Work Text:
terinspirasi ini ^^
Laut sedang damai, begitupun dengan Kapal Kelompok Topi Jerami. Going Merry bergoyang lembut mengikuti gelombang yang tak tinggi namun tak bisa pula dikatakan kecil. Layarnya terbentang maksimal, terdorong oleh angin yang cukup kencang. Matahari masih tampak di ufuk barat, sebentar lagi akan menghilang tergantikan bulan dan sebenarnya belum waktunya makan malam. Tapi Luffy sudah merengek, menyuruh Sanji untuk segera menghidangkan makanan.
“Kalau kau masih juga merengek aku tidak akan memberikanmu apapun malam ini!”
Luffy mencebik mendengar itu tapi dia tetap tunduk dengan peringatan Sang Koki yang masih sibuk mengolah sayuran dan daging monster laut. Yang ternyata berkenan untuk menjeda sebentar persiapan menu utama guna membuat hidangan praktis tak banyak makan waktu.
“Ini,”Sanji sodorkan sebuah piring besar berisi sepuluh nasi kepal, “makan ini dulu.”
Air liur Luffy langsung menetes, senyumannya begitu sumringah dan tangannya sungguh ligat menguasai kesepuluh onirigi tersebut sebelum sempat disentuh oleh Usopp maupun Zoro yang duduk di dekatnya.
“YAH!”tentu Usopp jadi emosi tapi Luffy mana mau peduli dan malah tertawa lepas meskipun perut jauh dari kata kenyang tapi setidaknya tidak sekosong sebelumnya.
Di sisi lain Zoro hanya mencecih sebal, Nami geleng-geleng kepala melihat tingkah para krunya dan Chopper yang duduk di lantai beralas tikar sibuk meracik obat-obatan herbal.
“Tambah!”pekik Luffy.
Sanji sudah menduganya, dia kembali membawa sepiring onigiri dan kali ini tepat ke hadapan Usopp namun lagi-lagi Si Tangan Karet bergerak cepat memonopoli semuanya.
“Brengsek kau!”geram Usopp menyerbu Sang Kapten dan satu nasi kepal lolos dari mulut Luffy lalu terjatuh ke atas lantai. Usopp dan Luffy mendramatisi jatuhnya onigiri tersebut sedangkan Zoro sigap meraihnya dan memasukkan ke mulut. Sudah tak berbentuk tapi tetap enak dan memanjakan perut.
Luffy lalu menyeletuk, “aku jadi ingat dengan onigiri buatan, heh, aku lupa siapa namanya, Ruka? Roko? Rika? Saat kau ditangkap oleh marinir!”
Zoro langsung mengerti dengan maksudnya, “yang terlalu manis itu.”
“Shishishi jadi benar ya kelewat manis. Tapi waktu itu kau bilang enak. Padahal sudah kotor karena diinjak-injak oleh Helmeppo dan kau masih mau memakannya bahkan menghabiskan semuanya tanpa sisa. Waktu itulah aku jadi semakin yakin bahwa kau adalah orang yang tepat untuk aku jadikan kru!”
Luffy lalu berceloteh lebih banyak lagi. Soal pertemuan pertamanya dengan Zoro, soal onigiri kotor, soal Coby dan Helmeppo dan Kapten Morgan dan isian nasi kepal yang paling dia suka.
Usopp merasa salut mendengar bagian Zoro yang rela menghabiskan onigiri tak layak makan, begitupun dengan Nami dan juga Chopper. Lalu Sanji, yang memunggungi mereka, sungguh terdiam mendengar sisi lain dari pemuda yang selama ini selalu bertengkar dengannya.
Dia dan Zoro sudah seperti anjing dan kucing. Selalu saja ada yang membuat mereka berdebat maupun bertengkar hebat. Selalu saja menyulut emosi masing-masing meskipun karena hal-hal sepele. Selalu saja tak betah berdamai walau beberapa detik. Benar-benar tak cocok. Benar-benar tak akan bisa akrab. Tapi mendengar cerita Luffy barusan, sukses menimbulkan hal tak biasa dalam diri Sanji terhadap Zoro.
