Work Text:
Saturday sunset, we’re laying on our bed.
Donghyuck masih mengingat hari itu. Pukul lima sore dan matahari perlahan-lahan terbenam, membawa serta harapan dan mimpi yang pupus. Donghyuck masih ingat bagaimana tangan yang ia kasihi itu menggenggam miliknya dengan erat. Sentuhan dan usapan yang diberikan oleh ibu jari itu seolah berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa semuanya tidak akan berakhir seperti bagaimana iblis di kepalanya berpikir.
Namun begitu Donghyuck tidak bisa menahan kalimat itu. Kalimat yang selalu ia rapalkan semakin banyak seiring dengan coretan kalendernya yang mendekati tanggal 25. “I don’t want you to go.” Kalimat yang hanya terdiri kurang dari 10 kata itu terdengar begitu menyakitkan, seolah dengan enam kata itu terkandung banyak sekali luka dan harapan yang hilang.
Pada saat itu, keduanya sama-sama mengerti bahwa itu tidak mungkin. Sekuat apapun keinginan mereka untuk bersama, pada kenyataannya takdir dan waktu memang tidak berpihak pada mereka. Waktu masih berjalan, matahari semakin menghilang, dan angan-angan hidup bahagia bersama pun beriringan pudar.
Tidak ada yang bisa Mark katakan untuk mengurangi rasa sakit itu dan Donghyuck mengetahuinya. Yang lebih tua hanya bisa terdiam, mengeratkan genggamannya seolah itu adalah tali terakhir hidupnya yang ia jaga mati-matian.
Jendela yang kini memperlihatkan semburat jingga dan ungu, pemandangan indah yang selalu Donghyuck potret dan abadikan, kini terasa seperti kenyataan pahit yang harus ia terima. Dunia tidak pernah berhenti berputar semenyedihkan apapun dirinya.
“Can’t you stay? How am I supposed to live without you?”
Bak ombak kencang yang menabrak karang rapuh, pertahanan keduanya seketika runtuh. Donghyuck bisa merasakan kedua pipinya kini basah. Air mata yang Donghyuck tahan mati-matian akhirnya pecah.
Bayangan tentang bagaimana ia harus melanjutkan hidupnya di kota yang dipenuhi oleh jejak-jejak Mark juga dirinya membuat hatinya terluka. Alun-alun kota tidak akan terasa sama tanpa Mark, pantai dekat rumahnya tidak lagi indah tanpa Mark berdiri di sampingnya, perjalanan di mobil akan terasa sangat membosankan tanpa Mark yang bercerita tentang novel baru yang baru rampung dibaca. Donghyuck menyesal pernah jengah mendengarkan celotehan yang kini sangat ia rindukan.
Donghyuck masih ingat, bagaimana Mark mendekapnya begitu tangisan itu pecah. Bagaimana lelaki itu membelai punggungnya dengan penuh kasih sayang. Donghyuck merasa sangat dicintai saat itu, tapi yang ia cintai akan meninggalkannya, jauh ke negeri seberang dan tangisan itu pecah lagi.
Donghyuck juga masih ingat, saat itu, Mark mengucapkan sebuah kalimat. Begitu manis, begitu dipenuhi cinta dan rasa sayang, ia mempercayainya. Ia memegang kalimat itu seolah itu adalah garis hidupnya, seolah kalimat itu lah satu-satunya yang memberikan dirinya kekuatan.
“We’ll be fine, baby. You’re the only thing I swear I can’t outgrow.”
Donghyuck yang dipenuhi oleh cinta dan harapan itu tidak mengetahui bahwa ada begitu banyak kebohongan pada kalimat tersebut.
While you’re wolfin’ down liquor, my soul it gets sicker
“Lo cuman overthinking aja, Hyuck.”
Entah sudah berapa kali Donghyuck mencoba untuk mengingatkan dirinya lagi dan lagi. Mencoba untuk menggantikan segala prasangka buruk yang ia miliki dengan kalimat yang sahabatnya ucapkan tempo hari lalu.
Ya, tempo hari lalu dan hingga hari ini pun, tidak ada pesan masuk dari Mark.
