Actions

Work Header

Pulang

Summary:

Malam itu Sakurayama pulang ke sebuah apartemen yang bukan miliknya.

Notes:

Happy (VERY LATE) Reikoga day!
There's so much happening lately but I'm glad I made it

!! Karakter di fanfiksi ini menggunakan alternative universe reikoga dari Love and Beast AU !!

BEWARE OF OOC AND CRINGE!

Enjoy! :love:

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"Aku pulang." 

Ucap Sakurayama saat tiba di apartemen yang jelas bukan miliknya.

Tanpa menunggu sang pemilik kamar muncul, dengan santai ia melangkah masuk dan langsung menuju dapur untuk mengambil air putih. 

Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Yang terdengar hanyalah suara tegukan dari air yang diminumnya. Terlalu hening sampai-sampai Sakurayama merasa janggal. 

 

"Ohata-kun?" 

 

Sakurayama sangat yakin orang yang ia sebut namanya itu– pemilik kamar ini, sedang tidak kemana mana.

Sakurayama tahu walaupun belum terlalu malam Ohata tidak suka jalan ke luar untuk beli makan malam. Biasanya anak itu akan menunggu dirinya pulang membawa makanan, atau kalau sudah terlalu lapar ia akan memakan mi instan (lagi).

"Apa dia ketiduran?"

Dengan meninggalkan gelas kosong di atas meja, Sakurayama pun beranjak dari dapur dan pergi menuju atelier Ohata. Karena anak itu sudah pasti tidak ada di kamarnya.

Bisa jadi Ohata ketiduran di lantai. Sakurayama sudah biasa. Tapi keheningan kali ini begitu ganjil sampai hatinya tidak tenang.

 

Begitu sampai di depan pintu yang bertuliskan papan "DILARANG MASUK" Sakurayama langsung masuk tanpa mengetuk.

Aroma cat yang kuat langsung menyeruak indra penciumannya begitu Sakurayama membuka pintu. 

Memang ruangan satu ini dirancang untuk kedap udara. Karena sebelumnya pernah kejadian aroma cat memenuhi seluruh kamar apartemen sampai sampai tangan Ohata gatal kalau tidak melukis setiap saat. 

Demi kebaikan Ohata dan kesehatan anak itu, akhirnya Sakurayama merancang ulang pintu atelier tersebut. Dia tidak mau kekasihnya mati muda hanya karena kelelahan melukis.

 

Tanpa menutup kembali pintu di belakangnya, Sakurayama berjalan masuk mendekati sosok yang dicarinya.

Ah, betapa lega hatinya ketika sosok yang dicari terlihat di depan mata.

Ohata ada di sana. Tergeletak di lantai di depan lukisan yang belum selesai.

 

"Lagi-lagi ketiduran ya." 

"Ini sudah yang ke empat kali di minggu ini, tumben sekali."

Memang sangat jarang Ohata tertidur saat Sakurayama pulang. Biasanya anak itu sedang fokus pada lukisannya. Lalu setelah Sakurayama selesai mandi, ia akan mengajak Ohata makan malam. Setelah itu mereka pergi tidur bersama.

Kejadian ketiduran di atelier biasanya hanya terjadi satu atau dua kali dalam seminggu.

 

Sakurayama membungkuk sedikit untuk menengok karya baru Ohata, sebelum akhirnya berjongkok di sebelah anak itu.

"Ohata-kun, kalau terus terusan tidur di lantai begini kau bisa sakit loh."

Sakurayama membalik tubuh Ohata agar terlentang. Tadinya ingin mengecup sosok yang tertidur itu, tapi betapa kagetnya ia ketika melihat wajah Ohata yang memerah. 

"..??"

Bagian dada Ohata juga menunjukkan bahwa napasnya berat.

"Ohata-kun!?"

Sakurayama mencoba mengguncang tubuh itu. Sekali, dua kali, tidak ada respon.

 

Apakah anak ini sakit??

Panik, Sakurayama langsung mengangkat Ohata dan membawanya ke kamar.

Kotak p3k segera diraihnya dan pertolongan pertama pada demam ia kerahkan.

"39° Celcius… demam tinggi."

Sakurayama membuka sweater Ohata dan membiarkannya dengan kemeja tipis.

Setelah itu buru-buru ia mengambil seember kecil air dingin lalu menyelupkan kain bersih ke sana. Kain itu diperas dan dilipat untuk diletakkan di dahi Ohata.

 

"Demam sepanas ini.. bagaimana bisa anak itu bisa menahannya?"

 

Memang sejak kemarin Ohata berlagak aneh. Mungkin anak itu sudah merasa tidak enak badan sejak lama, tapi tak mau digubris olehnya. Sakurayama pun bodoh karena tidak menyadarinya sejak awal.

 

Setelah meletakkan kain basah di dahi Ohata, Sakurayama pergi ke apotek untuk membeli obat penurun demam. Sepulangnya dari apotek ia juga langsung membuat bubur.

 

Waktu cepat berlalu dan tengah malam pun datang. 

 

Sakurayama sedang duduk di sebelah Ohata ketika Ohata mengerang dalam tidurnya. Beberapa menit kemudian mata itu terbuka dengan lemah.

 

"Kau bangun…" ucap Sakurayama. Terselip rasa lega di ucapannya.

"Jam.. berapa sekarang…." dengan suara yang serak dan lemah Ohata bertanya.

"Sekarang jam 1 malam. Kau tertidur– tidak, sepertinya pingsan saat sedang melukis. Saya yang membawamu ke kamar."

"....."

"Saya juga sudah buat bubur dan beli beberapa obat. Kau harus makan dan minum obat dulu."

"....."

Ohata hanya diam menatap langit-langit kamarnya. 

"Jadi aku tumbang ya?" ucap Ohata dalam hati.

"Sayang sekali.. padahal aku berniat istirahat setelah lukisannya selesai besok."

 

"Ohata-kun terlalu pusing untuk bicara ya? Tidak apa apa. Saya akan panaskan buburnya dulu."

Sesaat setelah kalimat itu berakhir, beban di sebelah Ohata hilang karena Sakurayama yang bangkit dari kasur. Ia mengecup punggung tangan Ohata lalu pergi ke luar kamar.

 

Beberapa menit kemudian Sakurayama kembali dengan nampan yang diatasnya ada mangkok, segelas air, teko, dan beberapa obat.

Bantal bantal disusun di kepala kasur agar lebih tinggi untuk disandarkan punggung Ohata. Setelah itu segelas air putih diberikan.

 

"Ohata-kun memang nakal. Seharusnya kau tidak perlu menahannya selama berhari-hari."

"...."

"Walaupun hanya seorang dokter bedah, saya juga bisa menyadari demam yang kau tahan itu. Jadi jangan coba coba sembunyikan sakitmu lagi."

"Baik…" 

Ohata menjawab sambil tertunduk bersalah. Suaranya terdengar lebih baik setelah minum air putih.

"Maafkan aku, sensei."

Mendengar reaksi Ohata membuat Sakurayama tersenyum. Tangannya tergerak untuk mengelus kepala si pelukis dengan sayang. 

"Dimaafkan, kok."

 

Sakurayama tahu kecintaan Ohata terhadap melukis tidak bisa disandingkan dengan apapun. Hobinya itu benar-benar diletakkan di atas segalanya. 

Jika Ohata bahagia melakukannya, maka Sakurayama akan terus mendukung di belakangnya.

 

Sambil pelan-pelan menyuapi bubur, Sakurayama bicara soal kesehatan dan keseharian Ohata yang tidak sehat. Ia berencana untuk membuat Ohata lebih 'hidup' dan lebih banyak gerak.

Ohata sendiri tidak banyak mendengarkan karena harus fokus pada sendok bubur yang ditujukan kepada mulutnya.

Sungguh, ia sangat malas untuk makan bubur yang rasanya hambar ini. Entah Sakurayama yang sudah terlalu lelah sampai lupa memasukkan bumbu atau bagaimana. Sayangnya tubuh Ohata juga terlalu lemah untuk sekedar protes soal rasa bubur.

Biarlah akan Ohata jadikan bahan ejekan untuk Sakurayama saat dirinya sudah sembuh nanti.

 

Setelah makan dan minum obat, bantal bantal tadi sedikit di turunkan agar Ohata bisa lebih nyaman bersandar tanpa harus pegal duduk. Tinggal menunggu beberapa menit lagi sampai Ohata boleh berbaring.

Dengan posisi nyaman, selimut tebal, dan suhu ruangan yang pas, membuat Ohata mengantuk. Matanya tertutup perlahan, tapi ia belum benar-benar tidur.

 

Dari kejauhan Ohata mendengar suara air keran dan sendok bertabrakan pelan. Sepertinya Sakurayama sedang mencuci mangkok dan sendok bekas bubur tadi. 

Beberapa saat kemudian suara itu hilang dan digantikan oleh hening yang nyaman. Entah kemana dan apa yang dilakukan Sakurayama sekarang. Tanpa bisa ditahan lagi, tiba-tiba rasa kantuk menyerang. 

 

 

"Ohata-kun, besok kau ikut saya ke rumah sakit saja ya?"

 

 

Kaget, yang disebut namanya langsung membuka mata. 

 

"Ternyata saya tidak bisa ambil cuti besok.. saya baru ingat besok termasuk hari penting."

"....." 

"Kau tidak ada yang mengurus kalau sendirian di rumah. Dengan ikut saya ke rumah sakit, saya bisa lebih tenang karena akan ada suster yang mengurusmu."

"....."

Lama Ohata tidak menjawab. Hanya menatap lemah pada Sakurayama. Sakurayama pun, dengan sabar menunggu jawaban.

 

Beberapa detik berlalu dan akhirnya Ohata menggeleng.

 

"Tidak mau? Hmm…"

Sakurayama membuat pose berpikir di depan pintu masuk kamar. Ya.. daritadi ia belum masuk.

"Baiklah. Akan saya pikirkan cara lain."

 

Setelah mengatakan itu, Sakurayama berjalan mendekat sampai berhenti tepat di sebelah kasur. Ia duduk di sana dan mengecup kening Ohata.

"Untuk sekarang tidurlah dulu. Selamat malam Ohata-kun, cepat sembuh ya. Mimpi indah~"

Seperti sebuah mantra tidur, Ohata benar benar menutup matanya. Entah kenapa matanya terasa berat setelah mendengar apa yang dikatakan Sakurayama barusan.

Ditambah kecupan sayang di dahi dan usapan lembut di kepalanya, bagaimana ia tidak terlelap?

Ah pria ini benar-benar tau cara membuat Ohata merasa nyaman.

 

 

 

Esoknya saat Ohata bangun, kepalanya sudah terasa lebih ringan dibanding semalam.

Hal yang membuat dirinya terbangun adalah cahaya matahari yang mengintip dari balik tirai dan mengenai matanya.

Tapi bukan tirai dan cahaya matahari yang pertama ia lihat setelah membuka mata, melainkan sebuah langit langit ruangan berwarna putih dengan aroma obat yang familiar.

 

"Ah-"

 

Sepertinya Ohata benar-benar dibawa ke rumah sakit.

Notes:

I loev them so much