Actions

Work Header

What Do I Call You

Summary:

Setelah sepuluh tahun berlalu, Renjun dan Donghyuck kembali bertemu setelah perpisahan yang tragis. Bagi Donghyuck ini adalah penebusan dosa, tapi bagi Renjun ini adalah waktu yang tepat untuk kembali kabur.

Notes:

Sekuel dari media sosial au ku yang berjudul: "Sad Night".

Chapter 1: warna-warni

Chapter Text

Everything changed, I don’t feel comfortable
But you are beside me
So what do I call you now? Oh, no
My baby, my honey, my daisy, my only”

“Gimana pameran lo?”

Huang Renjun menoleh tidak tertarik ke arah Xiaoting yang masuk ke studio lukisnya dengan kumpulan map di pelukan dan dibanting kasar ke meja. Sepupu yang juga merangkap menjadi sekretarisnya terlihat kerepotan dengan kumpulan dokumen dan sepertinya menginginkan dirinya untuk ditanda tangani.

Akhirnya ia menghampiri Xiaoting yang menatap penuh rasa tak sabar atas sikap lemotnya karena masih duduk di depan kanvas putih. “Chenle yang ngurusin.”

“Lah, lo biarin aja?”

Bahu sempit itu terangkat sebentar, tanda tidak peduli dan memilih fokus membaca dokumen yang berisi kontrak pembelian lukisannya. “Gue mah tinggal tahu jadi,” ucapnya santai tanpa peduli tatapan sinis Xiaoting.

“Berarti lo nggak tahu kalau lokasi pamerannya sampingan sama pameran foto?” Kerutan di dahi perempuan itu makin terlipat, sikap tak acuh Renjun makin membuatnya sakit kepala.

Tapi berita itu menarik perhatian penuh si pelukis, bahkan mencampakkan segala kertas yang baru saja menambah sakit kepala. “Maksudnya gimana?”

“Tahu nggak di mana tempat pamerannya?”

“Nggak.”

“Bener-bener dah, ni anak!” Xiaoting menghela napas, Renjun sepertinya harus keluar dari studio dan menghirup udara segar. Kebiasaannya untuk tidak peduli pada siapapun semakin parah jika diperhatikan dan ini sungguh mengkhawatirkan. “Gue tadi lewat lokasinya sebelum ke sini, terus ada dua banner yang ke pasang. Punya lo sama yang buat pameran foto. Cuma beda tanggal aja. Sehari lebih cepet."

Lelaki itu diam, mendengarkan dengan seksama penjelasan singkat yang sepertinya membuat Xiaoting heboh. Ia berpikir sambil memiringkan kepala ke kanan, menatap sepupunya yang menunggu respon dari Renjun mengenai berita ini. “Emang bisa, ya satu gedung punya dua pameran bareng gitu?”

Wajah perempuan itu berubah datar walau sebenarnya di dalam hati tengah menahan diri untuk tak memukul sepupunya. Sudah cukup emosi hari ini, Xiaoting hanya ingin pulang dan tidur setelah menghabiskan hari yang panjang. “Tanya Chenle sono! Gue pusing ngadepin lo.”

Padahal Renjun cuma bertanya tapi kenapa malah kena marah. Terkadang ia tidak mengerti isi kepala para perempuan.

/././.

Pagi ini Renjun dipaksa keluar rumah oleh Chenle yang sepertinya berniat menjitak kepalanya jika bertemu. Teman yang ia percayai mengurus pameran ketiganya setelah empat tahun mulai mengomel atas cueknya si pelukis. Memang benar Renjun membebaskan Chenle melakukan segalanya tanpa intervensi, mulai dari lokasi, tema, pembukaan hingga tamu undangan, tanpa bertanya sama sekali. Seakan dirinya tidak mau tahu tentang pameran ini.

“Udah H-2 dan lo sama sekali nggak nengokin lokasinya? Sayang nggak sih, lo sama lukisan sendiri?"

