Work Text:
Hubungan mereka berawal dari aksi yang disengaja; San berikan setuju walaupun dia sempat diancam dengan argumentasi Ray yang tak masuk akal. Lagi-lagi ini tentang seks yang mana ketika itu dilibat-libatkan dengan urusan pertemanan. Katanya tidak ada teman yang bukan berawal dari perkara bersetubuh. Memang terdengar seperti bualan—yang bodohnya San iyakan tanpa pikir panjang.
Sebagai akhirnya, omong kosong tadi yang buat San sekarang pertanyakan apakah cinta betulan miskonsepsi dari hubungan mesra tanpa status mereka atau hanya dia yang jatuh ke lubang petaka. Pasalnya, petang itu Ray datang bersama luka di hatinya—membawa luka pula di hati San untuk kesekian kalinya—namun yang San dapati yakni lidahnya yang kelu untuk bertanya apakah pemuda rupawan itu baik-baik saja. Sebab ia khawatir; sebab jika diberi izin, ia ingin menjadi sosok pahlawan pelipur lara.
Bahkan ketika Ray sendiri acuh tak acuh dengan kondisinya. Pemuda itu langsung rebahkan tubuhnya di ranjang sesampainya ia di flat yang San tinggali. Pandangannya ada di langit-langit ruangan dengan segala hal yang terpancar di kedua matanya. Luka di ujung bibirnya belum terobati dan dia sama sekali tak terlihat peduli. Sementara itu San terlena; menerawang racikan apa yang harus dia buat supaya luka tadi tak bertahan lama sakitnya. Sebersamaan dengan itu tungkainya mengarah ke lemari sebelum ia memilih-milih setelan baju yang muat dipakai si pengunjung.
“Nih, ganti dulu baju lo.” San jatuhkan pakaian yang tadi ia pilih di atas dada Ray dan pemuda itu hentikan sesi melamunnya sebagai reaksi pertama. Ia masih tak banyak bicara, tetapi bukan berarti sulit baginya untuk berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Sampai sekarang San masih sulit tentukan pilihan apakah dia harus berlega hati atau lari sejauh mungkin dari perangainya yang satu itu.
Yang jelas saat itu Ray tahu-tahu sudah berdiri di depannya, kedua tangan terlipat di dada dan indra penglihatnya mulai main-main lagi. Ia lontarkan pertanyaan yang sedikit buat San berjengit, hasil dari salah tingkah. “Is it the bed sheet again or are you worried about me?”
“It's the intrusive thoughts,” ujar San singkat.
“I don't buy that.”
San rela pertaruhkan harinya yang baik-baik saja demi sebuah pesan bahwa Ray boleh tinggal sementara di tempatnya—tepat setelah pemuda itu terdengar seperti kehilangan arah, dan ia masih kurang ajar bertanya, atau bahkan menggoda.
“I don't mean to crash here to have sex with you by the way,” mulai Ray, intonasi bicaranya datar namun terdengar angkuh. “But you're free to beg if you want to.”
Bola mata San berputar. “You won't catch me begging for a sex.”
“Oh, that's quite shocking.” Ray meladeni.
Kalimat barusan jelas sekali dilontar dengan niat menghina, sebab laki-laki berkenamaan Ray itu kini melangkah ke depan dan jadikan jarak mereka berdua tiada. Tangannya sentuh daun telinga San yang menelan ludah dengan perasaan campur-aduk; ia sapu ibu jari satu tangannya lagi pada pinggang San yang terbalut baju, sementara ujung bibir mereka sedikit menyatu. San bisa rasakan napas Ray yang berderu di kedua pipinya.
Mereka terdiam sedikit panjang saat itu. Otot-otot pada tubuh San seolah membeku dan ia tak punya daya untuk menyelamatkan lima detik yang mencekiknya itu. Payahnya, terjadi lagi tatkala ia belum berhasil memverbalkan isi otaknya, Ray lebih dulu bersuara membawa sebuah kesimpulan.
“So,” Ray bergumam, “I assume you've changed your mind.”
San kejutkan dirinya sendiri dengan lengannya yang berhenti pada milik Ray. Ia sudikan laki-laki itu untuk mendekat, mengambil jarak yang tak tersisa di tubuh mereka dan melanjutkan hal yang hampir jadi sia-sia. Bibir mereka bertemu pada setengah sekon setelah San isyaratkan iya. Apa-apa yang ada dalam otaknya saat itu terbang, bertebaran bersama dengan warasnya yang terhunus.
