Chapter Text
Di suatu sore yang hangat dan menenangkan, terlihat sebuah sosok yang mengenakan celemek bergambar ikan lele sedang menyiapkan makan malam sembari menunggu suaminya pulang bekerja. Rencananya ia akan memasak kare, yakni jenis masakan yang cukup praktis dan mudah dibuat oleh siapapun.
Saat sedang memasukkan potongan lobak ke dalam kare buatannya, tiba-tiba saja terdengar sebuah suara yang familiar dari arah pintu depan.
"Namazuo, aku pulang." Sayup-sayup terdengar suara milik seorang laki-laki yang terdengar sedang lelah karena habis bekerja sepanjang hari. Mendengar hal tersebut, sosok yang memiliki nama lengkap Namazuo Kuninaga ini segera mengecilkan volume api di kompor dan bergegas menyambut kepulangan suaminya.
"Selamat datang, Kakak…!" sambut Namazuo secara hangat sambil memperlihatkan senyum terbaik miliknya kepada sang suami tercinta. Sang istri lalu menerima sebuah kecupan singkat di keningnya, setelah itu ia membantu sang suami melepaskan jas kerja yang ia kenakan.
“Kak Tsurumaru, Kakak ingin mandi dulu atau makan dulu?" Tanya Namazuo seraya melipat-lipat jas sang suami yang didominasi dengan warna putih. Sang suami melonggarkan ikatan dasi di lehernya, "Hmm… aku mau mandi dulu saja."
"Kalau begitu, Namazuo siapkan dulu bak mandinya ya, Kak…!" usai berujar demikian, Namazuo pun terlihat menghilang ke arah kamar mandi.
"Aa, terima kasih banyak," sahut Tsurumaru seraya menghempaskan tubuhnya di sofa untuk mengistirahakan tubuhnya yang terasa pegal-pegal dan lelah. Saat ia sedang menikmati istirahat singkatnya tersebut, tiba-tiba saja hidungnya mencium bau sesuatu.
"Ng?" Tsurumaru mengendus-endus udara di sekitar hidungnya. "…Kare?" gumamnya laki-laki itu kemudian. Ia pun bangkit dari sofa dan berjalan ke arah dapur. Begitu ia tiba di sana, didapatinya sebuah panci yang sudah mendidih dan mengeluarkan aroma yang tercium sedap.
Detik itu juga, Tsurumaru diam terhenyak di tempatnya.
"..Eh? Apa ini? Kenapa baunya bisa seenak ini…?" batinnya dalam hati dengan gejolak perasaan yang tak enak. Pasalnya, sosok yang ia nikahi beberapa bulan sebelumnya tersebut sama sekali tidak becus dalam soal memasak. Namun untuk pertama kali dalam hidupnya, ia melihat sepanci kare yang terlihat edible sedang mendidih di dapurnya. Seketika itu juga, berbagai macam spekulasi atas peristiwa ajaib tersebut pun bermunculan dalam benak sang suami.
“Kare instan..? Kare yang dibeli dari restoran cepat saji? Atau… kare masakan tetangga?” Didorong oleh rasa terkejut sekaligus penasaran, akhirnya Tsurumaru memutuskan untuk memeriksa isi dari panci ajaib tersebut. Karena ini juga menyangkut soal hidup-matinya, sudah tentu ia harus memeriksa isinya. Sembari menelan ludah, Tsurumaru Kuninaga pun membuka tutup panci di hadapannya secara perlahan-lahan…
.
.
.
"…" Usai melihatnya, Tsurumaru buru-buru menutup panci tersebut dan berusaha untuk melupakan apa isinya.
"Kakak, air hangatnya sudah siap…!" samar-samar, terdengar suara sang istri tercinta memanggilnya dari kejauhan.
"Y-ya, aku akan segera ke sana…!" balas Tsurumaru agak kikuk. Ia berharap bahwa pemandangan yang baru saja disaksikannya hanyalah sebuah ilusi optik belaka. “Pasti yang tadi itu cuma salah lihat saja,” gumam Tsurumaru pada dirinya sendiri. Mungkin saja dirinya terlalu lelah sampai-sampai bisa salah lihat. Mungkin saja setelah ia mandi, tubuh dan pikirannya akan segar kembali sehingga ilusi optik yang mengelabuhi penglihatannya itu bisa segera lenyap. Tsurumaru terus berpikir positif seperti itu sambil berjalan menuju kamar mandi.
Setibanya di kamar mandi, terlihat Namazuo yang sudah menyiapkan berbagai perlengkapan mandi untuk Tsurumaru. Dengan lengan baju yang digulung sampai ke siku, Namazuo meletakkan kedua tangannya di pinggang. "Kakak kelihatan lelah sekali. Mau sekalian Namazuo gosokkan punggungnya?"
