Actions

Work Header

Our Promise

Summary:

Lagi-lagi Suguru menggarisbawahi bahwa masa depan bukanlah dirinya sendiri saja yang menikmati, sehingga pujaan hatinya pun berhak turut andil dalam segala keputusan yang ingin mereka jalani.

Notes:

Disclaimer:
The story is written by me (with my own imagination) for entertainment purposes because I am not taking any profit and Geto Suguru belongs to Gege Akutami (Mangaka of Jujutsu Kaisen). And also inspired by song: Promise by Jimin BTS.
Beware of anime movie spoiler: Josee-the Tiger and the Fish.

-----

Hello Yeji, karena aku baru tahu kamu ulang tahun hari ini dan aku belum sempat untuk nulis naskah fanfiksi yang baru, jadi ... aku memutuskan untuk remake fanfiksi yang pernah aku tulis untuk ulang tahun Jimin BTS di tanggal 13 Oktober 2021 (di akun AO3-ku yang lain) based on lagu Promise by Jimin. Dan, Kebetulan aku tahu kalau Yeji pernah ngebiasin Jimin BTS juga :")

Semoga Yeji terhibur dengan cerita ini, ya.
Dan, selamat ulang tahun ... semoga yang terbaik untuk Yeji, selalu ♡

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

☆☆☆

I sit alone, slumped down

And I break myself down with these thoughts

☆☆☆

Malam ini menjadi malam yang panjang untuk dua insan dimabuk asmara dan telah menjalin hubungan selama satu tahun lamanya. Namun, kini bukan hanya dimabuk asmara saja, melainkan mabuk dalam artian yang sebenarnya. Mereka berdua baru saja menghadiri undangan pesta penyambutan mahasiswa baru jurusan Sastra Inggris sebagai senior tahun terakhir. Berbotol-botol alkohol mereka teguk, bercengkerama, bahkan tertawa bersama teman-teman lainnya pun keduanya lakukan seakan hidup tak perlu terlalu dipusingkan.

Lantaran malam semakin larut, satu per satu mahasiswa pun berpamitan pulang dalam keadaan sempoyongan dan ada pula yang berucap hal-hal tak keruan. Contohnya saja seperti yang sekarang sang omega lakukan dalam kondisi tak benar-benar sadar dan meletakkan kepala di atas meja. Terus saja ia menggumamkan sesuatu yang aneh dan membuat sang alpha tersenyum melihatnya.

Sejak pertama kali bertemu di kelas Academic Writing, omega cantik ini tidak pernah gagal untuk menarik hati seorang Getou Suguru. Hal tersebut membuat alpha kelahiran Tokyo ini menjadi kewalahan untuk mengontrol hati dan pikirannya. Lantas pada pertemuan selanjutnya ia memberanikan diri untuk mendatangi sang omega secara langsung. Ingin berkenalan katanya. Nasib baik sang omega menyambutnya dengan penuh suka cita.

Obrolan demi obrolan pun mengalir begitu saja hingga hitungan menit berubah menjadi jam, jam menjadi hari, hari menjadi minggu, bahkan minggu menjadi bulan. Perubahan status pun kian lama kian meningkat, dari yang bukan siapa-siapa menjadi dialah sang cinta, pujaan hati, serta pemilik hatinya.

Sang alpha yang memiliki toleransi lebih tinggi terhadap alkohol lantas mulai memasangkan coat milik sang omega, merapikan tali sepatu omeganya, hingga akhirnya memosisikan diri untuk menggendong omega cantik tersebut pada punggungnya.

Secara telaten Suguru meraih barang bawaan milik sang omega dan membenahi posisi tangan serta kaki omega dalam gendongannya. Kemudian langkah demi langkah pun alpha bertubuh perkasa ini tempuh agar mereka segera sampai di kamar apartemen.

Shibuya tidak pernah tidur. Masih banyak pejalan kaki yang berlalu lalang melawan dinginnya udara malam di musim semi. Lantaran sang omega memeluknya dengan sangat erat seraya bernyanyi menggunakan nada tak beraturan bahkan terkikik geli sendiri, akhirnya Suguru jadi tak bisa menahan tawa saat mendengarnya.

Sepanjang jalan pun Suguru beberapa kali menanggapi ocehan-ocehan lucu omeganya yang masih terpengaruh oleh alkohol dan menanyakan apakah dirinya anak baik?; Apakah ia cantik?; Apakah badannya cukup sexy bila dibandingkan dengan omega lain? Dan masih banyak hal acak lainnya.

Lantas Suguru pun menjawab bahwa sang omega sudah sangat sempurna untuk dirinya yang penuh kekurangan ini. Suguru benar-benar merasa kurang dalam berbagai aspek. Sangat kurang. Hingga hari demi hari kepalanya dipenuhi dengan beragam pemikiran yang condong ia pertanyakan pada dirinya sendiri. Alpha muda ini mengalami krisis percaya diri dan terus saja mempertanyakan kesiapannya menjadi seorang pemimpin di keluarga kecil yang suatu saat nanti akan ia bangun.

Sebelumnya, ia tak menyadari bahwa mencintai seseorang berarti akan memiliki konsekuensi atau tanggung jawab yang tinggi. Usianya saat ini pun tidaklah terlalu muda, namun tidak pula terlampau dewasa. Ia hanya tinggal menunggu waktu untuk segera wisuda serta masuk dalam dunia kerja, sehingga kebingungan-kebingungan akan apa ia dapat bertanggung jawab atas hidup sang omega —seseorang yang sangat dicintai oleh kedua orang tuanya dengan sepenuh hati, selalu bermunculan di kepala sang alpha.

