Chapter Text
"Pa, kenapa kita ke sini?" ucap seorang anak yang penasaran, sedang menggandeng tangan ayahnya di tengah jalan yang lengang.
"Papa pengen ketemu sama seseorang yang papa kenal." balas lelaki itu sambil tersenyum kepada anaknya yang penasaran mengapa mereka harus datang jauh-jauh dari tempat tinggal mereka yang terpencil.
Jarang sekali untuk mereka pergi dari rumah yang letaknya berseberangan dari pulau tempat tinggal kenalan lelaki itu. Keluarga mereka tidak memiliki banyak kenalan yang mereka percaya dan jauh dari kerabat mereka yang kebanyakan tinggal di kampung halamannya.
.
.
.
"Pa, kenapa itu besar sekali? Itu istana?" anak itu menunjuk bangunan besar yang ada di depan mereka.
"Itu rumah temen papa, nak. Yuk masuk." lelaki itu membuka gerbang besar rumah itu dan berjalan masuk bersama.
Anak itu melihat ke segala arah, melihat betapa luasnya pekarangan rumah itu yang dikelilingi pagar tinggi yang menandai wilayah rumah itu, memisahkan hutan di sekitar rumah. Rerumputan hijau menghampar luas di balik pagar rumah itu, dengan taman indah dan cantik di sisi kiri dan kanan rumah itu.
Bunyi bel berdering membangunkan lamunan anak itu, melihat di depannya sudah ada sebuah pintu kayu berukir yang terlihat sangat tinggi dari sudut pandang anak itu. Tidak lama kemudian, pintu itu terbuka dan menunjukan seseorang dibalik pintu itu. Anak itu menyelip di balik jubah abu-abu milik ayahnya, merasa malu dan takut dengan siapa yang akan menjamu mereka. Lelaki itu terkekeh melihat reaksi anaknya untuk pertama kalinya datang ke rumah temannya itu.
"Selamat Siang, Madam." ucap lelaki itu menyapa wanita cantik berambut pirang dengan mata biru laut yang indah.
"Ah… Anda pasti Tuan Lance, senang bisa bertemu langsung dengan anda." ucap wanita itu dengan suara yang merdu dan senyumannya yang hangat.
"Nak, ayo beri salam." ucap lelaki yang dipanggil Lance kepada anaknya yang terlihat malu dibalik jubah ayahnya. Perlahan anak itu memunculkan diri dan membungkuk, memberi salam kepada wanita pemilik rumah teman ayahnya.
"Astaga, imut sekali." wanita itu mencubit pipi anak itu. Gemas dengan perilaku anak itu yang malu tapi penurut.
"Sini tante peluk." wanita itu memeluk anak itu dengan mudahnya, bahkan ia tidak menolak permintaan dari orang yang baru dia kenal.
"Ahahaha… Memang betul Madam Eva, dia memang sangat mirip dengan ibunya sangat penurut tapi juga pemalu." Lance tertawa ringan melihat reaksi istri temannya kepada anak satu-satunya.
"Tuan Lance, tidak perlu terlalu formal. Eva saja sudah cukup untukku. Mari masuk, suamiku sudah menunggu. Aku akan bermain dengan anakmu supaya tidak mengganggu percakapan kalian." ucap Eva tertawa kecil dan mempersilahkan tamunya untuk bertemu dengan suaminya.
"Baiklah kalau begitu, terimakasih banyak Madam- maksud saya Eva. Saya akan segera menemuinya." Lance bergegas pergi menjauhi Eva, menemui urusannya yang harus diselesaikan secepat mungkin.
.
.
.
"Oh ya, Tante baru inget. Mau liat anak kembar Tante?" ucap Eva tersenyum senang dan anak itu mengangguk.
.
.
.
Mereka sampai di sebuah kamar dimana ada satu keranjang bayi besar di sisi kamar itu dengan semua dekorasi warna merah dan biru ada dimana-mana. Mereka menghampiri keranjang bayi itu yang memperlihatkan bayi kembar satu tahun di dalamnya, tengah tidur dengan nyenyak di ranjang bayi.
"Yang baju biru Vergil dan yang merah Dante." bisik Eva memperkenalkan bayinya.
"Warnanya beda." ucap anak itu menunjuk kearah bayi kembar.
"Oh? Biar Tante bisa tau." ucap Eva sedikit bingung dengan pertanyaan anak itu.
"Tante harap kamu bisa main bareng sama anak tante. Tapi mereka masih tidur." tambah Eva berbisik supaya tidak membangunkan anaknya.
"Hmm…" terlihat wajah anak itu penasaran dengan bayi kembar itu.
"Nak? Kamu dimana?" suara Lance terdengar dari balik pintu.
"Ayahmu sepertinya mencari kita." ucap Eva tersenyum dan anak itu mengangguk seraya mereka keluar dari kamar kembar itu.
