Work Text:
1. What's the source of my unease?
♥♥
SETIAP manusia pasti memiliki setidaknya satu hal yang sangat berharga dalam hidupnya, entah itu berupa hobi, makanan, lagu kesukaan, atau apa pun yang saking berharganya pasti akan dijaga dengan segenap jiwa. Bahkan hal ini juga berlaku pada lelaki bernama lengkap Eren Jaeger. Tidak ada pengecualian.
Eren terlampau mencintai tari sedari kecil, dan street dance adalah favoritnya. Namun, bukan berarti Eren tak menyukai jenis tari lainnya, itu tidak benar. Hanya saja, berdasarkan pemikiran dan perasaan manusia, pasti ada hal yang seringnya menjadi prioritas utama atau memiliki peringkat tertinggi di daftar kesukaannya.
Tubuh Eren seakan memiliki kepekaan yang sangat tinggi setiap kali mendengar lagu atau bahkan sekadar melodi. Berbagai kompetisi juga telah ia ikuti dan membuat namanya harum di seluruh penjuru negeri. Terkadang Eren pun berterima kasih kepada media sosial, karena telah membuat penampilannya dapat dilihat oleh banyak pasang mata sehingga tidak sedikit agensi yang ingin merekrutnya sebagai idola, bukan hanya penari belaka.
Namun, Eren hanya ingin menjalani hidupnya sebagai orang biasa sebab ia menyadari bahwa menjadi idola berarti harus mengorbankan banyak sekali hal di hidupnya, atau katakanlah hidupnya tidak akan lagi menjadi miliknya sendiri. Eren tidak dapat membayangkan hal semacam itu terjadi pada dirinya. Cukup untuk menjadi saksi nyata perjalanan teman-teman seperjuangannya yang sudah lebih dahulu ada di arah sana. Setidaknya, dengan begini saja Eren sudah merasa sangat bahagia, tidak merasa terpaksa apalagi menderita. Pasti ada hal lain yang juga berguna di hidupnya seperti apa yang telah diutarakan sang ayah padanya.
Setahun yang lalu, Eren mendaftarkan diri untuk menimba ilmu di Jurusan Seni Tari. Tak ada alasan yang berarti, semua Eren lakukan hanya karena mencintai tari itu sendiri. Selain itu, ia juga bergabung dalam klub tari dan sering diutus mewakili kampus.
Semuanya berjalan dengan normal, nyaman, dan membuat Eren sangat kerasan. Teman-teman klubnya pun kooperatif, kompak, hingga rasanya mereka bisa bersinar bersama. Namun, situasi mulai berubah tatkala klub tari kedatangan anggota baru di tahun kedua kuliahnya.
Selayaknya musuh yang berhasil menginvasi zona merdeka dan membuat rasa aman menghilang begitu saja. Tetapi, entahlah, jika Eren memperhatikan sekeliling, sepertinya hanya dirinya saja yang berpikir demikian. Semua orang justru lebih mengelu-elukan sosok pendatang baru yang belum banyak berkontribusi untuk klub tari ini, dan akan selalu menjadi buah bibir ke mana pun ia pergi.
Akhirnya, setiap kali ia berada di ruang klub tari, Eren tak lagi merasakan perasaan seperti yang terjadi di tahun pertamanya kuliah. Terkadang Eren ingin marah, terkadang ia jengah, terkadang ia resah. Lantas semua perasaan yang Eren simpulkan menjadi rasa gelisah tak tentu arah ini mulai memercikkan ide gila untuknya meninggalkan segala yang ada di sana.
Aneh. Eren sangat tidak terbiasa dengan sekumpulan energi negatif yang membuatnya sulit berkonsentrasi pada gerakan tarinya. Eren juga tidak biasa ditatap dengan pandangan yang sulit Eren tafsirkan, terlebih dari sosok yang diajak berkomunikasi saja rasanya enggan.
“Sebenarnya aku kenapa? Apa yang membuatku sangat resah?”
2. I'd like to speak with someone, but I'm unable to do so
♥♥
BALET adalah hal yang sudah menjadi bagian dari hidup Mikasa Ackerman. Hampir separuh usianya dihabiskan hanya untuk mengikuti kelas balet, pertunjukan musikal, dan juga berkompetisi. Namun, ada suatu masa yang membuat Mikasa mulai merasa sangat lelah dan kehilangan motivasi untuk melakukan rutinitasnya ini.
Rasanya Mikasa tidak begitu bebas berekspresi dalam setiap gerakan yang harus ia lakukan karena semuanya terstruktur, berdasarkan arahan, berdasarkan naskah peran, hingga akhirnya ia merasa sangat bosan.
Mikasa ingin sekali menari dengan bebas, lepas, hanya menyesuaikan ketukan atau irama yang terdengar di telinganya. Kalaupun ada arahan yang harus diikuti, tak akan sebanyak apa yang biasa ia lakukan setiap kali harus tampil dalam pertunjukan dengan segala tuntutan peran. Hal itu mungkin terlihat menyenangkan untuk yang menonton, namun tak lebih dari kebahagiaan yang penuh dengan kepalsuan bagi sang pemeran.
Hingga pada akhirnya, di musim semi tahun lalu, Mikasa menemukan motivasi yang baru. Tatkala Mikasa melarikan diri dari kelas balet, ia memutuskan untuk asal saja menaiki bus dan berhenti pada halte ketujuh yang akan dilewati oleh bus tersebut. Lantas sampailah Mikasa di perhentian yang ia perhitungkan. Sebuah wilayah yang Mikasa sendiri tidak yakin apa namanya karena ia jarang sekali pergi seorang diri.
Mikasa berjalan mengitari sebuah taman, dan beberapa meter kemudian terlihatlah sekumpulan manusia yang memadati suatu tempat. Lebih tepatnya adalah mengelilingi sebuah arena terbuka untuk kompetisi street dance. Mikasa melihat informasinya melalui spanduk-spanduk yang dipasang pada tiang-tiang khusus, dan juga terdapat umbul-umbul yang tercetak gambar wajah dari para kontestan. Namun, dari sudut pandang Mikasa, ia tak bisa melihat dengan jelas nama para kontestan yang terletak di bagian bawah umbul-umbul tersebut sebab ukuran hurufnya terlalu kecil. Lalu Mikasa berpikir akan melihatnya nanti saja setelah kompetisi berakhir.
Belum pernah Mikasa mengikuti atau menghadiri kompetisi di tempat terbuka, sehingga ini adalah pengalaman pertamanya. Mikasa mencoba untuk menyusup ke dalam kerumunan dan seketika hal tersebut membuatnya berada di posisi yang cukup menguntungkan. Ia dapat melihat dengan jelas ke depan, melihat segala yang terlihat menakjubkan, dan untuk sejenak hatinya pun tertawan.
Penampilan dari seseorang yang mulanya tak Mikasa ketahui namanya ini, begitu mengesankan. Atraktif, detail, ekspresif, tidak lebih, tidak kurang. Komposisi yang sangat pas dan membuat hati Mikasa merasa puas. Auranya begitu luar biasa, sorot matanya bercahaya, dan senyum yang menggugah selera bahkan dihaturkan sebagai penutup penampilannya. Mikasa benar-benar dibuat terpana.
“Keren sekali,” gumamnya.
Sorak-sorai dan tepukan tangan dari penonton pun mulai bersahut-sahutan. “Eren! Eren! Eren! Eren!” itulah yang Mikasa dengar. Sang pemilik nama lantas membungkukkan tubuh seraya berucap terima kasih, dan melambai-lambaikan tangan pada semua yang menyaksikan penampilannya.
Pandangan Mikasa tak bisa lepas dari sosok yang telah memberikan warna baru di hari bolosnya. Mikasa berlaku selayaknya penembak jitu yang memperhatikan gerak-gerik musuh melalui lensa teleskop senapan, tak pernah berpaling.
