Work Text:
"Yo-chan! Kalau kamu cuma mau malas-malasan mending balik sana ke rumahmu!"
Anak laki-laki berambut hitam itu bergelung di atas kasur lantai yang selimutnya sudah bertebaran ke sepenjuru ruangan.
"Jii-chan! Aku ke sini mau liburan. Mau tidur sampai puas."
"Kalau gitu tidur kamu sana di kebun biar sekalian terbakar dan kering!"
"Jii-chan ngomel-ngomel terus," gumam Yoichi sambil membawa tubuhnya untuk bangkit dan membereskan kasur yang dari semalam digunakan.
Selesai mencuci muka dan menggosok gigi, Yoichi pergi keluar untuk mencari keberadaan kakeknya. Tepat ketika ia menggeser pintu luar, terlihat sang kakek dengan beberapa buah semangka besar. Melihat itu tentu saja binar di mata Yoichi tidak bisa disembunyikan.
"Semangka!"
Yoichi berjingkrak menghampiri kakek yang hanya tertawa melihat tingkah cucu kesayangannya.
"Jii-chan! Potong, potong, potong, potong, potongg! Jii-chan ayo potong. Yo-chan mau semangka paling besarrr."
"Hahaha gak ada. Ini buat di makan siang. Sekarang kamu ambil keranjang dan petik timun sana. Jii-chan mau ambil sarapan buat kamu makan dulu."
Final. Perkataan sang kakek membuat heboh Yoichi redup seketika. Mata Yoichi memicing sinis ke arah sang kakek yang sudah memasuki rumah mereka.
"Jii-chan sarapannya Yo-chan itu semangka!"
"Bukan, Anak nakal. Kamu harus makan makanan yang bikin kenyang."
"Yo-chan bisa kenyang makan satu semangka!"
"Gak ada! Cepat petik timunnya."
"Huaaa." Mau tidak mau Yoichi harus segera mengerjakan tugas yang diberikan kakeknya kalau tidak ingin diusir pulang saat ini juga.
"Aduh jalannya."
"Bentar tadi belok mana ya."
"Tolong jangan hujan dulu atau nanti aku gak bisa neduh karena di sini pohon semua!"
"Ini ke sini terus ... HAH APA SIH! ohh kelinci."
Semua suara-suara itu berasal dari Yoichi yang sedang pergi mendaki gunung. Tidak gunung ya g tinggi juga sih. Dia hanya diminta kakeknya itu mendatangi kuil untuk mengambil beberapa bunga lavender yang hidup di sekitaran kuil. Sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi karena sepi dan jarang dilewati orang di waktu tertentu, Isagi jadi merasa sedikit was-was.
Karena kakeknya bilang kadang ada kawanan serigala yang melintasi gunung. Tidak setiap saat, cuma di waktu mereka harus pergi ke daerah baru. Asalkan tidak mengganggu dan berada di kawasan mereka, maka semuanya akan baik-baik saja.
Yoichi bisa melihat gerbang kuil di depan sana, akhirnya ia sudah mau sampai. Dengan sedikit berlari, Yoichi berjalan menuju gerbang—ingin melihat sedikit sebelum berbelok arah ke hamparan lavender yang bisa ia lihat.
"Wahh!" Yoichi menengadah ke atas, melihat tinggi gerbang kuil yang tampak megah. Padahal tidak ada hiasan apapun, tapi ujungnya terlihat seperti menyentuh langit. Tanpa sadar senyuman Yoichi tidak kunjung padam dibalut binaran mata yang cerah penuh kekaguman.
"Oi, Bocah!"
Bentar, itu suara siapa? Jii-chan emang bilang kalau di sini sering ada arwah atau hantu. Jangan-jangan ....
"Oui, Bocah. Gak sopan ya kamu," suara itu kembali terdengar.
"Setan!"
Selesai Yoichi meneriaki kata itu, sebuah kerikil kecil mengenai dahi dan membuatnya mengaduh pelan.
"Aww."
"Aku itu siluman."
"Sama aja. Siluman sama setan itu sama!" protes Yoichi dengan kepala bergerak-gerak mencari sumber suara yang tidak ada wujudnya.
"Itu kasar, Bocah!"
"Oke kalau gitu hantu!"
"Apa bedanya?!"
"Ahh, gak tau aku gak tau. Kamu keluar aja kalau mau ngomong. Jangan sembunyi gini aku takut!"
Benar saja. Seketika ada asap putih yang berterbangan di sekitar Yoichi. Lalu dari balik asap itu muncul anak laki-laki dengan tubuh tinggi, mungkin seusia anak SMA.
"Oh pantas gak asing. Kamu bocah nakal yang pernah nyasar di gunung 'kan? Ternyata bisa tumbuh tinggi juga."
Laki-laki itu berpenampilan sederhana dengan kemeja putih yang agak lusuh dan celana bahan yang sudah menggantung.
Tidak menampilkan sosok siluman sama sekali.
