Actions

Work Header

pertinacious

Summary:

(adj.) stubbornly persistent

"Kalau kamu ingin mencapai sesuatu, kamu harus berjuang mendapatkannya." Ia telah membuktikannya dan bermaksud akan membuktikannya kembali, demi cita-citanya.

(This is literally just me blurting out nonsense about him and his "saving humanity" stuff. Almost a character study, but not quite. Lesson 11 & 14 NB drove me insane.)

Notes:

Karakter Solomon (Obey Me!) di dalam fanfiksi ini adalah milik NTT Solmare Corp. Tidak ada keuntungan komersial yang diperoleh atas karya ini.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Solomon akui dirinya sangat keras kepala.

Namun sebelum ia sempat meneruskan argumennya terkait hal itu, mendapat sebuah perasaan bahwa kini ia sedang tertidur, ia kemudian melihat bentangan putih yang luas, dengan langit malam yang sepi tanpa kawanan bintang yang menghiasi, laksana samudra dalam gulungan film hitam-putih. Bentangan itu menjelma lautan tanpa warna yang terlihat amat nelangsa, lampau (dan menakutkan). Ia sudah seringkali melihat mimpi ini: ia menganggapnya sesuatu yang stagnan, sementara ia tersesat di dalam adegan membosankan itu hingga tiba waktunya suatu petunjuk didapatkan darinya. Hidupnya sudah sangat terlalu lama — ia berhenti berhitung agar tetap waras.

Kekeraskepalaannya sudah benar-benar menahun, tetapi ia tak pernah mempermasalahkannya. Ia justru membutuhkannya agar dapat berjalan maju. Ia tak senang berjalan di tempat. Ia ingin terus bergerak mendekati tujuannya meskipun dalam langkah yang satu-satu dan perlahan. Atau mengesot pun tak mengapa, selama ia masih tetap berada di jalan yang semestinya.

Bentangan itu lalu lenyap, dan hanya menyisakan langit malam yang kelabu di sekitar serta satu kotak kecil yang tergeletak tak jauh darinya. Kotak yang berkelip-kelip itu seolah memanggilnya — atau mungkin mengoloknya. Ingin sekali rasanya ia merobek-robek kotak malang itu agar cahayanya tak dikurung lagi oleh kejamnya kegelapan. Mengapa harus ada kegelapan? Karena dunia ini hitam dan putih. Dan mengapa harus ada hitam dan putih? Ke mana warna lainnya? Mungkin warna monoton ini membutuhkan sesuatu yang lain? Abu-abu, misalnya? Sesuatu yang setidaknya bisa mengelabui otak pria ini bahwa ia tak sendirian. Akan tetapi, mengelabui pun sebenarnya merupakan suatu penghinaan bagi harga dirinya yang tinggi namun rapuh itu. Ya, ia berhak sombong atas semua pencapaian yang telah diperolehnya selama ini, bukan?

Sudah sangat lama. Kalau pun memang ia sedang bermimpi, entah mengapa ini membuatnya memikirkan segala hal dari masa lalu. Ingatannya seperti tercelup dalam minyak hitam yang busuk baunya, dan hanya semangat jiwanya yang mampu mengikat ingatan itu pada batang otaknya saat ini. Merupakan suatu keajaiban bahwa sebagian besar ingatan itu masih tercetak di sana, tak lekang oleh waktu. Di dalam ingatan ini, ada kampung halamannya: hamparan langit dan daratan yang berdempet mesra, sangat lapang dan tanpa batas; deretan bangunan seragam yang sederhana namun kokoh, begitu asri, tenang, dan memberikan kesan masyarakat yang konservatif; jalanan batu dibelai perlahan oleh angin dan dedaunan musim gugur; serta bantalan kapas putih raksasa yang mengambang di udara, sesekali ia cemburui atas kebebasan benda itu di langit yang luas. Samudra, ya, samudra. Ia ingat pernah mencemburuinya juga. Mengapa warnanya sangat cerah? Tak peduli siang maupun malam, pantulan airnya sangat jernih dan murni; ia dengan geli mengingat pernah berharap hatinya bisa kembali menjadi seperti itu juga. Mengapa ia tak mampu menjangkaunya? Tangan-tangan kotornya hanya mampu meraba-raba permukaan kaca, yang membatasi dunianya dan dunia luar. Jendela itu. Jendela berengsek itu benar-benar harus dihilangkan — ah, seandainya ia memiliki hati untuk itu.