Dari posisi Mikasa, terlihat sosok yang bernama Eren itu berjalan menghampiri rombongan timnya. Sesekali bersenda gurau, namun selebihnya Eren memperhatikan seluruh kontestan yang tampil. Sedangkan Mikasa … sudah benar-benar terhipnotis dengan senyuman sang lelaki. Pikirannya kosong, hanya Eren, Eren, dan Eren. Katakanlah Mikasa gila karena ini adalah kali pertama juga ia melihatnya. Tetapi, kenapa bisa?
Tatkala mereka bertemu pandang, Mikasa dengan terburu memalingkan wajahnya dan merapikan topi serta maskernya. Namun, debaran jantung Mikasa tak menolongnya sama sekali. Ingin rasanya ia berteriak, berjongkok karena malu, atau mungkin langsung saja menenggelamkan diri ke kolam taman sebab besar kemungkinan dirinya ketahuan sedang memperhatikan.
Alhasil, Mikasa segera menyingkir dari sana, dan memutuskan untuk mencari tahu lebih jauh siapakah Eren sebenarnya saat sudah di rumah.
♥♥
Pencarian Mikasa untungnya berjalan dengan lancar. Ternyata … Eren seterkenal itu. Tetapi, kenapa Mikasa baru tahu? Ah, itu karena Mikasa benar-benar berada di dunia yang berbeda dengan Eren sebelumnya, meskipun bisa dibilang apa yang mereka tekuni bersumber dari satu ilmu yang serumpun; tari, namun jenisnya saja yang membedakan. Sehingga, Mikasa berkata pada orang tuanya bahwa ia ingin melanjutkan kuliah di Paradis saja, tepatnya di universitas tempat Eren berada. Mikasa juga ingin mengikuti klub tari seperti yang Eren lakukan.
Mikasa membuat banyak sekali alasan dengan ekspresi yang sangat bersungguh-sungguh, bahkan orang tuanya sempat merasa kebingungan. Mereka pikir, Mikasa akan setuju untuk pindah ke Prancis dan berkarier di kancah internasional. Namun, ternyata tidak begitu.
Di malam itu pun akhirnya sebuah keputusan telah ditetapkan. Katakanlah Tuhan memberikan Mikasa kehidupan yang begitu sempurna karena dikarunia bakat dan keluarga yang begitu hangat, karena di akhir percakapan sang ayah menyetujui saja tanpa banyak mendebat. Lalu dengan semangat Mikasa berkata akan berjuang dengan sepenuh hatinya agar musim semi mendatang keinginannya tercapai tanpa ada yang menghambat.
♥♥
Musim semi yang Mikasa nantikan pun benar-benar datang. Sensasi yang Mikasa rasakan tatkala berkenalan secara resmi dengan Eren di klub tari pun masih jelas terbayang. Jemarinya terasa sangat pas berada dalam genggaman tangan Eren saat saling berjabatan.
Meskipun hanya terjadi dalam waktu yang teramat singkat, hal itu rasanya bisa membuat jantung Mikasa ingin melompat. Ditambah wajah Eren yang dapat ia lihat dari jarak yang begitu dekat, sungguh rasanya akal dan pikirannya menjadi tidak sehat.
Sejujurnya, Mikasa merasa beruntung lantaran kehadirannya diterima dengan baik di klub tari, hampir semua anggota bersikap ramah dan sering mengajaknya berbicara. Bahkan beberapa di antara mereka sering memujinya secara terang-terangan, dan masih saja berkata tidak menyangka bahwa dirinya berkuliah di tempat yang sama dengan mereka, serta bergabung di klub yang sama pula. Namun, Mikasa selalu terdiam dan tak mampu berkata apa-apa tatkala Eren berada di sekitarnya. Sehingga, di hari-hari berikutnya pun Mikasa hanya bisa mencuri-curi pandang tanpa pernah mencoba mendekatinya.
“Ya Tuhan … mengapa rasanya sulit sekali untuk berbicara dengan orang yang kita sukai? Padahal … jaraknya sudah sedekat ini.”
3. I don't want to do things I don't want to do
♥♥
SUDAH satu bulan berlalu sejak kedatangan anggota baru. Rasa-rasanya Eren masih terus membutuhkan penyesuaian diri. Entah kenapa belakangan ini keadaan menjadi sulit untuknya bisa berkonsentrasi.
Setelah Eren pikir-pikir, penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah karena kehadiran dari Mikasa Ackerman itu sendiri. Salah satu adik tingkat yang terlihat sangat mencolok dari siapa pun yang berada di klub tari.
Bukannya Eren tidak sadar, entah berapa kali ia memergoki Mikasa yang mencuri pandang ke arahnya. Ditambah dari waktu ke waktu teman-temannya selalu saja bercerita Mikasa begini, Mikasa begitu. Jujur, Eren tidak nyaman, sangat tidak nyaman.
Apakah Mikasa adalah sebuah ancaman?
Tetapi, apa-apaan pemikiran bodoh yang demikian? Jika ia merasa tersaingi atau terintimidasi dengan orang-orang yang bersinar, seharusnya dari dulu melakukan kontrak saja dengan sebuah agensi, pasti saat ini dirinya dan Mikasa akan berada di level yang sama, begitulah pikirnya lagi.
Namun, tetap saja, hal yang Eren tidak mengerti adalah mengapa Mikasa harus berada di klub tari yang sama dengannya? Bukannya Mikasa memiliki masa depan yang sangat cerah dengan keahlian baletnya?
Eren cukup bingung setelah melihat banyaknya daftar prestasi yang Mikasa miliki. Sedangkan prestasi miliknya benar-benar tidak sebanding. Ah, sudahlah … Eren tak ingin memikirkan apa pun lagi tentang Mikasa, terlebih menjadi dekat dengannya. Tidak, sebisa mungkin jangan jikalau ia ingin hidup dengan nyaman.
Lantas keesokan harinya, sang ketua klub tari mengumumkan bahwa akan ada lomba modern dance yang dilakukan secara berpasangan. Sang ketua ingin mengirimkan kontestan sebanyak-banyaknya sebagai peluang untuk mengharumkan nama klub tari serta kampus mereka.
Pada awalnya, penentuan pasangan akan dilakukan melalui undian. Namun, salah seorang berkata akan sulit jika tidak ada chemistry atau tidak ada kecocokan, lebih baik memilih sendiri saja.
Siapa sangka, hampir semuanya menyetujui pendapat tersebut dan mulai mengajak orang yang ingin dijadikan pasangan.
Awalnya Eren berlaku tenang, lantaran mengira akan banyak orang yang mengajaknya berpasangan. Namun, sampai akhir ternyata tak ada yang mendekatinya, dan hal itu pun berlaku juga pada Mikasa.
Eren dan Mikasa benar-benar seperti dua manusia yang terasingkan di klub tari. Hal itu membuat Eren menutup mulut dengan telapak tangannya sebab tidak percaya dengan apa yang terjadi. Sedangkan Mikasa hanya terlihat seperti anak kecil yang kebingungan, jemarinya memain-mainkan ujung bajunya sendiri sambil menggigit bibir bawahnya.
“Wah, oke. Semua sudah dapat pasangan, ‘kan? Jadi, otomatis Eren sama Mikasa berdua, ya. Gak apa-apa ‘kan, Seok? Kayaknya kalian bakalan cocok sih,” ucap sang ketua seraya menepuk pundak Eren.
“Sial!” batin Eren. Hanya kata itulah yang cocok untuk menggambarkan situasi Eren saat ini. Dirinya harus terjebak dengan orang yang sebisa mungkin dihindari.
“O-oh, ya,” jawab Eren dengan senyum yang sedikit kaku.
Sang ketua kembali menepuk pundak Eren dan mulai berjalan mendekati Mikasa. “Mikasa juga gak apa-apa ‘kan pasangannya sama Eren? Eren keren loh, pasti kamu nanti banyak dibantu sama dia.”
Mikasa hanya mengangguk dengan ekspresi wajah yang Eren tak pahami artinya. Terlihat seperti ragu, malu, tetapi sorot matanya justru sebaliknya.
