Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-05-20
Words:
2,112
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
5
Hits:
181

Holding Hands

Summary:

Sunyinya malam membuatku berpikir, “Tidak apa-apa, saat ini aku yang menggenggam tangannya, bukan?” demi meruntuhkan pilu bersemayam di dada.

Kedatangan Itachi malam itu membuatku menyadari suatu hal.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

 

Naruto © Masashi Kishimoto

Aileen Haynsworth tidak mengambil keuntungan finansial atas fanfiksi ini.

Happy Reading!

 

Bumi menggelap saat malam mulai larut, beserta hujan yang turut serta membasahi bumi, membuat udara dingin pun naik ke permukaan. Aku sedikit memeluk lengan, sembari tergesa-gesa menutup klinik kecil yang terletak di kota kecil antah berantah tidak jauh dari Negara Api ini, ingin segera menghangatkan diri. Tampaknya langkah kakiku cukup kikuk akibat rasa lelah mendera, mengingat pasien yang datang sejak pagi tadi cukup banyak. Hampir saja aku jatuh terjungkal dan membuat kekacauan di klinikku, jika tidak ada sepasang tangan yang menangkap tubuhku.

“Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat,” ujar suara maskulin, pemilik sepasang tangan yang merengkuhku, sembari membantu berdiri tegap seperti semula.

Aku tersenyum tipis saat menatap sosok pria bermata segelap malam di hadapanku. Ah, saat ini dewi batinku tengah berkhianat, rasanya jantungku ingin lompat hanya dengan menghirup aroma maskulin serta mendengar suara bariton milik pria di depanku; Uchiha Itachi.

“Itachi.” Namanya terdengar seperti sesuatu yang ‘’tepat’, sesuatu yang ‘benar’, ketika terlontar dari bibirku.

Cukup dengan rasa mabuk cinta akibat kedatangan seorang Uchiha Itachi, logika membuatku kembali ke realita, pandangan mataku beralih ke sekeliling klinik. Dahiku berkerut, ia biasanya ditemani oleh partner kerjanya jika hanya untuk mengambil obat.

“Kau datang sendiri? Di mana Kisame-san?” tanyaku, sembari memerhatikan pria itu melepas jubah luaran akatsuki-nya yang sedikit basah

Pria yang pada dasarnya irit bicara itu hanya menjawab dengan gelengan kepala, aku mengambil kesimpulan bahwa ia ingin aku memeriksa kondisinya dan tidak ingin orang lain mengetahuinya. Lantas, aku pun menarik lengannya, membantunya berbaring di ranjang agar memudahkan proses pemeriksaan. Aku menghela napas, berusaha untuk fokus kepada chakra di telapak tangan, yang kemudian hanya dibuat kesal karena kondisi Itachi tidak membaik.

Aku terdiam sejenak, merasa kemampuanku tidak cukup untuk membuat Itachi, pria pemilik hatiku, sembuh dari penyakitnya. Yang bisa kulakukan hanyalah hal-hal kecil seperti ini; memeriksa aliran chakra-nya, membuatkan obat-obatan herbal, atau membantunya beristirahat sejenak saja. Itachi sepertinya memahami diriku yang tiba-tiba terdiam setelah memeriksanya, seperti bisa menebak hal yang terbersit di kepalaku saat ini. Ia bangun dari posisinya semula, lantas duduk di pinggir ranjang sembari menatap wajahku.

“[Name]?” tanyanya, kemudian ia meraih tubuhku, meletakkan tangannya di kedua lenganku.

Tenggorokanku terasa sakit saat ini, rasanya aku tidak hanya ingin terus-menerus memberi kabar buruk padanya.

“Sepertinya, Godaime-sama bisa membantumu, Itachi. Aku tidak—”

Ia tiba-tiba menyentuh pipiku. Ibu jarinya yang terasa dingin mengusap air mata yang tanpa terasa meninggalkan mataku.

“Aku hanya percaya padamu, [Name].” Ia berujar sembari menatap mataku.

