Work Text:
Orang bilang, cinta datang karena terbiasa. Tapi kata Seungcheol tidak. Dia lebih percaya dengan cinta pada pandangan pertama. Logikanya, kalau dari awal memang tidak suka, kenapa tiba-tiba bisa berubah? Lagipula Seungcheol cukup yakin dengan dirinya yang teguh pendirian (sifatnya yang selalu dia banggakan) dan tidak sering berubah pikiran (orang lain bilang, keras kepala).
Jadi, saat dia putuskan untuk menjatuhkan hatinya pada Jihoon, pangeran Kerajaan Utara, Seungcheol bertekad untuk menjemputnya pulang. Menjadikannya pendamping saat dirinya diangkat menjadi raja, dan menghabiskan sisa waktu mereka untuk mengurusi tetek bengek permasalahan Kerajaan Timur bersama.
Tapi sekali lagi, Seungcheol hanya bisa berkehendak. Hanya bisa membawa barang barang berharga untuk melamar dengan belasan kereta kuda. Sisanya, takdir yang menentukan.
“Maaf sebelumnya, Pangeran Seungcheol,”
Ah, perasaannya mulai tidak tenang.
“Pangeran Jihoon adalah anak kedua saya, dan kakaknya belum menikah. Dalam tradisi kami, melintas adalah hal tabu. Jadi, dengan segala hormat, saya menyarankan Pangeran Seungcheol untuk menikahi anak pertama saya,”
Dunia Seungcheol runtuh. Di belakangnya, Mingyu tertawa kecil.
.
.
.
“Sudah kubilang, jangan terlalu gegabah, Kak Seungcheol,” Mingyu tertawa lagi. Menertawakan belasan kereta kuda berisi macam-macam barang berharga untuk meminang Jihoon. Menertawakan Seungcheol yang wajahnya merah padam, entah marah atau menangis. Menertawakan kebodohan kakaknya yang terlalu terburu-buru hingga tak memperhatikan hal sebesar itu. “Tapi serius, seabai itukah dirimu? Bukannya setiap jamuan akhir tahun Jihoon selalu duduk disebelah kakaknya?”
Taman belakang Istana Kerajaan Utara kali ini sedang menggugurkan daun-daunnya. Beberapa mendarat di kaki Seungcheol, dan pemuda yang masih dipenuhi kecewa itu menginjaknya tanpa ampun.
Dengusan Seungcheol terdengar gusar “Bahkan setiap jamuan akhir tahun pun aku tidak melihat Jihoon. Kalau iya, sudah kupinang sejak lama,”
“Dan ayahnya akan memberi jawaban yang sama seperti tadi,”
Mingyu mengaduh. Seungcheol memukul bahunya.
“Jadi, kau akan membawa semua kereta kudamu ini pulang sia-sia? Atau melamar kakak Jihoon?”
Seungcheol masih menunduk “Bahkan aku tidak tahu yang mana kakaknya,”
“Astaga! Pangeran Jisoo yang sering memotongkan kue saat jamuan akhir tahun itu, kau tak mengenalnya? Kakakku, kemana saja dirimu selama jamuan?”
Seungcheol tidak seburuk itu. Dia lebih memilih bergabung dengan perbincangan orang dewasa daripada bergurau dengan pangeran-pangeran seusianya. Itu Mingyu, yang selalu mendapatkan cerita seusai acara, seperti ‘Pangeran Dokyeom katanya belum mau menikah, padahal Pangeran Jeonghan jelas-jelas serius dengannya’ atau ‘Kerajaan Selatan paling anti kalau garis keturunannya dirusak, tapi Pangeran Wonwoo memilih menikah dengan rakyat biasa!’ hingga ‘tebak, barusan aku berciuman dengan siapa?’. Sangat, sangat tidak berguna. Seungcheol tahu ayahnya akan mengundurkan diri dari singgasana lebih awal dari seharusnya, jadi ia mulai bersikap lebih dewasa.
“Dengar, Kak. Kalau kau pulang, apa kata ayah kalau anak pertamanya gagal menikah?”