Suguru tidak tahu apakah nantinya keluarga sang omega akan merestui mereka hingga ke tahap yang lebih serius tersebut atau tidak, sebab Suguru belum memiliki apa-apa.

Sungguh ... ini adalah suatu dilema.

Di hati terdalamnya, tentu saja Suguru tak ingin dipisahkan dari sang omega. Berat sekali rasanya, sangat tidak rela. Akan tetapi, semoga saja hal itu tak akan pernah terjadi, ucapnya dalam doa kepada Sang Penguasa Semesta.

Suguru pun tak tahu apakah esok hari ketika telah sadarkan diri, omeganya ini akan mengingat pembicaraan mereka di sepanjang jalan … curahan hati seorang alpha yang dilanda kegusaran akan kehidupan di masa depan. Lantaran saat ini sang omega hanya menanggapi omongannya dengan gumaman yang tidak keruan.

☆☆☆

You probably don’t even know when you started hurting me

You’re hurting too ’cause you’re mine

☆☆☆

Seharusnya perjalanan mereka menuju ke apartemen hanya membutuhkan waktu yang sebentar. Namun, beberapa kali Suguru harus berhenti saat sang omega meminta diturunkan dari gendongan lantaran merasa mual. Akhirnya setelah perhentian yang ketiga, mereka pun duduk di pinggir taman, persis di seberang minimarket.

Kemudian Suguru meninggalkan sang omega sebentar untuk membeli minuman penghilang pengar. Langkah kakinya terburu-buru sekali karena khawatir omeganya akan berada dalam bahaya bila ditinggalkan seorang diri dalam kondisi yang seperti ini.

Sang alpha akhirnya membuka tutup botol minuman penghilang pengar yang baru saja dibeli olehnya dan memandu omega cantiknya untuk meneguk cairan tersebut secara perlahan. Botol minuman tersebut berukuran kecil sehingga sang omega tak perlu waktu yang lama untuk menghabiskannya. Setelahnya sang omega pun tertawa dengan menunjukkan giginya sambil mengacungkan ibu jarinya ke hadapan Suguru.

Pujian-pujian yang dilontarkan dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar ini pun terus saja Suguru dapatkan, seperti: Sugoi ne! Alpha yang terbaik! Pokoknya alpha keren punya aku doang!

Lantas Suguru menggelengkan kepala sambil tertawa dan kembali ia mengambil barang bawaan milik sang omega serta mulai memapah omega tersebut untuk melanjutkan sisa perjalanan.

Mereka kini telah tiba di kawasan apartemen dan hanya perlu berjalan beberapa meter lagi untuk mencapai lift.

Kemudian di dalam lift sang omega minta dilepaskan dari pegangan tangan sang alpha dan Suguru pun mau tak mau menurutinya. Namun, ia tetap memperhatikan gerak-gerik sang omega dengan saksama.

Posisi Suguru yang sudah berada di sudut sebelah kanan lift rasanya seperti semakin dipojokkan tatkala sang omega bergerak maju ke arahnya. Sang omega memainkan telunjuknya di hadapan Suguru dan berakhir menyentuh wajahnya. Terus saja jari itu bergerak selayaknya ketua regu yang sedang melakukan inspeksi terhadap anggotanya.

Sang omega kemudian mengecup bibir Suguru dalam waktu yang teramat singkat dan tersenyum di hadapannya. Suguru pun membalas senyumannya seraya menyentil pelan dahi sang omega dan diakhiri dengan ucapan, “Nakal!”

Sang omega terkekeh di tempatnya hingga akhirnya suara denting lift pun berbunyi diikuti dengan pintu yang terbuka. Mereka telah sampai di lantai 13, lantai hunian milik keduanya. Suguru kembali memapah sang omega untuk berjalan menuju ke depan pintu unit sang omega, mengarahkan jari sang omega pada mesin pengunci pintu agar dapat membaca sidik jarinya, dan setelah pintu terbuka mereka pun disambut oleh lampu yang menyala.

Barang milik sang omega berupa tas ransel kecil itu kemudian Suguru gantung pada gantungan yang berada tepat di sebelah rak sepatu. Setelahnya, ia pun mendudukkan sang omega di lantai agar dapat melepaskan sepatu yang omeganya kenakan dan juga sepatu miliknya sendiri. Setelah sepatu berhasil terlepas, Suguru meletakkannya di rak sepatu dan memilih untuk mengangkat tubuh sang omega ala bridal style ke dalam kamarnya.

Secara perlahan Suguru memosisikan sang omega di tengah ranjang. Namun, secara otomatis pula sang omega bergeser ke sebelah kiri dan memiringkan badannya. Omega ini juga menepuk-nepuk sisi yang kosong dengan tangan kirinya, seakan mengundang sang alpha untuk turut berbaring di sebelahnya.

Suguru menggelengkan kepala seraya berkata akan pulang ke unitnya saja. Namun, yang lebih muda terus saja membujuknya agar menginap di unitnya sekarang.

Helaan napas pun akhirnya Suguru lakukan, jika sudah begini bagaimana caranya untuk menolak? Yang ada ia nanti malah kerepotan akibat diteror via telepon.

Lantas ia berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengambil handuk beserta sebaskom air hangat yang telah diberi sedikit sabun cair dan akan ia gunakan untuk membersihkan tubuh sang omega agar tidak terlalu bau alkohol. Tak lupa ia pun mengganti pakaian sang omega, supaya omega cantik itu dapat tidur dengan nyaman.

Usai mengurusi sang omega, Suguru pun mengganti pakaian dengan kaos miliknya yang sempat dipinjam sang omega saat menginap di unitnya bulan lalu, dan meletakkan pakaian kotornya di keranjang pakaian.

