Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-05-19
Words:
1,700
Chapters:
1/1
Comments:
6
Kudos:
42
Bookmarks:
3
Hits:
372

Good Night

Summary:

Reo pulang dengan keadaan lelah dan mendapati kekasihnya tertidur di sofa ruang tamunya.

Notes:

Halo!
Ini merupakan karya pertamaku! Aku masih pemula, jadi mohon maklum dan maafnya jika masih banyak kesalahan di sana sini.
Selamat membaca!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Langit sudah gelap ketika pemuda bersurai ungu itu keluar dari perpustakaan kampusnya. Ia melirik arloji di pergelangan tangannya. Jarum menunjukkan sudah hampir pukul sepuluh. Keperluan untuk segera menuntaskan tugas akhir demi memenuhi tuntutan akademik dari kampusnya itulah yang membuatnya sering pulang setelah matahari terbenam akhir-akhir ini. Ya, sedikit aneh memang. Biasanya orang-orang akan lebih fokus jika mengerjakan tugas atau pekerjaan dalam keadaan tenang dan sepi, contohnya di rumah. Namun tidak bagi seorang Reo Mikage. Suasana sepi tak cocok untuknya jika ia tengah mengerjakan sesuatu. Membuatnya mengantuk. Tempat yang ramai merupakan tempat yang digemarinya untuk mengerjakan urusannya itu. Tentu yang ia cari bukanlah keramaian hiruk pikuk. Ramai, namun tak begitu ramai. Hening, namun tak begitu hening. Maka perpustakaan adalah tempat yang tepat untuknya. Suara buku yang dibalik, bunyi pena atau batang karbon yang menggores kertas, suara papan tik yang ditekan-tekan, bisik-bisik yang tak jarang terdengar, dan sebagainya, bagi Reo semua itu merupakan bunyi yang menenangkan serta membantunya untuk berfokus.

Reo meregangkan tubuhnya sejenak sembari menghirup udara malam dalam-dalam. Ia kemudian berjalan ke arah parkiran perpustakaan dimana ia meninggalkan mobilnya disana. Dibukalah pintu mobil berwarna keperakan tersebut. Pemuda itu kemudian menyalakan mesin dan mengemudikan kendaraan beroda empat itu menuju tempat tinggalnya. Jam digital di mobil sudah menunjukkan lebih dari pukul sepuluh ketika ia mulai memasuki pekarangan rumah. Ia sedikit terheran ketika melihat lampu ruang depan rumahnya masih menyala. Pemuda itu kemudian bergegas menghampiri pintu dari bangunan tersebut.

Rumah itu merupakan rumah kecil dimana ia dan kekasihnya tinggal. Ayahnya lah yang membelikan untuknya yang berkuliah di luar kota. Awalnya Reo hanya ingin dibelikan sebuah kamar apartemen biasa, namun Ayahnya itu bersikeras membelikan rumah itu untuknya. Akhirnya Reo pun tak bisa menolak, apalagi setelah sang Ayah menyuruhnya untuk mengajak kekasihnya tinggal bersama karena kampus mereka berdekatan. Ia yang paling tidak bisa menolak setelah mendengar nama kekasihnya disebut itu, maka menurut saja.

Dan kini pemuda jangkung itu dihadapkan pada seorang besurai biru malam yang ia kenal sebagai kekasihnya, terlihat meringkuk dan tertidur pulas di atas sofa beludru ruang tamunya. Melihat itu, Reo pun menghela napas. Ia mendekati sofa tempat kekasihnya berbaring dan berniat untuk memindahkan tubuh itu ke kamar. Namun, sebelum itu kekasihnya terbangun, menampakkan mata sewarna biru permata dengan ekspresi sayu.

"Reo? Baru pulang?" Kekasihnya itu bertanya sambil bangkit dari posisi meringkuknya.

"Iya. Baru saja." Reo mendekati kekasihnya dan kemudian memberikan kecupan singkat di pipinya.

"Selamat datang."