“Sudah gila. Untuk apa aku berpikiran yang tidak-tidak? Padahal aku tak ingin dekat-dekat dengannya! Tapi kenapa malah begini?”
4. All I want is for you to like me
♥♥
TERIAK. Hal yang Mikasa lakukan setibanya di kamar adalah berteriak. Ibunya bahkan berlari dan menggedor-gedor pintu kamar ketika mendengar teriakannya. Namun, Mikasa cepat-cepat berkata bahwa dirinya baik-baik saja, hanya tersandung sudut ranjang dan rasanya sakit serta mengejutkan.
Lantas dengan sigap sang ibu mendorongnya ke atas kasur dan menarik kakinya untuk melihat kondisinya. Namun, untungnya terlihat baik-baik saja, ujar sang ibu.
Kemudian ia pun dinasihati untuk berhati-hati. Mikasa mengangguk dan membatin, “Ya Tuhan, maafkan aku yang berbohong pada ibu kali ini.”
Mikasa akhirnya melanjutkan ritual perayaan bahagianya dengan berguling-guling di kasur sambil menutupi wajah menggunakan bantal, agar teriakannya tak terdengar lagi oleh ibunya.
“Aku senang sekali.”
♥♥
Seusai kelas, Mikasa berlari menuju ke gedung di mana klub tari berada. Namun, sebelumnya ia mencoba menetralkan napasnya terlebih dahulu, serta berjalan menuju ke ruang ganti di sebelah ruangan klub. Mikasa meletakkan seluruh barang bawaannya di loker.
Berkali-kali di dalam hatinya, Mikasa merapalkan untuk bersikap tenang dan fokus pada sesi latihan perdananya bersama Eren. Langkah canggung akhirnya membawa Mikasa berada tepat di sebelah pria yang sudah mencuri hatinya sejak setahun yang lalu. Hal itu juga membuat jantung Mikasa berdebar dengan tidak santai tatkala ditatap oleh Eren dan diajak bicara secara langsung.
Eren bertanya kepada Mikasa ingin melakukan konsep tari yang seperti apa, menggunakan musik yang bagaimana, dan sebagainya. Alhasil, diskusi mereka berjalan dengan beberapa kali mengalami benturan.
Mikasa jadi merasa salah tingkah dan segan karena tidak sependapat dengan Eren. Ia pun mendadak sungkan memberikan masukan ketika melihat raut wajah Eren yang sepertinya tidak bisa diajak untuk berteman. Mikasa bingung sekali.
“Kenapa jadi begini?” batinnya.
Kemudian Eren menekankan kalau mereka akan terus mencari konsep di hari ini, karena di pertemuan selanjutnya mereka sudah harus memikirkan koreografi.
“Bagaimana ini?” batinnya lagi.
Lelaki yang lebih tua justru kini duduk sambil menggunakan headphone dan mencoret-coret di kertas. Coretan yang Mikasa ketahui adalah beberapa usulan konsep untuk kompetisi.
Lantaran baru hari pertama, sang ketua klub membebaskan semua anggota. Namun, untuk selanjutnya akan diatur sesi latihan yang bergantian agar tidak tampak rusuh dan berantakan.
Mikasa melihat sekeliling, beberapa pasangan pun sudah mulai melakukan latihan. Menciptakan beragam gerakan, tertawa saat melakukan kesalahan, dan beristirahat karena sudah kelelahan. Suara-suara yang terdengar di dalam ruangan pun saling bersahutan, berisik, dan tidak beraturan. Mikasa yakin, apabila ada orang selain anggota klub tari yang masuk ke dalam ruangan, pasti mereka tidak akan tahan.
Waktu demi waktu pun berlalu. Ketika hari sudah mulai gelap, satu per satu anggota klub tari berpamitan pulang. Namun, saat Mikasa berdiri dan hendak melangkah, Eren memanggilnya seraya melepaskan headphone yang sejak tadi bertengger di kepala dan menutupi seluruh telinganya.
“Mau ke mana? Urusan kita belum selesai,” ucapnya secara tegas.
Mikasa tertegun dan mendadak seperti orang yang tergagap. Tak ada satu pun kata yang keluar dengan benar dari mulutnya.
“Duduk.”
Bak mantra, satu kata itu pun berhasil membuat Mikasa terduduk kembali. Saat Eren mendekat ke arahnya, jantung Mikasa serasa aritmia. Seketika Eren menyodorkan kertas yang berisi catatan konsepnya, dan Mikasa menerima kertas tersebut serta mulai membaca isinya.
Mata Mikasa membulat saat membaca catatan tersebut. Eren adalah tipikal lelaki yang sangat mengejutkan, pikirnya. Eren orang yang hebat dan benar-benar terlahir sebagai genius dalam tari.
Di konsep tersebut, Eren juga menuliskan bahwa akan ada bagian di mana Mikasa bisa menunjukkan kebolehannya dalam balet. Bahkan ada catatan kecil di sampingnya yang bertuliskan, “Ini akan dilakukan bila aransemen musik yang dipakai sesuai.”
Eren menggabungkan segala hal yang sempat mereka perdebatkan dengan sangat apik.
“Ya Tuhan, bagaimana caranya aku tidak semakin suka dengan dia?” batin Mikasa.
“Bagaimana? Apa ada yang ingin kau sanggah lagi?” tanya Eren.
Mikasa berdeham dan menoleh ke arah Eren berada. “T-tidak. Ini konsepnya sudah sangat bagus. D-dan—”
Sontak ucapan Mikasa terputus karena tiba-tiba saja listrik di ruang klub padam. Keduanya pun terkejut untuk sesaat.
“Ah, sepertinya kita memang harus pulang,” ujar Eren.
Kemudian Eren berdiri dan berjalan menuju ke arah pintu dengan melawan gelapnya pandangan. Segera saja Mikasa mengikuti Eren sembari membawa catatan yang masih ia pegang. Namun, saat Eren memegang handel pintu, ternyata pintu tersebut tidak bisa dibuka dari dalam alias terkunci.
Eren menggerak-gerakkan handel pintu, menggedor-gedor, serta berteriak dengan harapan ada yang mendengar suaranya. Namun …
“Sialan!” umpat Eren.
Mikasa yang berdiri tepat di sebelah Eren, ikut menggedor-gedor pintu. Namun, tetap tidak ada yang mendatangi mereka.
“Pinjamkan aku ponselmu,” pinta Eren.
“Hah? Oh? Ponsel?” ujar Mikasa panik seraya meraba kantong celananya sendiri. Lantas teringat bahwa ponselnya ia letakkan di dalam tas yang ada di loker.
“Iya, ponsel.”
“M-maaf. Aku tak membawa ponselku, Kak. A-ada di dalam loker.”
“Astaga. Benda ini juga tak berguna karena telah kehabisan baterai!” keluh Eren sambil menepuk ponsel pada telapak tangannya.
“M-maaf, Kak.”
“Mengapa kau meminta maaf terus?” tanya Eren keheranan.
Mikasa tak melihat ke arah Eren secara langsung, sehingga ia hanya melihat dari bayangan yang tercipta oleh seberkas cahaya di celah bawah pintu. Mikasa juga tak tahu harus bersikap bagaimana lagi dengan situasi dan kondisi yang terjadi, sehingga ia mendudukkan diri di depan pintu sembari memeluk lututnya sendiri. “Maaf, karena aku sama sekali tak bisa membantu kita keluar dari situasi ini, Kak.”
Ada sedikit penyesalan di hati Mikasa karena ia tak membawa ponsel dan tak memakai kaus berlengan panjang. Sungguh apes sekali, pikirnya.
Eren turut serta mendudukkan diri di samping Mikasa seraya memejamkan mata. “Tak ada yang tahu kalau akan begini jadinya, ‘kan? Jadi, kau tak perlu minta maaf segala.”
Mikasa mengangguk. “Hmm … baiklah, Kak,” jawabnya sedikit canggung.