Pernyataannya membuatku merasa bodoh, tentunya seorang kriminal sepertinya tidak bisa tiba-tiba pulang ke desa, meminta pengampunan, lalu minta disembuhkan oleh seorang kepala desa, bukan? Fakta membanjiri kepalaku, rasanya hatiku ikut sakit mengetahui kondisinya saat ini. Apalagi dengan mengetahui cerita Itachi yang begitu mencintai Konoha. Sedangkan aku adalah seorang yang saat ini termasuk berkhianat kepada desa, membantu menyembuhkan banyak shinobi yang bahkan berniat mencelakakan Konoha, memiliki rasa cinta kepada salah satu anggota organisasi paling berbahaya di dunia Shinobi saat ini, dengan dalih informasi.

Aku menggigit bibir bawahku, kembali mencoba fokus kepada chakra di telapak tangan, yang kali ini kupusatkan ke kepala Itachi. Aliran chakra di matanya sangat kacau, mungkin ia berlebihan menggunakan sharingan beberapa waktu belakangan.

“Itachi …” Aku mendesah pelan, muncul rasa kesal di dada akibat ia tidak mendengarkan perkataanku terakhir kali kami bertemu, aku sudah mengingatkan ia untuk tidak berlebihan menggunakan dojutsu miliknya.

Sedangkan pria yang membuatku kesal itu tersenyum kecil. Ia selalu bisa membacaku seperti buku, entah sejak kapan ia begitu.

“Akhir-akhir ini, Ketua meminta kami memburu Jinchuriki,” jelasnya singkat.

Yah, hal itu sudah menjelaskan kacaunya kondisi medis ia saat ini. Bagaimana tidak? Jinchuriki memiliki chakra yang besar jumlahnya, juga kemampuannya sebagai shinobi pastinya juga hebat. Itachi pasti juga sering menggunakan sharingan-nya, seperti untuk mendapatkan informasi atau proses penangkapan Jinchuriki itu sendiri.

Ia tiba-tiba bertanya di tengah proses aku membereskan kekacauan di aliran chakra matanya, “Kau terlihat lelah tadi, kau tidak apa-apa?”

Aku tertawa kecil. “Aku tidak apa-apa. Saat ini peranku mayoritas menjadi ninja medis, sudah kewajiban memiliki peran tersebut, bukan?” jawabku. “Jika kau bertanya, aku cukup mendapatkan informasi yang penting.”

Chakra di tanganku meredup saat proses pemulihan selesai, lantas kakiku melangkah menjauh darinya dan beranjak ke dapur, guna membuatkan minuman herbal yang baik untuk kesehatan Itachi, juga membantunya beristirahat dengan baik.

Itachi mengikuti ke mana aku pergi, kemudian ia berdiri di samping sembari memerhatikan gerak-gerikku. “Apakah informasi itu dariku juga?” tanyanya, seperti sedang bergurau, tapi mengingat ia seorang Uchiha … intonasi dalam perkataannya terdengar cukup serius.

“Hm … mungkin?” balasku jenaka sembari terkekeh pelan. “Sepertinya aku harus berhati-hati, karena kau mengetahuinya sekarang,” lanjutku.

Ia tersenyum dan melanjutkan pertanyaannya. “Apakah mereka yang kau korek informasinya itu juga kau perlakukan seperti ini? Seperti yang kau lakukan padaku, [Name]?”

Darahku sedikit berdesir saat mendengarnya mengucapkan namaku. Kali ini, aku menghentikan segala hal yang tengah kulakukan. Tubuhku berhadapan dengannya, pandangan mata kami yang saling bertemu. Aku mengulas senyum, berharap ia bisa membaca arti pandanganku kepadanya seperti ia selalu bisa membaca gerak-gerikku; bahwa aku mencintainya, bahwa ia bisa mempercayaiku seperti perkataannya tadi, bahwa aku juga merasakan rasa sakit akibat sakit yang ia derita.

“Tidak. Hanya kau yang kuperlakukan seperti ini, Itachi,” jawabku.

