Work Text:
"bukan urusan lo, kali," jay menyela sesi makan sebungkus kacangnya dengan memberikan nasehat setengah hati buat cowoknya.
"emang bukan," sunghoon bergabung duduk di kursi meja kantin fakultas mereka yang kalau bisa bicara, pasti seharian merengek minta direnovasi.
"ya berarti gak usah diurusin," jay menaikkan sebelah alisnya. sunghoon memutar kedua bola matanya sebelum menyomot empat (lima) butir kacang dari tangan cowoknya.
"ya ini gak ngurusin, mantau aja."
"mantau apa sih?"
lalu ada suara ketiga yang bergabung dengan mereka. suaranya datang dari laki-laki dengan tas jansport seusia anak SD kelas 2 yang ia letakkan di atas meja sembari duduk di kursi.
"mantau elu," jawab jay. asal. bikin sunghoon terkekeh sambil mengunyah kacang di mulutnya.
"hah?"
"iya mantau elu, jek ," kini giliran sunghoon yang menjawab. jawabannya gak asal sama sekali.
"hah? emang gue kenapa?" jake mengerutkan alis, sedikit naik dari posisi duduknya buat meraih dompet yang ia letakkan di saku belakang celana.
jake kenapa?
sunghoon juga gak tau mau mulai dari mana. yang pasti, suatu hari dia sadar kalau ada yang berbeda dari binar mata jake dari yang biasa-biasanya. ketika menanyakan soal binar mata jake ke jay waktu itu, jay mendengus. "bolot lu," itu respon jay sebelum mengirim cium ke pipi pacarnya yang cuma bisa bingung.
jadi sunghoon mulai membuat daftar perubahan jake dari yang biasanya. dari yang biasanya harusnya sulit buat didefinisikan batasan-batasannya. di mana jake yang biasanya berada, dan di mana jake yang baru lalu memunculkan diri. tapi sunghoon sudah kenal dengan jake cukup lama buat sadar kalau soal binar mata jake makin terang, senyumnya makin ringan, jalan kakinya diselingi lompat kecil di tiap empat langkah—ini tidak ada di versi jake yang biasanya .
sebenernya yang paling penting (dan yang sunghoon lupa jelaskan tentang mata jake) ada pada luas tangkap pandangannya yang sering melebar mencari. gerak iris matanya yang tidak berhenti sampai—
"halo."
sampai yang dicari masuk ke ruang pandangnya.
sunghoon menyadari kalau belakangan, mata jake akan mencari-cari. kantin selalu penuh mahasiswa di jam 11 karena kelas jam 9 seringnya baru selesai di pukul 10.50, 10 menit lebih lambat dari jadwal semestinya. atau di jam setengah 4, ketika persilangan mahasiswa yang baru selesai kelas jam 1 dan mahasiswa yang baru akan masuk kelas sore ramai memenuhi kantin (yang sekali lagi, kalau bisa bicara pasti akan merengek minta direnovasi). dan di waktu-waktu ini, jake akan duduk di kursi meja kantin sambil antusias (pura-pura) mendengar siapapun yang bercerita. matanya terkatalis bergerak ke sana kemari.
sampai jungwon duduk di meja yang sama. menyapa senior-seniornya dengan halo -nya.
"hey."
itu senyuman jake yang sunghoon cuma pernah lihat mungkin seminggu sekali. tapi belakangan, munculnya bisa dua kali sehari, lima hari seminggu. senyumnya biasanya cuma muncul bersamaan dengan fenomena yang penting (buat jake)—temuan akademis penting di google scholar atau kerja kelompok yang selesai tepat waktu. tapi belakangan ini, munculnya seolah bisa kapan saja, selama ada jungwon di meja kantin yang sama .
"katanya mau tipseeen," jungwon menggoda cowok di sampingnya saat membuka bagian depan tas ranselnya, mengambil ponsel dan dompetnya di sana lalu mengantonginya di celana.
"gak jadi," balas jake sambil tertawa. "sayang absennya."
sunghoon mengunyah kacang di mulutnya dengan penekanan gak perlu di sana sini. jake anak kesayangan dosen, gak pernah menyayang-nyayang absen karena sebanyak apapun diambil tidak akan pernah mengurangi satu poin pun dari A-nya. jake juga gak pernah berbohong yang tidak perlu. jadi jake, belakangan ini, jadi pemandangan yang benar-benar menghibur buat sunghoon dan jiwa romantisnya .
"pada makan gak?" tanya jungwon. pandangnya lama tidak lepas dari jake sebelum pindah ke sepasang laki-laki di seberang duduknya yang sedari tadi gak dia berikan perhatian sama sekali.
"nih makan," sunghoon mencomot lagi empat (enam) kacang dari kacang kemasan di tangan cowoknya.
"modal dikit kek, anying," jay meremas kemasan kacangnya. upaya preventif supaya sunghoon tidak bisa mencuri lagi.
"mau makan?" tanya jake. ada lembut di suaranya yang selalu ada di bicara jake, tapi belakangan muncul lebih banyak dari biasanya. prasyaratnya cuma: harus jungwon lawan bicaranya.
"iya tapi bingung, tapi belum sarapan," jungwon memandangi kantin di sekitarnya.
"mau makan yang gimana?"
"yang... kuah gitu, kali ya?"
"bakso?"
"gak suka bakso."
"dih, masa gak suka bakso?"
