Work Text:
Rumah bernuansa putih-cokelat yang terletak di ujung jalan dalam sebuah kawasan perumahan elite tersebut menjadi saksi bisu kehidupan sebuah keluarga kecil yang telah menghuninya selama sepuluh tahun terakhir. Tidak terlalu megah namun cukup luas dan nyaman. Jika dibandingkan dengan rumah-rumah lain yang ada di lingkungan tersebut tentu belum bisa menjadi pemenangnya, namun rumah tersebut akan selalu menjadi tempat paling hangat bagi Seungcheol dan Jeonghan. Bukan hanya karena jendela-jendela besar yang mengizinkan cahaya matahari pagi menembus ke dalam dan membawa tubuh mereka yang masih tergeletak di atas kasur masuk ke pelukan hangatnya, namun juga bagaimana cinta dan kasih yang dimiliki senantiasa tumbuh dari waktu ke waktu menjadi penyejuk bagi jiwa mereka.
Jeonghan ingat betul bagaimana akhirnya mereka setuju untuk tinggal di rumah ini. Satu tahun setelah Seungcheol mengikatnya secara tidak resmi di parkiran kampusnya, Jeonghan mengajukan sebuah usulan yang ditolak mentah-mentah oleh Seungcheol kala itu.
“Kan besok waktu kita nikah pakai uang kamu semua, aku boleh gentian beli rumah buat kita?”
“Nggak, nggak ada. Rumah juga tetap aku yang beli,”
“Jangan gitu dong, yang nikah kan berdua so I also want to chip in,”
“Mahal, emangnya kamu punya uang?”
“Punya”
“Ya tapi juga paling cukup buat beli rumah kecil aja kan,”
Tersinggung. Kalau boleh jujur, kalimat Seungcheol tersebut agak sedikit menyinggung perasaan dan ego Jeonghan. Memangnya harus tinggal di rumah yang besar dan megah bak istana? Apa salahnya sih tinggal di rumah kecil satu lantai? Yang terpenting kan dengan siapa kita akan tinggal di rumah itu.
“Ya udah kamu beli aja rumah sendiri, aku juga beli rumah kecil sendiri,” ada penekanan yang cukup keras pada kata kecil saat kalimat tersebut terucap dari mulut Jeonghan.
“Terus?”
“Ya kamu tidur di rumah kamu yang gede itu, aku tidur di rumah kecilku sendiri,”
Perdebatan malam itu berakhir dengan ruang obrolan Seungcheol dengan Jeonghan di ponsel pintarnya kosong tak berpenghuni selama hampir dua minggu. Tentu Seungcheol sudah mengusahakan segala cara untuk meluluhkan hati Jeonghan pun ia telah meminta maaf beribu kali dan menyatakan bahwa ia menyesali perbuatannya tersebut.
Hati Jeonghan kemudian luluh ketika suatu sore di hari Jumat, sepulangnya dari kantor, ia melihat mobil Seungcheol terparkir dengan rapi di halaman rumah orang tuanya. Meskipun hatinya masih kesal dan egonya masih terlalu tinggi, namun melihat Seungcheol yang berbincang akrab dengan Kihyun – sang kakak – dan kedua orang tuanya kala itu menghapus segala bentuk keresahan yang selama ini ia pendam.
Calon suaminya begitu dicintai dan disambut dengan hangat oleh keluarganya. Dua dunia yang amat sangat ia sayangi dengan mudahnya perlahan menyatu menjadi satu kesatuan utuh sebagai bentuk cinta terdalam di hidup Jeonghan. Jeonghan sesungguhnya paham sekali bahwa tidak ada sama sekali niat Seungcheol untuk melukai perasaan lewat ucapannya tempo hari. Laki-laki itu hanya ingin yang terbaik untuk Jeonghan dan kehidupan mereka kedepannya. Maka jika Seungcheol dan Jeonghan berbagi kecupan lembut di teras rumah orang tua Jeonghan sebelum mereka kembali menjalani hubungan jarak jauh untuk yang kesekian kalinya, senyuman lega penuh kebahagiaan adalah satu-satunya hal yang menghiasi wajah cantik Nyonya Yoon malam itu.
