Actions

Work Header

Old Crush

Summary:

Rudy kira pertemanannya selama masa sekolah hanya bertahan selama tiga tahun itu saja. Nyatanya tidak dengan teman satu kelasnya yang tiap tahunnya rutin mengadakan acara berbuka bersama, meskipun dia tidak merayakan hari itu, setidaknya itu bisa menjadi ruang mereka untuk reuni dan berjumpa dengan kawan lama.

Terutama dengan teman satu bangku, juga orang yang mengajaknya mengikuti ekstrakulikuler basket juga orang yang belum lepas dari pikiran seorang Rodolfo Parra, Alejandro Vargas.

Notes:

halo halo! fan fiksi ini tentu bukan yang pertama saya tulis tapi ini yang pertama untuk fandom call of duty. saya tidak mengharapkan banyak hal, tapi hanya ingin meletakkan ini disini dan melupakan semuanya. (bohong, nanti saya update kok, tapi nanti..)

semoga kalian menikmati ini!!

Work Text:

Sebenarnya hari ini seperti hari Jum'at pada umumnya, setidaknya itu yang Gaz kira. Tapi sejak shift siang dimulai hingga sekarang jam istirahatnya, Rudy terlihat... bersinar?

Gaz tahu jika teman satu pekerjaannya itu selalu bersinar akibat skincare routine yang cukup mengejutkan karena dia tidak pernah berpikir jika Rudy adalah tipikal orang yang peduli dengan wajahnya. But he did.

"Lo, kenapa sih?"

Rudy yang baru selesai makan pun menaikkan alisnya bingung, dahinya berkerut dan menatap teman yang setahun lebih muda darinya itu. "Apanya kenapa?"

"Lo... bersinar." Ucap Gaz ketika Rudy menyalakan korek apinya, tentu saja dia bersinar.

"Iya kan sekarang jam.. empat, nih matahari nyentrong muka gua anjir."

"Ih bang, bukan gitu."

Rudy mengepulkan asap beracun itu perlahan, masih bingung dengan kalimat ambigu Gaz. "Terus apa dong? Lo kebiasaan setengah-setengah kalau tanya, malesin."

"Lo keliatan senang banget hari ini," Rudy menatap ponselnya yang berdenting sekali, membaca notifikasi yang tertera disana.

Instagram
vargasalejandro: wkwkwk iya rudy, semangat gawenya! 💪🏻💪🏻
vargasalejandro: kapan-kapan lagi aja kalau kamu shift pagi

"Ih anjing! Gue lagi ngomong bang!"

"Aduh! Loro su!" Rudy mengerutkan dahi, menatap Gaz yang terlihat kesal dan baru saja memukul tangannya. Lengannya terasa panas, tapi dia pantas mendapatkan itu karena ya, dia memang mengabaikan Gaz.

Maklum, orang dimabuk asmara.

"Iya sayaaangg kenapa?"

"Huek," Gaz yang hendak meminum good day freezenya pun terhenti untuk pura-pura muntah. "Itu, alasan kenapa lo seneng banget hari ini itu karena kejadian bukber kemarin?" Gaz tentu tahu, Rudy memberitahu dia pada hari Rabu kemarin.

Rudy terkekeh pelan sebelum kembali menghisap rokoknya dan mengangguk, mata bening Gaz terbalak perlahan sebelum kembali memukul Rudy kali ini di paha. Excited.

"Lo sekali aja deh, jangan mukul dulu biar gue bisa cerita."

"Hehehe," Gaz pun menghisap pod yang menggantung di lehernya, dia mengangguk, memberi sinyal Rudy untuk melanjutkan.

"Jadi gini…

"Ya ampun Rudy! Makin keren aja lo!"

Rudy yang datang cukup mepet dengan jam berbuka puasa, hanya bisa tertawa dan meminta maaf. Juga memberi alasan klasik seperti macet dijalan, terlebih dia lupa untuk menarik uang tunai. Jadilah dia harus memutar jalan untuk mencari indomart.