Tsurumaru memutar bola matanya sejenak. "Kalau begitu, tolong, ya…"
Sehabis mandi dan mengenakan pakaian yang cukup nyaman untuk tidur, Tsurumaru duduk di ruang makan dengan wajah yang tegang. Kedua matanya terkunci pada sosok Namazuo yang terlihat begitu ceria saat menyiapkan hidangan tak layak sensor tersebut dengan perasaan yang campur aduk. Selama ini, istrinya tersebut selalu memasak dengan mengandalkan instingnya, bukan dengan menggunakan common sense. Pernah sekali Tsurumaru membelikannya buku panduan memasak, akan tetapi Namazuo selalu saja menambahkan bahan lain ke dalamnya. Pada akhirnya, Tsurumaru harus mengalami sakit perut selama dua hari dua malam sehingga ia tidak bisa menikmati libur golden week sebagaimana semestinya.
Sebetulnya saat sedang mandi tadi, Tsurumaru ingin menyarankan Namazuo untuk belajar masak pada tetangga mereka yang jago memasak—sayangnya ia lupa untuk menyampaikannya karena belum menemukan momen yang tepat untuk mengatakannya.
(Dan kalau Tsurumaru boleh buka kartu, dulu Namazuo pernah merebus seekor ayam utuh yang benar-benar belum diolah—masih berbulu, lengkap seluruh anggota tubuhnya dari bagian kepala hingga ceker—dan hal tersebut merupakan salah satu kenangan buruk yang mampu membangkitkan trauma tersendiri baginya.)
"Kak Tsurumaru, aaah~ "
Dengan berat hati, Tsurumaru membuka mulutnya saat Namazuo menyuapkan masakan tersebut padanya. Benar saja, pada suapan yang pertama ia langsung tersedak oleh sensasi rasa masakan buatan istrinya.
“Eh, Kakak baik-baik saja?” Tanya Namazuo khawatir seraya menyodorkan Tsurumaru segelas air putih. Tsurumaru segera menerima gelas tersebut dan langsung menghabiskan seluruh isinya.
“Aah, sekarang aku sudah tidak apa-apa…” gumam Tsurumaru usai mengosongkan isi gelas di tangannya. Mendengarnya, Namazuo menghela napasnya lega. “Syukurlah kalau begitu…”
Tak lama kemudian, Namazuo kembali membuka mulutnya. “Eng, jadi.. kali ini bagaimana rasanya, Kak…?” Tanyanya dengan wajah polos yang membuat Tsurumaru tak tega.
Tsurumaru terdiam sejenak. Meski rasa masakan buatan istrinya tersebut sulit untuk didefinisikan, ia tahu betul jika istrinya ini sudah berjuang dengan sungguh-sungguh menyiapkan makanan tersebut untuknya.
Laki-laki berambut putih itu mengulurkan tangannya, meraih tangan sang istri yang tengah memegang sendok, kemudian menyuapkan masakan buatan Namazuo tersebut ke dalam mulutnya. Usai (berusaha) menelannya, Tsurumaru berkata, “Tak ada yang mampu menandingi masakan buatan seorang istri yang dibuat dengan penuh cinta.”
Mendengar hal tersebut, Namazuo tak kuasa menyembunyikan semburat merah di kedua pipinya. “Ah... Kakak ini bisa saja.”
Namazuo memadamkan lampu tidur kamarnya sebelum ia merebahkan dirinya di atas kasur.
“Selamat tidur, Kak Tsurumaru.” bisik Namazuo pada Tsurumaru yang sudah lebih dulu terkapar di sampingnya.
“Selamat tidur juga, Namazuo.” Balas Tsurumaru kemudian.
Keduanya pun terdiam sambil menatap langit-langit kamar, mencoba untuk tidur. Tsurumaru agak kesulitan memejamkan kedua matanya sebab masih ada sisa gejolak yang ia rasakan di perutnya. Sementara itu, Namazuo masih belum tidur karena alasan lain.
"Kak," gumam Namazuo membuka percakapan sebelum tidur mereka malam itu, "...Kita sudah tiga bulan menikah, kan?"
Tsurumaru menaikkan sebelah alisnya. "Hm? Ya, begitulah. Memangnya ada apa...?"
Namazuo meletakkan jari telunjuknya di bibir, masih sambil menerawang ke arah langit-langit. “Lalu… kenapa kita belum juga punya anak, ya…?"
Kemudian terdengar suara Tsurumaru yang terbatuk dengan keras.
"—Eh, Kak Tsurumaru…! Kakak tidak apa-apa?"
"…Aa..ya, aku tidak apa-apa.." gumam Tsurumaru seraya menyeka mulutnya sehabis terbatuk karena terkejut dengan pertanyaan istrinya tersebut. "..K-kenapa tiba-tiba saja kau bertanya tentang ini?"
"Eng...habisnya Namazuo benar-benar bingung, padahal kan setiap hari Namazuo selalu tidur bersama Kakak, tapi..kenapa kita belum juga punya anak, ya…?"
