Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-08-07
Words:
1,642
Chapters:
1/1
Comments:
8
Kudos:
131
Bookmarks:
7
Hits:
2,257

membiru

Summary:

Kamu tau aku selalu suka segala hal yang berwarna biru. Seperti biru pada air laut dengan suara debur ombak yang bertalu-talu. Seperti biru pada langit pagi yang dipenuhi burung-burung berkicau. Dan seperti biru pada kemeja lengan pendekmu kala kita pertama bertemu.

Hingga aku menyaksikan ragamu yang kaku, berbaring tak berdaya di atas tandu, telah membiru.

Notes:

dedicated to everyone whose struggling out there, please know that you're not alone.
listen to this song if you want.
hingga tenang

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Suara sirine mobil polisi dan ambulan saling bersahutan memenuhi indera pendengar. Menghantamnya keras pada fakta bahwa semua ini adalah nyata dan bukan sekadar mimpi buruk yang sering kali ia alami pada tidur tidak nyenyaknya.

Langkah kakinya tertatih-tatih di atas jalanan berbatu kerikil—tidak sanggup untuk menghampiri tubuh basah yang baru saja diangkat keluar dari tengah sungai.

 

***

 

"Hai gimana kuliahnya?" tanya Mark pertama kali setelah Donghyuck membuka pintu mobil. Senyum kecil terpatri di wajah rupawan Donghyuck sesaat mata mereka saling bersitatap.

"Aku abis kelas hukum waris. You know how much I hate it kan Mark huhuuu.. aku beneran udah nggak bisa hitung-hitungan semenjak kuliah deh," Donghyuck mengeluh mengerucutkan bibir berbentuk hatinya. "Kamu gimana?"

"Aku lumayan stress abis praktikum, terus nanti malem pasti bakalan mulai begadang buat bikin laprak," jawab Mark seraya membawa mobil yang ia kendarai keluar dari fakultas hukum tempat Donghyuck menimba ilmu.

"Aku temenin mau ngerjainnya?" Donghyuck memandang Mark khawatir.

"Mau dong sayangg berarti nanti pulangnya ke kosku ya?" tanya Mark yang dijawab anggukan antusias Donghyuck. "Sekarang kita mau makan apa dulu?"

"I'm actually craving for McSpicy.... kamu mau mam mekdi?" tanya yang lebih muda perlahan karena menyadari ini sudah ke tiga kalinya dalam seminggu ia menginginkan franchise ayam goreng tepung ternama itu.

Mark terkekeh kecil, "Iya boleh sayang."

"Yeay thank you Markie! By the way look what I have for you!" seru Donghyuck mengeluarkan gantungan kunci berbentuk awan dari tasnya. "Kamu yang bentuk awan aku yang matahari liat," Donghyuck menunjukkan gantungan kunci matahari yang sudah tergantung di tas jinjingnya.

Semua orang mengenal Donghyuck sebagai sosok yang seperti matahari. Dimana ada Donghyuck maka di sana akan ada tawa. Dimana ada Donghyuck maka di sana akan ada cerita. Donghyuck menghadirkan kehangatan pada siapapun yang berada di sekitarnya. Donghyuck yang berdiri di atas panggung memeriahkan suasana sebagai pembawa acara kegiatan fakultas. Donghyuck yang menjadi sumber jenaka mencairkan suasana tegang pada rapat pengurus badan eksekutif mahasiswa. Juga Donghyuck yang membuat Mark tersenyum di kala suntuk memenuhi kepalanya akibat tugas yang menumpuk.

Donghyuck adalah matahari.

Dan Mark adalah langit. Langit biru tempat matahari bisa bersinar dengan terangnya. Langit biru yang akan menjadi gelap kelabu tanpa kehadiran mataharinya.

 

***

 

Ia memasuki kamar indekosnya pada tengah malam. Kelelahan mengendarai sepeda motornya dari kampus setelah rapat organisasi. Ia berbaring pada ranjang kecilnya setelah melepas jaket dan kaus kaki untuk beristirahat sejenak. Telepon genggamnya menampilkan beberapa notifikasi pesan yang belum sempat ia jawab.

Mine
kamu belom pulang?
aku sayang bgt sama kamu

aku jugaaa
kenapa tiba-tiba?
baru nyampe rumah sayang
udh bobo ya?
klo bangun chat aku yaaa

Setelah selesai membersihkan tubuhnya di kamar mandi, ia kembali berbaring di atas ranjangnya. Ia membuka kembali telepon genggamnya namun belum ada balasan pada pesan yang ia kirimkan untuk kekasihnya. Kesadarannya perlahan menghilang, kedua matanya terpejam, jiwanya melayang memasuki bunga mimpi setelah lelah menjalani hari.