“Good morning, pretty”
Jeonghan menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Seungcheol berjalan mendekat ke depan Jeonghan yang sedari tadi fokus mengaduk cangkir berisi kopi hitam sambil memandangi taman di bagian belakang rumah mereka. Ada senyum kecil terlukis di wajah Jeonghan tatkala Seungcheol mengecup pucuk kepala Jeonghan dan mengendus wangi rambutnya.
“Morning, Cheol. Kopi kamu ada di meja pantry,”
Mengangguk tanda mengerti, Seungcheol dengan cepat melesat melangkah ke arah dapur dan mengamankan segelas kopi ditangannya. Kebiasaan yang tidak pernah berubah selama sepuluh tahun terakhir, Jeonghan akan bangun terlebih dahulu untuk menyiapkan dua gelas kopi hitam. Cangkir putih untuk dirinya dan cangkir hitam untuk Seungcheol. Seungcheol akan bangun dari tidurnya sekitar sepuluh menit kemudian, tepat untuk kopi itu sudah tidak lagi terlalu mendidih membakar lidah sehingga ia akan dengan mudah menikmatinya. Ciri khas Seungcheol yang telah Jeonghan pelajari semenjak mereka masih menjadi sepasang kekasih. Setiap kali mereka memutuskan untuk berkencan di kedai kopi pada musim hujan, Seungcheol akan memesan kopi hitam panas namun ia tidak akan segera meminum kopi tersebut atau menyesapnya pelan-pelan seperti yang biasa orang lakukan melainkan Seungcheol akan mendiamkan minuman tersebut selama beberapa menit sebelum kemudian menegaknya dalam beberapa tegukan saja.
Seungcheol duduk mendudukkan dirinya di sebuah sofa kecil yang terletak di teras belakang rumah mereka. Mencoba mengumpulkan nyawa dan berusaha untuk merasakan kafein yang perlahan merasuki tubuhnya.
“Sini sayang,”
Seungcheol mengisyaratkan Jeonghan untuk duduk bergabung dengannya. Alih-alih memilih sofa yang berada di sebelah Seungcheol, Jeonghan lebih tertarik untuk duduk di paha Seungcheol yang tentu disambut dengan baik oleh sang pemilik lewat senyum lebar yang memenuhi wajahnya.
“Boleh cium gak?”
“Boleh,”
Jeonghan menundukkan kepalanya, memudahkan akses baginya untuk menyatukan bibirnya dengan Seungcheol. Kecupan lembut ia bubuhkan di atas bibir tebal milik sang belahan jiwa, bertukar aroma kopi dan nafas pagi yang keluar dari masing-masing mulut.
“Met anniv, Mister”
Seungcheol terkekeh. Mulanya ia kira Jeonghan melupakan hari spesial mereka karena biasanya seperti yang sudah-sudah, Jeonghan akan selalu membisikkan ucapan tersebut ketika ia masih terbaring tidur. Namun seingatnya pagi tadi ia terbangun tanpa bisikkan dari si belahan hati.
“Kirain kamu lupa,”
“Nggak mungkin, aku belum pikun kayak kamu,”
“Ten years isn’t it?”
“Iya,”
“Happy anniversary, sayang”
Seungcheol menarik lembuh leher Jeonghan untuk kembali mendekat padanya. Bibir mereka kembali bersatu untuk kedua kalinya pagi itu. Kali ini bahkan lebih lama dan lebih dalam dari sebelumnya. Yang semula hanya kecupan lembut perlahan berubah menjadi ciuman dengan bumbu sensual tersirat didalamnya. Tangan kanan Seungcheol bahkan berpindah ke pipi Jeonghan, mengusapnya dengan lembut sembari mengatur tempo pertemuan bibir dua insan tersebut. Dengan bibir Jeonghan yang sedikit terbuka, memberi akses untuk Seungcheol menyesap dan melumatnya dengan seksama, penuh dengan cinta.
