Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-06-07
Words:
3,553
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
13
Hits:
357

POWDER SNOW

Summary:

“Tapi aku mencintaimu sejak pertama kali bertemu …”

“Tapi itu hanya dirimu…”

Notes:

Hai semua
Ini cerita kesekian kalinya saya mengenai Kazuhoku, Aku terpikir membuat ini karena interaksi mereka. Aku membuat ini hanya untuk menuangkan imajinasiku mengenai mereka.

Editor saya mengatakan ini terlalu membuat sesak. Aku juga merasakan hal yang sama.. T_T)/
Tolong maafkan aku setelah membaca ini...

Jika kamu merasakan sedih mengenai cerita tentang pasangan ini...tolong berikan komentar dan likenya...

Terimakasih <3<3<3

Happy Reading minna (-3-)/

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 


Kazuma terbangun dari tidurnya, sinar matahari telah masuk melalui celah gorden apartemennya. Perlahan Kazuma mengerjapkan matanya, membiasakan diri dengan serangan cahaya pagi. Kazuma tidak yakin juga ini pagi, sepertinya matahari sudah terbit cukup tinggi dengan intensitas cahaya seperti itu.

 

Kazuma menatap sosok disampingnya. Apakah pria itu tidak merasa terganggu dengan cahaya matahari sebanyak itu?. Kazuma perlahan membetulkan posisinya dan mencoba melihat wajah pria disampingnya.

“Ternyata kau sudah bangun toh.” Kazuma berseru dan lebih menegakkan tubuhnya.

 

Pria berambut blonde disampingnya hanya diam dan masih setia menatap sinar matahari yang berasal dari celah gorden.

“Aku tidak berniat membangunkanmu.” ujar pria blonde yang masih memunggungi Kazuma dengan kesetiaannya yang lagi lagi kepada cahaya matahari.

“Kenapa?” Kazuma perlahan mendekatkan wajahnya dan meniup telinga pria berambut blonde tersebut.

“Hey! Itu geli!”

“ini curang, seharusnya kau bangunkan aku Hokuto!”

 

Hokuto berbalik dan menatap Kazuma dengan lekat. Dia memandangi Kazuma dari wajah hingga perut, tentu membuat Kazuma tidak nyaman jika ditatap seperti itu.

“Ada yang salah?” 

“Tidak” Jawaban Hokuto tidak sesuai dengan apa yang dia lakukan, hal ini tentu lebih membuat Kazuma tidak nyaman.

“Tolong berhenti menatap badanku seperti itu.” Kazuma perlahan menaikan selimutnya dan menutup seluruh wajahnya.

Terdengar kekehan nyaring dari Hokuto. Tanpa aba-aba Hokuto menarik paksa dan memperlihatkan Kazuma kembali, sepertinya Hokuto kembali dalam mode isengnya jika seperti ini.

Kazuma terus menarik selimut dan terus mencoba menutupi dirinya, lagi-lagi kembali ditarik oleh Hokuto. “Hokuto! Tolong hentikan! Aku malu!”.

 

Merasa Tidak ada tarikan yang dilakukan Hokuto, perlahan Kazuma menurunkan selimutnya dan menatap Hokuto yang sedang menatapnya balik.

“Aishhhh, ku bilang berhenti…tapi masih menatapku juga!” Kazuma sepertinya frustasi menanggapi keisengan Hokuto yang dianggapnya cukup rumit untuk dia tangani.

“hahahahaha..Kamu lucu sekali Kazu..” Perlahan Hokuto bangkit dan memungut potongan bajunya yang berserakan di lantai. Kembali mengenakannya dan berkaca melihat penampilannya.

 


“Lucu sekali kazu…” 
Seolah dirinya akan meledak, Kazuma merasakan daun telinganya sudah merah padam bila ia mendengar kalimat itu dari Hokuto. 

Hokuto kembali menatap Kazuma, mengisengi Kazuma seperti ini sudah menjadi hobinya. Kazuma pasti tidak berkutik dan selalu saja memegangi telinganya ketika dia malu. “hahahaha…sepertinya aku keterlaluan…Gomen-neee Kazuchan”

Hokuto bergegas merapihkan rambut dan barang bawaannya, sepertinya dia Bersiap untuk pergi dari Apartemen Kazuma.

“Mau kemana?” Kazuma perlahan bangkit dan ikut memungut pakaiannya yang berserakan dilantai.