"Kamu menungguku pulang, Yoichi?"

"Huum." Pemuda yang lebih kecil itu mengangguk.

"Kenapa? Kau bisa tidur lebih dahulu jika lelah."

"Aku ingin makan malam bersama." Yoichi kemudian terlihat sadar sepenuhnya. "Ah, iya. Sekarang kau mandilah dulu. Aku akan menghangatkan makanan."

Reo menghela napas melihat kekasihnya bangkit dan lari menuju dapur. Ia kemudian menuruti perkataan Yoichi untuk mandi. Air hangat yang keluar dari pancuran sungguh membuatnya terlena. Ia bisa merasakan tubuhnya yang mulai meregang dan rileks karena terkena air hangat. Hidangan telah siap di meja makan ketika pemuda bernetra ungu itu selesai mandi. Aroma yang menguar dari makanan di meja membuatnya sadar bahwa ternyata ia lapar sedari tadi.

"Ah! Rambutmu masih basah!"

Yoichi menarik handuk di bahunya, memaksanya duduk, kemudian meremas-remas rambutnya dengan handuk itu. Reo menikmati sensasi yang terasa pijatan di kepalanya, sebelum akhirnya kekasihnya itu mengakhiri kegiatan tersebut.

"Ku keringkan seadanya dulu. Nanti ku lanjutkan. Sekarang ayo makan dahulu."

Makan malam berjalan tenang. Keduanya berbincang seperlunya. Hingga makan malam berakhir, hanya beberapa patah kata saja yang keluar dari mulut mereka berdua. Selepas hidangan mereka habis, Reo membantu dan menggantikan pasangannya itu merapikan meja makan dan dapur.

"Sudahlah, kau naiklah ke kamar dahulu. Biar aku yang mencuci piring dan merapikan yang lain." Reo bersikukuh pada ucapannya yang akhirnya dituruti oleh Yoichi.

Jam dapur menunjuk di angka sebelas ketika dirinya selesai menuntaskan pekerjaannya di dapur. Ia segera bergegas naik ke kamar yang ia dan kekasihnya tempati. Begitu pemuda ungu itu membuka pintu, terlihat sang kasih tengah duduk di pinggir tempat tidur dengan mesin pengering rambut dan handuk kering yang baru di dekatnya. Yoichi menepuk bagian tempat tidur disampingnya, mengisyaratkan agar Reo duduk di sampingnya. Ia menurut. Setelah itu Yoichi berpindah posisi dengan berdiri di hadapannya. Suara halus dari mesin pengering rambut mulai terdengar. Udara hangat yang keluar dari mesin tersebut juga pijatan-pijatan lembut mulai menggelitik kepalanya. Reo terdiam memejamkan matanya. Menikmati sentuhan-sentuhan pada kepalanya. Dalam jarak ini, ia dapat mendengar samar-samar suara detak jantung kekasihnya. Hal itu memberinya rasa nyaman. Pemuda surai ungu itu jadi sedikit kecewa ketika kekasihnya menyudahi kegiatan yang ia lakukan. Reo memasang wajah merengut. Yoichi terkekeh melihat raut manja lelaki di hadapannya itu. Ia memberikan kecupan singkat pada bibir Reo untuk sedikit menghiburnya. Tanpa bersalah, ia lalu berbalik untuk mengembalikan barang di tangannya ke tempat semula.

"Sebelum tidur jangan lupa sikat gigi." Pesannya pada pemuda jangkung yang masih terdiam di pinggir tempat tidur, tampak masih mencerna perlakuan yang ia dapatkan dari pemuda rema kelam itu.

"ARGH YOICHI..."

Reo terkejut akan kecupan yang diberikan oleh kekasihnya. Itu bukan hal yang jarang mereka lakukan, namun pasalnya, kekasihnya itu jarang sekali mengambil inisiatif. Terlebih barusan Yoichi menciumnya tanpa aba-aba.

Plak!

