Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-07-20
Updated:
2023-07-20
Words:
1,780
Chapters:
1/?
Kudos:
19
Bookmarks:
2
Hits:
189

2/7

Summary:

Lowongan pekerjaan menjadi asisten pribadi seorang penulis novel terlihat cukup menarik di mata Kim Hongjoong, pria yang kontrak kerjanya baru saja diputus secara paksa oleh perusahaan. Ia memang tidak tahu apa-apa tentang menjadi asisten pribadi, terlebih untuk seorang penulis novel. Tapi, ia tertarik sekaligus penasaran dengan tawaran yang ditulis perekrut pada situs FindJob; bekerja hanya hari Sabtu dan Minggu.

Yang Hongjoong tidak pernah bayangkan, menjadi asisten pribadi seorang Park Seonghwa bukanlah sekadar untuk membantunya dalam hal-hal terkait kehidupan, namun juga mempersiapkan Seonghwa menjelang hari kematiannya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter 1: Sebuah Permulaan

Chapter Text

LOWONGAN PEKERJAAN

 

Dibutuhkan segera asisten pribadi yang sabar dan bisa bermain piano untuk seorang penulis novel. Kerja hanya pada hari Sabtu dan Minggu. Gaji kompetitif. Dapat uang makan dan transportasi. Tidak ada pengalaman kerja sangat dipersilakan mendaftar.

 

Silakan kirimkan CV ke [email protected]. Lowongan ini akan ditutup saat unggahan ini saya hapus.

 



Hari ini adalah hari Sabtu yang sejuk di bulan Oktober.

Hongjoong bersiap dengan setelan terbaik yang ia punya; kemeja biru dan celana bahan berwarna hitam untuk menghadiri sesi wawancara offline yang ditetapkan oleh Seonghwa. Rambut yang tadinya berwarna biru terang juga terpaksa ia timpa dengan cat warna biru gelap. Walau ia belum tahu apa preferensi pria yang akan merekrutnya, ia ingin terlihat sedikit lebih profesional.

Setelah beberapa kali berpindah kereta dan bis, Hongjoong akhirnya sampai di cafe yang Seonghwa tulis di surel. Hongjoong sempat bingung dengan keputusan pria itu untuk mengajaknya bertemu di cafe; bukannya akan lebih nyaman untuk bertemu di kantor penerbitnya, ya? Tapi, ia baru ingat jika Sabtu adalah hari libur pegawai. Mungkin, kantor tempat Seonghwa menerbitkan bukunya ikut tutup.

Jauh selain itu, Hongjoong sebenarnya tidak tahu apakah Seonghwa benar-benar penulis atau bukan. Ia sendiri kurang suka membaca buku. Buku terakhir yang dibacanya adalah Kiat-kiat Ternak Lele untuk Pemula; buku yang diberikan kakaknya setelah mengetahui sang adik diputus kontrak kerja secara paksa. Tapi, ketika ia mencari nama Seonghwa di laman pencarian, tidak ada satupun hal yang muncul kecuali profil di situs Find Job sebagai pembuka lowongan.

Bisa saja ia ditipu. Tapi, ia terlanjur tergiur dengan waktu kerja yang ditawarkan; Sabtu dan Minggu. Hari Senin hingga Jumat, rencananya ia akan fokus untuk mengerjakan freelance sambil mencari lowongan kerja nine to five, sedangkan Sabtu dan Minggu akan ia gunakan untuk menjadi asisten Seonghwa.

Apa itu istirahat? We are adults. We got bills to pay.

“Hongjoong, ya?”

Hongjoong buru-buru berdiri mendapati seorang pria berambut cokelat gelap memanggil namanya seraya berjalan ke arahnya. Pria itu sangat mirip dengan foto profil surel yang digunakan oleh Seonghwa. Jadi ia adalah …

“A … ah, betul. Salam kenal, saya Hongjoong,” ia mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh tangan halus Seonghwa. “Saya Seonghwa, maaf membuat Anda sampai lebih dulu. Anda mau minum apa?”

Hongjoong melepas genggaman tangan mereka, “Tidak apa-apa, saya juga baru sampai dan sudah pesan tadi. Terima kasih atas tawarannya.”

