Chapter Text
Berpacaran tiga tahun. Tinggal satu atap dua tahun. Malam itu, melalui perbincangan intim yang lima bulan belakangan sudah jarang terjadi, Nam Yejun dan Han Noah memutuskan berpisah baik-baik. Tidak ada pertengkaran akibat masalah serius seperti perselingkuhan. Alasannya semata-mata karena keduanya sudah tidak merasakan percik-percik di dada. Tidak ada lagi rasa saling ketergantungan. Yang berarti, ada-tidaknya pasangan, tidak terlalu membawa pengaruh signifikan dalam kehidupan.
Mereka memulai hubungan dari balik tembok kampus sebagai sahabat, dan dengan mengakhirinya, mereka mengembalikan status semula. Kesepakatan malam itu jelas. Noah memilih angkat kaki dari apartemen loft mereka. Yejun membayarkan kepadanya setengah uang sewa hunian tahun ini.
“Beri aku waktu sekitar seminggu untuk berkemas.”
“Santai saja. Kamu bisa berada di sini sampai menemukan tempat tinggal baru.”
“Sudah nemu, kok.”
“Oh? Cepat sekali. Tampak kamu sudah merencanakan perpisahan ini jauh-jauh hari.”
“Aneh kalau kamu masih bisa terkejut. Atau pura-pura?”
Noah menatapnya. Yejun tidak merespons apa-apa. Entah sejak kapan, mereka tidak bisa lagi menebak isi hati di belakang garis-garis muka. Dahulu, keduanya bagaikan sebuah buku yang terbuka bebas di mata masing-masing. Sekarang, mereka adalah buku yang tertutup rapat dan hanya mampu dilihat bagian sampulnya. Tidak ada sebaris kata-kata pun yang mampu terbaca.
“Omong-omong, pet cargo disimpan di mana?” tanya Noah.
“Untuk apa?”
“Tentu saja untuk bawa Hamin. Dia ikut denganku.”
“Maaf?” Nada Yejun menanjak kaget. “Sejak kapan ada kesepakatan begitu? Kamu mau pergi, silakan. Aku tidak akan menahanmu, tapi Hamin tinggal di sini.”
Kening Noah mengerut. “Dia milikku. Aku yang memungutnya dari jalan.”
“Aku yang lebih banyak mengurusnya.”
“Jika bukan karena aku, Hamin sudah mati kedinginan di bawah bangku taman.”
“Kalau cuma mungut, semua orang juga bisa. Tapi memandikan, menyikat bulu, membawa rutin ke veterinarian dari vaksin pertama sampai kastrasi, memberikan vitamin, memotong kuku, siapa yang melakukannya? Aku. Seumur-umur, kamu tidak pernah merasakan dicakar Hamin, ‘kan? Berterima kasihlah padaku.”
“Hei, tidak usah sombong, ya. Meski tidak sesering kamu, bukan berarti aku tidak pernah melakukannya sama sekali. Ingat sewaktu kamu ada perjalanan bisnis ke Shanghai, aku yang merawatnya seminggu penuh. Sendirian.”
“Ya, tentu saja.” Yejun bersedekap, lalu menatap calon mantan kekasihnya itu lekat-lekat. “Apa merek penganan krim favorit Hamin? Apa rasa kesukaannya? Ayo, cepat jawab.”
Noah terdiam. Bibirnya rapat. Rahangnya tegang bukan main. Dia kesal karena (jujur saja) tidak tahu, tetapi lebih kesal lagi gara-gara dipojokkan.
“Lihat, kurasa sudah cukup jelas siapa yang lebih pantas mengurus dia.”
Bangsat kamu, Nam Yejun. Sok berjasa.
Selama lima tahun, bukannya mereka tidak pernah silang pendapat. Friksi-friksi kecil biasa terjadi, tetapi padam dengan cepat. Barulah menjelang perpisahan, pertengkaran yang sesungguhnya terjadi untuk pertama kali. Nam Yejun dan Han Noah tadinya betulan ingin berpisah secara baik-baik. Namun, perebutan hak asuh anak bulu memorak-porandakan rencana.
Seekor kucing hitam besar menguap lebar di sofa. Lonceng hijau metalik di kalungnya bergemerencing ketika ia menggeliat. Sepasang matanya yang juga kehijauan memperhatikan sejenak dua lelaki saling sentak dan tuding di seberang meja.
Hamin mengeong pelan. Ia mengubah posisi hanya untuk kembali tidur.
***