Reo menampar pipinya sendiri untuk menyadarkan dirinya. Ia kemudian bangkit dari kasurnya dan menuruti pesan dari kekasihnya untuk menyikat gigi.

Ketika kembali ke kamarnya, terlihat Yoichi tengah duduk bersandar pada kepala dipan tempat tidur. Matanya terfokus pada televisi yang menyala di seberang. Reo pun segera bergabung dengan kekasihnya itu. Baru saja ia duduk dengan tenang, tiba-tiba Yoichi membuat pergerakan. Pemuda kecil itu mendudukkan dirinya di antara kaki Reo dengan kedua tangannya melingkari pinggang yang lebih besar. Reo sedikit terkejut dengan tingkah pacarnya ini, namun ia memutuskan untuk membalas pelukannya.

"Yoichi? Kau tak apa? Hei, kau ada masalah?" Pemuda yang tengah meringkuk dalam rengkuhannya itu menggeleng.

"Aku hanya sedih kau akhir-akhir ini jarang di rumah." Pacar kecilnya mencicit pelan.

Reo terkekeh. "Maaf. Tapi aku ingin segera menyelesaikan tugas akhirku. Tahan sebentar, ya."

Pelukan di pinggangnya mengerat. "Lagipula aku melakukan ini demi kita. Kau tahu, kan, Ayah tak akan membiarkanku menikahimu sebelum aku mendapatkan gelar sarjanaku. Jadi, tunggu sebentar lagi, ya, sayang. Setelah ini aku tak akan pergi dari sisimu lagi."

Reo mengecup puncak kepala si surai biru malam. Ia melihat bagaimana telinga pasangannya itu memerah. Si kecil itu kemudian mengangguk pelan sebelum kemudian membalikkan badannya untuk menghadap televisi namun tetap pada posisi di himpit kaki Reo. Mereka berdua mempertahankan posisi tersebut untuk sementara waktu. Tangan Yoichi menepuk-nepuk pergelangan tangan yang melingkari pinggangnya. Keduanya berbincang-bincang santai mengenai hari mereka. Pemuda bersurai ungu itu tersenyum kecil melihat mata berbinar milik kekasihnya ketika menceritakan hal-hal menarik yang ditemuinya hari ini. Reo hanya menyimak sambil sesekali menimpali. Ia merasa damai saat ini. Posisi mereka, suara kekasihnya yang tak berhenti berbicara, aroma vanilla yang menguar dari rambut pemuda di rengkuhannya ini, detak jantung mereka yang berirama setiap degupannya. Reo tak ingin ini berakhir.

Namun sayang, rasa kantuk mulai menyerangnya. Ia tidak bisa menahan diri untuk menguap yang kemudian menular pada kekasihnya. Bola mata ungunya melirik pada jam yang terpatri di dinding. Sudah lewat tengah malam. Televisi yang tadinya menayangkan sebuah drama opera sabun kini telah berganti menayangkan berita. Yoichi terlihat meraih remot untuk mematikan benda elektronik persegi panjang itu. Ia kemudian mengubah posisinya menjadi berbaring di sebelah pasangannya. Reo ikut membaringkan dirinya. Pemuda itu mematikan penerangan kamarnya dan menyisakan lampu tidur remang yang berdiri di samping nakas. Ia menarik selimut untuk menyelimuti tubuh mereka.

Keduanya tak langsung tidur. Posisi mereka yang berhadapan membuat mereka beradu pandangan satu sama lain. Namun kemudian itu terputus ketika Reo menyaksikan kekasihnya memangkas jarak di antara mereka. Sesuatu yang kenyal menabrak bibirnya. Reo terhenyak. Bibir kekasihnya kini menempel pada miliknya. Tak hanya kecupan kecil, gigi putih bersih milik Yoichi kini menggigit bibirnya. Reo akhirnya membalas ciuman itu. Ia balas menggigit bibir milik kekasihnya. Lidahnya juga tak hanya berdiam diri, menari-nari mencoba membuka bibir pasangannya. Kini lidah keduanya berpagutan, mengeluarkan suara vulgar yang terlepas dari mulut keduanya. Yoichi melenguh pelan. Membuat Reo menarik bibirnya. Keduanya terengah-engah setelah ciuman panas tersebut. Reo memandangi wajah kekasihnya yang merona dengan rambut di wajah acak-acakan, mata sayu setengah terbuka, bibir bengkak dan merah ditambah dengan saliva yang menetes dari sudutnya. Pemuda itu hampir gila melihatnya. Ia mendekatkan wajahnya pada Yoichi. Ia menjilat saliva yang menetes dari bibir pemuda itu.