Mereka berciuman ibarat anak adam yang bertemu lautan di tengah hebatnya musim kemarau; ibarat kemurkaannya bertemu pada gelas-gelas kaca yang bercerai-berai. Ray suguhkan ritme pelan, biarpun bersama itu rahang San dirangkum kencang sehingga ciuman mereka diperdalam. Figur yang lebih tinggi berusaha seimbangkan tubuhnya yang mulai loyo dengan ikut genggam pinggang laki-laki di hadapannya sebagai tumpuan.
Pada kesempatan tertentu Ray mendesis di tengah-tengah ciuman mereka dan San serta merta hentikan kegiatannya. Pemilik tempat tinggal itu saksikan laki-laki di depannya gelisah sambil kemudian ia merengek, “Bibir lo masih luka.”
Sementara empunya bibir meneguk tawa.
“Are you really worried about me, San?” tanya Ray, menaikkan sebelah alisnya sendiri. “You've been thinking too much about things.”
San tidak menjawab, melainkan tangannya tarik leher kaos yang dikenakan Ray sampai tubuh mereka menyatu lagi; sampai mereka berciuman lagi. Saat itu San bisa rasakan Ray menyeringai di sela-sela ciumannya sebelum pemuda itu mengabsen setiap inci bibirnya. Napas keduanya mulai tipis namun tidak satupun dari mereka punya niat berhenti.
Sampai akhirnya Ray setir keduanya ke ranjang tepat di belakang mereka yang tak berpenghuni. San jatuhkan badannya terlebih dahulu di sana, lalu Ray yang merangkak di atas mengikuti. Bibir Ray setelah itu bersemayam di leher jenjang San, mengecup dan melumat kulitnya dengan gerakan tergesa, sementara empunya memiringkan kepala. Akses yang diberikan pada Ray berbarengan dengan cengkraman di lengannya.
Ray gerakkan tangannya yang sedari tadi menganggur sebagai awal ia menjamah perut San dari sela-sela kaosnya yang tersingkap. Ia merunduk, tinggalkan ciuman panjang di bibir San lagi sebelum yang lebih tinggi itu mendorong pelan bahunya dan berucap patah-patah.
“Can you not—ah,” protes San, setelah itu napasnya tercekat. Tangan Ray telah sepenuhnya keluar dari kaosnya tetapi laki-laki itu kini mencengkram paha dalam San dengan kelima jemarinya, sementara mulut itu masih sibuk bersambang di sepanjang rahang.
“Penawaran gue masih berlaku,” San dapati celananya telah melintir di ujung paha ketika Ray berbisik di telinganya. “You're free to beg, remember?”
San cuma bisa benarkan posisi tidurnya walaupun gerakan badannya kala itu sama arti dengan menggeliat sebagai tujuan cari friksi. Sedangkan tangan Ray mulai ke mana-mana. Mencengkram pahanya, menekan penisnya main-main, berputar-putar di area putingnya, sampai ia mulai menyelinap masuk ke mulut San yang sukarela terbuka. San menenggak air ludahnya sendiri bersama ia saksikan ekspresi Ray yang arogan di atasnya.
Jemari itu dikulum dengan hati-hati sebab San masih punya akal sehat buat pikir solusi agar dia tak tersedak sampai mati. Ia dapati napasnya memberat seiring rongga mulutnya dijamahi. Begitu jari jemari tadi keluar, San saksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana salivanya selimuti tangan Ray hingga sela-sela jari.
San akan sebut bahwa Ray adalah kesalahan elok dalam hidupnya. Ia akan tetap panggil laki-laki itu dengan sebutan anak setan ketika kepalanya mulai bebal dan tidak menurut. Anggapan kontradiktif itu akan selalu ada dan mungkin sulit ia sesali, setidaknya untuk sekarang. Mereka berkompromi dengan sengaja, pun jika terjatuh baiknya bersama-sama.
San tak lagi ambil pusing soal jantungnya berguncang hebat malam ini. Ia tak sanggup berpikir yang lain-lain lagi.
“Ray,” bisik San, napasnya pendek-pendek. “I want you inside me, please.”
