Chapter Text
"Masak apa tuh, Bang?"
Meski masih pagi, Yuuta nyaris sama kuyunya dengan lembar rumput laut yang menempel pada nasi panas, yang notabene, sudah nahas karena sudah sedari tadi menjadi bahan uji coba Yuuta. Yuuta sendiri sudah jengah menggulung sekumpulan nasi tak karuan. Bahkan pamannya, Gojo Satoru, tidak ia gubris.
"Yuuta?"
"Yuutaaaaa."
Satoru belum mau menyerah. "Yuuta!"
"Apa sih? Kamu ngeganggu Yuuta, tuh." Utahime turut masuk ke dapur. Tangannya membawa sekeranjang hasil panen kebun di belakang rumah: terong ungu besar-besar, cabai merah-merah, dan tomat-tomat yang mengilap. Utahime tengah hobi berkebun dan mau tidak mau semua orang makan tanaman yang tumbuh di belakang. Baik Satoru, Yuuta, maupun Toge sudah tidak ingat kapan terakhir kali mereka makan daging, bahkan telur.
Satoru merengut. "Salah banget, Yang? Aku kan cuma manggil ponakan aku?"
"Ya kalo ngga disahut berarti emang gamau diganggu," Sahut Utahime ketus.
Utahime menyimpan keranjang sayur di dekat bak cuci, tepat di sebelah Yuuta. Utahime kemudian mengintip pada rol bambu yang tengah digulung keponakan dari Gojo Satoru itu. "Bikin kimbap, ya?" Mungkin Utahime sengaja membuat Satoru kesal, karena memang tak seorang pun di rumah ini cukup berani untuk tidak menghiraukannya!
Yuuta menghela napas. "Iya, Mah. Tapi dari tadi gagal terus."
Semua ini karena pamannya, Gojo Satoru. Mengapa ia yang belum punya anak ini bersikeras agar dua keponakannya ini memanggil ia dan Utahime dengan panggilan sayang Mamah dan Papah? Iya… karena sudah ngebet punya anak, tapi nggak bisa dipaksa. Karena Utahime yang kebagian repot, sementara Gojo Satoru cuma bisa memberi sumbangan dukungan. Alasan lainnya karena mereka tinggal di masyarakat Sunda, jadi panggilan Mama dan Papa ditambah dengan akhiran -h.
Apaan sih. Satoru berkacak pinggang. Selain kupingnya panas karena tengah diperbincangkan, istri dan keponakannya begitu kompak membuatnya bak gajah di dalam rumah, namun tak seorang pun peduli padanya yang tantrum karena diabaikan.
"Hei, anak nakal! Ada dendam apa sama aku, ha??" todongnya pada Yuuta, hanya pada Yuuta, tidak berani melakukan hal yang serupa pada Utahime. Yuuta masih tidak menanggapi.
"Nasinya kurang pulen itu, Bang." Orang Sunda manggil Bang untuk laki-laki? Sudah termasuk lazim, setidaknya di kawasan Bandung coret yang panas, Bojongsoang punya. Omong-omong Utahime sudah tebal kuping mendengar rengekan Gojo dan cukup yakin "bawel" sudah terdaftar menjadi nama tengahnya pada akte lahir. Tangan Utahime mulai menyalakan keran. Suara Satoru semakin mengecil dan eksistensinya semakin kerdil jauh di belakang mereka. "Jadinya pas digulung hancur."
"Iya, ya?" Yuuta berkacak pinggang, kemudian menyeka keringat. Bergelut dengan nasi panas benar-benar bikin gerah. "Terus gimana, Mah?"
"Hmmm, sebentar." Utahime menggoyangkan keranjang berisi terong yang telah dibilas agar airnya turun, kemudian menoleh ke belakang. "Satoru, daripada ngomel gak jelas. Mending ambilin kertas handuk buat ngeringin sayuran di laci paling atas."