Iblis-iblis di dalam kepalanya sangat bising, memberikannya skenario-skenario terburuk yang meluruhkan kepercayaannya. Donghyuck tidak menyukainya, ia tidak pernah menyukainya.
Akan tetapi seolah takdir mencoba berpihak pada iblis itu, Donghyuck, entah bagaimana caranya, melihat sebuah postingan. Masih terpatri dengan jelas di ingatannya tentang apa unggahan tersebut. Mark, sosok yang ia nantikan dengan setia kabarnya, tengah berpesta bersama dengan teman kuliahnya.
Donghyuck terduduk lemas, seketika iblis-iblis itu menghilang. Seolah kini iblis itu merasa kasihan dengan takdir yang menimpanya. Donghyuck hanya bisa terdiam, mempertanyakan ketulusannya, mempertanyakan bagaimana ia memperlakukan Mark. Donghyuck meragukan nilainya.
Apakah aku terlalu mengekang?
Apakah aku kurang perhatian?
Apakah aku terlalu menuntut diberi kabar?
Donghyuck yang masih naif itu, tidak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Yang ia bisa lakukan hanya menangis, berharap ketika Mark kembali mengingatnya, ia bisa kembali mengucapkan kata yang kini sangat familiar di lidahnya,
“Iya, nggak apa-apa.”
Missin’ our drunken 2 AM, strolls in K-Town
Donghyuck mengingat bagaimana alun-alun kota adalah tempat dirinya juga Mark menghabiskan waktu bersama. Terduduk di bawah rembulan ditemani obrolan ringan juga secangkir kopi. Begitu sederhana, namun memiliki penuh arti.
“I miss you.”
Donghyuck tidak tahu apakah kalimat tersebut ia tunjukkan untuk kenangan atau sosoknya. Bangku panjang yang biasa mereka tempati berdua itu terasa sangat sepi. Bahkan penjual kopi keliling lengkap dengan sepedanya juga menyadari hal itu.
“Tumben sendirian, mas. Biasanya sama mas ganteng itu.”
Donghyuck hanya bisa tersenyum. Berharap penjual kopi itu tidak menyadari air mata yang memupuk di kantung matanya. Begitu lama keduanya berada di tempat yang sangat jauh membuat Donghyuck mengingat di luar kepala perbedaan waktu kedua daerah itu.
Mungkin kini Mark tengah mengejar jadwal busnya. Seperti biasa, terlambat sebab terlambat bangun. Mark tidak akan mengira bahwa nun jauh di seberang sana, Donghyuck tidak tertidur. Donghyuck sibuk tenggelam dalam kerinduan yang ia simpan sendirian.
Bukan tanpa alasan Donghyuck menahan dirinya untuk mengungkapkan rindu tersebut. Donghyuck tidak menyukai bagaimana perasaan rindu itu tidak berbalas. Donghyuck tidak menyukai bahwa hanya dirinya yang merindukan secangkir kopi dan alun-alun kota pada dini hari.
Tali itu, sekali lagi tetap ia genggam, mati-matian. Tidak memperdulikan bagaimana itu menyakitinya. Perlahan meninggalkan bekas yang sangat dalam. Donghyuck yang masih naif itu masih tidak peduli. Donghyuck yang naif itu tidak menyadari bahwa Mark perlahan mulai melupakan tali itu.
Hope that eases the pain, so you remember to miss me
Donghyuck pernah dengar, bahwa waktu akan membuatnya terbiasa. Donghyuck beberapa bulan yang lalu mungkin hanya bisa menangis ketika Mark lagi-lagi membiarkan pesannya tidak berbalas. Donghyuck yang dulu mungkin kembali menyalahkan dirinya tentang bagaimana perlakuan Mark kepadanya.
Sebenarnya masih, tapi Donghyuck kini bisa dengan mudah menutupinya. Dengan gurauan dan candaan selayaknya plester yang digunakan untuk menutup luka. Donghyuck berharap dengan dirinya yang bersikap seolah tidak terjadi apa-apa akan membuat Mark merindukannya,
Ada begitu banyak yang orang sampaikan tentang sikapnya itu:
“Lo naif banget.”
