Actions

Work Header

sipping august

Summary:

Minho menelan konsekuensi dari mencintai Seungmin yang pengecut dan terlalu mawas diri.

Notes:

this is written for @frasamerah. thank you for reading!

Work Text:

Hari itu adalah salah satu hari terpanas sepanjang bulan Juni. 

 

Aku bisa rasakan keringatku meleleh dari pelipis sampai ketiak dan bersarang di ulu hati. Aku bisa rasakan panasnya diserap dari kulit sampai sendi, lama-kelamaan organku bakal meleleh diserang panas, lalu aku mati. Kurasa, mati karena panas tidak begitu buruk, daripada terjebak di dalam rengkuhan Seungmin yang serupa sulur-sulur nasib berduri yang menjadikanku lakon wayang yang berserah dan tidak punya harga diri. Pelukan Seungmin adalah paradoks yang memaksaku berjemur di bawah gembira sekaligus membuatku merasa sangat ingin mati. Bawaanku mau menjerit, memberontak, dan mendorong tubuhnya jauh-jauh dari tubuhku setelah menempel dengannya seperti kembar siam. Tubuhku terlalu sempit untuk menampung patah hati yang begitu raksasa. Itulah konsekuensiku jatuh cinta kepada Seungmin yang menganggap cinta adalah perkara pelarian dan mencari pengganti. 

 

Tapi, aku tidak melakukannya. Alih-alih aku tersenyum. Ketika Seungmin menciumku di hadapan kawan-kawannya, aku mengalungkan kedua lenganku di lehernya, tertawa, bahagia . Aku menelan dusta itu hingga menjadi zat-zat radikal dalam gatra, membiarkannya jadi biokatalis yang mempercepat pencernaan kebohongan itu sampai kalis, sampai busuk di dalam tubuhku sendiri. Ingin rasanya segala kebohongan yang berakhir di sela-sela rusukku itu aku muntahkan pada Seungmin, merampoknya, dan kabur seperti pengecut.

 

Seungmin kepalang keji pada orang-orang yang jatuh cinta secara pengecut seperti aku, jadi aku urungkan niat untuk merampoknya. Tanpa tedeng aling-aling aku merunduk di antar kedua kakinya, menghisap kejantanannya, merampai cintaku yang pecundang dan rasa maluku menjadi alas pijakan kakinya. Apa yang aku narasikan adalah bagaimana cara orang miskin menghidupi diri; terinjak-injak di kaki strata dan berterima kasih ketika dieksploitasi. Cintaku dikotori oleh uang yang menjadi obsesiku selama ini. 




 

 

Seungmin selalu memintaku memanggil namanya saat kami bersenggama.

 

Terhenyak aku di tengah-tengah kenikmatan yang berkelana. Kepalaku yang kerkabut mencoba mengingat-ingat lagi huruf nama Seungmin yang enggan aku eja. Seungmin. Kim Seungmin. Seung. Min. Dalam kepulan napas yang memburu dan api syahwat yang menjilat-jilat, aku sebut namanya dalam napas yang terengah-engah bak lantunan kidung. Seungmin. Kim Seungmin.

 

Seungmin tidak pernah membisikkan namaku ketika ia orgasme. Ia membisikkan nama seorang laki-laki lain yang dalam sekejap menempel di benakku membentuk suatu bercak yang selamanya tidak bisa aku luruhkan meski kubersihkan berkali-kali. Aku tidak mau mengingat namanya. Aku inginkan Seungmin sebagaimana seorang bocah menginginkan surga. Tidak ada surga yang lebih sejati daripada pelepasan yang kucari dalam gerakan Seungmin yang primal dan melumpuhkan. Aku ingin tinggal di ekor mata Seungmin selamanya agar ia tak perlu lagi menumpahkan air mata setiap bersenggama, aku akan membutakan matanya karena tak ingin dia menyadari bahwa sesungguhnya aku begitu cacat. Aku ingin berada di bawah kukungan Seungmin selamanya, menggali kuburanku di ceruk tulang selangkanya, berharap aku tidak akan ditinggalkan, berharap aku bisa memegang janji-janjinya seperti bunyi sebuah sumpah.

 

Aku merasa aku bukanlah seutuhnya manusia di ambang orgasme, melainkan murni sekelibat perasaan kehilangan yang mengorek tubuh. Tubuhku begitu penuh akan kesepian dan kehilangan hingga aku tak lagi bisa menyebutnya sebidang tubuh. Tubuhku adalah tempat Seungmin mencari pelarian, tempat Seungmin melampiaskan segala pengecutnya yang menyengsarakan, tempat Seungmin membuang mani dan menggeledah cintanya yang kalah di pertarungan. Laki-laki yang aku sukai berpacaran dengan seorang perempuan tepat setelah aku menyatakan perasaan, Seungmin bercerita. Seungmin yang aku cintai mengejar klimaksnya dan mencium bibirku bagai seorang pendosa mencari pengampunan dengan membayangkan aku sebagai pria lain. Tubuhku begitu penuh akan Seungmin hingga aku tidak lagi bisa menamainya otoritasku sendiri. Dalam nama-nama Seungmin yang kudesahkan, ada sebuah harapan kalau suatu saat ia akan mencintaiku tanpa reduksi.