Omelan Chenle masih teringat di kepala selama perjalanan menuju gedung pameran. Dirinya yang baru saja tidur empat jam setelah menyelesaikan lukisan terakhir untuk dipajang langsung sakit kepala. Pertanyaan itu menohok hingga tak mampu dijawab, hanya memberi pernyataan jika Renjun akan datang pagi ini sesuai yang Chenle minta.
Kurang dari sepuluh tahun ia mulai serius dengan hobi yang awalnya hanya dianggap bersenang-senang belaka. Setelah peristiwa patah hati pertamanya, Renjun melanjutkan S2 Seni Rupa sekaligus menyambi menjadi asisten salah satu dosen yang akhirnya dipercaya melakukan pameran solo. Lulus magister, Renjun memilih menjadi dosen di universitas yang sama. Semua hidupnya selalu tentang warna, sketsa, dan kanvas tanpa mempedulikan hal lain. Tidak ada keraguan bagi orang-orang tentang kecintaannya pada seni rupa, segala dedikasi, waktu, dan hasil dari seluruh karyanya adalah bukti.

Tapi pertanyaan sesederhana mengenai rasa cintanya pada seluruh karya yang dibuat terasa sulit dikeluarkan. Karena sesungguhnya, Renjun tidak pernah menyayangi segala jerih payahnya. Semua adalah tentang distraksi, kabur, dan melupakan. Walau ia tahu dirinya sudah salah langkah sejak awal. Semua tentang lukisan selalu mengingatkannya pada orang yang sama, tidak peduli sepuluh tahun berlalu.

Ya, Huang Renjun adalah seorang pengecut.

Mobil taksi yang ditumpanginya berhenti sesuai tujuan, sebuah gedung yang sering dipakai sebagai tempat pertunjukan atau pameran. Dari kaca mobil Renjun akhirnya melihat untuk pertama kali tempat pameran dari luar, tapi mata itu malah menangkap banner lain yang berdampingan dengan banner pamerannya. Warna banner tersebut biru tua dan kelihatan kontras dari banner pameran Renjun yang memiliki campuran jingga serta merah muda.

Teguran dari supir taksi menyadarkannya untuk segera membayar dan keluar, tidak sangka terlalu lama berpikir sampai tak ingat sekitar. Setelah memberi beberapa lembar uang, Renjun membuka pintu mobil dan mendekati banner yang menarik perhatiannya, membaca satu per satu kata yang berhasil menghentikan detak jantungnya dalam sepersekian detik. Sakit kepala menyerangnya, membuat tangan kanan harus menompa dahi yang nyut-nyutan. Efek insomnia baru muncul sekarang tanpa aba-aba, rasa-rasanya Renjun ingin muntah.

“Oi Renjun!”

Suara lantang yang ditambah langkah kaki tertangkap telinganya, menarik perhatian dari mata yang sempat tertuju pada banner di depannya. Renjun melihat Chenle yang berlari ke arahnya dengan ekspresi senang seperti baru saja memenangkan lotre. Pria yang lebih muda setahun itu menggandeng Renjun sambil mengibaskan amplop yang entah isinya apa. “Tebak gue dapet apa?”

Sungguh Renjun tidak ada keinginan memenuhi pertanyaan Chenle, segala kejadian pagi ini terlalu buruk untuk mengawali hari. Tapi karena ia bukan lah orang jahat, hanya satu kata saja sudah cukup demi menyuapi ego yang lebih muda. Tidak ingin menjadi party pooper atas kesenangan orang lain. “Apa?”

“Kita dapat undangan pembukaan pameran foto Lee Donghyuck!”

Mata yang sempat sayu karena masih mengantuk langsung terbuka lebar dan menatap Chenle penuh rasa tidak percaya. Lalu pandangannya mengarah ke banner yang menempel di sebelah banner miliknya. Nama yang sepuluh tahun ini tak ada satu pun yang berani menyebutkannya di depan Renjun, nama yang berhasil membuka luka lama di hati tanpa pernah mengering. Nama beserta orangnya yang tak pernah ingin Renjun temui selama-lamanya. Ini menyedihkan, sebuah surat cinta harus bersanding dengan nama Lee Donghyuck.