"Kamu hantunya?"
"Aku siluman!" koreksi laki-laki dengan bulu mata lentik itu.
"Tapi kok hantu pakaiannya biasa aja kayak aku. Nih liat." Yoichi berputar beberapa kali, memperlihatkan kaos santai yang ia kenakan kali ini.
"Sudah kubilang aku itu siluman!"
"Okee, tapi tetep aja kenapa siluman gak pakai pakaian yang lebih bagus seperti yukata atau haori gitu? Biar kelihatan megah."
Yoichi berjalan mendekat, tidak takut sama sekali dengan mahluk di hadapannya yang datang tiba-tiba.
"Kamu siluman bohongan ya? ... aww."
Untuk kedua kalinya dahi Yoichi berciuman dengan kerikil yang terbang tiba-tiba.
"Aduh, jangan lempar-lempar terus nanti jidatku memar," Yoichi mengusap-usap dahinya yang berdenyut sedikit.
"Dasar. Masih jadi bocah nakal rupanya."
"Kenapa sih hantu nii-chan panggil aku bocah nakal terus? Aku itu udah masuk sekolah dasar kelas lima! Aku juga gak pernah nyasar di hutan." Yoichi melemparkan semua protesnya diiringi dengan bibir mencebik lucu.
"Aku siluman!" rupanya mahluk di hadapan Yoichi ini masih tidak terima dipanggil sebagai hantu.
"Aduh udah ah. Siluman harusnya punya telinga!" Yoichi yakin sekali kalau siluman itu biasanya berhubungan dengan hewan. Di buku bergambar yang pernah Yoichi temukan saat ia kecil banyak menampilkan cerita-cerita siluman dengan telinga yang menyerupai binatang. Jadi, sekarang coba sebutkan memang hewan apa yang tidak punya telinga? Masa sih hantu nii-chan ini siluman cacing?
"Aku lagi dalam wujud manusia. Jadi, Bocah ngapain kamu balik lagi ke sini?"
Kepala Yoichi sedikit miring ke kanan mendengar pertanyaan yang diajukan hantu di depannya. "Aku liburan di rumah kakek. Jii-chan minta aku ambil bunga lavender, itu," Yoichi menunjuk kumpulan bunga cantik berwarna ungu terang.
"Jadi kamu beneran lupa pernah nyasar di hutan?"
"Hmm," telunjuk dan jempol Yoichi bergerak menyentuh dagu, berpose selayaknya sedang berpikir keras. "Aku pernah mimpi main ke hutan sih, tapi di mimpi itu aku ditemenin hantu."
"Siluman!" kali ini decakan gemas tidak bisa disembunyikan lagi oleh sang siluman.
"Oke, okee. Siluman. Tapi kok siluman nii-chan bisa kenal aku?"
Siluman itu mengeluarkan tawa meremehkan sebelum berucap dengan wajah yang sukses membuat Yoichi jengkel hanya dengan melihatnya. "Apa kamu beneran mikir aku gak bakal tahu? Ada manusia yang lagi berkeliaran di kuil, dan sekali lihat aja aku bisa ngenalin siapa manusia itu. Kamu, Bocah"
"Siluman nii-chan jahat?"
Mengangkat bahu, lalu jawaban itu terucap secara santai, "tergantung. Kalau kamu merusuh nanti tubuhmu akan kujadikan makan malam."
"Iyuh. Manusia tidak boleh dimakan, Nii-chan."
"Karena aku siluman maka aku boleh memakannya. Dan cukup panggil aku Rin. Aneh dari tadi kamu terus manggil siluman-siluman."
"Rin nii-chan?"
"Rin aja."
"Tapi Rin nii-chan kelihatan lebih tua dari aku."
"Ya memang. Mungkin seratus tahun lebih tua."
"Woah!" Yoichi menutup mulu dengan kedua telapak tangannya. Terkejut bukan main mendengar usia yang disebut oleh Rin. "Siluman nii-chan lebih tua daripada jii-chan—aduh!"
Obrolan siang itu ditutup oleh kerikil yang untuk ketiga kalinya mengenai dahi Yoichi. Kemudian Rin—yang ternyata seorang siluman rubah—langsung mengusir Yoichi untuk segera menyelesaikan urusannya yaitu memetik bunga lavender.
Tadinya Rin ingin langsung pergi, tapi karena anak sekolah dasar itu terus-menerus menyanyikan lagu aneh yang menggangu, akhirnya Rin kembali menghampiri untuk menjahilinya. Siang itu Rin merasa sangat terhibur. Tidak biasanya gunung yang sepi menjadi begitu ceria hanya karena kehadiran seorang anak laki-laki.
Seorang anak laki-laki yang kemudian membuat janji bahwa selama ia berlibur di rumah kakeknya, ia akan selalu datang ke gerbang kuil untuk menemani Rin.
Karena Yoichi bilang,
"Rin nii-chan kamu kesepian ya."
Rin terlihat seperti sedang kesepian.