Ini adalah reuni buka puasa yang rutin dilakukan tiap tahunnya, semenjak kelulusan dia dari sekolah menengah, Rudy sangat disibukkan dengan pekerjaannya menjadi sales assistant. Jadwal yang hampir mengambil setengah harinya itu benar-benar membuat dia sangat terikat dan susah untuk mencari waktu untuk dirinya sendiri, apalagi mengikuti acara seperti ini.

Tapi beruntung hari liburnya bertepatan dengan tanggal reuni bukber mereka. So, it's one of his lucky day.

Lima menit sebelum buka puasa, atensi teman-temannya pun teralihkan ketika satu orang yang diharapkan datang akhirnya memunculkan batang hidungnya.

Rudy pun mendongak dari tempat dia duduk, matanya tidak lepas dari figur yang tertawa ketika melakukan bro hug dengan salah satu teman sekelas mereka, rambutnya tertata rapi ke belakang, tas pinggang berwarna biru gelap tersampir di bahu kirinya terlihat kontras dengan pakaian serba hitam kecuali jeans biru yang terlihat usang.

Dia terlihat sama.

Pikiran Rudy dibawa ke masa lalu dimana mereka masih menduduki bangku sekolah menengah, perkenalan singkat ketika dia duduk di sebelahnya karena hanya itu satu-satunya kursi yang tersisa, mengikuti ekstrakulikuler basket tidak lama setelahnya, dan.. memori aneh mereka di kamar mandi lantai tiga ketika classmeet hari kedua.

Semua tergambar jelas di otak Rudy layaknya potongan film yang diputar kembali.

Hingga mata keduanya bertemu.

Semua terasa seperti dalam slow-motion, figurnya yang mendekat ke arahnya membuat jantungnya berdegup aneh. Perasaan yang jauh dia kubur di dalam lubuk hatinya memaksa keluar ketika figurnya duduk disebelahnya, seolah mengulang interaksi awal mereka.

Bedanya, senyumnya lebih lembut dan matanya terlihat jujur dan berkilat di bawah lampu resto yang sedikit redup.

"Hi, Rudy."

"Alejandro."

"Bentar-bentar," Gaz memotong cerita Rudy. Kesempatan ini digunakan si rambut ikal untuk menyulut rokok keduanya. "Namanya Alejandro kayak lagunya Lady Gaga itu?"

Rudy mengangguk, mengepulkan asap beracunnya perlahan sebelum terkekeh pelan mengingat itu. "Hobi banget nyanyiin ntuh lagu tiap dia konsen garap tugas, tapi dia cuma ketawa doang."

Gaz terkekeh pelan, dia sendiri bisa membayangkan hal itu terjadi sebelum dia menggerakkan tangannya. Rudy pun melanjutkan, "terus habis itu…"

Alejandro tetap sama. Setidaknya itu yang terlihat di mata Rudy. Senyum lebar khasnya masih ada, cara bicara dan gesture tubuhnya juga sama. Yang berbeda hanya postur tubuhnya yang terlihat lebih.. berotot?

Hanya saja, mereka belum menemukan waktu untuk berbincang kembali seperti dulu. Berdua, tanpa ada interupsi dari yang lain. Sejauh ini mereka hanya bercakap ringan seperti: "Kamu udah?" "Kamu pesen apa tadi?" "Kamu mau bayar atau aku talangin dulu?" karena semuanya bergantian untuk berbicara dengan satu sama lain, hingga keduanya memilih untuk menepi sejenak dari keramaian.

Sedikit menjauh dan duduk di area outdoor dengan lemon tea di tangan mereka, keduanya sama-sama menawarkan rokok yang mereka bawa. Dimana hal itu membawa tawa kecil dari keduanya, Rudy menyulut rokok camel ungu miliknya dan tanpa berkata apapun menyulut korek apinya didepan Alejandro ketika dia melihat si brunette kebingungan mencari korek di dalam tas juga saku celana jeansnya.

Keduanya merokok dalam diam, seolah takut jika keduanya berbicara malah mengenang kembali masa sekolah mereka yang cukup ambigu untuk dibahas. Bahkan terlalu tabu untuk mereka bawa kembali ke meja.