Yang diberi titah merajuk, menunjukkan betapa dewasanya sang kepala keluarga. "Kok gitu sih, Yang! Suara aku kan berhak didengar!"
Sungguh terlalu. Gojo Satoru tidak habis pikir.
Bagaimanapun, Satoru tetap manut (menurut) dan menyerahkan beberapa kertas handuk usai Utahime menekankan komando dengan menggelorakan tatapan penuh intimidasi. Kalau soal tegas, Satoru memang kalah berwibawa. Ia lebih ahli membuat lawan bicaranya kesal.
"Terongnya mau diapain tuh, Hime?" usai menyerah berusaha mendapat tanggapan Yuuta, Satoru penasaran melihat Utahime membagi dua sama banyak untuk terong yang disimpan dan terong yang dikumpulkan di talenan.
Utahime tidak senang begitu mengendus arah pembicaraan mereka dengan melihat alis Satoru yang berjingkat-jingkat, tapi ia tidak pernah kehabisan akal untuk jadi istri yang jutek. Tanpa menoleh pun, nada jahil yang bermain usil di ujung suaranya sudah cukup menyalakan respon ketus Utahime. "Dipotong." Kemudian Utahime mengambil pisau. Menghujam irisan tajam hingga terong tercincang diakhiri ketukan keras. “Digoreng,” minyak di wajan panas menggelegak bersama buih. Sengaja Utahime panaskan saat itu juga meski terong itu baru akan dimasak siang nanti. "Terus dikasih cabe yang banyak."
Utahime nyaris tidak pernah bercanda dengan wajah bercanda, setidaknya kepada Satoru. Meski sudah bisa membedakannya, Satoru masih merespon dengan bagus seakan Utahime benar-benar membuatnya takut. Ia dengan tahu diri merapatkan mulut dan merapatkan diri ke kulkas, yang berada di belakang Utahime dan Yuuta.
"Coba nasinya dikukus lagi," Utahime kembali beralih pada Yuuta usai Satoru yang bermain pundung (ngambek) meninggalkan dapur dengan turut memboyong seember kecil es krim sebagai pelipur lara. "Tapi ditambahin tepung kanji (aci!) supaya lebih kenyal," imbuh Utahime kemudian.
"Ah, iya!" Yuuta menepuk tangan. Lalu ketika ia melirik jam, bahunya kembali turun, meluruhkan semangatnya. "Tapi bakal telat, deng."
Utahime mengerling. Tuk, tuk. Tangannya masih dengan telaten mengiris terong ungu. "Buat Maki, ya?"
Memang bukan rahasia. Yuuta tidak pernah menutup-nutupi. Ia memang apa adanya. Setidaknya, perasaan Yuuta untuk Maki tidak bisa disembunyikan, seakan Yuuta mengenakan perasaan itu di balik lengan baju yang selalu ia gulung. Selalu senang bukan main setiap Maki yang menggantikan Toji mengantarkan galon ke rumah. Selalu mengangkat galon dengan tangguh meski luar biasa ngos-ngosan setelah motor Maki meninggalkan halaman (padahal jujur saja, Maki lebih kuat untuk mengangkut galon tapi Yuuta selalu berusaha menunjukkan kalau ia bisa diandalkan Maki). Selalu memesan apapun yang Maki jajakan di WhatsApp story, termasuk pakan burung yang tidak dibutuhkan sama sekali karena keluarga Gojo tidak punya burung. Eh. Tidak memelihara burung.
Cinta memang selucu itu!
Pokoknya, sebelum Maki masuk kelas pagi, Yuuta bakal mengantarkan kimbap paling enak di dunia!
"Hehe." Yuuta cuma bisa tertawa tengil. Dalam sedetik yang kilat, terkesiap. Detik jam terus maju! Ini bukan saatnya terkekeh seperti itu!