Akhirnya Eren dan Mikasa terdiam cukup lama, seakan menikmati keheningan yang tercipta di antara mereka.
Masih dalam posisi duduk yang bersebelahan, Mikasa menoleh ke arah Eren. Ia benar-benar dihadapkan langsung dengan wajah sosok yang telah mencuri hatinya sejak pertemuan pertama, dalam jarak yang terdekat menurut sejarah pertemuan mereka. Walaupun kondisi ruangan klub cukup gelap, nyatanya jantung Mikasa tetap bekerja dengan tidak santainya jika dihadapkan dengan situasi semacam ini. Debaran itu semakin kurang ajar di setiap detiknya, di setiap ia mengedipkan mata, di setiap ia memperhatikan figur wajah pencuri hatinya, memandanginya dengan saksama, dan berakhir kembali mengalihkan pandangan ke arah lainnya.
Tanpa Mikasa sadari, sesungguhnya sosok yang dipandangi sedari tadi sangatlah peka. “Memangnya ada yang aneh dengan wajahku?” tanya Eren memecah keheningan.
“Hah? Oh … eh? Tidak. T-tidak mungkin Kakak aneh. Kak Eren itu keren, luar biasa, bahkan aku sudah menyukai Kakak sejak lama,” jawab Mikasa kalang kabut.
“Apa? Kau … kau menyukaiku?” Eren mengoreksi ucapan Mikasa, bahkan kini ia telah membuka matanya dan merubah posisi duduknya untuk langsung menghadap ke arah Mikasa.
Sontak Mikasa panik dan menyembunyikan wajahnya dengan tangan mungilnya. “Sial, mengapa mulut ini lancar sekali berbicara spontan?” batinnya.
Terjadi jeda cukup lama, hingga akhirnya Mikasa berujar dengan suara pelan, “Kak … m-maaf, maaf kalau aku lancang. Tapi … benar. Aku … aku memang menyukai Kakak sejak musim semi tahun lalu.” Sungguh Mikasa malu setengah mati. Namun, kalau tidak diungkapkan sekarang, lantas kapan lagi?
Eren hanya berdeham dan kembali menyandarkan diri di pintu. Mikasa tidak mengetahui secara pasti bagaimana ekspresi Eren saat ini, karena ia pun masih bersusah payah menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Lalu keduanya kini saling adu diam untuk kesekian kali di hari ini.
“Aku sudah menyatakan perasaanku, meskipun secara spontan. Namun, sejujurnya aku juga ingin kau membalas perasaanku.”
5. It's like a dream, yet it's not
♥♥
TAK pernah terbayangkan sebelumnya bagi Eren untuk terjebak di sebuah ruangan dengan keadaan yang gelap dan pintunya terkunci, serta hanya berduaan saja dengan sosok yang entah sudah berapa kali ia rapalkan di dalam hatinya untuk jangan pernah terlibat dalam setiap aktivitasnya, meskipun hanya sekelebat. Tetapi, mungkin ini adalah kutukan, pikirnya. Semakin ia tidak ingin mendekat, justru takdirlah yang berbuat seenak jidat.
Lantas kini Eren hanya bisa pasrah, lantaran tak ada media yang bisa ia gunakan sebagai tempat meminta bantuan. Mungkin ia benar-benar harus menikmati malam dengan penuh kegelapan dan kesunyian, bertemankan sosok yang baru saja secara spontan mengungkapkan perasaan.
“Sungguh gila, apa-apaan ini semua?” batin Eren.
Eren bingung harus memberi respons bagaimana terhadap pernyataan suka yang ia terima. Terlebih hal itu diucapkan oleh orang yang Eren tidak begitu sukai. Sehingga yang Eren lakukan hanyalah diam, menggerutu di dalam hati, memandang ke mana pun asalkan tak melihat ke arah Mikasa, serta mulai berpikir bagaimana caranya mereka harus beristirahat di tempat yang sama sekali tak berudara hangat.
Sejenak terlintas dalam kepalanya untuk harus tetap terjaga, namun tubuhnya sama sekali tak sejalan dengan pikirannya. Lantas ia menghela napas, merapatkan jaket bomber yang ia kenakan, dan melirik sekilas ke arah sosok yang ada di sebelahnya.
Mikasa duduk dengan memeluk lututnya, serta kepalanya ia benamkan pula di sana. Melihat Mikasa yang hanya mengenakan kaos hitam berlengan pendek serta celana training berwarna serupa, membuat Eren sedikit tidak tega. Namun, Eren juga bingung untuk harus berbuat apa. Di dalam kepalanya terbayang adegan ia melepaskan jaket lalu memberikannya kepada yang lebih muda, tetapi kemudian akal sehatnya menolak mentah-mentah, bagaimana bila ia sendiri yang nantinya akan kedinginan?
Kemudian opsi kedua adalah Eren melepaskan salah satu bagian lengan jaketnya serta merapatkan posisi duduknya dengan Mikasa, sehingga mereka bisa memperoleh kehangatan dari jaket bomber ini bersama-sama. Namun, Eren menggelengkan kepala. “Tidak, tidak, tidak!” batinnya.
Tetapi, kepala Eren pun memikirkan hal lainnya, “Bagaimana bila Mikasa mendadak jatuh sakit karena perilaku egoisnya?”
Eren menghela napasnya. Situasi ini sangat aneh, Eren benar-benar berharap bahwa ini adalah mimpi, walaupun pada kenyataannya bukan mimpi sama sekali. Apa yang akan Mikasa pikirkan jika ia mendadak memberikan perlakuan layaknya seorang pasangan? Terlebih Mikasa baru saja menyatakan perasaan padanya. Eren tak ingin menjadi lelaki pemberi harapan palsu, sama sekali tidak. Dan, pada akhirnya Eren meleburkan egonya ke dasar atas nama kemanusiaan.
“Aku sangat berharap ini semua hanyalah mimpi belaka.”
6. I'm both happy and sad
♥♥
HATI Mikasa benar-benar dihadapkan dengan bermacam-macam cobaan. Ia merasa sudah kepalang malu lantaran secara spontan mengungkapkan perasaan. Namun, bagaikan istana pasir yang diterjang ombak, rasanya Mikasa seperti butiran pasir yang akan terbawa hanyut kembali ke laut.
Lantaran tiba-tiba saja Eren duduk merapat ke arahnya dan menyampirkan jaket bombernya untuk menutupi bagian pundak keduanya. Mikasa bahkan hampir lupa caranya bernapas seraya membelalakkan mata.
Beberapa detik kemudian Mikasa menggeser tubuhnya. “K-kak ….”
“Mendekatlah, atau kau mau mati kedinginan?”
Mikasa menggeleng-gelengkan kepalanya. Eren melihatnya sekilas, dan ia pun mendesah. Seakan memperingatkan Mikasa untuk kembali ke posisinya semula. Lantas Mikasa mendekat dan Eren kembali membenahi jaketnya.
Setelahnya Eren mencoba memejamkan mata, sedangkan Mikasa masih bersusah payah menenangkan dirinya serta mencerna apa yang sebenarnya terjadi dengannya di hari apes nan ajaib ini? Tetapi, jujur saja … Mikasa sangat senang. Ternyata Eren memiliki kepedulian yang cukup tinggi, pikirnya.
Tatkala rasa kantuk perlahan mulai menyambut, Mikasa akhirnya menyusul Eren yang sudah terlelap lebih dahulu.
♥♥
Waktu pun berlalu begitu saja, meskipun harus tidur dalam posisi yang kurang nyaman, setidaknya Mikasa tetap merasa aman dan juga bahagia. Saat Mikasa terbangun, ia melihat ke samping dan sang lelaki pujaannya masih tertidur dengan pulas di sana. Mikasa melepaskan bagian jaket yang tersampir di pundaknya dan membenahi jaket tersebut agar menutupi tubuh Eren dengan lebih baik daripada sebelumnya.
