Work Text:
5:30 am
waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi kala si pria bulan juni dengan pelan membebaskan dirinya dari rengkuhan sang suami. satu kecupan singkat ia bubuhkan di wajah si cinta sebelum bangkit dan melangkah menuju ke kamar mandi.
tangannya meraih sikat gigi putih miliknya serta pasta gigi, meninggalkan sikat gigi hitam milik sang suami. matanya seakan masih menuntut untuk beristirahat waktu ia mulai menggosok gigi, jadi bayangkan sekaget apa dirinya saat sepasang tangan melingkar di pinggangnya.
“mark!”
“hmm, smell so good,” ucap mark seraya mengecup ujung dagu haechan, menghirup bau pasta gigi yang terasa segar. “give me my morning kiss.”
“no morning kiss if there's morning breath,” sahut haechan.
bibir mark refleks mengerucut, melepas pelukannya pada pinggang sang cinta kemudian dengan cepat meraih sikat gigi birunya.
sikat gigi bersama di pagi hari sudah rutin mereka lakukan hampir enam belas tahun, tapi tawa tak pernah berhenti hiasi kamar mandi tiap mereka saling memandangi wajah satu sama lain lewat cermin. they're just brushing their teeth, but then there's mark making faces, then haechan and the tootbrush as his moustache, then their laughter filled the room.
“hohoho~ santa haechan claus,” si gemini menirukan suara tua santa claus dengan pasta gigi sebagai kumisnya. mark, who always finds everything haechan does funny, laughs crazily.
mark buru-buru berkumur membersihkan mulutnya. usai bersih, dengan gemas ia mengunyel wajah haechan yang selalu imut di matanya meski tahun depan akan menginjak kepala empat.
“God, you're sooo adorable,” ucap mark. haechan yang refleks menyengir usai dengar ucapan mark buat si leo makin gemas. diciumnya pucuk hidung haechan lalu hidungnya ia usak-usakkan di sana, they're giggling like idiots in love.
until the bathroom door opened suddenly.
“oh my God, it's six in the morning.”
sepasang orang tua itu hanya tertawa begitu tertangkap basah oleh sang putra yang bahkan nyawanya belum terkumpul.
“papa you promised me a sandwich!”
“coming, lele!”
—
6:15 am
“enak nih.”
chenle refleks mendongak saat suara ayahnya terdengar, lalu bibirnya mencebik kala pria empat puluh tahun itu masuk ke dapur memeluk sang suami yang tengah memasak dari belakang.
“apa?” tanya haechan yang masih sibuk menumis daging.
“kamu,” jawab mark tanpa pikir panjang.
“ekhm.”
“AW!”
dehaman chenle jadi alasan haechan mencubit tangan mark keras-keras hingga pekikan si leo memenuhi dapur.
“sakit, yanggg,” rengek mark sembari mengelus tangannya.
“ya kamu sih! ada lele ngomongnya gitu,” haechan mendecak, namun setelah itu tangan mark ia raih lalu bibirnya mengecup bagian yang tadi ia cubit.
“hehe...,” pria bulan agustus itu menyengir lebar buat haechan ikut terkekeh kecil.
haechan mematikan kompornya kemudian mengambil sepotong daging yang baru saja matang. “mau coba gak?” tanyanya. tangannya maju menyuapi mark saat suaminya itu mengangguk. dagingnya ia tiup sebentar sebelum masuk ke dalam mulut si leo. “gimana?”
cukup lama mark mengunyah dagingnya sebelum akhirnya merespon, “daging buatanmu, selalu numero uno,” ucapnya dengan dua jempol yang teracung.
chenle tertawa saat melihat papa-nya yang memukul pelan lengan sang ayah, malu. padahal berbagai macam pujian mark lontarkan setiap hari, tapi haechan tetap saja malu dan bahagia seakan pujian-pujian itu baru pertama kali ia dengarkan.
—
6:50 am
“tumbler-nya udah, le?”
“udah!” seru bocah empat belas tahun itu seraya mengangkat botol warna hijau miliknya.
“awas ilang. nanti namamu ikutan ilang dari kartu keluarga,” mark yang baru datang di ruang tamu menimbrung.
“emangnya aku kayak ayah,” sahut chenle.
“eyyyy, gimana?” mark menoleh pada sang anak.
“kan tempat makan yang ungu kemaren ayah hilangin,” jelas chenle.
pria yang merupakan kepala keluarga itu seketika melotot. ia benar-benar lupa akan tempat makan yang ia hilangkan bulan lalu itu. padahal perjanjiannya chenle akan tutup mulut, tapi pagi ini rahasia itu meluncur begitu saja dari mulut sang putra.
“ga usah melotot gitu kamu,” haechan mendorong pelan wajah mark.
“hehe...,” mark lagi-lagi hanya menyengir lebar pada si cinta.
haechan meraih dasi yang sedari tadi mark pegang kemudian melingkarkan tangannya di leher mark. “kamu dong yang dihapus dari kartu keluarga?”
“ga bisa gitu dong! aku kepala keluarga!” seru mark dengan dagu terangkat sombong.