Suguru kini berjalan ke arah ranjang, memosisikan diri di tempat yang kosong dan menarik selimut untuk menutup tubuhnya serta tubuh omega kesayangannya.

Kehadiran Suguru di atas ranjang disambut oleh sang omega. Langsung saja tubuh Suguru dipeluk selayaknya guling. Suguru memberikan kecupan di dahi sang omega dan hal itu membuat mata sang omega berkedip-kedip lucu.

Suguru pun dapat memastikan bahwasanya kesadaran sang omega sudah tujuh puluh lima persen menuju pulih lantaran ia dapat menjawab pertanyaan yang dilontarkan dengan baik, meskipun kepala sang omega masih terasa berat katanya.

Suguru mengusap-ngusap kepala sang omega dengan harapan yang lebih muda akan jatuh tertidur. Namun, malah dirinya sendirilah yang mulai mengantuk hingga akhirnya usapan di kepala sang omega pun berhenti ia lakukan.

Sang omega yang menyadari bahwa Suguru telah kelelahan, lantas mencoba mendudukkan diri untuk membenahi posisi tidur lelaki kesayangannya itu. Setelah merasa posisinya sudah lebih baik, sang omega pun mengecup dahi alphanya. Kembali ia memosisikan diri untuk tidur di sebelah sang alpha sembari memeluknya. Tidak terlalu erat seperti sebelumnya, karena sang omega takut Sugurunya tidak bisa tidur dengan nyaman.

Keesokan harinya, sang omega terbangun lebih dahulu dari Suguru. Ia tahu bahwasanya Suguru sangat kelelahan untuk mengurus dirinya setiap kali mereka berakhir mabuk. Lantas omega muda ini melangkahkan kakinya menuju ke dapur untuk meminum air, lantaran tenggorokannya terasa sangat kering dan perutnya sedikit mual. Tanpa pikir panjang, ia pun mengambil ponsel di dalam ransel yang Suguru letakkan di gantungan tas dan diteleponnya layanan pesan antar makanan. Ia memesan sup miso untuk meredakan mabuk sebanyak dua porsi dan juga Dango—camilan dari tepung beras yang dilumuri saus manis dan ditusuk seperti satai.

Berhubung hari Sabtu ini tidak ada jadwal bimbingan skripsi, sang omega pun akhirnya membiarkan Suguru tetap tidur hingga makanan tiba. Lantas yang ia lakukan untuk mengisi waktu adalah mencuci pakaian yang ada di keranjang pakaian kotor serta menjemurnya. Mumpung cuaca cukup cerah, pikirnya.

Saat hendak menjemur, tiba-tiba saja bel pintu unitnya berbunyi. Dengan terburu sang omega melihat ke interkom untuk memastikan apakah yang datang adalah kurir layanan pesan antar atau bukan. Ketika sang omega mendapati kurir yang membawa pesanannya, langsung saja ia membuka pintu dan tentunya ia juga sudah melakukan pembayaran menggunakan dompet digital.

Dibawanya makanan tersebut ke dapur dan diletakkan di atas meja makan. Sang omega juga menyiapkan mangkok, piring, gelas, sendok, dan sumpit. Makanan pun ia tata sedemikian rupa di atas meja, dan kemudian ia melangkahkan kaki menuju ke kamar untuk membangunkan Suguru.

Sang omega mendudukkan diri di pinggir ranjang dan menepuk-nepuk telapak tangan Suguru. Namun, tak ada pergerakan dari yang bersangkutan. Lantas ia mendekatkan diri ke arah telinga Suguru untuk membisikkan kata-kata seperti: Suguru, bangun. Aku udah beli sarapan, lho. Ayo bangun, Alpha ... kita harus sarapan! ; tetapi tetap saja Suguru bergeming.  

Belum menyerah, sang omega pun mencolek-colek hidung alphanya. Sang omega tidak tahu saja bahwa Suguru tengah kesulitan setengah mati untuk menahan tawa akibat kegelian. Namun, ketika sang omega mulai merajuk dan hendak pergi meninggalkan kamar karena Suguru sulit dibangunkan, akhirnya Suguru menarik lengan sang omega dan membuat si cantik terjatuh di atas tubuhnya.

Kemudian Suguru membalik posisi tubuh mereka seraya berkata, “Jangan ngambek, aku udah bangun, kok. Aku cuma mau godain kamu aja.” Dan, ucapan itu diakhiri dengan kecupan halus di bibir sang omega.

Sang omega pun menepuk pundak Suguru, ia merasa malu dan wajahnya memerah karena ulah yang lebih tua. Akhirnya, Suguru segera bangkit dari kasur dan mengulurkan tangannya kepada sang omega agar ia bisa bangun serta pergi menuju ke dapur bersama-sama.

Kini keduanya tengah menyantap hidangan yang dipesan sebelumnya dan memosisikan diri untuk duduk berhadapan. 

Pada awalnya tak ada yang berbicara hingga sang omega merasa mengingat sesuatu walaupun samar-samar akibat mabuk semalam. Namun, ia yakin bahwa kekasihnya ini sempat membicarakan suatu hal tatkala dirinya masih terpengaruh oleh alkohol. Lantas ditanyakanlah oleh sang omega.

“Kamu ada ngomong sesuatu ‘kan tadi malam?”

Suguru meletakkan sumpit dan mengurungkan niatnya untuk mengambil Dango di hadapannya. Ia menatap sang penanya dengan senyum yang tersemat pada bibirnya. Lantas ia berkata, “Ngomong apa coba emangnya?”

Kontan sang omega pun mengedikkan bahunya. “Gak tahu. Gak ingat persis. Cuma kayaknya kamu serius gitu ngomongnya. Emang apa, sih?”