.
.
.
"Papa." panggil anak itu menarik jubah ayahnya saat berjalan pulang setelah mengunjungi rumah teman ayahnya.
"Iya, nak. Ada apa?" tanya lelaki itu.
"Kenapa temen papa warnanya lain?" tanya anak itu penasaran dengan apa yang dia lihat.
"Oh… itu… karena dia datang dari luar." jawab ayahnya menjelaskan sebisanya.
"Warnanya beda dari papa, mama dan tante." anak itu berkata.
"Nak, semua orang punya warnanya masing-masing. Walau aneh sekalipun, mereka belum tentu bisa melihat warna itu." ucap ayahnya menasehati.
"Tapi kenapa aku dan papa bisa liat warna itu? Kenapa yang lain engga? Sama cahaya itu di sana." anak itu terlihat murung. Lalu ayahnya berhenti berjalan dan berjongkok didepan anaknya.
"Nak, besok kalau sudah cukup usiamu. Papa jelasin lebih jelas apa yang sebenarnya kamu lihat. Tapi untuk saat ini papa aka kasih tau kalau warna dan cahaya yang kamu lihat itu ‘aura’ dan itu ada di tiap orang bahkan makhluk lain yang hidup di dunia ini." ayahnya menjelaskan kepada anaknya.
.
.
.
Sampai dimana hari itu tidak pernah ada.
~] [~
Aku terbangun dari tidurku yang singkat, sangat bersyukur kali ini aku tidak bermimpi aneh-aneh, itu sudah bagus untuk hari yang baru ini.
"Ah…" aku renggangkan kedua tanganku ke udara, meluruskan badanku yang masih terasa pegal akibat begadang demi upah pekerjaanku yang tidak seberapa.
Pekerjaan yang cukup untuk hidup disini, kota kecil Fortune atau Fortuna yang warganya kebanyakan menyembah Sparda sebagai dewa penyelamat mereka. Memang cerita itu sudah ada sejak beribu tahun lalu, tapi aku tidak yakin dengan kepercayaan ini. Meskipun aku harus membaur agar tidak menjadi bahan gosipan warga lokal, aku tetap tidak percaya dengan keyakinan itu. Bagaimana bisa Sparda menjadi sesuatu yang disembah? Atau lebih tepatnya mengapa? Atau… Ah… Aku tak ingin memikirkan itu sekarang ini. Masih ada hal lain yang harus aku lakukan daripada merenungkan pirikan itu untuk saat ini.
Aku bergegas berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan pagi hari ini. Setelah sarapan dan membersihkan badan agar terlihat segar. Aku berpakaian ala warga disini, dimana harus menggunakan penutup kepala yang hampir menutupi seluruh wajah. Untunglah dengan penutup kepala itu, aku bisa menutupi kantung mataku yang terlihat tidak bagus karena kurang tidur. Setelah semua beres, aku membawa keranjang beserta hasil pekerjaanku malam tadi dan berangkat dari rumah kecilku yang letaknya di pinggiran kota.
Aku melihat sudah banyak orang yang bergegas keluar dari rumah mereka, menjalani aktivitas layaknya masyarakat pada umumnya. Dilanjutkan pada siang nanti, ibadah di gereja yang membuatku kurang nyaman dengan apa yang disampaikan sang ketua jemaah itu. Mau ga mau aku harus menghadiri hanya sekedar menjauhiku dari berbagai gosip tentang diriku.
Memang kehidupan disini sangat damai, tetapi ada sekte bernama "The Order of The Sword" yang mengawasi setiap tempat di kota ini. Meskipun tidak sering penjaga sekte yang berjaga di lingkungan tempat tinggalku yang ada di pinggiran, mereka lebih berfokus pada hotel tempat para turis asing yang lebih diperketat daripada tempat lain.
Karena hari masih panjang aku memutuskan berjalan-jalan sejenak, melepas lelah tadi malam yang harus mengejar deadline. Hari ini cukup lengang di perpustakaan sehingga aku putuskan untuk berada disana. Aku sering sekali datang ke tempat ini, lebih nyaman dibandingkan berdesakan di jalan dekat pasar lokal yang jaraknya tidak jauh dari perpustakaan.
Aku mencari tempat duduk yang pas untukku menghabiskan waktu dan menambah waktu istirahatku. Akhirnya aku putuskan duduk di kursi paling pojok dekat jendela besar yang mengarah langsung ke pelabuhan kota ini. Memandangi pemandangan pelabuhan yang begitu banyak nelayan yang baru saja pulang dari mencari ikan di laut yang melimpah ruah sumber daya alamnya. Aku kagum dengan kota kecil ini yang menjaga perairan mereka dengan baik. Berbeda dengan kota yang pernah sekali aku kunjungi sebelumnya, dimana polusi dimana-mana, kotanya terlihat dekil dan kumuh. Kalau disini, bersih dan nyaman. Aku bahkan tidak perlu membuang banyak uang. Aku bisa pergi ke hutan yang jaraknya tidak jauh dari kota, mencari bahan makanan yang tumbuh di sana atau bisa menangkap ikan di dekat air terjun yang tempatnya lumayan tidak jauh dari destinasi wisata.
