Actions

Work Header

what was in our stars that destined us for sorrow?

Summary:

Bagian paling nyata dari kisah Orihime dan Hikoboshi adalah perpisahan mereka. / RnR?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Title: what was in our stars that destined us for sorrow?

Disclaimer: World Trigger milik Ashihara Daisuke. Saya tak mendapat keuntungan materiil apapun dari pembuatan fanfiksi ini kecuali kesenangan batin.

Warning: (vibe) historical!AU, ketidakcocokan dalam sejarah asli, boys love, OOC, saltik, serta kekurangan lain yang tak terjabarkan.

Hope you enjoy it!

.

.

"Atas hukuman karena tidak melakukan pekerjaan mereka dengan baik, Hikoboshi-sama dan Orihime-sama pun dipisahkan ke sisi langit yang berbeda dan hanya bisa bertemu setahun sekali. Tanabata adalah hari di mana mereka merengkuh satu sama lain, menebas rindu yang terpupuk selama setahun sebelumnya."

Cerita itu sudah Tachikawa dengar berulang kali tiap tahunnya, diikuti pekik histeris saudari-saudarinya—sebuah ekspresi demi meluapkan rasa yang merebak dalam dada. Sebagian berceloteh, setengah berharap dapat menemukan kisah seromantis gemintang yang jatuh cinta di atas dirgantara.

Tachikawa dulu hanya membiarkan, sesekali mengaduh kala teriakan mereka terlalu menusuk telinga—hanya untuk diprotes balik oleh saudari-saudarinya yang menyatakan dirinya tak punya selera. Tsukimi akan tertawa anggun, berujar memang ini bukanlah kisah yang tunangannya dalam status itu pahami.

Setelahnya, saudari-saudarinya akan menimpali, memuji sifat dewasa sang dara yang melebihi putra pertama Klan Tachikawa; 'Ren-san sangat memahami Onii-sama, apa jadinya dia kalau tidak bertunangan denganmu?'

Tsukimi hanya tersenyum, mengunci sejuta rahasia di balik lengkung asimetris tersebut. Manik arangnya instan melirik satu-satunya pemuda yang bersama mereka, memunggungi dan menolak bertatapan dengannya—sadar sorotnya dapat membaca apa yang Tachikawa pikirkan. Seolah isi hati si pemuda tertulis kentara di atas kepalanya.

( Apa Jin juga mengetahui ini dan menatap langit yang sama dengan mereka? )

.

.

Tahun itu, Tachikawa kembali menghabiskan Tanabata dengan Tsukimi. Adik-adiknya mulai menyingkir seiring kakak laki-lakinya menapaki usia dewasa, memberi keduanya lebih banyak waktu berduaan. Ajakan Tsukimi yang berkata bahwa ia tak keberatan menggantungkan harapan bersama-sama seperti tahun-tahun sebelumnya juga tak diindahkan, seolah kalimat Tsukimi hanya sebuah formalitas alih-alih kejujuran.

"Kei-kun,"

Panggilan itu menyadarkan Tachikawa kembali ke pijakannya, mendapati kawan masa kecilnya itu telah menggantungkan kertas harapannya—mengingatkan si pemuda bahwa tunangannya tak sependek kebanyakan perempuan yang pernah ia temui.

"Kenapa?" Tachikawa membalas, tak mengerti sorot yang diberikan perempuan itu padanya.

Tsukimi mengatupkan bibirnya sejenak, kemudian melirik tangan Tachikawa yang pemuda itu sembunyikan dalam rongga lengannya yang lebar. "Itu mau digantungkan atau tidak?" tanyanya seringan kapas, tak sadar pertanyaan itu menyambar Tachikawa selaiknya guntur.

Tachikawa tak membalas, meremas kertas panjang yang ia sembunyikan mati-matian. Sebagian dalam dirinya disesaki hangat, membayangkan wajah pemuda yang secerah musim panas tahun itu, tetapi segera tersiram perih mengingat ia tak lagi dapat menemuinya setelah tiga bulan lalu—karena kebodohannya sendiri.

"Tidak perlu," Tachikawa membalas, meraba permukaan kertas itu sebelum melanjutkan, "kalaupun digantung pesannya pasti tak bakal terbaca."

Tsukimi memandangi pemuda itu sejenak hanya untuk menghela napas menyerah. "Aku mengerti."

Gadis berambut legam panjang itu ganti memandangi geta kayu yang ia kenakan, menyelami tanah yang ia pijak hanya untuk menari dalam memori. Tsukimi yang paling tahu seberapa buruk Tachikawa selain dalam urusan beradu kekuatan pedang. Tulisan tangannya sepersis cakar ayam, membuat Shinoda mesti memijat kepala saking buruknya.

Namun, adalah dusta jika dara itu bilang begitu saja akan menghalanginya untuk tahu. Di antara huruf Jepang yang seolah ditulis asal-asalan itu, Tsukimi menemukan kanji nama seseorang yang ia kenal—yang tak Tachikawa temui usai yang bersangkutan menolak rengkuhan si pemuda (bukan karena perasaan mereka tak sejalan, tetapi justru karena mereka saling mencinta dan teramat besar—dan demikianlah keduanya memilih untuk melepaskan genggaman yang mereka rajut bersama, laiknya orang dungu.)

 

[ Aku ingin Jin Yuuichi bahagia—dengan atau tanpa diriku. ]

 

Tsukimi memejam, memutar memori kecil seperti apa ekspresi tunangannya dengan sang Pemilik Mata Dewata tiap menghabiskan waktu berdua. Tak satupun dapat menyentuh dimensi itu, tak satupun pula dapat menggantikannya—harusnya Tachikawa tahu itu, harusnya ia sadar akan hal itu.

 

( Apa kau mencintainya sebesar itu—hingga berharap kepalsuan dapat menggantikan realitas yang ada? )

.

.

Konami memicing sengit pada pemuda yang kini terlelap di balik pagar kayu. Wadah tinta yang lelaki itu sempat gunakan kini tergeletak tak jauh dari kepalanya, sementara kuasnya berbaring begitu saja di lantai—mengotori kayu dengan sisa tinta yang tertinggal pada ujung kuasnya.

Netra Konami berhenti pada kertas yang Jin genggam erat di tangannya, seolah benda itu kelewat penting hingga kemungkinan dirinya akan masuk angin bukanlah hal yang perlu diperhitungkan.

Tulisan Jin mungkin tak sebaik dirinya, tetapi Konami masih dapat membacanya bahkan dalam keremangan. Ada kanji nama seseorang yang samar menyembul dari genggaman tangannya, seolah menunggu untuk disibak dan dibuka—entah oleh siapa, mungkin Jin sendiri tak tahu dan pemuda itu mungkin tak pernah ingin tahu.

Dara berambut persik itu menggigit bibirnya, merasakan getir merajai indera pengecapnya, sadar penuh dengan luka yang kini mencekik kawan masa kecilnya.

"Jin," ia mengulurkan tangannya, menyentuh ujung kertas tersebut tanpa melepas sorot pahit pada pemuda yang dipuja sebagai Pemilik Mata Dewata, "ini harusnya digantung kalau kau ingin menjadikannya kenyataan."

 

[ Aku ingin Tachikawa-san bahagia—tanpa diriku. ]

 

Konami memejamkan mata, mengingat sosok pemuda yang tak lagi menyambangi desa mereka hanya untuk alasan-alasan remeh seperti mengantar kudapan manis. Semua karena alasan tolol yang mereka dekap erat; karena cinta, untuk kebaikan satu sama lain—seperti Konami dapat menerimanya saja. Bahkan dusta Kyousuke lebih baik dari itu.

 

( Sejak kapan kau mendekap kemunafikan? Kau sendiri yang tahu, kebahagiaan Tachikawa ada saat dirinya merengkuhmu. )

.

.

.tamat.

.

.

Notes:

a/n: Judul dari fanfiksi ini diambil dari puisi Anna Akhmatova dalam The Complete Poems of Anna Akhmatova.

Jujur, fanfiksi ini saya buat tahun lalu dan saya lupa total sampai dua hari yang lalu (seingat saya) saya nemu di album FB dan langsung ngeh, "oh ya, lusa kan tanabata. ngepas banget." Jadilah saya post tanpa memikirkan lain-lain (saya nekat hehe /DASAR). Anyway, seperti yang saya akui di tags, fanfik ini sebenarnya bagian dari fanfiksi historical japanese!au yang saya buat cukup lama (tapi nggak selesai karena ... yeah, kebanyakan jadi prokras hehe /BUANG) (tapi, gapapa lah ya ini kan masih bisa dibaca terpisah /GIMANA /BUANG).

Anyway, untuk sekadar notes, pada periode Nara, Tanabata itu masuknya festival istana, sementara setting waktu dalam fanfiksi ini sekitar periode Sengoku (saya nggak ingat pasti kapan soalnya kerangka fanfiknya lupa ditaro mana hehe /YEUH /DASAR).

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca! Saya akan lebih senang jika kalian meninggalkan jejak berupa komentar :D terima kasih lagi dan sampai jumpa di karya saya berikutnya! :D

Fanfiksi ini bisa di-retweet di SINI ! :D

-Salam-
Profe_Fest