Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-06-05
Words:
998
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
9
Hits:
165

Hati Hati di Jalan

Summary:

Mungkin cinta memilih jalannya sendiri, namun Wonwoo terpancang ikrar kepada negara. Akankah cinta berjalan bersamanya?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

"Gimanapun kamu 'kan bukan perempuan", ujar Wonwoo dengan dengusan panjang.

Mingyu terhenyak. Perjuangan mereka selama ini diakuinya memang berat. Tapi, tak disangka ucapan itu akhirnya keluar dari mulut kekasihnya. Ia terpukul dengan ucapan Wonwoo baru saja. Ia terdiam. Kemudian sejenak menyarankan Wonwoo untuk beristirahat karena esok dia apel pagi.

Sementara, Mingyu terjaga memikirkan hal yang baru saja terucap oleh Wonwoo.

Pernikahan sesama jenis memang hal yang dikecam di Nusantara ini. Sudah berkali-kali Mingyu tersenyum simpul saat orang bertanya Mana pacarnya? di saat Woonwoo tepat berada di sampingnya. Mereka harus mengarang bagaimana mereka berjumpa.

Lewat forum beasiswa ujar Woonwoo kala itu karena mereka sama-sama memang sedang mencari beasiswa.

Wonwoo berada di masa yang memungkinkannya untuk mengambil tugas belajar. Namun, tentu saja mereka bertemu di aplikasi berwarna kuning khusus gay. Di saat Wonwoo sekeluarga merayakan lebaran dan Mingyu datang, Mingyu harus merelakan diri mendengar semua orang berkelakar

Ayo semua keluarga dan calon keluarga Jeon berfoto!

Mereka mengulurkan kamera ke Mingyu meminta tolong untuk mengambil foto

Aku kan juga calon keluarga Jeon.

 

***

 

Sebagai seorang abdi negara, Wonwoo dituntut untuk berikrar patuh pada nusa dan bangsa. Cintanya terpaut pada Mingyu namun kecemasannya meninggalkan pekerjaan ini demi bersama kekasihnya membuat dia kecewa. Kenapa aku harus melepaskan yang pernah dengan susah payah aku kejar?

 

Di satu sisi, ia bahagia karena dengan bersama Mingyu ia merasakan apa yang pasangan wajar pernah rasakan: keberterimaan. Di perusahaan multinasional Mingyu, atasannya kebetulan juga pasangan lesbian.

 

You'd better be dating, guys

We are, since last year!

Glad you do! Congratz, lovebirds! Enjoy the party!

 

Wonwoo merasa tenang saat ia menghadiri pesta kecil di perusahaan tempat kerja Mingyu yang menerima kaum pelangi sepertinya. Nampak beberapa pasangan pun hadir. Mereka nampak seperti utopia, karena Wonwoo tidak bisa membayangkan atasannya akan seperti atasan Wonwoo. Jangankan menerima LGBTQ+, istrinya saja nampak disia-siakan. Baru 2 bulan lalu ia mendengar kabar istri atasannya baru melahirkan namun kemarin ia melihat sang istri nampak terburu-buru mengantar bekal suaminya dan nampak sangat kelelahan. Bukankah seharusnya suaminya yang mengerjakan? Apalagi sang istri baru melahirkan anak kedua dan anak pertama pun masih bayi. Sungguh rapuh ego laki-laki. Mengerjakan pekerjaan rumah takut gay.

Gay.

Wonwoo tidak dapat menyandang gelar itu karena dirinya masih tertarik perempuan. Dia seorang bi, yang di kalangan LGBTQ+ tertolak karena dianggap straight namun di kalangan heteroseksual tertolak karena termasuk banci. Mingyu adalah gay yang mau menerimanya secara utuh kendati ia seorang bi. Ia sangat bersyukur dengan kehadirannya. Kadang ia ingin memilikinya seutuhnya. Seutuh ia dapat memamerkan istrinya pada khalayak ramai.

Cemas berkecamuk dalam hatinya. Bagaimana jika ia terpisah dengan Mingyu sama seperti mantannya yang terpaksa ia lepaskan karena harus menjalani corrective therapy? Keluarga mantan Wonwoo adalah Protestan taat yang tidak menginginkan putra kesayangannya menjadi homoseksual. Terakhir ia dengar, sang mantan juga kembali di kehidupan lamanya. Eksorsis tidak bisa melepaskan jati diri ketertarikan dengan sesama jenis.

 

"Kalo di Katolik juga LGBTQ+ dieksorsis gitu?" tanya Wonwoo di suatu masa.

"Nggak lah wkwkwk malah di Katolik ada crisis center pencegahan bunuh diri bagi LGBTQ+. Bakal jadi dosa kalo melakukan hubungan seksual dengan tujuan rekreasi. Tapi suami istri pun juga dosa sih, karena seks tujuannya hanya prokreasi." ujar Mingyu.