Jam dinding telah menunjukkan pukul 6 pagi, dan sebentar lagi pasti dirinya bersama Eren akan bisa pulang ke rumah serta bersiap-siap untuk kembali berangkat kuliah. Untung saja hari ini ia hanya memiliki kelas di siang hari, serta ayah dan ibu pun tak akan repot-repot mencarinya karena mereka sedang melakukan perjalanan bisnis ke Marley. Kemudian Mikasa berdiri dan melangkah menjauh ke tengah ruangan. Ia melakukan beragam peregangan, karena dirasa tubuhnya cukup kaku setelah tidur dalam posisi duduk semalaman.
Seketika saja lampu ruangan pun menyala.
“Hiya!” soraknya.
Sorakan Mikasa ternyata mampu membuat orang yang masih terbuai mimpi jadi terbangun. Mikasa cepat-cepat menutup mulutnya. Namun, Eren kini benar-benar membuka matanya.
“Ah, lampunya sudah menyala lagi?” ujarnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
“I-iya, Kak. Ah, anu … maaf, apakah aku membangunkanmu?”
Eren menggeleng. “Tidak apa-apa. Lagi pula kita harus cepat pulang. Aku ada kelas jam 10 pagi.”
Mikasa menganggukkan kepalanya.
Tak lama berselang, terdengar suara gemerincing yang entah asalnya dari mana. Namun, suara tersebut semakin terdengar jelas dan seketika pintu yang semalaman digunakan untuk bersandar pun terbuka, menampilkan sosok pria paruh baya yang memegang sebuah gantungan berisi berbagai jenis kunci. Pria yang merupakan penjaga gedung universitas itu pun terkejut melihat ada dua anak manusia yang berada di dalam ruangan.
“Kalian terkunci di sini semalaman?” tanyanya.
Eren bangkit dari posisi duduknya dan berkata, “Iya, Pak. Lampunya semalam tiba-tiba mati dan pintunya juga terkunci. Jadi, kami terjebak di sini.”
“Waduh, maafkan saya kalau begitu. Saya pikir sudah tidak ada orang lagi di bagian gedung ini. Maaf, ya, karena saya hanya bertugas sendiri semalam.”
Mikasa mendekat ke arah pintu dan ia pun berujar, “Tidak apa-apa, Pak. Pasti Bapak juga kerepotan karena sendirian. Yang penting sekarang pintunya sudah terbuka, dan kami bisa pulang.”
Mikasa tersenyum setelah mengakhiri ucapannya. Ia juga melihat ke arah Eren seakan meminta persetujuan. Namun, yang Mikasa peroleh justru Eren yang memalingkan pandangan.
Usai meminta maaf kembali, sang penjaga gedung pun berpamitan. Mikasa mematikan sakelar lampu, sedangkan Eren memakai jaket bombernya dengan benar seraya menunggu Mikasa di dekat pintu. Setelah Mikasa melangkah keluar ruangan sembari membawa catatan yang Eren tuliskan kemarin, akhirnya Eren menutup pintu ruang klub tersebut.
Keduanya kini melangkah menuju ruang ganti untuk mengambil barang-barang mereka di dalam loker. Hal yang pertama kali Mikasa cek adalah ponselnya. Ia ingin tahu apa kiranya pesan yang akan orang tuanya kirimkan. Ternyata sesuai dengan dugaannya, sang ibu mengirimkan sejumlah pesan berupa peringatan untuk menghabiskan makanan yang sudah disiapkan oleh Bibi Kuchel, serta mengirim sejumlah foto yang menampilkan berbagai kegiatan yang dilakukan kedua orang tuanya di Marley.
Mikasa tersenyum melihatnya. Dan lagi-lagi Mikasa tidak menyadari bahwa sosok yang bermalam bersamanya masih berada di sana serta menunggu dirinya. Lantaran waktu terus bergulir, Eren tidak bisa berlama-lama lagi. Lantas ia berdeham untuk mencari perhatian dari Mikasa.
Mikasa yang mendengar dehaman itu langsung menoleh ke sumber suara. Ia pun berkata, “Loh, Kak Eren masih di sini?”
“Iya. Ayo kuantar pulang.”
“Hah?”
“Cepatlah, kalau mau. Sebelum aku berubah pikiran.”
Dengan panik, Mikasa tiba-tiba menarik tasnya dan membuat beberapa barang berhamburan di lantai.
“Sial, bisa-bisanya aku berbuat ceroboh seperti ini? Ah … Ibu … aku senang, tapi sedih juga. Dasar Mikasa bodoh!”
7. I'd like to express my gratitude to you
♥♥
KEMANUSIAAN. Eren pikir ia sudah sangat tidak waras saat bertindak berlandaskan asas kemanusiaan. Apanya yang kemanusiaan? Sejak kapan pula ia jadi peduli dengan hal-hal yang demikian? Sungguh edan.
Entah kenapa Eren tetap merasa bertanggung jawab atas apa pun yang berkaitan dengan sang adik tingkat sekaligus partner kompetisinya. Akan tetapi, lagi-lagi ia berusaha meyakini bahwa tindakannya semalam hanyalah supaya tak ada seorang pun di antara mereka yang jatuh sakit akibat kedinginan, bisa repot urusannya untuk segala persiapan perlombaan.
Eren juga berusaha mengenyahkan segala kejadian dari ingatannya, terutama perihal pernyataan perasaan. Namun, semakin keras ia lakukan, justru semakin terpikirkan. Terlebih ia melihat bagaimana ramahnya Mikasa tatkala berbicara dengan penjaga gedung, serta senyumnya pun membuat hati Eren menghangat.
Mikasa tidak terlihat canggung sama sekali untuk berbicara dengan orang asing. Berbanding terbalik ketika sedang berbicara dengannya, Mikasa sering kali tergagap atau gugup. Apa sebegitu sukanya Mikasa dengan dirinya sampai-sampai ia salah tingkah begitu?
“Woy, Eren Jaeger! Mengapa kau terlalu percaya diri? Sinting!” batinnya.
Eren juga tak tahu mengapa ia jadi berakhir mengantarkan Mikasa pulang ke sebuah kawasan perumahan mewah di daerah Shiganshina. Rasa-rasanya mobil bekas pemberian sang ayah sangatlah tidak layak untuk memasuki wilayah elite semacam ini.
Di sepanjang perjalanan sebelumnya pun Mikasa tak banyak berbicara, ia sibuk menyalin catatan yang Eren berikan padanya di buku catatan kecil berwarna biru muda.
Saat lampu lalu lintas berwarna merah, Eren melirik ke arah Mikasa yang tampak serius berpikir dan tak memandanginya sama sekali seperti yang biasa ia lakukan.
Alhasil, Eren hanya mengandalkan keakuratan GPS yang ada di mobilnya, hingga akhirnya mobil yang ia kendarai terparkir apik di halaman rumah Mikasa.
“Wah, sudah sampai? Maaf, dari tadi aku sibuk sendiri. Terima kasih, ya, Kak,” ujar Mikasa diiringi dengan senyum yang terlihat malu-malu di wajahnya.
“Ya, aku pulang dulu. Sampai jumpa lagi di ruang klub.”
Mikasa merespons ucapan Eren dengan anggukkan.
Namun, saat mobil yang Eren kendarai akan bergerak mundur untuk keluar dari halaman rumah Mikasa, tiba-tiba saja Mikasa berteriak, “Kak Eren, berhenti! Kak, berhenti!”
Mikasa pun berlari setelahnya.
Eren segera mematikan mesin mobilnya dalam kondisi bingung dan keluar dari sana. Ia mendapati Mikasa yang menggendong seorang anak kecil berusia kurang lebih tiga tahun. Anak kecil itu menangis karena balon bertali yang ia mainkan terlepas dari genggamannya dan kini tersangkut di pohon yang berada di depan rumah Mikasa.
“Kakak, bayonnya … heuheuheu,” ucap anak kecil tersebut.
“Cup cup cup, jangan nangis, ya, Sayang. Kakak ambilkan, ya. Tunggu dulu di sini, oke?”