“Pergi ke rumah Itsuki.” Hokuto menyisir rambutnya dan menatap pantulan dirinya di cermin.
Kazuma mengenakan celana pendeknya dan sibuk dalam lamunannya. Tidak mendengar suara dari Kazuma, membuat Hokuto menatap Kazuma lewat cermin.

“Ada apa Kazu?” 
Hokuto dan Kazuma hanya membutuhkan sinyal bila menangkap satu sama lain memiliki hal yang tidak bisa diutarakan. Kini Hokuto sadar sepertinya Kazuma ingin mengatakan sesuatu.

“Huftt…” Kazuma hanya menghembuskan nafas berat. Sepertinya ada sebuah perasaan yang tertahan oleh Kazuma untuk Hokuto.

Mereka sama-sama diam. Baik Hokuto maupun Kazuma tidak ada yang berani memulai pembicaraan. Hingga akhirnya suara Kazuma memecah keheningan mereka.

“Hokuto….” Terdapat jeda dalam seruan Kazuma

“Apakah kita akan terus seperti ini setelah ini?” Ujar Kazuma yang tengah terduduk disamping kasur dan menatap lurus kepada pantulan bayangan Hokuto.

“Huftt…” Hokuto ikut menghembuskan nafas berat.

“Apa seperti ini sangat berat untukmu Kazu?” Ujar Hokuto yang berbalik dan menatap Kazuma.

“Tidak, Tentu tidak.”

“Jadi mengapa kau bertanya seperti itu tadi?” 

Kini Hokuto berjalan maju dan duduk disamping Kazuma, meletakkan tangan kirinya merengkuh pinggang Kazuma dan menopang pipinya di bahu Kazuma.

“Friends With Benefits…itu terdengar hebat 2 tahun lalu...” Ujar Kazuma

“Tentu ini masih hebat hingga sekarang, bukan?”

 

Kazuma tidak menjawab langsung sepertinya lamunannya lebih dalam dari obrolannya dengan Hokuto kali ini.

“Kazu…”
Kazuma tidak bergeming

 

“Kazuma…”

 

“Tidak Hokuchan…ternyata ini semakin berat untukku..Kau akan masuk ketahap baru bersama Itsuki…tapi aku disini dengan bodohnya masih mau berbagi cinta dan kasur ketika kau tidak bersama dia…kau anggap aku ini apa?!” Nada bicara Kazuma terdengar tinggi, Dia berdiri dan menatap Hokuto yang masih setia duduk di kasur.

 

“Hokuto…kita sudah 2 tahun seperti ini. ketika kau menangis kau mengetuk pintu rumahku dan menerobos masuk memelukku erat. Berkata membutuhkan ku tapi saat bangun kau lupa dan seperti hari ini. Kau berniat kembali menemui Itsuki!”

“Kazu…”

 

“Tidak…Aku tidak mengerti kenapa aku marah seperti ini, aku setuju dan yakin dengan hubungan ini sejak awal. Aku tidak ingin kau menangis seperti semalam, tidak ingin juga melihatmu meneguk alkohol padahal kau sendiri tidak bisa meminumnya. Tidak hokuto…ini bukan salahmu. Aku hanya…mengkhawatirkanmu.”

 

Baik Kazuma maupun Hokuto kembali terdiam. Kazuma tidak menduga dia sangat emosional hari ini, tapi dia tidak bisa membiarkan temannya bertemu kembali dengan Itsuki setelah semalam begitu frustasi datang padanya.

“Kazu terimakasih…”

 

Hokuto perlahan menegakkan diri dan berdiri dihadapan Kazuma. merengkuh pinggang Kazuma dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Kazuma. Dia selalu menyukai wangi Kazuma, wangi lembut dan sangat menggambarkan Kazuma.

“Jangan seperti ini Hokuto…Kamu membuatku merasa bersalah setelah mengatakan hal yang tadi…”

“Tidak…sungguh aku baik-baik saja…”

“Kau tidak marah?”

“Tentu.”

 

Perlahan Hokuto menempelkan bibirnya dan mencium lembut leher Kazuma. Hal ini memberikan rangsangan aneh dalam diri Kazuma.

“Tolong jangan letakkan bibirmu disana.”

“Bila seperti ini apa boleh?”

Hokuto memperdalam ciumannya pada leher Kazuma, sedikit menghisap disana dan perlahan menancapkan giginya disana untuk meninggalkan bekas.

“Ungh..” 

