Work Text:
Aku amat sangat membenci bedebah tak tahu diri yang tidak bisa menepati janji.
Maksudku, orang bodoh manapun pasti mengerti bahwa sikap kasarku dengan mempecundangi orang lain seperti ini merupakan tindakan destruktif yang memicu pertikaian meradang kapan pun. Tidak secara harfiah, tetapi dengan membuat seseorang menunggu selama 2 jam lebih lama dari waktu yang telah disepakatkan—jenis alasan apalagi yang kubutuhkan untuk tidak memaki kedatangannya yang terlambat tanpa adanya pemberitahuan?
Kalau dia memang membatalkan janji, paling tidak semestinya dia menyampaikannya melalui panggilan atau menitipkan pesan pada Kouichi yang kebetulan lewat untuk pulang.
Aku mencoba berpikir positif. Barangkali ini masih menyangkut mengenai penyerangan Stand musuh secara tiba-tiba; atau semacamnya. Namun mengingat kota kecil ini sudah mengendalikan para penggunanya dengan saling terikat dan berdamai tanpa adanya perdebatan lagi setelah kematian Kira Yoshikage—perihal itu dicoret dari kemungkinan paling logis dalam kepala.
Ini sekitar satu bulan setelah kematian sang penjahat utama yang memutuskan seluruh rantai pembunuhan di kota tercinta. Setidaknya dari itu, kehidupan di Morioh tentram dan tidak ada kendala yang membuat polisi mendapatkan pekerjaan lembur mereka.
Josuke yang berkuasa untuk melawan Kira Yoshikage, tidak membunuh tersangka secara langsung—hanya kebetulan ada roda ambulans yang melindas kepalanya, dan viola. Kasus bertahun-tahun itu selesai dalam sekejap mata. Berdasarkan hal itu, anak kurang ajar tersebut tentu tidak bisa menggunakannya (soal penyerangan) sebagai dalih. Sebab pun akan kujamin kejujurannya melalui kekuatanku.
Ah, sial. Aku menukik senyum sebal. Demi apa pun bentuk rupa Tuhan di atas sana, akan kupastikan Josuke Higashikata membayar ini semua. Terlebih, hal ini (yang bersakut-paut terhadap kelalaian waktu) realitanya sungguh menggangguku. Sebab aku bukan seorang pengangguran yang hobi menghabiskan sebagian besar jamku tanpa melakukan apa pun.
Meski deadline untuk pekerjaan sudah kubereskan, pencarian referensi tetap dibutuhkan—aku membawa alat menggambar serta kameraku untuk keperluan itu: naasnya nihil, tidak ada yang menarik agar tertangkap potretku di sini.
Catat ini. Aku mengabaikan sebagian harga diriku hanya untuk mengajaknya berbincang bersama. Dua pasang mata, hanya berdua. Sebab pengadaan pertemuanku pada bocah SMA menyebalkan itu; tidak ada khalayak yang harus tahu.
Tuntutan yang akan kuajukan nanti saat bertemu dengannya pertama adalah menjewer telinganya dengan keras. Memintanya mengembalikan kembali seluruh waktuku yang berharga, itu pun kalau dia bisa. Anak baru puber yang belum mengerti dunia dewasa sepenuhnya—mana mungkin memahami, kalau menjadi besar artinya adalah membuang segala kegilaan semasa remaja.
Kita tidak akan membicarakan itu lebih lanjut sekarang. Aku menatap pada kotak kecil di dalam genggam tanganku, ini masih sedikit berkaitan. Apa yang kubawa ke lokasi ini dengan perasaan menggelikan (atas diri sendiri) dan helaan napas yang tiada putus ialah cincin seharga uang renovasi—tolong jangan ingatkan—apa yang juga membuatku tidak mengerti mengapa harus memberikan ini sebagai hadiah untuknya.