“aku juga bisa jadi kepala keluarga,” sahut haechan sembari memasang dasi mark.
bahu mark melemas. “aku yang ga bisa hidup tanpa kamu,” ucap mark dramatis. “dasi aja masih kamu yang masangin, bub.”
suara muntah yang dibuat-buat terdengar hingga sepasang orang tua itu menoleh. chenle sudah terduduk di depan pintu, malas menunggu drama pagi hari orang tuanya. “udah tua masang dasi aja ga bisa.”
“ngapain belajar masang dasi kalo ada papamu,” mark membela diri.
“kamu tuh kalo dibilangin,” haechan menepuk pelan dada mark.
“aku ga harus bisa di semua hal selama kamu bisa,” ucap mark dengan mata yang menatap lurus sang suami. “biar aku selalu punya alasan buat butuh kamu. biar kamu selalu kasih aku perhatian. begitu juga sebaliknya.”
wajah haechan seketika merona. “apa sih, ah,” tangannya memukul pelan lengan mark.
mark terkekeh sebelum maju mengecup bibir sang cinta. satu kecupan, dua kecupan, tiga kecupan, lalu haechan ia bawa dalam satu ciuman singkat penuh cinta. there are giggles between their kisses, makes it more lovely.
chenle yang menaruh atensinya pada mobil yang tengah dipanaskan diam-diam sembunyikan senyum lebar serta rasa bahagianya.
—
12:09 pm
—
5:00 pm
“aku pengen cheeseburger!”
begitu seru chenle dengan semangat saat bokongnya baru sedetik menyentuh mobil. maka di sinilah keluarga kecil mereka sekarang, mengantre di barisan drive-thru mcdonald's.
mark bersyukur hari ini pekerjaannya tak begitu banyak hingga dapat pulang lebih cepat dari biasanya. ia bergegas menjemput sang suami yang jam pulangnya juga telah tiba. bahunya terasa ringan saat melihat haechan yang keluar dari kantor dengan senyum cerahnya serta tangan yang melambai gemas ke mobil. lalu seluruh rasa penatnya luruh seketika saat sang cinta masuk dan berikan satu kecupan di wajahnya.
“le, rambutmu keringin dulu ih.”
“aku mau kentang juga!” kata chenle seraya mengambil handuk dari tangan papa-nya. rambut anak itu masih basah sebab baru saja selesai dari latihan berenang.
“ga mau happy meal aja ada mainannya?” tanya mark. pria itu terkekeh senang, jarang-jarang dapat menjemput dua cintanya itu.
“aku udah gede!” seru chenle tak terima.
“udah gede tapi bedaknya cemong gitu kayak bocil mau main,” ledek haechan.
“iiiih!” anak itu dengan sebal maju ke kaca mobil, mengusap-usap bedak tebal di wajahnya.
“kamu mau apa, bub?” tanya mark pada sang suami saat mobil di depan mereka terlihat sudah selesai.
“mau mcflurry matcha dong. kepo liat story ojun kemaren,” sahut haechan. pria itu sibuk menertawakan putra mereka tanpa sadar akan alis mark yang terangkat usai mendengar pesanannya.
chenle bersorak saat sang ayah mengambil pesanan mereka lalu mobil mulai bergerak meninggalkan restoran cepat saji tersebut. bukan anak kecil, katanya tadi. tapi kini terkikik senang memegang mainan happy meal.
saat mobil berhenti di lampu merah, mark meraih kentang goreng di tangan chenle serta mcflurry oreo miliknya. kentang itu ia colek ke dalam es krim lalu ia makan dengan senang. bahunya yang bergerak kecil serta mulutnya yang mengeluarkan suara nyam nyam menunjukkan bagaimana ia begitu menikmati makanannya, sampai netranya menangkap haechan yang menatapnya datar.
“apa sih?” ucap haechan.
“what?” alis mark sampai menukik. “i should be the one saying that.”
“kamu ngapain makan kentang dicolek ke es krim dulu?” jelas haechan.
respon pertama mark adalah melongo. “whoaaa,” ia menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. “le, liat le. papamu.”
anak yang masih sibuk dengan burgernya itu hanya mengangkat alisnya, tak begitu peduli.
“orang kamu yang ngajarin aku makan kentang dicolek ke es krim gitu,” sungut mark.
“aku gak ngajarin ya! aku makan depan kamu doang, kamu ga usah ikutan. cuma aku yang boleh gitu,” ujar haechan.
mark sekali lagi menggelengkan kepalanya. “aneh.”
“emang aneh makanya kamu jang— enggg... hweeek~”
si leo refleks menoleh saat pria di sebelahnya mengeluarkan suara aneh. lidah haechan terjulur bersamaan dengan matanya yang menyipit. “pahiiit,” rengek haechan.
mark buru-buru menyodorkan air mineral pada sang suami yang kemudian balas mendorong es krim matcha-nya ke dada mark. pria bulan agustus itu terkekeh sembari menaruh es krim matcha tersebut ke dalam bungkusan, sudah menebak nasib es krim tersebut sejak namanya keluar dari mulut haechan.