Senyum canggung Hongjoong membuat Seonghwa ikut tersenyum, “Yasudah kalau begitu, saya pesan minum dulu sebentar, ya.”

Seonghwa meletakkan ranselnya di kursi yang berhadapan dengan Hongjoong sebelum berlalu menuju meja kasir. Selepas kepergian Seonghwa, Hongjoong kembali duduk di tempat awalnya sembari menebak-nebak parfum yang pria itu kenakan. Wanginya meninggalkan kesan manis dan elegan, yang menurut Hongjoong, cocok sekali dengan Seonghwa.

“Ada yang sedang Anda pikirkan?”

Hongjoong tersentak. “Tidak ada, hanya saja, itu, jalanan di sini tumben sepi padahal weekend.”

Ia memilih untuk berbohong. Lagipula, pasti creepy banget nanyain parfum orang saat pertama bertemu. Employernya sendiri, pula!

Seonghwa merespon dengan anggukan sebelum menaruh satu cup Ice Americano di depan Hongjoong dan satu cup Chocolate Milkshake untuk dirinya sendiri, membuat raut heran timbul di wajah Hongjoong.

“ … Kok jadi …”

“Minuman Anda sudah jadi sejak tadi. Tapi saya bilang ke pelayannya agar saya yang sekalian bawa karena kita satu meja.”

Hongjoong langsung membungkuk dan menggumamkan terima kasih berkali-kali.

Beberapa menit mereka ditemani hening. Hongjoong dapat merasakan tatapan Seonghwa yang mengarah padanya. Bukan seperti tatapan menganalisis dari kepala hingga kaki seperti yang orang-orang biasa lakukan, namun, Seonghwa hanya berusaha menatap matanya.

Hal seperti ini jauh lebih membuat Hongjoong salah tingkah. Apa ia harus menatap balik matanya? Apa ia harus pura-pura meminum kopinya sembari mengedar ke sekitar? Apa perlu ia browsing tata krama yang baik ketika interview saat ini juga?

“Jadi, Kim Hongjoong?”

“I— iya?”

“Apa yang kamu ketahui tentang saya?”

Hongjoong membenahi posisi duduknya dengan menegakkan punggung dan menaruh kedua tangan di atas pangkuannya, “Kalau boleh jujur, saya tidak tahu apa-apa tentang Anda. Saya hanya tahu Anda seorang penulis dari profil FindJob Anda.”

“I see,”
Seonghwa menyeruput minumannya sembari mengangguk kecil, “jika tidak tahu apa-apa, kenapa berani untuk melamar? Bagaimana jika saya menggunakan data pribadi kamu untuk hal yang tidak baik?”

Hongjoong lantas tersenyum, “Walau memang minim informasi, profil Anda terverifikasi oleh penerbit tempat Anda bekerja, Bright Moon. Hanya itu yang meyakinkan saya bahwa Anda benar-benar mencari asisten pribadi.”

“Oke, berarti info yang kamu tahu hanya sekadar saya adalah salah satu penulis di Bright Moon. Kira-kira, dari semua buku yang pernah diterbitkan Bright Moon, buku apa yang kemungkinan saya tulis?”

Hongjoong mengangguk kecil sebelum menjawab, “Karena saya tidak menemukan nama Anda baik dalam Wiki buatan penggemar dan situs manapun, saya berasumsi bahwa Anda menggunakan nama pena. Kalau boleh jujur, saya sendiri hanya membaca beberapa sinopsis dari buku-buku terbitan Bright Moon dan belum membaca versi lengkapnya. Saya bingung untuk menentukan buku apa yang sepertinya Anda tulis karena saya yakin semua buku terbitan Bright Moon bagus. Kalau saya boleh tebak … mungkin buku fiksi berjudul ‘Sesuatu di Tengah Hutan, Langit, dan Laut.’ adalah salah satu tulisan Anda.”

Seonghwa mengangkat sebelah alisnya mendengar jawaban Hongjoong, “Kenapa berpikir bahwa buku itu mungkin adalah salah satu tulisan saya?”

