Work Text:
Waktu keberangkatan Rukawa ke Amerika tinggal setengah tahun lagi, tetapi kemampuan bahasa Inggrisnya masih payah. Gurunya menganjurkan Rukawa untuk belajar melalui lagu, menerjemahkannya dan memahami maknanya, maka lagu cinta adalah pilihan yang terbaik. Rukawa memilih sebuah lagu yang pernah dia dengar di radio. Dia merekamnya, mendengarkannya baik-baik tiap katanya, dan menerjemahkannya ke dalam buku.
Cause we were just kids when we fell in love
Not knowing what is was
I will not give you up this time
“Aa! Aku tahu yang ini, ‘not give up’ itu tidak menyerah. Senpai pernah memberitahuku. Tapi ‘not give you up’ itu apa?” Rukawa berkata dalam hati sambil memutar ulang bagian tersebut lalu membuka kamusnya.
Baris demi baris sudah berhasil diterjemahkan Rukawa. Entah kenapa dia terus mengingat tentang Mitsui Senpai. Bayangan wajahnya terus berada di dalam pikirannya.
When you said you looked a mess
I whispered underneath my breath
But you heard it
Darling, you look perfect tonight
Rukawa membaca ulang kalimat tersebut dan memikirkan ketika Senpai yang sudah sangat kelelahan setelah sesi latihan grup selesai, Rukawa mengajaknya untuk bermain One on One dengannya.
“Aku sudah tidak bisa meladenimu Rukawa. Apa kau tidak lihat aku sudah kacau begini?” sahut Mitsui yang sedang duduk bersender setelah menghabiskan botol minumnya.
“Senpai terlihat baik-baik saja.”
Lalu mereka adu mulut sedikit dan akhirnya Mitsui Senpai mengabulkan keinginan Rukawa untuk tanding. Selalu seperti itu, mereka bermain basket bersama ketika yang lain sudah pulang ke rumah.
Baby, I’m dancing in the dark
With you between my arms
“Bukankah aku dan Senpai sering berduaan di tengah gelap?” Rukawa bertanya-tanya di dalam hati. “Kadang-kadang ketika aku memutuskan untuk berjalan sambil menarik sepedaku, bersebelahan dengan Senpai, kami bergandengan tangan. Tidak, sebenarnya Senpai memegang tanganku karena takut aku terjatuh karena jalanannya cukup gelap.”
You look perfect tonight
“Senpai selalu terlihat bagus, bukan hanya malam itu. Jadi seharusnya ‘you look perfect everynight’, kan? Hmm...lagu ini bukan tentang Senpai. Kenapa aku terus menghubungkannya dengan Senpai?”
Malam itu adalah malam yang panjang bagi Rukawa, bukan hanya karena menerjemahan lagu itu ternyata cukup sulit, Rukawa terus menerus hilang fokus dan kesulitan untuk memahami makna sebenarnya dari lagu ini. Mitsui Senpai terus muncul dipikirannya. Jadi Rukawa memutuskan bahwa besok dia akan memperdengarkan lagu ini ke Senpai dan bertanya tentang maknanya.
Esok malamnya, saat yang lain sudah pulang. Hanya tinggal Mitsui dan Rukawa saja yang masih ada di ruang ganti.
“Senpai.”
“Kenapa Rukawa? One on One lagi?”
“Bukan, aku ingin Senpai melihat hasil belajarku semalam. Aku menerjemahkan lagu bahasa Inggris tapi aku kesulitan memahami maknanya.”
“Mana? Coba kulihat.”
Rukawa memberikan Walkman miliknya dan buku hasil terjemahannya ke Mitsui, dia mendengarkannya sambil membaca tulisan Rukawa.
“Aa...ini lagu cinta. Tentang seorang pria yang jatuh cinta dengan seorang wanita. Sepertinya terjemahanmu sudah bagus, apa yang tidak kau mengerti?”
“Aku selalu memikirkan Senpai ketika menerjemahkannya,” jelas Rukawa. Wajahnya serius ketika mengatakannya.
“Eh?”
“Terutama di bagian ‘you look perfect tonight’. Kupikir Senpai selalu terlihat bagus setiap saat, bukan hanya malam kemarin atau malam ini.”
“Eh?!”
“Kupikir daripada ‘tonight’ bukankah ‘everynight’ lebih bagus?”
“Tunggu, tunggu, biar aku mendengarnya satu kali lagi.” Kali ini Mitsui mendengarkan dan membaca terjemahan milik Rukawa dengan lebih serius.
“Hmm...Rukawa.”
“Ya?”
“Sepertinya ini tentang malam pernikahan mereka, jadi si pria bilang kalau si wanita terlihat sangat cantik malam itu karena mereka sedang menikah.”
“Oh begitu? Kupikir ini tentang saat-saat pernyataan cinta.” Rukawa menaruh jarinya di dagu. Dia mulai paham.
“Yah, begitulah. Tunggu, tadi kau bilang kau terus mengingat siapa ketika menerjemahkan lagu ini?”
“Senpai.”
“Senpai siapa?”
“Mitsui Senpai.”
“Eh?! Kenapa mengingatku?”
“Tidak tahu, mungkin karena aku....” Rukawa mendadak terdiam, wajahnya memerah. Begitu juga dengan Mitsui, dia menutupi wajahnya yang merah dengan sebelah tangannya dan menunggu Rukawa menyelesaikan kalimatnya.
Keduanya hanya berdiri diam selama beberapa saat sampai akhirnya Mitsui memberanikan diri memecah keheningan. “Karena apa, Rukawa?”
“Karena...look perfect. Senpai...perfect.”
“Tonight?”
“Everynight.”