Sanji amat tegas perihal makanan. Benar-benar tegas tak ada toleransi sedikitpun. Tak ada yang boleh terbuang apalagi dibuang. Sebutir nasipun. Setetes air minumpun. Sungguh tak akan Sanji biarkan hal tersebut terjadi selama dia masih hidup. Dia pernah kelaparan hingga nyaris mati dan masih banyak orang yang masih mengalami hal serupa di dunia ini. Maka Sanji paling anti dengan yang namanya makanan mubazir.
Jadi tentu saja perasaannya sungguh campur aduk. Salut dan bangga atas sikap heroik yang jarang dimiliki banyak orang. Senang dan terharu karena ternyata ada orang lain yang juga sebegitu menghargai makanan seperti dirinya. Gengsi dan tak percaya karena yang kita bicarakan adalah Zoro.
Zoro rivalnya Sanji.
“Sanji-kun?”
Nami sudah berada di sampingnya, berusaha membantu sebisanya. Dan pikiran Sanji soal Zoro langsung buyar tergantikan rasa kagum berlebihan terhadap pesona seorang wanita. Sambil tetap ligat memasak makan malam dia lalu bertingkah konyol seperti biasa yang membuat Nami tersenyum risih.
Kemudian matahari perlahan-lahan terbenam di ujung laut yang masih tenang. Kapal Kelompok Topi Jerami kali ini ribut, di dalam dek kecil yang memiliki banyak fungsi (merangkap sebagai tempat berkumpul, dapur, ruang makan dan tempat kemudi utama) terdengar kehebohan dan celoteh riang khas keluarga kecil yang akrab ketika makan.
Sanji beberapa kali mencuri lirik ke arah Zoro, sungguh aneh rasanya sepanjang makan malam mereka sama sekali tidak bertengkar. Mungkin karena Zoro menyadari sikap Sanji yang berbeda dari biasanya.
Tidak.
Bukannya mungkin.
Tapi memang begitu adanya.
Sanji tahu Zoro menyadari semuanya.
***** *****
Seperti biasa dan selalu, Sanji mendatangi Zoro yang tengah jaga malam untuk mengantarkan minuman hangat dan camilan. Namun kali ini Sanji tidak langsung berlalu pergi setelah menaruh nampan di sebelah Zoro, dia terdiam sejenak. Sangsi harus berkata apa.
Atau dia memang tidak perlu mengatakan apapun.
Oh, tentu saja begitu. Untuk apa dia mengatakan sesuatu. Tak ada yang perlu mereka bicarakan. Tepat ketika Sanji hendak turun dari menara kapal suara Zoro berhasil mencegahnya.
Suara berat yang biasanya Sanji dengar penuh emosi dan marah-marah tapi sekarang bernada khawatir yang dibuat sedatar mungkin.
“Kau kenapa?”
“Aku? Memangnya aku kenapa?”
Zoro meneliti benar setiap sudut wajah Sanji, berusaha membaca ekspresi sang lawan bicara agar tahu apakah dia jujur atau tidak. Agar Zoro tahu apa yang sedang Sanji pikirkan.
“Apa karena aku makan onigiri yang suda terjatuh?”
“Eh?”
“Kau itu pecinta kebersihan kan dan kau seorang koki. Koki pasti tidak suka melihat seseorang menyantap makanan yang sudah tak layak-
“Justru sebaliknya Bodoh.”
“Kau panggil aku apa- yah!”
Sanji duduk tepat di sebelah Zoro, mengambil alih setengah selimut untuk melindungi badan dari udara dingin. Kepalanya menengadah ke langit penuh bintang, mengacuhkan protes Zoro yang kemudian hilang sendiri tergantikan kunyahan onigiri isi udang.
Kepulan asap rokok melayang-layang di atas mereka.
“Justru sebaliknya.”