"Emang kenapa harus pagi-pagi sih, Bang?" Utahime tertawa kecil memperhatikan Yuuta yang terlalu panik sampai-sampai menyenggol lembar rumput laut hingga jatuh berserakan. "Kan bisa bawain buat makan siang?"
Oh.
Yuuta bagai menatap dewi cinta, yang mengulurkan tangan bersedia membantunya memenangkan hati seorang Maki Zen'in. Mamah Utahime memanglah keren! Terlihat begitu bercahaya dan penuh kasih! Inilah pengalaman spiritual yang luar biasa!
"Mamah! Makasih banget!!"
Utahime tersenyum berseri-seri. Sementara Yuuta mengumpulkan seperangkat alat memasak: panci, saringan, dan tak lupa mengeluarkan toples tepung kanji, Utahime membuka kulkas untuk menyimpan sisa terong. Kejelian mata seorang istri dan ibu tidak bisa dibohongi! Meski kulkas mereka penuh dengan berbagai macam makanan, Utahime tentu menyadari es krim mereka lenyap digondol maling!
Utahime melesat meninggalkan dapur. Suaranya menghilang ke balik lorong. "Satoru! Bisa-bisanya makan es krim sebelum sarapan! Maling!"
Sayup-sayup Satoru mengangkat protes di meja makan. "Hime! Kan aku yang beli es krimnya, kok dibilang maling sih!"
"Gigimu itu, lho ! Kalau bolong terus sakit lagi aku yang susah tidur karena kamu rewel terus!"
"Kalo gitu kenapa aku dipanggil maling???"
Sayup-sayup yang membuat tetangga bisa mengira bahwa Utahime tengah memarahi anak umur 5 tahun, bukan bapak-bapak tinggi menjulang yang suka mengirim pesan berantai tidak penting di WhatsApp, suami yang dicintainya dengan ketus.
Semenjak Yuuta dan Toge dititipkan untuk tinggal bersama Satoru dan Utahime terhitung mulai dari bangku SMA, Yuuta telah mampu membiasakan diri dengan keributan paman dan bibinya. Apa boleh buat. Mamah Utahime mungkin galak, tapi ia punya cara sendiri untuk memperhatikan Papah Satoru. Mungkin karena kemiripan watak Utahime dengan Maki (yang sama-sama ketus) Yuuta diam-diam berharap Maki memperlakukannya sebagaimana Utahime memperlakukan Satoru. Mungkin ketusnya Maki terhadapnya agak sedikit berbeda. Mungkin Maki menyelipkan secuil perhatian yang tidak Yuuta sangka. Mungkin. Munggah. Mudah-mudahan.
Meski Maki kerap bicara begitu tajam, Yuuta ingin percaya bahwa itulah cara Maki menunjukkan bahwa Maki nyaman untuk berwatak sejujur-jujurnya pada Yuuta. Ia malah lebih sedih apabila Maki mengabaikannya dan tidak menegurnya barang sekali dalam sehari saja. Tolong jangan sebut masokis. Karena ia adalah Mas Yuuta.
"Masak apa sih, Bang?" Kali ini Toge yang masuk, rambut bangun tidur seperti sarang burung berjalan.
"Kimbap," Sahut Yuuta bangga seraya menutup panci. Sekarang tinggal tunggu air kukusan mendidih. "Nasinya lagi dikukus ulang karena kurang pulen."
"Pasti buat Maki," Anak laki-laki itu menyikut-nyikut Yuuta sampai yang disikut menjauh dengan senyum konyol. "Anak zaman sekarang bucinnya minta ampun."
"Tai, lu cuma lahir Oktober, ga lama sampe pergantian tahun yak! Jangan sok senior!"
"Galak bener." Toge mencibir. Keponakan dari keluarga Utahime itu kemudian melenggang meninggalkan dapur dengan segelas penuh susu. "Padahal gua mau ngasih tau Neng Maki udah dateng buat nganter galon."