Kazuma seperti kembali terbuai bila Hokuto melakukan ini kepadanya.

“Cuk..khup Hok-kuto.”
Kazuma mendorong dirinya dari rengkuhan Hokuto. Dia akan gila jika masih seperti tadi.

 

Hokuto menatap Kazuma lembut. “Kazuma terimakasih…”

Selanjutnya Hokuto mengambil barang-barangnya dan bergegas ke pintu rumah Kazuma. Kazuma mengekorinya dari belakang dengan hanya mengenakan celana pendek.

“Hati-hati.”

“Kau tidak ada jadwal?”

“Tidak. Aku ambil cuti 2 hari”

“Jadi kapan wawancara special yang kau ceritakan kemarin?”

“Minggu depan.”

“Baiklah, semangat untuk wawancara majalah spesialmu nanti.” Hokuto mengenakan sepatu dan topinya. Menggenggam knop pintu dan berbalik menatap Kazuma kembali.

“Apa ada yang tertinggal?”

Hokuto menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia terus menatap Kazuma dan memamerkan deretan giginya.

“Kau ada maksud lainkan.” Kazuma mendekati Hokuto, memberikan kecupan singkat di bibir Hokuto.

“Sudah kan?”

“Uhm..”Hokuto menggembungkan bibirnya, dia tampak senang dengan kecupan itu.

“Bye Kazu..”

“Hati-hati Hoku.”

 


 

Kazuma menjalani aktivitasnya sebagai seorang model. Hari ini merupakan pemotretan spesialnya, sangat berbeda dengan sesi foto sebelumnya. Kazuma menjadi model pada halaman cover depan di sebuah majalah untuk bulan Desember.

“Kawamura-san, silahkan persiapkan diri anda di ruang pemotretan.”

“Aaa… Hai” Kazuma bergegas bangkit dan memasuki ruangan pemotretan.

“Kazuma-san?” Seorang pria yang sedang memegang kamera mendatanginya. Wajahnya tersenyum namun menampilkan aura dingin dari pria ini.

“Itsuki…”

“Kau yang menjadi model hari ini?” Itsuki bertanya namun masih sibuk mengatur kamera ditangannya.

“Tentu…”

 

Kazuma mengeratkan kepalannya, tidak disangka hari ini dia bertemu Itsuki di tempat pemotretan. Tentu dia akan teringat betapa menyebalkan pria ini setelah membuat Hokuto-nya menangis. Tunggu, Hokuto bukan miliknya. Mengapa dia sempat berfikir bahwa Itsuki telah merampas Hokuto darinya?.

“Jadi sudah siap?”

“Tentu.”

 

Sesi pemotretan berlangsung lancar, baik Itsuki maupun Kazuma sama-sama professional dalam bekerja. 

“Kamu berpose dengan baik Kazuma-san.”

“Terimakasih telah mengambil gambar yang baik juga Itsuki.”

“Kamu bisa memanggilku Icchan jika kau tidak keberatan. Kau temannya hokuto kan? Mari berteman baik juga Kazuma.”

 

Kazuma berfikir apakah pria ini sedang berusaha bersikap baik kepadanya?. “Aaa…mungkin perlahan?”

 

Itsuki menaikan sebuah alisnya. “Ya…tidak apa…senyaman Kazuma-san saja.” 

Kazuma bergegas merapihkan baju dan rambutnya, dia akan memasuki sesi wawancaranya sekarang.

“Sesi fotomu berakhir, Arigatou Kazuma.”

“Tentu, Arigatou Itsuki.”

 


Kazuma kembali memasuki ruang tunggu, dari jendela kaca. Dia bisa melihat Hokuto sedang berjalan di depan gedung. Apakah Hokuto akan bertemu dirinya sekarang?. 

Hokuto juga seorang model di agensi yang sama seperti dirinya, mereka bertemu 3 tahun lalu dalam sebuah sesi perkenalan antar model. Dengan sifat Kazuma yang mudah membaur, akan menjadi sangat mudah baginya berteman dengan Hokuto. Siapa sangka sekarang dia malah memiliki hubungan aneh dengan Hokuto.

 

“Kawamura-san apa kabar?” seorang wanita datang menghampiri Kazuma.

“Baik.”

“Silahkan masuk ke dalam ruang wawancara. Kawamura-san.”

“Aa..Arigatou.”