“Lo kok bisa secuek itu?”
“Lo beneran nggak apa-apa?”
Donghyuck mengerti, sangat mengerti tentang apa yang orang lain pikirkan tentang sikapnya. Akan tetapi mereka tidak mengerti, bahwa apa yang ia inginkan hanya sebatas : Mark kembali merindukannya, Mark kembali kepadanya.
Donghyuck tidak pernah menutup mata atas desas-desus mengenai hubungan Mark dengan perempuan-perempuan itu. Sekali lagi, seperti plester, ia menutupi luka itu dengan senyuman. Seolah ia ingin mengatakan kepada dunia bahwa Donghyuck bisa membuat Mark kembali kepadanya.
Orang-orang itu tidak tahu, bahwa ketika ia seorang diri, ditemani dengan iblis-iblis itu lagi, Donghyuck hanya bisa menangis. Tubuhnya bergetar akibat tangisan juga luka yang ia tahan mati-matian. Tidak ada lagi belaian lembut di punggungnya, tidak ada lagi genggaman erat di tangannya. Hanya isak tangis yang berusaha ia kubur dengan selimutnya.
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul kembali :
Apakah perhatian yang aku berikan kurang?
Apakah aku tidak lagi menarik?
Apakah aku tidak pantas dicintai lagi?
Donghyuck membencinya setiap kali pertanyaan itu dibawa ke permukaan oleh iblis-iblis itu. Akan tetapi ia tidak mempunyai sedikitpun kuasa atas dirinya, tidak ketika air matanya mengalir begitu deras dan dirinya yang mati-matian menahan suara isakannya.
Donghyuck yang masih mempunyai banyak cinta itu hanya bisa menangis. Tali yang ia genggam menorehkan luka begitu dalam, tapi Donghyuck yang keras kepala tetap menggenggamnya bersama dengan harapan Mark akan kembali ke pelukannya.
How is it now that somehow you’re a stranger? You were mine just yesterday
Donghyuck tidak mempercayai bahwa waktu itu akan tiba. Waktu dimana satu per satu skenario buruk yang diciptakan oleh iblis menjadi kenyataan. Setiap kali Donghyuck mengambil satu langkah maju, Mark akan mengambil satu langkah mundur.
Donghyuck tidak menyukainya, ia tidak pernah menyukainya. Bila luka-luka yang Mark torehkan kepadanya bisa dilihat oleh mata telanjang, orang akan mengira bahwa Donghyuck baru saja kembali dari perang.
Begitu sakit menggerogoti sisa-sisa tubuhnya tanpa ampun. Namun Donghyuck masih memiliki cinta. Donghyuck akan dengan senang hati membagi cinta itu pada yang ia kasihi. Donghyuck masih percaya bahwa cinta itu akan membuat Mark kembali padanya.
Seolah tanpa belas kasih, apa yang takdir berikan padanya dengan seketika menghancurkan sisa-sisa dirinya yang masih ia miliki. Mark menerima cinta, tetapi bukan cintanya.
Hancur.
Tali yang ia genggam mati-matian itu putus, membiarkan tangan yang menggenggamnya dipenuhi peluh dan darah.
Sekali lagi, Donghyuck hanya bisa menangis. Bagaimana mungkin semua itu berubah hanya dengan cinta semu yang Mark temukan di negeri asing? Bagaimana mungkin bertahun-tahun berbagi cinta terkalahkan oleh jarak dan waktu? Tidakkah Mark memikirkan dirinya? Tidakkah Mark sekali saja peduli dengan perasaannya?
Apakah aku sudah mati di kenanganmu?
Iblis-iblis itu pun kini menjauh. Seolah pilu yang Donghyuck rasakan membuat mereka kewalahan.
Bahkan iblis pun tidak sanggup menanggungnya. Donghyuck hanya bisa tertawa nanar.
All my demons have your smile
Tidak berlebihan ketika Donghyuck berkata bahwa dia kehilangan dunianya. Dulu, ketika ia masih penuh cinta juga masih begitu naif, ia menolak untuk mempersiapkan dirinya kehilangan kekasihnya itu. Ia percaya bahwa Mark mempunyai cukup cinta untuknya.