Meski kini sepuluh tahun sudah mereka mengikat janji suci secara sah dan resmi, tidak ada satupun momen dimana kasih yang mereka miliki untuk satu sama lain menipis. Hati Seungcheol akan selalu berdesir setiap kali bola matanya menangkap kehadiran Jeonghan, pun Jeonghan akan selalu merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya setiap kali ia mendengar namanya disebut oleh Seungcheol.
Ciuman mereka pagi ini pun masih sama rasanya dengan ciuman yang mereka bagi sepuluh tahun lalu di Altar pernikahan disaksikan seluruh keluarga dan teman terdekat mereka dengan tepukan meriah dan riuh sorakan yang merayakan bersatunya dua hati menjadi satu cinta. Hari dimana perjalanan hidup mereka berdua dimulai secara utuh. Hari dimana Seungcheol dan Jeonghan mengucap janji sehidup semati untuk terus bersama dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit. Sepuluh tahun yang lalu, hari dimana Jeonghan menjadi milik Seungcheol sepenuhnya dan seutuhnya.
“Mau ngapain hari ini?”
Jeonghan berpikir sejenak. Sesuai dengan kesepakatan, setiap hari jadi pernikahan mereka, Jeonghan akan mengambil jatah cuti dari kewajibannya sebagai seorang manajer di kantor tempat ia bekerja dan Seungcheol juga akan absen mengunjungi restoran milik kakeknya yang sekarang ia kelola. Satu hari dari tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun, hanya akan ada mereka berdua untuk saling memiliki.
“Di rumah aja, boleh?”
“Yakin? Biasanya ajak aku sama kkuma jalan-jalan, tumben banget tahun ini beda?”
Kkuma, seekor anjing berbulu lebat dan berwarna putih bak gumpalan salju yang mereka adopsi lima tahun lalu memberikan warna baru dalam hidup mereka. Meskipun Seungcheol dan Jeonghan sepakat untuk memilih tidak menghadirkan buah hati di tengah-tengah ikatan suci mereka tersebut, namun keduanya setuju untuk menganggap Kkuma layaknya anak mereka sendiri. Si kecil nan gemas tersebut kerap kali menemani kemanapun Seungcheol dan Jeonghan pergi, entah hanya untuk sekedar menikmati kopi di Minggu pagi, mengawal Jeonghan berbelanja kebutuhan rumah di supermarket terdekat atau bermain dengan Seungcheol di taman perumahan yang akhir-akhir ini menjadi kegiatan favoritnya.
Memutuskan untuk menghabiskan sisa hidup yang mereka miliki hanya berdua saja tentu bukan hal yang mudah. Bangun pagi disuguhkan dengan pemandangan wajah yang sama untuk bertahun-tahun, melakukan rutinitas yang itu-itu lagi, dan menunaikan kewajiban-kewajiban yang cepat atau lambat tentu akan terasa membosankan. Namun dengan hadirnya Kkuma di tengah-tengah mereka, Seungcheol dan Jeonghan belajar banyak hal untuk selalu hidup penuh dengan kasih dan kehangatan diantara keduanya.
“Nggak mau, kepikiran mau di rumah aja, nggak papa kan?”
“Aku sih suka-suka aja, enak di rumah bisa rebahan, punggung aku nggak akan capek,”
“Ya kalau itu sih karena emang kamu udah tua aja,”
Seungcheol memang akan memasuki usia kepala empat tahun ini. Berbeda dengan Jeonghan yang lebih muda lima tahun darinya, lelaki Leo tersebut
memang sudah mulai menunjukkan perubahan-perubahan pada fisiknya. Beberapa surai rambutnya sudah mulai memutih di bagian ujungnya, harus menjaga makanan yang dikonsumsi sehingga Jeonghan pun mulai berhati-hati dalam memasak menu makan malam mereka, beberapa bulan yang lalu berhasil bebas dari adiksi nikotin dengan tuntas, sudah mulai memilih pergi ke tempat refleksi badan atau spa air hangat daripada bar malam. Perubahan-perubahan yang sesungguhnya menjadi salah satu ketakutan tersendiri untuk Seungcheol. Seungcheol umur dua puluhan berulang kali mengeluhkan tentang bagaimana khawatir dirinya jika suatu saat akan seperti sang Ayah yang mulai menua sehingga ia mati-matian olahraga dengan giat untuk mencegah hal tersebut, bahkan sampai sekarang pun Seungcheol masih dengan rutin berolahraga empat kali dalam seminggu untuk mempertahankan staminanya.