 

Sepertinya Hokuto dan dirinya tidak akan bertemu saat ini. sedikit ada rasa kecewa pada Kazuma, tapi dia harus menyelesaikan sesi wawancara ini terlebih dahulu.

 

Kazuma diatur menjawab beberapa pertanyaan hingga 40 menit kedepan. Wawancara menyenangkan, bertanya mengenai hobi dan kegiatan sehari-hari dirinya. Mungkin diawal sedikit canggung dan kikuk bagi Kazuma, namun semakin lama dia mulai terbiasa dengan wawancara ini.

“Kawamura-san sangat hebat dan gigih ya…”

“Arigatou..”

“Melihat kau segigih itu, apa kau menikmati akhir pekanmu Kawamura-san?’

“Tentu saja, aku mengisi kegiatan akhir pekan dengan teman-temanku juga. Yamasho-san dan Makoto sering kutemui diakhir pekan untuk membicarakan hal yang menyenangkan.”

“Waaa, kau dekat dengan model lain? Bisa kau ceritakan sedikit kegiatanmu bersama para model lain dari agensi kita?”

“Aku memilih berbicara hal yang lucu dan konyol dengan Yamasho-san dan Makoto. Ini membuat aku seperti mengisi daya ku di minggu berikutnya.”

“Jika kau dikeadaan tidak baik-baik saja apa kau akan tetap berkumpul dengan mereka?”

“Sepertinya aku akan memilih bertemu dengan Hokuto untuk pembicaraan yang santai dan membuat nyaman.”

“Kau dekat juga dengan Yoshino-san?”

“Tentu kami mengenal dekat.”

“Kukira berita yang dibicarakan fansmu adalah hanya praduga saja.”

“Aku tidak tau apa yang mereka tulis tentang kami.”

“Mereka banyak menyebutkan kalian cocok satu sama lain.”

“aku berterimakasih untuk itu.”

“Kau berharap akan seproyek pemotretan dengan Yoshino-san?”

“Tentu saja.”

“Baiklah terimakasih Kawamura-san atas waktumu.”

 



Kazuma menatap layar ponselnya. Sudah waktunya peluncuran majalah dengan cover dirinya rilis, dia cukup gugup menunggu reaksi Hokuto ketika tau Kazuma menyebut dirinya di wawancaranya.

 

Kazuma membuka aplikasi burung biru dengan seksama, notifikasi dari fans datang pada akunnya. Namun sebuah akun yang dimiliki Hokuto Yoshino mengambil atensinya.
Cuitan postingan Twitter Hokuto banyak berinteraksi dengan Itsuki. Mereka berdua terlihat akrab, setidaknya itu yang akan dipikirkan fans Hokuto terhadap interaksi mereka.

 

Walau Itsuki seorang fotografer, Akunnya memiliki banyak sekali pengikut. Sehingga banyak yang menyukai melihat interaksi Itsuki dengan Hokuto seperti saat ini. Tidak dengan Kazuma, dia tidak menyukai ini.

 

Itsuki Fujiwara
>> Berhenti berbuat iseng atau kau tidak boleh melihat Mars.

 

Hokuto Yoshino
>> Hahahhaha, baiklah aku berhenti iseng dan biarkan aku bermain ke rumahmu akhir pekan ini.

 

Itsuki Fujiwara
>>Biar aku yang menilainya nanti.

 

 

Sepenggal interaksi Itsuki dan Hokuto membuat Kazuma panas. 

 

Lupakah Hokuto bagaimana Itsuki kemarin tidak mengubris pesannya. Lupa jugakah Hokuto bagaimana Itsuki membiarkannya menunggu didepan gedung hingga larut malam karena tidak membaca pesannya.

 

Kazuma tidak habis fikir, apa yang menarik dari Itsuki Fujiwara bagi Hokuto Yoshino?.
Kazuma jadi tidak bersemangat menunggu hasil wawancaranya. Dia memilih meninggalkan ponselnya dan berlalu mengambil segelas air. 

 


 

Lusa adalah hari natal, lampu hias khas natal telah dipasang di se-isi Tokyo. Terlihat Kazuma dan Hokuto sedang berjalan bersebelahan sambil melihat lampu hias yang cantik disepanjang pertokoan di shibuya.

 

Hari ini pertemuan kembali mereka setelah pertemuan emosional Kazuma terakhir. Hokuto baru kembali menghubunginya pagi ini. Meminta Kazuma menemaninya pada malam hari untuk mencari hiasan pohon natal. 