Kehadiran Alejandro disisinya saja sudah cukup untuk Rudy.

Tapi semuanya runtuh ketika Alejandro membuka percakapan dengan, "kamu makin cakep aja. Puberty hit you hard, huh?"

Rudy tertawa, cukup kencang hingga dia sadar mereka masih berada di tempat umum yang ramai. Dia tersenyum kecil, merasakan bulu lehernya berdiri akibat jarang menerima pujian. "Gak ah, kamu lebih cakep. Where's all of these muscles come from?" Rudy memegang salah satu lengan atas Alejandro, badannya terasa dingin akibat angin sepoi pukul 6:36 sore juga kontak fisik tidak langsung pada badan Alejandro.

Tawa ringan keduanya kembali mengisi percakapan canggung mereka, sebelum mereka benar-benar menceritakan kehidupan mereka masing-masing setelah kelulusan.

Tentu bukan tanpa alasan Rudy memilih untuk menjauh sejenak dari Alejandro, apa yang terjadi diantara mereka dua bulan sebelum kelulusan benar-benar menghantuinya.

"Emang ngapain kalian?"

Pertanyaan Gaz membuat Rudy merenung sejenak, menghisap rokoknya dalam-dalam sebelum menghembuskan asap beracun itu perlahan dari hidung lalu mulutnya.

"I.. suck him off."

"YOU—" Gaz menelan ludahnya sembari melihat sekitar pujasera yang hampir dipenuhi karyawan lain, beruntung keduanya duduk cukup dibelakang dan hampir di pojok ruangan. "You suck him? In school!!??"

"We were young, dumb and curious." Bela Rudy, meski kejadian itu sudah tiga tahun sepuluh bulan yang lalu, dia masih bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi. Di dalam salah satu bilik kamar mandi kering yang hampir tidak pernah digunakan di gedung multimedia lantai tiga.

"...terus kalian gimana setelah itu?"

"Oh, mau lanjut di tempat lain?"

"Iya, kita gak bisa disini lama-lama juga. Kalian ikut?"

Rudy terdiam dan menatap Alejandro yang bergidik acuh, si brunette menoleh ke arahnya sebelum mematikan rokoknya di atas asbak. "Gue nurut Rudy, nebeng dia soalnya."

Rudy mengerutkan dahinya, sedikit bingung karena Alejandro tidak mengatakan apapun. Apalagi perihal nebeng? Memang itu sudah sering mereka lakukan dulu sejak sekolah menengah, tapi Alejandro saja belum bilang apapun?

"Rudy, lo gimana?"

"Ya ya, boleh, nanti ngekor."

Setelah temannya itu pergi, Alejandro menunjukkan cengiran lebar khasnya itu untuk membalas raut muka bingung Rudy. "Aku gak bawa motor tadi naik ojol, hehe."

"Ya tapi kan—"

"Iya maaf, harusnya bilang dulu, iyaa." Alejandro terlalu kenal dengan Rudy, bahkan dia meminta maaf sebelum si rambut ikal menunjuk kesalahannya. Seperti dulu.

Jantung Rudy terasa aneh, bukan kali pertamanya dia membonceng Alejandro meski dulu si brunette selalu inisiatif untuk memboncengnya karena badan bongsornya itu bisa menahan angin malam dari badan Rudy yang sedikit lebih kecil darinya.

Hanya saja, dengan apa yang dia rasakan untuk teman sebayanya itu semuanya terasa berbeda untuknya.

"Waduh, Ale. Aku gak ada spare helm lagi.." Alejandro mengibaskan tangannya ketika mereka sudah sampai di dekat motor Rudy, vario 150 berwarna hitam-silver dengan stiker star wars yang sedikit pudar. Alejandro tentu ingat dengan stiker itu, dia yang memasangnya disana.

"Gak papa, lagian deket kan?"