Eren memperhatikan Mikasa yang menurunkan anak kecil itu dan berusaha keras untuk menggapai balon yang tersangkut di dahan pohon. Mikasa melompat, namun ia tetap tidak bisa menarik tali yang berada di balonnya, masih terlalu tinggi untuk dirinya yang sudah cukup tinggi ini.
Lantas Eren mendekat dan melompat untuk meraih tali balon tersebut. Untungnya saja ia hanya butuh sekali lompatan. Dan kini, balon itu telah kembali berpindah pada sang empunya.
Anak kecil yang semula menangis, kini kembali tertawa. Mikasa ikut tersenyum melihatnya, dan Eren menepuk-nepuk kepala anak kecil tersebut. “Maacih, Kakak. Caca puyang duyu, ya.”
“Iya, langsung pulang, ya. Jangan main jauh-jauh!” Pesan Mikasa pada sang anak kecil yang memanggil dirinya sendiri dengan sebutan “Caca”.
Anak itu pun mengangguk dan berlari begitu saja. Mikasa masih tersenyum sampai sang anak kecil tak terlihat kembali, sedangkan Eren masih berdiri di tempatnya, memperhatikan segala hal yang Mikasa lakukan.
Eren pun berpikir, mungkin tidak ada salahnya juga untuk mau berteman dengan Mikasa. Kemudian Eren tersadar dari lamunannya saat Mikasa mengajaknya berbicara.
“Eh, Kak … maaf ya karena jadi merepotkan Kakak terus-terusan.”
“Oh … oh, tak apa. Ya sudah ak—”
“Kakak mau sarapan dulu di sini?”
“Hah?”
“Sarapan. Kebetulan minggu ini aku sendirian di rumah, eh … ada Bibi Kuchel dan Paman Kenny juga sebenarnya, karena orang tuaku sedang dinas. T-tapi aku tak memaksa Kakak, hanya kalau Kakak berkenan saja.”
Eren melihat jam tangannya, dalam sepersekian detik ia menghitung waktu perjalanan dari rumah Mikasa menuju ke rumahnya, dan juga dari rumahnya menuju ke kampus. Bila perhitungannya tidak meleset, maka waktunya akan sangat mepet. Sehingga Eren pun berkata, “Maaf, mungkin lain kali saja, ya. Karena aku akan benar-benar terlambat ke kampus nantinya.”
“Ah, iya. B-baiklah kalau begitu, Kak. Tidak apa-apa. Kakak hati-hati di jalan. S-sampai ketemu nanti sore.”
Eren mengangguk sebagai jawaban, dan berpamitan dengan mengangkat telapak tangan kanannya. Ia pun masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana sesegera mungkin.
Hati Eren menjadi tidak keruan hanya dalam satu malam, yang jelas-jelas belum berjalan 24 jam. Eren bingung, apakah selama ini hanya ia sendiri yang tak pernah melihat ketulusan di diri Mikasa? Apakah selama ini hanya ia sendiri yang sibuk dengan pemikiran betapa ia membenci orang semacam Mikasa? Apakah selama ini hanya dirinya sendiri yang selalu mencari-cari alasan untuk enggan terlibat hal apa pun bersama Mikasa?
Apakah memang begitulah sifat manusia? Selalu mengada-ngada untuk sesuatu yang hampir tak ada dan menjadi buta pada apa yang seharusnya terlihat oleh mata serta dirasakan dengan hatinya?
Sungguh Eren benar-benar tidak mengerti dengan semua ini.
♥♥
Hari demi hari pun berlalu, Eren dan Mikasa sudah banyak menghabiskan waktu bersama untuk berlatih dance. Selama waktu itu pula Eren melihat banyak sekali hal yang tak ia ketahui dari diri Mikasa. Seperti Mikasa yang terlihat sangat bersinar ketika menari, Mikasa yang jika tersenyum akan terlihat sangat manis, Mikasa yang sedari kecil jarang bepergian seorang diri, serta Mikasa yang suka makanan pedas dan minuman yang asam tetapi tidak bisa mengonsumsinya terlalu sering lantaran sang ibu yang rewel perihal kesehatan.
Mikasa begini, Mikasa begitu, bukan hanya sekadar mendengar lagi. Namun, lebih kepada menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Eren jadi semakin bingung. Persetan dengan asas kemanusiaan, Eren benar-benar sudah kehilangan kewarasan.
Peristiwa mengantar Mikasa pulang pun tak hanya sekali ia lakukan, tetapi berkali-kali sampai ia sendiri mulai kehilangan hitungan. Entah motivasi yang berasal dari mana yang bisa membuatnya bertindak demikian. Mungkin ini lebih seperti Eren yang menjadi penasaran setelah ia sendiri yang bertekad menghindar tanpa pernah tebersit untuk mau berteman.
Setiap malam, sebelum matanya terpejam, Eren selalu terngiang-ngiang dengan pernyataan spontan yang pernah Mikasa ucapkan.
“Aku ... aku memang menyukai Kakak sejak musim semi tahun lalu.”
“Argh, sinting banget! Kenapa jadi ingat hal itu terus-menerus?” monolognya.
Lantaran Eren mulai terganggu dengan pemikirannya sendiri, akhirnya ia memutuskan untuk berdiskusi dengan sang ayah, Grisha Jaeger. Namun, yang Eren peroleh adalah sebuah tertawaan. Ayahnya tertawa puas sekali melihat Eren yang kebingungan dengan hal semacam ini. Alhasil, sang ayah berkata, “Kau yakin, tak menyukainya juga? Lalu kenapa setiap pagi kau mau repot-repot membersihkan bagian dalam mobil? Padahal, ayah perhatikan mobilmu selalu bersih.”
“Hah?” Eren terkejut dengan apa yang ayahnya katakan.
“Hah, heh, hoh. Wahai anak muda, kalau suka … ya, mengaku saja. Apa susahnya?” ucap sang ayah seraya menepuk pundak Eren.
“T-tidak. Aku tidak suka. Ayah salah paham, ini tuh lebih kepada rasa kemanusiaan. Iya … kemanusiaan.”
Sang ayah mengangguk. “Iya, kemanusiaan. Nanti besok-besok berubah jadi rasa hormat, besoknya lagi berubah jadi sekadar kagum, besoknya lagi pasrah karena sudah jadi milik orang lain.”
“Cih, masa begitu?”
Ayah Eren pun mengernyitkan dahi. “Terserah kau sajalah! Intinya kau harus tegas. Jika kau sama sekali tak memiliki perasaan padanya, ya, katakan yang sejujurnya. Jika kau ingin mengenalnya lebih dulu sebelum lanjut ke tahap berikutnya, ya, katakan juga. Jangan memberikan harapan kosong. Perbuatan sok baikmu ini bisa menjadi petaka juga ke depannya. Orang lain bisa salah paham padamu, orang lain juga bisa sangat bergantung padamu.”
Alhasil, Eren jadi memikirkan apa yang ayahnya katakan.
♥♥
Setelah berdiskusi dengan sang ayah tempo lalu, Eren mau tak mau jadi bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Benarkah ia tidak menyukai Mikasa? Benarkah semuanya atas dasar kemanusiaan? Benarkah Mikasa tak berarti apa-apa baginya? Lantas sebenarnya apa yang membuatnya jadi tidak menyukai sang adik tingkatnya itu?
Semakin Eren berusaha mencari jawabannya, justru ia semakin sakit kepala. Ia bahkan tidak menyangka bahwa hubungan antar manusia bisa begitu memberatkan kinerja otaknya, lebih sulit daripada ketika ia dihadapkan dengan pembuatan konsep untuk lomba, dan lebih berat daripada ketika ia harus memberikan pengarahan untuk koreografi.
Mengungkapkan apa yang dipikirkan oleh otak dan apa yang dirasakan oleh hati melalui kata-kata, jelas sangat tidak mudah untuk Eren yang cenderung berekspresi lewat tari.
“Aku … aku memang menyukai Kakak sejak musim semi tahun lalu.”
