Work Text:
“Suguru, haruskah kita bunuh mereka?”
Suguru terdiam. Yang berdiri di depannya bukanlah Satoru dengan cengiran lebar di wajah. Bukan pula Satoru dengan binar benderang di matanya. Senyum ceria Satoru digantikan sendu. Dalam dekapan lengannya, tubuh tanpa nyawa Riko terbujur. Tepuk tangan meriah dari para anggota agama bintang hadir sebagai pengiring.
Tatapan Suguru berpindah satu objek ke objek lain sebelum akhirnya terpusat pada Satoru yang masih menunggu jawaban. Bunyi tepuk tangan itu terus berdengung dalam telinganya dan tak bisa ia enyahkan. Membuatnya muak dan ingin muntah. Suguru menutup mata.
Tarik napas
Hembuskan
Sesak.
Suguru mengepalkan tangan hingga kepalannya memutih. Rahang mengetat. Suguru tahu bahwa satu pilihan hidup yang akan mereka putuskan detik ini akan mengubah poros dunia mereka untuk selamanya.
Mata Suguru kembali terbuka dan menatap lurus Satoru.
“Ya. Kita bunuh mereka semua.”
Pada akhirnya Suguru mencapai satu kesimpulan: Orang-orang ini tidak layak mendapat pengampunan dan belas kasihan.
Baru saja Suguru memanggil salah satu arwah kutukan untuk membunuh mereka, ketika Satoru tanpa aba-aba menjulurkan tangan dan dalam satu kedipan mata, kepala semua anggota agama bintang yang ada dalam ruangan itu meledak. Suguru teringat festival kembang api di suatu musim panas yang indah. Di hari itu, Ia menghabiskan waktu bersama Satoru di bawah langit malam Tokyo. Tangan mereka saling bergandengan sembari menyaksikan berbagai spektrum warna memecah mewarnai langit gelap. Lalu sekarang, sekeliling dinding putih penuh dengan merah, merah, dan MERAH.
Tarik napas
Hembuskan
Bau amis darah menusuk hidung. Ruang persegi itu kini tak ubahnya tempat penjagalan hewan. Bunyi tepuk tangan tak mau beranjak dari kepala Suguru dan semakin kencang.
“Dengan begini aku tidak perlu melihat senyum menyebalkan mereka lagi.” Satoru balik badan. Wajah berlumuran darah yang bukan berasal darinya. Darah non-syaman.
“Satoru, kamu baik-baik saja?”
Suguru menyimak ekspresi Satoru. Satoru terlihat normal untuk ukuran seseorang yang baru saja melakukan pembantain pertama terhadap non-syaman.
“Huh? Pertanyaan macam apa itu?” Satoru tiba-tiba tertawa sendiri. “Kamu lihat sendiri, ‘kan, Suguru? Betapa lemah dan tidak berdayanya mereka. Tidak lebih dari serangga yang tinggal diinjak lalu mati. Aku rasa aku sudah cukup berbaik hati dengan membunuh mereka dengan cepat dan tanpa rasa sakit. Kamu tanya apa aku baik-baik saja? Oh sebaliknya, aku merasa luar biasa. Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Aku—“
Satoru terus meracau inkoheren. Suguru menangkup sisi wajah Satoru dengan kedua tangannya. Mata mereka berserobok.
“Satoru, tenangkan dirimu.” Suguru mengelap darah dari wajah Satoru dengan lengan jaket. “Pertama-tama, kita kremasi Riko-chan dulu.”
Satoru menundukkan kepala, dilihatnya mayat Riko yang tertutup kain putih. Sekelebat pertanyaan melintasi pikirannya. Apakah ini yang diinginkan Riko? Dendam sudah terbalaskan? Untuk siapa ia melakukan ini semua?
Satoru mengatur napas kemudian menggangguk.
.
.
Lidah api membakar habis setiap helai rambut dan setiap jengkal tubuh Riko tanpa sisa. Asap membumbung tinggi ke langit biru dan membaur bersama angin. Satoru terbang rendah di atas garis air laut dan melarungkan abu Riko di sana bersama dengan bunga liar yang dipetik Suguru. Suguru melihat dari tepian bagaimana ombak kecil datang menggulung dan membawa pergi Riko ikut berenang bersama ikan-ikan di lautan yang luas.
