Chapter Text
First Meeting
Heechul :
Dia menyerah. Apapun sudah ia lakukan agar bisa mendapatkan gadis yang bisa dia per-istri di tahun ini karena ia sudah seserius itu untuk menikah, demi ibunya. Well.. sebenarnya itu bukan alasan yang sesungguhnya. Benar bahwa Ibunya mulai menyebalkan dengan menanyakan hal tersebut setiap mereka bertemu, dan bukannya ia tidak menyayangi wanita yang sudah melahirkan dan memberikannya bentuk wajah yang bagus itu. Hanya saja sebenarnya ia juga sudah bosan menghadapi pertanyaan yang sama berulang-ulang dari orang-orang di sekitarnya. Dan ia tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya karena pertanyaan-pertanyaan itu. Ia juga tidak mau mencari sembarang wanita untuk dinikahi tentu saja. Biar bagaimanapun juga ia adalah seorang Kim Heechul yang masih memiliki rasa egois tinggi dan selalu merasa hebat, walau ia memang hebat tentu saja. Tapi ia ingin mencari wanita yang dapat mengerti akan sifat seorang Hee Chul yang sensitive dan pemarah, sekaligus yang akan bisa menyenangkan ibunya.
Bukannya ia tidak berpengalaman dengan wanita, demi Tuhan manapun yang disembah seluruh penduduk bumi, ia sudah pernah mengencani gadis dari jenis manapun yang pernah di ciptakan-Nya. Dari fisik mereka yang sangat cantik dengan rambutnya yang menjuntai panjang, yang imut dan terlihat cerah, manis dan ceria, Sexy dengan lekukan tubuh yang sempurna, ia sudah pernah merasakan mereka semua di pelukannya. Gadis dengan sikap yang lucu, yang berjalan dengan anggun, atau berwawasan luas lulusan dari universitas ternama, atau yang posesif dan cemburuan, semua sifat mereka yang seperti itu juga sudah pernah ia kencani. Para Noona yang penuh tantangan, gadis yang sudah menjadi milik pria lain, bahkan ABG lugu yang sampai-sampai ia merasa menajdi predator jahat, mereka semua pernah merasakan ciumannya. Sebutlah beberapa selebritis senior atau juniornya, pelayan outlet yang menawan, pegawai bank, karyawan perusahaan ataupun pegawai negri yang menggunakan seragam safari, akan mengakui dengan benar bahwa mereka pernah menjalani hari-hari indah bersama. Ia bukan pemain baru dalam hal menyukai atau mematahkan hati mereka, hanya demi menghilangkan rasa kesendiriannya atau hanya sekedar menemaninya makan malam. Tapi, saat ini bukan waktunya untuk mencari mereka kembali. Saat ini adalah saat untuk mengakhiri dan mengucapkan selamat tinggal pada semua itu.
Dan akhirnya dengan sangat putus asa, ia mendatangi ibunya dan memasrahkan saja pada satu-satunya orang yang ia tidak bisa membantah itu, untuk mencarikannya istri. Paling tidak hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menyenangkan wanita yang tidak ingin ia patahkan hatinya untuk seumur hidupnya yang terbatas.
Datanglah Ha Na. Gadis itu diperkenalkan olehnya sebagai anak dari teman paman kesayangannya yang mendadak berkunjung setelah tinggal lama di luar negri. Ha Na kelahiran Korsel yang tumbuh besar di Luar negri bersama orang tuanya. Kalao ada 1 tipe gadis yang tidak akan pernah di kencaninya, maka gadis itu adalah yang tinggal di luar negri. Pekerjaannya sebagai public figure sudah cukup melelahkannya sehingga ia tidak ada waktu lagi untuk mengencani gadis yang bahkan tidak bisa ia ajak komunikasi dengan baik. Terima kasih kepada WGM program yang membuatnya memutuskan untuk menyerah mengejar gadis asing, walau banyak juga yang menggoda ego-nya untuk menaklukan mereka. Tapi karena ibunya sudah bersabda dan ia sendiri sudah menyerah, maka apapun yang terjadi ya terjadilah.