Suguru kemudian mengisi gelas yang sudah kosong dengan air mineral dan menyerahkan gelas tersebut kepada sang omega. Tanpa pikir panjang, sang omega menerima gelas tersebut dan segera meneguk isinya, sedangkan Suguru menghela napasnya entah karena apa.

Pada akhirnya, bukannya menjawab pertanyaan justru Suguru balik bertanya, “Aku udah cukup baik belum sih, buat kamu?”

Sebagai pihak yang ditanya, sang omega melotot seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Mengapa pula alphanya menanyakan hal semacam ini? Bahkan sang omega pun bertanya-tanya dalam hatinya. Takut apabila ia telah melakukan kesalahan terhadap Suguru sehingga sang omega pun berkata, “Lebih dari baik. Lagian kenapa sih nanya hal begini? Ini ada kaitannya dengan yang kamu omongin pas aku mabuk semalam? Aku ada salah apa emangnya? Coba dong jelasin dulu biar aku paham ke mana arah atau tujuan dari pembicaraan kita ini.”

Emosi sang omega sedikit memuncak sehingga feromonnya agak menyengat meskipun tentu saja tidak parah seperti saat ia mengalami heat.

Lantas Suguru pun mendekat ke arahnya dan berlutut sembari mengusap-ngusap punggung tangan sang omega. Suguru seakan tersangka yang sedang memohon pengampunan agar tak dilimpahi hukuman. Suguru mengecup tangan sang omega seraya berkata, “Aku cuma tanya aja, kok. Gak ada apa-apa, serius. Kamu juga gak ada salah apa-apa. Jangan marah dong … please ... nanti Alpha sedih.”

Sang omega mengerucutkan bibirnya, tak ingin kalah imut dari alphanya yang memiliki banyak sekali persona. Terlintas dalam benak sang omega bahwasanya Suguru sedang memikirkan sesuatu. Namun, lelaki itu belum bisa memberitahukannya sekarang. Entahlah. Rasanya agak mengganjal. Sungguh ingin sekali ia merutuki dirinya sendiri yang terlampau mabuk sehingga tak dapat mengingat apa pun dengan jelas.

Lantas sang omega pun bangun dari duduknya dan membantu Suguru untuk berdiri setelahnya. Dalam hitungan detik, sang omega segera memeluk Suguru. Menurut instingnya, pelukan inilah yang dibutuhkan oleh sang alpha. Kemudian ia berkata, “Kalau ada apa-apa, tolong cerita. Jangan dipendam sendiri aja! Tapi, jangan juga ceritainnya pas aku lagi mabuk. Gak adil tahu rasanya. Padahal aku juga sering ngeluh sama kamu, berbagi cerita apa pun ke kamu, tapi kamu malah gak berbuat hal yang sama juga.” Sang omega menjeda ucapannya sesaat. “Lalu selain gak adil, rasanya aneh. Hati aku rasanya gak tenang. Mungkin ini yang dibilang sama orang tua zaman dulu kalau kita tuh bisa ngerasa sakit karena orang yang kita sayang juga sakit. Jadi … jangan nyakitin diri kamu sendiri, ya. Bagi beban pikiranmu sama aku,” lanjutnya.

Lantaran tak tahu harus menjawab apa, alhasil Suguru hanya mengangguk seraya memeluk erat kekasih hatinya.

☆☆☆

I just want to blow your mind

You’re only drifting further away like this

I say that it’s all fine

The truth is that’s a lie

☆☆☆

Setelah selesai sarapan bersama, Suguru pun mencuci segala peralatan makan yang mereka gunakan, sedangkan sang omega kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda yaitu menjemur pakaian.

Mereka akhirnya selesai mengerjakan segalanya dalam waktu yang bersamaan dan keduanya kini mendudukkan diri di ruang tengah untuk beristirahat.

Televisi sang omega nyalakan dan ia pun mengajak Suguru untuk menonton sebuah film animasi di Netflix yang berjudul “Josee, the Tiger and the Fish”.  Sebuah film animasi bergenre slice of life dan romance, merupakan adaptasi dari buku yang mengisahkan tentang seorang mahasiswa laki-laki pekerja paruh waktu di toko peralatan menyelam dan ingin berkuliah ke Mexico lantaran ingin melihat secara langsung kawanan ikan Clarion Angel. Namun, secara dramatis ia bertemu dengan seorang perempuan di malam hari saat perempuan itu mengalami lepas kendali pada kursi rodanya ketika menuruni bukit yang curam.

Film animasi berdurasi seratus enam belas menit ini berhasil menghipnotis sang omega untuk hanyut dalam kisah yang disuguhkan. Menurut sang omega, sosok Kumiko di sini sangat menggemaskan karena tidak memahami apa yang ia rasakan, bahkan terlampau gengsi untuk mengakui segala pengalaman pertamanya. Sedangkan Tsuneo adalah sosok yang baik, tidak merasa keberatan untuk menemani atau bahkan meremehkan segala ketidaktahuan Kumiko. Meskipun pada awalnya Tsuneo sebal dengan tingkah Kumiko, tetapi akhirnya ia sadar bahwa Kumiko hanya kesulitan berkomunikasi dengan orang lain sebab perempuan itu pun tak pernah mengenal dunia luar.

Lantas Suguru menyetujui pendapat omeganya, walau pada kenyataannya, setelah menonton film ini kepala Suguru jadi terasa penuh kembali.