 

***

 

Donghyuck menyuapi sepotong mangga ke dalam mulut Mark yang tengah fokus mengerjakan laporan praktikumnya di meja belajar. Ia berbaring di atas ranjang di kamar indekos Mark menelusuri halaman sosial media di layar telepon genggamnya dan menyantap mangga arumanis yang mereka beli sebelum pulang.

"Enak kan nggak asem?" tanyanya memecah hening.

"Iyaa enak nggak kayak yang kemaren."

Merasa jenuh, Donghyuck melempar telepon genggamnya ke atas kasur. Netranya lalu menyusuri setiap sudut ruang kamar milik Mark. Kemeja putih, jaket hitam dan hoodie biru yang tergantung di belakang pintu. Susunan buku-buku yang berjudul Mikroprosesor dan Mikrokontroler, Sistem Linier, Metode Numeri dan hal-hal lain yang tidak ia mengerti pada rak lemari di sisi meja belajar. Foto-foto Mark dan Donghyuck—selama 2 tahun hubungan mereka yang diambil dan dicetak pada stan foto—menempel pada dinding kamar Mark bersisian dengan poster-poster band dan film kesukaan lelaki kelahiran bulan Agustus itu. 

"Aku pas maba berisi banget ya Mark," tutur Donghyuck membuat Mark menolehkan kepalanya.

"Masa sih?"

"Iyaa, apa sekarang aku yang kekurusan ya," ujar yang lebih muda lagi.

Mark melihat ke arah foto yang mereka ambil saat Donghyuck masih menjadi mahasiswa semester satu dan Mark mahasiswa semester dua. Keduanya terlihat sangat menggemaskan—muda dan lugu. "I don't know you look good both ways."

"Dih gomball."

"Beneran yanggg kamu cakep aja mau kuyus atau ndut kok."

Donghyuck tertawa mendengarnya. Ia lalu bangun dari baringnya menghampiri Mark yang selanjutnya ia hujani dengan kecup pada seluruh wajahnya. Mark merengkuh pinggang Donghyuck yang ia angkat lalu dihempas ke atas ranjang. Mark mendekapnya erat tanpa celah bagi Donghyuck untuk melepaskan diri. Walau tidak ada alasan bagi Donghyuck melepaskan dirinya dari tempat paling nyaman dan aman dalam hidupnya. Jari jemari Donghyuck menyentuh setiap inci wajah Mark, meninggalkan jejak dan merekam bentuknya untuk di simpan dalam satu ruang istimewa dalam benaknya. Alis camar milik kekasihnya yang sangat unik, bola matanya yang hitam dan bulat, hidungnya yang tidak terlalu besar dan kecil, tulang pipinya yang tinggi, bibirnya yang tipis dan melengkung dan tahi lalat di pipi kanan dan lehernya.

"I love you."

"I love you more."

"Aku yang lebih banyak?"

"Ih orang aku?"

Sore itu keduanya tidak mau mengalah, berlomba akan siapa yang lebih banyak dan lebih besar mencinta. 

Tidak berlomba tentang siapa yang akan lebih lama mencinta.

 

***

 

Ketika matanya terbuka di pagi hari hal pertama yang ia lakukan adalah membuka dan memeriksa pesan pada telepon genggamnya. Nihil. Masih belum ada balasan. Panggilan telepon yang ia lakukan juga mati tanpa ada jawaban. Lima panggilan tidak terjawab telah ia lakukan membuat timbul sepercik rasa khawatir yang muncul dalam dirinya. Ia berangkat ke kampus dengan perasaan risau.  

Mine

yang kamu belum bangun kahh?

aku ada kelas pagi nggak bisa nyamperinn

halooooo

aku berangkat dulu ya klo udh bangun langsung telp

 

***

 

Tengah malam dengan pencahayaan temaram dari lampu di atas meja belajar dan angin yang berhembus dari kipas angin di sudut ruangan, mereka bergelung di atas ranjang kecil berbagi kehangatan. Mark memperhatikan Donghyuck yang tidur terlelap dengan dahi berkerut. Entah apa yang ia mimpikan malam itu Mark hanya berharap ia dapat menelusup ke dalam mimpi Donghyuck dan membantu melawan apapun yang mengganggu kekasihnya di dalam sana.