“Love Poem from Paint: Huang Renjun”

“Love Letter Photo Exhibition: Lee Donghyuck”

/././.

Lukisan terakhir yang menjadi main character pada pameran Renjun telah diangkut dari studio, di bawa ke tempat pameran dan menempati pajangan khusus yang sudah disediakan Chenle sesuai permintaannya. Lukisan abstrak yang tidak ada satupun memahami maknanya, membiarkan Renjun berkreasi sebagaimana maunya.
Chenle kembali ke dalam studio setelah memastikan kanvas tersebut di bawa dengan benar dan dijaga orang yang tepat. Ia melihat Renjun yang bersandar di jendela kaca lantai dua untuk melihat truk kecil pengangkut lukisannya pergi dari halaman rumah. Ikut memastikan lukisan paling sulit yang pernah ia buat akhirnya pergi dari studio ini.

“Hari ini pembukaan fotografi Lee Donghyuck. Lo beneran nggak mau ikut gue sama Xiaoting?”

Have fun kalian, gue mau lanjut tidur.” Ia melepaskan kaus oblong yang telah kotor oleh cat warna-warni, sengaja tidak menggunakan apron tanpa alasan yang jelas. Tubuhnya penuh keringat dan keinginan membasuh dengan air hangat telah membayangi sedari tadi. Berusaha lupa jika hari ini ada sesuatu yang entah kenapa terpatri di kepalanya.

“Sayang banget kalau lo beneran gak ikutan! Donghyuck ngasih secara pribadi ke gue dengan harapan lo beneran bisa datang. Dia ngaku fans lo.” Seharusnya Renjun tahu betapa pantangnya Chenle menyerah jika telah berniat pada satu hal. Mengekorinya ke kamar adalah satu cara agar kemauan pria itu terpenuhi.

Tapi seluruh energinya telah terkuras karena isi pikiran yang tidak ada habisnya, memilih mengabaikan Chenle dengan mengunci pintu kamar agar tidak ada satu pun yang mengganggu. Teriakan yang lebih muda terdengar di balik pintu, entah mengumpat atau marah-marah, Renjun sudah tidak bisa membedakannya. Ia sampai berjongkok dan menyembunyikan wajah di kedua lutut, mencari napas yang sempat tidak terproses dengan benar.

Semua terasa berat dihadapi walau sepuluh tahun telah berlalu. Seakan makin memperparah kekosongan yang mengisi hati Renjun selama ini. Hanya menyebutkan namanya saja seluruh bagian organ berlomba-lomba mengaktifkan kenangan yang telah dipendam lama. Semua menyesakkan hingga ia terlalu takut untuk melihat hasil lukisan yang ia pikir adalah sebuah kerelaan. Meninggalkan Lee Donghyuck beserta kenangannya.

Renjun sesak napas oleh perasaan rindu yang ditambah luka, tidak rela jika sebagian hatinya meronta ingin bertemu karena sebagian lainnya memilih kabur. Keburaman tersebut tidak bisa diartikan apapun kecuali sebuah rasa bernama cinta.

Iya. Dirinya masih cinta.

/././.

Lee Donghyuck mendongak, melihat foto dengan pajangan paling besar di pamerannya setelah pembukaan resmi tadi pagi. Masih menggunakan setelan jas abu-abu, ia memperhatikan foto hitam putih yang memotret tangan dengan tanda lahir di telapaknya tengah menggenggam tangan lain seperti sedang menariknya. Foto paling spesial karena menjadi memori terakhir yang pernah diambil bersama si pemilik tangan.

Kedua tangan di saku, menghembuskan napas paling berat setelah mengingat apa yang terjadi belakangan ini. Pameran solo pertamanya baru diadakan setelah keluar dari National Geographic sebagai fotografer dua bulan lalu untuk fokus mengembangkan studio foto sendiri dan mungkin membuka kelas. Bekerja di sana selama tujuh tahun telah membuka banyak peluang untuk Donghyuck melakukan perjalanan tidak lazim. Terkadang dia di belantara hutan atau puncak gunung, tapi tiba-tiba sudah berada di tengah-tengah wilayah konflik. Semua pengalaman tersebut digunakan Donghyuck untuk melupakan satu orang, si pemilik tangan yang menjadi pusat dari seluruh pameran fotonya.