Dari film ini Suguru menyimpulkan bahwa segala impian bisa tercapai bila direncanakan dan diusahakan. Namun, dalam perencanaannya pun tidaklah semulus itu. Akan ada faktor-faktor lain yang bisa saja menjadi hambatan, seperti halnya yang dialami Kumiko dan Tsuneo di film tersebut. Titik balik terjadi ketika nenek Kumiko meninggal dunia, membuat Tsuneo sedikit kebingungan dan mungkin merasa tidak bisa meninggalkan Kumiko sendirian. Padahal Tsuneo bukanlah siapa-siapa, hanya seorang pria yang kebetulan dibayar oleh nenek Kumiko untuk menemani Kumiko dan menuruti segala permintaan perempuan itu, sebut saja sebagai penjaga. Namun, kesalahpahaman pun datang menghampiri dan membuat keduanya dihadapkan pada suatu kecelakaan serta berakhirnya impian yang tak bisa diwujudkan menjadi kenyataan. Akan tetapi, kisah keduanya tetap berakhir manis dengan saling mengakui perasaan masing-masing bahkan mungkin mereka telah memiliki opsi untuk mewujudkan impian lainnya bersama-sama.

Sebuah kisah yang indah menurut Suguru. Namun, Suguru sendiri tidak yakin akan bisa bersikap seperti Tsuneo. Suguru tidak bisa bertindak serampangan dan terlalu menganggap segalanya mudah untuk dilakukan. Suguru tetap harus memikirkan masa depan dengan matang dan secara perlahan, pikirnya.

Suguru yang sedari tadi memosisikan kepalanya di pangkuan sang omega, lantas terlonjak kaget ketika sang omega tiba-tiba saja berdiri. “Astaga!” teriaknya yang hampir tersungkur dan refleks memegang sudut meja agar tak jatuh ke lantai.

“Ah … maaf maaf,” ucap sang omega panik dan ia pun langsung berjongkok di hadapan sang alpha. “Kamu, sih … dari tadi melamun terus. Aku udah manggil berapa kali, deh. Tapi kamu malah diam aja,” lanjutnya sambil mengerucutkan bibirnya.

Suguru mulai mendudukkan dirinya seraya memegang pipi sang omega dengan kedua tangannya. Suguru tersenyum melihat omeganya yang mengerucutkan bibirnya tersebut. Suguru tahu bahwa sang omega kesal padanya, karena ia tidak suka merasa diabaikan apalagi saat sedang berbicara. Lantas Suguru pun berkata, “Maaf, aku gak dengar. Soalnya aku masih kepikiran sama film tadi.”

“Huh, bukan mikirin hal lain, ‘kan?”

Suguru menggelengkan kepala seraya mengusap kepala sang omega dengan penuh sayang. “Bukan. Emang aku mikirin apa coba? Everything is alright, apalagi ada kamu di sisi aku. Aku gak perlu khawatir akan apa pun, ‘kan?”

Lantas sang omega memeluk Suguru dan yang lebih tua pun balas memeluknya. Namun, dalam hati Suguru berucap maaf. Maaf sekali, karena rasanya ia belum bisa untuk mengatakan apa pun pada omega kesayangannya ini. Benar-benar belum bisa, belum sanggup. Tidak bisa bila harus jujur sekarang. Jadi, biarkan untuk sementara waktu tetap berjalan seperti ini, seakan semuanya baik-baik saja walaupun itu hanyalah kebohongan semata.

☆☆☆

I want you to be your light, baby

You should be your light

So you won’t hurt anymore, so you can smile more

☆☆☆

Hari itu akhirnya mereka habiskan dengan berbagai kegiatan di luar rumah seperti berbelanja ke supermarket, membeli jajanan di pinggir jalan, hingga makan malam bersama di sebuah restoran ramen pun mereka lakukan. Sang omega ingin ramen katanya dan Suguru pun menuruti keinginannya, mengingat tadi pagi sang omega -lah yang sudah membeli sup miso untuk meredakan mabuk.

Setelah pesanan datang, sang omega pun menyantapnya dengan lahap bahkan di sudut bibirnya berlepotan kuah ramen. Suguru menahan tawanya seraya mengarahkan ibu jarinya untuk membersihkan kuah tersebut dari wajah yang lebih muda.

Hal itu tentu mengganggu aktivitas sang omega, secara otomatis ia berhenti menyuapkan mi ke dalam mulutnya. Degup jantungnya jadi tidak beraturan dan rona merah di wajahnya pun mulai bermunculan. Sang omega jadi tersedak lantaran ingin berucap sesuatu, namun tertahan di tenggorokan.

Dalam hati sang omega pun membatin, bisa-bisanya lelaki di hadapannya ini selalu tahu caranya bersikap manis dan mengobrak-abrik hati serta pikirannya. Ada saja caranya. Padahal cuma membersihkan noda makanan, tetapi kenapa rasanya seperti diajak untuk naik pelaminan? Sungguh … ini gila.

Secara sigap Suguru menyerahkan gelas air minum untuk sang omega dengan pandangan yang khawatir.

Lantas ketika sang omega sudah tak terbatuk lagi, ia pun berkata, “Pakai tisu coba, ih! Jorok banget! Masa pakai jempol gitu!”

Suguru pun tertawa. “Jorok gimana, sih? Kan bekas kamu juga lagian.”

“Uh, terserahlah,” ucap sang omega yang salah tingkah dan menutupi wajahnya dengan pura-pura minum dari gelas.

Lagi-lagi Suguru tertawa melihat tingkah omeganya dan hal itu pun membuat sang omega merasa lebih tenang sebenarnya. Sang omega lebih suka melihat Suguru yang tertawa karena ulahnya. Sang omega lebih suka melihat Suguru yang bahagia menghabiskan hari bersamanya. Sang omega lebih suka melihat Suguru yang tersenyum dengan indahnya. Sang omega lebih suka Suguru yang ceria.

Lantaran Suguru yang ceria terlihat lebih bercahaya dan cahayanya menghangatkan hatinya. Bahkan sang omega bertanya-tanya, seperti apa sebenarnya dirinya ini di hadapan Suguru; apakah Suguru juga merasakan apa yang ia rasakan?