Rudy bergumam sebagai jawaban dan memilih untuk membuka jok motornya, matanya bersinar di bawah redup lampu 20 watt parkiran motor. "Ada nih!" Rudy mengambil helm retro berwarna coklat dengan warna hitam ditengahnya, juga kacamata google sebagai pemanis helmnya.

Alejandro tidak masalah mengenakan helm itu, toh yang penting dia mematuhi aturan kan? Tapi tidak dengan Rudy yang seperti menahan tawa ketika melihat Alejandro memakai helmnya membuat si rambut brunette ikut tersenyum geli, "kenapa?"

"Gak papa, lucu aja." Ucap Rudy setelah memakai jaketnya yang diletakkan di dalam jok motor, tapi Alejandro yang sejak dulu selalu menjadi sumber tawa Rudy pun beraksi. Mengenakan kacamata google yang bertengger di atas helm sukses membuat Rudy tertawa terbahak hingga hampir jatuh kebelakang jika Alejandro tidak dengan cepat memegang tangannya.

"Aduh, ya ampun, kamu kenapa sih? Ah, masih aja sama." Tawa Rudy belum mereda tapi dia bergerak untuk memakai helmnya, helm full face berwarna hitam yang sejak dulu dia inginkan.

"Mau aku setirin?"

"Kepentok gak sih ntar kalau kita ngobrol?"

"Iya juga ya.."

Berakhir dengan Rudy membonceng Alejandro yang tetap berada di bahu kanannya, berbicara dengan santai diselingi tawa keduanya yang entah percakapan apa yang mereka bahas.

Hingga pertanyaan yang Rudy hindari sedari tadi terucap setelah mereka memarkirkan motor di pekarangan warkop garasi tujuan mereka, "terus sekarang kamu udah punya pacar?"

Rudy melepas helmnya, menggeleng pelan. "Too busy at work, you?"

Rudy merasa jantungnya berdegup menanyakan itu kembali, menyiapkan diri jika Alejandro akan tersenyum senang lalu menceritakan kisah kasih dengan kekasihnya.

Tapi dia menghela nafas pelan saat Alejandro menggeleng, "sama. Kayaknya aku terakhir pacaran… setahun yang lalu? Itu pun putus karena dia selingkuh."

Rudy mengangkat alisnya ketika keduanya duduk di meja panjang yang sudah mereka sambung, "selingkuh? Kamu diselingkuhin?!" Alejandro mengangguk enteng.

Hal ini membuat Rudy tersulut, apa mantan Alejandro buta?!

"Eh buset, kalau modelan secakep kamu aja diselingkuhin apalagi aku?"

Alejandro tertawa pelan, keduanya diinterupsi oleh salah satu teman mereka yang bertanya pesanan mereka. Alejandro menjawab, "aku sama Rudy ice latte aja, less sugar." Dia menunjukkan jempolnya, tapi Rudy hanya berkedip menatapnya.

"Kenapa?"

"Kamu masih inget aku suka latte?"

Alejandro tertawa pelan, bersandar di kursi panjang yang mereka duduki. "Itu juga bukan pesanan ribet, makanya aku inget."

"Bah," Gaz mendengus. Setengah mengejek, setengah iri. Iri karena kekasihnya masih belum mengingat pesanannya ketika mereka pergi ke cafe. "Homo."

"Anjing, ngaca lo."

"Iya maaf sih." Gaz memutar matanya jengah, "terus gimana setelah itu?"

Rudy yang hendak melanjutkan ceritanya pun terhenti ketika alarmnya berdering, tanda bahwa jam istirahat mereka habis. "Yaahh, gak bisa lanjut deh."

Keduanya berdiri dan membereskan meja sebelum bergerak kembali untuk menjadi budak kapitalisme. Langit yang semula biru menjadi jingga pun membuat keduanya sama-sama mendongak sembari berjalan pelan menuju mall tempat mereka bekerja.

Dibalik celotehan Gaz tentang achievement target mereka bulan ini, Rudy ditarik kembali ke memori waktu itu.