 

Ini sudah tahun kedua mereka berencana merayakan natal bersama. Membeli lampu hias bersama, menghias pohon natal besoknya, dan saling menghangatkan diri di dekat perapian sambil menunggu datangnya hari natal.

 

Tentu tahun ini mereka akan sama melakukan apa yang telah dilakukan tahun lalu bukan?

 

“Kazu, bagaimana warna kuning ini?”

“Tumben sekali memilih kuning, tahun sebelumnya kau memilih warna warni.”

“Icchan bilang dia suka kuning.”

Kazuma terdiam, sepertinya dia salah dengar. Mengapa lampu hias pohon natal mereka harus warna yang disukai Itsuki?

“Mengapa harus disesuaikan dengan warna kesukaan Itsuki?”

Hokuto menatap Kazuma. “Tentu saja, karena ini akan dipasang di pohon natal kami.”

 

Kazuma mundur beberapa langkah, dia menatap tidak percaya kepada Hokuto. Mengapa mengajak Kazuma untuk merayakannya bersama Itsuki.

“Aku juga akan mengajakmu.”

“Bagaimana aku bisa hadir ditengah kalian yang sedang romantis?”

“Hubungan kami belum sampai itu.”

“Belum…”

“Kazu…”

“Sepertinya aku lupa mematikan kompor Hokuto. Aku akan pulang duluan, Sampai jumpa.”

Kazuma bergegas meninggalkan toko perhiasan natal yang didatangi dirinya dan Hokuto, dia kesal dan tentu ini memalukan jika dia harus berbicara banyak didalam toko. Lebih baik dia pulang sebelum dirinya semakin kalut. 

 

Salju turun lebih lebat ketika Kazuma keluar dari toko perlengkapan natal. Dia tidak langsung pergi dan kembali menatap Hokuto dari balik kaca toko. Kazuma masih berharap bahwa Hokuto berlari mengejarnya. Tapi semua itu hanya harapannya, Hokuto disana masih tersenyum berbicara dengan pegawai toko. Sepertinya Hokuto memang tidak membutuhkan dirinya.

 

Kazuma menatap langit hitam yang turun salju, mengapa perasaannya menjadi berat seperti ini sejak mengenal Hokuto?. Hatinya terasa dingin sekali. Dia tidak tau mengapa mencintai Hokuto begitu menyakitkan untuk dirinya sendiri. Apakah karena dia sudah berharap duluan sejak awal bertemu Hokuto ataukah memang dia bodoh selalu tenggelam dalam harapannya?

 

 

Tidak…ini bukan akhir bagi Kazuma. dengan Langkah cepat dia kembali ke rumahnya. Perasaan Kazuma tidak akan berakhir begitu saja sekarang.

Kazuma akan berusaha untuk Hokuto. Pada malam natal, dia akan mencegat Hokuto dan mengakhiri hubungan Friends With Benefits mereka. Dia akan menyatakan perasaannya besok. 

Dia masih memiliki hiasan lampu yang tahun lalu dia beli bersama Hokuto. Dia akan menggunakan itu dan membujuk Hokuto untuk menghabiskan malam natalnya berdua bersama Kazuma.

 



Guratan senja menghiasi langit untuk menuju malam natal, lampu kota menyala dan mulai menghiasi malamnya Tokyo. Kazuma baru menyelesaikan hiasan lampu pohon natalnya. Dengan cepat mengetik nama Hokuto dalam ponselnya untuk mengajak Hokuto ke Apartemennya.

 

Tutt…Tutt..Tuttt ((Nada sambung terdengar))

// Kazu?

// Hokuto kau dimana?

// Aku di pertigaan dekat minimarket rumahmu.

// Kau dekat dari rumahku? Aku akan kesana.

// Tidak perlu, kau langsung kerumah Itsuki saja.

// Tidak…aku ingin kau melihat sesuatu dulu dirumahku.

// Kazu..

// Aku pergi.

 

Telpon terputus, Kazuma segera mengenakan jaket dan topi musim dinginnya. Tak lupa Kazuma segera memasukan ponsel dan bergegas pergi menemui Hokuto.

 


 

Butir salju turun lebat hari ini, sepertinya natal tahun ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya. Karnaval ditiadakan dan tidak banyak orang yang melintas di jalan.

 

Terlihat Kazuma yang setengah berlari menyusul Hokuto untuk mencegatnya agar datang ke rumahnya terlebih dahulu.