Aku memang bukan warga asli dari sini, kalau aku asli dari sini pasti aku lebih taat dari sekarang ini. Tetapi kenalanku yang sama-sama merantau mempertemukan kami dan memintaku untuk tinggal di tempat kelahirannya. Karena tawaran yang cukup menarik, aku putuskan untuk membeli sebuah rumah kecil disini dan tinggal untuk sementara waktu. Bukan aku tidak bersyukur dengan kota kecil yang nyaman ini. Tapi ada sesuatu yang menjanggal di benakku. Ada sesuatu yang tidak benar di sini karena aku mendengar rumor yang kurang baik dari kota ini. Sungguh ironi, sebuah kota yang dinamakan kota keberuntungan malah membawa ketidakberuntungan.
Selagi memandangi suasana kota di balik jendela. Seseorang menepuk pundakku, dia adalah turis yang ingin menanyakan sebuah buku yang ia ingin baca dari perpustakaan ini. Karena tidak ingin menelantarkan orang yang meminta tolong, aku bawa dia ke rak buku yang mungkin ada buku yang ia cari. Setelah kejadian itu, aku menjadi pustakawan dadakan. Aku tau kenapa orang disini takut dengan turis asing, tapi ini kurang wajar. Mengapa komunitas disini menganggap berinteraksi dengan turis asing dianggap pekerjaan yang rendah. Mereka bilang turis asing itu pembawa bencana dan kutukan. Sungguh pemikiran yang kurang terbuka, memang kita harus waspada terhadap orang asing, tapi tidak se ekstrim itu.
.
.
.
Setelah berbagai macam turis yang menanyakan hal yang terkadang aneh-aneh, akhirnya aku bisa tenang tanpa ada orang yang bertanya kepadaku lagi. Aku kembali pada tempat duduk tadi dan melihat lurus di depan jendela besar itu lagi. Tanpa aku sadari waktu menunjukan hampir waktunya untuk ke gereja. Aku bergegas menuju kesana.
Saat diperjalanan, aku merasa ada sesuatu yang mengganggu. Entah apa yang janggal. Seperti….
Aku terpaku melihat seseorang berjubah coklat melewatiku, berjalan berlawanan arah dengan para warga yang akan pergi ke gereja. Perasaan itu datang dari orang itu. Aku masih bisa melihat sedikit wajahnya, seorang pria dengan raut wajah yang dingin.
Aku terdiam, melihat ke arahnya seraya dia berjalan menjauh. Aku dekap kedua tanganku di dada, ada sebuah perasaan aneh aku rasakan saat dia berjalan melewatiku.
'Perasaan apa ini? Familiar.'
.
.
.
Ibadah berjalan normal dan membosankan seperti biasa, aku duduk di barisan belakang bersama dengan kenalanku. Dia lelaki yang umumnya 10 tahun lebih tua dariku. Seorang keluarga nelayan yang mempunyai reputasi yang baik dalam menangkap ikan turun temurun. Dialah orang yang menawariku untuk tinggal disini. Juga teman perantauan yang awalnya dia pergi dari kota ini karena masalah dan akhirnya kembali kesini untuk mewarisi pekerjaan ayahnya yang dahulu seorang nelayan.
'Bagaimana?' dia berbisik karena tidak ingin mengganggu jalannya ibadah disini.
'Ya, sudah siap.' aku menjawabnya sesingkat mungkin. Karena sisanya akan kuberikan hasil pekerjaan ku saat ibadah itu selesai.
'Baiklah.' dia berbisik kepadaku.
.
.
.
Setelah dibayarkan upah pekerjaanku, aku meninggalkan gereja. Tidak terasa aku berjalan tanpa tujuan yang jelas. Setelah percakapan dengan kenalan ku, aku terlalu banyak pertanyaan yang muncul di benakku.
Memang aku seseorang yang memiliki banyak pikiran. Aku bahkan bisa terkena demam hanya karena memikirkan cara penyajian makanan saat aku bekerja menjadi asisten rumah tangga atau saat aku menjadi pelayan di bar kecil dekat hotel turis. Itu sebabnya aku sedikit kesulitan mencari pekerjaan tetap.
'Aku harus mengalihkan perhatianku.' pikirku teringat dengan perpustakaan. Siapa tau beberapa buku bisa mengalihkan pikiranku.
Sesampainya disana aku mencari beberapa buku yang membuatku tertarik atau sekedar mengisi waktu luang.
