March melemah, kemudian dilanjut dengan kalimat-kalimat pelan yang Stelle kesulitan untuk dengar meski sudah menempelkan telinganya pada pintu.
Stelle bahkan tidak menyadari bahwa mukanya terasa hangat setelah karena mendengar kenyataan bahwa perasaan March kepadanya adalah rasa suka. Suka, dalam artian romantis.
Oh, Aeon, bagaimana mungkin kalian memberkati kekuatan yang mampu menggoncangkan planet, tapi tidak dengan pendengaran super tajam? Stelle benar-benar membutuhkan kekuatan seperti itu saat ini!
Ceroboh, Stelle menggeser pintu ketika ia berusaha untuk menyimak lebih jauh. Tindakan bodohnya itu mengagetkan dirinya dan juga March.
“S-Stelle!” Jelas, March terkejut, “Apa yang kau lakukan di sini?!”
Berpikir, Stelle. Pikirkan jawaban humoris yang mampu mengalihkan topik pembicaraan. Ayo, gunakan otakmu yang tidak seberapa itu!
Setelah tiga detik penuh keheningan, Stelle membuka mulutnya, “Aku rindu kamarmu.” Sontak Stelle menyesali kehidupannya yang baru saja berlangsung beberapa hari. Bila menurutnya itu adalah jawaban yang humoris, maka Stelle tidak lagi berhak untuk mengomentari selera stiker Bronya.
“…Hah?” March memberikan ekspresi yang biasa ditunjukannya setiap kali Hook mengejek mereka berdua.
“Maksudku,” Ujar Stelle dengan raut datarnya, semakin memberikan kesan canggung, “aku hanya ingin masuk ke kamarmu, dan… tidak sengaja mendengar… kau tahu?”
“Kau… mendengar semuanya?” March menunjuk Stelle dengan muka merah padam, seolah Stelle adalah salah seorang tersangka yang sedang dalam proses interogasi.
Stelle menjawab dengan memejamkan matanya dan mengangguk kaku.
Di sisi lain, March yang terbiasa memenuhi telinga Stelle dengan suara cerianya, kini terdiam dengan mulut ternganga. Manis, pikir Stelle. Sisi March yang seperti ini ternyata manis. Oh, kemana saja Stelle selama ini hingga ia baru menyadarinya sekarang?
“Kau tidak perlu menaruh tempat sampah Belobog di kamarmu, March. Aku tidak perlu itu untuk berkunjung.” Jelas Stelle seraya wanita yang lebih tinggi itu melangkah mendekat kepada March, turut duduk di sampingnya.
“Eh, lalu apa yang kau butuhkan?” Nada bicara March kembali seperti biasa. Ekspresif, dan imut, bila Stelle, yang baru saja menyadari bahwa mungkin ia memiliki perasaan yang sama kepada March, boleh menambahkan.
“Kau?” Jawab Stelle dengan tidak meyakinkan, tapi keduanya tahu bahwa Stelle saat ini tidak sedang bercanda, “maksudku, kau penghuni kamar ini. Lagipula, aku suka bersama denganmu, March. Kamarmu sudah nyaman apa adanya.”
“Benarkah?” March tersenyum lebar disertai dengan gelagat salah tingkah. Begitu pula dengan Stelle, yang kini memainkan jemarinya pertanda gugup. Stelle sendiri tidak tahu bahwa ternyata ia dapat merasa seperti ini. Mungkinkah ini yang disebut orang-orang dengan kekuatan cinta?
Stelle mengangguk dan meraih tangan March, “Sungguh.”
Keduanya saling memandang satu sama lain, menikmati indahnya paras insan di hadapan mereka bila dihiasi dengan gradasi kemerahan. Rasanya, baik March maupun Stelle dapat berada dalam posisi seperti ini untuk selama-lamanya. Tentu saja, itu adalah hiperbola belaka, walau ada benarnya bahwa March dan Stelle sama-sama menjadikan momen ini sebagai momen yang spesial untuk diingat seumur hidup mereka.
Kekuatan cinta memang hebat.
“March—”
“Stelle—”
Menyadari keduanya saling memanggil dalam waktu yang bersamaan, March dan Stelle sempat terkejut, sebelum mereka tertawa. Tidak ada lagi yang perlu mereka sampaikan, tampaknya lawan bicara di hadapan mereka juga mengerti apa yang hendak disampaikan.
Dua netra saling memandang dengan senyuman, hanya itu yang March dan Stelle butuhkan. Tangan Stelle menangkup wajah March, sedangkan tangan March melingkari pinggang Stelle.
Sementara itu, Dan Heng masih menunggu konfirmasi Stelle akan keberadaan March. Tabahkan dirimu, Dan Heng.