 

Harapanku serta-merta mati ketika Seungmin menyodorkan sekerat uang ke dalam telapak tanganku ketika dia tahu aku kesulitan membayar uang semester. Kupikir kamu sedang butuh, katanya begitu. Kemudian dia membayar biaya makanku sehari-hari. Kemudian dia membayar separuh dari uang sewa kontrakanku. Lama-kelamaan, nominalnya semakin besar hingga aku sedikit banyak merasa menjadi pelacur pribadinya. Lambat laun, segala sesuatu yang aku lakukan dengan Seungmin di atas ranjang bukan lagi berdasarkan dua orang yang kesepian dan mencari ketenangan, melainkan sebuah transaksi yang menyayat hati dan melumrahkan kesewenang-wenangan.

 

Aku berhenti menolak uang-uang yang ia kupyurkan. Beranggapan bahwa itu adalah satu-satunya bentuk kasih sayang yang bisa Seungmin berikan buatku. Dengan itu aku sepakat untuk melakukan sesuatu yang terus-menerus menggerus cintaku dan mengikis kemanusiaanku. Aku barangkali akan terus melakukannya, sampai aku bukanlah seorang manusia lagi.

 


 

 

Potretku dan Seungmin dibingkai sebuah kusen dusta yang terpangkas begitu rapi dalam sosial media maupun realita. Terkadang, aku bahkan lupa bahwa aku cuma berpura-pura ketika aku melihat fotoku dan hal-hal yang aku unggah bersamanya. Aku merasa seperti segenggam nyala redup yang memandang sandiwaraku bersama Seungmin dari luar sketsa. Aku merasa seperti aku bukanlah diriku sendiri.

 

Hal terakhir yang aku unggah di akun sosial mediaku adalah sebuah foto aku dan Seungmin tanpa atasan. Helai rambut Seungmin jatuh di pundakku, sedangkan aku mendekapnya dari depan. Selembar kebohongan itu begitu diminati. Aku menyaksikan bagaimana kawan-kawanku memuja hubunganku dengan Seungmin seolah kami adalah Romeo dan Juliet di zaman modern. Hyunjin mengeluh betapa mantan kekasihnya sungguh tidak romantis, mengeluh betapa beruntungnya aku memiliki kekasih seperti Seungmin, dan betapa Hyunjin mendamba hubungan kami. 

 

Aku merasa separuh kesadaranku rubuh ketika Hyunjin mengatakan itu. Manusia adalah makhluk yang begitu rapuh , yang begitu mudah dipilin sampai hangus dengan sejumput  permainan lakon yang padahal begitu canang di pelupuk mataku. Kebohongan itu seperti merakit sebuah wahana dimana Seungmin dan kawan-kawan kami bertamasya begitu riang di dalamnya, sedangkan aku satu-satunya tumbal yang dikorbankan demi membangun dunia magis yang sama sekali tidak jujur maupun realistis. 

 

Aku melirik Seungmin yang baru saja membersihkan diri setelah sebuah sesi senggama. Dia menatapku dengan senyum yang begitu manis, tidak menyadari bagaimana mataku berkubang dalam air mata dan orgasme yang begitu kosong. Dia cuma berkata, “Uangnya sudah aku kirim, ya. Nanti kamu periksa sendiri.”

 

Seungmin membuat seluruh kemanusiaanku mengerut dan menyusut jadi semata-mata dahaga terhadap uang pula hidup tenang. Aku menjadi begitu lapar akan uang, tanpa harga diri, tanpa identitas; hanya sebutir pion yang mati-matian mengejar fana sampai aku sendiri disita fatamorgana. Uang dari Seungmin cukup untuk membeli buku-buku yang aku butuhkan untuk kuliah, cukup untuk membayar uang sewa, cukup untuk aku makan, cukup untuk aku hidup

 

Apa yang terjadi sungguh adalah sebuah bukti nyata dimana moralitas dibantai oleh uang dan kemiskinan struktural. Tirai kebohongan itu membagi aku dengan cahaya, dengan kejujuran, dengan cinta—aku adalah seorang pelacur yang menggerogoti diriku sendiri demi bertahan hidup. Siapapun yang bilang bahwa cinta bukanlah suatu hak istimewa, sudah pasti dia sedang membual. Seumur hidupku, aku tidak pernah merasa dirongrong oleh cinta, melainkan oleh patah hati yang bahkan tidak boleh ditangisi, tabungan yang melarat, dan peser-peser uang yang tidak pernah cukup.

 

Bangchan mengirimkan sebuah pesan kepadaku. Dia bilang bahwa aku dan Seungmin selalu terlihat serasi dan doa-doa baik mengenai kelanggengan hubunganku dengan Seungmin. Aku membalasnya dengan manis, tertawa di ujung kalimat yang aku ketik.

 

Sesungguhnya, aku tengah menertawakan diriku sendiri.