Donghyuck memang tampak seperti matahari yang bersinar dan terang. Donghyuck selalu terlihat riang dan bahagia, meyibukkan dirinya dengan mengikuti berbagai kepanitiaan, menjadi ketua pelaksana, mengikuti lomba, mengerjakan semua program kerja dari organisasi-organisasi yang ia ikuti. Namun, Mark tau ada kalanya Donghyuck berada di titik yang rendah. Ia tidak ingin diganggu dan hanya mengurung diri di dalam kamar indekos kecilnya. Sehari. Dua hari. Mark selalu memberikan Donghyuck waktu untuk dirinya sendiri, untuk beristirahat dari terlihat baik-baik saja. Donghyuck sengaja membuat tubuhnya lelah untuk meredam suara-suara berisik di dalam kepalanya. Yang Mark tidak tau pada malam-malam itu Donghyuck akan mengatukkan keningnya pada dinding kamar berulang kali karena suara berisik yang semakin keras, semakin lantang, semakin meneriaki bahwa dirinya tidak berharga, bahwa dirinya harus menghilang dari dunia. Dan Donghyuck akan menangis, meraung mengeluarkan semua sesak yang menghujam dadanya. Sedangkan yang Mark ketahui hanya Donghyuck yang keluar dari kamar dengan senyum lebar keesokan harinya. Yang Mark ketahui hanyalah Donghyuck yang menyembunyikan semua luka dan sedihnya—karena baginya hanya itu cara agar ia dapat dicintai.

Donghyuck selalu punya cara untuk terlihat baik-baik saja. Bahkan dihadapan Mark. Dan hal itu membuat Mark sedih.

Mark selalu bertanya-tanya apa yang ada di dalam kepala mungil Donghyuck, apa yang membuat pipinya menirus dan kantung matanya menghitam, apa yang membuat nilai-nilainya menurun, apa yang membuat Donghyuck tidak bisa menghabisi ayam goreng tepung kesukaannya dan tertawa berkata bahwa ia sudah kenyang, apa yang membuat pupilnya bergoyang tidak fokus di tengah percakapan, dan begitu banyak pertanyaan lainnya.

"I hope you talk to me..." bisik Mark sembari mengecup kening Donghyuck yang tertidur di atas dadanya. "You know how I wish you will cry to me and lean on my shoulders, not keeping things inside of you and pretending to be happy all the time. I don't know what are you battling right now, but i hope you trust me more, love."

Donghyuck terbangun di atas dada Mark yang bergerak naik turun. Ia dapat mendengar dengan jelas degup jantung juga ucapan kekasihnya. Namun, lagi-lagi yang bisa ia lakukan hanya berpura-pura. Pura-pura tidak mendengar. Pura-pura tidak terjadi apa-apa.

Dan hanya sepercik kata maaf yang tidak bernyali untuk ia tuturkan.

I'm sorry. I can't save me.

 

 

***

 

Kain yang menutupi wajahnya disibak terbuka. Memperlihatkan wajah dan bibirnya yang memucat, tidak lagi merona seperti saat kekasihnya memanggil sayang untuk pertama kali, tidak lagi terukir senyum manis seperti saat ia menerima sebuket bunga matahari pada perayaan hari jadi yang ke satu tahun. 

Mark berdiri membeku. Setelah puluhan panggilan telepon yang tidak terjawab, setelah mendatangi kamar kosan Donghyuck yang kosong ditinggalkan penghuninya, setelah pencariannya berjam-jam ke tempat yang biasa mereka kunjungi bersama. Mark berakhir membaca kabar pada grup kampusnya tentang adanya mahasiswa yang melompat ke sungai dari jembatan tengah malam kemarin. Lalu di sini Mark berakhir. Di sisi sungai menyaksikan tubuh kekasihnya yang baru saja diangkat keluar, melihat wajah yang begitu ia rindukan dan khawatirkan. Mark berdiri, kehilangan. Tetes demi tetes air mata mengalir dari kedua mata Mark. Dengan tubuh yang bergetar ia menghampiri tubuh Donghyuck, buku-buku jarinya mengkerut kedinginan, kedua kelopak matanya tertutup, memar dan jejak darah di beberapa bagian tubuhnya akibat beradu dengan batu-batu di dasar sungai yang dalam.

Mark berteriak dan berteriak. Berteriak akan kenyataan bahwa Donghyuck telah memilih melompat dengan bebas dan mengalir bersama arus air yang deras. 

Donghyuck tau Mark selalu suka segala hal yang berwarna biru. Seperti biru pada air laut dengan suara debur ombak yang bertalu-talu. Seperti biru pada langit pagi yang dipenuhi burung-burung berkicau. Dan seperti biru pada kemeja lengan pendek Donghyuck kala mereka pertama bertemu.

Donghyuck tau Mark selalu suka segala hal yang berwarna biru. Seperti gantungan kunci awan berwarna biru yang ia hadiahkan. Seperti warna rambut Mark pada bulan ke lima mereka berpacaran. Seperti sepatu yang ia belikan karena mengingat Mark saat berjalan di pusat perbelanjaan.

Donghyuck tau Mark selalu suka segala hal yang berwarna biru. Hingga Mark menyaksikan raga kekasihnya yang kaku, berbaring tak berdaya di atas tandu, telah membiru.

Namun, Donghyuck tidak tau Mark kini benci warna biru.

 

***

Notes:

please leave your thoughts below!!
this is my first ao3 fic hope you enjoy it;)