Tapi mau di kata apa, takdir tetap membawanya pada si sosok masa lalu. Siapa yang menyangka sekembalinya Donghyuck ke Seoul untuk menyiapkan pameran ini, ia malah menemui fakta jika lokasi pamerannya berbagi dengan seorang pelukis yang baru disebut namanya saja telah memancing detak jantung terus bertalu-talu. Sudah sepuluh tahun, apakah sekarang Donghyuck berani menghadapinya?

Matanya menangkap seseorang yang baru saja ditemui tiga hari lalu, yang entah kenapa memberi sedikit percikan harapan dari apa yang ditunggunya selama ini. Donghyuck menghampirinya terlebih dahulu, menyapa dengan ramah demi berbasa-basi untuk satu tujuan. “Halo Chenle, terima kasih sudah datang!”

Pria itu terkejut dihampiri oleh si pemilik pameran yang secara khusus menyambutnya. Ia balas jabat tangan Donghyuck dan ikut tersenyum lebar. “Saya juga terima kasih sudah diundang ke sini.”

“Sendirian saja ke sini?” Tanpa ragu Donghyuck melempar tanya yang sedari tadi ditahannya, waktu yang tepat dengan nada basa-basi.

“Oh, nggak! Saya bareng sepupu Huang Renjun.”

Senyum lebar tersebut memudar, ekspektasinya telah hancur sangat cepat. Sungguh amat percaya diri jika lelaki itu bersedia datang mengunjunginya.

Tidak peka atas perubahan ekspresi Donghyuck, Chenle merogoh tasnya dan memberikan amplop undangan kepada si fotografer. “Karena Renjun nggak bisa datang, sebagai permintaan maaf kami mengundang anda untuk datang ke pembukaan besok. Mohon maaf, ya, dia terlalu lelah hari ini. Tapi mungkin besok kalian bisa ketemu.”

Ia ambil undangan tersebut, membaca baik-baik nama yang terpatri di sana dan tanggal penting. Tapi sayangnya besok Donghyuck memiliki jadwal lain dan mungkin tidak bisa menyempatkan datang. “Sayangnya saya besok ada urusan. Tapi kalau ada kesempatan, saya bakal berkunjung.”

Chenle terlihat kecewa dan akhirnya mengangguk tanpa membantah. “Nggak apa-apa, kabarin saya kalau ada waktu.”

Donghyuck ikut mengangguk dan masih memasang senyum ramah. “Saya pamit dulu, selamat menikmati pameran ini.” Ia pergi dari hadapan Chenle untuk menemui kawan yang telah menunggunya. Memilih mendistraksi pikiran agar tak kecewa karena memupuk harapan terlalu banyak.

Chenle melihat punggung yang telah tenggelam di antara kerumunan orang dan kembali menelusuri hasil karya Lee Donghyuck. Xiaoting masih berkutat di ruangan sebelah agar persiapan pembukaan besok berjalan lancar lalu menyusul ke sini, jadinya ia sendirian yang mengamati hasil foto-foto penuh warna yang memanjakan mata.

Lalu langkah kakinya terhenti pada pajangan besar dengan foto hitam putih yang digantung paling ujung, amat menonjol diantara foto lainnya. Mata tajamnya meneliti foto yang hanya dua tangan yang saling tertaut dengan latar belakang pantai. Tapi dirinya terkesiap pada lingkaran abu-abu seperti tanda lahir di telapak tangan yang lain. Tanda lahir yang amat sangat dikenalnya.

/././.

Xiaoting menggigit kuku setelah melihat langsung foto yang dihebohkan Chenle lewat telepon, memaksanya ke area sebelah dengan cepat. Dan sama seperti Chenle, reaksi Xiaoting ikut terkejut sampai menganga. Ia jadi menarik lelaki itu keluar dari gedung untuk memastikan analisa masing-masing mengarah ke hal yang sama tanpa si pemilik pameran ketahui. Karena kebetulan ini amat menarik lebih dari apapun.