Tarik napas
Hembuskan
Bau air laut yang asin menyapa hidung. Bunyi tepuk tangan teredam oleh suara hempasan ombak pada batu karang.
Alih-alih bersama Tengen, Riko menyatu dengan alam semesta.
Amanai Riko telah bebas—
—dan begitu pula Suguru berharap ia bisa terlepas dari perasaan bersalah yang perlahan menggeregotinya. Mungkin tidak hari ini. Mungkin besok, mungkin bulan berikut, atau selama apapun waktu mengizinkan.
“Kita tidak bisa kembali ke akademi jujutsu.” Suguru berkata setelah Satoru bergabung di sampingnya. Kedua tangan tersimpan dalam saku celana. Tatapan Suguru masih di titik yang sama tempat abu Riko disebar.
Satoru melirik Suguru. Ia tidak terkejut, sama sekali. Sesuatu yang bisa ia ekspektasi. Buah yang dipetik dari hasil perbuatan mereka.
“Sudah pasti kita jadi buronan dan musuh publik.” Lanjut Suguru lagi.
“Kamu takut?”
Kali ini Suguru balas menatap Satoru. “Tidak.”
Satu sudut bibir Satoru terangkat. “Baguslah.”
“Kamu menyesal?”
Satoru mereka ulang perasaan yang hinggap di benaknya beberapa jam silam. Perasaan di mana punya kendali atas nyawa seseorang ternyata tidak buruk juga. Lagipula ia sudah lelah selama ini berusaha melindungi kaum lemah. Tak ada lagi jalan pulang bagi mereka.
Angin yang berhembus terasa begitu dingin mengecup kulit.
“Tidak.”
.
.
Arwah kutukan berupa ikan pari dipanggil. Mereka duduk di atas punggungnya.
“Apa yang akan kita lakukan setelah ini?”
Suguru berpikir sejenak.
“Mencari pihak di balik kelompok agama bintang dan membunuh mereka, kemudian...,” jeda, “target selanjutnya adalah para petinggi jujutsu.”
“Ide yang bagus.”
Satoru memeluk pinggang Suguru dari belakang. Kepala disandarkan di bahu Suguru.
“Rasanya aku lelah sekali, Suguru.” Suara Satoru terdengar sayup.
“Kamu belum tidur berhari-hari. Istirahatlah.” Dielusnya rambut putih Satoru. “Perjalanan kita akan panjang.”
Mata biru yang menyimpan kekuatan yang mampu meluluhlantakkan seantero negeri itu pun akhirnya terpejam. Satoru memimpikan musim panas di Okinawa. Ketika semuanya terasa benar. Ketika semuanya belum serumit sekarang.
Sementara itu, takdir membawa mereka melaju ke arah yang baru.
.
.
.
“Apa?!”
Shoko terbelalak, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Yaga.
“Biar kuulangi lagi. Satoru dan Suguru membunuh seluruh anggota dan pimpinan agama bintang. Mereka lalu kabur dan belum diketahui keberadaannya sampai sekarang.”
Punggung Shoko bersandar di dinding kayu. Cengkeraman tangan pada ponselnya semakin mengerat. Tremor, Shoko cek riwayat terakhir ponselnya.
[Gojo : 30 panggilan tidak terjawab]
[Geto : 30 panggilan tidak terjawab]
“Aku tidak tahu apa yang merasuki mereka sampai berbuat demikian.” Yaga terdengar sama bingung dan frustrasi.
Satu hal yang Shoko ketahui dan telat ia sadari yaitu Satoru adalah bom yang siap meledak kapan saja dan Suguru adalah tombol pemicunya.
.
.
Agustus 2006
Laporan Misi Wadah Plasma Bintang
- Empat hari setelah dua orang yang bertugas (murid tahun kedua akademi jujutsu, Gojo Satoru dan Geto Suguru) diberangkatkan untuk misi wadah plasma bintang, 193 anggota kelompok agama bintang dipastikan tewas. Dua hari berselang, sepuluh pimpinan ditemukan tewas.
- Berdasarkan jejak energi kutukan, dapat disimpulkan penyebabnya adalah teknik manipulasi kutukan milik Geto Suguru dan teknik kutukan Mukagen milik Gojo Satoru.
- Gojo Satoru dan Geto Suguru melarikan diri. Menurut pasal 9 peraturan jujutsu mereka sekarang dianggap sebagai pembelot dan dihadapkan pada hukuman mati.
[selesai]