 


 

Pada suatu pertengahan musim panas yang luar biasa tandus, Seungmin memintaku berhenti. 

 

Aku tidak mengerti apa yang harus kuhentikan darinya. Seungmin menangkup tanganku, meremas genggamannya, bilang kalau dia merasa bersalah dan meminta maaf sudah menjadi seseorang yang biadab. Aku memintanya mengelaborasi lebih jauh.

 

“Aku membayarmu untuk serentetan seks dan menipu semua kawan-kawan kita. Aku biadab untuk semua hal itu.”

 

Di saat itu, aku tidak tahu harus merasakan apa. Aku merasa marah tak tertahankan sekaligus takut tak terkendali. Aku ingin bersujud di kakinya untuk meracau bahwa aku mencintainya dan aku tidak peduli jika dia hanya memanfaatkanku untuk serangkaian orgasme, aku tidak peduli jika dia akan membuangku setelahnya. Di sisi lain, tanganku terkepal, pemakamanku diadakan di dalamnya, garis-garis tanganku ialah liang lahatku sendiri. Aku ingin mencekik lehernya dan menghardik. Mengapa dia tak bisa menyelesaikan sesuatu sebagai seorang keparat, di saat dia memulainya sebagai salah satunya? Selama ini, aku membiarkan diriku sendiri sengsara di bawah kuasanya. Lantas apa sekarang, ia mau jadi dewasa? Mau meminta ampun dan mendeklarasi ia sadar kalau dia bersalah? Mau lepas tangan pasca membuatku jadi pengemis yang hina dan rendah? Apakah segala ultimatum itu jika dijahit akan cukup untuk membebat patah hatiku yang tiada tandingnya? 

 

“Lalu sekarang kamu mau apa, Seungmin?”

 

Apa kau mau pergi dan mengejar lagi laki-laki yang kau sukai sesudah dia putus dengan pacarnya seminggu yang lalu, Seungmin? Apa kau akan menjadikannya salah satu koleksi pemuasmu sebagaimana kau mengawetkan cintaku jadi cinderamata yang tak sedap dipandang? 

 

“Kita bisa tetap jadi teman, Minho.”

 

Mana ada teman yang berkomplot untuk merubuhkan nirwarna dan menggantikannya dengan keberadaan satu sama lain, Seungmin? Aku tidak akan bisa menenggak alkohol sambil tertawa dan merangkul bahumu di bar murah pinggir jalan tanpa keinginan menyambar bibirmu dalam pagutan. Terlalu riskan, Seungmin. Setelah jatuh hati dengan kepala duluan dan tulang-tulangku berserakan, mustahil kita berhenti dan menjadi sekadar teman. Aku bahkan rela tak bahagia jika itu yang bisa mengabulkanmu tetap berada di sisiku tanpa berjengit.

 

Aku menatap matanya dan bertanya-tanya apakah aku akan bahagia jika aku mempertahankan Seungmin di sisiku. Apakah aku akan bahagia jika aku mencampakkan segenap martabatku sekali lagi demi laki-laki yang hanya percaya cinta itu ada di luar tubuhku yang sudah ia sentuh? Apakah aku akan bahagia? Mengapa juga aku harus mempertahankan kebahagiaan jika selama ini ia selalu jadi hal yang terlalu fiktif untuk kusentuh? Seungmin adalah satu-satunya yang tersisa dalam genggaman hidupku yang selalu renggang; sebagaimana pasir dan air dan udara luruh dari sela jari, segala sesuatu selalu datang dan pergi. Lantas, apakah aku orang bodoh yang rela kehilangan Seungmin?

 

Persetan soal persepsiku terhadap cinta sudah terkorupsi, aku menjatuhkan diriku di hadapan Seungmin. Berlutut. Berdoa. Memohon. Kutangkap wajahnya berubah panik sekaligus terluka, kudengar suaranya parau dan memohonku untuk membiarkannya pergi. Aku tidak peduli. Selamanya, aku akan bersujud mencium kakinya jika itu yang harus aku lakukan agar aku tidak ditinggalkan sendiri. Kutanggalkan semua bahagiaku untuk membungkusmu tetap hangat, Seungmin. Apa pentingnya bahagia itu jika dibandingkan dengan yang kita berdua bagi? Inilah yang kita sembunyikan berdua, seungmin. Aku yang miskin dengan pengabdianku, tertatih-tatih menjadi kacung atas cintamu yang sama sekali tidak dewasa dan pengecut. Inilah yang orang-orang lain tidak ketahui, melebihi foto-foto kita tanpa atasan yang begitu mesra, yang kau unggah dengan takarir manis di sosial media.

 

Kuserahkan lututku jika kau butuh engsel untuk berjalan. Kuhancurkan tumitku jika kau pikir suatu saat aku berdiri terlalu pongah. Segala yang bisa aku berikan sebagai orang yang tidak punya uang—kuberikan semuanya buatmu. Dengan begini, kau tidak akan meninggalkanku, ‘kan?

 

Iya, ‘kan?