Seungcheol merasa kepalanya makin pusing "Jadi? Kau menyuruhku menikahi orang yang bahkan aku belum pernah menemuinya?"
.
.
.
Mingyu yang mengurus semuanya. Mulai dari berbicara kepada Sang Raja sebagai wakil dari Seungcheol, hingga berdiskusi dengan anggota kerajaan yang lain. Selesai. Hantaran telah diterima, Seungcheol sudah bertemu dengan Jisoo. Berbincang sebentar. Lalu pulang. Meninggalkan derak suara kereta yang perlahan memudar seiring waktu.
Dan Jisoo masih terpaku di jendela. Selepas Seungcheol berpamitan pulang, ia bergegas menuju kamar. Mengamati bagaimana kereta kuda Seungcheol pergi.
Ini yang selalu Jisoo lakukan tiap malam perjamuan akhir tahun jika bertempat di Kerajaan Utara. Setelah tahu kalau Pangeran Seungcheol tidak pernah berkumpul dengan pangeran sebayanya saat perjamuan, hanya itu satu-satunya cara Jisoo untuk melihat Seungcheol.
Iya, Jisoo telah jatuh pada Seungcheol. Entah sejak kapan, Jisoo tidak ingat. Saking lamanya.
Jadi, apa kabar Jisoo hari ini? Kalau kata Jisoo, seperti masuk ruang penyihir istana. Banyak kejutan.
Pertama, saat Jihoon berlari kecil ke kamarnya. Membuat fokusnya yang sedang berkutat pada perkamen-perkamen yang tergulung di depannya buyar. Berteriak "Kak! Ada yang datang melamar!"
Jantungnya seketika berhenti "Melamar? Kerajaan mana?"
"Timur!"
Persetan dengan semua gulungan perkamen itu. Jisoo buru-buru turun ke aula. Kerajaan Timur. Siapa lagi kalau bukan Seungcheol? Mingyu kan sudah bilang kalau akan melamar Soonyoung kalau kakaknya sudah menikah.
Tapi tepat saat Jisoo berhenti untuk merapikan bajunya sebelum melangkah masuk, dia terdiam.
"Maka dengan ini, saya, Pangeran Seungcheol, pewaris tahta Kerajaan Timur, hendak meminta izin untuk melamar putra Anda, Pangeran Jihoon,"
Dunia Jisoo runtuh. Di belakangnya, Jihoon ikut terdiam. Dia tidak salah dengar, kan? Jadi, yang ada di pikiran Jisoo hanyalah lari. Lari dari pengawal yang mendampinginya. Lari dari hiruk-piruk aula yang entah ribut karena apa. Lari dari kenyataan.
Seungcheol mencintai Jisoo hanya ada dalam mimpinya saja, sebelum dikubur hidup-hidup oleh pahitnya realita.
Kedua. Saat dia tersedu di kamarnya, membenamkan wajah ke bantal. Jihoon mengetuk pintu kamarnya perlahan.
"Kak Jisoo,"
Hening. Jisoo memang tidak berniat menjawab.
"Kak, Pangeran Seungcheol ingin bertemu,"
Untuk apa? Meminta restu? batin Jisoo. Sarkas Kalau aku tidak mau, bagaimana?
Menyeka air mata yang tersisa "Masuk saja, pintunya tidak dikunci,"
Seungcheol masuk, Jihoon pamit undur diri. Dia hanya mengantar.
"Permisi, Pangeran Jisoo?" berdeham pelan "boleh aku duduk disini?"
Yang dimaksud Seungcheol adalah sisi ranjangnya. Bukan, bukan di sebelah Jisoo. Seungcheol tahu, dia perlu waktu untuk mencerna semua informasi ini.
Jisoo belum mau menoleh. Sejelek apa wajahnya sekarang? Rambut berantakan, mata sembab dan membengkak, hidung memerah. Mungkin jejak air mata di pipi (dan ingus, sepertinya) juga ada "Duduk saja,"
"Aku kira kau sudah tahu tujuanku kemari," menahan nafas sejenak. Ini jelas tidak mudah "aku sudah bertanya pada ayahmu, dan beliau mengatakan keputusan berada di tanganmu. Jadi, kau setuju?"