Yuuta langsung mematikan kompor dan melesat ke pintu depan. Kalian akan heran karena dalam kedipan mata, Yuuta berhasil tiba di pintu depan tanpa membenturkan ibu jari ke kaki meja (total meja yang dilalui: meja makan, meja televisi, dan meja kopi untuk menjamu tamu). Pokoknya dalam mode autopilot ia melaju ke pintu depan.
Lolos!
"Maki!" Yuuta mengeringkan tangan ke celemeknya. Matanya menyipit menyesuaikan semburan cahaya matahari pagi. "Nggak mampir dulu? Udah sarapan?"
Maki menoleh seraya mengeluarkan motor dari parkiran. "Ngga usah, gue udah makan Yut."
"Eh, tunggu!" Yuuta berlari menuruni tangga dan menahan motor Maki. Kalau bisa biar motor Maki menginap saja di garasi mereka, tapi tentu saja Yuuta tidak memiliki nyali untuk berkata begitu. Tidak mungkin ia mencoreng reputasinya sebagai lelaki baik-baik! Kalau soal Maki, motor bebek Supra-nya pun layak dihormati. "Ntar makan siang sama aku ya, di kampus!"
Maki menelengkan kepala ber-helm-nya. Seperti biasa, ekor dari rambutnya yang diikat terjuntai di punggung, memerah di ujungnya karena biasa terpapar matahari. "Kenapa? Mau traktir?"
Maki berprinsip, "Menolak rezeki itu tidak baik!" Terima kasih karena Toji telah mengajarkan adik-adik sepupunya untuk tidak gengsi menerima kerendahan hati orang, meski yang berhasil mengamalkan ajaran itu hanya Maki. Mai tetap pada pegangan teguh untuk tidak menerima pemberian jika tidak bisa memberi yang setimpal. Diam-diam Maki juga setuju dengan saudari kembarnya itu (sebuah kejadian langka! Maki tidak akan mengakuinya!).
"Itu juga boleh," Yuuta berseri-seri. "Tapi gue ada kejutan lain. Liat aja nanti."
Maki menahan geli melihat mata Yuuta yang sudah menyipit diterjang matahari, kini nyaris hilang karena tersenyum berseri-seri terlalu lebar. Sepertinya cuma Yuuta seorang yang Maki tahu menyiapkan kejutan dan memberitahunya . "Iya, dah, iya. Terserah lu aja."
" Suwit-suwiiiiw !" Satoru bersiul dari teras. Terdapat benjolan di dahinya. Jangan tanya kenapa . Sejak kapan pamannya itu ada di sana, Yuuta tidak tahu. Yang pasti Satoru kemudian berdeham, memberikan narasi palsu untuk perpisahan Yuuta dan Maki pagi ini. " Mamah berangkat ya Paaah! Do'ain nafkah lancar! / Iya Maah, hati-hati di jalan! "
Kebetulan Yuuta saat itu mengenakan celemek. Maki melenggang pergi dengan motornya bersamaan dengan waktu untuk mengantar pesanan galon lainnya. Melanggar heteronormatif: Yuuta memerankan suami rumahan yang telaten mengurus rumah!
Pokoknya Satoru kemudian terbahak-bahak sendiri, berbicara dari pengalaman: "Abaaang! Cinta tak selamanya indah, Baaang!"
Memang tai.
Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa Yuuta, yang sebulan lebih muda dari Toge, justru yang memperoleh gelar Abang. Jauh di luar kota, Yuuta memiliki seorang adik perempuan yang saat ini duduk di tahun pertama bangku SMA. Dari situ jelas, Yuuta adalah anak sulung,sekaligus cucu pertama di keluarganya (yang masih kerabat Gojo Satoru, meski memiliki marga yang berbeda, yaitu Okkotsu. Orangtua Yuuta adalah sepupu dari Gojo Satoru). Karena Satoru dan Utahime sendiri belum punya anak (namun dengan senang hati merawat kerabat mereka), rumah mereka terbuka bagi Yuuta dan Toge yang ingin melanjutkan sekolah di kota ini. Toge sendiri seorang anak tunggal, cucu paling bungsu dari keluarga yang masih berkerabat dengan Utahime (sama seperti Yuuta yang memiliki marga berbeda, Toge adalah anak semata wayang pasangan Inumaki). Oleh karena itu Toge menolak dipanggil abang (karena tidak terbiasa), apalagi dedek. Kadang-kadang Satoru atau Yuuta memanggilnya begitu dan mendapat hadiah tendangan betis. Dengan demikian, mereka hidup sebagai sesama keponakan yang numpang hidup di kapal Gojohime (anjay!). Bayaran? Tidak ada! Mereka hanya harus menghela napas sabar setiap kelakuan tidak terduga paman dan bibi ini menjadi bagian masa muda mereka. Jauh lebih hemat dan efisien daripada bayar kos dan mencari makan sendiri!
Yuuta meringis, menoleh pada motor Maki yang sudah melaju jauh menyusuri komplek. Meski Yuuta tidak menyembunyikannya, tapi ia menyiapkan momen tersendiri untuk menyatakan perasaannya! Mari panjatkan do'a semoga Maki tidak dengar! Aamiin!
Baru ketika Yuuta kembali menaiki tangga menuju pintu depan, Utahime sudah muncul dan meninggalkan bekas benjolan kedua di kening suaminya.
"Berisik! Masih pagi juga. Mau, diprotes tetangga?"
Seperti yang disarankan Utahime, (namanya juga Gojo "tidak pernah salah" Utahime!) baru sekedar diaduk saja, Yuuta bisa tahu nasi itu sekarang jauh lebih padat dan kenyal sehingga lebih enak untuk digulung. Utahime juga menyarankan supaya nasi dibeberkan dan ditekan hingga tipis, karena kalau kebanyakan bisa buyar saat digulung. Yuuta kemudian menyendok satu centong nasi, menuang satu sendok minyak wijen, menabur sejumput garam, lalu mengaduk nasi hingga bumbu merata. Baru dicicip saja, enaknya bukan main!
Isian utama sudah beres, jadi Yuuta membuka kulkas dan membungkuk mengecek isi freezer, tapi tidak ada apa-apa di sana kecuali bunga es yang sudah menebal dan jejak ember kecil es krim yang sudah disatroni Satoru. Juga satu toples persegi yang entah apa isinya. "Yah, anjir." Yuuta berkacak pinggang melihat Toge menghabiskan stok sosis, membuang bungkus kosongnya ke tempat sampah di dekat pintu belakang. "Kenapa sosisnya dibuang???"
"Barusan mau gue goreng, ternyata udah kadaluarsa," Toge mengangkat.
Kenapa harus kadaluarsa hari ini sih anjingggg! Yuuta memaki dalam hati (agak rancu, meski ada Maki di hati, bukan berarti Yuuta sering memaki-maki . Hanya kadang-kadang saja). Seperti saat ini, Yuuta yang baik tidak sampai hati untuk mengeluarkan tantrum. Ia hanya bisa bertanya resah, "Terus kimbap gue diisi apa anjir? Bensin?"
"Bensin emang lu mau ngasih Maki motor?" Toge terdiam ketika candaannya tidak digubris. Lantas ia menunjuk telur dadar serta wortel dan timun rebus yang sudah diiris memanjang di talenan, "Kan udah ada telur sama sayurannya?"
Nggak bisa, kalo nggak ada sosis kayaknya kurang mantap!
Yuuta berdiri kuyu dengan hanya keputusasaan menopang bobotnya. “Tapi kemarin malem Papah goreng lima, kayaknya baik-baik aja tuh?” Masih haha-hihi, bahkan masih sempat mempermalukan Yuuta di depan rumput jepang dan bunga-bunga yang Utahime tanam di halaman depan rumah mereka.