Aku tidak yakin dapat menyembunyikan rona merah yang menjalar di wajah saat ini.

 

***

 

Suasana mulai sunyi setelah teh herbal milik Itachi tandas diminumnya. Hanya suara hujan di luar yang terdengar cukup deras menemani heningnya kami. Itachi dan aku tenggelam dengan pikiran masing-masing, walau duduk berhadapan di meja kecil di ruang tamuku, kami saling diam. Aku sudah memahami bahwasanya Itachi adalah seorang pemikir, ia senang sekali berdiam diri dan memikirkan banyak hal, baik itu masa lalunya yang kelam atau rencana masa depannya yang … menurutku kejam untuk dirinya sendiri. Mencintai seorang Uchiha Itachi adalah hal yang berat, harus kuakui, bahkan memikirkannya saat tengah seorang diri bisa saja membuatku menangis semalaman. Itachi adalah pria misterius yang menyembunyikan banyak hal, menyembunyikan perasaan sesungguhnya, dan berlaku seolah-olah seperti citra yang ia tunjukkan pada dunia shinobi. Orang-orang hanya tahu bahwa Itachi adalah seorang penjahat, seorang berdarah dingin yang menghabisi seluruh anggota klannya, seorang anggota geng kriminal Akatsuki. Orang-orang tidak tahu bahwasanya—

“[Name],” panggil Itachi.

Hal itu sontak membuyarkan lamunanku. Aku menatapnya yang kini sedang menatapku teduh, sedikit tersenyum getir. Ah, aku akan membenci hal yang akan ia ucapkan detik berikutnya.

“Berapa lama lagi? Kau tahu, kondisiku ….” Ia berkata dengan lirih, seolah-olah tahu jika perkataannya menyakitiku, benarkah ia tahu?

Tenggorokanku terasa tercekat, rasanya aku ingin menangis, aku mulai kesulitan untuk membuka suara. Kupalingkan wajahku, menatap hujan dari jendela rasanya lebih menarik untuk saat ini, ketimbang menatap Itachi dengan pandangan sendunya dan menangis seperti gadis cengeng.

“… Aku akan berusaha. Dalam waktu dekat, aku akan kembali ke desa untuk mendapatkan obat-obatan, atau mungkin aku bisa bertanya—”

“[Name].” Itachi seperti memperingatkanku, ia tidak ingin orang lain mendengar perihal kondisinya. Cukup aku, Kisame-san, atau mungkin ada orang lain di Akatsuki yang mengetahuinya. “Setidaknya sampai Sasuke menghukumku.”

—bahwasanya Itachi adalah sosok penyayang. Ia adalah seorang kakak yang begitu mencintai adiknya, juga sosok shinobi pelindung desa yang begitu mencintai desanya. Bahkan sampai saat ini, ia masih melindungi desa walaupun jauh darinya. Ia tidak ingin orang-orang di desa mengetahui hal yang ia lalui, bahkan umurnya masih belasan tahun saat itu.

“Baiklah,” sahutku, kali ini dengan menatap kedua mata hitam jelaganya. Ia tidak ingin jawaban lain saat ini, itu yang kurasakan. Ia ingin kepastian dari jawabanku. Selama ini ia selalu berusaha menjaga agar jangan sampai nyawanya direnggut oleh penyakitnya, ia hanya ingin tewas ditangan adiknya, dihukum oleh sesama Uchiha.

Aku beranjak dari duduk, mengambil cangkir teh herbal milik Itachi dan membawanya ke wastafel di dapur. Aku menghela napas, terlalu lelah untuk membereskan sisa makan malamku sebelum Itachi datang, cangkir, dan peralatan memasak yang kugunakan. Aku pun kembali ke ruang tamu, menemui Itachi kembali. Masa bodoh dengan dapurku yang berantakan.