Kan. Bahkan tidak ada kalimat 'aku melamarmu' di kata-kata Seungcheol.
"Apakah aku bisa menolak?" Tidak. Kerajaan Timur terkenal dengan rajanya yang sering memaksakan kehendak. Mingyu sendiri yang cerita saat jamuan, dibenarkan oleh teman-temannya.
Tapi Seungcheol berkata lain "Boleh. Jika ini tidak sesuai dengan keinginanmu, aku tidak bisa memaksa,"
Oh, Jisoo paham ia sama sekali tidak diinginkan.
"Baiklah. Aku mau,"
Ekspresi Seungcheol tidak berubah sama sekali. Dia hanya mengangguk "Nanti aku bicarakan dengan ayahmu untuk persiapannya. Terima kasih, Jisoo,"
Jisoo hanya bisa memandang Seungcheol yang telah pergi dari kamarnya.
Ah, pernikahan ini. Tidak ada yang menginginkannya, bahkan Jisoo yang sekarang sudah muak.
.
.
.
"Kak Jisoo," panggil Jihoon. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan "Keputusan finalnya, kalian menikah tahun depan. Dua hari setelah jamuan akhir tahun,"
Bagus. Jisoo masih ada waktu sebelum kehidupannya semakin buruk "Jamuan kali ini bertempat di Barat, kan?"
"Eh, bukannya Timur?" Tunggu "Urutannya Utara-Barat-Selatan-Timur atau Utara-Timur-Selatan-Barat?"
"Yang pertama, kak. Dua tahun lalu kan di Barat," sahut Jihoon "Dan artinya, kau harus mendampingi Pangeran Seungcheol sebagai tuan rumah,"
Sepertinya kehidupannya akan memburuk mulai sekarang.
"Ah, satu lagi. Dua hari sebelum jamuan, kakak akan dijemput oleh Mingyu,"
.
.
.
"Iya, Paman. Jamuan akhir tahun ini sekaligus untuk mengumumkan pernikahan kakak saya dengan putra anda," Mingyu terlalu akrab dengan siapapun. Bahkan Raja Kerajaan Utara dia panggil dengan sebutan 'paman'. "Dan untuk itu, saya bertujuan untuk menjemput putra anda untuk mempersiapkan semuanya disana,"
Semuanya berlangsung sangat cepat. Dua hari di Kerajaan Timur yang sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan jamuan membuat Jisoo hanya keluar kamarnya ketika makan atau berjalan-jalan melihat semua aktivitas rakyatnya. Atau ke perpustakaan, menemukan Sang Ratu yang sedang membaca puisi-puisi lama lalu berbincang sebentar. Atau ke taman belakang, berpapasan dengan Mingyu di lorong lalu dengan senang hati mengadakan tur singkat untuk memperkenalkan seisi istana. Juga menjelaskan singkat agenda acara besok.
"Ada pesta dansa?"
Mingyu mengangguk "Ayah ingin jamuan kali ini benar-benar besar, bahkan acaranya berlangsung sampai tengah malam. Beliau sepertinya senang anaknya akan menikah,"
Jisoo tersenyum hambar "Pangeran Mingyu, aku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kakakmu ingin melamar Jihoon, kan?"
"Iya. Aku merasa bersalah ketika tahu kalau tradisi di kerajaanmu melarang adiknya menikah sebelum kakaknya. Tapi tidak mungkin kan, kita pulang membawa rasa malu? Lagipula kakakku sudah waktunya untuk menikah. Dan pangeran kerajaan lain yang seumurannya sudah bertunangan semua. Aturan kerajaanku, calon raja harus menikah sebelum dilantik. Usia ayahku sudah tidak muda lagi, Pangeran Jisoo. Mungkin tahun depan beliau akan turun,"
"Jadi, Pangeran Jisoo, aku minta tolong. Terima pernikahan ini dengan tulus, ya? Masa depan kerajaanku bergantung padamu," Tangan Jisoo digenggam dan mata Mingyu menatapnya serius.