 

Kazuma terlambat, Hokuto tidak terlihat di pertigaan yang tadi dikatakan. Kazuma segera membuka ponselnya, dan menekan pesan Hokuto untuknya.

 

// Kazu…aku akan kedinginan jika menunggu di pertigaan. 

// Ini link rumah Itsuki, aku buru-buru kesana. 

// Kami menunggumu ya.

 

Kazuma mengerat kan genggaman ponselnya, tangannya sudah dingin, hingga buku-buku kukunya memucat.

“Persetan kau Itsuki.” Gumam Kazuma.

 

Dengan cepat dia berlari menyusul Hokuto ke alamat yang dia berikan.

 

Lebatnya salju membuat Kazuma sesekali terpeleset jatuh akibat jalanan yang cukup licin. Dia tidak peduli lagi, dia hanya perlu mencegat Hokuto.

 

Maps menunjukkan tinggal satu lagi persimpangan untuk sampai di rumah Itsuki. Kazuma lebih cepat lagi memacu kecepatan larinya, sungguh dia hanya bisa berharap Hokuto jalan lebih lambat atau perlu terjatuh agar dia bisa lebih cepat menemuinya.

Takdir tidak berpihak pada Kazuma. Dari persimpangan Kazuma dapat melihat Hokuto dan Itsuki yang saling menatap satu sama lain. Kazuma agak menyesali turunnya salju, sejak tadi mereka turun dengan cepat namun mengapa sekarang agak mereda. Sehingga dia akan dengan jelas menatap pasangan itu saling menatap mesra.


Kazuma membatu. Dia mengurungkan langkahnya mendekati Hokuto.


Hokuto memeluk Itsuki dan menciumnya dengan lembut. Bukankah itu ciuman yang biasa Hokuto berikan pada Kazuma ketika mereka berbagi kasur atau melepas kepergian.

 

Mengapa Hokuto melakukan itu kepada Itsuki?.

 

Kazuma masih setia menatap pasangan itu. Matanya memanas dan berair. Dia tidak berani memisahkan momen mereka dan enggan juga beranjak dari sana. Bukankah itu tandanya dia menyatakan mengalah jika pergi sekarang?.

 

Hokuto dan Itsuki mengakhiri ciuman mereka. Itsuki terkejut menatap Kazuma yang masih setia berdiri di dekat persimpangan rumahnya.

 


“Hokuto…Kazuma-san…” ujar Itsuki sambil menatap tempat Kazuma menatap mereka berdua dalam diam.

Hokuto memalingkan wajahnya. Benar disana Kazuma berdiri menatap mereka dengan tatapan marah. Hokuto harus menyuruh Itsuki masuk terlebih dahulu sebelum Kazuma melakukan sesuatu kepada Itsuki.

“Icchan, masuklah dulu…kami akan menyusul.” Itsuki mengangguk dan pergi masuk ke dalam rumahnya.

 

 

Kini tinggal Hokuto dan Kazuma yang masih setia berdiri di tempatnya.

 

“Kazu…”

“Ini tidak terlihat seperti “belum” yang kau katakan kemarin Hokuto…”

“Tolong jangan merendahkan dan menekan setiap kalimat yang kau ucapkan Kazuma.”

“Tentu karena aku tidak baik-baik saja sekarang Hokuto.”

 

“Hufttt..” Hokuto mendekati Kazuma, menggenggam jari-jari yang sudah pucat dan dingin itu. Namun Kazuma menepis itu, rasanya dia akan muntah ditempat bila Hokuto masih melakukan skin ship dengan dirinya.

 

Hokuto memandang sendu Kazuma, namun berbeda dengan Kazuma. Kazuma terus berusaha menatap objek lain selain Hokuto dihadapannya.

“Kazuma, setidaknya kita masuk terlebih dahulu. Tanganmu sedingin itu.” Ujar Hokuto yang berusaha kembali menggenggam tangan Kazuma.

“Tidak Hokuto, tidak hanya tanganku yang dingin, hatiku sejak tadi sudah beku dan sesak ditempatnya.”

“Tolong berhenti seperti ini Kazuma…”

“Berhenti?! Apa yang kau maksud Hokuchan?” Suara Kazuma bergetar, dia sebenarnya tidak sanggup menahan debaran dadanya sekarang.

“Berhenti menatapku dengan penuh kesedihan seperti itu Kazuma.”