Kini ketika hal itu benar-benar terjadi, yang bisa Donghyuck lakukan hanyalah berusaha untuk tetap terbangun di keesokan harinya.
Apa yang dirampas oleh kepergian Mark bukan hanya cintanya, namun seluruh dirinya. Donghyuck terlalu naif untuk mempercayakan Mark dengan setiap inci dirinya. Kini, apa yang dibangun itu hancur berkeping-keping.
Donghyuck terlalu lelah untuk mengambil satu per satu kepingan itu. Terlalu sering merasakan rasa sakit membuat dirinya takut merasakannya kembali. Kepingan-kepingan tajam itu akan menyakiti dirinya, Donghyuck tidak ingin lagi.
Di kamar yang kini lebih sering gelap gulita, Donghyuck hanya ditemani oleh iblis-iblis itu. Ia bertanya-tanya, bagaimana mungkin iblis lebih setia dari hal-hal lain di hidupnya?
Anehnya, Donghyuck kini tidak membenci iblis-iblis itu. Alih-alih skenario buruk, iblis itu kini datang dengan kenangan-kenangan begitu manis tapi menyakitkan. Kenangan dimana ciuman pertamanya atau kenangan dimana Mark yang masih memiliki banyak cinta padanya itu tersenyum dengan lembut.
Donghyuck menyukai senyuman itu. Tidak peduli bagaimana Sang Empunya menyakiti dirinya, Donghyuck tidak bisa membencinya. Donghyuck selalu berakhir dengan senyuman di wajahnya juga air mata mengalir di pipinya ketika kenangan itu diputarkan.
If I’m honest I’d call, but I’m trying to let go
Donghyuck juga pernah mendengar bahwa waktu akan menyembuhkan segalanya. Donghyuck hanya berharap bahwa waktu berjalan dengan cepat dan ia bisa melupakan segalanya.
Tidak ada yang salah dengan berharap, namun Donghyuck tidak tahu bagaimana dirinya selalu berharap pada sesuatu yang salah. Sama seperti hal-hal kejam yang terjadi padanya, waktu pun ternyata tidak begitu baik untuk menuruti kemauan Donghyuck.
Semakin ia berusaha untuk melupakan rasa rindu yang selalu muncul, semakin Donghyuck mengutuk dirinya sendiri. Entah sudah berapa kali kedua ibu jarinya membawa dirinya mengetik nama Mark di ponselnya.
Donghyuck sepenuhnya sadar bahwa seharusnya ia sudah menghapus nomor tersebut. Donghyuck tidak bisa. Donghyuck tidak bisa menghapus eksistensi seseorang yang begitu banyak menorehkan warna dan darah di kehidupannya begitu saja. Hanya ini jejak yang Donghyuck miliki dan ia bersumpah akan menjaganya tetap sama sampai akhir.
Adapun kali ini, Donghyuck yang sudah kehabisan cinta dan harapan tidak mau membiarkan Mark kembali datang. Sejujurnya ia tidak yakin bahwa pertahanannya cukup kuat jika satu kali saja Mark menghubunginya.
Dengan sisa-sisa kenangan baik yang ia miliki tentang Mark, Donghyuck hanya berharap bahwa kota itu akan memeluk Mark erat seperti bagaimana dulu Donghyuck mendekapnya.
Someday I will be fine, but just not tonight
Senyum yang telah lama menghilang dari wajahnya itu kini perlahan kembali. Tidak sepenuhnya, tapi cukup bagi Donghyuck untuk akhirnya menyadari sejauh apa dirinya bergerak maju. Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, Donghyuck bisa kembali bangga kepada dirinya sendiri.
Donghyuck yang dulu mungkin tidak akan mengira bahwa ia akan sampai di titik pada dirinya sanggup untuk kembali terduduk di alun-alun kota dengan senyuman. Ya, alih-alih membawa rindu dan kesedihan seperti terakhir kali kakinya membawa dirinya ke sana, Donghyuck kini bisa tersenyum.
Atau itu yang Donghyuck harapkan akan terjadi.