Lalu ia teringat malam hari. Malam hari, gelap sekali. Seharusnya malam hari pada waktu itu dipenuhi bunyi-bunyian makhluk yang menenangkan; bisa saja bunyi-bunyi berupa jangkrik, burung hantu, serigala, burung walet, ataupun kucing. Pemandangan padang rumput akan melengkapi semua itu. Berayun-ayun ujung daunnya yang runcing, disertai sepoi-sepoi angin yang membawa hujan pada bumi subur yang basah karenanya; ah, dulu ia selalu ingin menghirup aromanya yang nyaman. Awal kehidupan manusia adalah yang sangat krusial. Orang bilang usia dimulai sepuluh tahun adalah waktu yang ideal untuk mengingat semuanya, tetapi bagi dirinya permulaan itu berisikan kegelapan, pekikan tikus, bau pengap, tembok hitam, dan jendela. Jendela itu. Oh, demi siapa pun yang memiliki dunia ini, terutama jendela itu dan lautan di seberangnya.

Entah bagaimana caranya, ia akhirnya berhasil menghancurkan kotak kecil bercahaya itu dengan tangannya sendiri. Sungguh puas hatinya! Kali ini ia melihat samudra itu, di bawah terik matahari yang terang-benderang. Di satu titik ia mengagumi samudra, tetapi ia kemudian, setengah tanpa sadar, mencari-cari kebencian itu di semua sudut hatinya yang menghangat atas pemandangan ini. Ia pasti sedang bermimpi. Tetapi, mengapa ia mencium aroma laut yang khas? Air asin yang mendebur bibir pantai dengan berirama, pasir menempel pada jemari kakinya yang telanjang. Ia mengedarkan pandangan, dan mendapati bahwa ini terlihat seperti samudra yang selalu ia saksikan dari jendela kecilnya yang dekil. Apakah yang ada di sana? Tiada yang tahu betul apa yang bersembunyi di balik kebiruannya yang menyejukkan. Mampukah ia mengosongkan air yang teramat banyak jumlahnya dari cekungan seluas itu? Siapa bisa menebak apa yang dilakukan oleh penghuni kegelapan yang menempati di dalamnya?

Kemudian, suara itu. Suara yang memanggilnya. Suara yang mengingatkannya akan kekeraskepalaannya, sekaligus membuatnya lupa segalanya. Pemiliknya ialah satu-satunya yang sungguh mampu ia panggil sebagai rekan di dunia asing yang tiada memiliki matahari ini. Suara inilah alasan ia waktu itu berkunjung ke pantai ini. Sementara itu, berpatokan pada ingatan yang terpeta jelas di dalam sanubarinya, ia ternyata tak menemukan kebencian di dalam hatinya; malahan, ia selalu menganggap samudra adalah tempat yang indah. Atau mungkin, ia hanya iri? Apakah ia bahkan pantas mengiri?

(Apa benar? Sebenarnya apa yang sedang ia cari? Benarkah ia hanya ingin melindungi umat manusia? Manusia yang hanya seorang diri? Mengapa ia tak mencari kekayaan, kejayaan, ketenaran, cinta, pembalasan dendam, atau identitas? Baiklah, ia mungkin telah mendapatkan semua itu. Tetapi, apa yang ia harapkan dari melindungi bangsanya, yang entah peduli atau tidak dengan dirinya (begitu dungu, ambisi itu, kalau orang bilang)? Ah, benar. Janji itu. Janji dengan seorang teman. Impian itu berlandaskan pada janji. Maka untuk memenuhi hal ini, ia mengejar ilmu sihir di sepanjang hidupnya; semua yang ia sanggup pelajari ia simpan di dalam kantung ajaibnya di dalam hipokampus. Ya, manusia adalah makhluk yang selalu ingin tahu, dan ia tak segan merangkul sisi ini, yang teramat kelam di dalam diri tiap individu. Ia selalu pulang hidup-hidup, tentu saja, meski tak pernah menjadi pribadi yang sama persis seperti sebelumnya.)

Siapa yang tak kenal namanya? Solomon sang penyihir yang tajam akalnya; ia tak pernah menyengajakannya — reputasi yang bahkan disegani oleh sang Pangeran Devildom ini — tetapi ia senang itu berarti tiada yang akan sanggup menghalangi jalannya. Ia tak benar-benar ingin menghancurkan siapa pun; hanya saja ia memang lebih berpegang teguh pada logikanya sendiri. Mungkin iya, mungkin tidak. Karena, jauh di lubuk hatinya (entah benar atau salah, barangkali ia harus menggali kuburan orang-orang mati itu untuk membuktikannya sendiri), ia tak pernah membenci. Ia tak pernah membenci ayah-ibunya yang mengurungnya di dalam kegelapan yang mengerikan itu. Ia tak pernah membenci masyarakat yang antipati terhadap hal-hal yang berada di luar pemahaman mereka. Ia tak pernah membenci; membenci berarti kehilangan kendali atas diri sendiri. Ia hanya marah dengan ketidakberdayaannya. Ia merindu — ia ingin mendapatkan apa yang telah menjadi hak di dalam tiap diri manusia. Terlepas dari janji itu, ia ingin agar tiada lagi yang harus mengalami trauma itu selain dirinya. Siapa yang harus disalahkan ketika ketidaktahuan dan kelemahan adalah akar dari semua itu?