Ulang Sanji. Jauh lebih sopan. Penuh perasaan dan sambil menerawang. Sepasang mata birunya masih setia memandangi bentangan cakrawala kelam, “aku pernah nyaris mati karena kelaparan.”
Zoro tampak acuh tak acuh tapi Sanji tahu dia siap pasang telinga. Maka selanjutnya mulut Sanji begitu lancar membahas kenangan lama. Kenangan menyakitkan namun amat berharga. Kenangan yang menjadi salah satu titik balik hidupnya. Kenangan yang mengubah segala-galanya. Kenangan yang membentuk dirinya sekarang.
Tak ada balasan dari Zoro tapi lagi, Sanji tahu si pendekar pedang menyimak dengan baik.
“Hei,”panggil Sanji menyudahi ceritanya. Berpaling dari langit guna menyandarkan kepala di lutut sendiri sambil mematai Zoro yang sekarang tampak jauh lebih muda. Nah, mereka memang masih sangat muda tapi detik ini Sanji seperti melihat seorang bocah manis yang sedang menikmati kue lezat.
Jika sedang tidak berselisih begini sosok yang biasanya begitu menyebalkan ternyata dapat mendatangkan kenyamanan. Membuat Sanji membayangkan, apa dia juga begitu di mata Zoro.
“Hei.”
“Apa?”sahut Zoro.
Sanji tersenyum lembut sebelum bergumam, “terima kasih.”
“Hha?”
“Terima kasih karena benar-benar menghargai makanan dan kebaikan gadis kecil itu.”
“Heh,”Zoro mendengus tersenyum simpul, “kenapa malah kau yang berterima kasih.”
Jika sedang tidak berselisih begini sosok yang biasanya begitu menyebalkan ternyata dapat menyentuh hati. Membuat Sanji membayangkan, betapa konyolnya mereka selama ini.
Laut sedang damai, begitupun dengan Kapal Kelompok Topi Jerami. Going Merry bergoyang lembut mengikuti gelombang yang tak tinggi namun tak bisa pula dikatakan kecil. Layarnya tidak terlalu terbentang maksimal, angin malam sedang tidak kencang. Suasana kian larut, tiga kru sudah benar-benar tenggelam dalam alam mimpi menyisakan dua yang masih terjaga.
Dua yang dilanda keheningan sebelum Sanji memutuskan untuk menyusul yang lain tidur.
“Nah,”desahnya bergerak bangkit, “pokoknya terima kasih.”
“Kau juga.”
“Hm?”
Zoro beralih dari camilannya untuk menatap Sanji tepat di mata, “terima kasih atas makanannya.”
“Kau tidak perlu berterima-
“Pokoknya terima kasih.”
“Baiklah baiklah.”
“Dan ceritamu barusan.”
Sanji tak jadi melangkah, menjongkok di hadapan Zoro yang berpaling gengsi, “dan ceritaku barusan?”
“Kau dan terutama si kakek tua itu, kalian benar-benar sangat hebat.”
“Kau bilang apa?”goda Sanji, secara tak langsung ingin mendengar pujian Zoro sekali lagi. Langsung muncul urat marah di leher si marimo dan Sanji hanya terkekeh.
“Pergi sana.”
“Justru diusir begini aku jadi malah tidak mau pergi.”
Dan Sanji memang kembali duduk di sebelah Zoro. Kembali mengambil alih setengah selimut. Kembali mengacuhkan protes Zoro. Kembali menatap bentangan cakrawala penuh bintang.
Kepulan asap rokok melayang-layang di atas mereka sebelum benar-benar menghilang karena batangan tembakau itu dimatikan oleh Zoro. Tak ada gunanya lagi hidup karena si empunya sudah terlelap dengan dengkuran halus, dengan kepala yang semula tertekuk-tekuk kemudian Zoro sandarkan ke atas bahunya.
Zoro juga memangkas jarak di antara mereka dan semakin mengeratkan selimut. Dingin benar-benar terusir tergantikan kehangatan sosok lain yang jika sedang berselisih begini ternyata dapat mendatangkan harapan agar tetap selalu bersama selama-lamanya.