"Sunset tuh keren gak sih?" Rudy yang menghela nafas akibat latihan basket mereka menoleh ke arah Alejandro yang sudah melepas jerseynya, berusaha sebisa mungkin untuk tidak menatap secara keseluruhan tubuh bagian atas temannya itu. Meski dia tahu hampir semua letak tahi lalatnya.

"Keren gimana? Overrated iya."

Alejandro tertawa pelan, memakai kaos hitam dengan print bertuliskan 'Star Wars' di dadanya. "Iya kalau buat orang kopi senja indie boy sih iya, tapi sunset tetep keren on its own."

Rudy yang tidak pernah memperhatikan detail itu pun terdiam, menatap Alejandro yang memakai tas punggungnya sebelum sepasang mata gelap itu menatapnya dengan cengiran lebar. "Kayak, kita bisa nyiptain memori tersendiri and shares them with someone. Terus tiap kita lihat sunset, pasti bakal inget orang itu. Kenapa?"

Rudy berdiri di sebelah Alejandro yang memasang helmnya, si rambut legam mengedikkan bahu. "Kenapa?"

"Ya karena kita nonton sunset sama orang itu! Ah kamu jelek banget, masa gitu aja gak paham."

Alejandro yang sedikit memajukan bibirnya, hanya membuat Rudy tertawa seraya naik ke boncengan si rambut brutte.

Selama perjalanan pulang, Rudy hanya terdiam menatap langit pukul 5:17 sore itu. Langit yang semula biru terlihat jingga kemerahan, sang bulan mengintip dengan sebuah bintang yang berada didekatnya.

Tanpa sadar, Rudy tersenyum sebelum sedikit bersandar pada punggung Alejandro. "Ini ngapain kita jalan muter jauh?"

"Gak papa! Sekalian ngadem, yakali aku keringatan begini balik."

"Terus kenapa tadi kita gak ke warkop belakang sekolah?"

"Rame ah, males."

Rudy tertawa sembari memukul helm Alejandro dari belakang, diakhiri dengan keduanya membahas sparing basket minggu depan yang akan diadakan di sekolah mereka.

Pukul 10:35 malam, Rudy dan Gaz sudah berjalan menuju parkiran basement tapi langkah Rudy terhenti melihat dm terakhir dari Alejandro yang memperlihatkan foto bagian belakang gedung mall tempat kerjanya, dimana dia biasa keluar dari parkiran basement motor.

"Bang? Jadi gak kita makan baksonya? Farah udah otw nih katanya."

Rudy menggeleng sebelum meletakkan ponselnya ke dalam saku jaketnya, "gak jadi. Aku ditunggu sama Alejandro."

"Ceilah, mau pacaran ya."

"Ngawur."

Gaz tertawa sebelum melambai pada Rudy, "yaudah, hati-hati ya bang!"

Rudy hanya menunjukkan jempolnya ketika dia memakai helm dan menaiki motor vario milik ayahnya, motornya sendiri masih menginap di bengkel.

Mengantri untuk memberi surat tanda kepemilikan dan tiket parkir, Rudy segera menuju tempat dimana Alejandro menunggunya. Si rambut ikal tersenyum sebelum berhenti tepat di sebelah si rambut brutte dengan kaos hitam tanpa lengan, celana pendek bewarna senada, dengan sandal jepit swallow yang sudah tiga tahun belum diganti.

"Ganteng, suit suit." Rudy memainkan alisnya, Alejandro hanya menggeleng dengan tawa pelan. Rudy melirik tas olahraga yang duduk manis di belakang Alejandro, "Ngapain kesini?"

"Ini, aku tadi habis nge-gym. Terus karena kebetulan satu arah, jadi sekalian kesini deh."

"Emang nge-gym jam berapa?"

"Jaaammm…. delapan? Kelar jam sembilan, terus muter dulu buat nyari rokok."

Rudy mengerutkan dahi, "kamu nge-gym loh."

Alejandro menggidikkan bahu, "ya kan biar imbang, olahraga iya, ngerokok juga iya hehehe." Dia memasang helmnya dan menyalakan motor, "dah yuk cari makan. Laper aku."

