Work Text:
"Sudah cukup?"
Jengkel. Tak sabar.
Berapa banyak waktunya terbuang.
Berapa banyak pekerjaannya terbengkalai.
Mengambil cuti bukan berarti tak ada yang harus dikerjakan.
Masih ditambah cucian menggunung dan peralatan bekas memasak yang menumpuk tak kalah banyaknya.
Tapi bayi besar yang kebetulan sedang berada dalam kondisi kurang sehat ini tidak meringakan bebannya sama sekali.
Salah!
Justru dialah pusat dan penyebab dari segala kekacauan hidup Doyoung pagi ini.
Siapa yang sakit flu di tengah musim panas?
Jaehyun.
Siapa yang merengek meminta Doyoung menemaninya?
Jaehyun.
Awal Doyoung melakukan dengan suka rela atas nama cinta.
Mengambilkan sweeter. Menyelimutinya. Mengompres dahinya yang panas. Membuatkan bubur. Bahkan Doyoung menyuapi si manja.
Tapi permintaan sudah berubah menjadi terlalu mengada-ada.
Menyesuaikan suhu pendingin ruangan yang baru saja diubah semenit sebelumnya.
Mengambilkan minum yang sudah diletakkan di meja belajar di dalam kamar.
Mengambilkan tissue yang berada di nakas yang sejangkauan lengan.
Ya Tuhan, Jaehyun cuma flu, bukan lumpuh.
Hanya secuil kesabaran tersisa yang menahan bibirnya dari memaki.Tapi nada suaranya yang ketus tak dapat ditutupi.
Pun pandangan mata yang tajam menusuk, bibir berkerut dan kedua belah lengan yang berkacak pinggang.
Sayang obyek kemarahannya seakan tidak pula insyaf, malahan menganggukkan kepala.
"Mau apa lagi sekarang?" Doyoung menghela nafas. Suara yang terucap terdengar selelah batinnya.
Jawaban tak jelas Jaehyun yang teredam masker yang menutup mulut, justru membuatnya semakin kesal.
Dia coba menajamkan telinga.
"Apa?" Doyoung menelengkan kepala dengan alis bertatut.
Jaehyun terbatuk sejenak, sebelum dengan suara berat khas pengidap influensa mengeraskan suara.
"Kamu."
Bingung sesaat. Butuh waktu untuk otak panas Doyoung memahami yang dimau sang kekasih.
Setelah otaknya bisa mencerna, benda abu-abu itu mengirimkan warna merah muda ke pipinya, semakin menyebar ke seluruh wajah dalam semburat merah tua.
Berdasarkan gengsi dia berusaha sekuat tenaga supaya otot wajahnya tak bereaksi, menjaga agar merahnya bisa diinterpretasikan sebagai marah alih-alih tersipu.
"Ehem!" Dehemnya mencoba menjaga wibawa.
"Geser!" Tukasnya, berusaha ketus dan terdengar tegas.
Perintah yang dengan segera dituruti oleh si sakit, beringsut memberi tempat di sisi tempat tidur.
Dan walau lebih dari separoh wajah terhalang oleh masker sehingga Doyoung tak bisa melihat, menilik matanya yang menyipit ia yakin Jaehyun tengah tersenyum.
Sudut bibirnya akhirnya menyerah, terangkat satu sentimeter.
Menggelengkan kepala agar terlihat tidak rela, ia mengambil tempat.
"Awas ya!!"
Doyoung masih sempat mengancam sambil menyamankan diri, membiarkan lengan Jaehyun memeluknya.
"Kalau aku sampai tertular ...."
Doyoung membiarkan kalimatnya menggantung. Tapi tak lupa ia memastikan Jaehyun melihat tangannya yang menunjukkan gerakan seakan tengah memotong sesuatu.
END
+++
-eVe-
