Work Text:
“Kamu tahu kabar menarik? Putri tunggal Bratva bertunangan! Kamu tahu kenapa kabar ini semakin panas? Pasangannya itu Si Babi Hutan yang legendaris!”
Oh, ucap Padma dalam hati. Dia bertunangan. Kemudian tangannya mengepal. Ia pikir, setelah orang itu mengundurkan diri dari Keluarga Tong, sedikitnya akan ada yang berubah. Cih, sama saja.
Padma mengetahui dan mengakui bahwa pada satu waktu di hidupnya, dia memang menyukai orang itu. Bukan kepada bayangan Padma tentangnya, tapi sungguhan kepada orangnya, sebelum tabir-tabir kelam itu tersibak satu per satu.
“Kak Padma!”
“Heh apaan Nina! Ngagetin aja!”
“Makanya jangan bengong. Gimana tanggapan Kakak?”
Padma menggerakkan tangannya ke dada, ke tempat jantungnya bereaksi sensitif atas berita itu. Bukan. Ini bukan cemburu atau marah karena kehilangan sesuatu. Ia yang merasakan, perasaan kepada orang itu juga sudah terselimuti oleh emosi-emosi negatif.
Kemudian dari mulutnya, Padma mengucapkan satu kalimat.
“Aku ingin pergi ke pertunangan Agam.”
Sebab pada kenyataannya, Padma tahu kalau dia tidak membenci Agam. Menyesal mengenalnya, iya. Kecewa dan marah, setiap hari. Tetapi tidak pernah membencinya.
Karena mungkin dengan menyaksikan langsung, Padma bisa mendapat jawaban atas apa yang sebenarnya ia rasakan. Mencari sesuatu yang bisa membuatnya melepas Agam tanpa sisa. Supaya hatinya lapang.
Saint Petersburg.
Sekitar seratus undangan. Jumlah yang sedikit untuk pernikahan megah di kastil glamor ini.
Benar, pernikahan.
Bikin candi aja dikasih deadline semalaman! seru Padma dalam hati saat mendengar berita itu pada sore menjelang acara inti yang akan dilaksanakan malam harinya.
Padma meringis. Baguslah. Semakin cepat pula dia dapat mengambil keputusan soal kepelikan ini. Mampus, si Monyet menikah.
Tidak ada nama Padma dalam daftar undangan. Padma pribadi tidak terlalu senang mengenai gagasan datang tanpa diundang. Namun kali ini berbeda. Ia tidak masalah membaur dengan kerumunan, berhasil membuat para tukang pukul tidak bertanya-tanya.
Salju memenuhi atap kastil yang terbuat dari kaca. Dari sudut yang dapat melihat semuanya, di sanalah Bujang berjalan melintasi para tamu. Di ujung tujuannya berdiri Krestniy Otets dan calon mempelai wanita.
Gaun berwarna putih, tiara di atas rambutnya, wajah memerah. Oh, jadi itu ekspresi seseorang yang jatuh cinta. Orang yang jatuh cinta kepada Bujang.
Padma beralih memperhatikan Bujang yang berdiri di tepi karpet. Postur tubuh sempurna, pakaian mengkilap, rambut rapi … dan matanya. Padma mengharapkan ada binar yang sama dengan yang dipancarkan mata biru Maria. Padma mengharapkan wajah berseri-seri tokoh utama laki-laki di ruangan ini. Seharusnya juga, semu merah di pipinya. Sebab ini adalah acara besar, intim, dan membahagiakan. Tapi mengapa ... mengapa Bujang terlihat seperti orang yang, sekeras apa pun dia berteriak, tidak ada yang menolongnya.
Oh, iya. Kalau yang seperti ini juga, Padma tahu. Tidak semua orang menikah karena cinta. Mungkin ini pernikahan politik demi menyatukan kekuatan, pikirnya, sebelum kembali melihat ke arah Maria.
Mungkin memang pernikahan karena cinta. Namun untuk Bujang, apakah pria itu juga melakukan ini karena cinta? Apakah Bujang memang menyetujui pernikahan ini? Apa Maria tahu apa yang dirasakan Bujang? Apa ada orang yang bertanya tentang pendapat Bujang?
Padma meringis. Ia tidak peduli jika Bujang jatuh cinta kepada orang yang bukan dirinya. Tidak peduli siapa pun sosok yang dipilih menjadi teman hidupnya. Tapi setidaknya, jika Agam akan menikah, Padma ingin Agam melakukan itu karena diri Agam sendiri. Karena Agam yang ingin melakukannya.
Melihat Bujang seperti ini—
—dan pada kenyataannya, pertolongan itu masih ada.
Padma sudah menduga kejadian ini, meski terabaikan karena urusan pribadinya. Oleh karena itu, mudah baginya menyelinap keluar tanpa ikut campur tangan. Menarik juga melihat pengkhianatan langsung di acara abad ini (juga akuarium yang pecah).
Konflik keluarga shadow economy. Biarlah dua bandit itu beradu pistol. Ringan sekali melihat dua kebusukan saling menghancurkan.
Padma berdiri di atas salah satu bangunan Saint Petersburg. Salju masih turun dengan lebat.
“Semoga kau tidak mati.”
Masih belum.
Belum datang waktu saat Padma harus memunculkan diri.