“Lu nggak percaya?” Toge berkacak pinggang. “Yaudah, pungut aja lagi! Liat tanggal di bungkusnya!”
Yuuta mengerutkan dahi, terutama karena Toge lupa memisahkan sampah plastik (anorganik) dan sampah sosis (organik) sesuai penanda yang telah dibuat Yuuta di sela waktu luangnya. Tapi itu bahan omelan untuk nanti. Ia menguatkan hati untuk memegang sampah plastik yang basah, membawanya ke dekat jendela, dan jarinya berjingkat-jngkat menyusuri permukaan, mencari cetak stensil bertuliskan angka.
“Bener kan, Bang?”
Yuuta mengeruk napas agar bisa menimbun amarahnya dalam-dalam. “Tanggal yang ini kan yang lu liat tadi?”
Yuuta menunjuk tanggal di bawah deskripsi komposisi. Toge menutup hidung sebelum mendekat dan mengangguk.
Yuuta mengembuskan napas panjang bersama amarah yang sudah berhasil ia netralisir. “Toge. Ini tuh tanggal produksi. Bukan tanggal kadaluarsa.”
Lagian kenapa nggak tanya dulu, sih? Yuuta melepas celemek dengan pasrah. Mau tidak mau sekarang ia perlu mengambil kunci motor.
"Yaudah aku beli lagi aja," Yuuta yang pundung menggantung celemek di kastok, berjalan sangat gontai. Nggak apa-apa. Demi Maki, semuanya layak dimotivasi. “Pisahin sampah plastik ke wadah khusus sampah anorganik!”
Toge mengerjap. Penebusan terakhir yang bisa ia lakukan adalah membuang sampah plastik ke tempat yang seharusnya.
“Loh? Bang? Mau ke mana?" Utahime berpapasan dengan Yuuta yang baru saja meninggalkan dapur dan memasuki meja makan, tepat ketika Satoru kembali dengan sarapan nasi uduk mereka. Diputuskan demikian karena menurut Utahime anak-anak sudah terlalu lapar untuk menunggunya selesai memasak sambal terong balado.
"Yuuta yang mulai, Mah!"
"Siapa suruh lu ngabisin sosis!" Yuuta melihat bungkus nasi uduk di meja makan, 4 porsi, lalu berpaling kepada Utahime. Sedikit mengadu nggak apa-apa lah, ya. Lagian sosisnya wangi banget! Pasti kecium sampe meja makan. "Tuh, Mah, liat! Anaknya udah goreng sosis duluan!"
"Ya 'kan laper!" Toge membela diri.
"HEUP!" Utahime menengahi, sementara Satoru asyik menonton serayal mengambil 1 dari 4 bungkus nasi uduk yang baru dibeli dari warung Mang Una, mengambil yang karetnya satu (artinya, tidak pakai sambal). Tapi sepertinya Mang Una masih mengantuk, karena Satoru tetap menemukan sambal teronggok di ujung nasinya. Diam-diam Satoru membuka nasi uduk baru, memindahkan sambalnya, dan meletakannya di meja bagian Utahime. Seenggaknya Satoru sudah berperan sebagai selayaknya suami! Menyiapkan piring sarapan untuk istrinya! "Sosis aja dibikin ribut! Sana, makan dulu! Ada nasi uduk!"
Yuuta dan Toge biasanya tidak pernah bertengkar, sebuah keistimewaan karena artinya Utahime hanya perlu mengasuh satu bayi besar (ya… tidak perlu disebut namanya). Tapi semakin lama dan semakin akrab, keduanya sudah tidak sungkan membentak satu sama lain. Akhirnya Utahime tetap diperlukan menengahi dua dewasa muda yang berseteru di bawah atap rumahmya.
Mari tinggalkan keluarga Gojo agar mereka bisa menyantap sarapan nasi uduk dengan damai dan mulai menampilkan potret sarapan pagi keluarga Zen'in.