Meskipun demikian, satu hal yang Jeonghan akui tidak pernah berubah semenjak dulu. Tentang bagaimana hebat dan dahsyatnya Seungcheol di ranjang. Dari awal pernikahan mereka hingga kini menginjak tahun kesepuluh, Jeonghan selalu akan dibuat terpukau dan tentu kewalahan setiap kali mereka bersenggama. Baik dari sisi durasi maupun ketahanan yang Seungcheol miliki, Jeonghan selalu merasa bahwa ia menikahi seseorang dengan permainan seks yang luar biasa hebat. And he’s really thankful for that.
“Ya memang Han, sudah mau empat puluh, mau gimana lagi? Nanti aku di pijat, ya?”
Jeonghan hanya mengangguk. Ia semakin menyamankan posisinya di pangkuan Seungcheol. Menikmati usapan lembut yang Seungcheol berikan dipunggungnya. Matanya berpendar memandangi sebaran rumput hijau di taman belakang rumahnya dengan diiringi kicauan burung-burung kecil yang bertengger di tiang listrik yang tampak di balik tembok bagian belakang.
Memori Jeonghan berputar kembali pada malam pertama mereka di rumah tersebut. Seminggu setelah pernikahan intimate mereka, kedua insan dimabuk cinta tersebut secara resmi menginjakkan kaki mereka untuk yang pertama kalinya di rumah yang telah lama menjadi incaran. Sejak pertama kali melewati rumah bernomor 22D tersebut, Jeonghan bak melihat bunga bermekaran di musim semi. Hatinya jatuh pada pandangan pertama dan ia bersumpah akan menjadikan rumah tersebut sebagai miliknya dan Seungcheol. Seungcheol yang memang sedari awal membebaskan Jeonghan untuk memilih apapun yang ia kehendaki hanya bisa mengangguk dengan senyuman bahagia tatkala Jeonghan meminta izin untuk membeli rumah itu.
“Bagus banget kan Cheol? Ini cuma perlu ganti cat dan interior aja, sama mungkin renovasi taman belakangnya sedikit, gimana?”
“Ya sudah, dibayar saja sayang down payment-nya,”
Dengan satu jabatan tangan antara Seungcheol dengan agen property yang menangani proses jual beli mereka, rumah di ujung jalan tersebut menyambut kedatangan Seungcheol dan Jeonghan sebagai pemiliknya yang baru.
“Mikirin apa?”
“Rumah ini,”
“Kenapa? Bosen, ya? Mau cari yang baru dan pindah saja?”
“Orang gila,”
Seungcheol terkekeh. Ia tahu pertanyaan yang ia lontarkan barusan retoris sifatnya. Jeonghan tidak akan pernah meninggalkan rumah tersebut sampai kapanpun. Meskipun suatu saat ada seseorang yang mau membeli rumah ini dengan harga satu triliun pun Jeonghan akan menendang jauh-jauh orang tersebut.