“Bagaimana aku bisa berhenti Hokuto? Kau yang menorehkan kesedihan ini…”

“Kita tidak ada hubungan apa-apa Kazuma…aku tidak mengerti mengapa kau harus merasa sesedih ini?” perlahan Hokuto meninggikan suaranya, dia juga sudah tidak tahan dengan segala kata-kata Kazuma yang semakin mencekik dirinya.

 

Kazuma menatap tidak percaya kepada Hokuto. Hatinya seperti terinjak begitu keras. Tapi tidak ada air mata yang bisa dia keluarkan untuk Hokuto saat ini.

“Apakah perasaanmu untukku terus membeku seperti salju hari ini Hokuto?”
Hokuto tidak menjawab, dia hanya terus menatap ujung sepatunya. Dia jadi tidak berani menatap balik Kazuma.

“Hokuto, lihat aku!” dengan segala kekutan yang tersisa Kazuma menggenggam kedua bahu Hokuto. Dia hanya memiliki waktu saat ini untuk meyakinkan perasaannya.

“Setelah 2 tahun ini, apa kau sama sekali tidak merasakan apa-apa terhadap hubungan kita?”
Hokuto menatap lurus kedalam mata Kazuma. “Tidak.”

“Kita teman Kazuma, kuharap kau mengerti…”

 

Kazuma melepas genggamannya dengan cepat. “Bagaimana aku mengerti, kau akan kehilangan temanmu ini jika kau berhubungan lagi dengan Itsuki…KAU TAU AKU TIDAK MENYUKAINYA HOKUTO!” seru Kazuma dengan nada tinggi.

 

“KENAPA KAU SANGAT INGIN AKU HANYA UNTUKMU KAZUMA?! KAU TAU SEJAK AWAL KITA HANYA SETUJU BAHWA KITA HANYA PERLU BERBAGI RANJANG DAN KEHADIRAN SATU SAMA LAIN! JADI BERHENTI MENCERITAKAN PERASAANMU!”

Kazuma tersentak, Hokuto marah kepadanya.

“Tapi aku mencintaimu sejak pertama kali bertemu Hokuto…” lirih Kazuma.

“Tapi itu hanya dirimu Kazuma…”

Dada Kazuma sempurna dipenuhi dengan rasa sakit. “Hokuto…sungguh tidak ada orang lain, aku hanya mencintai kamu.”

“Cukup Kazuma, kita akhiri saja ini semua sekarang.” Hokuto memijat dahinya keras, dia terlihat kesal dan gemas sekarang dengan kelakuan Kazuma.

 

“Bagaimana bisa kau mengakhirinya secara sepihak seperti ini Hokuto?” setetes air mata turun, Kazuma berusaha mati-matian tadi menahannya.

“aku tidak tahan dengan sikapmu yang memaksa seperti ini Kazuma…kita cukup dengan hubungan seperti kemarin, kenapa kita harus mengungkitnya seperti ini.”

“Baiklah maafkan aku, mari kita kembali dengan hubungan seperti itu saja lagi, ya?” Kali ini Kazuma lah yang berusaha menggenggam tangan Hokuto.

“Menjijikan…” Hokuto mendengus dan bergumam.

“Ho-Hokuto…kenapa?” Bahu Kazuma runtuh, dia tidak menyangka Hokuto akan mengatakan dirinya seperti itu.

“Cukup! Kau boleh pergi!”

“TIDAK HOKUTO, TIDAK! AKU TIDAK MAU!”

 

Hokuto menarik pergelangan tangan Kazuma dan menyeretnya menjauhi rumah Itsuki.

“HOKUTO LEPASKAN! SAKIT!”

 

Sekitar 50 meter menjauhi rumah Itsuki, Hokuto menghempaskan tangan Kazuma dan membuat Kazuma sedikit terhuyung jatuh pada tumpukan salju di jalanan.

 

“AKU TIDAK INGIN MELIHATMU! TOLONG PERGI!” Hokuto menunjuk wajah Kazuma, dia terlihat marah dengan tatapan mata menyeramkan.

Melihat Kazuma yang terkejut, Hokuto segera berbalik dan meninggalkan Kazuma dalam diam. Hingga genggaman tangan Kazuma menghentikan Langkah Hokuto.

“Tolong jangan pergi Hoku…kita kembali dari awal, ya?”

“Tidak, sampai kapan pun tidak!”