“Itachi, kau sebaiknya menginap. Kusiapkan futon dulu di kamar kosong, kau pastinya tidak mau tidur di ranjang klinik, bukan?” ujarku, berusaha melupakan rasa sedih akibat pembicaraan tidak lebih dari lima menit yang lalu itu dengan nada sedikit bergurau.

Pria berdarah Uchiha itu mengulas senyum tipis. “Baiklah.”

 

***

 

Aku tidak tahu waktu saat ini. Yang pasti, pagi hari belum tiba, sebab aku belum melihat cahaya fajar dari balik tirai jendela. Hujan di luar sepertinya telah mereda, hanya meninggalkan suhu permukaan bumi yang dingin saat ini. Aku sedikit mengeratkan selimut, walau sedikit kesulitan sebab sebelah tanganku saat ini tengah menggenggam tangan Uchiha Itachi. Aku memastikan ia tidak terbangun karena gerakanku, kuperhatikan wajah Itachi yang tengah tertidur lelap dengan dada yang bergerak naik turun. Deru napasnya terdengar teratur, setidaknya ia tidak terbangun sebab batuk-batuk seperti beberapa waktu belakangan, aku pun lega.

Setelah mengobrol singkat sembari meminum teh herbal, Itachi memintaku menemaninya. Ia mungkin tahu, terkadang aku merasa menyesal tidak terlalu banyak memiliki waktu dengannya, sebab ia selalu pergi tiba-tiba tanpa pesan atau apapun di pagi hari. Hal pertama yang kulakukan setelah hening saat kami berbaring berdekatan dalam satu futon yang cukup besar, tidak terlalu berada dalam jarak yang intim, adalah bertanya mengenai cinta pertama pria Uchiha itu. Aku merutuki kebodohan diriku sendiri, sudah pasti aku akan merasa rendah diri, bahkan aku tidak tahu saat ini hubunganku dengan Itachi jika dijelaskan. Kekasih? Bukan. Teman? Interaksi di antara kami terasa lebih mendebarkan jika dibilang teman. Ia tidak pernah mengatakan apapun perihal perasaannya padaku, begitupun aku yang tidak berani mengutarakan perasaanku padanya. Lagipula, Itachi tidak memiliki waktu untuk semua ini, keberadaanku tampaknya seperti hanya akan mengganggunya.

Kenapa kau tiba-tiba bertanya soal itu?” tanyanya, sembari memiringkan badannya dan menatapku cukup intens.

Tatapannya cukup membuatku salah tingkah. “Uh, hanya penasaran. Kudengar, sewaktu di Anbu saja kau sering memerhatikan Izumi-san.”

Aku menatap kembali wajah Itachi yang tengah larut dalam alam mimpi, rasa getir di dadaku kembali datang sebab mengingat pembicaraan tadi. Sepertinya banyak orang yang tahu, perihal kedekatan Itachi dan Uchiha Izumi. Aku pun sempat iri, dulunya, kepada temanku itu. Sudah satu klan dengan Itachi, dekat dengannya pula.

Pandangan Itachi menjadi sendu. Aku menangkap arti dari pandangannya itu; ia tengah rindu. Tidak dapat kubayangkan, tangan Itachi membunuh orang yang dikasihinya sendiri.

“Jadi kau tahu,” sahutnya.

Aku sedikit tertawa salah tingkah. “Aku cukup akrab dengan Izumi-san di akademi. Ia seorang yang baik hati, ah, periang juga.”

Saat melihat Itachi yang sedang tersenyum, seolah mengingat masa lalu, dadaku terasa seperti tertusuk.

“Hanya dengan memastikan ia baik-baik saja, aku sudah senang.” Itachi berkata tentang orang lain seperti tengah mendamba, tetapi ia menatapku sembari tersenyum dan memainkan anak rambutku. Gesturnya sangat manis, seperti berusaha memadamkan api dalam batinku.

Aku diam sejenak, sebelum melanjutkan ke pertanyaan yang cukup menyakitkan. “Apakah kau yang … kau tahu, maksudku—”

“Ya.” Itachi menjawab dengan cepat. “Aku yang mengakhiri hidupnya. Juga memberikan genjutsu Tsukuyomi padanya.”