Terlalu banyak memori, katanya. Malam pertama, hari-hari sebagai pasangan baru yang hanya mengenal cinta cinta dan cinta, pertama kalinya Jeonghan memasak makanan full course dan itu bahkan untuk suaminya yang kemudian mendapatkan dua jempol dari Seungcheol, betapa seru dan penuh dramanya mereka menyewa tukang untuk giat renovasi taman belakang seperti yang sudah direncanakan membuat Seungcheol hampir mati frustasi, mengalami padam listrik selama hampir enam jam untuk yang pertama kalinya sejak mereka tinggal di perumahan tersebut yang berakhir dengan Jeonghan merengek lapar pukul dua pagi, merayakan hari-hari besar dengan mengundang keluarga besar dan sahabat-sahabat terdekat mereka untuk sekedar makan bersama dan saling bertukar cerita, menjadi saksi bisu pertengakaran hebat di tahun keempat pernikahan mereka yang berakhir dengan Seungcheol terisak di pelukan hangat Jeonghan. Terlalu banyak memori selama sepuluh tahun terakhir di hidup mereka yang jika disuruh untuk memilih, mereka akan dengan senang hati mengulangnya bahkan untuk beribu kali.
“Terus kenapa mikirin rumah, mending mikirin aku,”
Jeonghan memutar bola matanya malas. Suaminya ini selain jahil juga narsis tingkat tinggi.
“Kayak nggak percaya aja udah sepuluh tahun tingal disini, sepuluh tahun nikah, sepuluh tahun nggak hidup sendiri tapi berdua,”
“Nangis pasti habis ini,”
“Cheol sumpah bisa nggak diem dulu?”
Seungcheol tertawa lebar. Menggoda Jeonghan akan menjadi salah satu hal yang ia gemari dalam hidupnya. Kerutan di dahinya, bibirnya yang akan otomatis moncong sedikit di depan serta picingan mata yang diberikan dengan tajam akan selalu menggemaskan di mata Seungcheol. Dahulu ketika mereka masih sepasang kekasih, Jeonghan mulanya sebal dengan tingkah jahil Seungcheol yang seperti itu namun seiring dengan berjalannya waktu kini, rasa sebal tersebut berubah menjadi sebuah pemahaman tersendiri bagi Jeonghan bahwa Seungcheol yang seperti itulah yang berhasil memikat hatinya.
“Iya Han, iya. Terus gimana? Udah sepuluh tahun, terus?”
“Nggak tahu, udah lupa mau ngomong apa,”
Jeonghan bangkit dari duduknya meninggalkan Seungcheol yang masih tersenyum geli.
“Hey, kok aku ditinggal,”
“Mau mandi,”
“Ikut!”
-----
“Mingyu, Seokmin, Jisoo tadi pagi ngucapin happy anniversary di grup, kamu udah lihat belum?”
“Belum, nanti aku balas,”
Seokmin dan Mingyu adalah adik kandung Seungcheol. Seokmin lebih muda enam tahun darinya sedangkan Mingyu yang kini sudah menikah dengan Jisoo, berjarak tujuh tahun. Sebagai anak sulung dengan usia yang terpaut cukup jauh dengan kedua adiknya, Seungcheol tumbuh menjadi sosok kakak yang bijak dan tegas, berusaha memberikan contoh yang terbaik untuk adik-adiknya, berharap bahwa mereka juga harus tumbuh menjadi pria dewasa yang matang dengan budi pekerti yang luhur. Dokyeom dan Mingyu pun mengakui kehebatan sang kakak, menjadikannya sebagai role model untuk mereka, mengikuti setiap jejak langkah yang Seungcheol lakukan bahkan berhasil lebih baik.
Meski perangai Seungcheol yang tegas terhadap adik-adiknya kerap menjadi boomerang tersendiri untuk hubungan mereka, Dokyeom dan Mingyu tetap menganggap Seungcheol sebagai sosok kakak laki-laki terbaik di muka bumi. Ditambah dengan kehadiran Jeonghan dalam hidup Seungcheol, Dokyeom dan Mingyu menjadi saksi hidup bagaimana Seungcheol berubah menjadi sesosok yang penuh cinta dan kehangatan. Membuat mereka kemudian dengan mudah melebur menjadi satu kesatuan yang dinamakan keluarga.
“Aku ajakin mereka untuk wine and cheese night nanti malam sekalian merayakan, gimana menurut kamu?”
“Boleh-boleh aja, tapi kita nggak dinner berarti?”