“Bagaimana jika kematian?…apakah hal itu bisa kembali membuatmu datang kepadaku Hoku?” Kazuma putus asa, lidahnya terlalu kelu menanyakan hal ini. 

“Tentu, pergi dan MATILAH!” 

 

Hokuto melepas genggaman itu kasar. Dia berlalu dan hilang dipersimpangan. Kazuma masih terdiam, pikiran sedih dan kalut. Hanya satu tempat yang terpikir olehnya. Dia akan pergi kesana sekarang.

 


 

Kazuma berjalan gontai menyisiri sebuah jembatan dipinggir kota Tokyo, salju menjadi sangat lebat mendukung perasaan Kazuma. Dia tidak akan menduga semua kondisi saat ini sangat mendukung keputusannya sekarang.

 

Air sungai memiliki ujung kearah laut lepas dihadapannya. Air tampak banyak bongkahan es melayang dipermukaan sungai. Ini sangat tepat untuk mengahiri hidup tanpa diketahui siapapun bukan?.

 

Kazuma masih terus menatap aliran air dibawah Jembatan yang berdiri sekitar 20 meter kebawah. Apakah itu cukup membunuhnya atau hanya membuatnya cacat?.

 

Kazuma berhenti ditengah jembatan. Masih berharap bahwa salju mereda dan seseorang menghentikan  sekarang juga. 

 

Tidak dengan takdir, kondisi jalan sepi dan salju semakin lebat.

 

Kazuma menatap jejak kaki yang tertinggal di jalanan akibat langkah sepatunya. Dia berusaha meyakinkan dirinya, bila jejak itu terhapus oleh tumpukan salju maka segalanya akan berakhir hari ini.

 

Naas, jejak langkah itu menghilang. Semua mendukung keinginan Kazuma. Perlahan dengan pasti, Kazuma sudah berdiri ditepian sungai. Menatap lamat aliran air itu, tidak ada bayangan tubuhnya.

1

 

 

2

 

 

3

Kazuma melepas genggamannya, dan jatuh bersama aliran air.

 


 

 

Keluarga dan teman terus melakukan upaya pencarian.

 

Hari ini tepat sebagai hari ke-10 Kazuma menghilang.

Dan hari ini mereka disambut kabar duka, bahwa Kazuma ditemukan tewas di pinggir pantai oleh seorang penjaga pantai.

Besok adalah pemakamannya.

 


 

 

Hokuto melangkahkan kaki memasuki altar pemakaman. Aroma dupa dan bunga memenuhi indra penghidunya, ini adalah pemakaman pertama yang dia hadiri. Hokuto tidak menyangka ini akan menjadi pengelaman yang melibatkan teman baiknya, Kazuma Kawamura.

 


Sebuket bunga dibawa oleh Hokuto, penampilannya tidak dapat dikatakan baik juga. Dia cukup merasa bersalah dengan kepergian Kazuma yang secara tidak langsung dipengaruhi olehnya. Dia tidak bisa tidur selama 10 hari ini.

 


Tapi apa yang dapat Hokuto ubah. Nyatanya dia sendiri yang tau bahwa Kazuma meninggal atas dorongan dirinya.

 

Hokuto menatap kosong pada foto Kazuma dihadapannya. Itu adalah foto terakhir yang diambil dalam sesi wawancara Kazuma. Wawancara itulah yang dikatakan special oleh Kazuma.

Tentu dia membaca isi wawancara Kazuma, dia senang dirinya disebutkan. Tapi sekali lagi, dia harus meminta maaf karena memang dia tidak memiliki perasaan yang sama dengan Kazuma.

 

Semua yang telah terjadi kepada Kazuma dan dirinya, Biarlah dia yang memikul beban ini sendiri. 

 

“Tuhan…Tolong biarkan aku menanggung rahasia ini sendiri” ucap Hokuto dalam hati. Kini bunga putih pemberiannya telah bergabung dengan bunga tamu lainnya.

 

Hingga akhirnya Hokuto langsung berlalu dan meninggalkan altar pemakaman Kazuma dalam diam.
 

Notes:

Aku tidak bisa membantu kalian jika kalian menangis...tolong kuatkan diri anda masing-masing hehehe (T.T)?

Cerita ini berakhir menyedihkan, aku harap kalian tidak sedih berkepanjangan ya...

Jangan benci aku dan ceritaku...aku hanya membagi imajinasiku yaaa... dan sudah ada peringatan juga...

Aku sayang kalian
Terimakasih sudah mampir (-3-)/