Saat ini, sang omega merasa bahwa dirinya belum bisa memiliki peran yang sama dengan Sugurunya. Dalam hatinya yang terdalam, sang omega juga ingin menjadi cahaya dan menyinari hati Suguru, supaya lelakinya itu bisa merasakan kehangatan tanpa perlu merasa kesakitan sendirian, dan tentunya jadi bisa tersenyum lebih indah daripada biasanya.

Sang omega sangat menyadari bahwa ada yang salah dengan lelakinya saat ini. Tetapi, apakah sang omega akan cukup berani untuk bertanya sekali lagi dan memastikan bahwa segalanya baik-baik saja seperti apa yang telah diucapkan oleh Sugurunya?

☆☆☆

I want you to be your night, baby

You could be your night

I’ll be honest with you tonight

☆☆☆

Tepat di pukul sembilan malam, Suguru mengantarkan sang omega pulang ke unit apartemennya dan juga membantunya untuk menata barang belanjaan sang omega ke dalam kulkas serta laci di dapur. Mereka bekerja dalam diam karena ingin segalanya cepat selesai.

Setelah semuanya selesai, Suguru pun mencuci tangannya di wastafel dan sang omega pun turut melakukan hal yang sama. Kembali Suguru tersenyum melihat ulahnya. Bagi Suguru, sang omega adalah omega terlucu dan tergemas sedunia. Tak heran bila semakin hari ia semakin mencintainya. Namun, tetap saja pikirannya tak bisa teralihkan dari bayangan akan kesiapannya bertanggung jawab secara penuh atas hidup dan kebahagiaan omega di sampingnya ini.

Sebenarnya Suguru sadar bahwa dalam hidup ini tak mungkin segala sesuatunya akan berjalan lempeng seperti penggaris, pasti ada lika-liku layaknya rel kereta api yang bahkan bisa berpindah jalur. Sangat memungkinkan untuk berubah-ubah, dinamis, bukan statis.

Menurutnya, mencintai seseorang pun merupakan anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan tentu saja. Tetapi, itu berlaku apabila yang dicintai juga membalas cinta tersebut. Namun, mencintai juga bisa menjadi beban apalagi bila kondisi sosial dan ekonomi terasa tidak memungkinkan.

Suguru bingung sebenarnya. Tetapi, kebingungan Suguru ini dapat dikatakan sebagai perbuatan overthinking dan membuatnya merasa takut, merasa kecil, serta merasa tak ada apa-apanya. Terlebih Suguru adalah seorang yatim piatu sejak dua tahun lalu. Hingga akhirnya pikiran-pikiran negatif perlahan menggerogoti ketenangan di dalam kepalanya.

Suguru ingin sekali melakukan yang terbaik untuk sang omega. Suguru ingin sekali bisa terus membahagiakan sang omega. Suguru ingin sekali bisa terus menjadi tempat sang omega bergantung. Suguru ingin sekali selalu menghabiskan waktu bersama sang omega. Suguru juga ingin sekali orang tua sang omega merasa bangga—ah, tidak perlu bangga, paling tidak merasa tenang bila harus melepaskan anak sulung mereka kepada alpha seperti dirinya. Hanya itu, itu saja keinginannya.

Lantas di malam ini apakah Suguru bisa mengutarakan itu semua? Apakah Suguru sudah benar-benar siap untuk jujur kepada omeganya? Suguru ingin sekali jujur, tetapi apakah sang omega bersedia mendengar kegusaran hatinya? Karena semakin lama Suguru pendam, rasanya tidak enak juga. Suguru bukannya tidak tahu bila sesekali sang omega mencuri pandang ke arahnya untuk memastikan bahwa dirinya sungguh baik-baik saja. Suguru peka, sangat peka … dan rasanya ia tak bisa untuk menahan diri lagi lebih lama.

☆☆☆

Now promise me

Several times a day

Even if you feel that you are alone

Don’t throw yourself away

☆☆☆

Alih-alih berpamitan pulang ke unitnya, Suguru malah berjalan menuju ke sofa ruang tengah, tempat yang mereka gunakan saat menonton film tadi pagi. Sang omega pun mengikuti ke mana Suguru pergi. Setelahnya, sang omega juga melakukan hal yang sama dengan Suguru yaitu merebahkan tubuh di atas sofa. Mereka berbagi ruang dan mulai memeluk satu sama lainnya.

Suguru mengecup puncak kepala sang omega berulang kali dan omega itu tertawa pada akhirnya.

Sang omega juga mencubiti pipi Suguru lantaran merasa gemas. Sang omega seringkali berpikir bahwa Tuhan terkadang tidak adil, segala kesempurnaan sepertinya sudah diberikan kepada sosok Getou Suguru sehingga dirinya hanya mendapatkan sisa-sisa dari kesempurnaan yang ada. Namun, Tuhan juga Maha Pemurah lantaran ia diberikan kesempatan untuk memiliki Suguru di dalam hidupnya, hanya untuk dirinya seorang. Sungguh … manusia mana pun di muka bumi ini akan iri kepadanya, tentu saja.

Tak hanya mencubiti pipi, sang omega juga memainkan wajah Suguru dengan kedua tangannya, sehingga pipi Suguru sebentar terlihat mengerut, sebentar bibirnya terlihat lebih maju, sebentar pipinya terlihat lebih tembam, dan akhirnya kecupan halus pun kembali sang omega berikan.

Suguru kemudian memasang ekspresi pura-pura marah karena omeganya telah berbuat jail. Namun, sang omega justru semakin tertawa. Lantas Suguru semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh sang omega dan berakhir membuat tubuh omega tersebut jadi berada di atas tubuhnya.