“Lo mikirin hal yang sama, kan?”

Perempuan itu mengangguk dengan ekspresi penuh ketidakpercayaan. “Mirip banget!”

“Pernah nggak lo ketemu orang yang punya tanda lahir di telapak tangan kayak gitu?”

Sekarang Xiaoting menggeleng, makin menguatkan dugaan Chenle yang amat mengejutkan. Secara otomatis dirinya juga membuat asumsi baru yang berkaitan dengan penemuan Chenle hari ini. “Pantes Renjun nggak mau ke sini.”

Chenle jadi teringat betapa keras kepalanya Renjun menolak datang, padahal pria itu adalah manusia paling tidak enakkan jika mendapat undangan. Sekarang semua menjadi masuk akal jika antara Lee Donghyuck dan Huang Renjun memiliki semacam hubungan yang tidak diketahui dirinya. Tanda lahir dan tangan yang bergandengan, tidakkah terlalu ekstrim untuk disebut sekadar kenalan?

“Mau mastiin sendiri nggak?” Xiaoting memberi penawaran, hati masih tidak tenang karena kemungkinan salah duga yang juga cukup besar.

Tapi Chenle menggeleng, menolak ide yang bisa ditebaknya. “Terlalu ekstrim. Biarin aja, entar juga mereka bakal ketemu sendiri. Sebelahan gini pamerannya.”
Tidak ada bantahan dari Xiaoting, keputusan Chenle sudah tepat. Mungkin Renjun tidak akan nyaman topik ini dibawa atau dipaksa menghadapi sesuatu yang dihindarinya.

/././.

Ucapan selamat berbondong orang ucapkan pada Renjun di pembukaan pamerannya. Murid-murid yang dulu diajarnya juga datang, memberi bunga amat besar dan tidak ingin bergantian saat bercerita yang membuat Renjun agak pusing atas kebisingan mereka. Dosennya saat menempuh magister juga datang, memberi apresiasi karena muridnya satu ini mau mengekspresikan perasaan cinta lewat lukisan.

“Kalau ingat betapa kerasnya kamu menolak tema ‘percintaan’ buat bahan lukisan, nggak bakal duga pameran ini kejadian.”

Renjun tersenyum sopan, tidak menanggapi amat serius cerocos dosennya. Sampai sekarang pun ia masih tidak mampu, dirinya hanya mereplika semua lukisan lama hasil dari patah hati yang dilukisnya di kanvas kecil. Yang berbeda hanya dari ukuran dan teknik melukisnya. Semua tetap terasa sama bagi Renjun.

Lukisan Renjun yang terpajang di pameran hari ini memiliki warna amat cerah, segar dipandang dan memberi kebahagiaan bagi penikmatnya. Tapi tidak semua tahu begitu lah bagaimana si pemilik pameran mempresentasikan puisi atas cintanya yang berusaha dimatikan. Sejak semua berakhir, dunianya berubah abu-abu tanpa warna lain yang mendampingi dan membuat Renjun frustasi. Ia melampiaskannya dengan mengurung diri sebulan penuh melukis di kanvas kecil, mencari warna paling cerah yang ditangkap mata agar tak menjadi buta. Tapi kegagalan demi kegagalan membunuh ambisinya, walau mata bengkak karena terlalu banyak menangis.

Mungkin memang sejak awal cintanya tidak pernah memiliki warna.

Di kala bisingnya manusia yang memenuhi pameran, Renjun termenung di tengah ruangan tanpa mau bergerak kemana pun. Tenaganya telah habis sedari pagi tersenyum kepada setiap tamu dan pengunjung yang datang, amat melelahkan. Sebelum ia ingin menghilang sebentar, pandangannya fokus kepada seorang anak laki-laki yang berdiri di depan lukisan paling baru milik Renjun, tengah mendongak karena memang kanvasnya jauh lebih besar dari yang lain. bocah itu tidak didampingi siapa pun, sendirian saja terus melihat gambar yang pasti tak dipahaminya sama sekali.