"emang gak suka?!?" jungwon memandang jenaka jake yang masih memandangnya tidak percaya.
"dih?" tawa jake terselip keluar dari celah bibirnya. "hoon, jay, masa jungwon gak suka bakso?" bicaranya diakhiri tawa yang meledak, bersamaan dengan jungwon yang memukul pelan pundaknya sambil ikut tertawa.
iya jake, jungwon-nya gak suka bakso. pernyataan jungwon tidak selucu itu sampai jadi alasan jake dan jungwon tertawa sebegitunya. tapi sunghoon pun mengulum senyum di antara mengunyah kacang di mulutnya, sambil mencuri pandang ke cowoknya yang juga berusaha keras menyembunyikan naik sudut bibirnya. alasan tawa mereka semua jelas bukan karena jenakanya.
"makan nasi gitu mau?" jake berdiri dari kursinya sambil bertanya ke jungwon yang sedetik kemudian ikut bangkit.
"mau, tapi jangan yang kering gitu."
"apaansi maksudnya," jake lagi-lagi tertawa. jalannya menuju ramai kantin diikuti jungwon hanya setengah langkah di belakangnya.
"maksudnya kaya yang basah gitu. tapi kalo soto kebasahan."
lalu percakapan keduanya melebur bersama bising kantin jam sebelas siang. meninggalkan sunghoon dan jay dengan sebungkus kacang dan senyum yang akhirnya lepas dari bibir keduanya.
"najis gak?" tanya sunghoon. yang najis jake sama jungwon , maksudnya.
"bukan urusan kamu," telunjuk jay jahil menekan batang hidung sunghoon.
"tapi najis kan," sunghoon tertawa. "dari dulu mikir siapa ya yang bisa bikin jake begitu, taunya maba."
"ya maba gemes, sih."
"dih," sunghoon melotot lalu menendang kaki jay di bawah meja.
jay tertawa. "dulu kita gitu gak sih?"
"gimana?"
"najis."
sunghoon mencuri kacang dari bungkusan di tangan jay lagi. "iya kali, gatau."
"itu sampe jadian gak ya."
"katanya bukan urusan kita," sunghoon menjawab sambil, lagi-lagi, mengunyah dengan penekanan gak perlu di sana sini. tujuannya murni supaya jay kesal dengan responnya.
" i'm just wondering ," jay mengendikkan bahunya.
di antara jake yang menghitung seberapa banyak dia berhak tertawa dalam seminggu, melangkah dengan ritme yang sama setiap hari, hanya bahagia tentang sesuatu yang pasti, dan jake yang binar matanya terang meluas, tertawa tak beratur dan lepas, sampai senyumnya bisa dipancing presensi mahasiswa baru di meja kantin yang butuh reparasi. ada masa di mana sunghoon berkaca tiap pagi dan melihat bagaimana perasaan yang seperti itu menyusup perlahan-lahan ke dalam dirinya sampai sunghoon ingat rasanya menjadi manusia.
ada magis yang datang bersamaan dengan perasaan diinginkan dan diapresiasi. jadi ketika meraba-raba presensi perasaan-perasaan itu di orang-orang penting di hidupnya, bukan salah sunghoon kan kalau tiba-tiba ingin ikut campur menjaga.
pandang sunghoon mencari-cari di dalam kerumunan kantin.
"naspad," ujar jay pelan.
pandang sunghoon pindah ke kios yang dimaksud jay di ujung kantin. tidak ada satu pun menu masakan padang yang mungkin sedang jungwon ucap yang perlu atensi sebegitunya, tapi dari ujung ruangan lain pun terlihat begitu: jake memandangi jungwon seolah dia yang menaruh sendiri bintang-bintang di bima sakti. dan sunghoon tahu rasanya (berpikir kalau sarkasme yang keluar dari mulut jay sama indahnya seperti bintang-bintang di lengan galaksi).
"aku tuh, gak ngurusin," sunghoon menoleh ke jay yang balas menoleh ke arahnya. "kan aku udah bilang, cuma jagain."
kini giliran jay yang memandang pasangan di ujung lain kantin. jake dan jungwon gak punya alasan kenapa membeli dua bungkus nasi padang di kantin bobrok yang harus segera di renovasi dan sepertiga udaranya adalah asap rokok itu bisa terlihat semembahagiakan itu.
pandangnya bergeser ke sunghoon yang juga, tidak punya alasan kenapa melihat dua orang diam-diam jatuh suka membuatnya bahagia sebegitunya. ada lembut dan perhatian yang pacar bolot -nya itu sedang berusaha terjemahkan jadi sikap dan aksi. dan kalau buat jay: gak ada yang lebih berharga dari sunghoon yang berusaha menavigasi perasaan-perasaannya yang selalu lebih luas dari tiap inci panjang kali lebar tubuhnya.
jadi jari-jari tangannya pada akhinya ia selipkan ke genggam longgar tangan sunghoon, genggamnya berubah jadi pegang erat dengan ibu jari yang jenaka bermain dengan satu sama lain.
"yaudah, aku juga jagain."
ada magis yang datang bersamaan dengan jatuh cinta bersama-sama. magisnya tidak kenal waktu bahkan jika sudah dua, tiga tahun lamanya, mungkin bisa sampai selamanya. jadi bukan salah jay juga (kalau pada akhirnya ingin ikut campur menjaga).
