Work Text:
Zeke mematikan mobilnya begitu mereka sampai di tempat di mana ‘kolong langit’ seolah-olah bisa digapai.
Pantai Shiganshina; tempat yang memiliki banyak kenangan bagi seorang Zeke Yaeger bersama sosok pria di sebelahnya.
Pria yang dimaksud sedari tadi entah mengapa hanya diam; memperhatikan langit yang semakin lama semakin men-jingga. Sejak perjalanan mereka ke sana, memang pria bersurai gelap itu selalu bergeming, dan menghindari segala macam pertanyaan sekadar basa-basi yang dilontarkan Zeke.
Ah, rasanya Zeke sudah mengenal pria itu terlalu lama, sampai-sampai ia tahu bahwa gurat wajah yang terlukis di sana; adalah gurat kesedihan.
“Levi,” panggilnya. “Udah lama, ya, kita nggak ke sini.”
Dibalas dengan keheningan yang sama.
“Gue inget banget waktu kita pertama kali ketemu di sini; lo yang marahin gue karena gue numpahin es kelapa di boxer lo— gue masih inget banget muka lo judes banget kayak malaikat penjaga pintu neraka— ya, sampai sekarang pun masih kayak gitu, sih. Hehe. Bener-bener nggak berubah ya, lo...”
Kembali tidak mendapatkan jawaban, Zeke kembali mencoba meracau sebuah basa-basi, “Atau waktu gue pertama kali minta diajarin surving sama lo. Hahah. Waktu itu kita belum deket ya. Emm, atau waktu kita pertama kali kiss dibalik kabin penjaga pantai. Hahah. Memori indah banget, ya, Lev.”
Sekali lagi, hening masih menghinggapi Levi.
Zeke menghela napasnya dengan sedikit gusar, “Levi, tolong dengerin gue.”
Levi akhirnya berbalik, melepaskan atensi dari langit berwarna sendu, kemudian melirik Zeke yang kini tengah mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustasi.
Zeke menatap Levi dan menarik napas, sedikit tersedak karena—Demi Tuhan— kenapa rasanya berat sekali?
“...Gue mau kita putus.”
Zeke menahan cekat, matanya kembali mencari mata levi, kemudian melanjutkan, “Gak ada urgensi nya buat kita lanjutin hubungan ini, Lev.”
“...Gue... gak mau.” Levi bergumam.
“Levi... dengerin gue,” Zeke menarik tangan Levi. “Lo besok nikah sama Petra,”
“Lo gak boleh nyakitin Petra lebih dari ini— dia sayang sama lo—“ Zeke berusaha mengontrol napasnya, “dan lo juga gak bisa menyakiti gue, lebih dari ini.”
Levi menunduk, tidak mampu membalas iris sebiru lautan milik Zeke yang tengah mencoba untuk menatapnya. Rasanya terlalu sakit untuk melihat iris indah itu kini ditutup kelabu kesedihan—sama seperti iris matanya sendiri.
“Gue cinta sama lo, Levi Ackerman. Dan karena gue cinta sama lo, gue merelakan ini.”
Setitik air mata mengenai tangan Zeke yang tengah menggenggam tangan kekasihnya. Cepat-cepat, si pria berkacamata itu menghapusnya dengan ibu jari, sembari mengelus punggung tangan pria yang satunya.
Bahkan cara Zeke memberinya perhatian-perhatian kecil, masih sama.
Bagaimana mungkin Levi bisa melepaskannya.
“Lo monyet banget, ya, Zeke.” Sarkasme Levi tak kuasa teredam pilu. “Gue. gak. mau.”
“Levi...”
“Lo yang kemarin-kemarin mau usahain hubungan ini sama gue. Lo setuju mau kabur sama gue. Ke luar negeri. Ke manapun tempat yang ngizinin kita bareng. Terus sekarang, lo? Ngebiarin gue nikah sama Petra? Petra yang gue nikahin cuma karena disuruh keluarga gue yang homophobic?”
“Lev—“
“Gue gak mau, gue gak mau lu pergi, Zeke. Gue udah rencana buat kabur. Gue gak bakal ke altar—gue udah rencanain itu. Kita bisa ke tempatnya Furlan, terus cari tiket ke luar negeri—.”
“Levi, levi, levi— Demi Tuhan, dengerin gue,“ Zeke menempelkan kedua tangannya di pipi Levi. dielusnya pelan kedua pipi tersebut. Zeke memandang dengan senyum getir, sembari mencari iris kelabu Levi yang terus mengindarinya dengan menunduk,
“Gue. Cinta. Sama. Lo.”
Zeke kembali melanjutkan, meskipun sebulir air mata mulai keluar dari sudut matanya, “Karena gue cinta sama lo, karena itu—gue gak mau lo menderita lagi karena berhubungan sama gue. Lo bakal hancur kalau bertahan sama gue. Gue cinta sama lo. Dan karena gue tau lo bakal lebih bahagia tanpa gue, gue mengizinkan lo buat pergi.”
Levi merengkuh Zeke dalam pelukan erat. Tangis keduanya pecah, bersamaan dengan matahari yang mulai tenggelam di ujung sana.
“Gue merelakan lo buat pergi, Lev.” Ujar Zeke sekali lagi, berusaha terlihat tegar, meskipun hatinya bagai dirajam bebatuan hingga remuk redam.
Namun,
Yang Zeke tidak tahu adalah,
Bahwa bukan cuma hati-nya saja yang kini hancur berserak-serak.