Entah apa yang menariknya hingga mendekati si bocah yang mungkin berumur sekitar enam atau tujuh tahun. “Halo!” Sapanya duluan demi menarik perhatian, memberi nada seramah dan paling ceria agar tidak menakuti anak laki-laki itu. “Kamu suka, ya?”

Mata bulat yang memancar aura polos menghipnotis Renjun saat mereka bertatapan, menggemaskan sekali. Ia mengangguk dengan senyum malu-malu, seperti sedang ketahuan mengintip diam-diam. “Warna-warni!” Jawaban singkatnya telah menjelaskan tanpa dipinta yang memancing dua sudut bibir Renjun terangkat. Ada perasaan

terenyuh dan haru karena seorang anak kecil yang begitu polos tanpa tersentuh apapun amat jujur pada apa yang ingin didengar Renjun selama ini.
Dipandangnya lagi lukisan yang sekuat tenaga diselesaikan atas pemaksaan Chenle, meminta berulang kali jika setidaknya ada satu karya paling baru sebagai lukisan utama di pameran. Lukisan dari kenangan terakhir sebelum segala sesuatunya runtuh. Taman bunga dan garis-garis merah membentuk dua jari kelingking yang saling bertaut. Warna yang dipakai amat nyentrik, penuh warna.

Bocah kecil itu menarik kelingking Renjun, meminta perhatian. “Kakak, pintu di mana? Aku pengen pulang.”

Ekspresi panik langsung muncul, rupanya bocah ini tersesat bukan ditinggal orang tuanya berdiri sendirian. “Loh, kamu ke sini sama siapa?”

“Sama om. Tapi om nggak di sini.” Berbanding terbalik, bocah asing ini jauh lebih tenang tanpa takut sama sekali.

“Terus om kamu di mana?”

“Di pintu yang satu.”

Penjelasan yang sebenarnya tidak dipahami Renjun sama sekali, pintu yang mana maksudnya? Tapi ia memilih mengantar dulu keluar dan bertanya pada satpam penjaga jika ada orang tua yang kehilangan anak. Digenggamnya tangan si anak laki-laki itu agar tidak lagi hilang dari pandangan, mengajaknya pergi dari ruangan pameran Renjun. “Ayo ikut kakak, kita cari om kamu.”

Kaki kecilnya berusaha mengikuti ritme langkah Renjun yang masih diliputi kepanikan. Ada anak orang yang tersesat di pamerannya, tentu ini masalah serius. Tidak bisa dibayangkan akan separah apa panik dari keluarga anak ini, apalagi om yang pasti dimandati ibu dan ayahnya untuk dijaga.

Keduanya keluar dari ruang pameran menuju resepsionis, Renjun akan bertanya pada mereka jika ada orang yang melaporkan kehilangan anak karena ia pun akan melaporkan telah menemukan seorang anak kecil berkeliaran di tempatnya. Resepsionis yang bertugas kelihatan tengah melayani orang lain dan begitu fokus dari cara keduanya berbicara, tapi Renjun tidak peduli karena baginya ada yang jauh lebih penting.

“Permisi, saya mau ngelaporin…”

“Om Donghyuck!”

Tubuh Renjun menegang sebelum menyelesaikan perkataannya setelah mendengar teriakan bocah yang sedari tadi digenggamnya. Amat kaku kepala yang tadi mengarah ke depan pelan-pelan menoleh ke kanan, dengan ekspresi takut memastikan jika nama yang disebutkan hanya kebetulan dari orang yang diduganya.
Tapi takdir amat buruk menyapanya. 10 tahun telah berlalu, mata yang selalu menatapnya penuh puja di masa lalu sekarang berganti dengan keterkejutan dan ketidakpercayaan. Mencari tahu jika semua ini nyata, bukan sekadar mimpi yang terlewat begitu saja.

“Renjun…”

Suara itu nyata, mata itu nyata, wajah itu nyata, dan debar jantung Renjun pun nyata. Semua ini bukan mimpi.

-Bersambung-