Sampailah mereka di salah satu warteg yang biasa Rudy hampiri ketika pulang kerja. Si rambut ikal sendiri berusaha untuk tidak memperhatikan tattoo di lengan kanan si rambut brutte, tapi Alejandro terlalu mengenal Rudy untuk tidak memperhatikan itu.

"Ini tatonya baru kok," Alejandro menunjukkan tatonya pada Rudy. "Baru dua bulan yang lalu, nanti mau nambah lagi." Alejandro memperhatikan bagaimana jari Rudy secara perlahan menelusuri tato miliknya, dia tersenyum kecil.

"Bagus."

Rudy mendongak, melihat Alejandro tengah menatapnya. Tidak seperti dulu, keduanya sama-sama tersenyum kali ini. Persetan dengan masa lalu mereka yang aneh itu, Rudy memang menyukai Alejandro sejak dulu. Hanya saja—

"Es teh sama teh hangatnya, mas."

Keduanya ditarik kembali ke masa kini, Rudy menarik tangannya dan mengambil es teh miliknya, dan teh hangat untuk Alejandro.

Keduanya kembali terdiam, menyesap minuman masing-masing sebelum Alejandro mengecap miliknya dan berbisik, "Tawar…" yang hanya dibalas tawa pelan Rudy.

Mereka kembali melanjutkan percakapan mereka yang tertunda, perihal.. hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Setelah hampir satu jam berada disana, mereka memilih untuk pulang. Lebih tepatnya Alejandro membuntuti Rudy sampai rumah.

"Ya udah, besok lagi ya." Rudy turun dari motornya, hendak membuka gembok pagar tapi dia menunggu Alejandro untuk pergi dahulu.

"Ok! Kalau kamu mau aku anter jemput boleh loh, kan aku ada motor sekarang." Alejandro membuka kaca helmnya, cengiran bodohnya terpatri di wajahnya dengan tangan yang menepuk setir motor Vario 150 berwarna hitam miliknya.

"Dih? Aku kan ada motor sendiri."

"Kamu masih aja gak paham kalau aku romantis ah, gak seru."

Rudy kembali tertawa pelan, meski jantungnya berdegup. Sialan, bagaimana bisa Alejandro berkata seenteng itu!?

"Ya udah, aku balik dulu ya!"

"Kabarin kalau udah sampai rumah." Alejandro yang hendak menurunkan kaca helmnya terhenti, mata mereka bertemu di balik helm masing-masing. Si rambut brutte mengangguk pelan, tanpa dilepas pun Rudy tahu jika Alejandro tengah tersenyum disana.

"Will do, sir!"

"Idih?"

Alejandro tertawa dan berbalik arah sebelum melambai kecil, Rudy pun yang baru melepas helmnya juga ikut melambai kecil senyum yang tidak hilang dari wajahnya. Dia berbalik dan terkejut melihat sang ayah berdiri di depan pagar yang sudah terbuka.

"Papa ngagetin ih." Rudy meletakkan helm di kaca spion ketika sang ayah membuka pagar. Sang ayah hanya tersenyum penuh makna ketika Rudy melewatinya dan memarkirkan motornya.

Rudy pun segera menuju kamarnya setelah menyapa sang ibu di ruang tengah, sepertinya menonton drama korea yang dia tidak tahu judulnya. Setelah menutup pintu kamarnya, Rudy bergerak untuk mengambil bantal dan berteriak disana, bukan bukan, bukan berteriak frustasi, tapi berteriak layaknya anak yang baru merasakan pubertas menyukai seseorang.

Dia menghela nafas sebelum mengendalikan dirinya, setidaknya apa yang dia rasakan selama empat tahun kebelakang terlihat berbalas.

"Gak gak, jangan ngarep dulu anjing. Ntar jatuh encok gue." gumam Rudy ketika berganti pakaian, tapi ketika nama Alejandro muncul di layar ponselnya dia kembali tersenyum layaknya orang gila.

Ya, namanya orang jatuh cinta. Kotoran domba pun akan terasa seperti choco chips.

Rudy hanya bisa berharap untuk saat ini.