“Enak aja, kita dinner dulu berdua baru nanti mereka susul,”
“Oh kirain, sekalian dinner bareng-bareng,”
Jeonghan memutar badannya untuk menatap Seungcheol sepenuhnya. Suara air di dalam bak mandi yang mereka gunakan untuk berendam bersama pagi itu mengiringi gerak badan Jeonghan yang semakin mendekat ke arah Seungcheol dan mengalungkan tangannya ke leher si dominan.
“As much as I love our brothers, aku masih mau menikmati hari ini buat berdua. Boleh kamu buat aku dulu?”
Seungcheol tersenyum bangga. Jeonghannya yang tidak mudah mengungkapkan kalimat cinta secara langsung, Jeonghannya yang selalu tersipu malu tiap kali mereka bersamaan, Jeonghannya yang amat ia cintai, hari ini mendeklarasikan bahwa ingin memiliki Seungcheol untuk dirinya sendiri sepenuhnya.
“Aku selalu punya kamu, Han. No one else,”
Entah siapa yang terlebih dahulu memulai, kini bibir Jeonghan dan Seungcheol telah menyatu dengan indah. Saling memberikan kecupan-kecupan sensual, lidah saling beradu, dengan gigitan pada permukaan bibir yang saling dibubuhkan di sana-sini. Senyum-senyum kecil turut menghiasi di sela-sela sesi bercumbu itu diiringi dengan sentuhan-sentuhan memabukkan di sudut-sudut sensitive tubuh masing-masing. Bahkan setelah beberapa waktu, bibir Seungcheol berpindah dari mulut adiktif Jeonghan turun ke leher jenjangnya. Menjilat, mengecup, dan meninggalkan tanda-tanda cinta kemerahan yang terus-menerus diulangnya untuk beberapa kali.
“Cheol!”
Jeonghan memekik kecil ketika Seungcheol menggigit jahil kulit di sekita kulit selangka milik Jeonghan. Menghasilkan rasa geli dan membuat Jeonghan merinding.
“Mau di lanjut? Atau mau udah aja?”
Satu hal lagi yang membuat Jeonghan berkali-kali merasa jatuh cinta dengan Seungcheol. Pria itu tidak pernah egois. Selalu memastikan bahwa Jeonghan juga merasakan hal yang sama, juga menginginkan hal yang sama. Meskipun terkadang ada saat dimana Seungcheol merasa bahwa kebutuhan nafsunya harus segera dipenuhi, namun jika Jeonghan menggeleng tanda menolak maka Seungcheol dengan gagahnya akan menuruti kenyamanan Jeonghan.
“Nanti dulu, boleh? Still too early,”
“Boleh, bilas badan aja ya terus sarapan,”
Jeonghan mengangguk patuh setelah meninggalkan kecupan terakhir di pipi kanan Seungcheol sebelum mereka meninggalkan bak air hangat.
Pagi itu mereka habiskan dengan menikmati sandwich berisikan telur dan ham, menu sarapan favorit Seungcheol setelah menikah dengan Jeonghan. Ia bahkan pernah berdebat soal ini dengan salah satu karyawan di restonya. Bersikeras bahwa sandwich milik Jeonghan adalah yang terbaik hingga ia tidak rela untuk berbagi kepada siapapun. Sandwich milik Seungcheol pagi itu pun disantap habis tanpa sisa dengan cepat. Jeonghan bahkan baru setengah jalan namun Seungcheol sudah berjalan menuju dapur untuk meletakkan piring kotor.
“Jeonghan, karena kita udah sepuluh tahun nikah, ini saatnya kamu jujur,”
“Soal apa?”
Jeonghan membelalak terkejut, pasalnya nada bicara Seungcheol terdengar serius dan menuntut. Seingatnya ia tidak melakukan kesalahan apapun.
“Kamu masukin apa ke sandwichmu itu sampai aku tergila-gila? Ada mantra-mantranya?”
Helaan napas panjang keluar dari mulut Jeonghan.
“Lebay,”
“Serius, itu ada apanya? Aku udah sering pergi-pergi kemana-mana ya jalan-jalan ke luar negeri, nggak ada yang seenak itu, Han!”