"Manis."

"Jorok!" Yoichi memukul pelan lengannya.

Reo mengabaikannya dan melontarkan pertanyaan. "Mau 'melakukannya'?"

Pertanyaan itu langsung dibalas gelengan pelan. "Aku lelah, dan kamu juga begitu. Lain kali saja, ya."

Mendengar jawaban itu, Reo mengerutkan wajahnya berpura-pura kecewa.

"Sudah, sudah. Ayo tidur!" Pemuda bernetra ungu itu hanya mengangguk pasrah.

Sekali lagi ia memberikan kecupan ringan pada bibir kekasihnya itu. Yoichi tersenyum kecil karenanya.

"Good night, I love you." Ucap pemuda kecil itu sebelum perlahan menutup matanya.

Reo tak langsung membalas selamat malam dari kekasihnya itu. Alih-alih, ia juga tak langsung memejamkan matanya. Dirinya hanya terdiam, mengamati figur wajah sang kekasih yang tertidur di hadapannya.

Cantik. Cantik sekali. Yoichi-nya sangatlah cantik.

Pikirannya tiba-tiba mengingat bagaimana hubungannya dengan Yoichi Isagi yang sudah berjalan hampir lima tahun, tetapi, kupu-kupu masih saja berterbangan tiap kali ia bersama dengan Yoichi-nya. Ketika dirinya mendengarkan bagaimana Yoichi bersemangat dalam menceritakan sesuatu yang menarik atau kegemarannya. Atau saat si manik biru itu merawat dan perhatian akan hal-hal kecil seperti menunggu kepulangannya, menyiapkan makan, mengeringkan rambutnya, dan lain-lain. Juga ketika ada kalanya Yoichi tiba-tiba mengambil inisiatif dengan sendirinya. Tentunya pula di waktu aktivitas seksual mereka baik hanya sebatas ciuman panas seperti tadi ataupun yang lebih ‘jauh’ lagi. Bahkan hal sekecil seperti memandangi wajah kekasihnya ini ketika tidur juga mampu membebaskan ribuan kepak kupu-kupu di dalam perutnya.

Reo menjadi tak sabar menunggu esok pagi. Dimana ia bangun hanya untuk menyaksikan kekasihnya yang masih tertidur pulas atau sudah sibuk di dapur. Bagaimana ia menikmati segala perhatian yang akan ia dapat dari kekasihnya pada hari itu. Lalu apa saja yang akan diceritakan kekasihnya padanya. Kemudian pula bagaimana ia akan mencintai kekasihnya itu lagi dan lagi. Esoknya lagi. Esoknya esoknya lagi. Dan esoknya esoknya esoknya lagi. Ya, ia sangat tak sabar.

Namun untuk saat ini, ia ingin menikmati momen di hadapannya terlebih dahulu. Dimana Yoichi-nya terlelap dengan wajah damai dan napas yang teratur. 

Reo merengkuh pinggang kekasihnya. Lalu membawa kepala si surai biru malam ke dadanya dan mendaratkan kecupan di pucuk kepalanya. Perlahan ia memejamkan mata. Terlelap dengan sang kekasih erat di pelukannya.

"Good night, I love you too."

 

 

 

Notes:

Terima kasih sudah menyempatkan untuk embaca karya tidak jelas ini!
Sampai jumpa di karya tidak jelas yang selanjutnya!