Tsurumaru terdiam di tempatnya. '…Namazuo, jangan bilang kalau kau tidak tahu soal…'
Sang suami lalu berdeham untuk menjernihkan suaranya.
"…Sebelum itu, aku ingin bertanya satu hal padamu," akhirnya Tsurumaru membuka suaranya, "..Kau…tahu 'kan… soal…" Tsurumaru menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, "eng..…hubungan suami-istri?"
Namazuo mengangguk di tempatnya. "Uhm! Tentu saja," ujarnya, "Hubungan suami-istri itu juga sesuatu yang kita lakukan setiap hari, kan…?"
"…Hah?" Tsurumaru menganga di tempatnya.
"Umm…itu… seperti..yang biasa kita lakukan bersama-sama sebagai suami dan istri…" tutur Namazuo berusaha memberi penjelasannya, "…seperti makan bersama, tidur bersama, membersihkan rumah bersama, lalu—“
"—Haah, kau ini betul-betul tidak punya petunjuk sama sekali, ya…" desah Tsurumaru sambil mendaratkan telapak tangannya di kening.
Tsurumaru bangkit dari posisinya semula, membuatnya berada dalam posisi sedang duduk. "…Kau betul-betul tidak tahu.." kalimat Tsurumaru mengambang di udara sesaat, “..dari mana seorang anak itu berasal?"
Namazuo mengedipkan kedua matanya. "Eh? Bukankah anak itu berasal dari buah cinta sepasang suami istri saat mereka tidur bersama—“ Kalimat Namazuo terputus saat tiba-tiba saja Tsurumaru memandang wajahnya dari dekat. Namazuo mengedipkan matanya dengan pipi yang sedikit bersemu merah, "—W-wajah Kakak… terlalu dekat…"
Tsurumaru tidak mengindahkan kalimat protes istrinya, "…Apa kau paham maksud dari kata-kata yang baru saja kau jelaskan tadi….?"
“Aa.. umm.. ya?” jawab Namazuo tak yakin.
Tak lama kemudian, Tsurumaru bergerak merangsek ke arah istrinya. Tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, tiba-tiba saja ia mulai mencium bibir, dagu, dan leher istrinya.
"..Ekh?! K…Kak Tsurumaru?!" pekik Namazuo terkejut sekaligus malu.
"…Shhh…" bisik Tsurumaru tepat di telinga Namazuo, membuat sosok yang paling mungil merinding geli akibat hembusan napas pada telinganya. "Tenanglah, Namazuo…" sambil bergumam demikian,Tsurumaru mulai membuka kancing pada kerah piyamanya satu per satu.
"Lho.. Kak Tsurumaru kenapa? Kakak kepanasan…?"
(Krik.)
Tsurumaru menghentikan aktivitasnya sejenak sambil tersenyum kecut. "…Mm. Begitulah,"
"…Oh, uhm, kalau begitu mau Namazuo nyalakan AC-nya?"
"Tidak perlu…"
"Tapi, dari pada nanti Kak Tsurumaru berkeringat—"
"—Malam ini kita memang akan berkeringat…" Tsurumaru memutar bola matanya, "…mungkin."
Kedua mata Namazuo berkedip. "Eh..? M-maksud…nya?"
"…" Tsurumaru kembali terdiam sebelum akhirnya ia menghela napas panjang atas kepolosan istrinya yang tergolong di atas rata-rata tersebut. "Haah…."
Hal ini membuat Namazuo akhirnya merasa tak enak. "…Kak Tsurumaru? ..Apa ada yang salah…?" tanyanya dengan hati-hati.
Tsurumaru tidak menjawab pertanyaan Namazuo sebab ia sudah tahu betul bahwa istrinya ini tidak akan bisa dibuat mengerti hanya dengan kata-kata saja. Kalau sudah begini, apa boleh buat; biar tubuhnya saja yang turun tangan untuk menjelaskan segalanya.
'Baiklah, pertama-tama…' Tsurumaru kembali meminimalisir jarak antara wajahnya dengan sang istri, menatap dalam kedua bola mata sewarna anggur miliknya, kemudian membubuhkan sebuah kecupan yang cukup panjang pada bibir ranum sang istri; mengindahkan isyarat protes darinya karena yang bersangkutan tampak sudah tak sanggup menahan nafas lebih lama lagi.
Setelahnya, hanya terdengar desahan napas sang istri yang berusaha mengumpulkan kembali persediaan oksigen dalam paru-parunya. Sampai detik itu, sang istri sama sekali belum mendapat pencerahan soal apa yang akan suaminya lakukan terhadapnya. Ia hanya sebatas mengetahui bahwa malam itu sikap suaminya terkesan berbeda, dan, lebih agresif dari biasanya. Hingga…
“Namazuo…” bisik Tsurumaru dengan suara baritonnya yang khas, “…malam ini akan menjadi malam yang cukup panjang untukmu, jadi bersiaplah….”