“Sebenarnya … buku itu merupakan buku preferensi pribadi saya,” jawab Hongjoong, jujur. “Dengan hanya membaca sinopsisnya, saya dapat merasakan bagaimana penulis memproyeksikan kesedihannya pada karakter Arisa. Walau Arisa digambarkan sebagai anak periang yang disukai semua orang, Arisa menyimpan rahasia kecil yang hanya ia ceritakan pada hutan, langit, dan laut; tiga ruang yang pasti mendengar tanpa berikan komentar. Saya sendiri belum membaca versi lengkapnya karena belum sempat pergi ke toko buku, tapi, saya yakin akan membeli buku itu nanti. Terlepas apakah Anda benar penulisnya dan apakah saya diterima atau tidak untuk menjadi asisten pribadi Anda, pasti saya akan baca buku itu.”

Seonghwa menaruh cup yang tengah ia genggam di atas meja. Senyum tidak luntur dari bibir Seonghwa. Hongjoong sungguh tidak dapat membaca ekspresi Seonghwa; apakah ia salah jawab? Apakah Seonghwa marah? Apakah Seonghwa malah merupakan rival dari penulis buku itu? Hongjoong merasa semakin clueless.

“Apa kamu tahu, dari sekian banyak buku yang ditulis sang penulis, penggemarnya paling tidak menyukai buku itu?”

“E-eh?!” mata Hongjoong terbelalak, “Kenapa?”

Seonghwa mengangkat bahunya, “Mungkin karena tidak terbiasa. Penulisnya, Shin Suha, biasanya menulis tentang kisah cinta remaja dan antar pekerja. Semua yang dia tulis biasanya hangat dan berakhiran bahagia. Tapi buku itu beda. Penulis itu memasukkan sedikit tentangnya di sana. Dia berpikir, mungkin pembacanya bisa kenal dia lebih lanjut melalui buku itu. Turns out, mereka nggak suka dan penjualan buku itu jauh dari buku-bukunya yang lain.”

Hongjoong mengerjap, berusaha menyerap informasi yang diberikan. Ia memang belum baca buku itu, namun, ia dapat memahami dengan baik bagaimana di posisi pembaca dan penulis. Pembaca setia Shin Suha mungkin hanya tidak terbiasa; bukan berarti tidak suka. Ini hanya masalah preferensi. Sebagai penulis, Shin Suha juga ingin berbagi separuh dirinya pada pembaca dan itu juga tidak salah. Kedua belah pihak tidak ada yang salah.

“Kamu betul,” Seonghwa menatap Hongjoong tepat di manik mata, “saya Shin Suha dan itu adalah salah satu buku yang saya tulis.”

Hongjoong merasa kesulitan menelan ludah. Ia merasa ‘maaf’ adalah kata yang tepat untuk diucapkan saat ini. Walau tebakkannya dapat nilai seratus, entah mengapa ia merasa dililit rasa bersalah.

Raut muka Hongjoong membuat Seonghwa terkekeh, “Nggak usah merasa bersalah atau minta maaf. Saya tidak apa-apa. Saya malah senang pembaca-pembaca saya jujur kalau mereka tidak suka dengan apa yang saya tulis dan bukannya membaca karya saya hanya karena ‘saya’ yang nulis.”

Hongjoong menghela napas dan berusaha tersenyum, “Ba … Baik.”

“Sebentar,” Seonghwa membuang cup minuman yang sudah habis ke tempat sampah terdekat sebelum kembali duduk di hadapan Hongjoong, “oke. Sudah siap saya beritahu info selanjutnya?”

Hongjoong menjawab dengan anggukkan. Anggukkan itu membuat Seonghwa mengeluarkan satu map berisi beberapa lembar kertas. Tiga lembar kertas satu persatu dijejerkan di atas meja, menghadap pada Hongjoong.

“Jadi, tujuan saya mencari asisten pribadi adalah …” Seonghwa mengambil jeda sejenak untuk mempersiapkan diri. Ia tidak siap dan tidak pernah siap untuk berbincang masalah ini. “ … untuk bantu saya persiapkan kematian saya."

Hongjoong menganga melihat beberapa lembaran kertas yang tertera di hadapannya. Kertas-kertas tersebut memiliki logo rumah sakit yang berbeda, namun, kesimpulan yang tertulis di atasnya sama persis.

Kanker stadium empat.