Begitu banyak kenangan manis di tempat itu membuat pertahanan Donghyuck perlahan meluruh. Keyakinan bahwa dirinya bisa kembali ke tempat itu tanpa menangis pupus seketika.
Melihat begitu banyak hal yang berubah di tempat itu kembali menyakitinya. Penjual kopi keliling itu tidak ada di sana. Menghilang bersamaan dengan seseorang yang biasanya terduduk di sampingnya.
Donghyuck mengutuk dirinya, begitu lemah akan bayang-bayang Mark hingga alun-alun kota pun sanggup menghancurkannya.
Tidak apa-apa, menangislah malam ini.
Semua akan baik-baik saja di lain hari.
Begitu banyak waktu yang ia habiskan untuk menenangkan pilunya membuat Donghyuck kini bisa membuat iblis-iblis di kepalanya berbicara dengan lembut. Alih-alih skenario buruk, iblis itu membisikkan kata-kata lembut tentang bagaimana Donghyuck telah berusaha dengan keras selama ini.
Donghyuck bertanya-tanya, jika iblis pun bisa melembut dengan rasa sakit, mengapa justru dia menjadi mati rasa?
I’m giving up your ghost, my great lost love
Selain alun-alun kota, tempat lain yang Donghyuck hindari adalah pantai di dekat rumahnya. Tempat dimana Mark untuk pertama kali mengambil ciuman pertamanya.
Sama seperti alun-alun kota, juga sama dengan pujaan hatinya, tempat itu sudah berubah banyak. Tempat yang dulu menjadi persembunyian keduanya kini telah terisi oleh anak-anak yang sedang membangun istana pasir.
Ketika dulu mereka menggunakan tempat itu untuk membangun cinta, kini anak-anak menggunakannya untuk membangun harapan.
Donghyuck tidak lagi percaya akan harapan.
Donghyuck yang naif mungkin tidak akan percaya bahwa melepaskan tali itu adalah kekuatan terbesar yang dunia ini miliki. Donghyuck yang naif hanya akan berpikir bahwa melepaskan berarti tidak lagi cinta.
Padahal wujud cinta terbesar adalah melepaskan.
Mungkin bukan untuk mencintai apa yang digenggam, tetapi untuk menunjukkan cinta pada yang menggenggam.
Donghyuck yang naif tidak akan menyadari bahwa dirinya pun pantas dicintai. Donghyuck yang naif hanya fokus pada dirinya yang kehilangan tali itu ketika ia lepaskan. Berpikir bahwa seluruh mimpi bahkan iblisnya tenggelam seiring dengan terlepasnya tali tersebut.
Namun Donghyuck yang naif telah lama pergi.
Donghyuck yang kini berdiri dengan botol berisi secarik surat itu adalah Donghyuck yang mati rasa akan harapan dan cinta. Donghyuck yang kini tidak lagi menangis ketika kenangannya bersama Mark terputar hanya memiliki cinta untuk dirinya, satu-satunya orang yang tidak akan meninggalkannya.
Donghyuck bertanya-tanya, bagaimana jadinya jika dulu Donghyuck yang naif itu mau untuk melepaskan tali itu? Bagaimana jadinya jika dulu Donghyuck yang naif itu memiliki banyak cinta untuk dirinya sendiri? Apakah rasa sakit itu akan sedikit lebih baik? Apakah luka di tangannya tidak akan sedalam itu? Apakah darah yang mengalir akan lebih sedikit?
Pertanyaan-pertanyaan itu sama seperti ketika Donghyuck meragukan nilai dirinya. Tidak akan terjawab. Semuanya telah terjadi. Peluh dan darah sudah banyak ia seka dengan kedua tangannya.
Yang bisa ia lakukan kali ini adalah, melepaskan.
Donghyuck menyimpan botol yang ia genggam di bibir pantai. Membiarkan arus ombak menarik botol itu menjauhi dirinya.
Donghyuck melepaskan Mark juga segala kenangan tentang dirinya. Mengingat pahit dan manis yang keduanya lalui karena bagaimanapun juga, Mark tetap cinta terbaiknya yang telah lama hilang.
FIN.