Sembilan belas Agustus, Josuke Higashikata berulang tahun: masih ada agenda yang telah dibeberkan dari Okuyasu untuk menyeretku juga memberikan Josuke kejutan, tetapi aku punya rencana lain. Pun memang sulit mengakui jika keberanian itu membuatku berjanji tidak akan mengulangi penyesalan yang sama dua kali. Mengatakan maaf pada Josuke, terlepas dari seluruh kecekcokan yang kami alami. Kami dahulu memiliki berbagai masalah yang membuatku tidak bisa akrab dengannya, dan jangan pula pertanyakan apa yang membuatku kini mampu untuk membuatnya terlibat jauh lebih dalam di kehidupanku.
Namun, mengapa kesalahan ini terkesan seperti akulah sebagai pihak yang paling menginginkan lelaki itu menerima berlian ini—aku duduk di bangku panjang, mulai bosan menanti Josuke di jalanan lengang itu dengan berdiri. Apakah aku terlihat begitu memprihatinkan; siapa juga yang bisa menduga aku mau mengikat takdirku bersama laki-laki yang pada impresi pertama, pernah menghajarku?
Detik-detik yang membuatku menyesali ketidakjujuranku pada Reimi, telah terngiang lama dan itulah pemicunya. Tanpa mengatakan apa pun kebenaran yang berada di dalam hati—setelah kepergian totalnya menuju akhirat, dia tidak mengerti kalau aku memandangnya sebagai bagian dari cinta pertamaku.
Dan aku menarik kembali masa itu pada sesuatu yang luput dalam kepala, termasuk dengan bagaimana tata cara menggandeng tangan seseorang setelah kepergian salah satu yang kuanggap berharga. Dalam hal ini, memperbaiki lagi luka lama.
Pun kendati, aku juga merasa belum menjadi sedewasa itu—hanya sedikit peruntungan yang bisa menyukseskan diri di usia muda, itu saja yang cukup pada masa lampau didamba. Menyedihkan.
Saat aku mencapai batas kesabaranku untuk merasa kesal, amukan yang membuatku hendak melangkahkan kaki dari tempat yang membawaku merutuk ini: tetapi tiba-tiba tangan yang menyergapku dari belakang, menghalangi pandangan kedua mataku dengan sepenuhnya buram.
“Sensei! Coba tebak siapa,”
Aku mendecih dan menarik telapak lelaki itu secara kasar supaya menyingkir. Tidak ada keterkejutan yang berarti, justru itu membuatku bertambah keki. Josuke dengan tampang tanpa berdosanya, memang ingin kuhantam sekali. Si idiot ini—beraninya dia membuat lelucon dengan trik murahan.
“Berhenti main-main, Josuke.”
“Hahah! Kau langsung tahu, ya?”
Senyum kikuk darinya yang membawaku memutar bola mata. Masih ada rasa bersalah dari mimik yang diekspresikan, setidaknya dia masih sadar diri telah membuat orang jengkel dan mati kering hanya untuk bertatapan muka dengannya. Pemuda tersebut kemudian duduk di sebelahku pada bangku setelah sebelumnya menenangkanku dengan sedikit perasaan canggung. Dia tahu. Pembicaraan intim perdana kami memang tidak bisa diharapkan berjalan semulus itu.
Aku memastikan lebih dahulu kalau tidak ada seorang pun teman darinya yang mengikuti. Akan merepotkan kalau berita mengenai kedekatan kami sampai menyebar, dan menyeruaknya informasi tidak penting yang menyangkut privasi—(meski keterikatan di antara kami ini; bagiku tetap adalah hal paling esensial) semua orang harus mencari pekerjaan dan urusan mereka sendiri.
“Kau tidak membawa siapa pun ke sini, bukan?”
“Tidak! Aku bersumpah, ya ampun. Kenapa kau tidak bisa percaya denganku sama sekali, sih!?”
Aku mendecih dengan dahi berkerut. Bagaimana mungkin aku mudah memercayai seseorang yang tindakan dan ucapannya selalu berbeda? Dia yang bersikap skeptis padaku selama ini, bagaimana mungkin aku tidak bisa?