“Aku masukin air liurku ke rotinya,”
Seungcheol tertawa kencang. Inilah yang membuat Jeonghan berbeda dengan orang lain yang pernah Seungcheol temui, yang pernah mengisi hatinya. Jeonghan akan mudah menimpali candaan yang ia lempar dan selalu berhasil membuatnya tertawa. Seaneh dan sekaku apapun candaan tersebut, Jeonghan akan selalu menemukan cara untuk menambahkan bubuk-bubuk tawa yang menjadikannya semakin mengocok perut Seungcheol. Its their own way of healing.
“Udah tua lebaynya dikurangin,”
“Justru karena udah tua makanya kalau lebay kayaknya orang-orang pada maklum,”
“Aku yang nggak akan maklum,”
Mereka berbagi gelak tawa sekali lagi. Pekikan Kkuma dari arah ruang tengah yang menjadi pemecah tawa mereka pagi itu. Anjing lucu itu berlari kegirangan tatkala inderanya menangkap kehadiran Seungcheol dan Jeonghan.
“Kkuma!”
Jeonghan berteriak memanggil Kkuma senang. Menyodorkan tangannya untuk mengambil Kkuma ke dalam gendongannya. Menimang-nimang makhluk berbulu itu dengan membubuhkan kecupan-kecupan ringan di ujung kepalanya.
“Bulu kamu udah panjang, potong mau ya?”
Kkuma menyalak nyaring. Seperti mengiyakan tawaran Jeonghan. Seungcheol tersenyum melihat pemandangan di depan matanya. Jeonghan dan Kkuma terlihat begitu menggemaskan, memberikan kebahagiaan tersendiri untuk Seungcheol.
“Besok Kkuma potong ya, manis?”
Kkuma melompat turun dari pangkuan Jeonghan, giliran menghampiri Seungcheol mengisyaratkan untuk segera digendong. Seungcheol dengan senang hati membawa Kkuma dalam dekapannya. Merapikan helaian-helaian bulu yang mulai menutupi mata Kkuma.
“Tolong ambilkan jepitannya, sayang”
Jeonghan lantas berlari kecil ke kamar utama tempat ia dan Seungcheol tidur. Mengambil jepit bergambar telur mata sapi dan dengan segera memasangkannya untuk menyibak bulu-bulu Kkuma di bagian atas kepala anjing itu.
“Lucunya kamu, Kkuma”
Lagi-lagi Kkuma menyalak kegirangan. Merasa menjadi pusat perhatian dan merasakan kasih sayang yang Seungcheol dan Jeonghan berikan untuknya.
Sisa pagi itu, ketiganya menghabiskan waktu mereka saling berpelukan manja di sofa ruang tengah dengan film Ghibli mengiringi dibelakangnya.
---
Ketika matahari berada di puncaknya siang itu, Jeonghan semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Seungcheol. Dibalas dengan kecupan di dahi Jeonghan dan usapan lembut di pantat miliknya. Mereka sedang menikmati sesi bermesraan diatas kasur dengan tubuh saling menempel, tangan saling memeluk, dan kepala saling bersandar. Televisi di hadapan mereka menyiarkan salah satu film favorit keduanya, Inception. Mereka sepakat bahwa satu hal yang membekas dari film terkenal itu bukanlah tentang bagaimana menjebaknya plot dan trik-trik yang ditampilkan, namun bagaimana terdapat kisah pengorbanan sepasang suami istri dibaliknya. Meski Jeonghan sudah menyaksikan film tersebut ratusan kali, ia akan tetap meneteskan air mata tiap kali adegan perpisahan antara suami istri tersebut berputar dihadapannya.
“Sedih banget, Cheol”
Seungcheol hanya mengangguk. Mencoba menenangkan Jeonghan untuk berhenti meneteskan air mata.
“Sudah saja ya nontonnya?”
“Nggak mau, sampai selesai maunya,”
Mengeratkan pelukan adalah satu-satunya hal yang dapat Seungcheol lakukan.
“Setelah ini mau apa? Nonton film apa lagi?”