Aku tersentak. Tidak menyangka Itachi akan menanamkan genjutsu pada orang yang ia cintai.

“Genjutsu seperti apa … uh, maksudku, kau memberikan gambaran apa?” Tampaknya aku sudah mulai kesulitan berbicara, pembicaraan yang diawali oleh kebodohan diriku sendiri membuatku sakit hati sendiri.

Itachi diam. Pandangannya terlihat menerawang. Ia menutup matanya sebentar, lantas melanjutkan.

“Soal kehidupan kami, keluarga kami.”

Tenggorokanku tercekat. Sepertinya sudah cukup aku menyakiti diri sendiri. Aku tidak bisa membayangkan pria yang aku cintai … mencintai orang lain sebegitunya, mendambanya, bahkan membayangkan pria itu memiliki keluarga dengan wanita lain, meski wanita itu temanku sendiri.

“Begitu,” jawabku singkat dengan suara yang parau.

Aku merasakan air mata mulai mengalir deras di wajahku, sepertinya hasil aku menahan rasa rendah diri, rasa sakit, egois, dan cemburu akan hal-hal yang diceritakan Itachi kala pria itu mengingat Izumi-san.

Dari semua yang pria Uchiha itu katakan membuatku sadar, sampai kapanpun Itachi tidak akan mencintaiku, tidak seperti ia mencintai Uchiha Izumi. Dengan kata lain, perasaanku yang menggebu ini tidak sama dengan Itachi. Aku tidak akan pernah bisa menggantikan sosok Uchiha Izumi.

Namun, bisakah sedikit saja aku egois?

Aku terhenyak, kembali ke realita. Iris mataku memandang tautan tangan kami, Itachi bahkan tidak melepaskannya ketika aku tiba-tiba terbawa suasana menggenggam tangannya untuk memberikan kenyamanan seusai membicarakan wanita lain yang merupakan pemilik hati pria itu. Jika dipikirkan kembali, saat ini aku yang menggenggam tangannya, bukan begitu? Meskipun jika semua hal buruk yang terjadi pada Itachi di masa lampau tidak terjadi padanya dan Itachi akan memilih Uchiha Izumi, bagaimana pun saat ini, detik ini, aku yang menggenggam tangannya. Meskipun, Itachi sampai kapanpun akan mencintai Izumi-san, saat ini aku yang menggenggam tangannya dan merawatnya. Walaupun, Uchiha Itachi sudah mempersiapkan cerita kematiannya sendiri di tangan Uchiha Sasuke, saat ini aku yang menemaninya, menggenggam tangannya, dan berusaha menguatkannya untuk menghadapi takdir kejam.

Hatiku memang sakit memikirkan semua itu, tetapi saat ini aku adalah seorang egois yang tengah berada di sisi Uchiha Itachi. Cukup dengan itu, kurasa bisa sedikit meredakan sedikit pilu yang kurasakan di dada.

Jalan yang kupilih adalah dengan mencintai Uchiha Itachi, serta mencintainya memang berat dan menyakitkan. Setidaknya, saat ini aku yang berada di sisinya.

 

FIN

 

Notes:

Fanfiksi ini dibuat dari hasil imajinasi Author belaka. Reader di sini adalah ninja dari Konohagakure yang sedang menjalankan misi di luar desa untuk mendapatkan informasi (imagine berhubungan dengan informasi yang didapat Jiraiya), dan kepikiran soal medic-nin soalnya pernah baca kalau Itachi berusaha bertahan hidup dengan obat-obatan untuk penyakitnya biar dia bisa prepare lawan Sasuke.

Fanfic ini tidak di-betaread, jadi masih banyak kesalahan PUEBI dllnya jika ada miss dalam pengeditan, semoga tidak terlalu OOC. Krisar sangat dibutuhkan <3

Anyway, terima kasih sudah membaca!
Danke~

Regards,
Aileen Haynsworth