Musim semi tahun lalu, itu adalah kata kunci yang harus Eren pecahkan. Memangnya kapan tepatnya ia pernah bertemu dengan Mikasa? Rasanya tidak pernah. Apakah Eren harus bertanya langsung? Tetapi, Eren juga cukup sungkan lantaran masih belum memberi jawaban.
Namun, bila begini terus, Eren juga akan kesulitan untuk berkonsentrasi dengan apa yang harus ia lakukan. Ia juga akan merasa lelah karena merasa tertimpa beban, dan ia merasa bertanggung jawab karena telah menggantung perasaan.
Eren mengingat betul ucapan sang ayah untuk bersifat tegas sebelum semuanya menjadi petaka untuk dirinya sendiri. Tetapi, ia masih belum bisa melakukan apa-apa, setidaknya untuk sekarang, sebab ia masih belum cukup tenang untuk membuat sebuah kesimpulan atau keputusan.
Lalu di hari-hari selanjutnya, Eren mulai menyadari bahwa Mikasa adalah sosok yang sangat ceria. Di ruang klub tari, tepatnya saat beristirahat, Mikasa akan menghabiskan waktu untuk bercengkerama dengan para anggota klub lainnya. Banyak pula yang berkata bahwa senyum dan tawa Mikasa ini bak virus yang menghangatkan jiwa siapa saja yang ada di sekitarnya. Walaupun Eren belum pernah menanggapi ucapan Mikasa dengan senyum atau tawa, tetapi jauh di lubuk hatinya Eren merasakan kehangatan itu juga.
Eren terus-menerus dibuat berpikir, apa kiranya yang salah pada hati dan pikirannya? Eren juga sempat digoda teman-temannya, apakah dirinya tak menyukai Mikasa sebagai sosok yang patut dimiliki? Bahkan salah satunya berkata, bila Eren tidak suka, tolong kenalkan saja Mikasa pada mereka semua lantaran hanya Eren-lah yang selalu bersama Mikasa di hampir setiap harinya. Namun, Eren hanya mendelik tidak suka serta menggelengkan kepala sebagai penolakan.
Kemudian di dua hari menjelang kompetisi, Eren secara tidak sengaja mendengar ucapan Mikasa kepada salah seorang temannya di ruang ganti. Mikasa bercerita bahwa di musim semi tahun lalu, ia sempat melihat penampilan Eren di kompetisi street dance. Mikasa juga memuji betapa keren dan memukaunya Eren, sampai-sampai pandangannya hanya tertuju pada Eren seorang.
Lantas Eren jadi mengetahui alasan mengapa Mikasa ingin berkuliah di sini, yaitu Mikasa ingin menari lebih bebas seperti yang ia lakukan. Bahkan Mikasa juga merasa sangat bersyukur bisa satu tim dengan Eren dalam kompetisi perdananya di tahun pertama kuliah.
Untuk sesaat, Eren tersenyum tatkala mendengar percakapan tersebut. Namun, ketika ia melihat bayangan langkah kaki mendekati pintu keluar ruang ganti, Eren lekas menyingkir dari sana. Eren tak ingin kedapatan sebagai orang yang menguping pembicaraan orang lain meskipun semua itu murni tidak disengaja.
“Apakah aku harus mengutarakan perasaanku padanya? Tetapi, perasaan yang seperti apa? Rasa-rasanya aku hanya bisa mengucapkan terima kasih karena ia telah menyukai pria berengsek sepertiku. Ya, aku tak lebih dari sekadar orang yang picik, aku sangat mengakui itu. Namun, entah mengapa aku juga tidak suka ketika teman-temanku meminta agar ia dikenalkan pada mereka. Aku tak mengerti dengan hatiku sendiri, hanya yang kutahu pasti … aku benar-benar harus berterima kasih padanya.”
8. My love is blooming
♥♥
APABILA Mikasa harus membuat daftar urutan musim semi manakah yang paling berkesan dari 19 tahun hidupnya, maka Mikasa akan memilih musim semi tahun ini dan tahun kemarinlah sebagai daftar teratas. Banyak hal yang terjadi dalam rentang waktu satu tahun terakhir. Yang mulanya hanya bisa melihat dari jauh, dari layar komputer, dari layar ponsel; berubah menjadi melihat dari jarak dekat, latihan bersama, makan malam bersama usai latihan, bahkan diantar pulang hampir setiap harinya. Sungguh suatu peningkatan hubungan yang sangat signifikan bagi seorang Mikasa Ackerman.
Apakah ini yang dirasakan seorang penggemar di sebuah acara reality show yang ditayangkan oleh stasiun televisi saat mereka berkesempatan untuk menghabiskan waktu sehari dengan orang yang dikagumi? Tetapi … apa yang Mikasa rasakan kepada Eren bukanlah kagum belaka, Mikasa benar-benar menyukainya. Mikasa suka sejak pandangan pertama. Namun, perlakuan yang Eren berikan padanya membuat apa yang hatinya rasakan berkembang menjadi lebih tinggi lagi derajatnya.
“Sepertinya … aku mulai mencintainya,” batin Mikasa.
Padahal Mikasa harus berkali-kali menyadarkan dirinya sendiri bahwa Eren sampai saat ini belum menanggapi sama sekali pernyataan sukanya yang terucap di bulan lalu.
“Apakah perasaanku sama sekali tak berbalas?” batinnya lagi.
Ingin sekali Mikasa bertanya kepada Eren mengenai jawabannya. Namun, Mikasa takut. Ia belum siap untuk ditolak Eren. Katakanlah ia sudah terlanjur nyaman dengan rasa bahagia yang semu ini, bahkan ia pun telah menjadikannya sebagai motivasi agar saat berkompetisi nanti dirinya dapat tampil maksimal, dan tak mengecewakan Eren yang sudah susah payah berlatih keras bersama dengannya.
“Sampai kompetisi saja.”
♥♥
Hari kompetisi pun tiba. Mikasa dan Eren menyemangati satu sama lain ketika mereka tengah bersiap di belakang panggung.
“Semangat!”
“Kakak juga, semangat!” jawab Mikasa sambil tersenyum.
Tepat setelah kontestan sebelumnya turun dari panggung, Eren dan Mikasa bersiap menuju ke posisi masing-masing di atas panggung. Beberapa staf membantu memasangkan wire di tubuh Mikasa, serta Mikasa pun mengenakan penutup mata menggunakan kain satin berwarna merah. Ketika wire diarahkan sesuai dengan instruksi yang diberikan, Mikasa mulai memosisikan diri pula seperti konsep yang telah ia dan Eren rencanakan. Lampu sorot pun mulai mengarah kepadanya dan seketika decakan kagum penonton mulai memenuhi indra pendengarnya.
Mikasa mengenakan kemeja satin berwarna hitam dibalut dengan rompi bermotif keemasan, ia juga mengenakan celana jeans hitam serta sepatu kulit berwarna hitam pula. Sedangkan Eren menggunakan kemeja berwarna putih, celana jeans hitam, dan sepatu yang serupa dengan milik Mikasa.
Panggung untuk kompetisi tari ini begitu besar, daya tampung penontonnya pun lebih banyak dari pada kompetisi-kompetisi lain yang pernah Mikasa maupun Eren ikuti.
Bagi Mikasa, ini adalah pengalaman pertamanya ikut serta dalam kompetisi sejenis ini. Namun, Eren berulang kali berujar bahwa semua kompetisi pasti akan terasa sama saja, perasaan yang diinginkan oleh kontestannya adalah rasa bahagia dan ingin meraih kemenangan, tetapi rasa bahagia akan berubah menjadi sedih dan kecewa apabila segalanya tak sesuai dengan keinginan. Sehingga Mikasa bertekad untuk melakukannya dengan sepenuh hati, dan ia percaya bahwa Eren pun akan melakukan hal yang sama.