Kini keduanya saling bertatapan layaknya kontes adu tatap mata dan yang bertahan dialah juaranya. Namun, sang omega tak bisa menahan lebih lama hingga akhirnya ia menjatuhkan wajahnya tepat di ceruk leher Suguru. Sang omega merasa malu. Sangat malu. Ia yakin wajahnya pasti sudah sangat merah. Mereka pun bertahan pada posisi itu dalam waktu yang cukup lama, dengan Suguru yang terus mengusap-usap kepala sang omega menggunakan tangan kanannya.

Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara, mereka benar-benar menikmati keheningan—yang sebenarnya tidak terlalu hening akibat suara  jarum jam, suara degup jantung, dan deru napas masing-masing. Kemudian Suguru memiringkan tubuhnya ke kiri dan membuat sang omega jadi berhadapan dengannya. Dikecupnya dahi sang omega sebelum ia berkata sesuatu.

“Sayang,” ucapnya dengan suara yang sangat halus.

Sang omega kini menatap ke arah Suguru dan menaikkan kedua alis serta melebarkan matanya, seakan berkata: Iya, kenapa?

“Sebenarnya ….”

“Ada yang ganggu pikiran kamu, ‘kan?” tembak sang omega.

Suguru tersenyum dan mengangguk menanggapi apa yang omeganya katakan. Lantas sang omega pun kembali berbicara, “Ya udah, coba ceritain. Aku bakal dengar sampai akhir.”

Sebelum bercerita, Suguru pun mengecup dahi sang omega lagi. Akhirnya Suguru menceritakan segala keresahannya. Apa yang telah mengganggu pikirannya dalam beberapa waktu terakhir hingga puncaknya di malam kemarin dan dengan tidak bernyalinya ia malah mengajak sang omega yang dalam kondisi mabuk untuk mengobrol. Tentu saja ia tak benar-benar ingin sang omega mengetahui hal tersebut kala itu.

Hingga ratusan sekon pun berlalu, bola mata sang omega jadi berkaca-kaca usai mendengarkan cerita sang alpha. Jujur, sang omega sedih lantaran Suguru terlalu berpikir keras seorang diri tentang masa depan mereka. Sang omega sedih lantaran ia seperti pasangan yang tidak peka. Sang omega sedih lantaran tak bisa mengimbangi Suguru yang bersikap lebih dewasa daripada dirinya. Akan tetapi, seharusnya hal itu menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya alphanya saja. Seharusnya tak ada yang perlu dirahasiakan lagi bila itu menyangkut urusan berdua. Seharusnya mereka lebih banyak bercengkerama, mencari solusi, serta bersama-sama memutuskan segala sesuatunya.

Sang omega sedikit banyaknya merasa bersalah karena tak pernah berpikir bahwasanya sang alpha membutuhkan bantuannya, butuh pencerahannya, dan butuh sang omega untuk dapat mengenalkannya pada orang tuanya. Lantas secara perlahan sang omega pun menjelaskan bahwa kedua orang tuanya tidak mungkin berpikiran buruk terhadap Suguru. Alphanya adalah seorang pekerja keras, sosok yang perhatian, pengertian, pasti orang tuanya akan menerima kehadirannya dengan tangan terbuka. Lebih dari itu, mereka pun tidak pernah mengajarkan sang omega untuk menilai orang lain dari satu sudut pandang saja. Sang omega juga meyakinkan bahwasanya apa yang sang alpha pikirkan hanyalah kekhawatiran tak mendasar semata. Hal buruk itu tidak akan terjadi apabila mereka tetap terus bersama-sama serta meyakinkan kepada dunia bahwa mereka memang layak menjalani kehidupan berdua, selamanya.

Kesedihan sang omega pun memuncak tatkala Suguru mengungkit perihal orang tuanya yang telah tiada. Sang omega benar-benar tak bisa membendung air matanya, bahkan netra Suguru pun turut berkaca-kaca. Sang omega tidak mengetahui secara pasti beban hidup macam apa yang Suguru emban selama ini, sebelum bertemu dengannya lebih tepatnya. Seorang alpha yang menjalani kehidupan dalam kesendirian, berjuang memenuhi kebutuhan hidup sebagai penerjemah bayaran, dan tak memiliki tempat untuk dijadikan sandaran.

Lantas malam ini sang omega dengan sepenuh hati meminta kepada Suguru untuk membuat janji padanya agar ia tak perlu lagi merasa sendirian, dan membagi segala beban pikiran yang mengganggu kenyamanannya dalam proses meraih kebahagiaan.

Suguru pun akhirnya menggarisbawahi apa yang kekasihnya ucapkan di dalam otaknya.

☆☆☆

Hold on for a moment

Intertwine our pinkies

And promise me now

☆☆☆

Suguru mulai menghapus air mata sang omega yang berlinang membasahi wajahnya, kemudian ia pun memberikan kecupan-kecupan di seluruh wajah sang omega. Mulai dari dahi, pelipis, kelopak mata, pipi, hidung, dagu, dan terakhir di bibir; dengan harapan sang omega akan berhenti menangisi apa yang telah ia utarakan sebelumnya.

Kemudian Suguru kembali membuat sang omega berada di atas tubuhnya dan ia juga mulai mendudukkan diri untuk melihat dengan jelas wajah sang kekasih. Suguru memeluk sang omega erat dan menciumi ceruk leher omeganya. Suguru ingin menebarkan rasa tenang dan aman untuk sang omega. Suguru pun membisikkan kata-kata penenang serta ucapan terima kasih berkali-kali kepadanya. Terima kasih lantaran telah mendengarkan ceritanya. Terima kasih lantaran telah mengerti dirinya. Terima kasih lantaran telah selalu ada di sisinya. Terima kasih lantaran telah membuka hati dan pikirannya. Terima kasih lantaran telah membantunya keluar dari jurang kekhawatiran yang tak mendasar, serta terima kasih untuk mau berusaha berjalan beriringan dengannya dan saling berjanji untuk memikirkan masa depan bersama-sama.