Situasi memang aman, setidaknya melalui penglihatan Heaven’s Door. Licik, sih—tetapi Josuke dengan mudah menghindari kekuatanku, jadi tidak kuterapkan padanya untuk membaca kenangan itu. Mengenai sekitaran kami, tampaknya memang Josuke tidak berbohong. Bagus sekali.
Aku kemudian mengeluarkan kotak itu. Menyerahkannya cuma-cuma. Tidak ada pernyataan apa pun yang menyertai. Hanya cukup dia membukanya.
“Apa ini?”
Josuke, tentunya, sebagai seorang anak berumur 17 tahun yang jarang melihat sesuatu seperti itu—perhiasan mahal—tidak pernah akan dipakainya, tidak pernah dipikirkan untuk dimilikinya. Berlian yang kubelikan padanya hanyalah sebagai representatif, entah dari keseriusanku untuk melambungkan lebih tinggi harapan kedekatan masa depan kami, yang (jadi pertanyaanku pula) sejak kapan berubah menjadi aneh seperti ini. Pernyataan tersebut jelasnya tidak segera kusampaikan beberapa waktu lalu, hanya mengajaknya untuk bertemu dan hari ini memastikan kembali apa yang ada di hati itu.
Pada kenyataannya, perasaanku memang tidak berubah. Aku menganggapnya sedikit lebih spesial dari yang lainnya. Meski platonik itu belum kusanggahi sebagai pengakuan suka, aku masih memiliki banyak waktu untuk membuat perasaan itu kian berkembang dan meyakinkan.
Cincin itu diangkatnya. Dia belum mengenakan. Mungkin ragu. Apakah itu pertanda sebagai persahabatan, tetapi mustahil sebab aku pernah membencinya. Josuke tidak akan paham konsep abstrak yang tercipta dalam kepala—kami tidak cocok. Tetapi harga diriku menolaknya.
“Rohan-sensei! Kenapa kau harus membeli hal seperti ini, sih!?” Josuke kalang kabut, dan wajahnya memerah sampai ke ubun-ubun. Masih dengan senyuman bodoh yang tidak berubah itu. Bersama alis mengernyit, aku menghelakan napas. Memberikan konfirmasi.
“Jangan mencoba menjual itu. Aku menghabiskan sebagian besar tabunganku untuk membelikanmu sebagai—”
Oh. Nyaris keceplosan. Apakah Josuke mengetahui dengan baik ini hari ulang tahunnya? Dan aku memberikan itu sebagai bingkisan tetapi memang ada-hal-lain-yang-menjadi-pengikat setelah Josuke melingkarkannya di jari manis itu? Ah. Setidaknya, aku tidak membeli barang yang serupa untuk diriku. Hanya satu: khusus untuk Josuke Higashikata, yang perlu mengetahui apa makna dari yang terukir itu.
Josuke brengsek. Sialnya, dia terlalu banyak bengong. Ada beberapa orang yang berlalu lalang, memerhatikan kami dan itu membuatku gelisah setengah mati. Aku tidak mau dikira sebagai penjahat kelamin yang dikira melamar anak di bawah umur.
“Rohan-sensei, apakah artinya ini …” ada jeda, dan dibarengi nada terbata. Sebelum Josuke melanjutkan pembicaraannya, aku memukul pipinya. Tidak cukup kuat membuatnya patah gigi, tapi tentu dia mengeluhkan keluhan nyeri setelah itu. “Aahh! Kau memang tidak ada romantis-romantisnya sama sekali! Setidaknya, kalau memang ingin mengajakku menikah, jangan pasang wajah terlalu datar begitu!”