Lantas lampu sorot yang mengarah pada Mikasa berubah padam, dan tergantikan dengan efek latar belakang panggung yang mulai menyala di tempat Eren berada. Musik pun mulai terdengar di telinga, serta Eren mengikuti irama untuk melakukan bagiannya. Menari seakan tak ada hari esok, menari seakan ia hidup hanya demi menampilkan tarian ini. Begitu pula Mikasa, tatkala ia mulai turun dari wirenya di dalam kegelapan, ia segera berdiri di posisi yang telah diarahkan dan masih menggunakan penutup mata.
Ketika musik bagian Eren berhenti, dan lampu sorot mengarah pada Mikasa, ia pun mulai bersiap. Musik pengiring gerakan tarinya kini mengalun, ia bergerak dengan gerakan yang begitu cepat, dan juga melompat dengan lincah.
Tak lama kemudian lampu menyorot keduanya, mereka melakukan gerakan tersinkronisasi meskipun Mikasa masih menggunakan penutup mata sampai akhir penampilannya.
Saat musik berakhir, Mikasa pun melepas penutup matanya. Ia bersama Eren berjalan ke tengah panggung dengan bergandengan tangan, dan membungkuk hormat kepada para dewan juri serta penonton. Seketika sorak-sorai dan tepukan tangan dari penonton menggaung dengan begitu hebohnya. Mikasa tersenyum senang, dan ia melihat ke arah Eren yang juga tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
Dalam hati, Mikasa berharap semoga rasa senang ini bertahan lebih lama, bila perlu selamanya. Mikasa kemudian hendak melepaskan tangannya dari tangan Eren. Namun, yang lebih tua justru menggenggamnya dengan sangat erat, seperti enggan untuk melepaskan.
Mikasa menjadi bingung. Tetapi, ia tetap mengikuti saja apa yang dilakukan oleh Eren.
Mereka pun kembali ke belakang panggung, masih dengan tangan yang saling bergandengan. Jujur saja, hati Mikasa menjadi tidak keruan. Ini rasanya berkali lipat tidak terkendali dari apa yang sebelum-sebelumnya pernah ia rasakan. Ketika mereka tiba di ruang tunggu, barulah Eren melepaskan genggaman tangannya dari tangan Mikasa.
Tiba-tiba saja Eren berkata, “Kau sudah melakukan yang terbaik. Kau mau minum?”
Mikasa yang bingung hanya bisa mengangguk. Mikasa benar-benar tak tahu harus berkata apa. Mengapa Eren menjadi seperti ini? Apa Eren hanya terbawa suasana? Namun, sebelum Eren benar-benar pergi, Mikasa menarik lengan kiri Eren, tepatnya pada bagian kemejanya.
Eren menunjukkan raut wajah bingung, seakan meminta penjelasan mengapa Mikasa menarik kemejanya. Lantas Mikasa mendekat ke arahnya dan membuat keduanya kini salah tingkah, serta berakhir melihat ke sembarang arah sebab tak berani untuk saling bertatapan.
“S-sebentar. Aku ambil minum dulu,” ujar Eren dengan lidah yang mendadak kelu.
Kemudian Mikasa mendudukkan diri di kursi kosong yang berada dekat dengan jendela ruang tunggu. Eren pun tak memerlukan waktu lama untuk kembali atau mencari keberadaan Mikasa. Eren menyerahkan sebotol air mineral kepada Mikasa dan yang lebih muda menerimanya bersamaan dengan Eren yang turut mendudukkan diri di sampingnya.
Mikasa meneguk air mineral tersebut seraya melihat kaki Eren yang bergerak-gerak seperti merasa tidak nyaman atau gugup. Lantas Mikasa menoleh ke arahnya seraya berkata, “Kakak, kenapa? Sepertinya Kakak gelisah sekali.”
“Oh, oh … tidak apa-apa. Mungkin ini perasaan gugup karena aku penasaran dengan hasil kompetisinya.”
“Ah, begitukah? Sejujurnya aku juga gugup, karena ini kompetisi pertamaku selain balet, hehehe.”
Eren tersenyum dan mengangguk. Rasa-rasanya ini juga merupakan kali pertama Eren tersenyum kepadanya. Biasanya Eren hanya berekspresi serius di hadapannya. Tetapi, entah mengapa di hari ini Eren terlihat berbeda dari biasanya. Mikasa tidak mengerti. Namun, persetan dengan menjadi berbeda, faktanya Eren tetaplah tersenyum kepadanya.
Tak lama kemudian Eren pun berujar, “Kalau kita menang, aku akan jujur padamu, Mikasa.”
Mikasa membelalakkan matanya, baru saja ingin bertanya apa maksudnya, tetapi tiba-tiba saja seluruh kontestan dipanggil untuk bersiap di belakang panggung, karena sesi pengumuman pemenang akan segera dimulai.
Eren sudah berdiri dan menunggu Mikasa yang masih duduk mematung. Alhasil, Eren mengulurkan tangannya pada Mikasa seraya berkata, “Ayo.”
Refleks tubuh Mikasa ternyata jauh lebih baik daripada otaknya, sehingga belum sempat mencerna apa yang tengah terjadi, tangannya sudah lebih dulu menyambut uluran tangan Eren. Hal itu pun membuat Mikasa sedikit tersentak kaget karena seperti dipaksa untuk kembali meraih realitas.
Mereka akhirnya tiba di atas panggung bersama para kontestan lainnya. Mungkin, bagi semua orang suasana di atas panggung cukup menegangkan. Namun, perasaan menegangkan yang sesungguhnya sedang terjadi di diri Mikasa sendiri. Ia bahkan tidak fokus dengan apa yang diucapkan oleh sang pembawa acara, hingga akhirnya ia dan Eren dianugerahi juara pertama dalam kompetisi tari ini.
Teriakan selamat, tepukan tangan yang dahsyat, rasanya seperti ketentuan “Hanya Lewat” yang ada di permainan monopoli. Mikasa sangat bingung dengan segala situasi yang terjadi.
Lantaran setelah resmi menyandang gelar pemenang, sosok yang berada tepat di sebelahnya, di atas panggung yang berisi puluhan tim kontestan lomba, dan di hadapan beribu pasang mata lain yang menonton acara, kini tengah membisikan sesuatu di telinganya.
“Mikasa, terima kasih karena telah menyukaiku. Saat ini, aku sepertinya mulai menyukaimu.”
Sumpah. Eren adalah lelaki yang tidak terduga. Akan tetapi, apakah ini pertanda bahwa perasaan cintanya mungkin akan segera terbalaskan juga?
“Mikasa, aku menyukaimu! Ayo kita mulai secara perlahan, ya!” bisik Eren lagi.
♥♥
Keduanya kini bertekad untuk memulai segalanya secara perlahan, seperti halnya saling jujur atau terbuka mengenai perasaan masing-masing agar tak ada pihak yang merasa terpaksa atau terluka, bahkan Mikasa hanya bisa tertawa saat mendengar kisah Eren yang ternyata sempat tidak menyukai dirinya.
Jika dipikir-pikir lagi, Mikasa akan sangat mewajarkan hal tersebut sebab dirinya pun tak kalah anehnya. Bagaimana bisa ia terus-menerus mencuri pandang tanpa pernah ketahuan? Sungguh suatu hal yang mustahil bukan?
Eren pun tertawa pula saat mendengar kisah Mikasa yang begitu gencarnya mencari informasi tentang dirinya di internet. Bagaimana bisa ada orang yang suka pada dirinya langsung di pandangan pertama? Sudah seperti kisah drama saja, pikirnya.
“Kak ….”
“Iya.”
“Terima kasih.”
“Untuk?”
“Membalas perasaanku.”
Mendengar hal tersebut membuat Eren merasa gemas. Ah, bagaimana bisa ia sempat membenci sosok yang menggemaskan ini?
Seketika Eren memeluk Mikasa serta membubuhi kecupan singkat di dahinya. Sedangkan sosok yang diberi pelukan dan kecupan pun terkejut bukan main.
“Sumpah, Kak Eren selalu membuat jantungku bekerja ekstra.”
Fin.