Anggukan datang sebagai jawaban "Baiklah. Lagipula aku juga sudah waktunya menikah. Kalau aku tidak menikah, Jihoon juga tidak,"
Mingyu tersenyum kecil "Jadi, aku boleh memanggilmu Kakak juga?"
Jisoo tertawa kecil.
.
.
.
Malam yang ditunggu-tunggu telah tiba. Kembang api dinyalakan untuk menyambut tamu dari kerajaan lain.
Ingin rasanya Jisoo turun dari singgasana dan berlari menghampiri adiknya yang baru datang (Jisoo tahu karena tadi prajurit istana berteriak 'Kerajaan Utara!') dan pasti anak itu segera menemui teman-temannya. Tidak seperti Jisoo yang harus terjebak di aula bersama para petinggi kerajaan (baca: orang-orang tua).
Dan kalau Jisoo boleh jujur, ini semua membosankan. Tidak seperti Mingyu yang sudah kabur ke taman belakang, dia diwajibkan duduk di singgasana mendampingi Seungcheol (yang tampak menikmati acara ini) untuk diperkenalkan sebagai menantu Kerajaan Timur.
Jarum jam besar rasanya lama sekali untuk menuju angka dua belas. Bibir Jisoo sudah pegal memasang senyum ramah dan mengangguk sopan pada setiap tamu ketika dirinya diperkenalkan.
"Seungcheol, kau tidak mengajak Jisoo turun ke lantai dansa?"
Ah, itu usul Sang Ratu.
"Tapi, Ibunda-"
"Tidak ada tapi. Sekarang ajak Jisoo turun," Kali ini Ayahnya yang berbicara.
Seungcheol mengangguk patuh, lalu mengulurkan tangan ke Jisoo "Ayo,"
Dituntunnya pelan-pelan menuruni tangga, membimbingnya ke lantai dansa yang ramai. Ada Mingyu disana dengan Soonyoung di dekapannya. Suara musik yang dimainkan orkestra memenuhi ruangan. Tapi setelah tahu Seungcheol turun membawa Jisoo, musik yang dimainkan seketika berubah. Yang awalnya semarak melembut, mengalun nada-nada romantis.
"Jisoo," tangan Seungcheol berada di pinggang lawannya, wajahnya mendekat. Berbisik "bisa berdansa?"
Aduh, Jisoo harus menjawab apa "Bisa, sedikit... aku pernah diajak Mingyu,"
Tapi diluar dugaan Seungcheol, Jisoo luar biasa. Gerakannya tidak kaku, bahkan Seungcheol merasa dituntun.
Bahkan sesekali membenahi gerakannya. "Kaki kanan, Seungcheol. Dua langkah, lalu berputar,"
Seungcheol... terpesona. Cara Jisoo tertawa lirih, selembut hembusan angin. Binar matanya, manis senyumnya, hingga gerak-gerak kecil rambutnya yang tertiup angin. Jisoo begitu indah.
Seketika Seungcheol tidak menyesali semuanya. "Jisoo,"
Yang dipanggil masih fokus ke gerakan dansanya. Bergumam lirih 'kaki kanan, kaki kiri, dua langkah "Hmm?"
Oh, bagaimana Seungcheol tidak jatuh cinta?
"Seungcheol, tangan kananmu. Naik,"
Kali ini, cahaya rembulan tahu harus menyorot siapa. Jisoo, yang di mata Seungcheol terlihat bersinar.Yang membuat Seungcheol tak bisa menahan senyumnya selama dansa berlangsung.
"Seungcheol, musiknya sudah berhenti,"
Seketika buyar lamunannya "Oh, maaf," tapi tangannya masih enggan lepas dari pinggang Jisoo "Boleh aku merangkul pinggangmu hingga singgasana?"
Jisoo mengangguk.
"Kalau sampai tua nanti?"