Bukannya berhenti, sang omega justru semakin tersedu-sedu. Lantas Suguru jadi memperlakukannya seperti anak kecil. Membujuknya dengan kata-kata bak mantra penuh cinta. Lantas sang omega pun tiba-tiba saja mengarahkan kelingkingnya ke hadapan Suguru dan membuatnya sedikit mengernyit kebingungan. Tangan sang omega yang lain akhirnya menarik kelingking Suguru dan mulai menautkannya, persis di depan wajah keduanya.

Suguru tak bisa menahan senyumnya, bahkan matanya sudah menyipit seperti bulan sabit. Suguru kemudian menggoyang-goyangkan tautan kelingking mereka dan hal itu membuat sang omega tertawa setelahnya.

“Janji, ya, untuk gak overthinking sendirian lagi …,” ucap sang omega.

Suguru mengangguk dengan pasti seraya menjawab, “Janji, asalkan kamu juga selalu ada di sisi aku.”

Sang omega melepaskan tautan kelingking mereka dan memeluk Suguru setelahnya. Ia menempatkan kepalanya di pundak Suguru seraya berujar, “Aku gak akan ke mana-mana, Alpha.”

Sang omega yang asyik memeluk Suguru tidak menyadari bahwa posisi duduk sang alpha telah berubah dan menempatkan kakinya ke lantai. Lantas tanpa aba-aba Suguru berdiri sambil menahan tubuh sang omega yang semula duduk di pangkuannya. sang omega terlonjak kaget. Namun, Suguru hanya tertawa menanggapinya.

Kini Suguru melangkahkan kakinya menuju ke toilet dan menurunkan sang omega sesampainya mereka di hadapan wastafel. Mereka harus menggosok gigi sebelum tidur, pikir Suguru. Mengingat kemarin malam keduanya tak melakukan aktivitas tersebut lantaran dalam kondisi agak mabuk.

Kemudian mereka bersenda gurau sambil melihat pantulan diri masing-masing di depan kaca. Setelahnya, Suguru kembali mengangkat tubuh sang omega untuk dibawa ke dalam kamar. Sang omega sedikit berteriak heboh lantaran posisi tubuhnya sekarang layaknya karung beras yang diangkut oleh para pekerja di pasar. 

Setelah melangkah ke kamar, langsung saja Suguru memosisikan sang omega di atas kasur dan mengulang kembali kegiatan yang ia lakukan seperti kemarin malam, yaitu mengganti pakaian sang omega dengan piama serta menyelimutinya. Tak lupa kecupan selamat tidur pun Suguru berikan padanya. Lantas keduanya pun berakhir berpelukan di bawah selimut yang sama.

Dalam posisi yang saling berpelukan, sang omega tiba-tiba saja berucap sesuatu. “Bisa gak sih kita satu unit apartemen aja?”

“Hmmm? Tiba-tiba banget bilang gini. Kenapa?”

“Habisnya kamu juga lebih sering ada di sini ketimbang di unitmu sendiri.”

Suguru yang dasarnya memang murah senyum, lagi-lagi tersenyum seraya berkata, “Ya, tapi itu juga kan karena kamu yang sering minta aku di sini aja. Gimana, sih?”

“Ya udah, makanya di sini aja. Bawa barang-barang kamu ke sini, semuanya,” ujar sang omega sambil memainkan telunjuknya di tulang selangka Suguru.

Suguru menangkup wajah sang omega. Menatap matanya dalam dan kemudian berujar, “Bahaya, ah. Nanti kamu gak punya tempat berlindung kalau heat. Aku juga gak mau ambil risiko. Aku belum ketemu orang tua kamu, ingat?”

“Hmmm.”

Step by step, ya, Sayang. Aku mau courting kamu di hadapan orang tuamu dengan layak. Meskipun kita udah saling janji bakalan terus sama-sama, tapi aku tetap ingin melakukan yang terbaik untuk kamu. Tunggu, ya,” ucap Suguru dengan penuh kelembutan.

Lantas hati siapa yang tidak meleleh jika diperlakukan sangat istimewa oleh kekasih hatinya. Sungguh, lagi-lagi sang omega merasa bersyukur karena dapat memiliki Getou Suguru hanya untuk dirinya seorang. Sang omega kemudian mengucapkan I love you, sangat pelan sekali. Namun, sang alpha tetap dapat mendengarnya dengan jelas.

Akhirnya, ucapan tersebut pun Suguru balas dan tentu saja hal itu menjadi pengantar bagi sang omega untuk tidur dengan pulas.

Kini hati dan pikiran Suguru menjadi lebih tenang sebab ia telah mengutarakan segala yang ia rasakan. Lagi-lagi ia menggarisbawahi bahwa masa depan bukanlah dirinya sendiri saja yang menikmati sehingga pujaan hatinya pun berhak turut andil dalam segala keputusan yang ingin mereka jalani. Suguru jadi merasa sangat bersyukur karena Tuhan telah mempertemukannya dengan orang yang tepat sehingga di kehidupan singkat ini ia dapat merasakan cinta yang begitu hebat, bahkan terlampau dahsyat.

 

Fin.

Notes:

Sejujurnya aku malu ... aku gak tahu apa yang ada di pikiran Yeji setelah baca cerita ini.
Maaf kalau ceritanya gak sesuai dengan selera Yeji, ya ~
Once again, happy birthday!!