"Kalau kamu ingin mencapai sesuatu, kamu harus berjuang mendapatkannya." Ia telah membuktikannya dan bermaksud akan membuktikannya kembali, demi cita-citanya.

Di luar benaknya yang hiruk-pikuk oleh ambisi altruisnya (benarkah? Apakah memang demi orang lain, atau justru semata demi kepuasan pribadinya?), suara itu terus berbicara dengannya seolah tak peduli dengan semua itu. Mereka berdua berbincang, sementara suara itu; manusia ajaib yang menaklukkan sang Bintang Kejora. Ia tergugah, benaknya dibuat jungkir-balik karena kekuatan yang setara dengannya itu berasal dari dunia yang sama dengannya. Apakah ini pertama kalinya ia mengenal sosok seperti ini? Apakah ini jodohnya? Ah, peduli setanlah! Lama-lama ini terdengar agak menggelikan juga.

(Minyak hitam tumpah di suatu sudut alam bawah sadarnya; semoga takkan pernah lagi menodai ingatannya. Lilin yang telah lama berdebu dan diselimuti sarang laba-laba itu dinyalakan oleh sosok pemilik suara ini, namun ia sendiri gagal menyingkirkan benang putih yang tipis itu sepenuhnya; sangat keras kepala! Ya, sama seperti dirinya, bukan?)

(Seandainya ia tak keras kepala, akankah ia berada di sini? Dengan gagah berani merangsek masuk dunia asing, melawan akal sehat. Mungkin, hanya mungkin, rasa penasarannya selalu mengalahkan segalanya termasuk rasa takut itu sekali pun. Rasa penasaran yang dibarengi tekad. Ia percaya bahwa rasa penasaran, tekad, dan keras kepala yang disatukan dalam sebuah paket bisa melahirkan sesuatu yang luar biasa; entah berkah atau kutukan.)

Tetapi suara itu. Ia sekarang hanya fokus padanya. Ia sudah tak peduli dengan samudra, deburan ombak, kicauan burung, angin semilir, dan pasir di bawah kaki. Ia tanpa sadar menaruh harapan besar pada pemilik suara ini. Sosok ini memiliki sesuatu yang selama ini ia cari-cari; atau lebih tepatnya, jembatan menuju dunia idealnya. Ia tiba-tiba membayangkan hamparan daratan yang teramat luas, matahari menggantung di langit dengan berseri-seri, angin sejuk menari-nari di sela rambut peraknya yang tampak halus, rerumputan yang menghijau segar, dan aroma makanan yang lezat. Banyak orang bersenang-senang di sekitar mereka. Semua orang bersuka cita atas kemerdekaan mereka. Kemerdekaan yang pantas mereka dapatkan. Mereka hidup dalam harmoni, tanpa adanya satu membelenggu lainnya. Ia percaya, manusia tak semestinya memperbudak atau diperbudak oleh siapa pun. Dan perlahan namun pasti, ia dan seluruh umat manusia akan memperoleh semua ini.

Sekarang kegelapan melahapnya kembali. Kali ini ia tak takut. Ia sadar ia tak sendirian. Dan sebentar lagi, ia akan dapat melihat senyum itu. Senyum yang sangat ia sukai itu. Senyum itu — membuatnya semakin rela kehilangan akal sehat. Tetapi ia seperti mengatakan, tunggu sampai aku selesai dengan yang satu ini, barulah aku akan menggila bersamamu. Keras kepala sekali. Padahal ia perlu lebih berhati-hati, karena ia hanya perlu mengumpulkan semua peluang yang ia bisa untuk menyeimbangkan kedudukan, menilik dan memilih seperti sedang memainkan catur, agar ia mendapatkan apa yang selalu ia, dan orang-orang lainnya, dambakan selama ini; dunia di mana manusia tak lagi hidup berpagutan pada kekuatan yang berada di luar kuasa mereka.

Dan dengan bantuan sosok itu, Solomon berharap impiannya menjadi kenyataan.

Semoga.

Notes:

Afh iyh *bombastic side eyes*

Btw, beberapa poin di dalam penpik ini didasarkan pada dialog doi yang tersebar di sana-sini, dengan sedikit perubahan yang disesuaikan menurut keperluan, tapi kalo ada yg agak nyeleneh, maafin yh, mungkin efek brainrot *sobs*

Terima kasih sudah membaca tulisan esai ini yaw *thumbs up* jujur agak heran juga kok jadinya kek tulisan esai gini wkwkw

Series this work belongs to: