Work Text:
I know. I know.
The past haunts you. I know.
Let me kiss your fears away.*
Seungcheol bukanlah lelaki yang pengecut.
Justru sebaliknya: ia adalah seseorang yang pemberani. Yang penuh energi kehidupan, yang tidak takut dengan halangan atau rintangan, yang memilih untuk maju alih-alih mundur. Yang selalu punya sejuta strategi dan backup plan from A to Z.
Ia adalah tipe orang yang akan terus melaju meraih tuju, tak peduli dengan apa pun yang ada di hadapannya.
Saat hidup menghujaninya dengan segudang cobaan, Seungcheol adalah tipe manusia yang siap dengan payung—menari di tengah ujian sembari mencari tempat berteduh yang nyaman.
Pikirnya, selalu ada solusi dari setiap benang kusut yang menguji.
When life gives you lemons, enjoy it with salt and a shot of tequila.
Never settle for less.
Kalau semesta sedang bercanda, make the joke out of it.
Maju dulu, urusan berhasil atau tidak, nanti dipikirkan kembali.
Mantra ini terus menerus dipegang teguh oleh Seungcheol, sejak kecil hingga dewasa, sampai sekarang.
Tak heran, hidupnya tertata rapi sesuai rencana. Masuk universitas negeri dengan beasiswa, menimba ilmu di fakultas ekonomi yang menjanjikan, lulus dalam waktu 3,5 tahun, dan merintis kariernya di venture capital sebagai Launchpad Accelerator Lead, bersama dengan teman SMA-nya, Yoon Jeonghan.
Kehidupan pribadinya pun tak kalah berkilau: Seungcheol menikahi cinta pertamanya—Minghao—satu tahun setelah mereka berdua lulus kuliah. Minghao, mantan mahasiswa berprestasi di kampus, yang sama seperti Seungcheol, juga memiliki karier melejit sebagai IT Consultant di Big 4 company.
Bersama Minghao, Seungcheol menjalani kehidupan sederhana yang penuh suka cita, penuh cinta, pada rumah pribadi mereka di pinggiran Jakarta, yang dibangun di tahun ketiga pernikahan.
Seungcheol menikmati kehidupannya. Ia, Minghao, dan juga anjing mungil mereka, Dedek.
He works hard for it, he knows, and he deserves it.
Ia bukanlah seseorang yang jenius atau seseorang dengan keberuntungan ekstra.
Ia hanyalah orang biasa.
But he knows how to play his cards right.
Maka, wajar bukan, jika Seungcheol mati-matian menjaga apa yang dimilikinya sekarang dengan susah payah?
Menutup segala akses rapat-rapat dari segala kemungkinan yang mengganggu, menghalau semua potensi bencana—tak peduli apa pun bentuknya?
Memupuk cinta yang dimilikinya dengan Minghao perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, membangun pondasi kuat di rumah tangga mereka yang baru menginjak tahun kelima.
Sebab, terlepas dari apa yang sudah ia miliki saat ini, bohong rasanya jika Seungcheol tak memiliki seinci pun rasa takut.
Ia pemberani, tapi, sama seperti manusia pada umumnya, Seungcheol juga memiliki rasa takut.
Takut kehilangan.
Takut ditinggalkan.
Takut dipaksa melepaskan sesuatu yang sudah menjadi miliknya.
Katanya, rasa takut itu hadir dalam berbagai wajah.
Bentuknya berbeda untuk setiap orang. Ada yang memiliki rasa takut pada suasana, pada bau, pada situasi spesifik, pada kenangan lampau, pada sesuatu yang sifatnya abstrak, pada individu, pada objek non esensial, dan masih banyak lagi. Konsep ini bahkan diangkat dalam serial Harry Potter dalam bentuk boggart—yang ditonton oleh Seungcheol lebih dari dua kali, dulu, karena dipaksa oleh Jeonghan.
Boggart takes the shape of whatever the person looking at fears most.
Seungcheol juga punya rasa takut tersendiri.
Dan ketakutan itu berbentuk sosok bernama Kim Mingyu.
Kim Mingyu awalnya bukanlah siapa-siapa.
Hanya rekan kampus, yang Seungcheol tahu sebatas nama, dan sesekali ia temui wajahnya di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia.
Menghuni salah satu spot di lingkaran depan danau, dengan Macbook di pangkuan, sibuk membuat project entah apa yang tidak Seungcheol ketahui. Menghadapi barisan kode-kode aneh, yang bagi Seungcheol si mahasiswa FE, sama sekali tidak ada artinya. Alias buang-buang waktu.
Semua orang mengenal Kim Mingyu.
Tidak terkecuali Seungcheol.
Well, siapa sih yang tidak?
Tech prodigy, mastered many programming languages since young age, masuk kampus lewat jalur khusus, jarang hadir di kelas namun mendapatkan dispensasi dari dekan karena berprestasi, yang punya segudang kebiasaan unik namun anehnya terdengar menarik bagi sebagian besar orang, dan juga menonjol—secara fisik maupun otak.
Tubuh atletis, wajah rupawan, otak yang menawan, dan Seungcheol berani bersumpah bahwa if God has favorite then it’s Kim Mingyu.
Mingyu, yang sebenarnya mendapat LoA untuk melanjutkan studi di Massachusetts Institute of Technology (MIT), namun memilih Universitas Indonesia karena malas mengurus dokumen.
(Iya, Seungcheol tahu trivia ini karena menguping obrolan mahasiswi di kantin FE.)
Sejak awal, Seungcheol tahu, kalau dibandingkan dengan Kim Mingyu, ia bukan apa-apa.
Kalau harus berperang head to head, mundur adalah strategi yang bijak karena tidak peduli plan apa pun yang dimiliki Seungcheol, Mingyu pasti berhasil melampauinya jauh di depan sana.
Jika Seungcheol harus berjalan, maka Mingyu terbiasa berlari.
Jika Seungcheol memulai segalanya dari halaman satu, maka Mingyu sudah berada di halaman sepuluh.
Sejauh itu perbedaan di antara keduanya, kontras, dan Seungcheol cukup tahu diri untuk menghindari kemungkinan berselisih.
Kehidupan perkuliahannya baik-baik saja, berjalan seperti seharusnya, sampai akhirnya, Xu Minghao, teman baiknya di kampus—sekaligus cinta pertamanya—berpacaran dengan Kim Mingyu.
Berita yang menggemparkan satu kampus, yang begitu cepat menyebarnya seperti asap dari bakaran sampah, karena Kim Mingyu, yang seolah tidak butuh siapa-siapa, tiba-tiba terlihat menghabiskan waktu berdua dengan Minghao.
(Menghabiskan waktu berdua = tertangkap basah sedang berciuman di belakang gedung Fasilkom. Seungcheol masih sakit hati begitu membayangkan adegan ini, asal kalian tahu saja).
“Kok bisa sih pacaran sama dia?”
“He’s kind.”
“Apaan, kayak tukang pukul gitu.”
“Ngaca, Seungcheol. Perawakan lo kayak bodyguard.”
“Tapi gue lucu…”
“Dia juga lucu. Dan gemesin hehe. Masa ya—”
“Bodo. Nggak mau denger.”
Mingyu dan Minghao mulai berpacaran di semester dua perkuliahan. Tak lama setelah itu, keduanya memutuskan untuk menjadi roommate—menyewa satu kamar kos pada perumahan cluster di Margonda, mendekorasinya sedemikian rupa, dan membuat vlog bersama tentang keseharian mereka.
Terkadang isinya hanya hal-hal remeh seperti Mingyu yang berusaha menjelaskan tentang konsep Web3 (yang masih asing di Indonesia pada masa itu), sementara Minghao akan mendengarkannya dengan takzim di sisinya.
Dan seringkali, isinya tentang dua muda mudi yang memadu kasih—yang sebetulnya manis sekali—tapi memuakkan di mata Seungcheol.
Semua orang setuju kalau Mingyu dan Minghao memang ditakdirkan untuk bersama.
Mingyu jenius, Minghao cerdas.
Mingyu suka memotret, sementara Minghao senang dipotret.
Mingyu punya banyak ambisi, sementara Minghao tenang dan penuh perhitungan.
Mingyu senang membicarakan banyak hal, dan hanya Minghao yang dapat mengimbanginya.
Selama proses itu, Seungcheol hanya bisa memandang keduanya dari kejauhan.
Menerima kekalahannya.
Menerima fakta jika cinta pertamanya berada di sisi orang lain, yang lebih segala-galanya dari dirinya.
Menyadari bahwa dalam kisah ini, dirinya hanya figuran yang tak punya peran banyak. Yang hanya lalu lalang dalam kisah hidup Minghao.
Jadi, yang bisa ia lakukan hanya melanjutkan hidupnya, sambil sesekali menoleh ke belakang, memastikan kalau Minghao baik-baik saja.
“Cheol. Gue putus sama Mingyu.”
Berita itu diterima Seungcheol di semester keempat. Sudah berbulan-bulan terlewati tanpa bertukar kabar dengan Minghao, jadi suara yang didengarnya begitu Seungcheol mengangkat telepon terasa mengagetkan.
“Kenapa?”
“Nggak cocok. Dia keras kepala, gue keras kepala. Gue bilang A, dia akan cari sejuta cara untuk membuktikan kalau A itu nggak bener and why we should going to B. Gue capek.”
“Dari dulu juga begitu…”
Minghao menghela napas berat di sebelah sana. “Gue capek jadi nomor dua terus. Gue capek karena harus bersaing dengan semua ambisinya. Don’t get me wrong, gue dukung banget semua mimpi-mimpinya. Hell—bahkan gue yakin kalau he’s gonna make it one day, tapi for once, gue juga pengin disayang. Gue mau, sekali aja, dia jadiin gue prioritas dalam hidupnya. Bukan sebagai penghalang, bukan sebagai batu yang harus dilompati. Gue ingin dianggap sebagai partner.”
“But you love him—“
“I do. He does. We both do love each other. But here's the tragedy: it's not enough.”
Maka, di hari itu, ketika Minghao datang ke kamar kosnya dengan basah kuyup setelah menerobos hujan, Seungcheol hanya bisa merengkuhnya ke dalam pelukan. Lalu membantunya berganti pakaian, membuatkan secangkir teh panas, mengelap rambutnya yang basah dengan handuk pelan-pelan. Menyeka air matanya yang turun tanpa aba-aba dengan lembut.
Dua jam terlewati dan Minghao masih enggan bercerita banyak tentang hubungannya dengan Mingyu, jadi Seungcheol hanya bisa menawarkan kehadirannya. Presensinya. Bahwa ia akan selalu ada, apa pun keadaannya.
Memeluk Minghao erat-erat sambil memunguti serpihan hatinya yang patah.
“Maaf ya, Cheol. Maaf.”
“Buat apa?”
“Gue ngerepotin lo terus.”
“Gue nggak merasa direpotin.”
“Gue sayang sama Mingyu, Cheol.”
“Iya tau.”
“But it’s not enough.”
“It’s okay, Hao. Lo berhak bersama orang yang mencintai lo, sebesar lo mencintai dia.”
“Kenapa gue nggak sayang sama lo aja, ya?”
“Because you don’t love me… yet.”
Seungcheol pernah mencoba peruntungannya dengan menyatakan cinta kepada Minghao. Di selasar kampus, ketika keduanya sedang menunggu jeda antar kelas. Ia bilang dengan tulus, bahwa Seungcheol menyayangi Minghao dan ingin selalu berada di sisinya, menjadi orang pertama yang mendukung mimpi-mimpinya, yang menyayanginya dengan sepenuh hati.
Saat itu, Minghao hanya membalasnya dengan senyuman. Dan sebentuk ucapan terima kasih.
Penolakan pertamanya.
Dan masih banyak penolakan-penolakan lain yang diberikan Minghao sampai akhirnya ia mulai membuka hati untuk Seungcheol.
Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Seungcheol menyadari. Bahwa Mingyu dan Minghao sebenarnya masih saling mencintai, no, actually scratch that—mereka berdua terlibat histori panjang, they’re soulmate, they’re meant to be, dan sudah seharusnya mereka berakhir bersama.
You love each other,
you do,
and here's the tragedy:
it's not enough**
Tapi, Seungcheol juga paham. Hidup bukanlah dibentuk dari serangkaian “seharusnya”, melainkan dari berbagai pilihan-pilihan rasional yang diambil dengan berbagai pertimbangan.
Tidak semua pasangan yang saling mencintai akan berakhir bersama.
Sometimes, love is simply not enough.
As much as two people could love each other, sometimes the cards just don't fall in their favour.
And Seungcheol knows that.
Seungcheol tidak pernah mendengar nama Kim Mingyu lagi sejak lulus kuliah.
Nama itu seolah hilang ditelan bumi, tertimbun berbagai hal yang lebih penting, dan Seungcheol bahkan sudah melupakannya dalam benak.
Sesekali, Seungcheol sering teringat dengan sosoknya, terutama ketika dirinya sedang mengenang kenangan di masa kuliah.
Tidak bisa dipungkiri, dirinya, Minghao, dan juga Mingyu berbagi banyak memori serta sejarah yang tidak diketahui sebagian besar orang.
Hingga puncaknya di bulan lalu, saat Seungcheol menemukan nama itu di pitch deck yang tengah ditelitinya.
Tercetak nyata dengan font Arial 12pt bold, terlihat paling mencolok di antara nama-nama lain.
Paling mengintimidasi.
Reaksi pertamanya: penyangkalan.
Seungcheol berusaha menekan perasaannya hingga ke dasar dan mencari berbagai pembenaran bahwa nama itu bukanlah Kim Mingyu yang ia kenal.
Reaksi kedua: penerimaan.
Bahwa setelah melakukan beberapa pengecekan, Kim Mingyu yang dimaksud dalam pitch deck itu adalah Kim Mingyu, mantan kekasih suaminya, dan juga perwujudan dari rasa takutnya.
Dan rasa itu kembali muncul.
Perasaan tidak pantas, merasa kerdil, merasa bukan apa-apa, merasa gagal.
Semua perasaan rendah diri yang ia rasakan ketika berhadapan langsung dengan Kim Mingyu.
Yang sebetulnya tidak beralasan, karena apa yang harus ia takuti?
Bahwa Minghao akan kembali lagi ke Mingyu? Bahwa Minghao, sekali lagi, akan lebih memilih Mingyu dibanding dirinya?
Egois dan jahat sekali.
Seungcheol benci dirinya yang sudah membiarkan pikiran buruk itu terlintas di otaknya.
Sebab Seungcheol tahu, bahwa Minghao sudah memilihnya, dan ia tidak akan semudah itu berpaling. Mereka sudah berkomitmen, seumur hidup, untuk saling mencinta, saling menjaga, dan hal ini bukanlah sesuatu yang bisa dipandang ringan atau sebelah mata.
Jadi, masalahnya bukan pada Minghao.
Masalahnya ada pada dirinya sendiri.
Dan mungkin, mungkin pada Mingyu.
Dari cara Mingyu menatap Minghao ketika reuni beberapa waktu lalu, Seungcheol masih bisa menemukan rasa rindu di sana.
That longing and lingering feeling, yang masih tertinggal, bercampur dengan sedikit rasa penyesalan serta keinginan untuk mencoba kembali meski tidak mungkin.
And he knows, oh dear, he knows—Mingyu tidak akan mengambil langkah gegabah, terlebih melompat di tengah-tengah mereka yang sudah terikat pernikahan.
Jadi…
Seharusnya, tidak ada yang perlu dicemaskan, bukan?
Tapi, lagi-lagi Seungcheol merasa takut.
Insecurity kills.
But inferiority kills faster than a bullet.
Seungcheol bukanlah lelaki yang pengecut.
Tapi ia tidak bisa menyangkal bahwa ia selalu merasa menjadi pecundang kelas berat setiap kali berhadapan dengan Mingyu. He’s being petty, unreasonable, dan yang paling membuat dirinya muak: Seungcheol mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan.
He’s not being objective. He’s not in his best condition.
Dan semuanya karena seorang Kim Mingyu.
“What if you’re forced to stop?”
Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Seungcheol. Pertanyaan yang sebenarnya terkesan normal dalam interview session, karena wajar bagi seorang accelerator lead untuk menanyakan exit strategy dan plan apa yang dimiliki ketika market tidak sedang berpihak pada bisnis mereka.
Namun, baik dirinya maupun Mingyu, tahu ke mana arah pertanyaan ini.
Dan Mingyu, lagi-lagi, being all mighty and the king he is, berhasil mengedepankan sisi rasionalnya dibanding perasaannya.
“Pernah denger old Chinese proverb? ‘decide on three things at the start: the rules, the stakes, and the quitting time.’ Startups are all about embracing failure. Gagal adalah hal yang biasa. We’re betting on a home run but the reality is that a strikeout is always a possibility. and that’s why we need an exit strategy.”
“The point is startups are prone to failure by definition. We’re testing assumptions and it’s very likely that these assumptions are wrong. The more promising the business, the more likely it is to fail.”
“But then again, the statistics said 90% of startups fail, which means the success rate is around 10%. While startup need 2-3 times longer to validate the market, the cash flow couldn’t wait that long so startups usually died before they’re able to properly test the waters.”
“So what if you’re forced to stop? Then stop. Find a way to pivot the business quickly. Startups that pivot 1-2 times have 3.6x better user growth and raise 2.5x more money anyway. Jangan sampe company fall into zombie mode - neither growing nor truly dead and just there doing the bare minimum to keep the company alive.”
“Also, beware of sunk cost fallacy and commitment bias, where we continue to support our past decisions despite new evidence suggesting that it isn’t the best course of action.”
Telak.
Seungcheol lagi-lagi merasa kalah.
Ia bisa melihat senyum lebar yang terukir di bibir Mingyu begitu selesai menjawab pertanyaan jebakan dari Seungcheol.
Investor loves him, seperti sudah seharusnya, dan meskipun Seungcheol telah menyebutkan beberapa flaws yang mungkin akan muncul di kemudian hari (ia mencoba objektif di sini), startup milik Mingyu tetap masuk ke dalam daftar serta menjadi 3 besar dari perusahaan yang akan dibantu accelerate oleh Seungcheol.
Di benaknya, sudah terbayang hari-hari ke depan yang bagaikan kehidupan di neraka, di mana Seungcheol dipaksa harus berhadapan dengan rasa takutnya, dengan Mingyu, lima hari dalam seminggu. Sudah terputar di benaknya, bahwa ia akan head to head, berada di ruangan yang sama, bekerja on daily basis dengan seseorang yang bahkan sudah ia hindari selama bertahun-tahun silam.
Dan Seungcheol harus berhadapan dengan Mingyu, menemukan bayangan Minghao dalam kedua mata Mingyu, menelan fakta orang inilah yang dulu pernah menjadi sumber kebahagiaan dan sekaligus kesedihan bagi suaminya.
Maka, setelah membereskan semua dokumen yang diperlukan untuk esok hari, Seungcheol mengetik sebuah pesan pada Minghao:
“Temenin aku minum, mau?”
Yang dijawab dengan persetujuan ringan, khas Minghao. Seungcheol tahu, Minghao menyadari bahwa ada yang berubah dari dirinya beberapa waktu belakangan ini. Kata Minghao, Seungcheol bahkan sering mengigau tengah malam, bermimpi buruk yang bahkan tak Seungcheol ingat apa isinya. Ia lebih sering menghabiskan waktu di gym, di studio, di mana pun, sebelum pulang ke rumah, karena Seungcheol tengah berusaha untuk menetralisir perasaannya—pikirannya sendiri—and it works best while he’s busy doing something.
Seungcheol kemudian melajukan mobilnya untuk menjemput Minghao di kantornya, menikmati presensi suaminya yang tenang, mensyukuri kehadirannya, dan berakhir dengan duduk bersisian pada sofa krem di ruang tamu kediaman mereka.
Nyaman dengan piyama senada, dengan cangkir berisi alkohol di tangan, dan Seungcheol yang sesekali menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Minghao.
“Kenapa tiba-tiba mau minum?” tanya Minghao.
“Besok pagi aku harus hubungin Mingyu.”
“Oh? Buat apa?”
“Dia lolos Accelerator Program. We’ll be in touch for about 3 or 4 months, I guess.”
“Okay…” jawab Minghao pelan. “So I assume you already met him.”
“Sudah, Biy. Waktu interview session.”
“And that explained why you’re being such a baby that day…”
“Maafin aku ya, Biy.”
“No need. Kamu kan memang kayak bayi. My big baby though. The cute one hehe.”
“Kenapa kamu suka manjain aku kayak gini sih, Biy…”
“Ya karena kamu memang cuma boleh manja sama aku aja. Jangan ke yang lain.”
“Biy, aku nih bukan cowok hebat. Aku nggak bisa jagain kamu. Aku terlalu fokus sama ketakutan-ketakutan yang aku bikin sendiri.”
“Hei kata siapa…”
“Aku barusan.”
“Sayang,” panggil Minghao lembut. “Tahu nggak, apa yang bikin aku yakin sama kamu, dan lebih milih kamu?”
“Because I know how to love you and accept all your twists without trying to untie them? Karena aku bisa bikin kamu nyaman jadi diri kamu sendiri?”
“That, and also, mainly karena kamu adalah kamu. Choi Seungcheol yang rasa sabarnya seluas samudera. Yang tegas, pemberani, penuh kharisma, bisa memimpin dengan baik, tapi selalu manja kalau di hadapan suaminya. Yang selalu bikin aku bingung, ini sebenarnya manusia 27 tahun atau 7 tahun. Yang punya banyak sisi baik, meskipun dunia kadang jahat banget sama kamu.”
“Biy, aku nggak sehebat itu…”
“Kamu itu hebat, Sayang. Kamu hebat banget udah bisa mencapai titik ini, sudah bekerja keras dan memberikan hidup yang nyaman buat aku dan Dedek. Kamu tuh, suami dan papi yang baik. Makanya, kamu nggak perlu berusaha jadi orang lain, Sayang. Nggak perlu jadi seperti Mingyu. Karena di mataku, kamu udah jadi yang paling baik, paling juara, paling bersinar—dan kamu nggak perlu susah payah untuk buktiin itu.”
“Dia masih suka kamu.”
“Siapa?”
“Mantan kamu itu lah.”
“And so?”
“Aku takut.”
“Takut kenapa, Sayang…”
“Takut mensalahartikan peranku di cerita ini. Jangan-jangan, aku cuma steppingstone, batu loncatan dalam kisah kalian, karena at the end of the day, Minghao dan Mingyu harus berakhir bersama. Kalau memang begitu takdirnya, I’m totally okay with that, I do. Aku cuma takut.”
“Sayang hei… Kok gitu ngomongnya. Aku sedih kalau kamu ngomong begitu… Kenapa kamu selalu mikir kalau kamu serendah itu, sih? Kenapa kamu selalu mikir kalau kamu selalu di bawah Mingyu, padahal posisi kamu jauh di atas dia?”
“Karena kamu pernah balik lagi ke dia, meskipun posisinya kamu sudah sama aku.”
Hening menguar di antara mereka.
Seungcheol tahu bahwa ia telah membawa percakapan ini ke danger zone yang selalu susah payah mereka berdua hindari, but he just can’t help it. Ia juga tahu, bahwa kejadian ini, meskipun sudah berlangsung bertahun-tahun lalu, masih meninggalkan bekas di antara keduanya.
“That happened once,” jawab Minghao. “Dan gara-gara itu juga aku sadar, he’s not the one.”
“Aku takut ditinggalin kamu lagi, Biy.”
“Nggak akan. Itu kebodohan paling besar yang pernah aku lakuin, Sayang. Sampai sekarang aku masih nyesel, kenapa sih aku bodoh banget udah ninggalin kamu, demi orang yang nggak bahkan nggak pantes buat aku perjuangin?”
“Aku setakut itu, takut harus ngelepasin kamu.”
“Aku di sini, Sayang. Sama kamu. Nggak akan ke mana-mana.”
“Tapi ada Mingyu—”
“Biarin aja. Kan aku udah bilang, nggak usah kamu pikirin lah si Mingyu itu,” ujar Minghao lagi. “Maafin aku, ya, Sayang?”
“Buat?”
“Bikin kamu khawatir. Karena kelakuan aku di kampus dulu, karena aku udah ninggalin kamu, karena bikin kamu stress beberapa waktu belakangan ini.”
“Aku bikin kamu cemas juga, ya?”
“Banget. Aku sampai curhat ke Seokmin.”
“Maafin aku juga ya, Biy. Aku bodoh banget.”
“Permintaan aku cuma satu, Sayang. Setiap kali kamu merasa nggak berharga, merasa kalah sama Mingyu, please inget kalau kamu tuh nggak sendirian. Aku ada di sini buat kamu, Sayang. Aku akan selalu milih kamu, over him, aku akan terus dampingin kamu. Bantuin kamu. Dukung kamu. Jadi, kamu nggak perlu merasa insecure karena kamu sebenarnya lebih segala-galanya dibanding dia.”
“Biy, aku—”
“Shhh,” ujar suaminya lembut sambil meletakkan satu jarinya di bibir Seungcheol. “I know.”
Seungcheol menatap kedua manik mata Minghao dengan penuh tanda tanya.
Namun, lelaki kurus di hadapannya hanya diam, berbalik menatapnya sembari menyibak pelan poni rambut di kening Seungcheol yang menutupi kedua matanya, menyematkannya di balik telinga, lalu mengecup keningnya dengan lembut.
“I know. I know. The past haunts you. I know. So, let me kiss your fears away.”*
Seungcheol selalu suka dengan cara Minghao memperlakukannya.
Penuh kehati-hatian. Seolah Seungcheol adalah sesuatu yang paling berharga di seluruh dunia. Yang lembut dan mudah rapuh.
Minghao yang penuh kasih sayang.
Yang tak pernah lelah mencintainya, meskipun Seungcheol berkali-kali mempertanyakan rasa cintanya.
Sungguh, Seungcheol malu sekali berhadapan dengan Minghao yang sebegininya.
Kedua matanya memanas dan Seungcheol tahu sedikit lagi air matanya akan menetes.
“Shhh. Kok malah nangis,” bisik Minghao lembut sambil mengusap puncak kepalanya. “I love you, Sayang. Beneran. Please remember that.”
Kemudian, Minghao menciumnya. Awalnya pelan, tenang, dan lembut, namun lamat-lamat terasa dalam dan Seungcheol bisa merasakan deru napasnya yang memburu. “I love you, Choi Seungcheol. Always do,” bisik Minghao.
Seungcheol membalas ciuman Minghao di bibirnya, kemudian mengeratkan pelukan lengannya di leher suaminya. Menghidu aroma familiar dari partner hidupnya, yang nyaman, yang menenangkan, yang berhasil menghilangkan semua kekhawatiran dalam hidupnya.
“I love you too, Biy. Thanks for coming into my life and turning it around for the better.”
END
Notes:
* https://twitter.com/heartfeltbot/status/1532256468627427328?s=20
** https://twitter.com/heartfeltbot/status/1530372792482267137?s=20