“Haahh!? Apa maksudmu, Josuke jelek! Kau bodoh, ya!? Siapa yang mau—”
Josuke Higashikata seakan tidak peduli apa yang terjadi di sekitarnya, lalu dia menarik tanganku. Memasangkan cincin yang kupersembahkan tersebut di jari manisku—barang yang tentunya terlalu kebesaran karena kubuat itu khusus untuk ukurannya. Aku terdiam. Belum merespon apa pun. Sampai pada titik dia menyelami netraku, aku baru merasakan pipiku sedikit panas.
“Memangnya Sensei tidak pernah membuat komik percintaan? Cara menyatakan perasaan, seharusnya seperti ini, bukan?”
Tidak. Hal seperti itu mana mungkin terjadi. Aku membicarakan seluruh kontribusi dalam esensi karya yang pernah kulahirkan. Aksi dalam kehidupan … pencarian probabilitas menuju realitas yang paling dekat. Aku belum pernah terlibat dalam pembuatan kisah romansa, sebab hal itu tidak pernah berkaitan dengan kinerjaku dalam produktivitas selama ini. Bukan berarti aku memanfaatkan Josuke untuk membuatku mendalami ini—aku bersumpah, jujur terhadap perasaan ini.
Josuke masih menatapku dengan raut muka dibuat nanar, dan ini menjengkelkan sekali. Aku tidak tahan dengan ratapnya yang seperti anjing terbuang itu. Mau sampai kapan dia membuatku menggerutu?
Dengan sebuah tarikan kencang pada kerah bajunya, kubuat kakiku berjenjit. Mencapai pada bibirnya, serangan kecupan yang singkat dan mendadak. Angin lalu yang tidak perlu orang lain lihat. Terlebih karena jambul anehnya itu mengganggu, tidak ada yang menjadi alasanku untuk mempertahankan begitu lama sentuhan itu—namun anehnya, aku menajamkannya. Menjambak rambut belakang lelaki itu. Atas keinginanku, aku menolak untuk mau tahu sekitarku.
Josuke membelalakkan mata, tidak hendak memercayai apa yang terjadi. Aku mencoba untuk menyerang dalam beberapa detik lagi, mempertahankan letak tanganku padanya di tulang pipi. Josuke tertekan karena dia baru kali pertamanya dia menerima ini. Pengalaman perdana, bersama aku sebagai pencuri.
Tetapi memang beginilah kami—jika tidak dinyatakan terang-terangan, tidak ada yang bisa dipahami. Namun Josuke di tengah itu tiba-tiba menepuk bahuku, memintaku untuk berhenti atas ciuman itu. Aku tidak mengerti apa yang terjadi, mengapa dia amat terlihat panik seperti ini. Saat dia menunjuk ke belakang dengan hawa yag amat menakutkan dan tatapan horor, dia memberikan kode bahwa ada yang tidak sengaja mengintip intimasi kami di sana.
“Ma-maaf karena sudah mengganggumu, Josuke-kun. Aku hanya mengantarkan barangmu yang ketinggalan. A-aku pergi dulu, ya!”
“Kouichi! Haha, terima kas—”
“KOUICHI HIROSE! AKU TIDAK AKAN MENGAMPUNIMU KALAU KAU MENYEBARKAN INI—HEAVEN’S DOOR!!”
.
.
.
Beberapa waktu berikutnya, aku mendapatkan panggilan dari nomor asing. Datang dari sebuah tempat jauh di Amerika sana, dan firasatku jelek sekali.
“Rohan-sensei, Josuke baru berumur 17 tahun ini. Kalau kau memilih untuk berpacaran dengannya, harap tidak bertindak gegabah dan berlebihan terhadap pamanku.”
Aku telah mengunci ingatan Kouichi dengan kekuatanku, sesuatu yang awalnya Josuke tentang tapi dia harus memahami kalau aku tidak ingin segera membuat orang lain melabeliku mengincar Josuke atau sesuatu. Lantas siapa—peringatan yang terang-terangan terlampir tersebut, jelasnya membuatku langsung membanting ponsel begitu mendengarnya.
Josuke keparat. Justru si tengik ini yang memberitahu Jotaro, ya!?