'Hmm… Buku cerita anak? Aku rasa tidak. Buku novel? Meh. Buku ilmiah? Mungkin. Buku sejarah? Hmmm..' batinku melihat rak dibagian pengetahuan sejarah.
'Tapi kebanyakan tentang itu-itu aja.' aku melihat-lihat buku sejarah dengan bosannya.
Ah… aku baru ingat ada buku lama yang menarikku kemari. Buku tentang berdirinya kota ini yang katanya sudah ada sebelum kota ini ada sekte. Mungkin ada sesuatu yang menarik dari buku itu. Atau ada sebuah misteri yang bisa dipecahkan mungkin?
Saat aku berjalan menyusuri rak demi rak dan tak disangka aku bertemu orang itu lagi. Orang dengan jubah coklat yang aku lihat tempo hari. Kali ini dia membuka tudung kepalanya, memperlihatkan wajah dan juga rambut perak yang membuatku penasaran. Seperti dugaanku sebelumnya, dia bukan orang sembarangan menurutku.
'Apa harus bertemu disaat seperti ini.' pikirku sambil berjalan mendekati rak yang mungkin ada buku yang aku cari.
'Terasa tidak asing.'
Saat aku menyusuri rak yang ada di barisan itu, buku yang aku cari ternyata ada disana. Terletak di rak ketiga dari bawah, tepat di samping orang itu. Mau tidak mau aku harus mengambil buku itu dan menjauh secepatnya.
"Maaf permisi." ucapku menundukkan kepala dan menarik sebuah buku dari rak.
Setelah mendapatkan buku itu, aku langsung berjalan menjauh dari orang itu. Saat aku berada sangat dekat dengannya, aku merasakan aura dingin darinya. Benar-benar membuat bulu kuduk berdiri untuk orang yang penakut atau setidaknya membuat orang-orang menjauhi pria jangkung itu. Tapi tidak untukku, menurutku itu aura yang wajar bagi orang asing yang tidak ada sangkut pautnya denganku.
"Tunggu." suara orang itu memanggil. Aku ingin langsung menjauh dari pria itu, tapi ada sesuatu yang membuatku tertarik. Mungkin karena rambutnya yang putih keperakan itu.
"Ada yang bisa saya bantu?" untungnya suaraku tidak pecah saat bertanya dengan sopan.
"Apa kau tau dimana buku-buku yang ditulis penguasa kota terdahulu?" tanya orang itu dengan nada yang terbilang agak dingin, tapi cukup untuk membuat warga asli ketakutan. Sepertinya dia sudah lama tidak berinteraksi dengan orang-orang. Atau.. Ah.. Mungkin cuma perasaanku saja.
"Maaf, buku itu saya tidak tahu." aku mencoba menolak untuk memberikan informasi. Bukan karena aku tau tentang buku yang dia cari. Aku hanya menduga dia mencari buku yang menjadi rumor belakangan ini. Buku tua yang isi dari buku itu bisa dikatakan sangat berbahaya. Ada gosip tentang buku itu disimpan oleh ketua sekte disini yang membuatku tidak suka dengan apa yang kelompok itu lakukan dengan menyimpan buku berbahaya seperti itu.
"Permisi." aku membungkuk seraya mengakhiri percakapan dengan berbalik dan mencari jalan keluar dari situasi ini.
Sebelum keluar dari tempat dia berada, aku melihat ke arahnya. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan hal yang belum pasti adanya tapi aku ingin memberikan informasi yang aku tahu. Tidak masalah kan, ya?
"Tuan, yang saya tahu ada rumor mereka mungkin menyembunyikan di sebuah kastil, tidak jauh dari kota ini. Banyak cerita bahwa buku itu ada disana, tapi jangan sekali-kali bertanya tentang buku itu pada penjaga perpustakaan. Mereka akan memanggil petugas keamanan." aku berbisik ke arahnya.
"Saya sarankan tidak pergi ke kastil itu, sangat banyak penjaga dari ordo berada disana. Lagipula, sangat sulit mendapat izin untuk pergi ke sana. Maaf, itu saja yang bisa aku sampaikan." lanjutku.
"Kau sepertinya tidak berasal dari sini." komentar Pria itu. Saat itu juga, suara langkah kaki mendekat.
"Maaf saya harus pergi." aku berkata sambil terburu-buru, membungkuk meminta maaf lalu berjalan pergi dari tempat itu.
Aku tak tau mengapa aku melakukan itu, mungkin karena mulutku yang suka spontanitas berkata hal aneh kepada orang lain. Hanya saja, aku bisa merasa dia bukan orang asing bagiku. Lelaki jangkung itu, apalagi dengan rambut perak yang terlihat sangat kontradiktif dengan rambut pada umumnya. Bukannya itu yang sering dikatakan oleh pemimpin jemaah tentang penampakan dari 'The Savior' mereka?