Jeonghan berpikir sejenak. Sesungguhnya ia hanya ingin menghabiskan seharian penuh berbagi pelukan dengan Seungcheol di atas kasur. Bergerak hanya untuk mengubah posisi tatkala rasa pegal mulai menyerang hanya dengan untuk melanjutkan bercumbu dengan mesra berbagi suhu tubuh. Atau bahkan mungkin berakhir dengan tanggalnya pakaian dari masing-masing badan, tubuh saling menyatu, meneriakkan nama masing-masing dengan penuh cinta dan kepuasan mendalam. Namun Jeongahan menepis angan-angan itu. Perutnya sudah mulai memberontak minta diisi lagipula mereka masih harus memenuhi reservasi di restoran tempat mereka akan melangsungkan anniversary dinner dan bertemu dengan adik-adik tersayang malam ini.
“Mau makan, perut aku udah mulai bunyi,”
“Sama, daritadi kalau aku,”
“Kenapa nggak bilang?”
“Kamu masih asik nangis,”
Satu timpukan bantal menimpa dada Seungcheol yang direspon dengan teriakan lebay dari empunya.
“Oke oke, mau makan apa?”
“Kamu,”
“Yuk,”
“Kamu masakin aku dong gantian, belum selesai juga ngomongnya,”
Seungcheol tersenyum geli. Sejujurnya Jeonghan juga tidak keberatan jika siang ini melakukan aktivitas berkeringat di atas ranjang tersebut, namun lagi-lagi itu bisa ditunda. Bahkan Jeonghan berpikir jika mungkin mereka melakukannya malam nanti, sensasi yang didapat dari wine merah akan semakin memberikan gairah tersendiri untuk mereka.
“Pasta, mau?”
“Mau, tapi nggak ada bahannya,”
“Oke, aku beli dulu,”
“Oke!”
Bukannya bergerak untuk segera bersiap keluar, alih-alih Seungcheol mengeratkan pelukannya di tubuh Jeonghan. Menciumi setiap sudut wajah Jeonghan dengan penuh rasa cinta, seperti tentara yang akan pergi berperang meninggalkan pasangannya.
“Kenapa?”
“Sebentar, lima menit,”
Jeonghan membalas pelukan Seungcheol tak kalah eratnya. Tubuhnya tenggelam dan meleleh begitu saja di dalam dekapan hangat sang belahan jiwa. Ia merasa begitu kecil dan rapuh di dalam rengkuhan tangan Seungcheol yang menopang badannya dengan gagah. Usapan lembut ia hadiahkan di punggung Seungcheol sembari bibirnya mengecup bahu tegaknya. Kaki mereka saling menempel satu sama lain, Jeonghan dapat merasakan pancaran hangat dari tubuh Seungcheol yang begitu menenangkan.
“Aku sayang sama kamu, Han. Terima kasih sepuluh tahunnya,”
Jeonghan menengadahkan kepalanya, menatap Seungcheol tepat di bola matanya. Senyum manis yang selalu berhasil membuat hati Seungcheol berdesir menghiasi wajah cantiknya itu. Tangan kiri Jeonghan meraih pipi Seungcheol dan mengusapnya lembut penuh ketulusan.
“Kamu cintaku selamanya, Cheol. Selalu,”
Untuk yang kesekian kalinya, bibir mereka kembali bersatu. Kali ini dengan tempo yang lebih lembut dan perlahan, dengan alunan melodi cinta yang menghiasi, dengan hembusan napas penuh kehangatan yang mengiringi. Persis dan tidak akan pernah berubah seperti perasaan yang mereka miliki sepuluh tahun yang lalu pada malam pertama mereka. Persis dan tidak akan pernah berubah arah kapal milik Seungcheol untuk berlabuh di dermaga hati Jeonghan. Persis dan tidak akan pernah berubah tangan Jeonghan terbuka lebar untuk menyambut kasih suci yang Seungcheol berikan. Persis dan tidak akan pernah berubah dua cinta saling memiliki. Untuk selamanya.