"Suami istri bisa dosa? Kan udah nikah?" tanya Wonwoo dengan bingung.

"Iya, emang gitu, harus prokreasi bukan senang-senang. Mau suami istri juga dosa kalo tujuannya rekreasi, beda konsep sama agamamu yang nikah langsung ibadah semua."

Wonwoo mengangguk agak lega. Setidaknya bukan eksorsisme yang memisahkan mereka.

Wonwoo menenggelamkan diri dalam dekapan Mingyu. Ia ingin selamanya seperti ini.

 

***

 

Hari itu mereka berdiskusi cara kabur dari negeri ini, dan Mingyu mengusulkan untuk pindah ke kantor pusat perusahaannya di Belanda.

"Lebih gampang nanti, kita bisa ambil kota kecil kaya di sini aja. Aku udah diskusi dengan atasan bisa di-acc. Apalagi emang mereka lagi butuh tim banget." kata Mingyu dengan gembira. Ia sangat menginginkan berjalan bersama di publik tanpa rasa takut sambil sesekali menggelayut lengan Wonwoo. Video call dengan Wonwoo hari itu membuatnya semakin ingin mengajak kekasihnya merasakan musim semi di Leiden.

"Aku harus resign dong?" tanya Wonwoo.

"Ambil aja tugas belajar dulu di sini, baru resign." kelakar Mingyu.

"Gak bisa gitu dong..." keluh Wonwoo.

"Terus gimana? Paling gampang exit route nya gini sih, Wonwoo-ya. Kamu ada ide?"

Entah darimana ungkapan yang tidak diinginkan Mingyu pun keluar.

"Gimanapun kamu 'kan bukan perempuan", 

Mingyu merasa oleng. Apapun perjuangan mereka akan buntu dengan heteronormativitas yang mendarah daging dalam kekasihnya.

"Ya udah, istirahat dulu yuk? Di sana udah jam 11 kan besok kamu apel pagi. Goodnight sayang!"

Ia menutup telepon dengan hati gamang. Ada perasaan yang muncul di hatinya. Ia kecewa. Kecewa bahwa perjuangannya hingga sampai Leiden terasa sia-sia karena sesuatu hal yang tidak pernah dimilikinya.

Mau ganti kelamin pun, kamu gak akan pernah bisa menerimaku, Wonwoo.

 

***

 

Sore itu mereka bertemu sebelum Mingyu bertolak lagi untuk tugas kantor yang telah diambilnya di Amsterdam. Survey bulan lalu sudah cukup menguatkannya untuk mengambil keputusan ini. Ia ingin hidup utuh sebagai manusia, bukan sebagai pencetus azab negeri ini.

"Kita nggak lanjut ya Wonwoo, aku aja yang mundur."

"Maksud kamu?"

"Aku melepaskan diri dari tanggung jawab sebagai partnermu."

Mingyu terisak. Tak sanggup rasanya ia mengucapkan kata-kata itu.

"Aku gak akan pernah bisa jadi perempuan..."

Wonwoo terhenyak. Bukan ini yang ia inginkan.

"Aku gak nuntut kamu jadi perempuan, Mingyu.", ucap Wonwoo penuh kehati-hatian sambil memeluknya.

"Kamu pengen itu, Wonwoo. Kamu pernah kecewa aku gak terlahir perempuan. Aku gak pernah bisa, sekalipun operasi, tapi aku gak nyaman untuk melakukannya."

Mingyu mendekap erat Wonwoo. Berat rasanya melepaskan kekasihnya yang dia sayangi.

"Aku hormati mimpi kamu untuk kerja di sini. Aku juga punya mimpi. Kamu bukan orang jahat, Wonwoo."

"Aku gak boleh mencabut kata-kataku yang jahat itu? Maafin aku, Mingyu..."

Mingyu masih memeluk kekasihnya.

"Kamu cabut pun tetep hal itu pernah terucap... Aku aja yang ijin ya? Kamu gak jahat. Kita cuma berbeda jalan aja. Maaf ya..."

Wonwoo mengusap air mata dan memandangi kekasihnya. Ia tidak mau melepaskan Mingyu tapi melepaskan pekerjaan yang pernah jadi mimpinya sejak muda juga tidak sanggup. Ia hanya merasakan hangatnya dekapan Mingyu barang sejenak sebelum benar-benar terpisah beda benua.

"Hati-hati di jalan, Mingyu"

Notes:

Emang iya gaes aku curhat tapi yaudah lah ya namanya juga karya bebas~ makasih udah nyimak. Also, berdasarkan kisah nyata (menangis)