Ha Na:
Tidak tau sampai kapan ia akan tinggal dengan selebriti itu, maka ia hanya mengepak beberapa lembar pakaiannya kedalam koper serba gunanya, melempar dompet dan kontrak bisnis barunya yang harus ia pelajari serta beberapa aksesoris yang ia selipkan di saku, sebelum akhirnya menutup kopernya. Ia meraih dompet, charger dan memasukan semuanya ke tas tangannya kemudian sambil menarik koper, ia meninggalkan kamar yang sudah 3 bulan ia tempati sejak ia kembali ke Korea bersama orang tuanya, yaitu di rumah Pamannya. Bahkan kamar itu masih berantakan ketika ia menutup pintunya karena ia merasa akan segera kembali ke sini setelah semua berjalan tidak lancar antara ia dan suami barunya di rumah yang akan ia tempati nanti. Atau entahlah .. mungkin ia sendiri yang akan membuat skernario sehingga ayahnya akan mengizinkannya kembali ke sini sekitar 1 atau 2 minggu kedapan, dengan air mata pura-pura yang akan menceritakan betapa payahnya suami pilihan Pamannya itu.
Saat itu Ha Na hanya menghela nafas ketika diperkenalkan dengan Hee Chul. Ayahnya dengan senang mengatakan bahwa calon suaminya adalah anggota Super Junior yang terkenal saat ia menjabat tangan laki-laki putih dan tinggi itu. Ha Na yang hanya mengetahui bahwa anggota Super junior sangat banyak dan tidak terlalu mengenal mereka, tidak begitu tertarik dengan informasi itu. Laki-laki dihadapannya ini memang terlihat sopan, rapi, tetapi dia terlalu putih dan kenapa wajahnya bahkan terlihat lebih cantik dari pada wanita manapun yang Ha Na kenal. Entahlah, dia terlihat seakan ia hanya pura-pura tersenyum atau pura-pura senang, walau pada dasarnya Ha Na dapat perasakan bahwa Hee Chul sama sepertinya, tidak terlalu peduli apapun mahluk dihadapannya yang penting pasangannya adalah manusia dan bukannya lumba-lumba yang memakai baju. Ha Na sebenarnya menyetujui pernikahan ini hanya kerana Ayahnya akhirnya akan mengizinkannya kembali ke Korea untuk memulai bisnisnya sendiri. Selama ini ia hanya mempelajari bisnis secara teori dari mata pelajaran yang ia terima dan selalu dihalangi oleh Ayahnya yang selalu menginginkannya menjadi Arsitek seperti Ayah, sementara Ha Na lebih tertarik dengan dunia Bisnis Fashion.
Setelah berkenalan di restoran keluarga dalam ruangan privat yang besar itu, saling meyapa dengan senyum yang dipaksakan, makan malam yang canggung, sebulan kemudian surat Nikah yang sudah di bubuhi stempel dengan tulisan Kim Hee Chul tiba di pangkuannya untuk ia bubuhi juga dengan stempel atas namanya. Kemudian ayahnya mendaftarkan pernikahan mereka ke catatan sipil, dan di hari yang sama pula ia resmi menjadi seorang istri, dan ia harus segera pindah ke rumah barunya di sebuah apartement di pusat kota.
Ha Na melangkah ke rumah barunya dengan hati-hati sambil memperhatikan sekitarnya. Semua terlihat bersih dan rapih, bahkan terlalu bersih dan terlalu rapi dengan perabotan yang super simple sesuai dengan porsinya masing-masing. Tidak ada barang yang tidak berguna sejauh matanya memandang. Sofa merah terang untuk ruang tamu dengan TV layar datar yang besar, meja makan terletak di dekat kitchen set, beberapa lukisan dan foto terpampang elegan di tembok yang putih, marmer putih yang diinjaknya terlihat mengilap dan well … bersih.
Ibu dan Ayahnya yang menagantarnya mengamati ruangan demi ruangan itu dengan menghela nafas kagum saat Hee Chul membawa mereka mengelilingi rumahnya. Ibunya sekilas menlirik Ha Na sambil menepuk punggungnya dan mengatakan betapa rumah ini terlihat rapi dan modern, sementara Ayahnya duduk dengan nyaman di sofa merah sambil menyeruput teh hangat yang disuguhkan. Kemudian setelah ngobrol sebentar, dan orang tua Ha Na pamit pulang. Ha Na dan Hee Chul mengantarkan mereka sampai ke depan pintu karena Ayahnya bersikeras berkata untuk tidak usah mengantarnya sampai bawah. Ayah menyalami Hee Chul sambil berkata pelan yang Ha Na tidak bisa mendengarnya, kemudian menghilang di balik pintu sementara Ibunya yang juga masih melambai juga menghilang di balik pintu. Sepeninggalan mereka, Ha Na menatap punggung Hee Chul yang menjauh meninggalkannya yang masih berdiri didepan pintu yg tertutup. Laki-laki itu sudah berjalan kearah sofa sebelum akhirnya menghempaskan tubuhnya disana dan mengambil remot TV kemudian menyalakannya dengan santai.