“I … Ini … ”

“Satu lagi,” Seonghwa memberikan satu rangkap kertas yang langsung diterima oleh Hongjoong. Dengan tangan yang sedikit bergetar dan napas tertahan, Hongjoong membuka lembaran kertas yang diberikan Seonghwa.

"Sebelum Anda bertanya, saya ingin jelaskan sedikit,” Seonghwa menarik kedua sudut bibirnya ke atas— tersenyum lembut pada Hongjoong. "Saya dikelilingi oleh orang-orang baik dan pembaca novel saya juga selalu buat saya bahagia. Jadi, saya rasa ... saya sudah puas dengan hidup saya? Entah. Tapi, saya gak mau jadi pasien tetap rumah sakit. Saya mau nikmatin sisa hidup saya dengan baik. Oh, ya, belum ada yang tahu tentang ini selain para dokter dan Anda. Tapi, saya sudah buatkan timeline— pada kertas yang Anda pegang, di mana nanti kita akan beritahu kenalan saya satu persatu."

"Kenapa ..." Hongjoong membalik lembaran timeline yang Seonghwa telah buat. Dari mulai kapan ia akan beritahu orangtua, keluarga besar, teman-teman, hingga estimasi waktu ia harus pesan peti untuk dirinya sendiri, semuanya telah direncanakan dengan rapih di lembaran-lembaran tersebut. Semakin ke belakang, rasanya Hongjoong semakin sulit menelan ludah. “Maaf … Tapi … Boleh saya tahu mengapa Anda tidak mengurusnya sendiri? Atau mungkin … dengan keluarga Anda? Mereka pasti akan selalu temani Anda.”

"I can do it by myself, but ..." Seonghwa menghela napas sebelum berucap lirih, "It will be too lonely, Hongjoong … Kalau keluarga, coba Anda posisikan jadi keluarga saya. Saya beritahu semua ini dan rencana saya ke depannya, apa yang akan Anda sarankan untuk saya?”

“Saya … pasti akan membuat Anda ikut kemoterapi.”

Seonghwa tersenyum, “Tepat seperti dugaan. Masalahnya, saya nggak mau. Mereka juga pasti akan terlalu sedih untuk bantu saya. Saya nggak mau bikin mereka sedih saat ini.”

Hongjoong merasa ingin memijat pelipisnya saat itu juga. Kepalanya pening. Tidak pernah ada dalam bayangannya jika tugas asisten pribadi akan menjadi seperti ini. Bagaimana bisa ia menemani seseorang menuju kematiannya? Apakah yang akan ia lakukan ini benar?

“Jadi,” ucapan Seonghwa membuyarkan lamunannya, “saya tidak terlalu suka menyebut pekerjaan ini sebagai ‘asisten pribadi’. Saya akan menyebutnya sebagai ‘partner sampai akhir’. Jadi, apakah Anda bersedia jadi partner saya hingga akhir?”

Belum sempat berpikir, ia merasakan kepalanya mengangguk mantab.

“Saya mau jadi partner Anda hingga akhir.”

Seonghwa menepuk tangannya sekali dengan satu senyum sumringah, “Bagus! Terima kasih! Selanjutnya, Anda harus tanda tangan kontrak terlebih dahulu dan ah, iya, gaji! Di dalam kontrak akan tertera nominal gaji. Anda bisa ajukan banding jika nominalnya dirasa kurang sesuai. Tapi, bagaimana jika kita memakai aku-kamu agar kita tidak begitu kaku? Walaupun kita terikat kontrak, tapi, teman kan biasanya …”

Sesudah obrolan panjang lebar masalah gaji dan tetek bengeknya, Hongjoong melabuhkan tanda tangannya pada atas kertas.

“See you next week, Joong! I’ll text you my address!”

Dengan ini, ia resmi menjadi partner hingga akhir seorang Park Seonghwa.

Notes:

Ini gak nyambung sama cerita tapi saya pengen mandi bola banget asli. Yuk temenin!

Terima kasih sudah membaca, ya! By the way, kalau ingin mengobrol silakan hubungi saya di Twitter, ya! DM atau mention saja @aanhemel jangan sungkan atau malu. Lov!

((Btw, kalau mau di-followback, bilang yah hehe saya teh suka gak tau akun-akun apa yang bisa saya followback karena ada akun-akun yang biasanya buat baca doang ;;;;;,,,,))