“pahit banget, hoek. apaan sih itu, aneh. kok bisa ojun kuat makannya,” omel haechan seraya mengambil mcflurry oreo di tangan mark. sang suami hanya terkekeh, kembali melanjutkan perjalanan mereka saat lampu berganti hijau.
chenle yang sejak tadi diam di belakang tertawa kecil. orangtua-nya itu, one minute bickering like the old married couple that they are, but the next minute they are back being lovey-dovey.
usai cekcok kecil mereka tadi, mcflurry oreo milik mark berakhir di tangan haechan yang bergantian menyuapi mark dan dirinya sendiri hingga sampai di rumah.
—
8:30 pm
“aku beneran gak terima hendery bilang mukaku banyak kerutan.”
“hm.”
sepasang suami itu kini berada di sofa depan tv, mark berbaring di atas paha haechan yang tengah memakaikan sheet mask di wajahnya.
“ya wajar kali. orang udah tua,” celetuk chenle dari meja makan.
“tua-tua gini tetep ganteng ya! yang naksir banyak!” seru mark.
tangan haechan yang tadinya masih menekan-nekan masker refleks berhenti. “oooh jadi mau ngerawat muka tuh biar yang naksir gak lari? mau ganteng buat tebar pesona?”
“gak gitu!” mark berniat bangkit dari paha haechan namun tangan si cinta lebih dulu menepuk wajahnya sedikit kencang.
“halah,” ucap haechan.
“ganteng biar kamu cinta mati lah,” jelas mark. “customer kamu kan tiap hari ada aja yang cowok fitting jas, mana cakep-cakep. aku gak boleh kalah.”
haechan memutar bola matanya, main-main. dalam hati merasa lucu karena tahu suaminya itu benar-benar cemburu.
keduanya kemudian tenggelam dalam film the notebook yang tengah terputar di televisi. satu tangan haechan terus mengelus rambut mark, sedangkan tangan yang lain digenggam erat oleh pria bulan agustus itu.
“you love to hold my hand so bad,” celetuk haechan.
mark mendongak, menatap sang cinta beberapa detik sebelum berujar, “i do,” lalu punggung tangan si gemini ia hujani dengan kecupan-kecupan penuh cinta, ciptakan tawa yang mengalun merdu dari bibir haechan.
sampai teriakan chenle dari dapur menggelegar. “PAAA! AYAH NYIMPEN KOPI SEBOTOL!”
—
8:45 pm
“gak aku minuuum,” ucap mark seraya mengusak-usak wajahnya di leher haechan.
“ngapain beli kalo bukan buat diminum,” kata haechan. “ck, jangan ndusel ih. mukamu baru abis maskeran kena leherku jadi kotor lagi.”
“ya kamu jangan maraaah,” rengek mark. punggungnya ia tegakkan hingga leher dan bahu haechan terbebas darinya.
posisi mereka kini adalah di kamar mandi, dengan mark yang duduk di sebelah wastafel dan haechan yang berdiri di tengah kaki mark yang terbuka.
“makanya jangan bikin ngomel,” ucap haechan. “kopi segitu banyaknya buat apa? mau begadang lagi kan? mau pusing sampe deg-degan lagi?”
“iyaaa, enggak, sayanggg.”
“iya apa enggak?”
“iyaaa, gak mau pusing deg-degan,” jelas mark dengan bibir yang mengerucut.
“ya udah ga usah ngide minum kopi,” ucap haechan. “by the way, love.”
“hm?”
“tajem,” tangan haechan naik menyentuh kumis tipis mark yang tumbuh, mengusapnya sebentar kemudian turun ke dagu mark yang juga ada rambut halusnya.
mark menoleh ke cermin di belakangnya, ikut mengusap kumisnya. “hm, iya ya,” si leo mengangguk-angguk. “mau cukurin sekalian gak?”
tak ada jawaban. pria bulan juni itu hanya sibuk menatap sang suami, tangannya pun tak berhenti mengelus kumis tipis lelaki di depannya itu.
“bub?”
“gak usah.”
“hm? kenapa?”
“kayaknya enak kalo aku dudukin.”
mark diam, begitu pula haechan.
“gimana kalo aku minum kopinya biar kuat semalaman makan kamu yang dudukin aku?”
lagi-lagi hening.
“KOPI AJA ISI OTAK KAMU!”
“SAYANGGGGG!”
marahnya haechan serta rengekan mark terus berlanjut sampai keduanya keluar dari kamar mandi, sampai terdengar oleh chenle yang baru saja melintas ingin pergi ke kamarnya.
anak kecil itu tertawa kecil dengan kepala tergeleng, tak habis pikir akan tingkah orangtuanya itu. namun, chenle selalu bersyukur akan itu semua, sebab rumah mereka jadi selalu terasa penuh cinta dan bahagia.
jadi, tiap malam chenle habiskan dengan berharap; semoga keluarga kecil mereka terus seperti ini selamanya, semoga cinta yang papa punya terus hidup, semoga cinta yang ayah punya terus membara.