Ha Na memutuskan untuk membereskan gelas-gelas dan piring sisa hidangan yang tadi disuguhkan Hee Chul, membawanya ke wastafel dapur kemudian meraih sarung tangan karet untuk mulai mencucinya. Ia sangat terkejut ketika ada lengan terulur menyentuh lengannya untuk meraih sarung tangan karet yang tergantung itu lebih cepat darinya, ia menoleh dan mendapati Hee Chul sudah berdiri dibelakangnya. Pertama kalinya Ha Na menatap wajah putih bersinar yang sangat bersih dan licin tanpa noda milik Hee Chul dalam jarak sedekat itu, dan itu membuatnya terkejut sekaligus terpana, bagaimana bisa seseorang dengan fisik laki-laki terlihat begitu … cantik.
HC: Biar aku saja yang nanti membereskan ini
Ha Na hanya bisa menggeleng dengan mata yang masih tertuju menatap Hee Chul yang kali ini benar-benar mendekat kearahnya.
HC: Aku mencari istri bukan untuk menjalankan tugas beberes rumah.
HN : Lalu untuk apa?
Ha Na membalikan tubuhnya menghadap Hee Chul yang bahkan tidak mundur menjauh darinya tetapi melangkah mendekat seraya menggerakan lengannya untuk menggesernya menjauh dari wastafel dan memakai sarung tangan. Tapi Ha Na tidak ingin mengalah, ia menegakkan tubuhnya dengan kaku dan merasakan nafas Hee Chul berhembus di dahinya karena mereka begitu dekat. Hee Chul mendadak tersenyum menyadari kedekatan mereka dan mundur selangkah.
HC: Anggap saja untuk mempermudah hidupku, dan membuat ibuku senang. Kau sendiri kenapa setuju menikah denganku? Apa kau di paksa?
HN : Ibu-mu sudah sangat setuju dan terlihat bahagia saat kita bertemu, dia sudah pasti lebih dari sekedar senang, tapi entahlah dengan mempermudah hidupmu. Aku tidak mengerti bagian yang itu.
HC : Itu akan kita lihat nanti, tapi kau belum menjawab pertanyaanku. Apa ada yang memaksamu?
HN : Sebenarnya bukan dipaksa, tetapi sebagai persyaratan. Untuk memulai bisnis baruku di Korea, Papa menyuruhku untuk menikah dan ia berjanji akan mendukung penuh bisnisku dan tidak ikut campur dengan apa yang akan ku lakukan disini. Jadi aku menyetujuinya.
Hee Chul terdiam sejenak tampak mengernyitkan dahi sebelum kembali tersenyum lebar.
HC: Untuk mempermudah hidupmu juga rupanya. Baiklah … kita sepakat untuk hal itu.
Ha Na ikut tersenyum. Sebenarnya memang itulah kseimpulannya. Sesimple itu. Untuk mempermudah hidup.
HN: Jadi … untuk saat ini, biar aku mempermudah hidupmu dengan mencuci piring dan gelas ini. Lagipula tadi keluargaku yang menggunakanannya kan.
HC : Aku tidak pernah repot mengurus tamu-tamu di rumahku dan berberes setelahnya. Tapi kau ..
Hee Chul mengangkat tangannya yang sudah menggunakan sarung tangan karetnya dan menunjukkan jarinya kearah pintu kamarnya yang tertutup.
HC: .. punya koper yang harus kau bereskan. Koper-nya sudah ada di kamarku, lemari pada sisi kanan adalah bagianmu. Mungkin kau tidak tau tapi aku sangat rapi dan teratur di sini, jadi aku mohon pastikan kau meletakan pakaianmu dengan rapih disana.
Ha Na menatapnya. Rumahku, kamarku … memang benar ini semua miliknya tapi kan mereka sekarang sudah menikah. Kalau semua masih dengan milik ‘ku’ dan ‘mu’ bukankah itu seharusnya terdengar aneh?
To Be Continue ..
Actually I really want to translate this story to English Language but don't have time to do that. Maybe someday or if anyone help me to be my translator. Heheh ...
I really like Heechul personalities who simple n brave enough to sounding whatever in his mind. So, I tried to write about him and found that I have a good mood when seeing things with his perspective mind. I wish whoever reading this, will have a good mood too.. enjoy it ;)
